English
NovelToon NovelToon

Pendekar Brewok

Episode 1 Anak yang Dibuang

Jalanan ini merupakan jalan setapak yang hanya bisa dilewati oleh sebuah kereta kuda, dan sama sekali tidak rata. Banyak lubang dan gundukan yang dapat menyebabkan kereta kuda menjadi rusak. Selain itu, kanan kirinya masih merupakan hutan yang rimbun. Sehingga jalanan ini sangat jarang dilalui orang.

Seorang pria berusia lima puluh tahunan dalam keadaan terluka, berjalan tertatih-tatih. Bajunya sudah berlumuran darah. Namun tangan kirinya mendekap seorang bayi kecil. Dalam sebuah rimbunan pohon ia menyusup masuk dan bersembunyi di sana.

Tak lama kemudian, sejumlah orang berpakaian hitam-hitam, tiba di jalan tersebut. Mereka berlari cepat, namun melewati rimbunan pohon dimana bersembunyi lelaki dan bayi tersebut. Si lelaki sedikit merasa lega. Lalu ia melepaskan totokan pada bayi tersebut.

“Maafkan ayah, anakku. Aku tadi terpaksa menotok dirimu, agar kita terlepas dari kejaran mereka. Dan sekarang, aku ... aku...” dirinya tak sanggup menahan perasaan hatinya. “Aku harus meninggalkanmu di sini, nak. Semoga kau selamat. Maafkan aku telah menjadi ayah yang jahat...”

Lalu ia meletakkan si bayi dalam sebuah kereta kuda yang telah rusak dan teronggok di sana. Lalu ia meletakkan sebuah selimut dan menggantungkan sebuah kalung kecil pada bayi tersebut. “Semoga kalau memang ada Tuhan, kita akan bertemu kembali.” Lalu iapun pergi dengan berat hati.

Tak berapa lama kemudian bayi itu menangis. Dan tak lama, datanglah seorang pengemis muda, berpakaian compang camping, berambut gimbal, menuju ke kereta kuda yang rusak tersebut. “Hey... apa-apaan ini... siapa yang menaruh bayi ini di tempat tidurku?” gerutunya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.

“Tega... tega...” mulutnya berkata, sambil menggelengkan kepalanya, dan meletakkan satu tangannya membentuk bentuk sembahyang di depan dadanya. “Baru juga aku tinggalkan untuk berburu kelinci...” Tiba-tiba telinganya mendengar ada langkah beberapa orang mendekat.

“Aku mendengar jelas ada bayi menangis di sini. Pasti bayi dari buronan itu!” kata salah seorang dari enam orang yang mendekat ke kereta kuda itu. Mereka berpakaian hitam-hitam. “Apa kau yakin?” tanya yang lain. “Telingaku tak pernah salah.” Jawabnya yakin.

Mereka melangkah berhati-hati ke arah kereta kuda dan menyiapkan pedangnya terhunus. Lalu mereka melihat ke tanah, melihat beberapa jejak kaki di situ. Mereka saling memberikan aba-aba dan mendekat perlahan. Tapi ketika mereka mendekat, tidak nampak ada apa-apa dalam kereta kuda rusak itu.

“Aneh, jelas aku mendengarnya dari arah sini. Dan jejak-jejak kaki ini, jelas masih baru. Tapi... mengapa tidak ada orang?” “Kelihatannya pendengaranmu tidak salah. Jelas mereka ada di sini tadi. Lihatlah ada bekas darah di kereta kuda ini.”

“Kau benar. Ia sudah melarikan diri lagi. Pasti tidak jauh dari sini. Ia sedang terluka. Ayo kejar!” Merekapun meneruskan pengejarannya dengan berpencar.

Si pengemis muda itu sudah berada jauh dari kereta kuda itu. Tak disangka kecepatan larinya dengan menggunakan ilmu ringan tubuhnya sangatlah luar biasa. Ia menuju ke markas rahasia Kaypang di kota Luo Yang.

“Hmm... Anak ini pasti ada hubungannya dengan orang yang dikejar oleh Klan Hitam. Sebaiknya aku membicarakannya hanya dengan ketua saja. Tidak ada yang boleh mengetahui masalah ini.” Si Pengemis muda sudah berada di ruangan tunggu markas Kaypang.

