Bab - Joko Wiryawan, Guru SD yang Suka Nyentil
Joko Wiryawan, 42 tahun, adalah guru SD negeri di pinggiran Jakarta. Murid-muridnya lebih hafal nama YouTuber prank daripada nama pahlawan nasional. Ia dikenal sebagai guru idealis, galak, tapi diam-diam banyak yang kagum. Setiap kali Joko nyeletuk di depan kelas, reaksinya beragam: ada yang takut, ada yang ketawa, ada juga yang pernah nangis rame-rame.
Pagi itu, Joko duduk santai di warung kopi Bu Tikah... warung kecil berdinding triplek, tapi bersih dan tertata rapi. Di rak dinding, berjejer toples kaca berisi kerupuk, kue sagu, dan rengginang. Meja-mejanya sederhana, tapi selalu kinclong. Di pojok, tikar plastik digelar buat yang suka lesehan. Aroma gorengan dan kopi hitam berpadu dengan kicau burung dari pohon mangga di halaman.
Joko nyeruput Top Coffee Gula Aren, lalu ngetik status Facebook pakai HP yang lcd nya dilakban karena lcd sudah menganga, lemnya sudah enggak erat merekat. Di seberangnya, duduk Edi Saputra, sahabat lamanya yang sekarang jadi tukang servis elektronik merangkap ojol.
"Orang tua murid zaman sekarang banyak yang nyebelin," kata Joko, masih ngetik sambil matanya enggak lepas dari layar.
"Baru dikasih PR dua halaman, langsung WA: 'Pak, anak saya stres belajar.' Lah, elu pikir anak gue enggak?"
Edi ketawa kecil sambil ngaduk teh manis.
"Lu emang guru SD paling galak sedunia," godanya.
"Bukan galak, Ed. Disiplin. Kalau dari SD aja enggak belajar disiplin, nanti pas gede bisa jadi preman pasar... atau koruptor!"
"Halah, lu mah dari dulu emang suka nyolot."
"Bukan nyolot. Sadar! Nih ya... orang sekarang beli motor bisa nyicil sampai delapan tahun. Gue kadang mikir, 'Ini motor sebegitu mahalnya, apa jangan-jangan... motornya yang naikin dia?'"
Edi ngakak.
"Wkwkwk... iya juga sih! Ada yang beli motor cuma buat pamer ke mantan. Padahal helmnya aja masih nyewa!"
Edi lalu nanya, sambil nyengir:
"Tapi, hubungannya apa ya antara disiplin murid sama elu julid soal cicilan motor?"
Joko nyeletuk pelan:
"Akhirnya, hidupnya stres sendiri. Lupa satu hal penting, Ed...
Semakin sedikit yang kita mau, semakin bahagia."
---
Joko buka Facebook, lalu scroll status yang dia post kemarin sore. Isinya cuma satu kalimat:
"Naik motor enggak pakai helm itu, mirip superhero yang lupa bawa jubah kesaktian. Bahaya! Walaupun yang naik Pak Haji."
Kolom komentar sudah rame. Ada yang setuju, ada yang bilang dia enggak sopan, bahkan ada yang ngajak debat soal adab dan akhlak. Tapi yang paling bikin Edi ketawa adalah caption kecil yang ditulis Joko di bawahnya:
(FYI: Pak Haji itu bapak gue sendiri.)
---
Joko memang bukan cuma suka nyentil. Dia percaya, dunia pendidikan bisa berubah-asal bukan cuma kurikulum doang yang diganti, tapi juga karakter manusianya dibangun. Dan kalau enggak bisa mulai dari menteri, ya mulai aja dari bangku plastik kelas SD yang salah satu kakinya udah miring. Dari papan tulis yang catnya ngelupas. Dari anak-anak yang lebih hafal lagu top 40.
Dan dari situ, Joko sudah bersiap. Jadi guru yang bukan cuma ngajar... tapi juga ngasih "tamparan kecil" biar mikir.
Tamparan secara harfiah? Nggak. Joko bahkan enggak pernah membentak muridnya, apalagi main fisik.
Suatu hari, ada satu murid: Muhammad Matthew, atau Mamat, panggilannya. Anak ini cerdas, jago matematika. Tapi karena dari keluarga broken home, Mamat sering cari perhatian. Pas Joko lagi nerangin pelajaran, Mamat keliling kelas, gangguin temen, ajak ngobrol, lempar kertas, dan sebagainya.
