English
NovelToon NovelToon

Aleta

Aleta

Jam weker berdering kencang meneriakkan bunyi lantang untuk membangunkan seorang gadis yang sedang tergulung nyaman oelh selimutnya. Gadis itu bernama Aleta akrab dipanggil Al yang dijuluki 'Clown Smile' ia diberi julukan itu karena terkadang senyum Al memberikan sinyal ambigu. Saat ini ia sedang bergumul dengan selimutnya hingga akhirnya ia bergerak dari tempat tidurnya berusaha menguatkan tekad untuk bangkit dari kasurnya namun tidak bisa

'Ahhh malas banget pergi ke kantor sekarang... pergi ngak yah. Pergi ajalah nanti kena amuk kelar gua' ungkapnya dalam hatinya.

Pada akhirnya ia bergerak malas, bangun dari kasurnya sambil mematikan jam weker yang masih berdering itu. Al lalu berjalan menuju tirai di kamarnya, menyibak tirai itu lebar-lebar membiarkan sinar matahari menembus kaca jendelanya dan memberi kehangatan pagi pada tubuhnya yang pendek. Saat ini jam masih menunjuk pukul lima pagi, Aleta memutuskan untuk berolahraga di basement rumahnya. Gadis itu tinggal sendiri di rumah dua lantai miliknya yang lumayan jauh dari area perkotaan. Ia sudah tinggal sendiri sejak magang di tempat kerjanya, saat ini sudah tiga tahun sejak itu. Kini ia sudah duduk sebagai ketua divisi akuntansi di perusahaannya. Usai dengan olahraga, Aleta mandi dan berganti pakaian siap untuk bekerja ia menggendong tas ransel hitam di bahunya.

'Laptop sudah, handphone juga sudah… ehh… charger siap, kacamata ada, dompet juga sudah. Oke udah siap semua' batinnya.

Sambil memastikan seluruh bawaannya ia berjalan turun ke ruang makan di lantai satu. Hari ini Al malas untuk sarapan berat jadi ia hanya memanggang roti dengan selai cokelat dan segelas kopi. Selesai sarapan ia meraih kunci motornya. Tidak lupa membawa helm dan sarung tangan kemudian menggulung rambutnya dan memakai helmnya. Setelah semua persiapan selesai ia melajukan sepeda motornya. Butuh tiga puluh menit untuk sampai di kantornya ia memilih untuk tidak terburu-buru.

Al sampai di kantornya segera memarkir motornya dan memasuki gedung kantor besar itu. Biasanya, kantor masih sepi jam segini apalagi untuk gedung utama. Kantor Al terdiri dari tiga gedung, gedung pertama atau disebut gedung utama memiliki empat puluh lantai setiap lantai diisi oleh divisi yang berbeda-beda dan bisnis yang berbeda beda. Untuk gedung kedua disebut sayap kanan merupakan tempat untuk meeting, convension hall, dan pagelaran besar lainnya. Dan gedung ketiga disebut sayap kiri, adalah tempat istirahat terdapat beberapa kamar yang biasa dihuni oleh orang-orang yang lembur ada juga kafetaria dan tempat olahraga. Kembali ke Al, gadis itu membuka pintu gedung utama betapa terkejutnya dia ketika melihat bahkan lantai resepsionis dipenuhi banyak orang dari berbagai divisi lari kesana-kemari ada yang naik lift bahkan lari melalui tangga.

Al bingung apa yang sedang terjadi, ingin bertanya namun orang-orang sepertinya sedang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Asik kebingungan kepala Al di tepuk sangat kencang dari belakang Al yang terkejut siap memasang kuda-kuda dengan tangan dikepal lalu menghadap belakang. Belum sempat tangannya melayang ia menghentikan gerakannya karena yang menepuk kepalanya adalah seorang gadis dengan perawakan lebih pendek dari Al dan begitu manis. Gadis itu menatap tajam ke arah Al begitu siap untuk meledak ia adalah sekretaris Aleta.

"ALLLL......LOE DARI MANA AJA KAMPRET!?! DITELPON NGAK DIANGKAT DI KIRIM PESAN NGAK DIBALAS. DI SPAM JUGA NGAK DITANGGAPIN!!!" emosi gadis itu dengan mata berair yang siap untuk menangis. Al yang terkejut dengan statement gadis itu segera ia mengambil ponselnya benar saja ponselnya 'MATI' segera Al menyalakan ponselnya itu, mata Al membulat sempurna melihat ratusan panggilan tak terjawab dan ribuan pesan dari semua medsos yang ia miliki, ia menepuk jidatnya sambil menyebut dirinya sendiri tolol.

