English
NovelToon NovelToon

Aku Dan Dia (GxG)

1. Keyra Namaku

"Dek, pelan-pelan bawa motornya. Nanti jatuh."

Teriak seorang laki-laki yang usianya lebih tua enam tahun dariku. Dia kakakku, Abym. Perkenalkan namaku Keyra Anindita Laurinda, umurku 15 tahun. Dan sekarang aku sudah kelas 1 SMA. Hari ini adalah hari pertamaku masuk setelah melewati masa MOS selama tiga hari kemarin. Tidak usah diceritakan masa menyebalkan itu. Sama saja seperti pada umumnya. Membosankan, tapi aku sudah memiliki beberapa teman baru yang baik dan menyenangkan. Nanti saja kukenalkan saat ku sudah tiba di sekolah. Saat ini aku harus cepat-cepat agar tidak terlambat.

"Iya bang. Emang aku anak kecil apa?" Balasku berteriak. Aku segera melajukan motorku dengan kencang.

Untung saja aku tidak terlambat, saat aku baru sampai di kelas Bu Asmi menyusul masuk.

"Selamat pagi anak-anak. Hari ini kita mulai pelajaran pertama ya. Silahkan buka buku lks kalian masing-masing pada halaman berikut." Perintah bu Asmi, guru Bahasa Indonesia setelah menulis nomor halaman di papan tulis. Kenapa tidak disebutkan saja? Ribet sekali.

"Baik Bu." Sahut seisi kelas. Pelajaran pertama berlangsung cukup menyenangkan. Bu Asmi kelihatannya saja garang tapi aslinya humoris. Suasana kelas menjadi tidak membosankan, aku suka.

"Eh Key, pelajaran kedua nanti apa ya?" Tanya perempuan di sebelahku. Namanya Radha.

"Fisika. Lo nggak nyatet jadwal apa?" Sahutku.

"Hehe. Enggak. Nanti minta sama lo aja ya?" Jawabnya santai. Dasar.

"Iya." Balasku.

Selang beberapa waktu, Pak Mustakim yang mengajar Fisika masuk ke kelas.

Pelajaran pun dimulai.

"Sst.. Keyra. Bagi liat dong bukunya. Gue nggak bawa." Bisik Radha pelan. Aku meletakkan buku paket Fisikaku di tengah-tengah meja. Astaga, anak ini niat sekolah tidak sih?

"Hehe makasih." Ucapnya nyengir.

>>istirahat>>

"Gila ya, gue ngantuk banget tadi pas pelajaran Fisika." Keluh Radha sambil menyeruput es jeruk miliknya.

"Iya, aku juga. Bapak itu jelasin materinya cuman baca doang. Mana susah lagi pelajarannya. Puyeng aku." Sahut Nadia. Aku hanya tersenyum menanggapi obrolan mereka. Aku fokus melahap nasi goreng di hadapanku.

Saat ini kami bertiga sedang berada di kantin. Mereka berdua ini adalah sahabat baruku di kelas X IpA 1

"Lo diem aja dari tadi Key?" Ucap Radha. Aku menoleh ke mereka setelah menghabiskan makananku.

"Sorry ya, gue kalo lagi makan nggak boleh sambil ngobrol, hehe." Ucapku tak enak. Mereka ber-oh ria.

"Cepet amat makannya Key. Laper apa doyan?" Timpal Nadia.

"Iya nih Nad. Haha. Gue nggak sempet sarapan tadi pagi." Jawabku.

"Eh eh itu lihat deh. Ya ampun ganteng banget ya? Huwaa kereen!" Seru salah satu siswi di belakangku. Teman-temannya yang lain ikut nimbrung. Ada yang nyamperin si doi, ada yang berfoto ria sama dia, bahkan ada yang ngasih bunga. Siapakah dia? Apa setampan itu wajahnya sampai-sampai dikerumunin para cewek alay satu sekolahan.

"Siapa sih?" Tanyaku penasaran.

"Astaga, Keyra yang cantiknya di bawah Radha. Lo nggak kenal? Lo nggak tau dia siapa? Seriusan?" Tanya Radha heboh. Saking hebohnya dia sambil gebrak meja.

"Radha! Untung bakso gue nggak tumpah!" keluarlah kata 'gue' dari seorang Nadia. Dia mendelik kesal ke arah Radha. Radha hanya cengar-cengir sambil berkata maaf.

