"Tuan muda." Seru seorang lelaki yang sedang berdiri di sebelah pintu.
"Apakah kau sudah menemukan dia yang aku cari?" Soal seorang lelaki yang dipanggil tuan itu.
"Sudah tuan muda. Sesuai seperti apa yang tuan muda inginkan. Seorang gadis muda yang akan menjadi isteri tuan.".
" Persiapkan semuanya. Aku akan menemuinya." Perintahnya tegas.
"Baik tuan muda."
**
Seorang gadis cantik sedang duduk di sofa ruang tamu rumahnya sambil ditemani secangkir kopi susu yang diletakkan di atas meja didepanya. Ia melirik sekilas jam di dinding menunggu waktu untuk pergi bekerja. Gadis itu menghela nafasnya perlahan. Rasanya kepalanya sedikit berdenyut kerana terlalu banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan.
"Nampaknya aku harus balik lambat lagi hari ni." Gumam gadis itu perlahan.
Tak lama kemudian gadis itu bangun dari duduknya bersiap untuk pergi kerja. Namun, tanpa ia sadari adanya sepasang mata yang sedang memerhati dirinya dari kejauhan.
"Ren, carikan aku rumah dan bangunan kosong untuk aku membangun usahaku disini." Ujarnya penuh arahan.
"Tapi bagaimana dengan istana dan kepemimpinan tuan?" Tanya Ren sedikit cemas.
"Tak ada masalah. Bunda dan ayah boleh mengurusnya." Balasnya. Ren hanya mampu diam dan menuruti perinyah.
"Akhirnya aku menemukanmu kembali wanitaku." Gumamnya seraya tersenyum.
**
Ilyas Harith. Seorang pangeran dari dunia lain. Dunia yang hidup berdampingan dengan dunia manusia. Dunia yang di mana penuh dengan kemewahan serta kemegahan di dalamnya. Dunia yang dimana segala keinginan serta harapan dapat terwujud dengan sekelip mata. Ilyas Harith atau El dikenal sebagai seorang pemimpin yang arif serta bijaksana. Ia juga dikenal dengan kelembutan dan kasih sayang pada rakuat-rakyatnya. Namun sayangnya, ia gagal dalam hal asmara dan percintaan. Ilyas kehilangan wanita yang sangat ia sayangi Seorang wanita yang sudah lama ia cari selama ini. Wanita yang pergi meninggalkan dirinya hanya demi ingin tinggal dan hidup di dunia manusia.
Ilyas berdiri di tepi jendela bilik tidurnya. Termenung menatap jauh tanpa berkelip.
"Neysha." Gumamnya perlahan. Tanpa sedar airmatanya tumpah membasahi kedua pipinya.
"Neysha, aku rindu padamu. Neysha isyeriku." Ucapnya dengan nada sayu.
"Yas."
"Bunda."
"Mahu sampai bila kau nak macam ni Yas? Kalau kau rindu pada Neysha, pergilah cari dia. Bawalah menantu bunda itu kembali. Bunda pun sangat merindukan Neysha." Ujar Bunda Lia perlahan.
Ilyas menghela nafasnya perlahan. Dadanya terasa sesak dan hatinya terasa sakit. Rasa rindu yang menyiksa hatinya terasa begitu dalam. Rasa rindunya seakan tak mampu lagi ia tahan.
"Yas sudah tahu dimana keberadaan Neysha. Tinggal tunggu masa saja lagi untuk bertemu. Yaa pun sangat merindukan Neysha, bunda. Suami mana yang tak sayang pada isterinya? Yaa ingin sekali mengubah kerinduan Yas pada isteri Yas." Ujar Ilyas dengan nada sayu dan sendu.
"Segera lah temui Neysha dan bawalah dia kembali pulang." Pinta bunda Loa penuh harap. Ilyas diam sejenak. Dia masih memikirkan bagaimana caranya untuk menemui isterinya itu. Yang pasti untuk langkah awal dia akan tinggal didekat isterinya itu tinggal.
"Bunda tunggu. Bagi tahu bunda secepat mungkin tentang keberadaan sang isteri.
" Baiklah bunda. Yas akan pastikan kalau Neysha pasti kembali pada kita.". Ujar Ilyas mencuba meyakinkan bundanya. Bunda Lia hanya tersenyum mendengar ucapan dari putranya itu.