'Mampus gua!! Pantesan Ra marah banget. Sialan pake acara lupa nyalain handphone lagi. Ini juga lagi kenapa sihh?!!' batinya syok.

Ia kemudian kembali menatap gadis yang ia panggil dengan panggilan Ra yang sedang berdiri tegap di depannya. Gadis itu bernama lengkap Naira Euphor Dimitri akrab dipanggil Ra usianya sama dengan Al.

"Ra sebelum loe lanjut marah lagi gimana kalo dijelasin dulu ini kenapa??" tanya Al dengan hati-hati.

"Presdir mau datang ke kantor hari ini, tadi Wakil Presdir ngabarin semua divisi buat ngasih semua hasil kerjanya hari ini juga. Dia juga minta semua laporan dan data pemasukan serta pengeluaran dari Divisi Accounting!?!?!" ungkap Naira dengan air mata yang siap tumpah di pucuk matanya, Al terdiam sesaat.

'Presdir....ta..tadi Naira bilang Presdir kan?? Ahh gampang kan semua laporan udah gua selesaiin' ungkap Al dalam hatinya dengan tenang sebelum akhirnya ia membulatkan matanya kembali.

'Anjir lupa belum dipindahin bangke mana banyak lagi!?!? Presdir mau datang goblok!!' dari posisi berpikir Al menampar dirinya sendiri lalu mengenggam kedua bahu Naira dan menatap ke dalam biji mata gadis itu.

"Naira Euphor Dimitri dengerin gue panggilin semua anak-anak ke lantai sembilan belas. Suruh semua balik oke!" ucapnya dengan mata terbelalak.

Segera Naira mengangguk lalu memanggil semua akuntan dan naik ke lantai divisi mereka di lantai sembilan belas. Sesampainya disana betapa terkejutnya mereka Al sudah ada di ruangannya mengenakan kacamatanya, jas serta tasnya terbuang di sofa, komputer sudah menyala, rambutnya serta lengan baju sudah digulung. Jika sudah dengan style ini maka Al sedang serius semua orang tahu style serius seorang Aleta, orang-orang disana berjumlah enam belas orang sedang terdiam memandang Al bekerja. Sepuluh menit dalam keheningan tidak ada satu orang pun yang berani bicara semua mata tertuju pada seorang Al.

"Woi sini flashdisk lu pada yang kosong sekarang!!" pinta Al membuat seisi ruangan terkejut dan malah panik mencari flashdiks.

Mereka mengumpulkan kira-kira sepuluh flashdisk lalu dimasukkan ke dalam keranjang kecil lalu memberikannya kepada Aleta. Secepat kilat gadis itu menyelesaikan pekerjaan yang membuat seluruh divisi akuntan hampir menangis. Usai dengan pekerjaannya ia merapikan dirinya lalu menyeret Naira masuk lift bersamanya. Bersamaan dengan masuknya dua gadis itu ke dalam lift semua akuntan terkagum dengan pekerjaannya.

"Oi ... oi..oi kita mau kemana kok nyeret-nyeret gua sih??" ucap Naira.

"Yah mau keruangan wakil direkturlah mau kemana lagi Ra???" balas Aleta sambil menekan tombol tiga puluh delapan mereka memberi julukan HELLHOUND pada wakil direkturnya karena, terhitung sampai saat ini sudah dua tahun pria itu menduduki posisi itu hingga saat ini. Di perusahaan Al yang mampu menjabat hampir dua bulan saja menjadi wakil direktur sudah termasuk hebat mengingat direktur mereka yang unik. Direktur perusahaan Al hanya datang sesekali ke kantor namun sekali ia datang kantor akan seperti komputer yang di-restart ulang, semua pimpinan dan orang-orang yang tidak becus akan langsung digantikan tidak perduli pekerjaannya dulu sangat baik atau bagaimanapun. Bagi Direkturnya barang rusak tetaplah rusak jadi harus diganti membuatnya mendapat julukan RAJA IBLIS.

Kembali ke Al dan Naira mereka sudah di lantai tiga puluh delapan mereka disambut oleh sekretaris sang wakil direktur, ia adalah Yeodira Grace Harun akrab dipanggil Dira usia nya setahun lebih muda dari Al dan Naira. Ia gadis yang bersemangat dan ceria serta sekretaris yang kompeten.

"Selamat datang nona Aleta dan nona Naira, Bapak sudah menuggu di ruangan." Ucap Dira sopan.

"Yoek, makasih Dira" balas Al dengan santai dan melenggak masuk tanpa mengetuk sedangkan Naira membalas dengan senyum dan anggukan sopan lalu mengejar Al yang dengan gamblangnya masuk tanpa mengetuk.