Joko sudah coba berbagai cara:
- Mamat duduk di luar kelas.
- Belajar sendiri di ruang guru.
- Disarankan ke guru BK.
- Dipanggil wali kelas berkali-kali.
Tapi tetap aja, Mamat mengulang lagi. Sampai suatu saat, ketika Joko lagi serius ngajar, Mamat jalan-jalan lagi keliling kelas sambil gangguin temen-temennya. Joko yang biasanya sabar, langsung kehilangan kendali. Dia banting spidol ke lantai.
Bukan untuk menakuti. Tapi lebih karena frustrasi.
Setelah itu, Joko langsung panik sendiri. Ia minta salah satu murid memanggil wali kelas 3A, Pak Ibnu.
Pak Ibnu datang cepat. Dengan suara tenang dan nada penuh empati, dia tanya ke Mamat:
"Ada apa sih, Mat?"
Mamat langsung jawab:
"Pak Joko banting spidol!"
Tapi beberapa murid menyanggah:
"Enggak, Pak. Pak Joko enggak banting spidol!"
Sementara itu, Joko cuma bisa duduk diam, campur aduk antara rasa marah, kecewa, dan takut... takut salah langkah, takut kehilangan kendali, tapi juga takut gagal jadi guru yang seharusnya bukan cuma ngajar... tapi juga ngasuh.
---
Kalau kamu pernah jadi guru, kamu pasti ngerti.
Kalau kamu pernah jadi murid, kamu harusnya paham.
Dan kalau kamu orang tua murid zaman sekarang...
...mungkin udah waktunya denger dulu sebelum nge-judge.
Di luar jam sekolah, Joko sering diajak ngopi bareng guru-guru lain. Tapi makin ke sini, ia makin pilih-pilih. Banyak obrolan yang menurutnya enggak produktif: gosip soal atasan, sindiran soal murid, atau bahasan receh kayak siapa yang belanja di Alfamart pakai potongan guru.
Menurut Joko, keterampilan sosial di tempat kerja itu sederhana: jangan ikut politik kantor. Jangan ngomongin jelek rekan kerja... karena cepat atau lambat, pasti sampai ke telinga yang diomongin. Dan jangan berharap disukai semua orang. Kita bukan anjing yang selalu mengibas ekor. Atau pizza yang semua orang suka.
Rekan kerja itu ya kolega. Bukan sahabat. Pulang kerja, urus hidup masing-masing.
Joko lebih suka ngobrol dengan orang-orang seperti Bu Rika, guru Bahasa Indonesia yang hobi nulis fiksi, walau cita citanya jadi novelis international best seller enggak kesampaian. Atau Pak Damar, guru IPS yang suka diskusi soal filosofi pendidikan Montessori... meski sambil ngisep rokok kretek.
Ruang guru SDN 04 itu bukan sekadar tempat istirahat. Di sanalah ide-ide liar, kejengkelan, tawa, dan kadang air mata tumpah. Meja-meja kayu kusam berdempetan, kipas angin tua menggantung dari langit-langit dengan suara menderit yang seperti mengeluh, dan toples-toples plastik penuh kerupuk keras atau biskuit sisa dikocok angin sejak zaman Orde Baru.
Hari itu, seperti biasa, Joko Wiryawan duduk menyendiri di pojok ruangan, di meja yang sudah jadi semacam wilayah kekuasaan pribadinya. Di atasnya ada gelas plastik isi kopi instant sachet, buku catatan bergaris yang sudah menguning, dan ballpoint yang tinggal separuh isi. Latar suara guru-guru lain bergosip menjadi semacam musik latar... semrawut tapi akrab.
"Eh, kalian tau nggak, si Ibu Rika katanya deket lagi sama Pak Damar," bisik Bu Tati, guru kelas 3, sambil mencomot kerupuk garing dari toples.
"Ah masa sih? Kan dulu udah sempet ribut gegara Pak Damar nggak ngasih iPhone pas ulang tahun," timpal Bu Ina sambil menyeruput teh manis dari gelas kaca yang ada noda bekas lipstik.
Suasana sore itu agak redup. Langit menggayut mendung tipis. Dari luar jendela, suara anak-anak main bola masih terdengar samar, dibalut sesekali teriakan tukang sayur keliling.
Joko hanya melirik sekilas. Tak tertarik. Tapi di balik wajah datarnya, ia mengamati. Ada sesuatu dalam cara orang-orang membicarakan orang lain yang seperti cermin kecil... tentang hidup yang terus berjalan, tapi selalu butuh bahan gosip agar terasa hangat.