Dua tianglo kanan dan kiri masuk ke dalam ruangan tunggu bersama dengan Ketua Kaypang yang sekarang. ‘Ketua! Kedua Tianglo!” Pengemis muda itu memberikan hormatnya kepada ketua kaypang dan kedua tianglo. “A Kun, lama tak bertemu. Bagaimana kabarmu?”

“A Kun baik-baik saja berkat bimbingan Ketua.” “Silakan, duduklah, nikmati dulu teh dari perkebunan Kaypang ini.” A Kun duduk bersama dengan ketuanya dan kedua tianglo. Mereka menikmati teh hangat yang harum, dan dengan rasa yang memberikan kelegaan di tenggorokan.

“Kualitas teh ini, sangat luar biasa, siapa yang menyangka kaum pengemislah yang mempunyai perkebunannya.” Tutur ketua Kaypang. “Ketua, Anda memiliki pandangan yang luas untuk memperkuat keuangan organisasi.” “A Kun, dalam kondisi sekarang, sebuah organisasi harus ditopang dengan kekuatan keuangan yang baik. Nah, ada informasi apa yang hendak kau laporkan, A Kun?”

“Ketua, kekuatiran kita mengenai pergerakan Klan Hitam, mungkin ada benarnya. Saat ini, klan hitam mulai menyiapkan kekuatannya untuk muncul kembali dalam dunia persilatan. Kelima partai besar, Siaw Lim, Butong, Go Bi, Kunlun dan Hoasan, tampaknya juga sudah mencium hal ini.”

“Mereka juga mulai mengutus pendekar-pendekar mudanya untuk memeriksa hal ini, namun masih belum berniat melakukan apa-apa karena klan hitam juga belum menampakkan dirinya secara terang-terangan, Ketua.”

“A Kun, semenjak tewasnya Raja Iblis Hitam di tangan pendekar Pedang Khayangan tiga puluh tahun yang lalu, kekuatan mereka memang seakan-akan menghilang. Dunia sempat damai, tapi aku kira dalam waktu tidak sampai dua puluh tahun lagi, klan hitam akan memunculkan dirinya lagi.”

“Ketua, apakah Raja Iblis Hitam memiliki keturunan yang akan membalas dendam kepada dunia persilatan?” “Entahlah, A Kun. Tapi kita semua harus mempersiapkan diri kalau mereka kembali memunculkan dirinya.”

“Ketua, sebelum A Kun kemari, A Kun sempat melihat sekelompok orang berasal dari Klan Hitam yang mengejar-ngejar seseorang. A Kun juga tidak tahu siapa yang dikejar, tapi jelas ada kaitannya dengan bayi yang A Kun temukan di petiduran A Kun.”

“Oh? Ada peristiwa semacam itu? Di mana bayi itu?” “Bayi itu sekarang berada dalam pengawasan inang pengasuh kita.” “Oh? Mari kita ke sana.”

A Kun menceritakan kepada Ketuanya apa yang dia alami secara tiba-tiba ada bayi di tempat tidurnya di kereta rusak itu. “Kereta kuda itu, milik siapakah?” “Entahlah Ketua, A Kun menemukannya sudah di situ dalam keadaan rusak, dan A Kun menggunakannya untuk tidur dan berteduh setelah memperbaikinya pada beberapa bagian.”

Si bayi masih dalam keadaan tertidur, setelah diberikan susu pengganti oleh inang pengasuh dari Kaypang. Sang Ketua mengamati bayi itu, dan berkata, “Baiklah kita pelihara. A Kun, peristiwa ini menunjukkan bahwa Klan hitam memang sudah mulai bergerak. Kaypang harus berada di garis depan mempersiapkan diri”

Episode 2 Belajar di Kaypang

Empat tahun telah berlalu sejak peristiwa ditemukannya bayi mungil itu. Kini, ia sudah menjadi anak kecil berusia lima tahunan. Ia tampak jauh lebih berisi, lebih kuat, dan lebih sehat dibanding anak lain seusianya.

