English
NovelToon NovelToon

Our Secret Love

BAB 1 : Perasaan diawal

Di SMP Harapan Bangsa 2, ada seorang siswi bernama Alice Kenavi, seorang siswa kelas VIII. Dia terkenal pintar dan baik hati, banyak orang yang berteman dengannya karena banyak alasan. Disekolah itu juga ada siswa yang terkenal karena kegantengannya serta sifatnya yang cool ke semua siswi – siswi, yang membuat dia terkenal di seluruh kalangan siswi – siswi sekolah itu, dia adalah Steven Tristanta. Dia orang yang sibuk banget, satu hari saja jadwalnya sudah setengah kertas A4, ya namanya juga ketos, alias ketua osis. Sangking sibuknya Steven, kemana-mana dia diikuti wakil osis yang merupakan temannya sendiri, yakni Tristan Arshaka yang selalu mengingatkan jadwal rapat osis. Tapi gak selamanya juga dia sibuk, terkadang ada hari dia senggang walau kesibukannya masih ada tapi masih tingkat sedang.

Di suatu pagi, Ketika jam istirahat pertama, Alice buru-buru ke kantin karena kalau telat ke kantin, bisa-bisa dia harus berdesak-desakkan dengan siswa-siswi lainnya yang berebutan ingin membeli jajan juga. Sangking buru-burunya langkah Alice, tanpa sengaja ia menyenggol Steven yang kebetulan lewat yang tentu saja diikuti oleh Tristan. Alice cepat-cepat minta maaf, lalu melanjutkan langkahnya. Steven hanya melihat sekilas lalu kembali lagi mendengarkan ocehan Tristan. Perjuangan Alice terbayar dengan sepiring lontong sayur.“ Alice, sini! “, panggilan tersebut membuat Alice menoleh ke asal suara, rupaya yang memanggilnya adalah Sasa Mariska, biasa dipanggil Sasa. Alice duduk disebelah Sasa yang tengah menyendokkan sepotong lontong berkuah kedalam mulutnya. “ capek banget tuh muka. Habis kelahi sama siapa lo?” tanya Sasa sambil tetap menyuapi satu persatu lontong di piringnya. “Yaelah, mana berani aku kelahi. Keburu kabur duluan aku.” Balas Alice yang tengah mengatur napasnya, karena selama berdesak-desakkan dengan siswa-siswi lain dikantin itu, ia harus mau menahan nafas karena bau udara siswa-siswi yang berdesakkan itu sangat memuakkan. “Dimakan cepat tuh lontong, keburu diemut lalat” ucap Sasa sambil meminum es teh cekeknya, karena lontongya sudah habis. Alice mengangguk saja.

Bel tanda masuk kelas berbunyi, Sasa mulai berdiri hendak beranjak pergi yang diikuti oleh Alice. Setelah sampai dikelas Alice pergi ketempat duduknya, menunggu bu Diah, guru bahasa mereka masuk. Disebelah Alice duduklah Reva Natashia Marshika, biasa dipanggil Reva, bestienya Alice. Reva sedang mengobrol dengan Georgina. Tiba-tiba mata Reva menangkap Steven yang lewat sambil menatap Reva jarak jauh. Steven itu siswa yang paling jarang ngomong, jadi setiap anggota osis sekolah itu pasti hafal kode Steven. Reva mengangguk mengerti kode Steven, dia langsung berdiri dari kursinya, namun bajunya ditahan Alice. “ Hayoo mau kemana? ” tanya Alice dengan nada jenakanya yang khas. “ Mau rapat osis lagi.” Jawab Reva sambil mengenakan jaket marun dengan logo sekolah mereka di sisi kiri atas, yang mana itu adalah seragam osis sekolah itu. “ Lho, bukannya kamu belum dipanggil Stella?” tanya Alice. “ itu bos kami sudah ngasih kode, berarti aku harus cepat-cepat ke ruang rapat osis” jawab Reva sambil buru-buru pergi. “ oh iya, bilang aku rapat ya sama bu Diah “ Kata Reva sebelum beranjak pergi dari posisinya. Alice mengangguk patuh, padahal hatinya menolak, karena Reva selalu meminta titip absen. Tapi Alice paham kalau Reva juga sibuk, karena dia itu bendahara osis, jadi dimana ada rapat maka Reva akan ada di sebelah kanan Steven. Ya, tempat paling bergengsi. Bukan karena jabatannya melainkan bisa dekat duduk sama Steven. Kalau Reva sih, dipilih sebagai bendahara karena dia kalau menghitung uang segepok saja tinggal diusap bagian yang paling tebal aja, dan hasilnya selalu benar. Reva gak pernah mengajukan diri, tapi dipilih oleh anggota osis lain karena kemampuannya yang bisanya dimiliki oleh orang-orang yang kerja di bank saja. Reva gak terlalu peduli dengan posisi tempat duduknya itu, karena dia bukan fansnya Steven, dia sudah punya pacar.

