English
NovelToon NovelToon

Janji

Janji

"Hkkkk... aarrghhhh..."

Pengantin lelaki itu memegangi lehernya.

Wajahnya memerah. Matanya melotot.

"Bang Suryaaa!!!" teriak si pengantin perempuan histeris disertai teriakan-teriakan dari banyak orang yang kaget dan ketakutan melihat pemandangan seperti itu.

***

Jakarta - Oktober 2018

"Maafkan Nenek ya, cucuku..."

Isak tangis seorang perempuan berusia 68 tahun itu lagi-lagi berderai ketika ia berada di dekat cucunya.

"Emak nih, tiap kali ketemu sama si Dudi pasti nangis. Udahlah, Mak. Bikin Nisa jadi sedih aja," dari balik ruang sebelah, anak dari perempuan tua ini menahan kesal terhadap sang ibu. Kesal karena sang ibu terkesan tidak mau menerima kenyataan akan keadaan sang cucu.

"Iya, Nisa, maafin emak ya, Nis," lanjutnya sambil tak mengalihkan pandangan kepada sang cucu.

"Emak malu ya, punya cucu kaya si Dudi? Udah sering Nisa perhatiin, emak nangis mulu soal si Dudi. Biar begitu itu cucu emak," ia lantas duduk di dekat mereka.

"Enggak, Nis... Enggak... Emak enggak malu... emak cuma..." dan perempuan tua itu pun terdiam. Tak sanggup melanjutkan. Seperti sebelum-sebelumnya.

J******akarta - Maret 1968

"Menanti, di bawah pohon kemboja.

Datangmu, kekasih yang ku cinta.

Janganlah, dekalipun melalaikan.

Janjimu, yang telah kau ucapkan..."

Seorang gadis cantik berjalan sambil mendendangkan lagu yang sedang disukainya. Rambutnya yang hitam legam dijalin di bagian kanan dan kirinya terpelanting tak tentu arah akibat langkah kakinya yang lebih mirip berlompatan ketimbang berjalan. Dua gigi depannya tampak sedikit lebih besar dari gigi-giginya yang lain. Seperti gigi kelinci. Kulitnya yang putih seolah bersinar kekuningan diterpa matahari senja.

Ia tampak begitu ceria.

"Ciciiih... senang betul rupanya... Kau habis bertemu Surya ya?" teriak Siti dari jendela kamarnya ketika Cicih melewatinya.

"Heh! Sssttt!!! Jangan keras-keras!" Cicih setengah berlari mendekati Siti yang saat itu juga sedang mendekap mulutnya sendiri.

"Ah, maaf, Cih. Aku kelepasan. Kau juga sih. Terpancing jadinya aku," ucap Siti kepada sahabatnya itu.

"Tapi kau hati-hati, Cih. Surya kansudah ada calon bini. Kau janganlupa itu. Eh, atau dia sudah memutuskan untuk memilih kau daripada perempuanitu ya? Makanya kau ceria betul kayak tadi?"lanjutnya.

"Ah, kau, Siti. Baru aku senang, sudahlagi kau buat sedih. Belum. Dia belum memutuskan. Perempuan itu masih pacarnya.Sudahlah. Aku mau pulang. Hari sudah sore. Nanti emakku bisa ngamuk kalau tahu aku masih di sini bersama kau!"

Cicih melanjutkan perjalanannya pulang. Kali ini langkahnya tak seceria tadi.

***

"Kenapa kau suka sekali berada di bawah pohon kamboja ini kalau bertemu denganku, Kelinci cantikku?"

"Ah, kau ini, Bang. Ngeledek gigiku aja kerjamu..." jawab Cicih singkat, sambil meminum limun dari botol di tangan kanannya sementara tangan kirinya sedang dipegang oleh seorang lelaki yang duduk di sampingnya.

"Hahaha... aku suka melihat gigi kau. Kau lucu. Hmm, kau enggak sedang marah sama aku kan, Cih?" tanyanya.

"Aku ini apa, Bang? Kita ini apa? Apa aku cuma perempuan lain yang hadir mengganggu hubungan Abang dengan dia? Menyebut namanya saja aku malas rasanya, Bang," ditariknya tangan kanannya dari lelaki pujaan hatinya itu.

"Sabarlah, Cih. Aku pun bingung. Aku sayang kau, Cih," lelaki berambut sedikit gondrong ini menatap Cicih dengan matanya yang sendu.