Di dalam ruangan sudah ada sang wakil direktur Alexander Kresna Adinatha akrab dipanggil Alex. Alex dan Al sudah saling kenal sejak masih kuliah dan mereka mengenal Naira saat magang di kantor dulu. Alex sedang duduk memandang ke luar jendela saat Aleta dan Naira masuk ke ruangannya. Ia membalikkan kursinya lalu menyambut Aleta dan Naira, namun tangannya siap untuk menebas leher Aleta. Karena Alex tahu orang yang mendobrak masuk pasti Al. Mana ada manusia yang berani masuk kantor atasannya segamblang itu tanpa salam atau mengetuk pintu kecuali Al, bagi Alex ia sudah menobatkan Al sebagai setan tidak beradap.

Al tidak peduli apapun ekspresi wajah Alex saat ini ia hanya masuk dan meletakkan flashdisk di tangannya di atas meja pria itu lalu merebahkan diri di sofa. Alex langsung bangun dari kursinya dan tangannya siap menepas kepala Al, namun bersamaan dengan itu Al melompat dari sofa dan menahan tangan Alex.

"Ehh tidak kena," ucap Al lalu menepis tangan Alex lalu kembali rebah di sofa.

"Ngak bisa yah lu ngetok gitu ngucap syalom atau assalamualaikum atau apa kek. Main masuk aje lu kek dedemit tau ngak" hina Alex lalu duduk di sofa. Sesaat ia memandang Naira yang enggan duduk lalu tersenyum.

"Duduk Ra ngak usah segan gitu kalo Al mah udah biasa itu emang setan nih anak." ungkap Alex.

"Ini mau otw Lex kaget aja si Al maen lenggak" ucap Naira. Hampir lima belas menit Al, Naira, Alex, dan Dira yang diseret masuk oleh Al dengan alasan ngak seru kalo tidak ada dirinya. Mereka mengobrol sambil membantu Alex mengerjakan dan menyusun semua laporan yang akan ia serahkan kepada direktur. Tepat di menit ke tiga puluh Al dan Naira pamit karena Al baru teringat ia ada janji dengan Reyhan ketua divisi marketing mereka.

"Udah yah gua balik dulu mau ketemu Reyhan kemaren dia nyuruh mampir" ucap Al.

"Ngapain Al??" tanya Alex.

"Yah mana gua tau bambang?!?!? Kalo gua tau elu juga pasti tau!?!?" emosi Al.

"Oh.. ya udah pergi sono hush hush" usir Alex.

"Biasa aja ngusirnya Lex, biasa aja!! Ra, lu ikut ngk??" tanya Al sambil berjalan keluar ruangan memasuki lift lalu menekan tombol angka dua puluh empat yah disana adalah lantai divisi marketing dan tempat ruangan Reyhan selaku ketua divisi marketing berada. Tepat di lantai dua puluh empat pintu lift terbuka namun mereka mendapati pria berpakaian serba hitam dan masker berdiri di depan lift, mereka bertiga bertatapan hampir lima menitan. Hingga Al dan Naira keluar lift saat di posisi berpapasan mereka menyapa pria itu dengan anggukan sopan dibalas anggukan juga oleh pria itu. Sebelum mereka berdua berlalu pria itu menahan tangan Al, ia menatap ke belakang dengan tatapan sinis nan dingin.

"Boleh saya tahu dimana lantai ruangan wakil direktur?" tanya dengan nada datar.

"Oh itu ada di lantai tiga puluh delapan pak." jawab Al sambil melepas paksa tangannya.

"Terima Kasih" ucap pria itu lalu masuk ke dalam lift.

Seusai pria itu berlalu Al mengejar Naira.

"Dasar pria aneh!" gumamnya.

"Ha?? ngomong apaan lu??" tanya Naira.

"Kagak ada udah masuk sana!" ucap Al.

Mereka menjumpai Reyhan, nama panjangnya Reyhan Aditya Yuda. Mereka membicarakan pertemuan yang akan dihadiri Rey minggu depan dan Rey berencana membawa Al bersamanya. Dan Al segera meminta Naira selaku sekretarisnya untuk mengaturkan jadwalnya. Setelah pembicaraan itu Aleta dan Naira kembali ke lantai mereka dan kembali bekerja. Setelah hari yang panjang jam pulang pun tiba Aleta segera bersiap pulang ia lalu turun ke lantai utama. Saat akan meninggalkan gedung kantor ia melihat Alex yang berjalan cepat ke arahnya yang membuat Al berasa ada di film Conjuring. Ia lalu berlari menuju parkiran menghindari Alex yang membawa aura seram sangking seramnya Aleta sampai tidak bisa memasukkan kunci motornya pada tempatnya.