Sementara Alice dikelas bu Diah, ia sedang menyalin isi papan tulis yang berisi materi hari itu. Alice terus melihat jam, berharap Reva segera kembali. Padahal setiap hari ia sudah sering bertemu Reva, karena rumah mereka tidak terlalu jauh. Alice menghela nafas, ia tahu Reva sibuk, karena ia harus bisa menyesuaikan diri dengan mengikuti kemauan Steven. Tapi walaupun begitu, acara apapun ituu hasilnya pasti bagus, jarang banget gagal atau bisa dibilang gak pernah sama sekali. Sasa menghampiri Alice yang sedang melamun mengarah jam, “ Hei Alice, ngapain liatin jam? “ tanya Sasa sambil menyenggol kecil Alice. “ Lagi nunggu Reva balik nih “ sahut Alice dengan nada bosan. “ tapi jangan kelamaan melamunnya, nanti kesurupan “ ucap Sasa sambil tersenyum, ia sedang mengganggu Alice. Ia tahu Alice paling takut sama sesuatu yang berbau mistis. “ eh, ok, aku berhenti melamun deh” balas Alice sambil menggeleng cepat. “ tuh, lagi pula bu Diah sudah menuliskan soal dipapan tulis, kerjain yuk “ kata Sasa sambil menunjuk kearah papan tulis yang sudah dipenuhi soal tentang materi mereka hari itu.

Setelah beberapa menit, mungkin 40 menit setelah percakapan antara Alice dan Sasa, Reva datang sambil berjalan terseok-seok, seperti orang yang habis dipalak di pasar. “ Reva, lu kenapa? Habis dibabat sama siapa lu? “ tanya Alice sambil menoleh kearah Reva yang menghamburkan diri dikursinya dengan kepala menghadap langit. “ mana ada aku dibabat. Aku Cuma capek aja, soalnya banyak yang harus diurus nanti...” Sahut Reva pelan, awalnya dia terlihat teguh, namun ketika pulang dari ruang rapat osis, tiba-tiba saja dia pulang seperti orang yang nyawanya sedang berada diluar tubuhnya. “ oh iya, itu materi hari ini, pahami sendiri yaa “ kata Alice dengan nada malasnya sambil mengalihkan pandangannya kearah lain. Reva menoleh kearah Alice dengan mulut terbuka lebar, seperti orang bodoh. Alice tertawa kecil melihat muka bodoh Reva yang terlihat lucu menurut Alice. “ hehehe... aku cuma bercanda kok. Sini aku ajari “ kata Alice sambil kembali melihat kearah Reva.Reva menghela nafas, sambil ngomel ke Alice. Selagi ia mengajari Reva yang hanya merespon setiap penjelasan yang disampaikan oleh Alice, Alice tak sengaja melihat Steven yang setia diikuti wakilnya itu, yang awalnya Alice yang tidak tertarik sama sekali dengan Steven, tiba-tiba saja ia merasa begitu terppukau dengan pesona Steven. Alice baru paham mengapa psiswi sekolah mereka sangat tertarik dan terpesona dengannya. Tapi kekagumannya terhadap Steven dipecah oleh Reva yang menampar lembut pipi Alice karena tiba-tiba saja penjelasan Alice terhenti. Alice langsung menggeleng cepat, dan melanjutkan penjelasannya walaupun pikirannya masih terbayang-bayang oleh pesona seorang Steven Tristanta. Didalam hati Alice, ia telah jatuh hati pada Steven, walau keraguannya bahwa Steven akan menyukainya kembali itu mungkin kecil peluangnya, jadi untuk sementara, perasaannya ini dia pendam dulu, karena keraguannya lebih kuat daripada perasaannya. “ mungkin lain kali saja aku confess nya, sampai aku benar-benar siap.” Pikir Alice. Dia berharap bahwa apa yang dia pikirkan betulan terjadi. Karena bila ituu terjadi maka, namanya akan melegenda, karena hampir tak ada satupun siswi – siswi disekolah itu yang benar – benar disukai oleh Steven. Riwayat dia pernah pacaran atau gak nya tak seorang pun tahu. Alice berharap bahwa dialah yang akan terpilih.

-------------------------------------oOo--------------------------------------

BAB 2 : menyukaimu tapi samar

Sejak saat itu, Alice mulai punya perasaan terhadap Steven. Harapannya untuk confess memberinya kemungkinan yang kecil, karena disekolah itu, tak hanya Alice saja yang memiliki paras cantik. Karena hal itu juga, Alice semakin tidak yakin dengan harapan hati kecilnya yang ingin mengutarakan perasaannya. Setelah pelajaran bu Diah selesai, masuklah bu Sisi, wali kelas VIII. Selama pelajaran beberapa kali otaknya terganggu oleh kegantengan seorang Steven, tapi Alice berusaha untuk fokus ke mata pelajaran yang tengah diajarkan guru mereka itu. Reva sendiri juga bingung melihat tindakan aneh bestienya itu, gak seperti biasanya Alice melamun disaat jam pelajaran.

