Langit mendung tanda hujan akan turun. Guen terbaring lesuh diatas kasur empuk sambil jari-jari kurusnya menutupi wajahnya dengan selendang kuning yang baru saja dibelinya di Bandara Pattimura Ambon diiringi sebuah musik DJ Alan Walker kesukaannya. Dia baru saja pulang dari tempat wisata di Ambon yang berjarak 1,152 km dari Makassar yang ditempuh selama 1 jam 45 menit naik pesawat. Guen terlihat sedih dan dia menghabiskan 1 jam menangis di dalam kamarnya. Bantal biru kesayangannya dibasahi oleh air matanya yang tak kunjung berhenti mengalir.
“Yang sabar ya, dia bukan yang terbaik”. Hella ikut sedih.
“Aku tidak menyangka dia membohongiku. Aku terlalu bodoh mempedulikan dan memperhatikan dia berlebihan. Aku menyesal”. Guen mengambil tissue dekat kakinya dan menyapu wajah berjerawatnya dengan tissue lembut dan putih.
“Tapi, semua sudah terjadi! Biarlah! Hidupku akan tetap berlanjut!”. Guen menyemangati dirinya sendiri dan mengambil segelas air lalu meminumnya.
“Ayok main PUBG ya”. Guen mengajak Hella main game.
“Kepalaku sedikit pusing, mungkin karena saya lelah dan telah menangis”. Keluh Guen
“Jadi bagaiman? Mau main atau istirahat?”. Hella penasaran melirik ke arah Guen
“Main…..!!!”. Pinta Guen. “Aku tunggu di lobby”. Tambah Guen
“OK….!”. Hella setuju.
“Udah ya mainnya. Kita gak pernah menang, aku selalu mati duluan”. Guen menggerutu
“Ya….pikiranmu lagi gak sinkron mom”. Tegas Hella. “Eh kamu uda baikan? Uda bisa ngobrol?”. Hella menggoda Guen.
“Kenapa?”. Guen bertanya
Hella memperhatikan Guen dengan wajah yang penuh gairah entah apa yang sedang dia rencanakan. Hella melompat ke atas kasur empuk milik mereka berdua yangmereka beli setahun yang lalu dan duduk disamping Guen yang sedang mengangguk-anggukkan kepalanya mengikuti irama music DJ yang sedang terputar melalui speaker Bluetooth kecilnya. Hella menggigit bibir bagian bawahnya sebelum dia mulai berbicara.
“ Hai, Guen!” sapa Hella. “tau gak? Aku punya kabar baik buat kamu dan kamu pasti suka”.
“Apasih,” jawab Guen sambil mengkerutkan dahinya dan kembali memelototin handphone vivo tipis kesayangannya yang sedang memutar YouTube. “Kamu mau cerita sesuatu?”
“iya, tentang kamu” jawab Hella. “Aku mendownload aplikasi cari jodoh dan kamu pasti suka, kamukan pencinta bule.” Hahahhaha sambil Hella tertawa lepas.
Guen seperti disihir oleh penyihir jahat dan langsung duduk manis disamping Hella dan merampas handphone milik Hella dan mulai memeriksa handphone itu sehingga mata sipitnya terlihat bulat seperti mata kucing pada malam hari.
“hey, kamu tau aplikasi ini dari siapa?.” Tanya Guen sambil mendowload aplikasi itu di handphone vivo tipis andalannya.
“Aku dapet dari mr. google”. Jawab Hella sambil tersenyum. “Waktu lihat ini aku langsung ingat kamu”. Tambahnya melirik ke Guen yang sedang sibuk dan semangat menjawab beberapa pertanyaan untuk join dalam aplikasi itu lalu menyelesaikannya.
Tik! Tik! Tik! Bunyi hujan diatas genting. Tung! Tak! Toing! Bunyinya menghempas genting, ember, dan bak yang sudah tersedia di depan rumah.
“Selesaaaaiii….!” Sebuah suara terdengar heboh memecahkan keheningan sore.
Suasana nggak begitu hening sebenarnya, hiperbolis aja sih. Biar lebih seru! Sore itu jalanan di belakang rumah ramai dipenuhi oleh motor, sepeda dan mobil milik orang-orang yang pulang kerja, jalan-jalan dan berolahraga. Mereka lalu-lalang menghindari hujan.
“Jemuraaan! Hujan oooii!”. Teriak Diah kepada Rosdi.
