English
NovelToon NovelToon

100 Musim Mengejar Bintang

Bagian 1

 

♪ ~**STAY WITH ME~ ♪**

\_

← ▼ →

 

Bagian satu: (Laura & Niko)

Laura,16 tahun

Butuh waktu kurang lebih 40 menit bagi Laura utk menempuh perjalanan dr rumahnya, disebuah kota kecil, sampai ke sekolah. Laura membuka kaca jendela bus, memejamkan mata, dan membiarkan udara pagi menerpa wajahnya.sat matanya perlahan membuka kembali, ia menarik napas, mengisi tubuhnya dgn udara yg sama. Di sepanjang jalan, dedaunan menari nari mengikuti arah angin. seakan akan mereka mengantarnya ketempat tujuan.

Laura berpikir, jika ia harus menghabiskan 40 menit waktunya hampir setiap pagi,melewati rute yg sama,bukankah lebih baik jika ia menikmatinya?

Laura sangat menyukai alam di pagi hari, saat mentari mulai muncul kepermukaan,dan burung-2 berkicau diangkasa.

Saat bus yg ia tumpangi berhenti di sebuah halte, Laura turun dgn senyuman karena tahu esok ia akan mengalami hal yg sama lagi.kini ia bersiap siap menunggu bus lain yg akan mengantarnya ke sekolah.perjalanan 10 menit berikutnya benar2 berbeda dgn sebelumnya.dedaunan berganti menjadi gedung2 pencakar langit yg mampu menahan terpaan angin.

Tak berapa lama kemudian, ia tiba di depan sekolahnya,sebuah bangunan luas 3 lantai yg sudah berdiri berpuluh puluh tahun.bukannya tdk ada sekolah di tempat Laura tinggal.hanya mama ingin pendidikan yg terbaik untuknya,walaupun itu berarti perjalanan 50 menit menuju sekolah setiap hari.

 Laura tdk keberatan.ia akan melakukan apa saja utk mama.sebagai orang tua tunggal,mama sudah banyak berkorban untuknya yg membuatnya keberata,justru para siswa yg ada disekolah itu.mereka sudah mengenal satu sama lain sejak TK sampai SMA.dan Laura sebagai orang asing yg baru masuk awal juli tahun sebelumnya tdk bisa langsung cocok dgn mereka.ditambah lagi, rumahnya berjarak 30 km dr sekolah membuatnya mendapat predikat ''siswi kampungan''. Jd kesimpulannya, Laura hanyalah seorang murid biasa.tp hari ini,nasib akan mempertemukannya dgn seseorang yg luar biasa.

Semua bermula ketika Laura duduk di bangku taman sekolah sambil membaca buku fisika yg berada didepannya.rumus-2 newton dr buku tersebut memenuhi pikirannya dan Laura mendesah lemas. Ia mendongak, melihat dedaunan di atasnya, lalu menutup matanya perlahan. Beberapa hari yg lalu ia membaca di sebuah situs di internet, bahwa newton mendapatkan teori tentang gravitasi ketika sedang duduk dibawah pohon & sebuah apel menimpa kepalanya. Laura tersenyum tipis, ia duduk di bawah pohon sekarang, tetapi belum satupun rumus dr buku tersebut yg dimengertinya.

''Aku rasa aku tdk akan mendapatkan inspirasi di bawah pohon seperti newton'', desahnya dalam hati sehelai daun jatuh mengenai dahinya. Laura membuka mata perlahan.ia masih harus menghapal rumus-2 dalam bab tersebut, jika mau mendapat nilai bagus saat ulangan fisika setelah istirahat ini.artinya,ia harus menghapal semuanya dalam sisa waktu 5 menit.

''Ini benar-2 tdk mungkin,” desahnya lagi, “kenapa newton harus menciptakan rumus sebanyak ini?''. Bel tanda masuk kelas berbunyi. Laura bergegas bangkit dr bangku taman & berlari menuju kelasnya.tiba-2 tubuhnya menabrak seseorang, membuat genggaman tangannya terbuka & buku fisikanya jatuh di lantai.

''Maaf'' katanya perlahan. Lalu matanya bertatapan dgn sepasang mata cokelat terindah yg pernah ia lihat. Setelah itu ia hampir tdk bisa berkata-2.jantungnya berdegup kencang, napasnya tdk teratur.

Si pemilik mata cokelat indah itu tersenyum lembut, lalu membungkuk & mengambil buku fisika yg terjatuh di lantai.kemudian membErikannya kepada Laura.

''Ini bukumu,'' katanya ramah.

Laura mengambil bukunya dr tangan di depannya. ''thanks,'' ucapnya.

Lalu cowok itu, si pemilik sepasang mata cokelat,tersenyum, & meninggalkan Laura tertegun beberapa saat. Laura memandang punggung cowok itu saat dia berlari & menghilang di balik pintu.kemudian pandangannya jatuh pada buku ditangannya & ia bergegas menuju kelas.

Saat ulangan berlangsung, Laura tdk bisa berkonsentrasi pd soal-2 yg berada di papan tulis. Pikirannya melayang pd pertemuannya dgn si cowok bermata cokelat di taman. Ia ingin tahu siapa cowok tersebut.

***

Dalam perjalanan pulang. Laura tersenyum-senyum kecil. Ia tahu hari ini adalah hari yg paling berkesan di sekolah. Hari ini, utk pertama kalinya, ia bertemu seseorang yg ia sukai disana.