Tibalah jam pelajaran Kimia yang akan dibawa oleh bu Diana, yang rupanya hari itu beliau sedang sakit. Padahal guru ajaib mereka yang terkenal jarang banget sakit, tapi seluruh sekolah tahu, guru mereka yang sudah S1 teknik kimia dan S2 kesehatan, yang mana pasti beliau sedang meracik obat-obatannya tersendiri. Alice sendiri sedang melamun lagi melihat kearah jendela yang agak jauh darinya, ia sedang merenungi kemauannya untuk confess. Tiba-tiba datanglah Steven ke kelas Alice. Ia hanya berdiri dipintu sambil memegang kertas. Sasa yang merupakan sekretaris kelas, langsung berdiri untuk menghampiri Steven. Tanpa banyak bicara, Steven langsung memberikan 4 lembar kertas itu. “ kata bu Diana, harus dikumpul hari ini juga tugasnya. Yang tidak mengerjakan tugas, catat namanya, lalu kasih ke aku.” Ucap Steven sambil berlalu dari situ. Alice termenung melihat kejadian Steven datang ke kelas mereka, tapi ia tidak terlalu lama termenung ditempat, karena Sasa sudah mulai menuliskan simbol-simbol kimia dipapan tulis mereka. Anak-anak lain mulai berteriak, walau tak terlalu keras. Mereka berteriak kecil-kecilan itu karena simbol-simbol kimia, singkatan zat ditabel periodik yang mulai ditulis oleh Sasa, mereka terlihat seperti orang yang sedang di ruqyah dan kesurupan. Meski tangan Alice sedang menyalin soal yang tengah ditulis oleh Sasa, namun pikiran Alice tidak sejalan dengan tangannya, otaknya tengah memikirkan Steven. Reva saja melongo seperti orang bodoh, melihat betapa sulitnya soal yang diberikan guru mereka itu, berbeda dengan Alice, ia dengan entengnya menulis jawaban dari soal-soal rumit yang diberikan oleh bu Diana.

Setelah pelajaran kimia itu selesai, waktu istirahat untuk para siswa dan siswi tiba. Reva langsung menutup bukunya dan menghela nafas berat, ia langsung berdiri untuk mengantar tugasnya ke meja guru. “ Reva, makan yuk. Keburu lu pingsan “ ajak Alice kepada Reva yang tengah memijat kepalanya sendiri. “ ok, yuk makan.. mau makan dimana? “ tanya Reva pelan, karena energinya untuk menghadapi hari itu sudah habis untuk menghadapi rapat yang tadi diselenggarakan untuk para osis. “ pondok dekat lapangan aja yuk “ jawab Alice sambil membawa tempat bekalnya beserta tempat bekal Reva, dengan niat ingin membantu temannya yang lemah itu. Alice dengan semangat berjalan ke arah pondok yang berada didekat lapangan bola. Alice memilih tempat itu karena disana mereka bisa mendapat tontonan gratis yakni pertandingan bola antar kelas yang dibuat-buat hanya untuk kesenangan saja. “ kamu bekal apa Reva? “ tanya Alice sambil mengeluarkan tempat bekalnya. “ hmm... kalau dari baunya, kayaknya ini sup ayam buatan nenekku. “ jawab Reva dengan semangat. Karena menurut Reva, masakan neneknya adalah masakan yang paling enak di dunia, mungkin kalah dari chef – chef yang ada dimuka bumi ini, padahal dirinya saja belum pernah memakan satupun masakan dari chef – chef terkemuka. “ kalau kamu Alice? “ tanya Reva. “ yaa, seperti biasa, telu dadar campur mie “ jawab Alice sambil membuka tempat bekalnya sendiri. Selagi mereka makan sesekali mereka melihat pertandingan bola yang berlangsung. Tiba-tiba otak Reva terpikir sesuatu yang ingin ia tanyakan kepada Alice dari tadi, hanya saja ia selalu lupa apa yang hendak ia tanyakan. “ Alice, lu kenapa dari tadi melamun mulu dikelas? “ tanya Reva sambil menyesap kuah sup ayamnya. Alice langsung tersedak mendengar pertanyaan bestienya itu, ia tidak menyangka bahwa selama ia melamun dikelas, ia diperhatikan oleh Reva. “ mm... kamu janji gak akan bilang siapa-siapa? “ bisik Alice kepada Reva. “ iya janji. Rahasiamu yang tentang kamu pernah gak sengaja ngebuka pintu kamar mandi yang ada orang lagi be- “ ucapan Reva tertahan oleh tangan Alice yang cepat - cepat menutup mulutnya. Alice memberi kode untuk tidak melanjutkan ucapan yang tadi, Reva menangguk, maka perlahan-lahan tangan Alice lepas dari mulut Reva. “ jadi apasih rahasianya? “ tanya Reva. “ kayaknya.... aku suka Steven deh.... “ bisik Alice. Nah, sekarang malah giliran Reva yang tersedak mendengar pengakuan temannya itu. Karena sepanjang Reva mengenal Alice, Alice hampir tidak pernah menyukai siapapun.

Hening....

Alice langsung memasang muka malu-malu meongnya. Reva ikut terdiam mendengar pengakuan temannya itu. “ kamu udah mikirin cara PDKT nya belum? “ tanya Reva setelah terdiam sekian lama. Alice menggeleng pelan dengan pipi yang memerah. “ kalau untuk PDKT... aku gak terlalu yakin... “ bisik Alice pelan. Reva makin tambah bingung dengan tingkah bestienya itu. “ lho, apa yang buat kamu ragu? “ tanya Reva lagi, mencoba menncari solusi untuk bestienya yang pemalu itu. awalnya Alice ragu untuk mengutarakan isi hatinya, tapi dia percaya bahwa Reva pasti akan membantu dan tidak akan membeberkan rahasia ini pada siapapun itu. Setelah sekian menit berpikir, akhirnya Alice menjawab “ disekolah ini, pasti ada yang lebih cantik, menarik dan semacamnya, aku gak mungkin bisa PDKT sama dia... “ jawab Alice pelan, sambil menyuap sesendok nasi dengan telur dadar campur mie nya itu. Reva berpikir sejenak, mencoba mencerna pengakuan Alice. Selagi Reva berpikir sendok demi sendok sup ayam dilahap Reva, walau otaknya sibuk memikirkan masalah Alice. “ jadi, simplenya kamu malu atau ragu gitu? “ tanya Reva setelah terdiam cukup lama. Alice mengangguk pelan dengan sendok berisi makanannya terus ia lahap. “ mau coba confess? Nanti aku bantu “ tawar Reva kepada Alice yang tengah mengunyah makanannya. Alice terdiam mendengar tawaran Reva yang mungkin bisa membantunya. “ tapi, gimana cara kamu membantuku? “ Tanya Alice yang ragu dengan tawaran yang diajukan Reva padanya. “ kamu mau aku bantu sampaikan atau aku bantu mengubah dirimu sendiri biar pede? “ Tanya Reva balik ke Alice. Itu merupakan pilihan yang sulit untuk dipilih oleh Alice. “ kalau aku pilih opsi kamu yang bilang aku suka sama dia, kamu bakalan ngomong apa didepannya? “ tanya Alice yang terus-terusan meminta kepastian tentang ‘ jasa ‘ Reva. “aku tinggal bilang kalau kamu mau ngomong sama dia. “ jawab Reva sambil mengedikkan bahu lalu menutup tempat bekalnya karena makanannya telah habis ia lahap semua. “mm... akan kupikirkan tawaranmu..” jawab Alice singkat sambil ikut menutup tempat bekalnya yang tidak menninggalkan satu butir nasi.