Guen menatap handphone vivo miliknya dengan pandangan dingin yang mungkin bisa membekukan minuman cokelat panas yang masih mengempul. “Terserah deh”. Katanya sambil memutar badannya menghadap ke tembok.
“Apa yang terjadi?”. Diah mencetuskan pertanyaan kepada Guen yang sedang badmood.
“Aku dapet 35 pesan dari pria dalam aplikasi ini dan aku tertarik dengan satu orang tetapi …….huffff”. Guen menghembuskan nafas sambil memonyongkan bibir kecilnya lalu melanjutkan. “Dia terlalu ribet, banyak syarat dan aku gak bisa seperti yang dia mau”. Kesedihan terpancar lewat wajah jerawatan milik Guen.
“Tenang aja….pasti ada yang baik. Toh orang yang ikut aplikasi ini dari semua benua dan macam-macam negara”. Jawab Diah berlagak dewasa dan bijak.
“Baiklah…aku gak akan menyerah”. Senyum harapan dan menggoda terpancar diwajah Guen. Lalu membantingkan badan keatas Kasur empuknya dan tertidur.
Sementara music DJ Alan Walker berhenti dimainkan, tetangga depan rumah heboh karena beberapa teman mereka datang dan mengunjungi mereka. Suara mereka terdengar jelas ke dalam rumah kami yang terletak tepat di depan rumah mereka.
Hujan berhenti dan udara menjadi dingin, nyamuk berkeliaran memasuki setiap sudut ruang rumah kami . Tangan kanan Melser menggaruk lutut dan ujung kakinya yang digigit nyamuk, tangan kirinya menggeser-geser layar handphone xiaomi yang dia beli online beberapa bulan yang lalu.
“SSSShhhhhhhhhhttt!”. Suara semprotan baigon untuk membunuh nyamuk tiba-tiba terdengar di telinga Guen yang sudah terlelap 30 menit yang lalu.
“Bruk”. Suara pintu Guen tertutup
“Maaf”. Teriak Rosdi memegang Baigon di tangan kanannya.
“Tidak apa-apa Ros”. Teriak Guen dari dalam kamarnya.
“Kamu ingin membunuhku?”. Teriak Hella dari kamar mandi yang terletak di sudut ruang tamu.
“Uaaakkk, Uaaaaak,Uaaaak”. Suara Melser dari kamar sebelah sambil mencari masker untuk menutupi hidungnya yang sensitive terhadap bau tajam dan menyengat.
“Maaf guys….aku hanya ingin membasmi nyamuk jahat ini supaya kita tidak terjangkit penyakit demam berdarah”. Jelas Rosdi sambil menerangkan kembali pesan dari petugas fogging nyamuk yang telah menyemprot got depan rumah kami empat hari lalu. “Gak lama koq baunya”. Tambahnya untuk menenangkan yang lain.
“Guys! Aku laper, ada apa di kulkas?”. Guen membuka pintu kamarnya dan berjalan menuju dapur lalu berhenti tepat di depan kulkas.
“Mbakkk”. Suara kulkas terbuka
“Whatttt!?”. “Cuma ada telur”. “Oufhhh, aku alergi dengan telur”. Guen menggaruk sela-sela jari tanggannya yang selalu gatal setelah makan telur.
“Aku ada Mie Coto, Mau gak?”. Teriak Diah dari samping rumah yang sedang mencuci kain.
“Tidak terima kasih, aku pikir akan makan nasi dengan bayam hijau saja”. Jawab Guen singkat.
“Guys mkan yuk….!”. Suara Guen memenuhi ruangan dari dapur, ruang tamu bahkan sampai ke kamar tempat Hella, Rossi dan Melser berada.
“Mari makaaannn”. Guen mengulangi panggilannya
“Iyo mama…..”. Ke empat gadis kesayangan itu serentak menjawab dan lari kedapur.
“Makanannya cuma sedikit, aku gak usa makan”. Hella kembali ke kamar dan bermain PUBG
Malam itu dapur riuh dengan bermacam-macam suara. Ada yang teriak sambil menceritakan sesuatu, ada yang tertawa sambil tepuk tangan dan ada yang makan sambil menonton FTV di YouTube. Sementara itu, Guen sibuk menghabiskan makanan yang tersisah dipiring putih tebal yang dibelinya dua tahun yang lalu. Dia ingin makanannya cepat habis supaya dia bisa kembali ke hpnya dan membuka aplikasi yang tadi sore ia download berharap ada orang baik yang sesuai dengan harapannya mengiriminya pesan, well baiklah bukan pesan tetapi wink dari pria yang didambakannya.