Sesampainya dirumah, seperti biasa, ia mengangkat jemuran, menyetrikanya, kemudian membersihkan ruang tamu. Setelah itu ia mengambil tas sekolah & mengejakan pakerjaan rumahnya. Ketika jam dinding menunjukan pukul 5 sore, ia merapikan tasnya & beranjak ke dapur utk memasak & menghangatkan makanan utk makan malam nanti bersama mama.

Lalu ia membawa handuk utk mandi.di kamar mandi, Laura bernyanyi perlahan. Sekeluarnya dr kamar mandi, pintu depan rumah terbuka. Seorang wanita paruh baya dgn rambut cokelat memasuki ruangan.

''Selamat datang ma!'' sapa Laura tersenyum.

Mama balas tersenyum. ''kau terlihat gembira hari ini.ada sesuatu yg menyenangkan terjadi di sekolah?''

Sambil mengambil tas mama utk di taruh di meja tamu, Laura tersenyum lagi. ''Aku bertemu seseorang hari ini.''

Mama menatap anak perempuannya dgn kening berkerut. ''Cowok, ya?” tanyanya.

Laura mengangguk. ''Dia memiliki sepasang mata cokelat terindah yg pernah aku lihat.”

Mama memegang tangan Laura. ''Apakah sudah saatnya mama menjelaskan tentang bahaya hubungan antara wanita & pria kalau kau tdk hati-2?''

Laura memegang tangan mama sambil tertawa lebar. ''Mama tdk perlu berpikiran sejauh itu. Dia bahkan belum mengenalku.''

''Tapi kau ingin mengenalnya, bukan?'' tanya mama.

''Ya,”Laura mengangguk.

Mama menatap putrinya dan menarik napas panjang. Dalam hati ia selalu merasa Laura masih kecil & perlu bimbingannya. Tapi kini Laura mengatakan ia menyukai seseorang. Mama menatap Laura & meyakinkan diri sendiri bahwa putrinya itu sudah dewasa.

''Berjanjilah pd mama, kalau ingin mulai pacaran, kau harus memberitahu mama,'' kata mama mengingatkan.''

Laura mengangguk. ''Aku berjanji akan memberitahu mama.''

''Dan saat itu, Mama akan memberitahumu tentang bagaimana berpacaran yg sehat,'' ujar mama. “Mama percaya padamu'', balas mama ''tapi mama tdk percaya begitu saja pd cowok yg akan menjadi pacarmu.''

Laura menggiring Mama ke ruang makan. ''Mama tdk perlu khawatir. Aku bahkan belum tahu namanya.'' Laura menarik kursi dan menyuruh mama duduk. ''Mama pasti capek. Jadi sekarang lebih baik mama makan dulu.''

Mama melihat makanan yg sudah tersaji di meja makan & tersenyum. Selama makan malam berlangsung, mama memandangi Laura & berkata dalam hati betapa beruntungnya ia memiliki putri seperti Laura.

''Enak ma?” tanya Laura.

Mama mengangguk. ''Masakanmu enak, Laura''.

Sesudahnya mama menuju kamar mandi & Laura mencuci piring. Ritual tersebut terjadi setiap hari. Laura tdk keberatan dgn semua tugas rumah yg harus dia kerjakan. Ia mencintai mama & ia akan melakukan apa saja utk membuat mama bahagia.

Sementara itu, di kamar tidur sebelah, mama membuka sebuah kotak di laci mejanya. Air mata mengalir membasahi pipinya. Ia mengambil sebuah kartu yg dibelinya siang tadi. Tak berapa lama kemudian mama mengambil pena & menulis sesuatu. Setelah selesai, ia memasukan kartu tersebut ke kotak & menutup kotaknya.

Di kamar berbeda, Laura tersenyum. Sebelum tidur ia bertekad utk mengetahui siapa nama cowok yg ditemuinya siang tadi. Matanya mengantuk lelah. Malam itu Laura tidur dgn seulas senyum di bibirnya.

***

Pagi berikutnya, Laura memasuki halaman sekolah dgn ceria. Ketika akan memasuki kelas, tatapannya terpaku pd pengumuman di mading sekolah. Tangannya menyentuh kaca.

''Dia cowok yg aku temui kemarin'', katanya dalam hati.

Dari keterangan di foto tersebut, tertulis bahwa cowok yg ia temui kemarin bernama NIKO FARELI, kelas 1 SMA, sama dgn Laura, tp berbeda kelas. Dalam foto tersebut Niko terlihat sedang memegang piala.

Pandangan mata Laura beralih pd keterangan selanjutnya. Tampakanya Niko memenangkan perlombaan fisika antar daerah seminggu yg lalu.

''Permisi! Permisi!'' kata suara dibelakang Laura. Laura bergeser dari tempatnya berdiri.

''Itu Niko, ya?'' kata cewek yg menyuruh Laura bergeser tadi.

''Iya!'' balas temannya.

''Eh, kayaknya dia memenangkan lomba fisika seminggu lalu deh. Wah, hebat sekali dia. Sejak SMP selalu juara umum. Papa dan mamanya kan dokter terkenal. Erika beruntung sekali punya pacar seperti Niko.''

''Mereka memang pasangan serasi. Erika cantik & Niko tampan.''

''Aku dengar mereka sudah kenal sejak TK. Duh, seandainya saja aku bisa secantik Erika.'' keduanya berkata-2 lagi tanpa menghiraukan Laura yg tengah menunduk. Laura terdiam sedih. Ia tidak menyangka bahwa pada hari yg sama ia tahu nama cowok yg ia sukai, ia juga harus menerima kenyataan bahwa cowok itu tidak bisa diraihnya.