Ia membuka ponselnya sebentar, mengecek WhatsApp grup guru yang isinya hampir selalu dua hal: undangan rapat dan broadcast jualan skincare. Tidak ada yang penting. Ia meletakkan lagi ponselnya dan memandang keluar jendela.
Di luar, pohon mangga di halaman sekolah diam saja. Seperti ikut mendengarkan.
"Pak Joko!"
Sebuah suara nyaring mengagetkannya. Bu Rika tiba-tiba sudah berdiri di samping mejanya. Wajahnya selalu terlihat terlalu semangat, seperti orang yang terlalu banyak konsumsi kopi susu, Tiktok, YouTube short dan Reels.
"Eh, Bu Rika. Ada apa?" Joko setengah berdiri, menghormati meski enggan.
"Pak, saya denger dari Bu Ina, katanya Bapak nyuruh murid-murid nulis esai soal arti sukses? Seriusan?"
"Iya. Emang kenapa?"
"Ya... anak kelas 5, Pak. Mereka aja ngerjain mengarang tentang cita-cita aja malah bingung... malah nanya cita-citanya sendiri aja apa ke temennya? bahkan nyontek ke temennya, masa disuruh mikir soal sukses?"
Joko tersenyum kecil. "Justru karena itu. Biar mereka belajar mikir. Meski nggak semua ngerti, pasti ada satu-dua yang merenung."
Bu Rika menghela napas, lalu duduk di kursi sebelah. "Pak, jujur aja ya. Saya kadang nggak ngerti kenapa Bapak repot-repot. Toh nanti juga nilai UN yang diliat. Ranking. Nilai Matematika. Bukan soal 'makna sukses'."
"Ya... saya ngerti. Tapi hidup bukan cuma soal ranking, Bu."
"Lha iya, tapi orang tua murid itu taunya nilai. Kalau anaknya dapet nilai jelek, yang disalahin siapa? Kita. Bukan sistem."
Joko tak menjawab. Di meja seberang, suara Bu Tati masih terdengar menggoda Bu Ina dengan info diskon bulanan di e-commerce. Seorang guru laki-laki baru, Pak Damar, melintas membawa dus berisi buku paket. Joko mengangguk kecil padanya.
Dalam hati, Joko sadar, idealisme itu mahal. Tapi baginya, itu satu-satunya alasan ia masih bertahan di dunia pendidikan. Tiap pagi melihat murid-muridnya... ada yang datang pakai sandal jepit bolong, ada yang ngantuk karena bantu orang tua jualan sampai malam... membuatnya yakin bahwa sekolah harus lebih dari sekadar tempat mengejar nilai.
Kadang ia membayangkan jadi guru ala film Dangerous Minds. Tapi ini Jakarta, bukan East Palo Alto. Murid-muridnya? Lebih hafal TikTok dance daripada konsep perubahan wujud benda: mencair, membeku, menguap, menyublim... atau apapun itu yang katanya "perubahan kimia". Entah mereka nanti jadi koki... fermentasi roti, apoteker... reaksi kimia, kontraktor... semen mengeras, atau hanya ojol... yang hafalnya bukan tabel periodik tapi jalur tercepat tanpa kena macet... ilmu IPA sederhana tetap kepake. Kalau bukan buat kerja, ya buat bantuin anak ngerjain PR, meski cuma ojol doang.
"Pak Joko, saya pamit duluan ya. Mau nyuapin anak di rumah," kata Bu Rika seraya berdiri.
"Silakan, Bu."
Tapi sebelum benar-benar melangkah, Bu Rika menjatuhkan pulpen miliknya ke lantai, tepat di dekat kaki Joko.
Refleks, mereka berdua jongkok bersamaan untuk memungutnya. Tangan Joko enggak sengaja menyentuh tangan Bu Rika. Joko lekas menghindar, menarik tangannya cepat-cepat seolah tersengat listrik.
Tapi Bu Rika malah menahan, menarik lembut jari-jarinya, seakan ingin memperlambat perpisahan.
Joko kembali menjauhkan tangannya. Tanpa kata, tanpa tatapan, hanya dengan gerakan pelan tapi tegas.
Ia tidak marah, tidak juga risih. Hanya... ia tahu batasnya. Bu Rika perempuan baik, cerdas, dan menyenangkan. Tapi Joko bukan lelaki yang mencari alasan untuk bermain hati. Ia tidak sedang lapar perhatian. Dan ia percaya: godaan itu bukan datang karena kesempatan, tapi karena kita membiarkannya tumbuh.