“Ini siapa ya?”. Gumam Guen dalam hati sambil membuka profil milik pria tampan putih berumur 34 tahun dari Jerman yang mengiriminya pesan.
“Hello My dear, how are you? You catch my eyes. What do you like to do at your free time my dear? I’d like to hear from you”. Pesan dari pria itu.
“Hello there thnk you for taking time and contacting me”. Guen menghabiskan bahasa inggris yang baru dia pelajari setahun yang lalu untuk membalas pesan dari pria itu.
“Where are you from?”. Tanya pria itu
“I am from one of the country in Asia”. And it’s late here, may I talk to you tomorrow?”. Kata Guen
“Ok, sorry dear. It’s a pleasure to meet you here. Goodnight”. Kata pria itu
“Hmmm…..Huaaaah”. Suara uapan keluar dari mulut Guen menandakan osigen diotaknya kurang dan siap untuk tidur.
Ruang tamu, dapur dan semua kamar gelap hanya lampu depan rumah yang menyala yang memberi tanda bahwa pemilik rumah ini ada dan sedang beristirahat. Jam handphone Guen menunjukkan pukul 00:30 tengah malam, ke empat gadis kesayangganya telah tidur lelap sementara mata Guen sudah tertutup tetapi pikirannya masih menjelajah keliling dunia. Guen selalu ingin menjadi journalist yang keliling dunia menuliskan kisah orang-oarng yang ia temui. Sebelum tidur hal ini selalu dipikirkannya dan berusaha untuk mencapainya meskipun kenyataan hidup yang ia hadapi sekarang berbeda dari mimpinya.
“Ahhhh…gak ada yang mustahil”. Kata Guen meyakinkan dirinya saat pikirannya berkata tidak mugkin dia menjadi seorang Journalist.
“Goodnight..!”. Guen menutup kedua mata sipitnya sambil mengambil nafas panjang lalu terlelap.
Suara Masjid bersahut-sahutan menandakan pukul 4:30 subuh. Guen tidak dapat tidur lagi. Dia lalu mangambil gitar Yamaha yang tergantung di samping pintu kamarnya lalu menuju ke dapur dan duduk diatas sebuah kursi plastic biru. Jari kanannya mulai memetic satu persatu tali senar gitar sambil memainkan sebuah instrument andalannya.
“Tuhan kenapa ya aku sedih? Kenapa hal terjadi diluar ekspektasiku? Apa rencana-Mu dibalik hal ini? Aku gak ngerti……..Bisa gak aku mengerti?”. Desahan hati Guen sambil menutup matanya.
“Aku wanita baik. Aku selalu berusaha melakukan sesuatu dengan tulus dan mencintai seseorang dengan tulus, tapi….kanapa seperti ini? Huhuhuuuuuuuu”. Suara tangisan Guen terseduh-seduh.
“Ngeeek”. Suara pintu kamar mandi terbuka
“Tuhan sakit hatiku…….!”. Teriakan Guen sambil menenggelamkan kepalanya kedalam bak mandi yang terletak di sudut kamar kamar mandi.
“Tok Tok Tok! Ada orang di dlam?”. Suara Diah sambil mengetok pintu.
“Aku kebelat nih”. Diah menggaruk-garuk pintu kamar mandi.
“Iya…! Sedikit lagi”. Guen mengambil handuk kecil melap wajahnya dan meletakkan handuk kecil itu diatas bahunya.
“Ngeeeak”. Suara pintu kamar mandi.
“Udah?”. Diah memandangi Guen
“Hmmmm”. Guen menganggukan kepala.
Hari ini adalah hari Jumat tanggal 17 november. Guen memilih beberapa potong pakain dari lemari coklat kecil dan meletakkannya ke dalam ransel Eiger terbaru yang dia beli di Bandung Maret lalu. Dia terpaksa membelinya karena ransel lamanya tiba-tiba sobek saat chek in di bandara Hussein Sastranegara Bandung. Itu sedikit memalukan tetapi, beruntung karena di Bandara itu ada toko penjual tas sehingga masalah memalukan itu dapat teratasi. Guen focus memilih pakain yang cocok untuk dipakainya di desa yang akan dikunjunginya besok saat lampu hijau handphonenya berkedip-kedip bertanda ada pemberitahuan baru.
“Who is this Guy?”. Guen mengkerutkan dahinya solah-olah kaget
Cepat-cepat Guen mengecek profil pria yang baru saja mengiriminya a wink.