Pintar, tampan, kaya, populer. Niko memiliki segalanya. Sedangkan dirinya, tidak memiliki semua itu. Ia hanya gadis biasa. Laura tahu ia tidak seharusnya sesedih ini, toh ia belum mengenal Niko. Tapi mengapa hatinya terasa sakit? sepertinya ia telah menyukai orang yg salah di waktu yg salah.

***

Saat ulangan fisika dibagikan, Laura hanya bisa meringis memandangi nilai 5 berwarna merah yg menambah daftar kesedihannya hari ini. Saat bel tanda istirahat berbunyi, Laura tidak beranjak dari bangkunya. Matanya memandangi sepasang cowok & cewek di lapangan sekolah yg sedang tertawa, Niko & Erika.

Ia melihat ulangan fisikanya sekali lagi. Dipandanginya rumu-rumus yg bertebaran disana. Pandangannya jatuh pd sebuah rumus tentang gaya tarik menarik antara dua benda. Tanpa sadar ia mengambil penanya & mulai menulis.

MASA SATU (M1): AKU: 42 KG MASA DUA (M2):NIKO :+/- 50 KG G(TETAPAN GRAVITASI): 6,672 X 10 PANGKAT -11 N.M PANGKAT 2/KG PANGKAT 2 R(JARAK ANTARA M1 & M2):............TAK TERHINGGA. KESIMPULAN: F(gaya tarik menarik antara m1 & m2)\=G dikali m1 & m2 dibagi kuadrat jarak adalah.....tak terhingga. ''Karena berapapun dibagi, dikali, ditambah, dikurangi bilangan tak terhingga, hasilnya adalah tak terhingga juga.''

Laura tertawa sedih.Ironisnya,kini ia mengerti apa yg dimaksud oleh NEWTON dgn rumus itu.Gaya berbanding terbalik dgn jarak.Seamakin besar jarak antara dua benda maka semakin kecil gaya tarik menarik diantara keduanya.

***

''Kau kelihatan sedih hari ini,'' sapa mama ketika melihat raut wajah Laura yg berbeda dgn kemarin.

''Dia sudah punya orang lain,'' kata Laura perlahan.

Mama duduk di samping Laura dan memeluknya. ''Oh, Laura,'' katanya sedih. Mama tahu siapa yg dimaksud Laura. Cowok yg disukainya kemarin. ''Mama tahu kau pasti sedih.''

''Dia sangat sempurna, Ma.'' Laura berusaha menahan tangisnya. ''Pintar, tampan, & memiliki segalanya. Sedangkan aku.....''

''Jangan bicara seperti itu, Laura,'' kata mama sambil menatap mata putrinya dgn tegas. ''Kau sangat istimewa. Jangan pernah lupakan itu.''

Laura menatap mamanya dgn sedih. ''Hanya saja utk pertama kalinya aku menyukai seseorang, ternyata orang itu udah punya orang lain.''

''Jadi kau akan menyerah?'' tanya mama.

''Aku tdk akan merebut seseorang yg sudah punya pacar,'' kata Laura tegas.

''Kau tau kan, kau selalu punya mama apapun yg terjadi,'' mama berusaha menenangkan Laura.

''Aku tahu,ma'' kata Laura lirih, ''tapi sekarang aku tdk tahu harus bagaimana. Mama pasti ingin aku menjauhinya, bukan?''

Mama tersenyum lembut, lalu menggeleng. ''Mama tdk ingin kau mengalami kesedihan lagi. Tp itu semua terserah padamu.''

''Aku hanya ingin mengenalnya,'' kata Laura kemudian.

''Kalau begitu, jadilah temannya. Kalau sampai saat itu dia tdk menyukaimu, lepaskanlah dia. Dengan begitu kau akan memiliki sebuah cinta,'' saran mama.

''Tentu saja kau akan patah hati. Kalau kau berani jatuh cinta, kau jg harus siap menanggung resikonya. Mama hanya tdk ingin kau menyesal. Lakukanlah yg kau inginkan, mama akan mendukungmu. Mama hanya berharap kau mengalami masa SMA yg penuh kenangan.'' mama membelai rambut Laura perlahan.

 ''Mama memang yg terbaik,'' kata Laura. Mama hanya tersenyum lembut.

''Sekarang, tersenyumlah.'' melihat senyum mama, Laura jg tersenyum. ''terima kasih ma,untuk semuanya.''

 

***

 

Laura 16,5 tahun

Hari ini hari pertama masuk sekolah. Hari ini Laura naik ke kelas 2. Selama ini ia hanya melihat Niko dari kejauhan. Ia tdk pernah berbicara dgn cowok itu. Tetapi ia bertekad utk mengenalnya. Dan hari ini, mungkin saja kesempatan itu bisa datang padanya. Laura berharap bisa sekelas dgn Niko.

Setiap tahun, sekolah membuka 2 kelas utk jurusan IPA, 50% kemungkinan Laura akan sekelas dgn Niko. Setahun ini Laura belajar mati-matian utk bisa masuk IPA. Walaupun tdk menguasai ilmu pasti, ia berusaha semaksimal mungkin. Ia bahkan berani bertanya kepd guru kalau ada pelajaran yg tdk dimengertinya. Padahal sebelumnya Laura adalah siswi yg pemalu. Tidak pernah berani bertanya.

Laura menyadari, memang sedikit konyol ingin masuk kelas IPA hanya karena ingin sekelas dgn Niko. Tapi utk pertama kali dalam hidupnya, Laura benar-2 berusaha keras. Apapun alasanya, saat wali kelas memberitahunya bahwa ia berhak masuk jurusan IPA, Laura merasa senang & bangga.

