English
NovelToon NovelToon

Chrono Times - Waktu Yang Aku Habiskan Bersamamu

Prolog - The Doll

Apa yang dapat membuat seseorang percaya bahwa dunia ini menyimpan banyak sekali rahasia.

Sesuatu yang membuat manusia itu berpikir bahwa hal tahayul tersebut benar-benar nyata.

Mungkin contohnya.

Ketika kau melihat sebuah benda mati dan tiba-tiba benda itu bergerak sendiri tanpa adanya perbuatan mesin.

Apa yang kau lakukan ?, berdiam diri melihat saja ? atau mungkin lari ?

Atau mungkin, ketika kau bertemu dengan sebuah boneka manekin dan tiba-tiba dia berbicara kepadamu ?

Dari sekian banyak manusia--terdapat 1 pemuda yang mengalami kejadian tersebut.

Boneka itu---

Di sana dia berdiri..

Di antara dua buah tangga meningkat, mengangkat pandanganya keatas.

Tidak ada yang tahu apa di lihatnya.

Tidak ada yang tahu apa yang dipikirkanya.

Dia hanya mengarahkan wajahnya ke langit-langit dan melihatnya dengan tatapan kosong.

Yang memandanginya adalah seorang pemuda yang kira-kira berumur 16 tahun.

Tak sengaja pemuda itu menemukan hal yang belum pernah terjadi dalam hidupnya.

Sungguh, benar-benar intens.

Pemuda itu mengingat semua benda yang ia temui.

Sebelumnya pemuda itu tahu tempat boneka itu berada, namun kenapa boneka itu bisa berdiri disana ?

Keberadaanya membuat sebuah pertanyaan.

Akan tetapi hal yang lebih mengejutkan tiba-tiba terjadi....

Tatkala pemuda itu melangkah lalu,"Siapa ?!", tiba-tiba suara tersebut terdengar oleh sang pemuda, membuat dirinya terkejut dan akhirnya terjatuh.

Kedua matanya terbelalak.

Ketika melihat fenomena yang ada dihadapanya saat ini, dia hanya bisa menahan napasnya.

Bagaimana tanggapan seseorang ketika ada sebuah benda mati yang tiba-tiba saja bergerak dan berkata, "Siapa?!", sambil mengarahkan pandanganya kepadamu?

Suaranya benar-benar memuat pertanyaan.

Bagaimana mungkin boneka kayu dapat berbicara seperti itu ?

Semua ini benar-benar tidak masuk akal.

Pemuda itu hanya bisa terdiam memandangi ketidaknormalan tersebut.

Perasaan takjub merasuki pikirannya.

Benar-benar sebuah mahakarya yang luar biasa, Pikirnya.

Parasnya benar-benar cantik.

Boneka itu sungguh terlihat sangat menawan.

"--ha..."

Terpana, untuk pertama kalinya pemuda itu mengeluarkan hembusan napasnya.

Bak seorang putri kerajaan, gadis boneka itu perlahan mendekati sang pemuda..

Saat ini ada boneka manekin dengan tinggi yang hampir sama dengan pemuda itu serta wajah perempuan yang kira-kira berumur 17 tahunan dengan rambut pirangnya yang terurai hingga ke pinggulnya.

Tersemat dari kecantikannya sebuah gaun hitam yang di hiasi sebuah mutiara dan mata merahnya yang selalu mencuri pandangan sang pemuda.

Keberadaan gadis boneka itu sungguh luar biasa seakan-akan menenggalamkan benda-benda yang ada di sekitarnya.

Pada saat itu, semuanya terambil alih.

Perhatiannya.

Bahkan sampai hatinya..

Setiap kali boneka itu mengedipkan matanya, pemuda itu selalu berpikir bahwa apa yang ada di hadapannya hanya seorang gadis biasa akan tetapi, saat pertama kali menyentuhnya ia harus menerima kenyataan yang harus ia hadapi.

"Kalau boleh tahu, siapa nama tuan?", seraya berbicara, gadis boneka itu menaikan pandangannya.

"Amanda Rikki-- Kalau kau?"

Pada akhirnya kedua mata mereka saling bertemu.

Meskipun pemuda--Rikki mencoba menahan bibirnya untuk tetap terkatup, ia sama sekali tidak kuat ketika melihat pandangan sedih dari sang boneka.