Jam sekolah habis, maka sekarang waktunya untuk semua siswa siswi kembali kerumah masing-masing. Reva pulang paling cepat karena les nya sana sini. Ia biasanya dijemput oleh sopir pribadi ayahnya, sedangkan Alice sedang duduk didekat pedagang siomay yang sedang membuatkan pesananya. Sembari menunggu, seperti anak pintar lainnya, ia membuka buku paket kimianya dan membaca bab yang tadi masuk disoal yang dituliskan oleh Sasa.ia mencermati satu persatu paragraf dibuku itu, terkadang ia menandai bagian pentingnya. “ Neng “ panggil sebuah suara yang membuat Alice mendongak untuk mencari sumber suara. “ Neng, ini siomay nya udah jadi “ ucap si pedagang sambil menyodorkan seplastik siomay lengkap dengan tusukannya. Alice menerima siomay itu dan berkata “ makasih ya bang “ yang disambut dengan anggukan dari si pedagang. Alice kembali fokus ke buku paket kimianya, sesekali ia memakan satu siomay nya. Suara kendaraan yang lewat, obrolan siswa dan siswi lain tidak mengganggu sesi belajar Alice. Beberapa siswa dan siswi duduk disampingnya, hanya untuk menunggu pesanan mereka dibuatkan oleh pedagang siomay atau sekadar menunggu jemputan mereka tiba. Semakin waktu berjalan, sekolah itu semakin sepi, karena sebagian siswa dan siswi telah pulang kerumahnya masing-masing, hanya beberapa siswa dan siswi yang tersisa disekolah itu. Alice masih duduk ditempat yang sama dengan buku yang sama, sesekali ia menatap langit biru yang bercampur dengan oranye sore hari, lalu kembali fokus ke bukunya. Setelah bab yang ia baca selesai, ia memasukkan buku paket kimianya itu ke tasnya lalu berdiri, mencari tukang becak langganannya. Ia berdiri ditepi trotoar melihat ke kiri dan ke kanan, mencari keberadaan sang tukang becak. Alice menundukkan kepala dan bercermin ke genangan air yang berada sangat dekat dengan kakinya, ia memperhatikan wajahnya sendiri dan teringat akan tawaran yang diajukan Reva untuknya. Namun untuk sementara ia tak ingin memikirkan itu. ia keembali melihat kesekelilingnya, melihat siswa yang tersisa mulai pulang. “ belum pulang? “ tanya sebuah suara yang mengejutkan Alice disela pencarian keberadaan si tukang becak. Alice menoleh kebelakang dan setengah terkejut, karena yang bertanya adalah Steven,“ b-belum” jawab Alice gagap. Steven mengangguk lalu pergi ke parkiran motor untuk mencari motornya lalu pulang. Alice menghela nafas penuh syukur, karena ia tak perlu basa basi dengan Steven.

Alice masih mencari keberadaan tukang becak. Ia menebak pasti si tukang becak lagi banyak yang pakai jasa becak nya, makanya ia lama mendatangi lokasi Alice. Karena ia bosan, ia mulai menggeser bebatuan kecil dekat kakinya. Suara motor mulai terdengar dari arah parkiran motor, Alice menebak bahwa itu suara motor Steven. Ya memang kenyataannya itu betulan motor Steven. Ketika suara motornya semakin dekat, Alice cepat-cepat menundukkan kepala dan berpura-pura menggeser bebatuan kecil dekat kakinya. Motor Steven melaju di jalanan dan melewati Alice yang tengah menyembunyikan wajahnya. Setelah Steven pergi, orang yang ditunggu Alice tiba, yakni si tukang becak. “ maaf lama ya neng, tadi macet dekat sana. “ sapa si tukang becak ke Alice. “ maklum lah, ini kan jam pulang kerja. “ sahut Alice sembari duduk di becak itu. setelah Alice duduk, si tukang becak bertanya “ langsung ke rumah nih neng? “ dan dijawab ramah oleh Alice “ iya bang “. Sepanjang perjalanan ia terus bercerita dengan si tukang becak selayaknya teman. Nama si tukang becak ini adalah Kang Supri. Ia selalu menjemput Alice ketika jam pulang sekolah, sangking seringnya Kang Supri mengantar pulang Alice, ia sampai hafal jalan pulang ke rumah Alice.