Tanpa sabar, Laura memandangi daftar nama yg dipampang di mading sekolah. Laura mencari nama Niko terlebih dahulu & mendapatkannya di daftar utk kelas 2 IPA 1. Lalu jarinya naik, berharap mendapati namanya disana. Setelah melewati 10 orang diatas Niko. Lalu ia melihat daftar nama dikelas lain & mencari namanya. Namanya ternyata berada di daftar kelas 2 IPA 2.

Langkahnya perlahan mendekati kelas yg akan dihuninya selama satu tahun kedepan. Dalam hati. Laura merasa sedih. Ia tdk akan punya kesempatan utk mengenal Niko satu tahun kedepan. Setelah menaruh tasnya, ia menyentuh tembok putih di depan kelasnya. Perlahan lahan ia melangkah sambil menghitung dalam hati. Langkahnya terhenti di depan kelas 2 IPA 1. Ia menarik napas panjang. 50 langkah. Sepanjang itulah, jarak yg memisahkan dirinya dgn Niko.

Bulan-2 berikutnya, saat kegiatan ekstrakurikuler, Laura melihat Niko bermain basket di lapangan, sementara dirinya sedang memasak makanan diruang tata boga. Sepulang kegiatan ekstrakulikuler, Niko selalu pulang bersama Erika, yg masuk club marching band. Laura jg menyaksikan ketika Niko diangkat menjadi ketua OSIS.dan dlm hati, Laura merasa senang dgn hal itu. Tentu saja, karena ia jg memilih Niko utk menjadi ketua OSIS, saat semua siswa diminta memasukan pilihannya kekotak suara 2 hari sebelumnya.

Satu satunya kesempatan datang kembali saat Laura akan naik ke kelas tiga. Kelas-2 akan diacak, dan kemungkinan para siswa jg akan berpindah kelas. Harapannya, jika ia sekelas nanti, ia akan berbicara dgn Niko & akhirnya berkesempata utk berkenalan dgn nya. Walaupun pd akhirnya ia hanya akan menjadi teman Niko, Laura tahu setidaknya ia punya kesempatan menjadi teman seseorang yg istimewa.

''Tunggu aku,Niko,'' tekad Laura dalam hati. ''Aku pasti menjadi temanmu tahun depan''.

Bagian 2

♪ ~**STAY WITH ME~ ♪**

\_

← ▼ →

Laura 17,5 tahun

Suasana sekolah masih sepi, yang terdengar hanya langkah Laura di lorong kelas. Hari ini hari pertama Laura akan menempati kelas barunya di kelas 3. Seperti tahun sebelumnya, langkahnya terhenti di depan mading sekolah. Sekali lagi ia melihat daftar nama siswa di dinding tersebut.

Jantungnya berdegup kencang. Ia melihat daftar nama kelas 3 IPA 1. Namanya berada di daftar tersebut. No. 22, Laura Amalia. Perlahan lahan jarinya melihat daftar nama dibawahnya. Lily... Leonel.... Lily... Margaret... Michael... Moira... Natalie... Niko... jarinya berhenti. No. 29 Niko Fareli. Luara sampai harus melihatnya 2 kali utk memastikan. Ia menutup matanya kemudian membukanya lagi. Nama tersebut masih ada. Seulas senyum lebar menghiasi bibirnya. Akhirnya ia bisa sekelas jg dgn Niko. Laura meloncat kegirangan.

Laura berlari keruang kelas barunya. Ia melihat seisi kelas yg masih kosong. Selama 1 tahun berikutnya ia akan menghabiskan sisa masa SMA nya di ruang yg sama dgn Niko.

***

Dua hari kemudian, Laura memandang Niko yg sedang membErikan tanda tangan utk para siswa kelas 1. Sebagai Ketua Osis, Niko memang sangat sibuk saat masa orientasi sekolah. Tapi tdk seperti rekan-2 nya yg mengerjai adik kelasnya dan membErikan tanda tangannya tanpa meminta mereka melakukan apapun. Hal itu membuat Laura semakin menyukainya.

Tiba-tiba Niko bertemu pandang dgn Laura, Jantung Laura seakan berhenti berdetak, wajahnya merah padam, lalu ia memalingkan wajah dan kembali ke kelas. Dengan lemas, ia duduk dibangkunya. ''Aku memang payah'', keluhnya dalam hati.

Di sinilah ia, satu tahun setengah setelah dua perkataan ''maaf'' dan ''thanks'' yg dilontarkannya pd Niko. Ia masih belum punya keberanian utk berbicara dgn nya. Pandangannya jatuh pd tempat duduk Niko, dua bangku di depannya.

Enam langkah, hanya enam langkah jaraknya kini dgn Niko. Tetapi Laura masih belum bicara dgn nya. Pandangannya jatuh pd tempat duduk Niko, dua bangku di depannya.

Dan pd akhirnya ia menyimpulkan ia memang tdk punya keberanian utk berbicara dgn orang yg ia sukai, saat masa orientasi sekolah usai, dan hari telah berganti minggu, Laura tetap tdk punya kesempatan utk berbicara dgn Niko. Niko selalu di kerumuni teman-temannya, terutama pacarnya, Erika dr kelas 3 IPA 2.

***

Pada minggu ke empatnya di kelas, ketika memandangi rerumputan dr kaca jendela bus, Laura mendesah. Ia benar2 berharap diberi kesempatan utk berbicara dgn Niko, sekali saja.

Tiba-2 bus yg dinaikinya berhenti, Laura membuka jendela bus & melihat kedepan jalan. Sepertinya tak jauh dr sana baru terjadi tabrakan antara truk & mobil barang. Hal itu menyebabkan jalan dr dua arah tdk bisa dilalui. Laura melirik jam ditangannya. Butuh waktu lama utk tim derek mobil tiba dilokasi & membuat jalan lancar kembali.