Meskipun ia dibesarkan dan dididik di kalangan pengemis, namun segala kebutuhan gizinya diperhatikan. Bahkan, sang ketua sendiri yang menyampaikan kepada A Kun untuk memperhatikan anak itu, memberikan pengajaran yang baik untuk baca tulis maupun ilmu silat.

Kaypang, tentu saja bukan organisasi sembarangan. Meskipun hanya dari kalangan pengemis, namun kekuatan keuangannya luar biasa berkat adanya perkebunan teh. Namun anehnya, para anggotanya tidak boleh meninggalkan identitas pengemisnya.

Dan dari ilmu silatnya, kaypang jelas tidak dapat diremehkan. Para tetua Kaypang menguasai ilmu-ilmu legendaris dan memiliki anggota berjumlah ribuan orang. Kemampuannya dalam mengumpulkan berita sudah tidak diragukan lagi. Barang siapa menguasai informasi, maka ia akan menguasai dunia. Itulah yang terjadi. Berbeda dengan lima partai besar yang banyak menutup diri, Kaypang justru membuka diri. Dan itulah yang menjadikannya partai terbesar di dunia saat ini.

Pemerintah pun menyadari hal ini. Karena itu, pemerintah juga berusaha menjalin hubungan baik dengan Kaypang. Dan penduduk setempat justru merasa aman dengan adanya Kaypang, meskipun beberapa orang tidak suka dengan pengemis, namun tidak ada yang tidak mengakui dengan adanya Kaypang maka keadaan menjadi aman.

Di kota-kota yang tidak terdapat markas Kaypang, tentara kerajaan harus bekerja keras. Biro jasa keamanan (piaokiok) juga harus bekerja ekstra. Namun di tempat-tempat yang ada markas Kaypang, mereka bekerja lebih rileks.

“Paman A Kun! Apakah kuda-kudaku sudah benar?” tanya anak berusia 5 tahun itu. “A Liong, bagus sekali. Sekarang tunjukkan kepadaku, ilmu pernapasan yang kau pelajari kemarin.”

Lalu anak yang dipanggil A Liong itupun kemudian memperagakan bagaimana ia mengatur pernapasannya.

“Bagus. A Liong, tahukah kau, di Kaypang kita ini dikenal dengan dua ilmu tertingginya? Saking tingginya ilmu-ilmu itu, saat ini belum ada dari kita yang dapat menguasainya secara penuh?”

“Paman, aku mau belajar ilmu-ilmu itu! Ceritakanlah kepadaku, paman.”

“Anak ini memang benar-benar luar biasa. Saat anak lain bermalas-malasan dan bermain-main, ia malah belajar dengan giat dan daya tangkapnya juga luar biasa. Anak siapakah dia ini sebenarnya... apakah tindakan kami memelihara dan mendidiknya adalah suatu tindakan yang benar, ataukah tidak...” pikir A Kun.

“Tapi, anak-anak itu seperti lembaran buku kosong, apa yang kita tuliskan itu yang akan memberikan isi dalam lembaran-lembarannya, Semoga Kaypang melakukan yang benar... Ketua sendiri kelihatannya memberikan perhatian kepada anak ini.”

“Ayolah Paman, ceritakan ceritakan.” “Bukannya paman sudah menceritakannya kepadamu minggu yang lalu ya?” “A Liong suka mendengarnya lagi, paman.” “Baiklah. Ilmu andalan Kaypang adalah ilmu Delapan belas Tapak Naga dan ilmu Pemukul Anjing. Ketua-ketua terdahulu, menguasainya dengan baik, khususnya mendiang An Cit Kong. Dan ilmu-ilmu tersebut kemudian menurun kepada pendekar besar Kwee dan istrinya. Ilmu-ilmu itu sangatlah tinggi, namun sayang semenjak beberapa generasi kemudian, dari antara kita belum ada yang berhasil menguasai ilmu-ilmu itu sepenuhnya. Ketua kita saat ini saja baru berhasil menguasai jurus ke dua. Sedangkan ilmu Pemukul Anjing hanya dturunkan kepada Ketua bersama dengan Tongkat Pusaka Kaypang.”