“He looks cool”. Guen tersenyum manis
“Hella kesini cepat….!!!”. Guen berteriak dari kamarnya
“Apasih mom?”. Hella kebingungan
“Lihat ni cowok keren bangat, punya putri yang cantk, aku sukaaaa….menurutmu dia umur berapa?”. Guen menjdi konyol
“Iya dia keren. Dia terlihat seperti umur 25 tahun. Siapa sih namanya?”. Hella mengambil handphone Guen dan mengecek pria tersebut. “Coba kamu teks dia”. Pinta Hella.
“Hello I love your daughter, she has lovely smile”. Guen memulai percakapan dengan pria itu.
“Oh thank you very much! You also have a nice smile”. Jawab pria itu singkat
“Lol thank you very much sir”. Guen meresponinya
“Yes of course, my name is Albatross. What’s yours? What are you looking for or hopping to find”. Tanya pria itu
“Hello Albatross nice to meet you here. I am Guen looking for anything”. Guen menjawab dengan penuh semangat dan lupa bahwa dia sedang sakit hati.
“Nice to meet you Guen. Would like to get to know you?”. Pria itu memberi tawaran
“Would you please contact me on WA? If you don’t mind”. Jawab Guen to the poin karena dia bukan member dalam aplikasi ini. Dia hanya ikut gratisan dan tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengobrol dengan pria keren yang telah mengiriminya sebuah “wink”, hal itu membuat hatinya mekar kembali seperti bunga kamboja pada pagi hari.
“Yes I can. It’s late here now 177****** you can add me…I will go to sleep now..but let’s chat soon”. Kata pria itu dengan gentle
Guen langsung mengkopi nomor pria itu dan menyimpannya daalam memory handphonenya lalu mencari di google kode negara pria keren itu.
“Otak ku encer hahaha….!”. Guen tertawa bahagia menggoyangkan kepalanya menirukan orang india yang tidak tau apa-apa disertai alis tipisnya naik turun .
“Ok….!”. Guen bicara sendiri dalam kamar kecilnya.
“From this moment as long as I live I will love youuuu….. I promise you this there is nothing I wouldn’t give from this moment on…….ohhhhhhhh….!”. Tarikan suara yang cukup panjang terdengar dari ruang tamu, sedikit menggetarkan pintu kamar kecil Guen yang terbuat dari seng polos. Hella merekam dan mengambil video dirinya sendiri di laptop Lenovo milik Mersel untuk mendapat nilai tambahan dari dosen Bahasa ingrisnya.
“Bruuuukkk”. Pintu kamar depan tertutup. Rosdi sedang vc bersama pacarnya yang sedang bertugas di Sulawesi Tengah dan tidak ingin diganggu oleh suara apa pun termasuk suara cicak yang menempel di dinding, LDR memang sangat sulit.
“Guys, aku makan ya? Donat di meja ini”. Suara lembut terdengar dari samping kamar Guen. Aneh rasanya sudah dua jam Guen belum keluar dari kamarnya bahkan belum menyentuh sedikit nasi putih pun yang hampir mengering di atas meja lipat berwarna putih. Guen masih tetap terbaring kaku di atas tilam merah menirukan gaya seorang wanita tua yang ketindisan. Mata sipit miliknya terbuka lebar, bola matanya berputar ke kiri dank e kanan, bibir kecilnya dimoncongkan keluar seperti sedang mencium bau bangkai yang telah seminggu membusuk.
“Apakah dia baik-baik saja?”. Bisikan kecil keluar dari bibir Diah yang melototkan matanya ke arah Melser yang sedang mencuci kedua tangannya di wastafel setelah selesai membersihkan pekarangan depan rumah.
“Hmmmm”. Melser mengangakat kedua bahunya dan memiringkan bibirnya.
Tidak ada yang mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Guen setelah mendapat nomor WA dari pria misteri yang ditemuinya di aplikasih cari jodoh itu. Ke empat gadis kesayanganya terus bertanya-tanya mencari tau sebenarnya apa yang telah terjadi pada Guen hari ini. Rosdi, Diah dan Mersel mencoba mencari tau penyebabnya melalui Hella karena dia yang telah bersama Guen tadi pagi, tetapi Hella hanya bengong pura-pura tidak tau sesuatu.