Ia berdiri, lalu menyodorkan pulpennya sambil berkata pendek, "Ini, Bu."
Mata Bu Rika mencari sesuatu di wajah Joko, mungkin harapan kecil. Tapi yang ia temukan hanya senyum tipis dan kepala yang sedikit menunduk, seperti ucapan "maaf" yang tak diucap.
Bu Rika pun mengambil pulpennya dengan tangan gemetar halus. "Makasih, Pak," ucapnya pelan, lalu melangkah pergi.
Setelah semua guru lain berangsur pergi, ruang guru perlahan lengang. Hanya tinggal Joko, kopi yang sudah dingin, dan suara kipas angin yang masih setia berdecit.
Ia membuka laci mejanya, mengeluarkan beberapa lembar esai yang ditulis murid-muridnya.
"Sukses itu kalau bisa beliin ibu motor."
"Sukses itu bisa punya rumah dua lantai."
"Sukses itu kalau Bapak bangga."
Matanya berhenti pada satu tulisan:
"Sukses itu kalau aku nggak takut jawab soal, dan guru nggak marah kalau aku salah."
Joko terdiam.
Lama.
Angin sore masuk dari jendela, membawa bau tanah dan sedikit aroma gorengan dari warung depan.
Ia tersenyum tipis.
Kadang, satu kalimat jujur dari seorang anak kecil cukup untuk mengisi ulang hati yang lelah.
---
"Jok, lu tuh kayak api unggun," kata Bu Rika suatu sore. "Terang, hangat, tapi bisa bikin gosong kalau kelamaan dideketin."
Joko cuma nyengir. "Ya, semoga enggak kebakaran aja."
Yang Joko enggak bilang adalah: kadang dia juga capek. Capek jadi guru yang "berbeda". Capek harus selalu kuat di depan murid, tegas di depan orang tua, dan idealis di tengah sistem yang absurd.
Tapi setiap kali melihat satu dua muridnya berubah... jadi lebih peka, lebih sopan, atau tiba-tiba bantu bersihin kelas tanpa disuruh... itu sudah cukup. Itu jadi semacam bahan bakar.
Karena integritas itu adalah tetap berbuat baik, meski enggak ada yang melihat.
Kadang, berbuat baik itu sederhana: minimal, singkirkan paku yang tergeletak di jalan sebelum ada yang terluka atau kecelakaan.
Joko bukan Superman. Tapi dia percaya satu hal:
Kadang, perubahan besar dimulai dari obrolan kecil. Dari warung kopi. Dari status Facebook. Dari sepotong kalimat nyentil di papan tulis.
Dan dari seorang guru yang, walaupun capek, tetap nyeruput kopi sambil mikir:
"Besok gue mau nyeletuk apa, ya, biar mereka mikir?"
Joko tidak tahu, bahwa sesuatu yang ia anggap iseng dan mendidik ini... suatu hari akan membunuh orang yang ia sayangi.
Dan hampir membunuh dirinya juga.
—
Bab: Nostalgia, Surga, dan Neraka
Pagi itu, Joko Wiryawan duduk di beranda rumah kontrakan kecilnya di daerah Kebon Jeruk. Rumah tipe petak 4x9 meter, berdempetan dengan tetangga, hanya dipisahkan tembok tipis yang kadang bikin suara TV sebelah lebih nyaring daripada suara hati sendiri. Dinding catnya mulai kusam, genteng ada yang bocor, dan saluran air belakang sering mampet pas musim hujan.
Tapi pagi ini cukup cerah. Langit abu-abu muda, seperti lembaran kertas yang lupa ditulisi. Joko duduk di kursi plastik warna hijau daun, kaki selonjoran, dan tangan menggenggam cangkir kopinya-bukan cangkir keramik mahal, cuma gelas bening tipis hadiah dari minyak goreng refill.
Di tangan kirinya kopi hitam pahit, dan di tangan kanannya HP jadul Samsung. Dari Facebook, dia scroll pelan-pelan. Status orang, kabar duka, jualan skincare, dan satu postingan lama tentang "Tanda-Tanda Kiamat Kecil" muncul di layar.
"Wah," gumam Joko pelan. "Makin banyak yang meninggal muda sekarang... Jangan-jangan, gue berikutnya?"
