Hujan membasahi bumi, terlihat seorang wanita sedang menangis diatas gundukan tanah yang memiliki nisan ditemani laki-laki dan perempuan berpakaian hitam yang sedang memayunginya. Sang wanita hanya bisa bersedih dan menangis tersedu tanpa berkata-kata sambil memeluk gundukan tanah tersebut hingga tiba-tiba ia pingsan. Kedua orang yang berpakaian hitam hanya bisa saling pandang dan menggendongnya menuju mobil dalam diam kemudian pria berpakaian hitam pun mengendarai mobil dan yang wanita berpakaian hitam duduk di kursi penumpang sambil menjagai wanita pingsan itu. Mereka tiba di sebuah rumah megah dan indah, mereka membawa wanita itu menuju kamar yang sangat luas dengan ornamen kayu nan elegan diikuti seorang wanita paruh baya yang terlihat sangat khawatir,"Apa yang terjadi dengan Intan?"
"Ibu Intan pergi ke kuburan Bapak Erik, kami berusaha membujuknya untuk pulang tapi Ibu Intan bersikeras untuk tetap disana, kami berusaha memayunginya."
"Apakah kalian sudah memanggil dokter?" tanya wanita paruh baya itu yang kini berada disisi Intan sambil mengusap keningnya.
"Sudah, sebentar lagi dokter akan datang," jawab wanita berpakaian hitam. Kecemasan mereka buyar saat terdengar tangisan bayi dari depan pintu, semua mata tertuju pada pintu kamar yang telah berdiri seorang dokter dan wanita paruh baya yang lainnya yang sedang menggendong bayi. Dokter segera masuk dan memeriksa Intan, kedua orang berbaju hitam tadi segera keluar kamar dan berjaga di pintu kamar sesaat sebelum dokter memeriksa Intan. Setelah memeriksa dokter berkata,"Bu Intan mengalami stress berat, ia belum bisa menerima kepergian Pak Erik. Saya harap Ibu Intan bisa pergi ke psikiater untuk berobat," dokter menanggalkan steteskop dan memberikan kartu nama,"ini dokter psikiater yang saya kenal dan dapat saya rekomendasikan, silakan dihubungi."
"Baiklah, sudah sebulan sejak kepergian Erik hinggasekarang Intan tidak mau menyentuh bayi-nya, menyusuinya pun tidak... "jawab wanita paruh baya yang sedang menggendong bayi. Sang dokter mencoba memeriksa sang bayi dan wanita paruh baya yang tadi berada di sebelah Intan, kini menghampiri wanita paruh baya yang menggendong bayi,"Mama Intan tenang dulu, ya, walaupun Intan menantu saya, saya sudah menganggapnya sebagai anak saya sendiri, kita hadapi keadaan ini dengan sabar, ya..."
"Terima kasih Mama Erik, memang ini situasi yang sulit untuk kita, selain menghadapi kematian Erik, keadaan Intan yang stress dan tidak mau menyentuh cucu kita, dan keadaan cucu kita yang harusnya mendapat kasih saya dari ibunya malah begini keadaannya.... " mereka saling bersedekap. Sang dokter selesai memeriksa sang bayi,"Keadaan Grace cukup baik, dia bayi yang kuat dan memiliki keluarga yang menyayanginya, walau keadaan mamanya begini tapi dia tetap kuat dan sehat. "
"Terima kasih, Dok, mari kami antar....." jawab Mama Intan yang berjalan mengiringi sang dokter diikuti Mama Erik. Saat didepan kamar Mama Erik berbicara pada lelaki berbaju hitam,"Heru, tolong antar dokter," kemudian Mama Erik melirik wanita berbaju hitam,"Helga, tolong jaga Intan dulu, kami harus membicarakan hal penting dahulu... " Heru dan Helga pun menjalankan tugas yang diberika Mama Erik.
Dua bulan lalu....