“Untuk menutupi kelemahan ini, ketua kita saat ini memperkuat dasar organisasi kaypang dengan perkebunan. Dan untuk zaman sekarang, apa yang dilakukan oleh Ketua ini cukup bisa dibenarkan untuk memperkokoh organisasi, namun Ketua masih berusaha memperkuat kembali ilmu silat Kaypang.”

“Lalu apa hubungannya dengan Klan Hitam, paman?”

“Klan hitam adalah kelompok pengacau dunia, Nak. Dulu pimpinannya adalah Raja Iblis Hitam yang sudah dikalahkan oleh Pendekar Pedang Khayangan. Sayangnya, pendekar tersebut juga terluka parah dan kehilangan ilmu silatnya. Pengorbanannya sangat luar biasa, meskipun ia tidak mati, namun bagi dunia persilatan ia sudah mati.”

“Apakah Kaypang tidak ikut melawannya, paman?”

“Tentu saja, Kaypang juga ikut melawannya secara organisasi, namun sejak peristiwa tewasnya ketua Shi di tangan Sheng Kun, kita belum memiliki pendekar yang mampu melawan Raja Iblis Hitam secara langsung. Jangankan Kaypang, partai-partai yang lebih hebat seperti Sauw Lim dan Bu Tong juga belum ada tokoh yang mampu melawan Raja Iblis Hitam. Tetapi, Kaypang lah yang membuat rencana menjebak Raja Iblis Hitam. Kaypang terkenal dengan partai yang paling rasional. Bukannya Kaypang takut mati, namun kematian yang sia-sia adalah kebodohan. Perjuangan tidak selalu diakhiri dengan kematian, kadang kita harus mundur untuk menang, nak.”

“Lalu siapakah Pendekar Pedang Khayangan ini, paman?”

“Sebetulnya pamanpun tidak terlalu tahu, A Liong. Namun banyak orang mengatakan, bahwa Pendekar Pedang Khayangan ini masih merupakan murid dari perguruan Bu Tong, karena meskipun julukannya adalah pendekar pedang khayangan, namun tidak ada yang tahu siapa nama aslinya. Ia muncul begitu saja di lokasi pertarungan ketika ketua Siauw Lim dan ketua Bu Tong sedang melawan Raja Iblis Hitam. Keduanya terdesak, sementara tiga ketua dari Hoasan, Kunlun dan Gobi sudah terluka.”

“Pendekar Khayangan ini menewaskan Raja Iblis Hitam dengan ilmu pedang Bu Tong, memakai pedang pusaka yang bernama Pedang Khayangan. Namun ia juga terkena racun dari Iblis Hitam. Ketua Bu Tong waktu itu sempat mencoba menolongnya namun ia menolak. Setelah memuntahkan banyak darah, ia kemudian bangkit berdiri, namun sudah kehabisan tenaga. Ia hanya berkata, ‘sudah selesai’. Ia kehilangan ilmu silatnya. Ia hampir-hampir tidak dapat mengangkat pedang Khayangan miliknya. Ada beberapa orang yang berniat merampas pedang itu, namun ketua Bu Tong dan Siauw Lim melindunginya. Demikian juga dengan ketiga ketua partai lain yang telah terluka,dan juga ketua kita, ikut menjagainya. Siapapun yang mengganggunya akan berurusan dengan kelima partai dan Kaypang.”

“Pendekar itupun melangkah dengan langkah orang biasa yang tak mengenal ilmu silat, padahal tiga jam yang lalu kemudian menghilang tanpa ada yang berani mengganggunya.”

“Wah luar biasa ya  Paman. Pengorbanannya tidak ternilai, dan bahkan ia tidak mau dikenal oleh orang lain. Itu barulah bisa disebut sebagai pahlawan.” “Para Ketua partai juga merupakan pahlawan, Nak Tidak selalu seorang pahlawan mampu mengalahkan musuhnya, namun selama ia memperjuangkan kebenaran dan keadilan, berhasi atau tidak, ia tetaplah menjadi seorang pahlawan yang harus dikagumi.”

“Sampai saat ini, tidak ada yang tahu dimanakah pendekar Khayangan berada.”

“Ilmu delapan belas tapak naga ini, paman, dapatkah aku mempelajarinya suatu saat nanti?’