"Serius Key lo nggak tau?" Tanya Radha lagi. Aku menggeleng.

"Dia itu Ervan Wijaya. Anak kepala sekolah yang juga si kapten basket, ketua osis, dan siswa kebanggaan sekolah ini dengan segudang prestasi, baik di bidang musik, olahraga, dan akademik. Dia siswa ter-famous dan terkeren seantero sekolah and then lo nggak tau itu? Seriously?" Ucap Radha dalam satu tarikan napas. Aku hanya melongo melihat reaksi berlebihannya itu.

"Emang iya?" Tanyaku tak percaya. Mana ada yang seperti itu di dunia ini. Tidak ada orang yang sempurna. Yang sempurna hanyalah Allah swt. , Sang pencipta alam semesta.

"Lebay kamu Nad. Bagiku Ervan biasa aja. Nggak sekeren dan seganteng itu, iya kan Ra?"

"Iya bener tuh."

"Ugh. Kalian nggak asyik. Gue ke sana dulu ya. Daah. Gue mau foto sama Ervan. Jangan kangen kalian sama gue. Bye." Dasar Radha. Dia menghampiri kerumunan itu dengan kasar. Dapat kulihat dari sini dia berhasil berfoto dengan doi.

"Radha ... Radha." Nadia menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Radha. Akupun sama.

"Lebay banget ya mereka. Kurang kerjaan aja"

Komentar Nadia memandangi kerumunan cewek-cewek di meja tempat Ervan duduk. Kantin yang tadinya sepi tiba-tiba jadi ramai karena kedatangan cowok bernama Ervan itu.

"Hai Key." Sapa Nasya di kejauhan. Dia berjalan ke arahku sambil membawa nampan berisi pesanannya.

"Boleh duduk di sini kan?" Tanyanya sambil melirik kursi di sebelahku.

" iya duduk aja. Kosong kok." Sahutku.

Nasya pun duduk di sebelahku.

Nadia menatapku seakan bertanya siapa yang kini duduk di sampingku.

"Kenalin Nad, ini Nasya. Sahabat gue dari kecil. Nasya ini Nadia." Aku memperkenalkan mereka berdua.

"Nadia."

"Nasya Evacska, panggil aja Nasya."

Ucap mereka saling berjabat tangan. Tak lama Radha kembali dengan senyuman lebar. Dia mendaratkan pantatnya di kursi sebelah Nadia.

"Girang banget kamu Dha?" Ujar Nadia.

"Hehe iya dong. Kapan lagi bisa foto bareng sama orang ganteng." Sahutnya bangga. Nadia terlihat mengikuti gerak bibir Radha seolah dia yang bicara. Lucu sekali mereka.

"Eh siapa Key?" Tanya Radha sembari melirik Nasya sekilas.

"Nasya. Sahabat gue, dia kelas XIpa2." Jawabku.

"Hai. Kenalin gue Radha."

"Nasya."

Mereka saling berjabat tangan memperkenalkan dirinya masing-masing.

"Kok lo nggak bilang punya temen secantik ini, Key. Ah nggak asyik lo. Baru ngenalin ke kita." Seru Radha.

"Hah?" Ucapku bingung. Random sekali anak ini. Tiba-tiba berkata seperti itu. Memangnya kenapa kalau Nasya cantik?

"Hehe makasih. Kalian berdua juga cantik kok. Aku mah kalah." Ucap Nasya. Hidung Radha kembang kempis mendengar pujian dari Nasya. Sedangkan Nadia tetap kalem.

"Ah itu mah dari lahir. Haha." Radha menyombongkan diri.

Aku melempar wajahnya dengan tisu bekasku tadi.

"Eh lo bilang apa tadi Sya? Kalian berdua maksudnya gue sama Nadia ya? Berarti Keyra enggak dong? Hahaha" ucap Radha mengejekku.

Aku melemparinya lagi dengan tisu.

"Apa sih Key? Iri lo ya sama kecantikan gue? Hah?" Radha mengibaskan rambutnya bak iklan sampo (sampo hewan).

"Ih ngapain iri sama muka boros lo itu. Wle. Gak usah sok imut gitu muka lo nggak cocok." Gurauku.

"Enak aja. Ngatain gue muka boros. Elo tuh muka lo yang boros. Jelek! Wlee!" Ejek Radha tak mau kalah. Aku mengambil sendok di tempatnya itu lalu menjitak dahinya dengan benda tersebut.

