English
NovelToon NovelToon

Jodoh Di Tangan Orang Tua

Pertama

Jakarta, 20 Agustus 2014

Tepat setelah beberapa hari kemerdekaan indonesia, gue pergi meninggalkan kampung halaman gue. Bogor, Kota Hujan yang selama 20 tahun memberikan gue banyak kenangan, masa kecil dan remaja gue habiskan di Kota Hujan itu. Entah sudah berapa banyak lembar kertas yang di habis kan jika semua kenangan gue di tulis kan di dalam buku.

Dengan hati yang sangat berat gue memutuskan menerima tawaran kerja di Jakarta, dengan alasan sudah malu terus menjadi beban untuk kedua orang tua gue, karena semenjak lulus SMA gue hanya menjadi pengangguran. Maka pada bulan Agustus itu gue bulat kan tekad untuk pergi ke Kota Metropolitan.

Perjalanan 5 jam dengan menggunakan angkutan umum dan kereta cukup membuat gue lelah, tepat pukul 19:00 WIB gue tiba di stasiun tujuan gue, stasiun Taman Kota, karena tempat kerja gue di daerah Jakarta Barat, tepatnya di Kembangan. Maka stasiun terdekat dengan tempat kerja gue hanya stasiun itu, begitu kata sodara gue yang udah lama kerja di daerah itu. Sampai di stasiun pun gue masih harus naik angkot, jaraknya menang tidak jauh dan ongkos pun hanya tiga ribu rupiah, waktu itu.

Awan gelap semakin menyelimuti setiap sudut Kota Jakarta itu, hembusan angin juga seakan meniup debu di sepanjang jalan Kembangan, tepat di sebuah gang, gue mulai berjalan menelusuri gang yang lumayan besar itu, tapi tidak cukup untuk laju dua mobil, jika ada mobil berpapasan salah satu dari mobil tersebut harus minggir dan mengalah agar bisa jalan. Mata gue fokus untuk mencari rumah kost yang sebelumnya sudah sodara gue pesan, bangunan nya memang berbeda dari rumah-rumah di sekitar nya, terlihat lebih tinggi karena ada 3 lantai di sana. Harganya cukup masuk akal buat gue yang baru aja mau kerja, ini adalah kostan paling murah yang sodara gue temuin.

Terlihat sebuah pagar besi yang mengelilingi halaman, dan juga ada beberapa speda motor yang terparkir dan bisa gue pasti kan kalau itu adalah speda motor milik para penghuni kost, berbekal sebuah kunci dan informasi singkat dari sodara gue, gue mulai masuk ke dalam area kostan. Nampak sepi di sekeliling nya, bahkan ketika gue masuk ke koridor dan menaiki anak tangga, tidak ada seorang pun yang gue jumpai di sana. Hanya sebuah lagu 'yang terlupakan' milik Iwan Fals yang bisa terdengar, dan memecah ke sunyian pada malam itu. Tapak demi tapak gue terarah menaiki satu persatu anak tangga tersebut, sampai kaki gue berakhir di akhir anak tangga lantai paling atas. Kebetulan gue dapat nomer tiga di lantai ke tiga.

Terlihat ada lima kamar yang berjejer di lantai tersebut, kamar pertama adalah kamar mandi, dan kamar seterusnya adalah kamar kost. Dan juga di ujung kamar terdapat sebuah balkon dan yang sudah tersedia beberapa kursi dan meja, tempat yang asik buat bersantai dan ngopi.

Saat gue melewati pintu kamar mandi, gue melihat ada dua pintu kamar yang terbuka, kamar kedua yang ternyata lagu Iwan Fals tadi terputar di sini, tapi setelah gue melewati kamar tersebut sepertinya tidak ada penghuninya, mungkin sedang keluar, atau di kamar mandi karena tadi pintu kamar mandi tertutup. Kamar satu lagi yang terbuka adalah kamar nomer empat, kamar yang ada tepat di sebelah kamar gue. Gue melihat seorang wanita yang baru saja keluar dari kamar itu, memaki baju gombrong yang kebesaran dan juga celana jeans pendek yang hampir tertutup oleh bajunya, melangkah menuju balkon yang ada di ujung, wanita itu duduk di terasnya, bukan di kursi yang sudah tersedia di sana. Cukup aneh.