Dan sekali lagi gadis boneka itu menurunkan pandanganya seraya berkata,

"Luci."

Pada momen itu, Rikki merasakan sesuatu di dalam dirinya.

Perasaan nostalgia.

Di suatu tempat.

Di suatu waktu.

Dia pernah merasakan ini sebelumnya.

Beginilah kisahnya akan di mulai.

--

Case 01 - Karyawisata Berdarah Bagian 1

POV 1 - Amanda Rikki

Saat dalam perjalanan pergi ke sebuah tempat karyawisata aku dan teman-teman sekelasku menaiki bus dengan penuh kebisingan.

Seperti kebanyakan liburan yang aku alami, pemandangan ini bukanlah hal yang jarang ditemui.

Beberapa siswa bersorak-sorak dan ada dari mereka yang membicarakan tempat karyawisata yang akan sekolah kami kunjungi.

Bagiku, yang tidak terlalu suka kebisingan apalagi keramaian seperti ini, aku lebih memilih untuk mengasingkan diri duduk tepat di ujung bus.

Aku sengaja mengambil tempat duduk paling belakang agar tidak menjadi pusat perhatian apalagi sampai ada yang mengajaku berbicara mengenai karyawisata semester tahun ini.

Kedamaian sesuatu yang paling penting buatku.

Pada saat kondisi yang tenang, aku mulai terlarut dalam kedamaianku perlahan, membuat kedua mataku tertutup.

Aku mengingat-ingat kembali kejadian yang sama saat sekolah menengah pertama.

Waktu itu, saat sedang dalam perjalanan karyawisata bersama teman SMP dan ibu kandungku.

Saat itu segalanya terasa damai semua orang bergembira dan aku pun ikut bersenang-senang namun seketika saja semua itu menjadi sebuah bencana.

Bus yang kami tumpangi mengalamai kecelakaan dan jatuh kedalam jurang.

Selama 2 hari kami terdampar dan pada saat seseorang berhasil menemukan kami, hanya aku seorang diri yang hidup pada saat itu dan ajaibnya, tubuhku sama sekali tidak terluka.

Entah itu sebuah keberuntungan..

Hanya saja...

Aku sama sekali tidak mengingat kejadian setelah bus yang kami tumpangi terjatuh.

Yang aku ingat pada saat kejadian itu hanyalah suara teriakan dari orang-orang yang ada di dalam bus serta suara ibuku yang meminta tolong setelah itu aku terbangun di sebuah kamar penuh cahaya terang serta di kelilingi oleh orang-orang yang memakai baju putih.

Mereka mencoba menjelaskan semuanya kepadaku tentang kecelakaan bus yang aku alami serta kematian teman-temanku dan juga ibuku.

Saat itulah, aku merasa sesuatu terjadi kepada diriku.

Aku kehilangan teman-temanku dan juga ibuku namun, aku sama sekali tidak merasakan apapun.

Aku tidak merasakan Sedih karena kehilangan seseorang yang sangat berharga bagiku ataupun bahagia karena aku berhasil selamat dari kecelakaan itu.

Ini aneh..

Meskipun aku memaksakan diriku untuk menangis.

Air mataku... sama sekali tidak keluar setetespun..

Saat itulah untuk pertama kalinya aku menyadari bahwa hal terpenting dari sebuah kehidupan telah hilang dari dalam diriku.

Setelah 2 tahun berlalu sejak bencana itu terjadi, aku mulai membiasakan diri dengan keadaanku saat ini.

Seperti saat ini, ketika teman sekelasku bersenang-senang, tertawa tapi, Aku tidak bisa merasakan apa yang mereka rasakan.

Akankah aku hidup seperti ini selamanya ?

Entahlah, aku sama sekali tidak peduli..

"Rikki !!"

Dalam ruang ketenanganku, tiba-tiba ada seseorang yang memanggil namaku.

Tidak ada siswa lain yang bernama 'Rikki' selain diriku.

Perlahan aku membuka kedua mataku untuk melihat orang yang memanggil.

Aku dapat melihat wajah seorang perempuan berada di depanku.

Ibu?

Tidak mungkin, ibuku sudah tiada.

Aku kembali menutup kedua mataku dan membuka lagi mataku sampai pandanganku terlihat cukup jelas.

Dihadapanku ada seorang gadis dengan kedua matanya sedang memandang kearahku.

Tersemat dari rambut hitam panjangnya sebuah bando di hiasi oleh pita berwarna merah.