"Awh.. sakit ogeb!" Ringis Radha sambil mengusap-usap dahinya. Haha. Rasain.

"Ngeselin sih."

"Nad sakit Nad. Marahin dia Nad." Adu Radha ke Nadia. Ia menggoyang-goyangkan lengan Nadia.

"Ih lepasin Dha. Risih tau nggak." Nadia menyingkirkan kepala Radha yang menempel di pundak Nadia.

"Hmm .. jahats.." Ucap Radha pura-pura menangis.

Aku cukup terhibur melihat kelakuan temanku itu.

"Eh aku duluan ya. Bye Nad, Dha, kalian lucu deh. Kapan-kapan ke kantin bareng ya?" Ucap Nasya beranjak dari tempat duduknya.

"Iya samperin aja kita di kelas Sya." Sahut Radha.

"Bye Key." Nasya melambaikan tangannya ke arahku.

Dan...

2. Ada Apa dengan Nasya?

Bruuk...

Nasya menabrak seseorang yang ada di belakangnya. Orang itu adalah Ervan, yang kata Radha cowok ter-keren seantero sekolah.

Aku melihat Nasya menundukkan badannya ke Ervan sambil minta maaf. Bukannya marah, Ervan membalasnya dengan senyuman. Membuat para fans Ervan kecewa berat. Ada juga yang berteriak histeris dan merasa iri dengan Nasya. Apa-apaan mereka itu?

"Anjir beruntung banget tuh cewek."

"Gue mau dong disenyumin dan ditatap begitu sama Ervan."

"Ih apa sih sok cantik banget deh tuh cewek. Cabut yuk ah."

Begitulah tanggapan mereka setelah melihat kehebohan di kantin.

"Wah Nasya keren. Coba gue yang tadi nabrak Ervan." Komentar Radha terlihat iri. Namun matanya berbinar-binar melihat mereka berdua.

Kriiing.......

Bel berbunyi nyaring yang artinya pelajaran selanjutnya akan dimulai.

"Ke kelas yuk." Ajak Nadia.

Kami bertiga pun kembali ke kelas.

****

"Key, kita duluan yah. Udah dijemput soalnya. Kamu belum mau pulang?" Tanya Nadia setelah kami keluar dari kelas.

"Duluan aja. Gapapa kok." Jawabku.

"Oke deh, yok Nad. Bye Key!" Sahut Radha sembari memasukkan cermin kecil di saku seragamnya.

"Lo di mana? Pulang bareng nggak?"

Aku mengirimi Nasya pesan singkat lewat sebuah aplikasi chat.

Ting.

"Iya, tunggu bentar lagi."

Balasnya.

Aku langsung memasukkan ponselku ke dalam saku celanaku. Ah, di sini bebas, perempuan boleh memakai rok ataupun celana layaknya siswa laki-laki. Tapi tidak boleh terlalu ketat. Aku lebih suka menggunakan celana panjang seperti ini daripada rok. Ribet kalau bawa motor.

"Keyra!" Seru Nasya setelah keluar dari kelasnya, dia langsung menghampiriku dan kami berdua jalan bersama menuju garasi.

"Key, nanti mampir dulu bentar ya di supermarket depan sana. Ada yang mau aku beli. Gapapa kan?"tanya Nasya saat kami sedang di atas motor.

"Iya." Jawabku seadanya.

Setelah lampu merah aku belok kanan dan berhenti di depan supermarket yang Nasya maksud.

"Ayo Key!" Ajak Nasya setelah turun dari motor.

Aku meletakkan helmku dan mengikuti langkah Nasya di belakang.

"Lo mau beli apa?"

"Pembalut."

"Oke, gue ke sana ya." Ucapku lalu berjalan menelusuri rak beberapa cemilan dan minuman ringan.

Aku memborong yang kuinginkan dan membawanya ke kasir.

"64.300 kak." Ujar si mbak kasir. Aku mengeluarkan dompetku.

"Ini satu aja mbak?" Tanya mbak satunya lagi ke Nasya. Ia mengangguk. Lalu merogoh tasnya, sepertinya dia lupa membawa dompetnya. Iyalah, tadi di kantin dia bilang begitu padaku. Ckck. Dia sendiri lupa.

"Mbak sekalian sama punya dia."