“ Neng, udah sampai nih “ ucap Kang Supri ketika becaknya sudah berada didepan rumah Alice. Alice segera beranjak dari tempat duduknya lalu mengucapkan terimakasih sembari memberikan uang sebesar Rp 12.000,00 kepada Kang Supri. Rumah Alice adalah rumah yang sangat sederhana tapi sangat enak dilihat. Di halaman rumahnya ada bunga-bunga yang ditanam Alice dengan ibunya. Sebagai ganti pagar, mereka menggunakan tanaman bunga yang cukup tinggi, sekitar sedada orang dewasa yang dipangkas rapi oleh ibunya. Jalan menuju pintu utama dihiasi batu – batu abu-abu yang tersusunn rapi. Alice berjalan menuju pintu utama, ketika membuka pintunya ia disambut oleh adiknya, Gina Sekar, yang masih kelas 2 SMP yang tengah menulis di meja dengan buku paket yang terbuka di depan buku catatannya. “ udah pulang? Tumben lama “ tanya Gina yang sempat melirik Alice lalu kembali fokus ke tugasnya. “ iya, Kang Supri tadi kejebak macet. “ jawab Alice yang tengah melepas sepatu dan kaus kakinya. Tiba-tiba Alice mendengar teriakkan ibunya, “ Alice! Cepetan mandi, setelah itu makan! “ teriak ibu Alice. “ iya bu “ jawab Alice. Ia masuk ke kamarnya untuk meletakkan tasnya dan meraih handuk yang terletak dibelakang pintu. Alice berjalan ke kamar mandi dengan langkah lelah yang disembunyikan. “ masak apa bu? “ tanyua Alice sebelum memasuki kamar mandi. “ Sardin “ jawab ibunya singkat. Alice mengangguk lalu masuk ke kamar mandi, dan mulai mendi. Selesai mandi, Alice pergi ke kamarnya untuk mengenakan pakaian yang ada didalam lemari. Ia mengambil kaus oblong hitam bergambar beruang coklat dan celana pendek yang pendeknya sekitar se lututnya. Alice menghampiri Gina yang masih duduk di ruang tamu. “ Ngerjain apa? “ tanya Alice sambil duduk disebelah adiknya itu. “ PR fisika “ jawab Gina yang tengah menulis jawaban di buku catatannya. “ kamu paham? Tumben bisa ngerjain sendiri “ sindir Alice sambil menyenggol kecil Gina. “ boro-boro paham. Aku mah pahamnya dikit aja “ jawab Gina sambil mengacak-acak rambutnya sendiri.

Alice tertawa melihat tingkah Gina. “ ada yang mau aku bantu gak? Keburu aku berdiri. “ tanya Alice. “ ada “ jawab Gina sambil menoleh ke arah Alice dengan mata berbinar.

“ bagian mana yang bingung? " “ semuanya " " lho, emangnya kamu gak merhatiin penjelasan guru mu? " “ udah aku perhatiin, udah aku cermati tapi gak paham paham “

“ yaudah sini ku jelasin "

Alice dengan sabar menjelaskan materi yang tengah dipelajari Gina. Ketika waktunya makan, mereka makan bersama di meja makan, ada Alice, Gina dan ibunya. Ayah mereka tiada karena kecelakaan. Sebelum tidur, Alice menyempatkan diri untuk mengulang pelajaran hari itu. setelah 45 menit belajar, ia merapikan meja belajar, menyiapkan buku, mematikan lampu, meyalakan kipas angin dengan pewangi berbau teh menggantung. Alice membantingkan dirinya ke kasurnya itu, ia mengubah posisi agar bisa tidur dengan posisi yang nyaman. Namun bukannya ia tidur, pikirannya malah terusik oleh tawaran Reva, apakah dia harus memilih Reva yang menyampaikan atau dirinya yang harus berubah? Alice mengacak-acak rambutnya, berusaha melupakan hal itu. Ia akhirnya bisa tidur dengan nyenyak, walau kerisauannya masih ada di dalam hatinya.