Laura menelepon wali kelasnya & memberitahu kemungkinan besar ia tdk bisa mengikuti setengah pelajaran pagi sampai istirahat. Padahal jam pertama ada ulangan fisika. Pak Bambang, sang wali kelas sekaligus guru fisika, memahaminya. Dia meminta Laura tdk usah khawatir & bisa mengikuti ulangan susulan sepulang sekolah.

Waktu menunjukkan pukul 10 ketika akhirnya Laura sampai disekolah. Setelah membuat laporan pd guru piket, Laura melangkah ke kelasnya. Terus terang, menunggu 3 jam didalam bus tanpa bergerak sama sekali benar-2 membuatnya bosan. Belum lagi, ia harus mengikuti ulangan susulan seusai sekolah. Dan dr perkataan teman sekelas yg didengarnya, soal fisika td pagi sangat sulit. ''Apalagi usai sekolah nanti'', keluhnya, ''pasti lebih sulit lagi''.

Saat itu Laura menyadari, masuk IPA dgn alasan supaya sekelas dgn orang yg disukainya adalah alasan yg salah. Ketika Pak Bambang membErikan soal ulangan seusai sekolah, Laura menerimanya dgn berat hati. Ia melihat selembar kertas bolak balik berisi 10 soal yg pasti sebentar lagi bisa membuat kepalanya pusing. Padahal ulangan kali itu open book.

15 menit berlalu, tapi Laura belum juga menemukan solusi utk sebagian besar soal di depannya. Pak bambang duduk di meja guru dgn santai sambil membaca koran.

Tiba-2 seorang cowok masuk dan duduk di meja sebelah Laura. Laura menatap cowok itu dan terkejut, Niko.

''Ah Niko'', sapa Pak Bambang sambil berdiri di depan meja Niko, ''kau juga td pagi tdk bisa ikut ulangan bapak kan? Ini soal ulangannya.''

''Maaf pak. Tadi pagi ada rapat Osis,'' kata Niko memberi penjelasan. Pak Bambang mengangguk mengerti.

Tangan Laura tdk bergerak selama beberapa saat. Ia tdk menyangka Niko akan mengerjakan ulangan yg sama dgn nya. Jantungnya berdetak lagi. Ia sama sekali tdk bisa berkonsentrasi dgn ulangannya sekarang. Niko berada disebelah mejanya. Ia melihat cowok itu membuka buku fisikanya, lalu mulai mengerjakan soal.

Bagaimana mungkin Laura bisa berkonsentrasi kalau dirinya hanya ingin memandang orang yg paling disukainya saat ini?

Perkataan Pak Bambang membuat Laura tersentak dr pandangannya pd Niko. ''OK bapak pergi dulu. Nanti kalau sudah selesai, tinggalkan saja jawaban kalian di meja guru. Kalian tdk akan bekerja sama,kan?''

Laura dan Niko menggeleng berbarengan. Lalu Pak Bambang keluar dr ruang kelas. Kini hanya tinggal Laura dan Niko disana. Laura berusaha sekuat mungkin mengerjakan soal didepannya, tp jawaban utk soal-2 tersebut hilang entah kemana.

Kebalikan dirinya, ia melihat Niko mengerjakan soal tanpa masalah. Dua puluh menit kemudian, Laura menyerah. Ia yakin ia tdk akan mendapat nilai bagus utk ulangannya kali ini.

''Apa yg harus kulakukan?'' tanyanya dalam hati sambil menutup wajahnya dgn ke dua tangan. ''Aku tdk bisa mengerjakan soal-2 fisika kali ini.''

Ketika ia membuka matanya lagi, Niko sudah tdk ada di sana. Laura mendesah panjang. ''Dia pasti sudah selesai,'' pikirnya. Matanya kembali menatap soal-2 di depannya. Tiba-2 ia menyadari ada sehelai kertas terlipat di sebelah buku fisikanya.

Laura membuka kertas berlipat 4 itu dgn hati-2, dan membaca 2 kata yg tertera disana. JANGAN MENYERAH.

Perlahan-lahan Laura tersenyum. Ia yakin Niko yg menulisnya sebelum keluar dr ruang kelas. Senyum Laura semakin lebar. Kini,hatinya penuh dgn semangat baru. Perlahan tp pasti, Laura menyelesaikan semua soal ulangan fisika itu.

***

Ketika sorenya ia makan malam dgn mama di meja makan, wajahnya masih tetap tersenyum.

''Kau kelihatan senang hari ini,'' komentar mama. ''Mau memberitahu mama apa yg membuatmu bahagia?''

Laura tersenyum tipis. ''Hari ini orang yg aku sukai memberi semangat. Tadi siang ketika ulangan fisika susulan, aku sudah menyerah. Tapi tiba-2 dia memberiku sehelai kertas. Isinya ''JANGAN MENYERAH'' .

''Jadi,'' lanjut mama,'' akhiranya kau bisa mengerjakan ulanganmu hari ini.'' Laura mengangguk.

''Laura.'' ujar mama serius, ''kau benar-2 menyukai cowok ini, ya?''

Laura mengangguk lagi.

''Kau tau kan, mama percaya padamu.'' mama menatap putrinya dgn lembut. ''Mama hanya ingin kau berhati-hati.”