Ilyas adalah putra satu-satunya yang ia miliki. Sekaligus merupakan pewaris dari🙃 kerajaan yang sekarang dia dan suaminya dirikan sejak dulu. Jadi, dia sangat berharap penuh pada putranya itu untuk menjadi seorang pemimpin kerajaan. .
"Tuan muda. Rumah dan bangunan yang tuan muda minta sudah disediakan sesuai yang tuan inginkan. Sudah lengkap dengan prabot serta barang-narang yang lain pun sudah disediakan. Juga dengan kenderaan untuk tuan muda gunakan sehari-hari juga sudah ada." Jelas Ren dengan terperinci.
Mendengar itu Ilyas kemudian yersenyum.
"Bagus, ertinya kita hanya perlu menempati rumahnya saja. Mari pergi Ren. Seperti biasa kau temani aku." Balas Ilyas dengan perasaan puas.
"Bunda Yas pergi dulu. Do'akan Yas ye bunda." Sambung Ilyas sambil menyalami tangan bunda Lia.
"Pasti, bunda akan sentiasa mendoakan yang terbaik untuk anak dan menantu bunda. Hati-hati ye." Jawab bunda Lia seraya tersenyum.
Tak lama Ilyas dan Ren pun melangkah meninggalkan istana.
**
Di tempat lain. Seorang gadis sedang berbaring di tepi katil dengan wajah yang lesu kerana kelelahan kerana bekerja satu hari ini.
"Akhirnya aku dapat melepas penat juga lepas satu hari bergelut dengan kertas dan leptop." Gumamnya sambil menghela nafas perlahan.
Selama hampir satu bulan ini dirinya disibukan dengan banyaknya fail-fail yang harus ia selesaikan sebelum akhirnya ia kembali pulang ke tanah air dua hari lagi.
Neysha Amira merupakan seorang wanita muda berusia sembilan belas tahun. Dia merupakan seorang iflienser sekaligus model di pelbagai majalah ternama. Neysha sudah menjadi model sejak usia nya tiga belas tahun. Namun pada saat itu ia harus berhenti sementara selama dua tahun kerana ingin fokus pada sekolahnya dan kembali aktif ketika ia berumur enam belas tahun.
Neysha yang masih muda harus belajar sambil bekerja untuk meneruskan kehidupanya. Neysha telah dibuang oleh kedua orang tuanya hanya kerana kesalahan yang tak pernah ia lakukan. Neysha dituduh mencemarkan nama baik seorang teman sekelasnya hingga ia dimusuhi oleh orang-orang di sekelilingnya. Neysha sudah menjelaskan beberapa kali, namun tak ada seorang pun yang mempercayainya termasuk kedua orang tuanya. Akibatnya Neysha harus angkat kaki dari rumah dan meneruskan sekolahnya tanpa adanya orang tua disisinya.
Sampai sekarang Neysha tak pernah lagi menampakkan wajahnya pada keluarganya itu. Bahkan khabar tentang kedua orang tuanya pun ia tak lagi ambil tahu. Hatinya sudah terlanjur sakit dan kecewa. Kalaupun ia tak sengaja mendengar akan khabar keluarganya itu sudah tak lagi ia peduli. Sekarang ia hanya fokus pada hidup dan masa depanya saja.
"Hm, aku tak tahu macam mana khabar ayah dan ibu aku tu sekarang ye. Dah lama juga aku tak balik." Gumam Neysha perlahan.
Neysha menghela nafasnya berat. Rasa sakit dan kecewa yang ia rasakan masih berbekas di hatinya sampai sekarang. Masih terngiang+ngorang peristiwa lama yang membekas dihatinya. Sudah baginya untuk memaafkan keluarganya apatah lagi kedua orang tuanya. Jika di ingat-ingat kembali akan peristiwa lalu, hatinya tiba-tiba terasa terhiris pisau yang sangat tajam.
"Bukan ini yang aku maju. Bukan keinginanku dibenci oleh keluargaku. Bukan mahuku dibuang dan dikucilkan seperti ini." Gumam Neysha di sela-sela tangisnya. Neysha bersandar di tepi katil dengan airmata yang berlinang membasahi kedua pipinya.
"Hatiku sakit."
Download NovelToon APP on App Store and Google Play