A Kun mendesah. “Entahlah nak, yang penting kita belajar terus, ilmu itu tidak ada batasannya. Di atas langit masih ada langit. Saat ini, banyak kitab dan ilmu-ilmu yang semakin menurun kualitasnya bukan karena ilmu itu sendiri, namun karena kualitas kita yang semakin berbeda dibanding kualitas pendahulu kita. Karena itu rajin-rajinlah. Bukan hanya Kaypang, namun semua perguruan besar juga menghadapi hal yang sama. Oh ya, nanti malam, Ketua Kaypang ingin bertemu denganmu, A Liong. Sekarang berlatihlah dengan baik, mungkin ia akan mengujimu.” “Siap paman”

Malam harinya, A Kun dan A Liong menemui ketua Kaypang. “Apa kabar Ketua?”

“Aku ingin melihat kemajuan A Liong.”

“Siap Ketua.” A Liong kemudian memperagakan ilmu pernapasan, ilmu kuda-kuda dan beberapa ilmu pukulan dan tendangan. “Untuk anak seusia lima tahun, ini sangat ajaib. Memang struktur tulangnya bahkan lebih baik dari A Kun maupun diriku sekalipun. Dengan kemampuan A Kun dan kemampuanku saat ini, ia mungkin tidak bisa berkembang dengan lebih baik. Sayang... sayang... Aku memiliki mutiara tapi aku tidak bisa memolesnya...”

“Aku berniat menitipkan anak ini ke lima perguruan. Bagaimana menurutmu, A Kun?”

“Ketua...” A Kun tidak dapat berkata-kata, sedikit terkejut.

“Tentu saja, aku tidak akan melepasnya begitu saja. Dia adalah anak didik Kaypang. Dia harus menguasai ilmu-ilmu Kaypang. Aku akan mulai mengajarkannya secara lisan ilmu-ilmu Delapan belas Tapak Naga. Tentu saja untuk menguasainya ia perlu meningkatkan tenaga dalamnya. Sayang... sayang, aku tidak dapat menjadi guru yang baik. Aku ini terlalu lemah, A Kun.”

“Ketua, ...”

“Cukup. Karena aku tahu kelemahanku, maka aku menjadi kuat di bidang lain. Kau tidak perlu mengkuatirkan aku. Tetapi mendidik anak ini, sungguh benar-benar di luar kemampuanku. Kalau saja kitab Delapan belas Tapak naga masih ada lengkap, mungkin lain ceritanya.”

“Sekarang ilmu Delapan Belas Tapak naga yang aku ingat, akan aku ajarkan kepadamu, Nak. Aku hanya menguasainya sampai tingat dua, namun aku menguasai teorinya sampai tingkat dua belas. Dengan menguasai dua belas tingkat ini saja, sudah sulit mencari tanding.”

“Tetapi, sanggupkah aku mengalahkan Raja Iblis Hitam dengan menguasai dua belas tingkat Tapak Naga?”

“Mungkin tidak nak, tapi Raja Iblis Hitam sudah tewas. Keturunannya mungkin tidak akan mencapai tingkatan seperti Raja Iblis Hitam.”

“Ketua, apakah sudah diketahui siapa keturunan Raja Iblis Hitam?” “Kita belum memastikannya, namun kita sudah cukup tahu bahwa Raja Iblis Hitam meninggalkan pewaris. Dan juga meninggalkan kitab serta senjata warisan.”

“Saat ini, lima partai besar juga sedang mengumpulkan pendekar-pendekar kecilnya untuk dilatih menjadi pendekar-pendekar muda yang gagah perkasa. Kita semua berharap generasi yang baru ini, melebihi angkatan ku dan angkatanmu A Kun.”

Keadaan A Liong dalam partai menjadi anak yang disenangi oleh banyak orang. Karena A Liong tidak cengeng, rajin berlatih, dan juga rajin membantu. Hanya saja ia tidak mau mengemis. Ia hanya memakai pakaian pengemis, namun ia tidak pernah meminta-minta.

