English
NovelToon NovelToon

One Day In Seoul

하나: Satu

Delapan tahun yang lalu.

latte05: Louis, aku baru saja menyelesaikan membaca buku yang baru aku beli. Ini adalah buku ketiga yang aku baca minggu ini.

louis24: Dasar kau ini si kutu buku hahaha. Aku jadi penasaran apa impianmu.

latte05: Pertama aku ingin bisa membuat orang-orang tersebyum, kedua aku ingin keliling dunia kemana saja, bagaimana denganmu?

louis24: Umm...kalau aku...aku akan menggantikan ayahku sebagai presdir di perusahaannya.

latte05: Maksudmu perusahaan ayahmu yang besar dan terkenal itu?

louis24: Benar, nanti setelah memiliki banyak uang aku akan membuat rumah-rumah vanila supaya kita bisa menikmati semua hidangan vanilla sepuasnya.

latte05: Benarkah? Tapi...

louis24: Tenang saja, aku akan membuatkannya khusus untukmu nanti :) Itu artinya kau harus datang ke sini.

latte05: Tentu saja dengan senang hati :P

“Nindya! Aduh.. Cepat turun Sayang.. Dari tadi sibuk mulu sama hpnya. Nanti bunda sita loh hpnya. Gara-gara itu kamu jadi lupa sama waktu. Lupa makan, mandi, tidur, belajar....” Telinga gadis itu mendengar omelan dari mulut ibunya di lantai bawah.

latte05: Aduh Louis, nanti kita sambung lagi ya... Ibuku sedang mengomeliku... Sampai jumpa...

louis24:  Okay...

            Gadis remaja yang dipanggil Nindya itu tersenyum puas, walaupun kemampuan bahasa Inggrisnya tidak terlalu bagus, tetapi itu tidak menghalanginya untuk memiliki seorang sahabat baru dari Korea.

***

    Gadis berkerudung lebar itu mendesah lega saat menemukan Pak Reno, dosennya sedang tidak berada di dalam kelas. “Buruan sini, Nindya.” Panggil Tara, sahabatnya dari tempat duduk mereka di barisan tengah. Gadis yang dipanggil Nindya itu bergegas berjalan ke arah kursinya. Tidak ada yang memperdulikan kedatangannya karena teman-temannya yang lain sibuk dengan urusan mereka masing-masing.

     “Kamu kenapa telat sih?” Tanya Tara dengan raut wajah bingung saat Nindya sudah duduk tenang di kursinya.

     “Semalam aku gak bisa tidur.” Nindya nyengir membuat sahabatnya hanya geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Setahu Tara, Nindya termasuk orang yang sangat disiplin waktu. Tapi ia juga tahu kalau Nindya memang punya gangguan insomnia yang membuatnya sulit tidur.

     “Ngomong-ngomong Pak Reno kemana?” Tanya Nindya heran. Dosen yang memegang mata kuliah sosiologi itu biasanya jarang sekali absen.

     “Pak Reno ada seminar di Norwegia. Jadi kita cuma disuruh belajar sendiri aja.” Balas Tara dengan cuek. Ia kemudian melanjutkan kegiatan menggambar doodle di belakang buku catatannya. Nindya terkikik geli. Bukannya belajar, Tara malah sibuk menggambar. Sungguh sangat sulit memisahkan Tara dari kegiatan menggambar karena menggambar adalah hobinya.

     Nindya menghela napas pendek sambil mulai membaca bukunya. Tidak sampai dalam beberapa menit ia sudah tenggelam dalam bacaannya. Membaca sudah menjadi kegiatan yang tidak terpisahkan dari dirinya. Sesibuk apapun Nindya dengan tugas-tugas kuliahnya, ia akan selalu berusaha menyempatkan dirinya untuk membaca buku setiap hari. Kebiasaan ini ia dapatkan dari orang tuanya yang sudah membiasakannya untuk membaca buku sedari kecil.

     Adalah Nindya Namira, gadis berusia dua puluh tiga yang sedang mempelajari ilmu manajemen bisnis di sebuah universitas negeri di kotanya. Saat ini ia sudah berada di tahun terakhir masa kuliahnya. Sama seperti mahasiswa lainnya, Nindya menjalani kehidupan kuliahnya dengan normal. Di pagi hari ia akan menghadiri kelas dan sorenya ia akan pulang ke rumah. Ia juga aktif di beberapa organisasi kampus seperti BEM dan ke-rohisan.

    “Kamu udah tau belum mau magang di mana?” Tiba-tiba Tara bertanya dan memutus konsentrasi Nindya yang sedang membaca buku. Ia menoleh ke arah Tara yang juga sedang menatapnya.

    Nindya menandai halaman terakhir yang ia baca kemudian menutup bukunya. Kali ini ia memusatkan seluruh perhatiannya pada sahabatnya. “Belum. Aku masih nyari-nyari. Bingung juga mau di mana.”