Bagian 3

♪ ~**STAY WITH ME~ ♪**

\\\\\\\\\\\\_

← ▼ →

 

keesokan pagi nya Laura bangun dgn

semangat baru. Ia tahu hari ini hari yg ia tunggu-2. Ia mengenakan seragam sekolahnya dgn penuh semangat. Hari ini ia ingin terlihat rapi di mata Niko. Dimeja riasnya terdapat gulungan kertas yg diikat pita merah. Gambar Niko.

Ia menatap bayangannya di cermin, & tersenyum. Hari ini akan berbeda dgn hari-2 sebelumnya. Hari ini ia akan mengumpulkan keberaniannya utk bicara dgn Niko.

Saat istirahat siang, Laura memandangi punggung Niko. Teman-2 sekelas sudah pergi utk beristirahat. Di kelas hanya tinggal mereka berdua. ''Ayolah Laura, hanya enam langkah menuju tempatnya,'' katanya dalam hati. Perlahan-lahan, Laura bangkit dari kursinya dan berjalan ke arah Niko.

Napasnya mulai tdk beraturan. Tiga langkah lagi. Dua langkah lagi. Satu langkah lagi. Kini ia tiba di meja Niko. Tampaknya Niko sedang menulis laporan.

Mengumpulkan keberanianya, Laura menarik napas panjang dan berkata, ''Niko...''

Niko berhenti menulis dan memandang Laura dgn tatapan ingin tahu.

Laura meletakkan gambar Niko di atas mejanya. ''Aku menemukan gambarmu kemari.''

Niko melihat gulungan kertas berpita merah di depannya, lalu membukanya. Matanya mengenali gambar yg tertera di sana, Niko menatap Laura lagi. ''Terima kasih.''

Laura menghela napas lega. ''Akhirnya aku bisa berbicara padanya.''

Melihat mata Niko yg masih memandangnya membuat Laura gugup. Ia tdk tahu harus berbicara apalagi.

''Ehm... kalau begitu aku keluar dulu.'' Langkahnya yg terburu-buru hampir saja menyenggol meja Niko.

''Tunggu, Laura,'' kata suara di belakangnya.

Laura membalikkan badannya ke arah Niko. ''Ada apa?''

Niko seakan ragu untuk mengutarakan kalimat berikutnya. ''Begini.... bisakah kau tdk memberitahukan tentang gambarku ini pd orang lain?''

(''mengapa'?') benak Laura langsung merespon pertanyaan Niko, tp yg keluar dr mulutnya malah kebalikannya. ''Baiklah,'' katanya perlahan.

''Terima kasih lagi,'' kata Niko sambil tersenyum lembut.

Senyum Niko membuat Laura gemetar. ''Sama-sama,'' balasnya perlahan.

Lima menit kemudian, di toilet cewek, Laura tersenyum lebar. Kali ini ia tdk peduli jantungnya berdetak dgn cepat. Ia sangat menyukai perasaan ini. Akhirnya, setelah satu setengah tahun, ia bisa berbicara dgn Niko, dan Niko mengetahui namanya. Pertama kali namanya keluar dr bibir orang yg disukainya.

Hari-hari berikutnya, ketika Laura berpapasan dgn Niko di lorong kelas, di kantin, ataupun di dalam kelas, Niko tersenyum padanya dan Laura membalas senyuman itu.

***

Dua hari kemudian, Laura mengelus-elus bajunya yg basah. Gerimis membasahi halte bus yg akan membawa Laura ke sekolahnya. Laura melirik jam tangannya. Masih banyak waktu. Biasanya bus datang sepuluh sampai lima belas menit sekali. Dan perjalanan ke sekolah dr halte bus ini biasanya sekitar sepuluh menitan.

Laura mengeluarkan jaket dr tas dan mengenakannya. Sambil menunggu bus, telapak tangan Laura terulur merasakan tetesan air hujan. Sepuluh menit berlalu, tp bus yg hendak mambawanya ke sekolah belum tiba juga. Tiba-tiba sebuah mobil berhenti di depannya. Kaca jendelanya terbuka

''Laura...'', sapa seorang cowok.

Laura tersentak kaget, suara itu. Ia pasti akan mengenali suara itu di mana saja. Suara Niko.

''Niko. Hai...''

''Kau sedang menunggu bus?'' tanya Niko menatap ke arah Laura.

''Iya,'' Laura mengangguk.

''Ikut mobilku saja,'' saran Niko.

Laura agak terkejut, ''Hah?''

Niko tersenyum simpul. ''Ikut mobilku saja sekalian.'' Laura melihat Niko menekan tombol utk membuka kunci pintu. ''Masuklah,'' kata Niko kemudian.

Laura berdiri lalu berjalan memasuki mobil Niko.

''Kebetulan sekali bertemu dgn mu,'' kata Niko memulai pembicaraan.

Laura mati kutu. Jantungnya berdegup kencang lagi. Ia benar-2 kesulitan utk berbicara & hanya bisa mengangguk.

''Biasanya aku kesekolah tdk sepagi ini,'' lanjut Niko lagi, ''tapi aku harus menyusun acara utk pertandingan persahabatan minggu depan.''

Setelah beberapa saat, jantung Laura kembali berdetak normal. ''Kau pasti sibuk,'' kata Laura perlahan.

''Yah begitulah,'' kata Niko tersenyum tipis, ''resiko jd ketua OSIS.'' Laura ikut tersenyum, ''Jadi... rumahmu jauh dari sekolah, ya?'' tanya Niko.

Laura mengangguk. ''Iya, bagaimana kau bisa tahu?''

Niko tersenyum lagi. ''Aku kan ketua kelas, masa aku tdk tahu teman-teman sekelasku? Nomor hp mu pun aku tahu.''