A Liong kini telah menjadi anak berumur 10 tahunan. Ia sudah menguasai berbagai ilmu dan pukulan dasar dari ilmu-ilmu Kaypang. Bahkan dalam usianya ini ia sudah dapat mengalahkan orang dewasa yang hanya menguasai ilmu silat pasaran. Pernah suatu kejadian ia dituduh mencuri di pasar. Tentu saja, orang-orang pasar mengetahui

kalau A Liong bukan anak yang mencuri. Namun tetap saja ada orang-orang sok jago di pasar yang menuduh A Liong.

“Hey anak jahanam. Anak haram siapa kau? Tidak berayah dan tidak beribu, sukanya mencuri. Kembalikan uang kami!” kata seorang dari dua orang muda yang sok jagoan itu. Para penjaja di pasar tentu saja ribut, dan tidak sedikit yang membela A Liong.

“Tidak, anak ini dari tadi disini dan tidak melakukan apa-apa.” Kata seorang ibu-ibu. A Liong menatapnya berterimakasih. Namun dua pemuda bangor itu terus berteriak-teriak. “Heheh. Ini ibu mau membela anaknya ya. Sudah jelas anak ini mencuri dompet kami. Ayo kembalikan!” kata salah seorang dari mereka sambil menggebarak meja ibu itu.

Tentu saja penjaja pasar lainnya menjadi marah. Salah seorang pemuda maju menahan kedua pemuda itu. “Jangan bertidak kasar di sini!” namun segera ia terpelanting. “Hahaha. Ada lagi yang sok jagoan. Ketahuilah, di sini kami yang akan menjaga keamanan pasar kalian. Mulai besok kalian harus membayar kami.”

“Huh, penjaga keamanan kok dompetnya kecurian anak kecil, sungguh tidak masuk akal.” Terdengar umpatan-umpatan mengejek di sana sini. “Hey... apa katamu orang tua!” lalu salah satu pemuda itu mendatangi bapak tua yang mengejeknya dan memberinya tamparan keras.

Orang-orang di pasar tambah ribut. Namun tidak ada yang berani  maju. “Lalu keduanya berteriak-teriak, masih ada yang mau jadi jagoan?” “Heh, anak kecil, ayo kembalikan dompetku!”

“Tapi kak, aku benar-benar tidak mencurinya.”

“Huh maling mana ada yang ngaku! Aku hajar kau.”

“Kak, tolong jangan menuduh sembarangan.”

“Kalau aku menuduhmu, bahkan menuduh orang  tuamu ini, mau apa kau?” katanya menyeringai sambil menuding ibu tersebut. Rupanya mereka masih mengira ibu itu adalah ibunya A Liong.

“Jangan banyak omong, hajar saja!” kata temannya yang langsung maju ke arah A Liong sambil mengayunkan tinjunya kepada A Liong. Di kiranya anak berusia 10 tahun ini akan terjelungup dan menangis.

Tetapi dugaannya meleset. A Liong menangkap tangannya. Lalu memelintirnya dengan tenang. “Aaah... addduh... addududuh...” si pemuda itu merintih kesakitan. “Maafkan aku kak, sakit ya?” tanya A Liong.

Temannya tidak tinggal diam. Ia juga merasa marah kawannya dipelintir oleh A Liong. Ia ikut maju hendak mendekap A Liong. Namun A Liong segera mundur, lalu melakukan salto dan meluncurkan tinju kecilnya tepat ke mata dari pemuda itu.

“Aduh. Bangsat!” si pemuda memegang matanya yang terkena tinju, kesakitan. Si pemuda yang tadinya tangannya dipelintir oleh A Liong merasa penasaran dan ia melontarkan tendangan ke arah A Liong yang baru saja mendarat.

Tapi kemudian ia merintih kembali. “Aaah... adduh.... addduduh...”. Kakinya dipegang oleh A Liong dan dipelintir. “Ah, maafkan aku kak, sakit ya...?” ujar A Liong kembali.

Pemuda satunya sudah benar-benar marah, dan ia menyeruduk A Liong dengan ilmu silat pasaran. A Liong

melepaskan pemuda yang dipelintir kakinya tadi, lalu menghadapi dengan tenang si pemuda ini. Setiap pukulan ditahan dengan pukulan. Lengan bertemu lengan. Anehnya, si pemuda itu merasa kesakitan pada lengannya. Sedangkan si A Liong merasa biasa saja.