Dia menghela napas. Lalu muncul pertanyaan iseng, tapi dalem:
> "Kalau dari 44 teman sekelas SD dulu, yang masuk surga cuma satu orang... siapa ya?"
Mata Joko menerawang. Ingatannya melayang ke masa kecil di SDN 03 Pagi. Sekolah yang sekarang udah disatukan dengan sekolah siang karena kekurangan murid. Di sana dulu mereka main gobak sodor, main tutup botol, dan rebutan tempat duduk depan cuma karena kipas angin kelas itu rusak.
Dia nyengir sendiri.
> "Mungkin Dodi, yang dulu suka nyontek, tapi sekarang jadi ustaz TikTok? Atau Rina, yang dulu juara kelas, tapi katanya sekarang kerja di biro jodoh syariah online?"
Joko menyeruput kopi lagi. "Atau Dani... yang dulu suka kentut di kelas, tapi rajin nyapu musholla?"
> "Atau malah si Effendi, temen gue, yang waktu SD kayak enggak kelihatan. Tapi sekarang... diam-diam rajin infak anonim ke masjid setiap Jum'at."
Kepalanya tambah ngelantur.
> "Atau bisa jadi, yang dulu paling alim, sekarang justru ketangkep nipu jamaah umroh..."
> "Yang dulu suka bawa roti bolu buat guru, sekarang jadi preman parkir..."
> "Yang dulu kalem banget, sekarang jadi selebgram endorse judi online..."
Dia ngakak kecil, tapi dalam hati terasa sepi.
> "Ternyata, makin tua, pertanyaan hidup juga ikut tua.
Dulu pas SMA mikir: siapa yang bakal jadi menteri?
Sekarang mikir: siapa ya yang masuk surga?"
Joko menarik napas panjang. Udara pagi itu agak dingin, tapi bukan karena angin. Mungkin karena pikiran.
Istrinya, Ika, lewat sambil nyapu halaman. Rambutnya sekarang pendek, digelung seadanya. Dulu, waktu awal nikah, rambutnya panjang dan sering dicepol rapi.
Joko tersenyum pahit. Dalam hati dia ngomong, "Tapi gue ngerti satu hal: jangan nyari hidup yang sempurna. Jangan nyari kerjaan sempurna, istri sempurna, anak sempurna. Karena hidup itu bukan Instagram. Perfeksionis itu justru bikin enggak bahagia."
"Tau nggak, Ed," chat Joko ke WhatsAppnya Edi, sahabatnya, "Istri gue itu toxic. Manipulatif. Dramaqueen. Tapi... enggak matre."
Edi bales chatnya,"Oo" (Jawaban cepet).
Pak Joko nyengir.
> "Orang-orang mah pake deodorant Rexona, ini mah pake tawas. Makan pempek pake nasi. Martabak telor, pake nasi. Somay, pake nasi."
> "Segala lauk dipakein nasi, kayak hidup yang gak pernah cukup, kalau gak ditambah keluhan."
Joko kemudian ingat mimpinya dulu. Sebelum menikah. Dia dan Edi duduk di warung kopi deket lapangan SD. Ada perempuan rambut pendek, duduk di seberang mereka. Dalam mimpi itu, Edi bilang:
> "Dia kalo ngomong, nyakitin, Jok. Tapi dia enggak matre."
Dan entah kenapa, mimpi itu kepikiran lagi pagi ini. Karena sekarang, Ika-yang dulunya berambut panjang-sudah berambut pendek. Yang tidak pernah berubah, tak pernah sekalipun Ika bersifat materialistis. Joko menghela napas.
"Kenapa ya, perempuan kalau makin tua rambutnya makin pendek?" tanyanya pada kopi.
> "Di tengah lamunannya, Joko teringat kisah yang pernah ia dengar dari seorang ustaz..."
Joko juga tiba-tiba ingat kisah yang pernah ia baca atau dengar di majelis. Tentang seorang wali yang amat sangat miskin. Suatu hari, temannya datang ke rumah sang wali. Bertanya pada istri sang wali, "Mana suamimu?" Istrinya menjawab ketus, "Lagi nyari kayu bakar. Semoga dimakan macan." omongan istri sang wali emang senantiasa jelek.
Dan yang ajaib, si wali pulang-membawa kayu bakar yang justru dibawakan oleh macan. Binatang buas itu menurut.
Waktu berlalu, sang wali akhirnya bercerai dan menikah lagi dengan perempuan yang sopan.