Intan seorang wanita yang mendapatkan bahwa kehidupannya cukup sempurna menikah dengan laki-laki yang dicintai sepenuh hati, mertua dan keluarganya saling mendukung, mertua yang memperlakukannya cukup baik, memiliki adik ipar yang menyayanginya juga, suami yang sangat setia padanya, dan yang terpenting Intan sedang mengandung buah cintanya dengan sang suami, Erik. Ya, semua yang diinginkan oleh wanita, telah menjadi bagian hidupnya. Intan merasa diberkati tetapi tidak membuat dirinya sombong, keluarganya selalu mengajarkan untuk rendah hati dan tidak suka pamer. Intan sedang berbelanja baju bayi di sebuah mall bersama mertua, mama, dan dua orang pengawalnya. Mereka melihat-lihat,"Ma, apakah ini cocok dengan Grace nanti?" tanya Intan kepada mertua sambil menunjukan sebuah baju mungil.
"Bagus, menurut mama nanti Grace cocok dengan warna tosca."
"Grace memang lebih baik memakai warna pastel, lebih cantik,"sambung Mama Ika
"Aku juga sangat tidak sabar menunggu Grace lahir dan bertemu dengannya pertama kali," jawab Intan sambil mengambil beberapa baju yang dibantu dibawakan oleh pengawal. Selesai membeli peralatan bayi, Intan membawa mertua dan Mama untuk makan bersama di sebuah restoran yang authentic dan nyaman, mereka pun memesan makanan,sedangkan kedua pengawalnya berada di meja sebelah. Tiba-tiba Erik datang menghampiri mereka, disambut senyum lebar oleh ketiga wanita yang sangat menyayanginya,"Dari mana kau tahu bahwa kami ada disini, Eri?" Sang istri membuka suara, disusul Erik yang mencium pipi kanan dan kiri mertuanya dan mama-nya. Setelah itu dia melirik Intan dengan hangat dan mencium keningnya seraya berkata,"Karena di atas kepalaku memiliki alat pelacak," Erik terkekeh sambil duduk di posisi sebelah Intan.
"Ah, kau mencandai aku!" jawab Intan sambil bersungut.
"Betul, Grace ini adalah alat pelacakku," Erik mengelus perut sang istri,"di mana pun Grace berada, pasti aku akan tahu, jadi kamu harus menjaganya, ok?" canda Erik sambil membelai lembut rambut Intan.
"Aku belum memesankan makanan untukmu, kau mau pesan apa?" tanya Intan sambil menyodorkan menu pada Erik dan melambaikan tangan untuk memanggil pelayan.
"Seperti biasa, spaghetti agliolio dengan jus jeruk," jawab Erik dengan tersenyum manis dan mengembalikan buku menu. Tiba-tiba Intan merasakan Grace menendang perutnya yang membuatnya terkejut dan segera menyambar lengan Erik,"Dia sedang menendang perutku!" Erik merasakan tendangan pada telapak tangannya yang berada di perut Intan, mereka tersenyum bahagia.
Hari sudah malam, Intan menunggu Erik yang tak kunjung pulang. Saat hamil pertama ini, Intan menjadi lebih manja karena ia tidak bisa tidur jika belum melihat dan mendapat pijatan dari sang suami. Malam semakin larut, Intan hanya bisa terjaga di kamarnya yang cukup luas dan akhirnya ia meraih ponselnya untuk menelpon Heru sang asisten pribadi Erik. Sela beberapa kali nada sambung, akhinya Heru mengangkatnya,"Ya, halo, Bu?"
"Heru, kenapa Erik belum pulang ya?"
"Pak Erik sedang lembur bersama para menejer dan beberapa karyawan di kantor."
"Kenapa di kantor? Harusnya dia lembur di rumah saja, seperti biasa," jawab Intan yang merasa kesal tak bisa bertemu Erik sebelum tidur.
"Iya memang biasanya lembur di rumah Pak Erik, hanya saja kali ini ada file yang tidak boleh keluar dari kantor," Heru menyanggah.
"Baiklah, hanya saja aku tidak bisa tidur jika belum bertemu Erik, kau tahu keinginan bayi, kan?" Intan duduk di bibir kasur sambil cemberut.
"Baik, Bu, nanti saya beri tahu Pak Erik," jawab Heru dengan sedikit tersenyum.
"Kau juga harus jaga stamina, kalau kamu sakit, siapa yang jaga Erik?"
"Baik, Bu."