"Oke. Semuanya jadi 76.000 ya. Ini kembaliannya. Silahkan kembali." Ucap si mbak kasir dengan ramah.

"Makasih." Sahutku sembari mengambil kembaliannya.

"Key, sorry ya. Nanti aku ganti deh uangnya. Sama yang di kantin tadi juga." Kata Nasya.

"Gausah. Gapapa kok."

"Tapi kan aku nggak enak."

"Kaya sama siapa aja sih. Kita temenan udah dari kecil. Udahlah nggak perlu diganti. Itu nggak seberapa doang lagian gue ikhlas kok."

"Hmmm ...yaudah deh. Thanks ya Key." Nasya tersenyum padaku dan mencium pipiku sekilas.

Deg..

Perasaan ini lagi? Kenapa jantungku rasanya deg-degan seperti ini? Kurasa pipiku memanas saat ini. Padahal hanya kecupan biasa di pipi. Dan di keluargaku sudah sering aku diperlakukan seperti ini, Mama, Bang Abym dan Papa sering mencium pipiku aku merasa biasa saja, tapi kenapa saat Nasya yang melakukannya darahku berdesir hebat? Jantungku seperti sedang lari marathon di dalam sana. Berdebar-debar tak keruan.

"Keyra, kok malah bengong? Ayo jalan." Nasya menepuk pundakku. Aku keasyikan melamun hingga tak sadar dia sudah duduk di belakangku.

Bruum...

Aku lansung tancap gas setelah Nasya membuyarkan lamunanku. Nasya terkejut dan langsung memelukku.

Duk!

Tak sengaja helm kami berbenturan.

"Aw..." ringisnya pelan sekali. Nyaris tak terdengar olehku. Yang kudengar hanyalah bunyi detak jatungku yang kencang karena tangan Nasya masih melingkar di perutku.

"Sorry.. sorry." Ucapku.

Nasya hanya diam dan langsung melepaskan tangannya dari badanku. Dia terdiam hingga kami tiba di halaman rumah Nasya.

"Nih helmnya. Makasih." Ucap Nasya sambil memberikan helm yang dipakainya padaku. Nasya menunduk dan langsung berlari masuk ke dalam rumahnya. Hey, ada apa dengannya? Apa dia marah padaku?

Aku langsung keluar dari halaman rumah besar itu dan menjalankan motorku menuju rumah yang hanya tinggal beberapa meter lagi dari rumah Nasya.

***

Aku mengerjapkan mataku sambil menguap. Kulihat jam di dinding kamarku menunjukkan pukul 8 malam. Sudah berapa lama aku tertidur?

Aku bangkit dari tempat tidur sembari merenggangkan otot-ototku.

"Eh kebo. Bangun juga kamu. Tidur apa pingsan?" Seru Bang Abym langsung masuk ke kamarku. Membuatku kaget saja.

"Apa sih Bang. Main masuk aja. Ketuk dulu kek pintunya."

"Salah siapa nggak dikunci?"

"Kebiasaan."

"Buruan turun, udah pada nungguin tuh di meja makan. Tidur mulu kerjaannya. Pulang sekolah langsung tidur. Itu juga kenapa seragam belum diganti? Jorok banget sih jadi cewek?" Omelnya padaku.

"Iya abangku yang bawel kaya emak-emak nggak kebagian arisan. Sana keluar. Dedek imut mau ganti baju!" Aku mengusirnya dari kamarku.

"Iiih apa sih abang ganteng bisa jalan sendiri." Ia menepis tanganku yang mendorong bahunya.

"Iya bawel. Sana" aku langsung menutup pintu kamarku setelah Bang Abym keluar. Menyebalkan.

Aku segera membersihkan badanku yang terasa lengket karena keringat. Setelah itu aku turun ke bawah untuk makan malam dan kembali lagi ke kamar.

Aku berniat membaca novel sambil duduk santai di atas balkon kamar.

Aku memandanginya yang sedang duduk di meja belajarnya. Rajin sekali dia.

Dari atas sini, aku bisa melihatnya setiap hari. Kamar kami saling berhadapan di atas sini. Hanya dipisahkan oleh tembok setinggi delapan meter. Kamarku ada di lantai dua.

Aku sampai lupa dengan niatku untuk membaca novel. Entah kenapa memandanginya menjadi hobiku untuk saat ini.