Suatu hari, temannya datang lagi. Bertanya, "Mana suamimu?" Istri barunya menjawab lembut, "Sedang ke hutan mencari kayu. Mudah-mudahan pulang selamat."
Kali ini, sang wali pulang dengan memanggul kayu sendiri.
Temannya bertanya heran, "Kenapa sekarang nggak dibawain macan lagi?"
Dan sang wali menjawab tenang, "Karena semenjak istriku shalihah, keramatku malah hilang."
Suara Ika terdengar dari dalam rumah, "Jangan lupa buang sampah ya!"
"Iya," jawab Joko pelan. "Sampah masa lalu juga sekalian."
Ia menyeruput kopi lagi. Pahitnya udah nggak kagetin. Mirip hidup.
> "Usia 42 itu aneh," batinnya. "Kadang ngerasa udah alim, kadang ngerasa dosa gue udah kayak utang negara-nggak bisa kebayar."
Dia buka galeri HP, nemu foto anaknya waktu kecil-masih SD, masih suka manggil "Ayah" sambil peluk kaki. Sekarang udah remaja, kadang jawab cuma "Hmm" atau "Nggak, Yah."
Dulu Joko pengen jadi pilot. Sekarang cuma pengen satu: jadi bapak yang enggak nyusahin anak-anaknya kalau udah tua nanti. Harapan dia cuma... yang penting kalian jadi orang baik dan enggak masuk neraka. Syukur syukur anak-anaknya jadi astronot. Enggak jadi astronot juga enggak papa... hehe...
Dia kemudian buka Facebook, baca status teman SD-nya yang baru jadi PNS:
> "Yang bikin negara rusak itu bukan rakyat kecil. Tapi orang gede yang ngerasa dirinya kecil di mata hukum."
Joko senyum miris. "Dari kecil kita diajarin aturan. Tapi makin gede, makin banyak yang ngerasa aturan itu buat orang lain, bukan buat dirinya."
Lalu dia mulai mikir:
> "Hidup bukan soal jadi kaya atau terkenal. Tapi soal apa yang kita tinggalin setelah mati."
Ingatannya melayang ke masa kecil lagi:
- Waktu dia rebutan penghapus kayak rebutan warisan keluarga.
- Waktu guru marah cuma karena huruf sambungnya lebih mirip benang kusut.
- Waktu dia dilempar sendal sama Pak RT karena buang bungkus permen ke got.
> "Dari kecil udah diajarin buang sampah pada tempatnya.
Tapi sekarang, orang gede buang korupsi sembarangan."
Dia menulis status:
> "Surga bukan buat orang yang sempurna. Tapi buat orang yang sadar dia banyak salah dan tetap nyoba memperbaiki."
"Surga itu bukan buat yang hidupnya rapi dan sempurna. Tapi buat yang tahu dia berantakan, dan tetap nyoba beresin satu per satu."
Beberapa menit kemudian, komentar mulai masuk:
> "Aamiin."
"Dalem, Bang."
"Eh, lu kenapa? Sakit?"
"Kayaknya lagi galau, nih..."
Joko senyum tipis. Kadang orang baru peduli kalau kita udah ngomong sehalus mungkin. Itupun... belum tentu mereka benar-benar dengar.
Dia melirik langit. Mendung. Tapi nggak hujan.
> "Kalau hidup ini cuma buat nyari senyum orang...
Bisa jadi, kita lupa nyari senyum Tuhan."
Dia nyeruput kopi terakhir. Dingin. Tapi nggak masalah.
Toh, hidup juga nggak selalu harus hangat. Yang penting, enggak basi.
Hari itu, Joko gak jadi update status lagi. Tapi dalam hati, dia udah bikin catatan sendiri:
> "Gue belum tentu masuk surga.
Tapi gue pengen terus bergerak ke arahnya.
Dan minimal...
Gue gak diam."
> "Setelah buang sampah dan salaman singkat dengan istrinya, Joko berangkat ke sekolah naik motor Beat tuanya..."
Guru, Tatapan, dan Awal Sebuah Gerakan
Pagi itu langit agak mendung. Tapi hati Pak Joko Wiryawan, guru SD kelas 5 di SDN 07 kelurahan Semangka Indah provinsi DKI Jakarta Republik Gulali, justru cerah. Ia masuk kelas dengan baju batik biru, celana kombo Adi katun - polyester dan sepatu pantofel bekas yang udah direkatin lem Alteco di bagian sol.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play