"Baiklah, aku menonton saja sambil menunggu Erik,makasih ya, Her," Intan segera memutuskan sambungan ponselnya dan meraih remote televisi untuk menonton. Tak terasa waktu berlalu sangat cepat, jam sudah menunjukan pukul dua dini hari, Intan mendapati dirinya tengah lapar ingin makan eskrim. Intan tahu bahwa jika menelpon Erik ataupun Heru hanya untuk minta dibawakan eskrim adalah hal yang sangat tidak masuk akal dan menyusahkan, maka ia segera menelpon Helga pengawal sekaligus asisten pribadinya. Helga terbangun dari tidurnya dan segera mengangkat telpon," Halo, Nona?"
"Helga, kamu tolong temani cari eskrim ya, sekarang, bisa?" tanya Intan sambil mengusap-usap perutnya.
"Bisa, Nona," Helga mengambil posisi duduk di atas kasurnya,"saya ganti baju dulu setelah itu langsung ke kamar Anda."
"Tidak perlu, kamu langsung siapkan mobil saja, aku bisa jalan sendiri."
"Jangan, Nona, Anda sedang hamil tua dan tugas saya menjaga Anda,"Helga menyelipkan earphone bluetooth ditelinganya dan mencari pakaian sambil terus mengobrol dengan Intan,"nona ingin beli eskrim dimana?"
"Tidak tahu, kita lihat minimarket yang buka dua puluh empat jam saja," Intan meraih baju untuk pergi,"aku ini bukan penyakitan, lagi pula kamarku sudah ada dibawah jadi tidak perlu naik turun tangga, kau tidak perlu khawatir."
"Baik, Nona," jawab Helga yang sudah siap dan bergegas menuju parkiran mobil di rumah itu.
"Kamu tunggu di depan ya," pinta Intan seraya menutup ponselnya setelah mendengar kesanggupan Helga. Intan yang sudah berganti pakaian, berjalan dengan perlahan sambil memegangi perutnya yang terasa sedikit menegang. Intan disambut dengan senyuman Helga yang segera menghampirinya dan membantunya melintasi teras menuju mobil,"Pelan-pelan saja, Nona."
"Iya, entah mengapa malam ini perutku menegang,"jawab Intan sambil tersenyum dipaksakan.
"Mungkin Grace sudah tidak sabar ingin makan eskrim," Helga dan Intan terkekeh. Intan membuat dirinya nyaman untuk duduk di kursi penumpang sebelum Helga menutup pintunya. Saat mobil akan melintasi pintu pagar, Intan menitip pesan pada Farid sang satpam,"Pak Farid, saya pergi sebentar ya cari eskrim."
"Baik, Non," jawab Farid seraya menekan remot untuk membuka gerbang.
"Nona ingin eskrim rasa apa?" tanya Helga sambil tetap fokus menyetir.
"Mau yang strawberry aja, besok baru beli yang rasa mint sekalian mau ke mall," Intan menghela nafas panjang,"kamu tolong ingatkan aku ya."
"Baik, Nona."
"Sepertinya Grace akan menjadi anak yang manja dan feminim," Intan mengelus perutnya,"tapi aku berharap dia menjadi anak yang mandiri, agar nantinya bisa menghadapi dunia."
"Nantinya Nona Kecil akan tumbuh menjadi mandiri, periang, dan feminim. Nona tenang saja."
"Tapi aku merasa ada sesuatu yang akan menimpa keluargaku, perasaanku gelisah sudah beberapa hari ini."
"Mungkin karena sudah dekat waktunya Nona Kecil untuk lahir jadi membuat Nona sedikit gugup."
"Mungkin..." Intan menjawab dalam gumam. Tiba-tiba ponsel Intan bergetar, Intan mengangkatnya setelah melihat sang penelpon adalah suaminya,"Iya sayang, ada apa?"
"Kamu ada di mana?" Erik mendapati ranjangnya kosong di malam hari.
"Aku sedang ingin makan eskrim strawberry, aku ajak Helga juga," Intan memberi uang pada Helga saat mobil berhenti di depan minimarket yang masih buka.
"Hati-hati, kamu beli di mana?" Erik menghempaskan tubuhnya diatas sofa.