Laura menelan ludah, ''Benar juga.'' Laura menggengam erat jemarinya. ''Ehm... Niko,'' katanya lagi, ''terima kasih utk kertas semangatnya pas ulangan fisika minggu lalu.''

Niko seakan berpikir sesaat, tp kemudian tersenyum. ''Oh, kertas itu, yah... aku lihat sepertinya kau sudah menyerah. Jadi aku ingin memberimu semangat. Nilai ulanganmu tdk jelek kan?''

Laura menggeleng dan mengingat angka delapan yg ia terima beberapa hari yg lalu untuk ulangan fisikanya. ''Tidak, nilai ulanganku cukup baik.''

''Baguslah kalau begitu,'' balas Niko, Laura serasa bermimpi.

Beberapa saat kemudian, mobil Niko memasuki area sekolah. Laura berharap perjalanan dr halte bus ke sekolah tdk sesingkat ini. Mobil Niko berhenti di area parkir.

''Terima kasih utk tumpangannya, Niko,'' kata Laura tulus.

''Ehm... Laura,'' kata Niko ragu, ''terima kasih karena tdk pernah memberitahukan tentang gambarku, pd orang lain.''

''Aku sudah berjanji tdk akan memberitahukannya,'' kata Laura sedikit bingung.

''Tidak ada yg tahu soal hobiku yg satu itu selain orang tuaku. Biasanya gosip sekolah menyebar dgn cepat. Tapi kau benar-2 tdk memberitahukannya pd siapa pun. Aku benar-2 menghargainya.''

Laura tersenyum. ''Gambarmu sangat indah, kau seharusnya bangga.'' (''aku tahu aku terpesona olehnya'') lanjut Laura dalam hati.

Sesaat mata Niko terlihat sendu, lalu digantikan oleh senyuman. ''Terima kasih. Ini pertama kalinya seseorang memuji gambarku.'' Niko membuka pintu mobilnya dan Laura melakukan hal yg sama. Perkataan Niko membuat Laura sedikit bingung.

''Terima kasih lagi,'' kata Laura perlahan.

Tiba -2 sebuah suara mendekati mereka. ''Niko'' katanya, ''rupanya kau sudah sampai.'' Laura menoleh ke arah datangnya suara, ternyata Erika. ''Hai Erika,'' sapa Laura sopan.

''Apa yg kau lakukan di mobil Niko?'' tanya Erika curiga.

''Aku memberi tumpangan pd Laura,'' kata Niko memberi penjelasan. ''Kebetulan tadi aku lewat depan halte bus tempat Laura sedang menunggu.''

Erika menatap Laura dgn pandangn tdk suka. ''Aku tdk suka kau bersama cewek lain di mobilmu, Niko,'' kata Erika ketus.

''Maaf'', sela Laura, ''Niko benar-2 hanya memberiku tumpangan.'' ''Aku tdk bicara pd mu,'' kata Erika dingin.

''Erika, ayolah,'' kata Niko sedikit kesal. ''Kau bersikap kekanak-kanakan.''

''Pokoknya mulai besok kau harus menjemputku dulu setiap pagi sebelum pergi ke sekolah. Kita pergi bareng,'' kata Erika ketus.

''Bukannya kau selalu memakai mobilmu sendiri ke sekolah?'' tanya Niko seakan permintaan Erika tdk masuk akal.

''Yah, mulai besok aku mau dijemput olehmu,'' kata Erika sedikit memelas.

Niko yg tdk tega melihat tampang Erika sepeti itu langsung menyetujuinya. ''Baiklah, besok aku akan menjemputmu lebih dulu.''

Erika langsung memeluknya. ''Nah, itu baru pacarku.''

Niko hanya menggeleng sambil mendesah. Laura mendengar percakapan keduanya dgn sedih. Ia tahu Niko tdk akan menyukainya lebih dari pada teman. Niko sudah punya Erika. Tapi tetap saja perasaan sedih di hatinya tdk bisa hilang. Memang sangat menyedihkan mengharapkan sesuatu yg bukan miliknya. Tapi, melihat senyum Niko bersama Erika membuat perasaan Laura kembali membaik. Tidak perduli bersama siapa, asalkan Niko bisa tersenyum bahagia, maka ia pun ikut bahagia.

 

***

 

Tapi hari-2 berikutnya terasa berat untuk Laura, karena sepertinya Erika sudah menetapkannya menjadi musuh nomor satu di sekolah. Paginya, ditoilet cewek, teman-2 Erika sengaja menabraknya hingga jatuh tanpa meminta maaf. Laura hanya bisa berdiri dan terdiam. Ia tahu itu peringatan dari Erika utk tdk mendekati Niko lagi. Dan ia tdk bisa menyalahkan Erika. Ia pun tentu ingin melindungi miliknya, walaupun mungkin caranya tdk akan sama seperti yg dilakukan Erika. Untungnya beberapa hari kemudian ada pertandingan persahabatan dgn sekolah lain sehingga Erika sibuk membantu Niko mempersiapkannya, dan ia melupakan soal Laura utk sementara.

Lapangan basket dipenuhi para siswa yg sedang berteriak. Masing-2 siswa memberikan semangat pd sekolahnya. Laura melihat keramaian itu dr ruang tata boga. Ia tahu Niko sedang bertanding. Tangannya dgn teliti mencetak adonan terigu menjadi sebuah bintang, Setelah satu loyang sudah terisi penuh, ia memasukkannya ke oven. Ia paling suka menunggu saat-2 seperti ini.

Teriakan dilapangan semakin kencang. Laura tersenyum. Ia yakin tim Niko akan menang. Tak berapa lama kemudian pertandingan selesai. Laura melihat ke arah lapangan. Skor 24-21 utk kemenangan tim Niko.