Tentu saja si pemuda merasa malu dan tidak menunjukkan rasa sakitnya. Tapi akhirnya ia tidak tahan juga. “Karena kau masih anak-anak, aku mengampunimu saat ini. Ayo kita pergi.” Katanya sambil mengajak temannya. Tapi temannya berjalan terpincang-pincang.

Begitulah pertarungan bebas pertama dari A Liong.

Episode 3 Di Culik Racun Gila

Malam harinya setelah A Liong memberi pelajaran kepada dua preman pasar itu, ia kemudian berjalan-jalan hendak menemui beberapa temannya yang mengemis. Sebetulnya mereka mengemis untuk mengumpukan informasi.

Ketika tiba-tiba terdengar suara teriakan minta tolong dari salah satu gang yang dekat dengan A Liong. “Hey, ada apa itu?” A Liong dengan sigap memutar langkahnya dan melihat apa yang terjadi di gang tersebut.

Namun ia tidak melihat apa-apa. Saat ia membalik badan, tiba-tiba ia menumbuk satu orang berbadan besar, tanpa pakaian, hanya memakai celana pendek saja, tanpa rambut apapun di sekujur tubuhnya termasuk kepalanya. Bau keringatnya sangat tajam. Namun tidak seperti bau keringat lain yang cenderung asam, bau keringatnya justru sangat tajam, seperti bau besi berkarat.

A Liong pun pingsan karena terkena baunya.

Ketika A Liong membuka mata, ia sudah berada di atas sebuah kapal. “Oh. Aku selamat.”

“Oh, kau sudah bangun?” tanya seorang anak perempuan yang berada di sebelahnya.

A Liong mengamati anak itu. Ia sedikit pusing, masih tercium aroma yang membuatnya pingsan tadi, dan sekarang ia berada di atas kapal yang berjalan. Tapi ia tahu, anak perempuan di hadapannya kira-kira seumuran dengan dia. Wajahnya cukup cantik, rambutnya panjang terurai. Ia sadar ia memperhatikan anak perempuan itu dengan tidak sopan. Namun kelihatannya anak perempuan itu tidak mempedulikannya.

“Maafkan aku, bukannya aku tidak sopan kepada nona, tapi aku sedikit pusing.”

“Apakah kau baru pertama kalinya naik kapal?”

“Benar. Di kapal siapakah ini? Hendak kemana kita?”

“Hmmm... baru kali ini ada anak yang tidak bertanya atau merengek hendak diapakan. Cukup bagus juga kau.” Kata si anak perempuan itu.

“Yang kuingat hanyalah aku menabrak seseorang dan kemudian aku pingsan.”

“Kau menabrak pamanku, si RACUN GILA.”

A Liong berpura-pura memegang kepalanya untuk menghilangkan rasa kejutnya. Ia pernah mendengar dari paman A Kun, bahwa Racun Gila adalah salah satu tokoh besar dari Klan Hitam. Lalu kini ia berada di sini, apakah ia memang diculik karena tahu ia berasal dari Kaypang?

“Kau masih pusing? Kau terkena aroma racun dari tubuh paman, tak heran kau pingsan lama dan terasa pusing sampai sekarang.”

“Oh? Aku pingsan berapa lama?”

“Tiga hari”

“Hah, tiga hari?” A Liong terbelalak. Apa maksud dari si Racun Gila? Kalau dia berniat mencelakainya, tidak perlu ia menunggu tiga hari. Berarti kemungkinannya ialah si Racun Gila tidak berniat mencelakainya, atau ada sesuatu yang ingin dikorek dari dirinya. Tapi belum tentu si RACUN GILA tahu asal-usulnya dari Kaypang. Ia harus menyembunyikan jati dirinya. Ia tidak mungkin menang melawan RACUN GILA, maka ia harus memakai otaknya.

“Untunglah kau hanya mencium aromanya saja.” Kata si anak perempuan itu.

“Aromanya saja membuatku pingsan tiga hari...”