Aku mengenal gadis yang saat ini sedang memandang diriku.

"Rikki, kamu enggak apa-apa?"

Gadis itu bernama Rena.

Dia tinggal tepat di samping rumahku. bisa di anggap kalau dia adalah tetanggaku.

Mungkin hampir 5 tahun kami selalu bersama.

"Iya, gue engak apa-apa.", Jawabku dengan singkat.

"Tch.."

Tiba-tiba aku mendengar suara seseorang seperti sedang mendecakan lidahnya.

Sebuah kepala muncul tepat di samping tempat duduk Rena.

Tiba-tiba kepala itu berputar ke arahku seraya menghibas rambut hitam panjangnya.

Kedua bola mata berwarna merahnya itu menatapku dengan tajam lalu arah pandangannya berubah menuju Rena sembari berkata, "Kak kenapa mau ngurusin cowok kaya gini ?, aku enggak paham !", dengan nada yang cukup kasar.

Aku sama sekali tidak terkejut jika orang itu bekata seperti itu kepadaku.

Karena aku sudah terbiasa.

Ngomong-ngomong yang berbicara dengan Rena adalah adik perempuannya yang bernama Rini.

Bisa dibilang bahwa mereka berdua adalah saudara kembar.

Rena lahir 1 jam lebih dulu di bandingkan Rini.

Aku mendengar semua itu dari Rena.

Meskipun penampilan dan wajah mereka mirip, akan tetapi mereka berdua memiliki sifat yang berbeda.

Rena lebih pendiam dan tenang dibandingkan dengan adiknya yang selalu banyak bicara.

"Lagian kakak kenapa mau aja nungguin dia sampai bangun ?", Rini melanjutkan pembicaraanya dengan Rena sambil menunjuk diriku dengan jari telunjuknya.

"Yah yang lainnya udah pada pergi, kasihan Rikki kalau dtinggalin sendirian, Lagian Rini tadi juga sempet ketiduran kan?", Jawab Rena sambil menggaruk-garuk pipi kananya sembari tertawa.

"Iihh kakak, enggak usah di omongin juga kali !"

pergi ?

Aku berdiri lalu melihat keadaan di sekitarku dan ternyata di dalam bus hanya ada kami bertiga saja.

"Rena, yang lainnya kemana?", tanyaku

"Yang lainnya baru aja keluar ke tempat penginapan kok, karena Rikki tadi enggak ada di barisan makannya aku cariin kamu di dalam bus", Rena pun menjawabnya sambil memiringkan sedikit kepalanya.

Begitu ya, aku ketiduran lama juga.

"Makasih ya Ren.", sembari berterima kasih kepada Rena aku mengangkat tasku lalu pergi dari tempat duduk.

Selagi aku berjalan menuju pintu keluar, tiba-tiba saja Rini menendang lututku seraya berkata, "Tch..dasar tolol.", lalu pergi meninggalkan kami berdua.

Hal tersebut sedikit membuatku terkejut namun, aku sama sekali tidak mengerti artinya karena itu aku mencoba bertanya kepada Rena,"adik lu kenapa, Ren?", akan tetapi, Rena hanya menjawabnya dengan senyuman tipis lalu pergi mengejar Rini.

Pada akhirnya aku sendirian.

Setelah keluar dari bus, terang cahaya matahari mulai menusuk mataku.

Aku mengangkat tangan kananku ke langit untuk menghalangi cahaya itu.

Sejenak, aku mulai berpikir.

Mungkin saja karena sikapku, aku harus berakhir seperti ini.

Tapi..

Suatu saat nanti aku bisa merasakan banyak hal sehingga aku dapat memahami apa yang mereka rasakan.

Aku ingin merasakannya.

----------------------------------------

Case 01 - Karyawisata Berdarah Bagian 2

Siang hari yang cukup terik.di iringi panas matahari yang membuat tubuhku terbakar.

Sesaat sesudah keluar dari bus aku berjalan menuju penginapan yang akan menjadi tempat peristirahatan setelah perjalanan jauh.

entah kenapa hari ini cuacanya panas banget !

Sebisa mungkin aku menutupi kepalaku dari terik panasnya matahari dengan sebuah topi yang sudah aku persiapkan di dalam tas.

Aku tidak ingin tiba-tiba saja pingsan saat sedang berjalan menuju penginapan

Mungkin butuh sekitar 20 menit bagiku untuk menyusul teman sekelasku..