Aku tersenyum sendiri saat melihat Nasya merenggangkan otot-ototnya. Tak sengaja pandangan kami bertemu. Aku melambaikan tanganku padanya seperti biasa. Namun dia langsung menutup tirainya dan mematikan lampu kamarnya begitu melihatku. Senyuman di wajahku memudar. Ada apa dengannya? Biasanya kami akan mengobrol dari atas sini sampai pagi. Bercerita apa saja tanpa bosan. Tapi hari ini berbeda, dia seolah menghindar dariku, sejak tadi siang sepulang sekolah. Ada apa dengannya? Tiba-tiba berubah seperti ini. Rasanya aku tidak berbuat kesalahan padanya? Tapi apa yang membuatnya bersikap seperti ini padaku? Sikapnya kadang membuatku bingung sendiri.

"Ah. Bodo amatlah. Besok aja tanya langsung di sekolah"

Aku langsung menutup jendela kaca kamarku dan segera merebahkan tubuhku di atas kasur. Mataku tiba-tiba merasakan kantuk dan aku pun terlelap.

3. Ervan Wijaya

...Selamat membaca ......

Seseorang yang masih mengenakan seragam olahraga itu tampak sibuk dengan ponselnya. Kelihatannya ia sedang menunggu seseorang untuk menemuinya. Ia sudah menyiapkan kata-kata yang bagus untuk ia utarakan pada Nasya nanti.

Ah, siapa lagi orang itu kalau bukan Ervan Wijaya. Seorang siswa yang terkenal seantero SMA Erlangga. Siswa dengan segudang prestasi sekaligus memilki ketampanan di atas rata-rata.

Tidak ada yang tidak mengenalinya.

"Hai." Sapa Ervan ketika Nasya menghampirinya. Mereka duduk manis di kursi taman di samping sekolah.

Gadis berambut pirang itu tersenyum ke arahnya. Tidak pernah berubah, senyuman itu selalu mampu membuat Ervan berdebar-debar.

Jantungnya berdetak tak keruan di dalam sana.

"Kenapa ngajak ketemu di sini?" Tanya Nasya memecah keheningan karena sedari tadi Ervan hanya diam saja.

"Gapapa..bosen aja nih, pengen ngobrol aja.. hehe.." jawab Ervan tersenyum semanis mungkin. Ia menatap Nasya cukup lama. Nasya yang ditatap seperti itu merasa malu dan mengalihkan pandangannya dari Ervan. Laki-laki itu tidak tahu kalau jantung Nasya seakan lari marathon saat dipandang seperti itu olehnya.

"Aku nggak nyangka kita bakal ketemu lagi dan ngobrol kaya gini." Ujar Ervan. Nasya membenarkan ucapannya dengan mengangguk.

"Iya, terakhir kita ketemu pas tiga tahun yang lalu di lapangan basket sekolah dulu. Sejak kejadian itu kita nggak pernah bertemu lagi." Nasya tersenyum kecut. Ervan kembali merasa bersalah mengingatnya.

Dulu ia terlalu egois dan masih labil, lebih percaya dengan gosip yang tidak berdasar daripada percaya dengan pacarnya sendiri. Ia sungguh menyesal sampai detik ini. Jika gadis itu memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu, dengan senang hati ia akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahan itu.

Perasaan bersalah selalu menghantuinya. Saat ini doanya pada Tuhan-nya terkabul, akhirnya mereka dipertemukan kembali dengan tak terduga. Perasaan itu masih ada. Ervan masih mengharapkan gadis itu kembali padanya.

"Maaf. Waktu itu aku pernah ninggalin kamu daripada dengerin penjelasan kamu. Aku emang egois, seharusnya aku lebih percaya sama kamu daripada gosip itu." Ucap Ervan dengan penuh penyesalan.

Nasya menggeleng dan tersenyum padanya.

"Nggak apa-apa kok, lagian itu udah masa lalu. Aku udah lupain semuanya. Santai aja kali, Van."

"Kalo kamu ngasih aku kesempatan buat menebus kesalahanku di masa lalu, aku bersedia untuk memperbaikinya, Sya."

"Hah? Maksudnya?"

"Ehm...aku pengen balikan sama kamu. Kamu mau kan? Aku janji nggak akan ngulangin kesalahan yang sama."

Nasya tampak kaget, Ervan tiba-tiba memeluknya. Dirinya hanya diam mematung, tidak juga membalas pelukan itu. Entah mengapa jantungnya berdebar-debar saat Ervan memeluknya.