"ALETA!!" Senggak Alex yang berdiri menahan motor Al.

"APA??? APA ALEX??" teriak Al merinding.

"Gue baru bertemu Pak direktur abis kalian keluar." jelas Alex.

"Terus?" tanya Al.

"Dia mau ketemu elu besok kapan lo bisa?" tanya Alex

"Jam makan siang kayaknya gua kosong soalnya Pak Reyhan ngajak ketemu klien besok pagi. Kalo jelasnya tanya Naira deh sana dia yang tau semua jadwal gua. Udah sana-sana gua mau pulang!" jelasnya.

"Oh oke berarti gua nelpon Naira aja kan?" ucap Alex sambil mengambil ponselnya mencari nomor Naira.

"Ingat nanya jadwal gua aja bukan jadwal nikahan!!" ejek Al sambil melenggak pergi menhindari amukan Alex Al tahu bahwa pria itu menaruh hati pada sekretarisnya itu sebabnya Al selalu berusaha menyeret Naira ikut bersamanya jika Alex ada dalam kegiatan itu. Sebelum pulang Al mampir ke warung sate madura kesukaannya saat ia memesan ia melihat pria yang sekilas ada di kantornya tadi pagi masih dengan pakaian serba hitamnya. Namun Al agak kurang yakin sehingga ia memilih bodoh amat lalu memesan makanan kesukaannya, setelah mendapatkan yang ia inginkan segera ia melaju pulang.

Pertemuan

Biasanya, Al berangkat kerja lebih awal dari orang lain namun hari ini ia melaju ke sebuah kafe di pusat kota karena Al sudah berjanji kepada Reyhan untuk menemaninya menemui seorang klien. Sebenarnya Al sangat malas, ia dulu mendaftar ke jurusan akutansi agar bisa menghindari bertemu klien dan semacamnya, Al sangat benci bersosialisasi itu sebabnya ia tidak memiliki terlalu banyak teman.

'Harusnya semalam gua tolak walaupun Rey masang muka memelas gitu. Lu goblok banget emang Al, goblok banget!!' batin Al dalam hatinya sambil melangkahkan kaki menuju kamar mandi.

Hari ini Al memutuskan menggunakan mobil alasannya karena saat kembali ke kantor ia akan terperangkap pada jam yang panas dan jalanan yang sangat sibuk. Untuk tampilan ia tetap pada tampilan yang simple saja kemeja biru dan celana dengan warna yang sedikit lebih gelap, ditutup sepatu sneakers putih. Al lalu mencari ikat rambut lalu menggulung rambut panjangnya, sedikit memoles wajahnya dengan make up setelah semua keriwehan itu Al meraih tas ransel birunya lalu bergegas pergi.

Al dan Rey akan bertemu pada pukul sembilan maka dari itu Al memutuskan sarapan di jalan. Butuh waktu hampir satu jam menuju titik pertemuan mereka. Dengan menimbang bahwa jalanan akan ramai penduduk muka bumi, Al sudah bergerak sejak pukul setengah tujuh. Di perjalanan dia menyempatkan diri pergi ke drive thru salah satu cafe kopi Al memesan kopi ukuran venti dan sandwich daging. Selama perjalanan Aleta makan, minum, dan bernyanyi ria dalam mobil. Dibalik orang yang dingin dan malas bersosialisasi ada perempuan yang menyukai musik dan jalan-jalan, juga seorang penghibur yang baik dan pemberi nasehat handal.

Setelah melalui jalanan yang sesuai dengan firasatnya, Al berhasil sampai di titik pertemuan tepat waktu. Disana sudah ada Reyhan yang sedang menikmati sarapan dan secangkir kopinya dengan sigap Aleta memarkirkan mobilnya dan melenggak masuk menyapa Reyhan.

"Yo what’s up brother!! Tumben sarapan di luar? Istri lu ngak masak??" sapa Al sambil menepuk bahu Reyhan. Pria itu berbalik dan memberi senyum hangat pada Al lalu menggeleng kepalanya halus.

"Dia lagi sibuk beberapa hari ini banyak wartawan yang penasaran sama sosok presiden direktur kita, lu tau lah meski jarang datang ke kantor popularitasnya behh…" jelasnya membuat Al hanya mengangguk paham.

'Ngak heran sih gua walau ngak pernah liat mukanya gua juga penasaran kali si Raja Iblis ini bentukannya gimana…' batin Al sambil duduk di kursi yang berhadapan dengan Reyhan.