Karena rasa penasar, gue pun mulai berjalan untuk menghampiri wanita itu tanpa masuk ke dalam kamar gue dahulu, lagi pula tidak ada salahnya kan kalau gue mencoba buat pdkt dengan tetangga kamar sebelah gue?

Wanita itu duduk dengan kedua lutut yang di tekuk, punggungnya bersandar di dinding dan wajahnya terbenam di antar lutut mungilnya, mungkin dia tidak menyadari ke datangan gue saat dia keluar kamar tadi. Dari perawakan dan juga raut wajah nya yang gue lihat sekilas, bisa gue perkirakan wanita ini seumuran dengan gue.

"Selamat malam, Mbak." Gue mencoba menyapanya.

Tapi, tidak ada sepatah kata pun yang gue dengar dari bibir wanita itu, bahkan kepalanya tidak menoleh, dan matanya tidak melirik sama sekali, seakan tidak ada apa-apa, dia hanya fokus melihat ke arah bawah, halaman samping kostan yang hanya ada tanaman hias.

"Permisi!!!!" gue mencoba menyapanya lagi, karena gue berpikir mungkin suara gue tenggelam oleh lagu-lagu Iwan Fals yang sedang di putar di kamar pertama.

Lagi-lagi, tidak ada sepatah kata atau pun respon yang di berikannya, gue semakin geram dan kesal karena sapaan gue terabaikan. Akhirnya gue hanya bisa merajuk di dalam hati, dan segera bergegas meninggalkan wanita aneh itu. Lagi pula, nasi padang yang ada di tangan gue, yang baru aja gue beli di depan gang, sudah menggoda untuk segera di makan, 5 jam perjalanan cukup membuat cacing di dalam perut gue jadi berirama, karena hanya sepotong roti yang gue makan di stasiun akhir. Akhirnya gue pun segera masuk ke dalam kamar.

Besok adalah hari pertama gue kerja, sebisa mungkin gue harus tidur cepat malam ini.

Tapi fakta berbanding terbalik dengan ekspetasi, gue malah susah tidur. Berkali-kali gue lirik jam yang terpampang di handphone, dari mulai jam 21:00, hingga akhirnya jam 00:05. Mata gue sangat tidak di bisa untuk di ajak kompromi, dengan segala keputus asaan gue akhirnya pasrah dan menutuskan untuk kembali main handphone, buka beberapa sosial media dan juga tidak lupa gue pasang beberapa alarm yang di mulai dari jam 6 pagi. Karena jam 8 gue harus sudah ada di tempat kerja.

Kamar kost gue gelap, karena gue sengaja mematikan lampunya ketika gue sedang mencoba tidur tadi, hanya ada cahaya dari handphone gue dan juga beberapa sinar lampu dari luar yang masuk lewat celah kecil jendela dan lubang pentilasi. Sebuah sarung yang gue bawa dari kampung juga sudah pada posisinya, menyelimuti kaki gue, karena gue tipe orang yang engga bisa ke dinginan jadi harus ada sarung atau selimut ketika malam hari.

Samar-samar gue mendengar suara tangisan dari luar kamar, begitu terisak seolah menangisi sesuatu yang pedih. Suara tangisan itu tentu saja membuat mata gue terbelak, antara takut dan juga kasihan. Tidak di pungkiri otak gue memikirkan sesuatu yang mistis, bagaimana tidak di jam 12 malam gue mendengar suara isak tangis perempuan, otak gue semakin kacau, mata gue fokus melihat ke arah jendel yang samar-samar menapilkan bayangan. Gue terus menebak suara tangisan itu, entah apa yang di tangisi, se begitu pedih nya kah? Hingga tangisan itu terdengar sangat menyakitkan.

Semakin jelas suara tangisan itu terdengar di sebelah kamar gue, mungkikah itu tangisan wanita aneh yang tadi gue sapa? wanita aneh yang engga menjawab gue? apa yang sedang di tangisinya? rasa penasaran semakin bergejolak di dalam diri gue. tapi, rasa takut juga terus menghantui. gimana kalau ternyata itu bukan wanita aneh? melainkan tangisan sosok tak kasat mata? akhirnya, gue memutuskan untuk menutup sebagian wajah gue dengan sarung dan juga bantal yang ada, sampai akhirnya gue tertidur dengan rasa penasaran dan juga ketakutan pada malam itu.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play