 

**

 

Bunyi timer menyadarkan Laura utk membuka oven. Dihirupnya wangi kue yg sudah dibuatnya. Bibirnya tersenyum puas. Ia mengambil kue bintang dr adonan satu persatu, lalu meletakkannya di sebuah piring besar. Ia akan menawarkan kue buatannya pd tim basket Niko yg telah berhasil memenangkan pertandingan.

Laura keluar dr ruang tata boga sambil membawa sepiring kue buatannya. Di lapangan sudah tdk terlihat pertandingan basket lagi. Para siswa sedang mengerubungi tim Basket Niko utk memberi selamat.

Laura menunggu sampai semua teman-2 Niko selesai, lalu berjalan mendekatinya. ''Niko selamat ya.''

Niko yg masih mengenakan seragam klub basket dan berkeringat, tersenyum menatap Laura, ''thanks''' ujarnya.

''Ehm... mau coba kue buatanku?'' tanya Laura sambil menyodorkan piring di hadapannya.

Niko mengambil salah satu kue bintang yg ada dipiring lalu mamakannya.

''Kue buatanmu enak sekali,'' kata Niko memuji.

Laura lalu menawarkan hal yg sama pd semua teman Niko di klub basket. ''Silahkan coba'', katanya ramah.

Tanpa pikir panjang, teman-2 Niko mengambil kue-2 yg ada dipiring sambil memuji Laura sesudah memakannya. ''Kue buatanmu enak sekali'', kata salah satu teman Niko. ''Adikku suka bereksperimen dgn kue, boleh aku minta resep kuenya?''

Laura mengangguk, ''Tentu saja. Aku akan memberikan resepnya di kelas nanti''.

Teman Niko tersenyum. ''Thanks.”

Tiba-2 seseorang menabrak Laura dr belakang sehingga piring yg dibawanya terjatuh dan kue-2 nya berceceran di tanah. ''Oh....maafkan aku'', kata Erika, yg jelas sengaja menabrak Laura. ''Aku tdk sengaja.”

''Erika'', omel Niko, ''kenapa kau bisa seceroboh ini?''

''Aku benar-2 minta maaf, Laura''. Erika memandangi Laura sambil tersenyum.

Laura tdk tahu apakah Erika sengaja atau tdk menabraknya, tetapi ia sedih melihat hasil karyanya berakhir di lapangan. ''Tdk apa-2'', sahutnya kemudian.

Erika tersenyum lebar, ''Aku benar-2 tdk sengaja,'' katanya lagi, lalu tatapannya beralih pd Niko. ''Niko, sebentar lg grup marching band ku akan tampil di aula. Ayo ikut kesana.'' Erika menarik tangan Niko utk mengikutinya.

Tapi sebelum pergi, Niko berbicara pd Laura, ''Maafkan Erika, ya.''

Laura mengangguk. ''Tdk apa-2''.

Setelah memandangi punggung Niko yg menghilang di balik aula, Laura mengumpulkan kue-2 yg berserakan dilapangan dan menempatkanya kembali dipiring. Ia berjalan perlahan, kemudian membuang semua kue itu. Saat semua kuenya sudah berpindah ketempat sampah, hatinya merana sedih.

Dalam perjalanan pulang hari itu, Laura termenung lama. Mungkin sebaiknya ia berhenti berteman dgn Niko. Dan keinginan ini ia utarakan pd mama.

''Apakah sebaiknya aku berhenti berteman dgn nya, ma?'' tanyanya saat mereka mencuci piring di dapur.

Mama menatap putrinya dgn lembut ''Apakah kau mau berhenti berteman dgn nya?''

Laura menggeleng.

''Laura'', ujar mama sambil menutup keran air, ''kenapa kau tdk berterus terang pd cowok ini kalau kau menyukainya?'

''Dia tdk menyukaiku,'' jawab Laura memberi penjelasan.

''Bukankah lebih baik kau mengatakan isi hatimu pd nya. Lalu setelah kau mengetahui dia tdk menyukaimu, kau bisa mulai menghentikan perasaanmu pd nya dan memulai hubungan yg baru.''

''aku tahu, tapi... rasanya sulit sekali melepaskannya. Apalagi sekarang kami sudah berteman.'' ''Kau ingin jd pacarnya?'' tanya mama lagi.

Laura menatap mama dgn sedih. ''Itu harapan yg tdk mungkin, Ma. Dia menyukai pacarnya yg sekarang. Tapi, apakah perasaanku menyukainya salah,ma?''

Mama menggeleng. ''Cinta memang tdk sederhana. Kau tdk salah menyukainya. Hanya saja kau menyukai orang yg salah di waktu yg salah''.

Laura mendesah. ''Beri aku waktu sampai kelulusan SMA. Saat itu, aku akan memutuskan utk melepaskannya. Lagi pula, kami tentu akan berpisah jg. Dia pasti kuliah di tempat yg berbeda dgn ku. Aku sudah mengejarnya selama satu tahu setengah. Kelulusan sekolah tinggal 7 bulan lagi. Biarkan aku memiliki waktu ini utk menyukainya.''

Mama memeluk putrinya, ''Oke. Cuma sampai kelulusan, ya. Setelah itu kau harus melepaskannya. Percayalah pd mama, cepat atau lambat, waktu akan menyembuhkan luka di hatimu.''

''Thanks, Ma'', balas Laura sambil memeluk dan menghirup aroma wewangian tubuh mama. Laura tersenyum, pelukan mama selalu mambuatnya merasa lebih baik.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play