“Mbuurrrk, mburrk,mbuurkkk”. Bantal Guen bergetar. Guen telah menaruh handphonenya di balik bantal dan menindisinya dengan kepalanya. “Mbuurk, mbuurrrk, mbuurrrk”. Kembali kepala Guen diganggu oleh getaran tersebut. Dengan gaya malasnya, Guen kemudian mengangkat kepalanya, menggeser bantal itu dan mengambil handphonenya lalu menekan tanda hijau untuk menjawab panggilan tersebut.
“Halo..??? Apari? Sibu’na’I”. Bahasa ibu Guen keluar dari bibirnya yang tidak bisa dimengerti oleh ke empat gadis kesayangannya, bisa dikatakan hampir semua orang tidak bisa mengerti.Google translate pun tidak bisa menterjemahkannya.
“Ok, cepat ya, aku ganti baju dulu. Kita ketemu di lobby jam 7:00. Daaahhhh”. Guen mengahiri percakapannya di handphone dan segera berdiri mengambil baju pink terang yang tergantung dalam lemarinya serta jeans biru ketat pemberian teman barunya di Singapur Januari lalu. Guen menyetrika pakainnya lalu mengenakannya sambil berputar-putar di cermin panjang yang tergantung disamping pintu kamarnya untuk memasitikan blus pink dan jeans biru ketatnya cocok. Tangan kanan Guen mencari bb cream Fair&Lovely di meja tempat dia meletakkan makeup.
“Mam, mau kemana?”. Pertanyaan yang membosankan terdengar dari telinga kiri Guen. Pertanyaan ini sering muncul ketika Guen sedang bercermin atau sedang mencukur alisnya di depan cermin. Dengan cepat Guen membalikkan badannya ke arah suara tersebut, kedua tanggannya memegang catok kecil merek Philips.
”Aku mau ke mall ketemu adikku”. Bandan Guen digerakkan seolah-olah memberi Bahasa isyarat kepada Hella. “Mau ikut?”. Tanya Guen
“No thanks mama”. Jawaban jutek Hella seraya menarik sebuah kursi untuk didudukinya. Entah kenapa, Guen selalu tidak suka dengan cara Hella menjawab seperti itu.
Guen masih sibuk mengukir alis matanya ketika Rosdi lewat disampingnya memegang sebuah botol kaca lalu diletakkan diatas meja.
“Mama mau kemana?”. Tanya Rosdi sambil memperhatikan tangan Guen yang sedang mengikat tali sepatu abu-abu kesukaannya.
“Mau cari jodoh di mall siapa tau ada yang nyasar”. Jawab Guen menuju pintu tempat parkir motor. Guen sangat suka dengan motor honda Revo keluaran 2017. Kemudian Guen memakai jaket abu-abu lalu menutupi kepalanya dengan helm warna hitam. “Byeee…”. Guen melambaikan tangan kananya lalu pergi.
“Ayo kita ke Chattime, aku suka bubur Chinese”. Guen mengandeng tangan kanan adik perempuannya dan berjalan bersama ke Chattime untuk makan malam.
Malam itu mall TSM Makassar sangat ramai, banyak event yang sedang berlangsung. Aneka ragam musik terdengar hampir dari semua toko dalam mall itu. Guen memberi isyarat kepada adiknya untuk mempercepat langkahnya menuju restorant pilihan Guen. Guen terbiasa dengan suasana santai, diam, hijau dan udara segar. Kehidupannya di “kota sibuk” membuatnya harus belajar banyak termasuk mimbiasakan diri dengan keramaian kota dan kebisingan kota. Guen termasuk kedalam gategori “gadis hutan” lebih senang menikmati alam terbuka. Terkadang dia lupa waktu ketika sedang berada di alam bebas, tidak hanya itu , dia bahkan bisa melupakan barang bawaannya ketika sedang menikmati alam bebas. Keunikan ini membuat cara hidup Guen berbeda dengan wanita pada umumnya. Wanita pada umumnya ketika melihat kecoak mereka berteriak atau lari tetapi Guen malah membunuh kecoak itu dan membuangnya di tempat sampah. Keramain di mall membuat Guen gelisah dan terus mempercepat langkanya.
“Kita duduk di sudut sana”. Adik Guen memonyongkan bibirnya untuk menunjuk sebuah meja kosong dengan dua kursi mengarah ke pantai belakang mall, cocok untuk mereka berdua. Adik Guen memahami kegelisahan kakaknya.
“Ayo..!”. Kata Guen menarik jari telunjuk adiknya lalu berlari ke meja itu. Mereka tidak ingin ada orang lain yang mendahului mereka.