Cicih terdiam. Tak tahu harus berkata apa. Dia tahu lelaki ini sayang padanya. Dan perasaan Cicih kepadanya pun tak ada ubahnya.

Mereka bertemu di sebuah warung bubur kacang hijau, di suatu malam seusai Cicih menemani Siti menonton film di bioskop bersama Dudung pacarnya satu tahun yang lalu. Siti tidak diijinkan oleh sang ayah, jika harus hanya berdua saja dengan Dudung, maka diajaknya Cicih setiap malam minggu menonton film di bioskop. Dan malam itu, seperti biasa mereka makan sebelum akhirnya pulang.

"Surya," lelaki itu menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman setelah Dudung memperkenalkannya pada Cicih.

Pertemuan itu sebenarnya sama sekali tidak berkesan buat Cicih. Biasa saja. Tetapi hampir setiap malam minggu seusai nonton di bioskop, mereka selalu bertemu. Ya, hampir setiap malam minggu Dudung selalu mengajak Siti menonton dan ia selalu mengajak Cicih. Film-film yang mereka tonton biasanya film India. Yang begitu sangat disukai oleh Siti, yang bisa begitu tenggelam menikmati tarian dan nyanyiannya di taman bunga.

Lama kelamaan Dudung benar-benar mengajak Surya untuk ikut menonton bersama mereka. Lalu berulang lagi minggu depan, lalu minggu depannya lagi, dan seterusnya. Bagai bunga-bunga di taman yang begitu berwarna-warni di film India yang mereka tonton, bunga-bunga itupun bermekaran di hati Surya dan Cicih.

"Sungguh, aku sayang kau, Cih. Kenapa kau diam? Kau tak sayang padaku?" desak Surya sambil memegang kembali tangan Cicih, membuyarkan lamunannya.

"Iya, tapi kau lelaki milik orang lain, Bang," ditatapnya wajah lelaki yang tampan itu sambil menahan air matanya agar tak jatuh.

"Aku mau jelas, Bang. Aku enggak mau bingung lagi aku ini sebagai apa buat kau, Bang. Kau pikir kau bisa sayang sama aku begitu saja, lalu kau memperlakukan aku semanis mungkin tanpa kau pikirkan bagaimana perasaan aku nantinya? Apalagi sekarang kau betul-betul ucapkan ini. Bagaimana kalau aku jadi jatuh cinta sama kau, Bang? Bagaimana kalau apa yang kau selama ini perlakukan kepadaku membuat aku jadi benar-benar sayang? Kalau sudah begitu, kau senang? Yang penting perasaan kau ke aku terbalaskan saja? Atau aku akan jadi jelas sebagai apa buat kau, Bang?" Cicih memalingkan wajahnya agar tak lagi menatap wajah lelaki berkulit sawo matang itu.

Air matanya kini jatuh.

Percintaanya dengan Surya tidak seperti seharusnya. Setidaknya seperti Siti dan Dudung, saling cinta dan tidak ada orang lain yang menghalangi mereka. Surya sudah punya seorang kekasih yang tidak tahu apa yang terjadi selama beberapa bulan belakangan ini.

 

Jakarta - Januari 1969"Kau kenapa, Cih??" setengah berlari Siti membuka pintu untuk sahabatnya itu, yang sedang menangis di depan pintu rumahnya. Rambutnya yang pendek dengan model yang sedang tren kala itu tampak berantakan karena sebelum Cicih datang, ia sedang tertidur.

"Masuklah kau. Malu nanti ada tetangga yang lihat," dirangkulnya Cicih dan segara dibawa masuk ke dalam rumah. Mereka duduk di kursi rotan di ruang tamu Siti sementara ayah dan ibu Siti sedang tidak ada di rumah.

"Aku hamil, Ti," tangisan Cicih semakin tak terbendung.

"Ya Tuhaan... Kau sudah beritahu Surya?" tanya Siti yang hanya dijawab dengan gelengan kepala dari Cicih.

"Kau harus bilang padanya. Dia harus tanggung jawab!"

"Tapi dia lelaki orang, Siti..."

"Kau sih bodoh! Sudah tahu dia lelaki orang, kau maju terus!!"

"Dia yang maju terus, Ti... Diaa... huhuhu..."