"Oh iya??? Kasian banget sih itu," ungkap Al dengan tawa kecil meledek. Sambil berbincang mereka menunggu sang klien, dua puluh menit berlalu disela perbincangan Al permisi ke toilet bersamaan dengan itu seorang pria tinggi altetis masuk ke dalam kafe. Dengan rambut berwarna ungu kebiruan, mata yang hitam legam, dan pakaian formal. Ia kemudian menyapa Reyhan dan disambut hangat oleh Reyhan. Lima menit kemudian akhirnya Al keluar dari kamar mandi ia langsung bergerak ke arah Reyhan yang sedang berbicara kepada seorang berpakaian rapi.

'Kayanya ini nih klien yang buat seorang Reyhan Aditya Yuda memelas memohon biar gua ikutan nih,' batin Al lalu berjalan ke arah kursinya.

Reyhan melihat Al datang pria itu dengan sigap mengenalkan Al kepada pria yang duduk di hadapannya. Saat itu Aleta berdiri tepat di belakang sang klien, akhirnya sang klien berbalik ke belakang sedangkan Aleta bersiap menyapa dengan sopan. Namun belum sempat menyapa Aleta dan pria itu sama sama terkaget dengan mata yang membulat dengan sempurna namun Al begitu mudah kembali normal lalu tersenyum seraya memberikan tangannya seolah ingin berkenalan.

"YOU?!??!" hentak sang pria sambil mengacungkan jari telunjuknya pada Al. Namun Al hanya menatap dengan senyum bingung dan menarik kembali tangannya karena sudah tahu tidak akan di salam balik. Al lalu berjalan menuju bangkunya ia melihat tasnya sudah dipindahkan ke samping Reyhan.

"Ehhh are you know me sir??" tanya Aleta sambil duduk di bangkunya.

"Non fare lo stupido con me!!" ancam sang klien.

"Apa kamu kenal dengan tuan muda Alvaro?? Or did you know my friend Mr. Alvaro?" tanya Reyhan yang kebingungan dan bahasa inggris yang agak kacau. Al memang diajak Reyhan karena Rey tahu Al fasih berbahasa Inggris dan kliennya hari ini adalah seorang Italia namun pandai berbahasa Inggris. Suasana begitu membingungkan namun Al hanya mengangkat kedua bahunya dan menggeleng kepalanya tidak tahu.

"Yoo Cresse hai intenzione di fingere di non conoscermi??" tanya pria yang dipanggil Alvaro oleh Reyhan.

"What are you talking sir?? Do you know me or we meet somewhere???" tanya Aleta dengan santai.

"Ehi bambino empio, sono io...???" belum sempat Alvaro menyelesaikan kalimatnya dering ponsel Aleta menginterupsi keadaan. Al langsung izin keluar dan mengangkat panggilan telepon itu lalu kembali lima menit kemudian.

"Reyhan, barusan Alex nelpon gua, di suruh balik ke kantor sekarang juga juga. Jadi dengan hormat gua izin yah?" ucap Al sambil mengambil tasnya.

Reyhan terbelalak bingung dan mengangguk mengiyakan permintaan Al sedangkan Alvaro ia sudah mengetik pesan di ponselnya. Segera Al melenggak pergi ke pintu depan ia menunduk sedikit karena bersamaan dengan dirinya berjalan keluar ada pria tinggi dengan rambut agak gondrong diikat setengah dan berkacamata masuk ke dalam kafe saat pria itu masuk Alvaro lalu berteriak.

"Lux quella ragazza è Cressen!!!" senggak Alvaro, sedang Lux hanya memasang wajah bingung dan menghampiri bangku Alvaro dan duduk santai.

"Halo pak Reyhan," sapa Lux dengan bahasa Indonesia fasih dibalas senyum dan kaget oleh Reyhan.

"Eh mending lu duduk semua aja lu bilang Cressen udah lama kita cari dan dia ngak mungkin ada disini. Ini bukan cara dia buat sembunyi goblok!!" maki Lux.

"Udah mending lu duduk selesaiin tugas bisnis nih. Capek telinga gua denger bapak lu ribut terus tentang masalah ini udah cepetan dah" tekan Lux yang nampak seperti orang yang sudah tiga hari tidak tidur. Kembali ke Aleta ia ingin masuk ke dalam mobilnya berbarengan dengan seorang pria sampai menggendarai mobil atap terbuka dan style  pakaian yang manis. Ia hampir menabrak Aleta yang akan masuk mobil segera pria itu memperbaiki posisi mobilnya dan menghampiri Aleta.