Sementara dirumah, ke empat gadis kesayangan Guen sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Mersel dan Hella bersama teman mereka main PUBG dan terus berusaha untuk menaikkan level mereka. Level Guen semakin menurun karena telah 1 minggu tidak bermain PUBG bersama temannya, meskipun kemarin dia sempat bermain bersama Hella tetapi mereka tidak menang karena pikiran dan hati Guen tidak bersatu. Seorang pria yang ditemui Guen 3 tahun lalu saat penerbangannya ke Kuala Lumpur Malaysia telah menipunya dengan segala macam gombalan yang membuat Guen tergoda dan mempercayainya sepenuh hati. Ternyata pria hebat itu sedang menjalin hubungan dengan wanita cantik, anggun dan cerdas dari negara lain. Guen telah mengahabiskan cukup banyak waktunya untuk mengobrol dan memperhatikan pria itu yang ternyata bukan miliknya. Guen “Gadis hutan” yang memiliki hati lembut dan prinsip yang kuat. Kesetiaannya terhadap satu hubungan membuat dia selalu tersakiti tetapi untungnya, sakit itu selalu pergi dengan begitu cepat sehingga Guen move on lebih cepat. Rosdi dan Diah sibuk menyelesaikan skripsi mereka. Setiap hari mereka mencari penduduk asli untuk diwawancarai mengenai budaya dan kepercayaan mereka. Hampir setiap malam mereka menelpon dosen pembimbing mereka untuk mendapat arahan dalam membuat judul serta isi skripsi mereka.
“Dumdumdumdumstakdusss….!”. suara musik dilantai dua menggetarkan meja Guen dan adiknya saat pelayan dating membawa buku menu.
“Sudah siap pesan?”. Tanya pelayan sambil menyodorkan dua buku menu kepada Guen dan adiknya.
“iya”. Guen dan adiknya mengambil buku menu dan memilih makanan sesuai selesa mereka. Guen memilih bubur ayam yang ditaburi tahu goreng sedangkan adiknya memilih hot plate nasi ayam jamur.
“Terima kasih”. Guen mengembalikan kedua buku menu kepada pelayan.
“Mau minum apa?”. Tanya pelayan sekali lagi.
“Oh iya kita lupa”. Adik Guen membuka mulutnya sambil memukul jidatnya. Mereka lupa pesan minuman.
“Aku mau jus sirsak dan air mineral boleh?”. Guen mengedip ke arah pelayan.
“Aku jus apukat kurangi esnya ya,”. Pinta adik Guen kepada pelayan.
“Saya ulangi pesanannya ya, 1. Bubur . 1. Hot plate nasi ayam jamur. 1. Jus alpukat dan 1. Jus jeruk. Pelayan mengulangi menu pesanan mereka
“Ya betul, terima kasih”. Guen dan adiknya serempak menjawab.
“Ditunggu 15 menit ya”. Tambah pelayan
Guen dan adiknya menikmati makan malam bersama, telah dua bulan mereka belum bertemu meskipun mereka tinggal di kota yang sama. Guen sibuk menyelesaikan kuliahnya dan harus pergi ke Malaysia untuk Wisudah. Adiknya sibuk mengurusi anak-anak tuna netra dan mengatur jadwal perkuliahannya.
“Aku mau cerita sesuatu,” kata Guen belepaskan sendok dari tangan kanannya lalu melipat kedua tanggannya. Matanya memperhatikan adiknya. “Aku jatuh cinta kepada pria yang tidak aku kenal. Hari ini aku mendapat nomor WAnya,” Guen mulai bercerita dan menarik nafas panjang, membuka tas kecil birunya dan menarik handphone keluar dari tasnya. “Ini foto pria itu,” Guen menyodorkan handphonenya kepada adiknya.
“Cakap lo dia, manis lagi,” Kata adik Guen saat memperhatikan foto pria misteri yang sedang ditaksir kakanya. “Namanya siapa,” tanya adik Guen
“Albatross,” Jawab Guen yang sudah menghabisi bubur kesukaannya. “Sebenarnya ada dua pria yang aku suka dari aplikasi itu tetapi hatiku menginginkan Albatros,” Guen tersenyum.
“Saran saya….lebih baik kakak berdoa saja dulu dan terus berkomunikasi dengan mereka. Pasti kamu akan merasakan sesuatu setelah mengobrol dengan mereka
Download NovelToon APP on App Store and Google Play