"Ini di depan perumahan dan Helga sedang membeli eskrim, aku menunggu di dalam mobil. Kamu tenang saja."
"Baiklah, segeralah pulang aku kangen," pinta Erik. Helga kembali sambil menyodorkan kantong plastik berisi beberapa cup eskrim strawberry,"Asyik eskrim sudah datang, saatnya makan eskrim."
"Kau sanagat ingin eskrim strawberry? Kamu ngidam, ya?" tanya Erik sambil terkekeh.
"Engga, ngidam itu di tiga atau empat bulan pertama kehamilan, sebenarnya aku tidak bisa tidur karena belum ketemu kamu."
"Baiklah, silahkan nikmati eskrim kamu, aku tunggu di rumah ya,"jawab Erik.
"Baiklah, aku tidak ingin eskrim ini mencair, bye.... "
"Hati-hati dijalan," balas Erik dan Intan pun menutup ponselnya dan menyantap eskrim strawberry dengan lahap dalam perjalanan pulang.
Di dalam kamar, Erik kembali merasakan pusing yang teramat sangat. Erik memang memiliki sakit kepala yang selalu menghantuinya, seperti godam besar menghantam kepalanya dan rasa mual pun menggelitik perutnya. Erik segera bergegas dengan terhuyung mencari tas kerjanya, ia meraba-raba bagian dalam tasnya dan meraih sebuah tempat obat. Tangannya bergetar hebat menahan sakit di kepala, segera menelan sebutir obat tersebut. Setelah menelan obat itu, walau masih terasa sakit, ia tetap berusaha melepas baju dan sepatunya hingga mengganti pakaian tidur agar tidak membuat Intan curiga bahwa dirinya sedang menahan sakit. Erik pun selesai mengganti pakaiannya serta kembali menyimpan botol obatnya dan bersiap untuk tidur tanpa mandi. Erik menarik selimut sambil menahan sakit tanpa mengerang, ingin rasanya ia memecahkan kepalanya agar tidak merasa sakit lagi hingga akhirnya ia pun pingsan dalam posisi tidur.
Intan sampai di rumah menuju kamarnya ditemani Helga sambil asyik menyantap eskrim strawberry. Helga dan Intan mendapati Erik yang sedang tertidur tanpa tahu sesungguhnya Erik sedang pingsan. Intan memberikan kode jari telunjuk di depan bibirnya kepada Helga agar mereka tidak membangunkan Erik yang sedang tidur. Helga membantu Intan berganti pakaian tidur dan menggosok gigi, hingga saat Intan menarik selimutnya untuk tidur,"Helga, aku sudah siap tidur, kau juga tidur ya agar besok bisa fokus."
"Baik, Nona," jawab Helga sambil tersenyum,"saya permisi," Helga pun pergi melintasi kamar tidur Intan yang sangat luas.
Pagi menyingsing, Intan mendapati Erik sedang memeriksa beberapa berkas di meja kerjanya yang berada di dalam kamar tidur, "Selamat pagi, Er," sapa Intan tersenyum seraya mengumpulkan nyawa di atas tempat tidurnya.
"Pagi, sayang,"Erik membalas sapaan Intan tanpa mengalihkan perhatiannya dari kertas-kertas diatas meja. Intan duduk di bibir kasur, bersiap untuk beranjak dari kasurnya. Saat merasa siap, ia pun beranjak dari bibir kasur melintasi ruangan menuju Erik, dia pun mencium pipi kanan Erik yang membuat Erik tersenyum. Erik pun memutar tubuhnya menghadap Intan, membuat Intan membuka suaranya,"Jadi ciumanku yang bisa mengalihkanmu? kalau suaraku tidak bisa, ya?"
"Masih kurang," jawab Erik sambil memalingkan wajahnya yang dibalas Intan dengan mencium pipi kiri Erik. Tapi Erik mengatakan bahwa hal itu masih kurang, Intan kembali mencium kening Erik tapi Erik terkekeh sambil berkata bahwa hal itu masih kurang hingga membuat Intan mencium seluruh wajah Erik dan mereka tenggelam dalam candaan seraya gelak tawa mereka pun terdengar. Candaan mereka terhenti saat terdengar ketukan pintu,"Permisi Pak Erik, apakah Anda sudah siap?" terdengar suara Heru dari balik pintu. Sambil tersenyum manis dan menatap istrinya Erik menjawab,"Sepuluh menit lagi, Kita berangkat..."