-------------------------------------oOo--------------------------------------

eps /3 chelsea

BAB 3

Chealsea

Alarm ponsel Alice mulai menyanyikan lagu yang telah dipasang olehnya. Alice tersadar dari mimpi indahnya, yang membuat pipinya sendiri terasa panas yang bahkan membuat Alice bingung sendiri. Ia mencoba mengingat apa mimpi yang tadi ia alami?. Alice menggaruk kepalanya sendiri saking bingungnya ia dengan apa yang sedang terjadi dengannya. Alice memilih untuk tidak memikirkan hal itu, ia memilih untuk mandi dan mulai bersiap untuk sekolah. Alice menyambar handuk yang terletak dibelakang pintu dan mulai berjalan menuju kamar mandi. “ Alice! Sudah bangun belum? “ tanya ibunya yang sedang memasak sarapan untuk hari itu. “ udah bu “ sahut Alice dengan nada serak habis bangun tidur. “ sekalian bangunkan Gina ya! “ ucap ibunya sambil mengoseng nasi goreng di kuali legend. Ya, kuali legend, namanya begituu karena itu adalah warisan yang berumur lebih tua dari Alice, dan anehnya kuali itu tidak tergerus oleh waktu. Alice mengangguk lalu berjalan ke kamar Gina, ketika dibuka, seperti yang Alice duga, Gina masih tidur dengan posisi yang tidak valid. Alice mengguncang badan adiknya, tapi malah ditepis oleh Gina, Alice menggunakan cara yang pernah diajarkan ibunya bila Gina sulit dibangunkan yakni, tarik guling yang ia peluk lepas dari pelukannya. Alice menjalankan rencana itu, awalnya Gina biasa saja, tapi makin lama, ia merasa rese sendiri dan bangun secara mandiri. “ kok guling ku kau ambil? “ tanya Gina sembari duduk dan mengucek matanya yang menemukan kakaknya sendiri tengah memegang guling sarung keroppi itu. “ udah jam 5 dini hari, Gina Sekar “ ujar Alice. Bukannya Gina berdiri dan mengambil handuk, ia malah melanjutkan tidurnya dalam posisi duduk. Alice yang merasa geram dengan tingkah adiknya, ia cepat-cepat mengambil handuk Gina lalu menyeret adiknya itu ke kamar mandi. Sontak, Gina terkejut karena tiba-tiba ada sesuatu yang kasar yang menggores punggungnya. Alice membawa Gina melintasi dapur, ibunya yang menyaksikan tingkah putrinya tertawa keras melihat Alice yang menyeret Gina. “ Sono, mandi duluan “ kata Alice sambil menunjuk kamar mandi lalu melemparkan handuk Gina kemuka adiknya yang masih terkapar dilantai. “ iyaa. Santai lah kak “ kata Gina sambil menyingkirkan handuk itu dari wajahnya. Alice melepaskan kaki Gina yang masih dipinggangnya, ia membiarkan adiknya mandi terlebih dahulu.

Setelah 10 menit, Gina berjalan keluar dengan sekujur tubuh basah. Sekarang, giliran Alice yang mandi, ia hanya membutuhkan waktu sekitar 5 menit saja untuk mandi. Setelah mandi ia berjalan menuju kamarnya untuk mengenakan pakaian sekolah. Ketika sudah selesai, ia berjalan ke ruang makan untuk sarapan. Nasi goreng buatan ibunya telah disajikan dimeja. Gina yang baru datang bergegas duduk, ia ingin cepat-cepat menyantap nasi goreng spesial ibunya itu. Ibunya menyendokkan nasi gorengnya ke anak-anak nya. Gina cepat-cepat melahap makanan itu, sama dengan Alice. Selesai menyantap sarapan super lezat itu, Alice melirik jam dinding yang menunjukkan pukul

5 : 45 di dini hari. Alice berjalan ke ruang utama dan mengangkut tas sekolah nya dan mulai mengenakan kaus kaki beserta sepatu, yang disusul oleh Gina. Selesai mengenekan sepatu, ia mencium tangan ibunya sebelum berangkat. Seperti biasa, Kang Supri sudah menunggu didepan rumahnya, sedangkan Gina biasa naik bis, karena jarak rumah ke sekolahnya lebih jauh lagi daripada Alice. Kang Supri mulai mengayuh becaknya menuju sekolah Alice. Beberapa menit kemudian, Alice sampai didepan gerbang pintu sekolahnya. Ia beranjak berdiri dan memberikan uang ke Kang Supri. Sudah ada beberapa murid di sekolah, dan beberapa lagi baru sampai setelah diantar. Alice menghirup udara sekolah mereka yang asri. “ Pagi Alice! “ sapa Reva yang langsung merangkul Alice dengan kasar, yang hampir membuat Alice jatuh ke samping, tapi gak jadi karena tubuh Alice gak sengaja menyenggol orang disebelahnya, ya, dialah Chealsea Marissa Lalika, biasa dipanggil Chealsea. “ iih, hati-hati kalau jalan! Gara-gara kalian rambutku berantakan! “ oceh Chealsea ke Alice dan Reva. Alice segera minta maaf, berbeda dengan Reva, ia malah mengejek dengan membuat gestur tangan berbentuk huruf ‘ L ‘ disamping kepala sambil menjulurkan lidah. Chealsea tentu saja marah, mengetahui Reva yang tengah usil ke Chealsea, ia memperlambat langkahnya dan membiarkan Reva langsung berhadapan dengan Chealsea tanpa penghalang. Reva melanjutkan ajang adu mulutnya dengan Chealsea. Chealse adalah siswi paling centil disekolah itu. memang parasnya cantik, tapi hanya ketika menggunakan riasan wajah yang bukan main tebal. Selain itu Chealsea memiliki rambut panjang oranye agak tua yang amat lurus,bando merah muda berhiaskan pita-pita kecil berwartna merah muda yang sedikit lebih tua, ia juga memakai anting hati dan kalung remas. Ya, penampilannya sangat keperempuanan sekali, malah menurut pendapat pribadi Alice dan Reva, Chealsea terlihat seperti anak kecil yang belum dewasa dan mengerti dunia sepenuhnya dan masih membutuhkan bimbingan orangtuanya yang sangat memanjakannya. Chealsea juga terkenal karena bisa terus-terusan bisa nempel dengan Steven, dan anehnya Steven tidak marah sedikit pun, hanya saja ia sedikit berkomunikasi dengan Chealsea. Karena hal itu juga, Alice yakin bahwa Steven menyukai Chealsea.