***

Jakarta - Mei 1969

Suasana di sebuah rumah ramai sekali sejak pagi ini. Suara alunan musik semakin menambah hingar bingar. Para perempuan baik tua maupun muda turut ikut ambil bagian. Sebagian besar dari mereka memasak. Para lelaki memasang hiasan-hiasan serta janur kuning dan hal lainnya. Dan merupakan sebuah kebiasaan dari tempat tinggal mereka di mana jika ada salah satu keluarga melaksanakan suatu acara, atau biasa mereka menyebutnya hajatan, para tetangga dengan sukarela menyumbangkan apa saja. Mulai dari beras, daging, ayam, bumbu-bumbu penyedap, gula, teh, kopi, garam, apa saja. Semua mungkin bermula dari niatan agar silaturahmi dan persaudaraan terus terjaga.

Pengantin lelaki tampak begitu tampan. Rambutnya yang agak gondrong itu sekarang dipotong sedikit, agar terlihat rapi. Kulitnya yang sawo matang tetap terlihat cocok meski memakai pakaian yang mereka bilang 'adat Eropa' itu, yaitu jas berwarna hitam membalut kemeja putih dan dasi kupu-kupu yang bertengger di lehernya.

Pengantin perempuan tentu saja sangat cantik. Penampilannya begitu 'manglingi'. Wajahnya tampak sangat berbeda dari biasanya. Gaunnya yang putih panjang serta kerudung transparan yang disemaikan di sanggulnya dan terurai ke bawah itu semakin membuatnya terkesan begitu anggun. Orang-orang pun tak terlalu mengenalinya. Dan pujian atas cantiknya sang pengantin keluar dari para perempuan.

Hari sudah mulai siang setelah akad nikah dilaksanakan pada pagi harinya. Para tamu sudah banyak berdatangan. Mereka duduk berkelompok dalam meja panjang dengan formasi yang sudah ditentukan. Ada yang khusus para tetua, keluarga inti dan saudara dekat, orang-orang yang dihormati di sekitar situ, lalu teman-teman.

Siti dan Dudung duduk di meja kelompok teman-teman. Di depan mereka sudah tersedia makanan-makanan kecil, seperti tape ketan, opak, ranginang, kembang goyang, sasagon, dan wajik. Ketika mereka akan pulang dan memberi amplop yang akan 'ditukar' dengan tentengan berisi makanan besar seperti nasi dan lauk pauknya, yang juga merupakan kebiasaan jika ada acara pernikahan seperti ini, Siti berkata kepada Dudung, "Kau sajalah yang menemui pengantinnya. Aku malas."

Tiba-tiba,

"Hkkkk... aarrghhhh..."

Pengantin lelaki itu memegangi lehernya. Wajahnya memerah. Matanya melotot.

"Bang Suryaaa!!!" teriak si pengantin perempuan histeris disertai teriakan-teriakan dari banyak orang yang kaget dan ketakutan melihat pemandangan seperti itu.

"Wati, kenapa suamimuu?? Ya Tuhaaan... Paaak, tolong, Paaak..." Ibu mertua dari pengantin lelaki ketakutan.

Suasana menjadi heboh. Beberapa orang mencoba menolong pengantin lelaki yang semakin terlihat menderita. Mereka mengerubunginya, mencoba menarik tangannya yang seolah mencekik lehernya sendiri. Matanya semakin melotot, dan memerah. Urat-urat di sekitar keningnya tampak menonjol. Sungguh pemandangan yang mengerikan.

Pesta pun terpaksa dibubarkan. Para tamu morat-marit berlarian pulang.

"Surya dikutuk!!" teriak salah seorang perempuan tua sambil berlari menuju rumahnya.

***

Sukabumi – Mei 1969

"Kau harus mandi di sungai nanti malam tepat jam 12. Setelah itu kau kembali ke sini," kata seorang lelaki tua berambut panjang tergerai berwarna keputih-putihan dengan pakaiannya yang serba hitam di depan sebuah dupa yang mengepulkan asap dengan aroma yang khas. Di tengah pencahayaan ruangan yang remang-remang itu, tampak seutas rambut, telur, dan foto yang sudah tersobek. Foto seorang lelaki berambut agak gondrong dan berkulit sawo matang, sedang tersenyum dengan matanya yang sendu.