"Baik, Pak," jawab Heru dari balik pintu.
Erik mencium kening sang istri sambil melingkarkan lengannya di pinggang Intan dengan lembut dan terasa sang bayi menendang perutnya,"Sepertinya Grace juga ingin dicium olehmu," camda Intan sambil terkekeh. Erik pun mencium perut Intan seraya berkata,"Yang sehat ya di dalam perut mama, disini kami menanti kelahiranmu..."
"Kau tahu, aku sangat merasa diberkati dengan keadaanku yang sekarang, kehidupanku ini bagaikan dinegri dongeng," Intan memeluk Erik,"suami dan mertua yang sangat menyayangiku, keluarga suami dan keluargaku saling menyayangi, dan bonusnya kekayaanmu dan keturunanmu... Aku berharap Tuhan selalu memberkati kita semua."
"Artinya kau juga melihatku dari kekayaanku?"
"Tidak munafik kita membutuhkan uang untuk membeli kebutuhan tapi seperti aku bilang itu hanya bonus, tapi uang darimu cukup berkelimpahan dan uang darimu sebagian aku investasikan," Intan merapikan dasi Erik,"tidak masalhkan kalau kuinvestasikan?"
"Karena itulah aku menikahimu, kau pandai mengatur keuangan dan aku yakin disaat terjadi sesuatu kau bisa membantu karena selain pintar, lemah lembut, kau juga kuat tanpa beberapa saran darimu aku tidak akan bisa bekerja sama dengan beberapa perusahaan besar. Kita saling membantu dan mengisi, karena itu aku mempercayaimu,"Erik menarik dagu Intan,"hari ini kau akan kemana?"
"Aku mau ke mall bersama mama dan papa,mau beli eskrim rasa mint, boleh ya?"
"Iya, nanti kalau aku sempat, aku akan menyusul, Ok? Dan jangan lupa bawa Helga"
"Ok, baiklah,"Intan melirik jam dinding,"sudah waktunya untuk pergi," Intan mencium bibir Erik lalu mengantarnya menuju teras rumah. Erik berjalan perlahan mengikuti langkah Intan yang sedang menggandengnya,"Menurutku, kau adalah istri yang sempurna dan rekan kerja yang hebat juga. Kau bisa memahami dan mengambil hati kedua orang tuaku tanpa mengabaikan kedua orang tuamu, kau juga bisa menyambungkan saudara-saudara kita. Kau juga bisa masak, dan yang terpenting kau selalu percaya padaku, itu yang membuatku sangat senang," Erik menepuk lembut punggung tangan Intan,"kau tahu? teman dan kolegaku, mereka selalu mengeluhkan istri mereka yang hanya bisa menghamburkan uang, atau tidak akur dengan orang tua si suami, atau clubbing melulu, atau minta uang melulu hingga terkadang membuat mereka ga bisa fokus bekerja.... Tapi berbeda dengan kamu, kamu buat aku nyaman dan fokus untuk bekerja."
"Aku jalannya terlalu lambat ya?" tanya Intan sambil mempercepat jalannya yang kemudian ditahan oleh Erik sambil menggelengkan kepalanya.
"Aku tidak ingin terlalu cepat menghabiskan waktu denganmu, hanya pagi hari adalah waktu kita bisa intens," jawab Erik.
"Sebenarnya bisa tiap siang aku datang ke kantor, tapi aku sibuk cari kebutuhan Grace."
"Iya, lakukanlah yang memang menurut kamu benar dan tanya padaku kalau kamu bimbang, ok? "
"Baiklah," jawab Intan,"Kamu jangan terlalu lelah ya," pinta Intan. Lalu mereka berjalan menuju teras rumah dalam diam. Di teras, Heru dan Helga sudah menunggu, Heru tersenyum sambil membukakan pintu untuk Erik dan Helga membantu Intan saat akan masuk kembali.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play