Nasya segera menjauhkan tubuh Ervan darinya.

"Sorry, Van. Aku nggak bisa. A-aku mau ke kelas." Nasya segera berlari meninggalkan Ervan di sana. Ia tak menghiraukan teriakan cowok itu memanggil namanya.

"Aku nggak akan nyerah gitu aja." batin Ervan.

***

Keyra berdecak kesal. Ia menendang benda apa saja yang ada di hadapannya untuk meluapkan kekesalannya. Nasya yang sedari tadi berjalan di sampingnya mengernyit heran padanya. Sesekali Keyra menggumam tidak jelas dengan ekspresi marah. Wajahnya merah padam, Nasya yang melihatnya sedikit khawatir.

"Kamu kenapa, Key? Sakitkah? Muka kamu merah banget Key." Nasya meletakkan telapak tangannya di dahi Keyra, namun gadis itu segera menepis tangan Nasya dengan kasar. Sorot matanya menatap Nasya penuh emosi.

"Ka-kamu baik-baik aja kan, Key?"

Nasya tampak ketakutan melihat Keyra seperti itu. Keyra meredam emosinya. Dalam hati ia terus merapal kata sabar.

Ia begitu karena tadi tak sengaja melihat Ervan memeluk Nasya. Dia cemburu. Entah apa hubungan keduanya Keyra penasaran dan kesal pada Nasya karena ia tak pernah memberitahunya. Menyebalkan.

"Ada hubungan apa kamu sama Ervan?" Tanya Keyra ketus. Nasya tampak kaget. Bagaimana Keyra bisa tahu?

"Nggak ada apa-apa kok, cuma temen aja." Jawab Nasya menyembunyikan rasa paniknya. Entahlah dia sendiri bingung mengapa harus sepanik itu. Seharusnya dia bisa bersikap biasa saja. Mungkin karena ia takut Keyra marah padanya?

"Nggak usah bohong. Apa yang kamu sembunyiin?"

"Nggak ada apa-apa, Keyra. Dulu Ervan itu adalah mantan aku waktu smp. Aku nggak nyangka aja bisa ketemu lagi sama dia di sekolah ini. Sekarang ya kita temen nggak lebih."

Jelas Nasya pada Keyra. Namun Keyra tampak tidak puas mendengar penjelasan sahabatnya itu.

"Jadi dulu kalian sempet pacaran? Kenapa aku nggak pernah tau itu?"

Keyra mulai meninggikan suaranya. Nasya terkejut mendengar nada bicara Keyra yang lantang. Sungguh, ia tidak menyukainya.

"Nggak semuanya harus aku ceritakan sama kamu Key. Emangnya salah aku punya privasi sendiri dan nggak mau orang lain tau. Kamu emang sahabat aku tapi kamu nggak berhak ngatur-ngatur hidup aku!"

Ucap Nasya kasar. Tanpa sadar ia menangis. Nasyra berlari meninggalkan Keyra yang masih terdiam mematung. Perkataan Nasya benar adanya, mereka hanya sebatas sahabat. Kata-kata Nasya sedikit melukai hatinya.

***

Nasya's PoV

Aku benci Keyra! Dia nggak berhak ngatur-ngatur aku. Selama ini aku selalu sabar menghadapinya. Kali ini dia bersikap seenaknya padaku. Memangnya salah kalau aku berteman dengan siapa saja? Aku nggak butuh izin darinya untuk itu. Dia memang sahabatku, seharusnya dia bisa menghargaiku.

Ting!

Aku tersenyum membaca chat dari Ervan. Dia benar-benar bisa membuatku terhibur.

Sifat humorisnya selalu membuat moodku berubah menjadi lebih baik.

Jujur, aku sangat senang bisa bertemu lagi dengannya. Rasa kagumku padanya tak pernah berkurang.

Ervan : Sya, besok aku jemput ya ke sekolah😊

Aku tersenyum membacanya. Kuketikkan balasan untuknya.

Nasya : boleh. Hehe 😊

Ervan : oke cantik. Sampe ketemu besok. Jangan kangen 😉

Aku terkikik geli membacanya. Dasar Ervan, nggak berubah.

Nasya: iya jelek 😛

Read.

"Ervan. Ervan. Ervan. Kenapa aku malah mikirin dia terus sih?!

Tau ah. Lebih baik aku tidur aja!"

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play