    Tara tampak berpikir sejenak sebelum akhirnya berkata, “kamu kenapa gak ikut Bang Adam aja? Maksudnya magang di Jepang gitu. Pasti seru deh.”

    “Gak bisa lah. Aku kan gak bisa Bahasa Jepang. Apalagi aku juga belum diskusikan masalah ini sama orang tuaku dan Bang Adam.”

    Yang dimaksud dengan Adam adalah kakak laki-laki Nindya satu-satunya. Kakaknya itu sekarang sedang bekerja sebagai arsitek di Jepang. Tahun ini adalah tahun kelima Adam tinggal di Jepang. Tara sendiri mengenal Adam karena ia sangat sering bermain ke rumah Nindya ketika mereka masih SMP, sementara Adam, kakak Nindya masih berkuliah waktu itu.

    “Kamu sendiri gimana?” Kali ini Nidnya yang bertanya pada Tara.

     Sahabatnya itu menggelengkan kepalanya dengan wajah murung. “Aku juga masih belum tahu. Nindya, gimana kalau kita magangnya di tempat yang sama? Kamu tahu kan kalau aku gak bisa pisah sama kamu walaupun cuma sehari. Ya? Ya?” Tara berkata dengan nada lebay dengan kedua mata yang memelas, seolah berusaha membujuk Nindya dengan tatapan matanya. Melihat itu Nindya jadi tersenyum geli dan menganggukkan kepalanya, membuat Tara yang duduk di sampingnya bersorak gembira.

***

     “Kalian sebenarnya beruntung masuk universitas ini. Karena universitas ini mengizinkan kalian untuk magang di mana aja bahkan kalau kalian mau, kalian juga bisa magang di luar negeri.” Ujar Pak Reza, academic supervisor untuk jurusan ilmu manajemen bisnis, jurusannya Nindya dan Tara. Academic supervisor sendiri memiliki fungsi seperti guru BK di sekolah. Setiap mahasiwa yang ingin berkonsultasi tentang masalah akademik mereka bisa mendatangi academic supervisor sesuai jurusan masing-masing. Oleh karena itu, sepulang kuliah Nindya dan Tara memutuskan untuk menemui supervisor mereka untuk berkonsultasi masalah magang mereka.

      “Luar negeri, Pak?” Tanya Tara untuk memastikan pendengarannya barusan. Nindya mengangkat kedua alsinya saat dia mendengar nada tertarik dalam suara Tara.

       “Iya. Ke luar negeri. Bahkan untuk jurusan manajemen sendiri, ada perusahaan internasional dari Korea yang bekerja sama dengan fakultas kita sejak lama. Sebentar, saya coba cari brosurnya dulu.” Ujar Pak Reza sambil memeriksa tumpukan file di atas mejanya.

        “Kamu mau magang ke luar negeri?” bisik Nindya pada Tara.

         “Kalau misalnya perusahaannya memang bagus kenapa enggak? Lagi pula kita kan udah punya sertifikat IELTS juga jadi gak perlu susah-susah kan?” Balas Tara dengan nada antusias.

         “Tapi-”

         “Nah, ini dia brosurnya.” Pak Reza berhasil menemukan sebuah brosur dan menyerahkannya pada Tara yang segera membolak-balikkan brosur itu dengan penuh minat.

        “Ini adalah perusahaan dibidang teknologi. Mereka sendiri sudah pernah mengadakan kunjungan dan kerja sama dengan universitas kita sejak enam tahun yang lalu. Sudah banyak senior-senior kalian yang dari jurusan ini yang magang dan bekerja di sana. Kalau kalian berminat bapak bisa minta tolong dekan untuk membuatkan surat rekomendasi magang untuk kalian.”

         “Baik, Pak. Kami bicarakan dulu dengan keluarga. Terima kasih atas bantuannya, Pak.” Ujar Tara dan Nindya. Mereka berdua kemudian berlalu keluar ruangan.

         “Ta, kamu serius mau magang di Korea?” Tanya Nindya lagi saat mereka berjalan ke arah parkiran mobil, tempat mobilnya berada. Ketika menemukannya mereka segera masuk ke dalam mobil.

          Tara memasang seat-bealt nya. “Iya, aku serius. Ini kesempatan yang bagus buat kita untuk mendapatkan pengalaman yang baru, ketemu orang-orang baru juga. Kalau magang di luar negeri, bonusnya kita bisa dapat gaji yang jumlahnya udah pasti di atas rata-rata gaji di sini. Kalau masalah tiket sih gampang. Aku bisa minta tolong om aku yang kerja di kantor airline. Kalau kamu ragu, pikirin dulu, nanti kabarin aku ya.”

***

          “Bunda, kalau adek magang di Korea aja gimana?” Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari bibir Nindya saat makan malam bersama kedua orang tuanya.

