Kesunyian yang hening saat pagi
Koridor kelas selalu terasa dingin, aura terasa dingin dan menyeramkan pagi itu.Terutama oleh Anxi entah kenapa tatapannya terlihat menyeramkan dan dalam.
Pukul 06.30 pagi, saat siswa lain masih berjuang melawan kantuk, Anxi sudah belajar tegak di meja nya sambil memakai earphone . Kemeja putih bersihnya dimasukkan rapi ke celana bahan hitam,dengan masih memakai jaket hoodie. Wajahnya yang kelewat tampan, dengan pahatan rahang tegas dan hidung mancung, hanya dihiasi sepasang kacamata baca berbingkai tipis.
Anxi hanya sedang membaca suatu. Ia sedang mencari ketenangan. Keramaian adalah polusi, dan anxi mendambakan efisiensi. Ia adalah mesin yang berjalan dengan logika, bukan emosi.
Sambil meneliti detail revisi proyek robotika yang baru diposting, Anxi sambil meminum susu murni tanpa gula dari gelas tumbler peraknya. Dingin, hambar, dan efisien—sama seperti dirinya.
"Serius, itu manusia terbuat dari marmer atau apa?" bisik seseorang di dekatnya.
Anxi terlihat biasa saja . Itu rutinitas pagi. Komentar, bisikan, dan tatapan penuh minat. Ia sudah kebal.
Tepat saat ia hendak berbalik, fokusnya terganggu. Ponselnya berdering—panggilan dari guru pembimbing—dan ia harus segera bergeser mencari tempat sunyi. Dengan langkah panjang dan tanpa menoleh ke kanan-kiri, Anxi berjalan lurus menuju tangga darurat.
Ia adalah es, dan es tidak pernah berhenti untuk siapa pun.
Di sisi lain kampus, suasana di kelas Aran Komunikasi berbanding terbalik. Penuh warna, suara tawa, dan gerak cepat. Di tengah pusaran itu, ada Aran
Aran tidak berjalan, ia meluncur. Rambut sebahu berwarna cokelat madu berayun-ayun seirama langkahnya yang cepat. Wajahnya yang expressive hari ini dihiasi keringat dan napas memburu, tapi senyum lebarnya tidak hilang. Ia mengenakan blouse motif cerah dan celana kulot, membawa aura matahari terbit.
"Aran! Tunggu!" teriak temannya, Tiara, dari belakang.
Aran hanya melambaikan tangan tanpa berhenti. Di tangannya, ia memeluk tumpukan kertas karton tebal—proposal acara 'Comm Festival'—yang tingginya melebihi dagunya.
"Gawat, aku telat rapat dengan osis! Kalau proposal ini enggak diserahkan, dana kita bisa di tarik, Ra!" Aran balas berteriak, suaranya dipenuhi panik yang ceria.
Ia harus menyeberang cepat ke gedung Rektorat di seberang lapangan utama. Satu-satunya jalan pintas adalah melalui koridor kelas Anxi yang terkenal sepi—dan dingin.
Aran mempercepat laju, matanya sibuk melihat di antara tumpukan kertas.Tanpa memperhatikan sekeliling Aran hari itu ceroboh total.
"Tinggal belok kanan—" gumamnya penuh konsentrasi.
Tepat pada tikungan koridor yang menghubungkan gedung kelas,Aran mengambil langkah besar.
BUGH!
Suara benturan keras menggema. Tumpukan proposal Aran terbang ke udara seperti hujan salju kertas.
Tapi bukan hanya kertas. Anxi, yang sedang mengangkat botol susunya ke telinga (mencoba mengalihkan fungsi telepon genggamnya), merasakan hantaman keras dan sensasi panas yang tiba-tiba melumuri dada dan kemejanya.
Anxi terkejut dan membeku. Panggilan telepon putus. susu panasnya tumpah habis, meninggalkan noda ke kuningan di kemeja putihnya yang baru dicuci, persis di bagian jantung.
Aran terhuyung mundur, proposal jatuh ke lantai. Ia melihat koridor sunyi itu kini dipenuhi kertas dan, yang lebih parah, Anxi—si Pangeran Es—berdiri tegak, basah kuyup oleh susu, dan menatapnya dengan tatapan paling mematikan yang pernah Aran lihat seumur hidupnya.
"Ya ampun! Maaf! Astaga! Maaf aku ga sengaja sama sekali!" Aran panik. Wajahnya yang ceria kini pucat pasi. Ia segera membungkuk, tangannya refleks mengambil kertas-kertas yang berserakan, lalu berhenti sejenak saat menyadari musibah yang lebih besar.
Ia menengadah. "susu… Baju dan Hoodie Anda… Saya benar-benar minta maaf. Saya enggak lihat! Saya… Saya bisa laundrykan—atau ganti kemejanya!"
Anxi menatap noda hitam di dadanya. Kemeja putihnya yang sempurna kini hancur. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, tidak ada makian, hanya kehampaan yang terasa seperti suhu di Kutub Utara.
Ia tidak menjawab, hanya menjatuhkan botol peraknya ke lantai (kosong, tentu saja), lalu perlahan, ia membungkuk, mengambil satu lembar kertas proposal yang mendarat tepat di sepatunya yang mengkilap.
Aran menahan napas. Ia takut. Lebih takut daripada saat ia dimarahi guru killer.
Anxi mengangkat kertas itu ke mata Aran.
"‘Hmm...comm Festival: Merayakan Kreativitas’?" Anxi membaca judul proposal itu dengan nada datar, suaranya dalam dan dingin, membuat bulu kuduk Aran berdiri.
Lalu, Anxi mendongak, tatapannya menusuk.
"hey," ucap Anxi pelan, nyaris berbisik. "Kau baru saja merayakan kreativitasmu di atas kemeja baru ku. Biaya kerusakan ini akan lebih mahal daripada seluruh festivalmu."
Aran menelan ludah. Ia tahu, hidupnya baru saja menjadi sangat, sangat rumit bagaimana Aran mencoba "memperbaiki" kesalahannya ini?
Download NovelToon APP on App Store and Google Play