"I'm so sorry I don't pay attention to the road. Are you okay miss?" tanya pria itu dengan manis. Al hanya menganggukkan kepalanya menyatakan ia baik baik saja lalu masuk ke dalam mobil dan segera melajukan mobilnya pergi dari tempat itu secepat kilat. Kemudian pria manis itu hanya menggeleng lalu masuk ke dalam kafe dan berjalan menuju kedua kakaknya yang sudah ada di dalam.

"Brother Varo!! Brother Lux!! I'm coming!! Did your job done yet? Let's go having fun!! I see a park on the way here." ucap pria itu sambil duduk di kursi yang bersebelahan dengan Alvaro.

"Eh bocah lu diem dulu deh. Gua blom tidur seminggu nih! Kakak lu lagi nih lama bener ngerjain tugasnye nyariin anak ilang mulu anak ilang mulu." emosi Lux.

"Emang kak Varo ketemu sama Cressen?? mana?? mana Cressen??" cari pria itu sambil celingak celinguk.

"Pak Reyhan lihat adek saya ngak??" tanya pria itu dengan wajah bingung yang begitu imut. Sontak Reyhan berhenti membahas pekerjaan dengan Alvaro dan menatap pria dengan tubuh lebih pendek dari kedua pria yang sudah ada di samping dan hadapannya.

"Saya bahkan tidak tahu tuan Kevin punya adik," jelas Reyhan sopan.

"Udah yah Kevin gua mau lanjutin ini sama pak Reyhan nanti ngak selesai bapak lu ngamuk entar. Jadi pak Reyhan saya hanya perlu tanda tangan disini kan?" tanya Alvaro dengan mata tajam menatap Reyhan dan hanya dibalas anggukan oleh pria yang duduk di hadapannya itu. Reyhan sudah tidak kaget lagi ternyata meski berasal dari Italia Alvaro, Lux, dan Kevin adalah orang Indonesia jadi mereka juga fasih berbahasa Indonesia.

"Kalau begitu apa pak Reyhan bisa membuat saya bertemu dengan presiden direktur anda dan membahas ini lebih dalam? Setelah bertemu baru saya tanda tangan." jelas Alvaro dengan raut wajah yang tiba-tiba serius. Lalu Reyhan menaikkan alisnya kemudian mengambil ponselnya dan menelepon seseorang tak sampai sepuluh menit telepon berakhir kemudian Reyhan menatap Alvaro.

"Baik tuan Alvaro, saya akan berikan email presiden direktur silakan anda yang berbicara langsung dengan beliau." Jelas Reyhan dengan profesional sambil memberikan secarik kertas berisi alamat email. Mereka berempat berbincang sebentar sebelum Reyhan kembali ke kantor. Di sisi lain ada Al yang tertegun di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan sedang terdiam dalam keheningan lalu tiba-tiba berkata.

"Perché quei bastardi sono di nuovo qui?" ucapnya. Lalu dia emosi membanting setirnya dengan keras dan melajukan mobilnya dan berteriak.

"VOI TUTTI MORTI DANNATI BASTARDI!!!" teriaknya dan mengebut di jalanan yang lumayan lempang.

Hanya butuh tiga puluh menit mengebut akhirnya Al sampai di kantor segera berlari menuju lift dan menekan tombol sembilan belas. Saat ia sampai seluruh ruangan sedang terdiam bingung tak tahu mau berbuat apa.

"Apa mereka sudah lama di dalam??" tanya Al ke Naira yang sedang membawa nampak berisi dua cangkir kopi.

"Oh... eh… Belum mereka… Mereka belum lama," ucapnya gagu. Aleta lalu mengambil nampan yang ada di tangan Naira.

"wish me luck, Ok!!" ucap Al dengan senyum mengesalkan dan hanya dibalas anggukan dari Naira.

Akhirnya Al mengetuk pintu dan masuk ketika berbalik ia terdiam dua pria duduk di sofa yang ada di depan meja kerjanya yang berantakan dengan banyak dokumen keuangan. Namun wajah Al tidak terkejut ia meletakkan nampan di atas meja menggerakkan tangan mengisyaratkan hendak mempersilakan dua orang itu minum. Ia kemudian duduk lalu menaikkan kakinya menimpa kaki yang lain

"So who is this??" ucap Aleta dengan nada yang professional.

SIAL!?!!

"So… who is this?" tanya Al dengan nada sopan.

Saat ini, di ruangan ini, ada sang wakil direktur Alexander dan satu orang pria yang berpakaian rapi dengan kepala tertunduk duduk di samping Alex.