"Garam ini kau bisa kau bawa pulang, nanti malam setelah kau mandi. Kau berikan garam ini untuk dijadikan bumbu di pesta lelaki itu. Semua orang memang akan memakannya. Tapi karena dia yang jadi tujuannya, maka dia seorang yang akan terkena," lanjutnya.

***

Jakarta - Juni 1969

Di bawah pohon kamboja, tampak seorang lelaki sedang duduk termenung. Sesekali ia tersenyum, lalu tertawa, dan mendadak berubah menjadi tangisan yang meraung-raung.

Ia berlari-lari mengitari pohon kamboja itu. Berputar-putar bagai adegan di film India.

Berhari-hari ia berada di situ. Baik hujan, panas, dia selalu di situ. Pakaiannya mulai lusuh. Rambutnya mulai kusut.

"Kelinci... di mana kau kelinci cantikku? Aku sayang padamu... aku mau menikah denganmu. Kelincikuu...

kelincikuu..."

Dari kejauhan seorang perempuan berkerudung ungu yang sedikit menutupi rambutnya yang terikat di belakang kepalanya, berdiri dan mengamatinya dengan pandangan datar.

"Kasihan dia. Dari hari pernikahannya beberapa minggu lalu dia jadi begini. Sudah berapa dukun coba tolong dia, enggak ada yang mempan," kata seorang lelaki tua kepada temannya.

"Iya, ya. Dia enggak dibawa ke rumah sakit jiwa aja, Ki?"tanya temannya.

"Ah, enggak paham juga saya. Mungkin orang tuanya juga enggak mengerti rumah sakit jiwa, ngertinya dukun. Tapi kalau saya lihat, dia bukan sakit jiwa. Tapi dikerjain orang. Buktinya, masa dari hari perkawinan dia, tiba-tiba dia teriak-teriak, lalu dia ngamuk, terus dia kayak orang gila begitu sampe sekarang. Ini pasti dikerjain orang," lanjutnya dengan muka serius.

Perempuan yang sedari tadi memandangi lelaki itu dari jauh, menoleh ke arah dua orang lelaki yang mengobrol di dekatnya ini. Lalu dia tersenyum, "Makanya, Ki. Hati-hati. Jangan suka menyakiti, perasaan orang. Apalagi perempuan. Jadilah orang yang bertanggung jawab," katanya. Ia lalu berjalan meninggalkan dua orang lelaki itu.

***

Jakarta - Oktober 2018

Perempuan tua itu duduk termenung di halaman belakang rumah anaknya. Ia memikirkan tentang semua cucu-cucunya yang akhirnya lahir, pasti mempunyai sesuatu yang berbeda. Ada yang keterbelakangan mental, kakinya hanya satu, tangannya hanya satu, matanya tidak bisa melihat, dan juga ada yang tidak bisa mendengar. Ia merasa sangat bersalah dan sangat menyesal.  Ini tidak seperti janji yang disebutkan dahulu...

***

Sukabumi - Mei 1969

"Teteh, kau yakin dengan semua ini?" tanya lelaki berpakaian serba hitam. Rambutnya yang panjang dan berwarna keputih-putihan dibiarkan tergerai berantakan. Di hadapannya duduk seorang perempuan.

"Saya yakin, Aki. Dia sudah merusak hidup saya. Saya diusir oleh orang tua saya. Mereka malu. Saya hamil makin besar, tetapi lelaki itu hanya bisa berjanji. Sampai begitu dia tahu kandungan saya ini gugur, dia benar-benar meninggalkan saya. Dan dia kawin dengan perempuan itu!" ucapnya sambil menangis dan marah.

"Hmm, baiklah. Kau tahu kan, apa bayaran dari ini semua? Kau akan punya satu orang keturunan yang tidak normal. Entah anakmu atau cucumu. Kau siap? Kau mau tetap teruskan ini, Teh?"

"Satu anak atau cucuku? Hmm, siap, Aki! Aku siap! Aku tak peduli lagi! Dia harus menderita!" jawabnya.

"Baik. Hmm, siapa nama kau tadi?"

"Cicih, Ki."

 

 

***

 

 

"Menanti, di bawah pohon kemboja.

Datangmu, kekasih yang ku cinta.

Janganlah, sekalipun melalaikan.

Janjimu, yang telah kau ucapkan..."

Menanti Di Bawah Pohon Kembodja

Oleh Nien & Orkes Jack Lemmers.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play