Alice sudah sampai didepan pintu kelasnya, diikuti oleh Reva yang bermuka masam. “ gimana ajang adu mulutnya? Siapa yang menang? “ tanya Alice dengan nada jahil. Reva mengacak-acak rambutnya, saking marahnya ia. “ ya aku lah. Tapi sumpah tu anak, pengen aku botakkin tu kepala! “ ketus Reva sambil tetap mengacak rambutnya. Alice memerengkan kepala, memberikan kode bahwa ia tidak mengerti. Reva menghela nafas kasar dan menarik nafas panjang, bersiapkan menceritakan lrbih lanjut, “ masa dia bilang aku itu penampilannya jelek? Padahal aku ini cantik! Aku bentak dong, enak banget dia bilang penampilan aku jelek. Setelah itu aku tanya ‘ atas dasar apa kau bilang aku jelek? ‘ terus dia jawab ‘ kalau penampilan elu kayak aku, aku bisa akui kalo kamu cantik ‘ aku? Berpenampilan sepertinya? Cih! Mendengarnya pun aku tak sudi! “ kata Reva panjang lebar, lalu ia kembali menghembuskan nafas kasar. “ aneh-aneh aja Chealsea. Masa perempuan elite kayak kamu disuruh berpenampilan seperti anak kecil? “ balas Alice, yang merasa kalau Reva ada benarnya. Reva diam sejenak, mencoba memadamkan api kemarahan dalam hatinya. Setelah ia merasa dia mulai tenang, ia teringat tawaran yangpernah ia ajukan ke Alice. “ eh Alice, gimana? Kamu sudah memikirkan tawaranku kemarin? “ tanya Reva sambil menoleh ke arah Alice. Alice terkejut mendengarnya, karena ia terus-terusab menghindar dari hal itu. Alice berpikir sejenak, memikirkan mana opsi yang paling baik untuk diambil. Reva dengan sabar menunggu jawaban Alice. Akhirnya Alice menjawab “ Ah... iya ya.... “ ucap Alice pelan, sehingga Reva harus mencondongkan tubuhnya ke arah Alice agar dapat mendengar perkataan temannya itu. Alice melanjutkan ucapannya “ A-aku... belum memikirkannya....“ ucap Alice pelan, agar tak ada yang bisa mendengar peercakapan mereka selain mereka berdua. Reva menangguk mendengar saran Alice. “ ugh... fine, tapi cepetan buat keputusan, keburu disambar orang“ ucap Reva sambil tersenyum jahil. Alice menepuk bahu Reva, yang dibalas oleh tawa Reva yang diikuti oleh Alice.

Jam masuk kelas telah berbunyi, pertanda semua siswa harus segera masuk ke kelas mereka masing-masing. Alice dan Reva segerea masuk dan menantikan guru killer mereka masuk. Semua siswa dan siswi dikelas itu tengah menyiapkan mental mereka menghadapi sang ratu, bu Lilis, guru matematika sekolah itu. guru ini terkenal akan ocehannya yang menusuk dan ngejudge anak muridnya sendiri, jadi semua siswa dan siswi harus tahan banting dan ocehan pedas guru ini. Sempat ada siswa atau siswi menangis karena merasa dihakimi, guru itu akan berkata “ heh, kamu udahSMP, kok nangis? Kamu itu udah besar! Jangan cengeng! “. Setelah sesi persiapan mental selesai, terdengar suara langkah kaki yang sudah mereka hafal, beberapa anak yang sedang bercerita atau lainnya segera diam dan mengambil posisi rapi dan siaga. Bu Lilis memasuki kelas itu, beliau menyapukan pandangannya ke seluruh isi kelas dengan tajam. Setelah gguru itu duduk, ia mulai memperintahkan seluruh kelas untuk membuka buku paket mereka. Beliau mulai berdiri dan mengambil spidol untuk mulai menjelaskan materi hari itu. selama pelajaran Alice santai saja menghadapi materinya, hanya Alice harus memproses tiap kalimat yang disebutkan oleh bu Lilis, karena beliau punya cara berbicara yang sangat cepat, makanya selain panggilan bu Lilis, dan guru killer, ia juga dianugerahi gelar guru Rapper, karena ia berbicara selayaknya seseorang sedang nge-rapp. Reva memijat kepalanya dengan mata yang tetap tertuju kearah papan tulis, inilah definisi tampang serius, otak tergerus. Tapi beruntungnya Reva, Stella datang ke kelas itu untuk memanggil Reva rapat osis. Reva sangat bersyukur atas bantuan Stella yang membantunya keluar dari neraka kelas yang menyiksa kehidupan serta otaknya. Reva meminta izin untuk pergi meninggalkan kelas.