"Ahh, kenalin Al ini bapak presiden direktur utama kita. Namanya pak Zain, dan pak Zain ini ketua divisi akunting kita, nona Aleta" ujar Alex.

Suasana agak hening sesaat, lalu Zain mulai hendak membuka perbincangan. Hari ini Alex tampak lebih berantakan dari biasanya mungkin kerena orang yang ada di sampingnya ini yang memang sejak tadi memancarkan aura siap menerkam orang. Entah apa tujuannya memasang wajah yang begitu sinis dan malas begitu.

'Ngeselin banget sih mukanya bikin kesel, tapi gapapa Al gara-gara dia lu bisa kabur dari manusia-manusia laknat tadi. Jadi mari bersabar karena ini ujian' batin Al tetap sabar dan menunggu jawaban dari sang direktur.

"Ahhh saya pikir Al yang anda bicarakan adalah seorang lelaki. Ternyata hanya seorang wanita yang berpakaian seperti lelaki" jelas Zain menaikkan kepalanya dan menatap langsung ke biji mata Al sambil menyungging senyum sinis.

Di saat yang sama Al terkejut melihat orang itu, dia adalah pria yang bertanya dimana lantai ruangan Alex padanya semalam. Dan Al juga mengerti jika maksud perkataan presiden direkturnya itu adalah sindiran, ia menghina cara berpakaian Aleta yang memang agak bergeser dari gendernya namun Aleta tak ambil pusing. Ia selalu berpikir bahwa tetaplah berpakaian sopan namun nyaman itulah sebabnya Al selalu nampak seperti gadis tomboy karena baju-baju itu membuatnya lebih aman. Bukan tidak bisa Al mengenakan rok span dan high heels namun apa itu sepadan dari segi kenyamanannya sendiri tentu tidak.

'Oh jadi lu mau bahas bahas hal itu, ouhhhh jadi dia diskriminasi nih disini okeyy gue terima sindiran lu itu PAK ZAIN ihhhh ngeselin banget heran.' batin Al ia lalu membuka mulutnya menyambung ucapan sang direktur. Di sisi lain ada Alex yang menatap tajam kearah keduanya orang dihadapannya, ia sebenarnya sudah mewanti akan keadaan ini dari awal namun nasi sudah jadi bubur seluruh ruangan sudah terasa begitu dingin bahkan tanpa AC.

'Hadehhh.... semoga aja nih anak dajjal kagak ngomong yang bukan bukan ini juga Zain lu ngapain sih anjir!?!?!!' kesal Alex dalam hatinya.

"Ohh" ucap Aleta agak panjang sambil mengangguk ia terdiam sesaat, memandang ke atas meja lalu menatap tajam ke arah Zain dan tersenyum. Sontak Alex membulatkan matanya terkaget.

'No no no no not that smile ouh God. God pleassee help me!!!' mohon Alex sambil memijit pelipisnya ia tahu senyum Al ini adalah sebuah ancaman baginya dan bagi karir Al sendiri. Tidak terhitung sudah berapa banyak orang yang jatuh dengan senyum itu.

"Saya memang ber-style aneh, jangan salah paham tentang itu. Lagipula sudah banyak wanita dan pria yang berpakaian agak melenceng dari gendernya jadi mengapa kita tidak berpikiran terbuka??" ucap Al dengan santai.

Aura ruangan makin menghitam, Zain marah, pria itu tidak suka ditentang baginya Al adalah orang pertama yang cukup punya mental untuk mengembalikan sindirannya. Belum pernah ada orang selain Al dan orang itu yang berani berucap balik padanya dengan tatapan sesantai itu.

"Oh iya saya sangat open minded kok, hingga seorang presiden direktur utama yang lupa lantai di gedungnya sendiri tidak saya umbar ke media itu bisa menjadi pembicaraan hangat loh." tambah Aleta dengan santainya dan sempat tersenyum hangat melirik Alex yang sudah ingin menanamnya hidup-hidup.

Zain benar-benar gerah, ini pertama kali dalam hidupnya ada orang yang bisa mengugah kesabarannya. Di sisi lain ada Alex yang sudah murka pada Al, ia sudah menatap Al tajam sejak tadi siap melengserkan leher wanita dua puluh tiga tahun itu dari tempatnya. Pria itu lalu membuka tawa lalu menarik napas dalam, kedua manusia yang ada di hadapannya terkejut.

'Njay muka Alex serem bener nih. Bau-bau gua bakal di tebas ahhhh dahlah mau gimanapun gua juga tetep di hajar sih. Lagian nih presiden direktur rese banget sih' sedih Al membatin. Ia menyesap teh yang ia bawa tadi dan menunggu tanggapan dari sang presiden direktur. Namun sepertinya Alex ingin mengakhiri perang sindir ini, ia kemudian angkat suara.