Aku harap bisa datang tepat waktu.

Ketika aku melihat sekelilingku, aku mendapati seorang siswi yang berdiri tepat di bawah sebuah pohon dengan sebuah payung berwarna hitam.

Aku sebenarnya ingin menghindarinya dan langsung pergi menyusul teman sekelasku namun, tatkala dia memanggil namaku aku pun terhenti sejenak.

Pandanganku teralih oleh kehadiran dirinya.

Dia memiliki perawakan wajah seperti wanita indonesia pada umumnya namun yang istimewa darinya adalah warna rambutnya yang seperti sebuah salju. dan bola matanya yang biru seperti permata.

Aku mendengar gosip dari siswa dan siswi disekolah, bahwa ibunya adalah orang eropa.

Bisa di bilang bahwa rambut dan warna matanya yang unik itu adalah pemberian dari ibunya.

Meskipun banyak siswa yang ragu, bahwa 'Putri Salju' hanyalah sebuah pewarna rambut karena setiap kali orang bertanya mengenai rambutnya, dia hanya tersenyum tanpa memberikan sebuah jawaban.

Mungkin saja dia sedikit terganggu jika ada orang yang menanyai tentang rambutya, karena di Indonesia sendiri rata-rata memiliki rambut berwarna hitam.

"Kamu..Rikki bukan?", Seraya berkata, siswi itu datang menghampiriku.

Untuk pertama kalinya dia berbicara kepadaku.

Dalam pikiranku, aku bertanya-tanya 'kenapa dia bisa tahu namaku?'

Kami berdua berbeda kelas dan aku tidak ingat jika aku pernah memberi tahu namaku sebelumnya.

"Kamu lupa sama aku?", sekali lagi siswi itu bertanya kepadaku.

Sesekali dia berjalan sembari mengibaskan rambutnya sampai pada akhirnya ia terhenti dihadapanku.

Matanya memandang ke arahku.

"Kalau gitu nama aku kamu tahukan?" tanya gadis itu sembari mendekatkan wajahnya ke hadapanku.

"Kalau enggak salah 'Merliana Aria*'?"*

"Hmm, gitu ya.. terus, kenapa kamu sendirian?", Raut wajahnya memberikan sebuah pertanyaan sembari memiringkan kepalanya kedua matanya terus memandangiku.

Sejujurnya hal tersebut membuatku tidak nyaman.

Jadi aku membuang pandanganku seraya berkata, "Gara-gara ketiduran, yang lain pergi duluan."

Mungkin Aria tidak keadaanku saat ini karena kami berbeda bus jadi dia mencoba menanyakan kehadiranku disini.

"Oh, kalau gitu, mau pergi ke penginapan bareng aku?", dan sekali lagi rautnya memberikan pertanyaan kepadaku.

"Terserah.", Jawabku dengan singkat.

Aria pun mulai berjalan pergi sambil menarik kopernya sambil mengenakan payungnya untuk menutupi sinar matahari.

Aku pun mengikutinya dari belakang dan entah mengapa aku merasa pernah melihat adegan ini sebelumnya di sebuah game.

'Seorang gadis yang membawa koper sambil mengenakan payung berwarna hitam.'

"Ngomong-ngomong, kenapa Aria bisa tau nama gue?", tanyaku sambil memerhatikan langkah kakinya.

Namun Aria meresponya dengan sebuah tawaan kecil setelah itu ia bertanya, "Mau tau?"

Kalau dia enggak mau kasih tau alasannya, aku akan tetap diam seperti ini.

Aku hanya bisa menunggu sampai ia memberitahukan jawabanya namun, tiba-tiba Aria menghentikan langkah kakinya.

Seketika angin kencang berhembus diantara kami berdua.

Karena angin tersebut topiku jatuh beberapa centi dari tempatku berdiri dan entah mengapa.saat itu aku seperti mendengar suara Aria yang sedang berbicara.

Karena gemuruh angin, aku tidak bisa mendengarnya dengan jelas.

"Maaf, Tadi lu ngomong apa ?"

Aria kembali melangkahkan kaki sembari berkata "enggak, aku enggak ngomong apa-apa kok."

Ternyata cuman perasaan aku saja

Setelah itu kami berdua berjalan menuju penginapan tanpa mengatakan apapun.

-----------

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play