English
NovelToon NovelToon

Heart [Parody]

Rahell's Side

Kisah ini bagaikan benalu di dalam alam bawah sadar semua khalayak ramai. Sisi diriku semua tidak sepenuhnya benar, seperti yang orang gunjingkan. Semua bermula saat kumenatap wajah sayu seorang anak lelaki itu di hari pertamaku memulai kalender baru di sekolah baru.

Setelah perpindahanku dari Tokyo, aku masih merasa asing dengan semua di sekelilingku. Namun anak lelaki itu mengusik pikiranku sejak awal aku menampakkan kaki di sekolah ini, dia tampak tak berdaya mengharapkan seorang pahlawan yang tak kunjung datang, entah mungkin karena kesiangan, embuh lah gan. Di situ tergeraklah hatiku ingin melakukan sesuatu, aku sangat ingin melakukan itu yang mungkin bisa sedikit membantu.

"Excuse me! Kalian ngapain gangguin dia?" Aku sedikit mengegas begitu.

"Heh, anda siapa?" Ketua geng itu speak up.

"Kayak belum pernah lihat sebelumnya, dimana ya!" Anak satunya ikut-ikutan.

"Anak baru kayaknya, bos." Anak satunya lagi bergumam.

"Buset! Pagi-pagi dah ngerumpi kelen." Aku memotong pembicaran geng pembully itu.

"Eh, lu anak baru gak usah banyak cincong dah lu, mentang-mentang cari duit beliin anak sembarangan." Ketua geng itu membalas ucapanku dengan cukup ambigu, hingga kini masih kupikirkan apa makna yang tersirat di dalam itu kalimat.

(Selang beberapa detik mereka bubar meninggalkan aku seorang)

"Kan aku belum ngeluarin jurus ninjaku, kok udahan wok." Aku berdalih dalam lirihan hati.

Nampaknya semua tak seburuk yang kukira, aku mulai terbiasa di sini setelah beberapa hari. Tentunya, karena aku tidak seorang sendiri. Ada seseorang yang selalu mendampingi di sisi, dia selalu membuatku nyaman dalam zona kawan, tertawa dengan recehan dia yang tidak pada tempatnya membuatku sontak ngakak begitu saja. Terlebih saat dia berulah membuatku bertanya-tanya, "Entah apa yang merasukinya?".

Terkadang dia juga bisa menjadi seorang lelaki sejati saat traktir makan aja sih, lumayan mengurangi penggeluaran uang jajan kan, emak kasian hidup seorang.

Sepertinya masih belum aku perjelas sebelumnya, bagaimana bisa aku berteman dengan anak lelaki itu? Setelah perisakan di tempo hari lalu, aku bertemu lagi dengannya di dalam kelas. Saat semuanya takjub melihatku memperkenalkan diri dari depan, pandanganku tak bisa teralihkan, ada apakah gerangan?

Tak hanya itu aku melihat kembali dirinya diambang titik kelemahan, di bawah hantaman para perusuh yang menjadi dalang di setiap ke-fuckedup-an yang sering terjadi di sekolah. Itu seperti hal yang lumrah, bukan? Bila mungkin tiada makhluk seperti mereka, sekolah itu akan sepi seperti group chat siapa nih?

Lagi-lagi jiwa heroku ini meronta-ronta, melihat kaum lemah seperti dia diperlakukan seenaknya. Aku optimis kali ini pasti bisa menunjukan kebolehanku dalam ilmu ninja, yang aku pelajari di Tokyo sana bersama Sakura. Dengan sedikit banyak gaya aku menghampiri mereka.

"Ehe, kalian hobi banget ya gangguin dia?" Aku menyambar bak petir menggelegar.. duwarrr!

"Apaan sih, lu lagi lu lagi. Kita gak ada urusan yah dengan lu. Wahai anak baru, gua sarankan lu untuk pergi selagi bisa atau.." Si ketua geng ini mencoba sok a6.

"Hah, atau apa?" Aku penasaran donk lanjutan perkataanya.

"Lu mau gak gabung di club basket kita? Gua lihat lu banyak potensi dalam bidang ini." Lah, dia seolah mengalihkan perhatian begitu saja, aku kan bingung jadinya.

"Awokk, jangan salpok plis! Urusan kita belom kelar nih sama nih bocah, tapi boleh juga, gua akan join club kalian dengan satu syarat.." Aku berkata seolah menirukan gaya bicara si ketua geng itu. Sebenarnya dia mayan tampan, tapi sayang hobinya naudzubillah.. ya sudahlah!

"Dengan syarat apa?" Si ketua geng diikuti anak buahnya menjawab nyaris terdengar serentak di telinga.

"Dengan syarat kalian dilarang keras merisak dia." Aku menatap tajam ke arah dia si korban perisakan.

"Okey, mulia juga hiduplu! So-soan membela yang lemah. Demi ketenaran semata, basilu dah!" Perkataan si ketua geng ini barulah a6 juga.

"Buset bro, bisa diem kagak lu! jangan merusak image gua sebagai anak baru yang menawan dan tembus pandang." Sebenarnya aku lupa konteks apa yang kukatakan, mungkin kalimat ini aku lebih-lebihkan barusan, haha.. garing sekali aku ini.

Semenjak perjanjian itulah aku semakin leluasa mendekatinya, semenjak saat itu pula aku merasakan momen-momen bahagia di dekatnya, mulai dari nongkrong di rumah pohon. Padahal masih tanda tanya siapa si pemilik rumah pohon itu? Pertama kali kesana memang tidak ada orang sama sekali, jadi kita klaim punya kita wok.

Sering juga memancing keributan di danau. Tidak seperti yang orang lihat kebanyakan, kita tidak cuman naik perahu-perahuan di itu danau, kita biasanya yang isi ulang air danau kalau sudah berwarna rada hitam. Sering juga diundang ke rumah dia buat bahas tugas sekolah atau bahkan hanya numpang nonton serial drama india. Di sana terkadang aku iri dengan keharmonisan keluarganya, memiliki orang tua yang sempurna dengan kasih sayang seutuhnya, finansial pun terjamin sudah.

Sementara aku, hah.. aku saja tidak berani menyebutkan kata ayah *barusan secara gak sadar tersebutkan, wakwaw. Sering ku marah hanya dengan mengenang memori bersama ayah, faktor penyebab duniaku berubah menjadi melodrama, membuat emak bekerja lebih ekstra untuk menghidupiku bayar spp dan semua kebutuhan sekolah, menimbulkan beberapa goresan kecil di bagian tangan, yang mungkin bisa saja membuatku pergi jauh ke alam keabadian.

Aku nyaris membenci para jantan di muka bumi ini. Namun setelah aku melihat anak lelaki itu, yang telah banyak membantuku beradaptasi di benua baru. Aku sadar tidak semua pria seperti ayah, hanya mirip-mirip tidak jauh beda. Bodoh rasanya menghakimi seseorang dengan dalih gender semata. Sejatinya manusia sama, walaupun dengan berbagai keberagaman dan kaya akan perbedaan. Karena itulah yang membuat dunia kita punya banyak cerita untuk dijadikan serial drama korea.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play