Setelah kelas bu Lilis selesai, lebih tepatnya 15 menit setelah bu Lilis angkat kaki dari kelas mereka, Reva datang dengan senyum penuh syukurnya. Reva berjalan mendekati Alice dan duduk disebelahnya. “ Alice.. “ pannggil Reva dengan nada memohon dan manjanya yanng dicampur jadi satu. “ ngapa Reva? “ tanya Alice sambil menoleh kearah Reva. “ jadi gini... kan mungkin 3 minggu lagi kita bakalan ada acara bazar dan promnight nih... jadi Steven minta seluruh anggota osis untuk ngebawa beberapa barang tertentu.... aku disuruh ngebbawa gas melon 2 kilo 16 buah untuk koki privatnya Joseline masak buat makanan promnight nanti.... jadi... temenin aku beli ya? Plis plis dong.. “ mohon Reva sambil menggenggam tangan Alice. “ iyaa, apapun untuk bestieku, aku ikut “ jawab Alice mantap. Reva langsung bersoorak sambil melompat-lompat saking girangnya ia. Selama jam pelajaran, seperti biasa semuanya tetap berjalan seperti biasa hingga bel untuk pulang sekolah berbunyi. Alice merapikan buku-bukunya dan memasukkannya ke dalam tas dan mulai beranjak pergi sambil menggendong tasnya yang dibarengi oleh Reva. Ketika mereka berduua sudah ada didepan gerbanng , Alice sudah dijemput oleh Kang Supri. Alice menghampiri Kang Supri, Kang supri menyapa Alice dengan ramah “ Nnenng, pulang atuh? “ tanya Kangg Supri sambil menoleh kearah Alice. “ anu... Kang, hari ini Alice ada janjian sama teman, jadi sementara gak pulang sama akang dulu.. gak appa-apa kan kang? “ tanya Alice sopann. “ oh gak apa-apa neng. Berarti akang pergi dulu ya. “ ucap Kang Suprii seraya mengayuh becaknya setelah berucap demikian. Alice mengangguk kearah Reva, mencoba memberi kode bahwa ia siap untuk pergi. Reva langsung berjalan kearah mobilnya sambil menarik tangan Alice untuk ikut naik kedalam mobilnya. “ om, hari ini kita ke Warung Berkahin dulu ya. “ ucap Reva ke supirnya. “ Non mau ngapain disana? “ tanya supir Reva yang ingin memastikan apa yang hendak dilakukan oleh si ‘nona muda’ nya itu. “ mau belanja om ‘” jawabb Reva singkat. Tanpa banyak tanya lagi, supir Reva segera membawa mobilnya menuju Warung Berkahin. Sesampainya ditujuan, Reva turun pertama yang diikuti oleh Alice. “ mbok, ada gas melon 2 kilo gak? “ tanya Reva ke bu Mayamunnah, si pemilik warung. “ ada “ jawab bu Mayamunnah singkat. “ ada berapa tabung gas nya? “ tanya Reva. “ yang ada isi atau gak? “ tanya bu Mayamunnah balik bertanya ke Reva. “ ya yang ada isi dong “ jawab Reva cengengesan. Bu Mayamunnah memanggil karyawannya untuk menghitung stok gas melon yang ada diwarung itu. “ 84 tabung bu “ lapor si karyawan. Bu Mayamunnah menoleh kearah Reva. “ saya beli 16 buah “ jawabb Reva sambil menngeluarkan black cardnya. Alice tidak terlalu terkejut, sudah selayaknya seorang anak orang kaya seperti Reva sudah mendapat black ccard. 4 karyawann bu Mayamunnah mulai mengangkunt gas melonnya itu ke bagian belakang mobil Reva yang sudah dibuka lebar oleh supirnya.

“ berapa totalnya? “ tanya Reva setelah seluruh tabung gas masuk ke dalam mobil. Bu Mayamunnah menngghitung seluruh belanjaan Reva menggunakan kalkulator. “ Rp 1.200.000 rupiah nak. “ jawab bu Mayamunnah sembari menunjukkan kalkulatornya kearah Reva. “ bisa pake bank LKI bu? “ tanya Reva yang disambut anggukan dari bu Mayamunnah yang mengambil mesin gesek kartu berlabel ‘ LKI ‘ di atasnya. Reva langsung menggesek black cardnya dimesin itu dan memasukkan pinnya, lalu ketika pembayaran selesai, ia menunjukkan bahwa transaksinya telah selesai. Bu Mayamunnah mengangguk lalu mengucapkan terimakasih karena sudah berbelanja diwarungnya. Reva langsung mengajak Alice untuk naik ke mobilnya, dengan niat mengantarkan Alice pulang kerumahnya. “ tumben kamu minta temenin belanja, biasanya belanja sendiri “ sindir Alice sambil menyenggol kecil bestienya itu. “ hehehe.... iya sih.. tapi aku ada rencana yang kamu pasti suka “ sahut Reva sambil meletakkan jari telunjuknya didepan bibir sambil menyunggingkan senyum jahil. Tidak terima adanya rahasia yang disembunyikan oleh bestienya itu, Alice menuntut penjelasan Reva sambil mennyenggol kecil Reva. Reva tertawa setiap kali Alice memohon pada dirinya. Tak terasa, mobil Reva telah berhenti didepan rumah Alice. Alice segera turun dari mobil Reva dan mengucapkan terimakasih ke Reva karena telah mengantarkannnya kerumah. Gina yang sedang menyirami tanaman menganga melihat ada mobil mewah didepan rumah mereka, “ iihh ngapain kamu kayak gitu sih? Kayak gak pernah liat mobil aja! “ ledek Alice dengan nada jahilnya. Gina mendengarnya langsung ngambek dan mengejar Alice, sontak Alice berlari mengelilingi halaman depan rumah mereka dan lanjut berlari ke pintu belakang yang mengarah ke dapur tempat ibu mereka tengah memasak makan malam. Ibunya yang melihat tingkah kedua putrinya tersenyum sabar, mengetahui kedua-dua putrinya punya sifat iseng yang menurut ibunya turun almarhum ayah mereka. Ibunya langsung menyuruh kedua-dua purinya untuk segera mandi dan bersiap untuk makan malam. Keduanya cepat-cepat mandi. Bahkan ketika makan malam pun, Gina tetap marah ke Alice. Ibunya hanya bisa tertawa dan mendengar keisengan Alice. Padahal benak Alice tengah memikirkan hal lain, yakni yang tadi dikatakan oleh Reva.

--------------------------------------------------oOo------------------------------------------------------

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play