            Mendengar pertanyaan itu gerakan kedua orang tuanya yang sedang makan terhenti. Sebenarnya sejak sore tadi ia sudah memikirkan hal ini berulang kali. Apalagi perkataan Tara yang terakhir membuatnya entah kenapa menjadi tertarik untuk magang di luar negeri juga.

            “Kenapa tiba-tiba, dek?” Ayahnya yang lebih dulu bersuara setelah hening beberapa saat.

            “Sepertinya kalau magang di luar negeri lebih banyak benefit-nya, yah. Siapa tahu adek bisa langsung kerja di perusahaannya. Kalau ayah sama bunda mengizinkan, bulan depan adek udah berangkat.”

            “Kalau adek mau magang di luar negeri kenapa tidak di Jepang saja? Adek bisa tinggal sama abang, di sana ada abang yang jagain. Kalau adek ke Korea nanti siapa yang jagain adek?” Tanya ayah Nindya.

            Nindya hanya terdiam. Sudah jelas ayahnya tidak setuju dengan keputusannya. Ia anak perempuan satu-satunya di dalam keluarganya. Tidak heran keluarganya sangat protektif padanya, apalagi ayah dan saudara laki-lakinya.

            “Kalau bunda setuju-setuju aja kalau adek mau magang di Korea. Bunda izinin adek cari pengalaman sebanyak-banyaknya, sejauh-jauhnya. Tapi, apa adek siap? Korea itu negara dengan minoritas Muslim lho, Nak. Pasti akan lebih menantang hidup di sana sebagai seorang muslim.”

            Mendengar perkataan bunda barusan membuat Nindya melihat adanya secercah harapan untuknya untuk berangkat ke Korea.

            “Adek siap kok, bun. Insya Allah. Lagian magangnya juga cuma tiga bulan. Terus adek berangkatnya juga sama Tara. Gimana? Ayah sama bunda setuju gak?” Tanya Nindya sambil memandang kedua orang tuanya dengan harap-harap cemas.

            “Kalau adek janji bisa jaga diri dan terus mengabari kami, ayah sama bunda izinkan adek berangkat ke Korea.” Ujar ayah Nindya sambil tersenyum.

            “Yes! Insya Allah adek janji, adek bakal jaga diri. Makasih ayah, makasih bunda.” Nindya bersorak kegirangan sementara orang tuanya hanya tersenyum melihat tingkahnya.

둘: Dua

Nindya mendesah bosan saat ia tidak menemukan kegiatan yang mengasyikkan untuk menghabiskan waktunya. Tapi ia segera tersenyum kecil saat melirik ponsel di sampingnya. Dengan sedikit terburu-buru ia mengetikkan sebuah pesan untuk Louis.

latte05: Jadi apa hobimu?

Gadis itu mengetuk-ngetukkan telunjuk kanannya ke dagunya. Ia mencoba bersabar menunggu balasan dari sahabat barunya itu. Biasanya Louis akan membalas dalam waktu kurang dari satu menit. Tiga... dua... satu…

Ping!

Nindya tersenyum saat ponselnya berdering. Tepat seperti dugaannya. Berteman selama tiga bulan dengan Louis membuatnya sudah hafal dengan kebiasaan sahabatnya itu.

louis24: Hmm, aku mempunyai banyak  hobi. Menonton tv, chatting, membaca, fhotography, makan, apa lagi ya?

latte05: Sudah cukup. Itu banyak sekali. Aku tidak percaya kau mempunyai hobi sebanyak itu.

louis24: Kenapa tidak? Aku ini jenis orang yang multi-talented. Aku bisa dalam hal apapun.

Nindya mendecakkan lidahnya saat membaca  pesan Louis. Tapi bibirnya tidak bisa berhenti tersenyum. Jari-jarinya bergerak  lincah mengetik pesan balasan.

latte05: Apa ini? Sekarang kau bahkan sedang membanggakan dirimu padaku? Mengesalkan -_-

louis24: Hahaha, apa kau iri padaku?

latte05: Kenapa aku harus iri padamu? Kau ini makhluk yang suka pamer.

louis24: Vanilla 1, akui saja kalau kau memang iri. Hahaha

latte05: Aku tidak.

louis24: Ya.

latte05: Tidak.

Nindya mendengus kesal. Apa-apaan Louis ini? Mengesalkan sekali. Ia kemudian menguap kemudian dan untuk tidur.

“Hei, bangun. Ngelamunin apa sih?” Nindya mengerjapkan kedua matanya saat ia melihat Tara sedang mengibaskan salah satu tangannya tepat di depan kedua mata Nindya. Sahabatnya itu sedang mencoba untuk menariknya kembali ke alam sadar.