“Paman menugaskanku menunggumu di sini, untuk melihat reaksimu. Kalau kau menangis, aku diminta segera membunuhmu. Pamanku tidak butuh anak yang cengeng.”

A Liong terkejut dan menggelengkan kepalanya. “Lalu?”

“Lalu kau tidak menangis. Dan itu cukup untuk membebaskanmu dari hukuman mati.”

Oh? Arogan sekali dia. Tapi aku berada di kapalnya. Aku harus pandai bersikap.

“Aku tahu kau tidak akan membunuhku. Tapi, aku merasa aneh mengapa pamanmu membawaku kemari, bukankah dia bisa meninggalkanku di lokasi?”

“Aku yang memintanya membawamu kemari. Kau kira bila dirimu ditinggalkan di sana, kau akan masih hidup setelah tiga hari?”

“Oh? Akan ada orang yang menemukanku.”

“Dua jam.”

“Apa maksudmu?

“Dua jam setelah kau pingsan terkena aroma keringat beracun pamanku, kau akan mati bila tidak mendapat penawarnya.”

“Oh... Kalau begitu, aku harus berterimakasih kepada nona...” A Liong mengambil keputusan bersikap demikian, ia sudah tahu bagaimana harus bersikap ketika menghadapi orang yang tak mungkin kau lawan. Ia telah belajar banyak dari Kaypang. Ia tahu melakukan ini bukan karena ia pengecut, namun ia tidak mau mati dalam kebodohan dan kesia-siaan. Selama padang masih menghijau, selama kayu masih ada, tidak akan terlambat untuk berbuat sesuatu.

“Hahaha. Kau benar-benar pintar menundukkan laki-laki, Ling-ling.” Tiba-tiba terdengar suara dari luar pintu.

”Paman? Kau sudah kembali?”

Anak perempuan itu melemparkan satu buah pil kepada A Liong.

A Liong menerima dan menelannya. Ia tidak peduli apakah itu pil beracun atau tidak, ia hanya tahu kalau ingin membunuhnya, si Racun Gila bahkan tidak perlu memakai racunnya.

“Hohoho. Kau hebat juga anak muda. Kau tahu cara mengambil hati ponakanku hahahaha!”

“Yang kau telan itu, adalah pil penawar racun terhadap aroma beracun yang muncul dari tubuhku. Kalau kau tidak menelannya, kau akan pingsan kembali begitu aku masuk ke ruangan ini hahaha.” Kata si Racun Gila sambil masuk ke dalam ruangan.

A Liong merasa lega.

“Paman, aku memang pingsan dan hampir mati karena terkena aroma tubuhmu, tapi aku merasa

lega kau tidak meninggalkanku di sana.”

“Oh? Kau sudah tahu? Rupanya ponakanku benar menilaimu.”

Bau tubuh si Racun Gila memang tidak main-main. Namun bukan karena baunya, melainkan karena kandungan racunnya. Tanpa pil yang diberikan si anak perempuan, atau namanya Ling-ling, si Aliong sudah pasti pingsan kembali.

“Sudahlah. Kau tinggalah di sini, jangan coba-coba kabur, temani ponakanku. Kalau kau kabur, kau mati!”

Hmm. Enak saja menyuruh-nyuruh orang. Tapi mungkin aku sudah menjadi anak ke sekian yang diambil dengan cara seperti ini?

“Aku tidak masalah tinggal di sini, asal kebutuhanku dicukupi. Kalau tidak, tak ada bedanya dengan mati.” Kata A Liang.

Si Racun Gila terkejut juga mendengar jawaban A Liong.

Hmm... anak ini bukan anak biasa... Kalau dia berada di pihak Ling-ling, ketika besar nanti ia akan menjadi pembantu yang sangat berguna...

“Masalahnya, berapa lama pil ini dapat membuatku bertahan sebelum aku pingsan kembali?” tanya A Liong nyengir.

Sementara itu, jauh di daratan, Kaypang segera mencari tahu apa yang terjadi. A Liong menghilang begitu saja setelah kejadian di pasar pagi harinya. Tetapi jelas ia tidak akan menghilang karena kejadian itu. Sayang, mereka sama sekali tidak menduga kalau A Liong sudah berada di atas kapal bersama si Racun Gila!

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play