“Ngelamunin apa sih?” Tanya Tara sekali lagi. Nindya mendengar Tara berbicara dengan nada berbisik. Ia kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepalanya sebagai respon untuk Tara. Membuat gadis berkerudung di sebelahnya itu kembali memfokuskan pandangan ke depan untuk mendengarkan kuliah yang sedang disampaikan oleh dosen.

 Bisa-bisanya ia melamun di tengah-tengah pelajaran. Nindya mendesah di dalam hati.

***

            “Jadi keputusan kamu gimana? Kamu mau ikutan?” Tanya Tara saat mereka sedang makan siang di kampus.

            Nindya menyeruput jus jeruknya sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Tara, “yuk, bismillah, aku siap.”

            Kedua mata Tara melebar saat dia mendengar kalimat dari mulut sahabatnya itu. “Kamu serius? Jadi kita ke Korea?” tanyanya dengan nada tidak percaya, seolah Nindya baru saja bercanda dengannya.

            Nindya menganggukkan kepalanya dengan cepat.

            Tara kemudian tertawa lepas. Wajahnya menyiratkan bahwa dia lega mendengar jawaban Nindya barusan. “Habis ini kita ke kantor Pak Reza ya minta surat rekomendasinya.” Ujarnya.

 ***

            “Bang, adek mau berangkat ke Korea bulan depan.”

            “Adek kok baru bilang sama abang sekarang. Udah minta izin sama ayah dan bunda?”

            Nindya memijat-mijat dahinya ketika mendengar nada suara kakaknya yang protektif. Oh ayolah, bagaimanapun jugaNindya bukan lagi anak kecil. Ia sudah berumur dua puluh tiga tahun, tetapi saudara laki-lakinya itu maish saja memperlakukannya seperti anak kecil.

            “Udah dong bang, makanya sekarang adek telepon abang buat ngabarin.”

            “Kenapa pake magang di luar negeri segala sih? Gak bisa magang di Jakarta aja? Kita kan gak punya saudara di Korea. Kalau ada apa-apa nanti gimana?”

            Nindya mendecakkan lidahnya dengan pelan. Ia paham betapa saudaranya itu menyayanginya dan ingin melindunginya, tapi Adam selalu saja memiliki kekhawatiran yang berlebihan padanya.

            “Bang, udah dong bang. Jangan mikir yang macam-macam. Abang mendingan doain adek aja biar selalu dilindungin sama Allah. Lagian adek perginya juga gak sendirian. Tara juga ikut.”

            “Tara juga ikut?”

            Kali ini Nindya mengernyit saat menyadari ada nada penasaran dalam suara Adam.

            “Iya, dia juga ikut.”

            “Ya udah kalau gitu adek hati-hati ya. Nanti kalau adek udah mau berangkat abang telepon lagi. Abang sekarang lagi ada kerjaan. Titip salam sama ayah dan bunda ya.”

            Setelah mengucap salam, Adam memutuskan panggilan telepon meninggalkan Nindya yang termangu sambil menatap ponselnya. Ada yang aneh. Biasanya saudaranya itu akan bertingkah menyebalkan dan bawel untuk menanyai Nindya dengan banyak pertanyaan, tetapi tadi Adam berhenti bertanya saat Nindya menyebut nama Tara.

            Nindya mengangkat kedua bahunya, ya sudahlah. Yang penting Adam sudah mengijinkannya untuk pergi. Kedua matanya kemudian melirik ke arah komputer pribadi di kamarnya. Ia berniat untuk mencari tahu lebih dalam tentang perusahaan yang akan menjadi tempat magangnya nanti. Kalau tidak salah namanya High Tech Corporation. Jari-jari Nindya bergerak mengetikkan nama perusahaan itu di mesin pencarian. Dalam beberapa detik hasil pencarian pun muncul. Nindya segera membuka salah satu link dari artikel yang membahas tentang perusahaan tersebut dan mulai membacanya.

            “Perusahaan ini dibangun pada tahun 1992 oleh Park Yoo Ji. Pada tahun 2014, perusahaan kemudian diambil alih oleh pewaris tunggal perusahaan, Park Minwoo setahun setelah Park Yoo ji meninggal dunia. Di bawah pimpinan Park Minwoo yang masih berusia muda, High Tech Corporation sudah memiliki cabang hampir di seluruh benua di dunia.”

            “Wah perusahaan ini keren. Park Minwoo ini pasti pinter banget.” Gumam Nindya. Matanya bergerak-gerak mencari foto-foto Park Minwoo, tapi hasilnya nihil. Ia tidak bisa menemukan foto pewaris perusahaan itu dimanapun. Entah kenapa perasaan kecewa sedikit muncul di hatinya. Sepertinya Minwoo bukanlah tipe orang yang suka mempublikasikan dirinya. Nanti kalau udah magang di sana juga pasti bakal ketemu. Hibur Nindya pada dirinya sendiri.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play