"Bagaimana jika Tuan Zain membahas yang perlu saja? Daripada pusing memikirkan pakaian seseorang. Dan Nona Al bagaimana jika anda mendengar dan mengiyakan saja AC di ruanganmu sudah dingin tidak usah ditambahi. OK!" ucap Alex sambil menyinisi dua ciptaan Tuhan yang sejak tadi berdebat.

"Anda ada benarnya tuan Alex, jadi tanpa basa-basi saya datang ke sini hanya untuk mengapresisasi pekerjaan anda yang menurut saya sangat luar biasa nona Al. Penghitungan yang sesuai dan teliti belum lagi tingkat kerapian yang perlu diacungi jempol saya harap anda bisa tetap mempertahankan hasil kerja ini di pertemuan kita selanjutnya." jelas Zain dengan singkat, padat, dan jelas.

"Terima kasih Tuan Zain saya sangat bangga bisa disanjung oleh orang sehebat anda semoga saya bisa tetap mempertahankan hasil kerja saya ini. Sekali lagi terima kasih tanpa mengurangi rasa hormat silahkan Tuan Zain dan Tuan Alex meninggalkan ruangan saya karena saya bisa lembur jika anda berdua masih diruangan saya S. E. K. I. A. N" ucap Al dengan senyum lempang-lempang tanpa dosa sedangkan Alex sudah siap untuk melepas kepala gadis itu dari tempatnya.

'Al anjir lu yah liat aja lu nanti gua gorok lu astafirullahalazim sabar ya ampun sabar.... eh bentar gua Kristen anjir!!! ini semua karna lo Al liat aja lu nanti abis lu sama gua' ungkap Alex dalam hatinya sambil menatap tajam ke arah Al. Gadis muda itu sudah tahu selepas ini pilihannya hanya dua menghadap dokter atau menghadap Tuhan, ia sudah menumpuk emosi Alex sejak tadi soalnya.

'Yahhh kalo gini ceritanya sih gua sabar ajalah yah. Yang mancing emosi siapa yang di damprat siapa sabar.... sabar' batin Al sambil mengelus dadanya. Di sisi ruangan lain masih ada Zain, pria itu sudah bersiap akan memecat Al namun ia mengingat masih membutuhkan seorang seperti Aleta di kantornya.

"Anda ada benarnya Nona Al sebaiknya kami kembali terima kasih sudah menyambut kami dengan hangat. Semoga kita bisa B. E. R. T. E. M. U lagi" jelas Zain sambil menekan kata 'bertemu' pada setiap hurufnya. Setelah kepergian kedua orang paling penting itu, ruangan Al kembali hening namun tidak dengan emosi Aleta ia memutuskan melepas emosinya kepada hitungan dan angka-angka yang menumpuk di meja kerjanya.

~.....~

Jam sudah menunjukkan pukul delapan malam, ini sudah lewat dari jam kerja namun Al memilih menyelesaikan tumpukan berkas yang ada di atas mejanya. Usai bergelut dengan pekerjaannya ia segera membereskan meja kerjanya dan seketika gunungan kertas tadi sudah bersih serta disusun dengan rapi agar mudah dibuang bagi yang dibuang dan dikirim bagi yang dikirim esok hari. Al lalu merapikan penampilannya yang berubah menjadi seperti anak hilang, sepatu yang entah ada dimana, lengan baju yang dilipat-lipat, rompi yang tergeletak di sofa benar-benar berserakan dimana-mana. Akhirnya Al pulang tepat pukul setengah sembilan malam. Segera berjalan menuju parkiran yang sudah kosong yang hanya ada mobilnya dan lampu yang berdiri tegak di beberapa tempat ia lalu memasuki mobilnya. Menyalakan mobilnya lalu menyalakan lampu sorot panjang tepat saat lampunya menyala ada pria menatap kosong di depan mobilnya sontak Al berteriak.

"OH MERDA!?!?" teriak Al bersamaan dengan suara klakson mobilnya yang tak sengaja di tekannya. Setelah hampir dua menit menutup mata, ia membuka matanya perlahan orang itu sudah tidak ada disana Al menarik napas panjang.

"Yah Tuhan gua pasti capek banget. Catatan, lain kali gua jangan melepas stress berlebihan" ucapnya pada dirinya sendiri. Gadis itu kemudian mengangkat rem tangan mobilnya dan mulai membelok ke kanan. Saat melihat jendela ke kanan betapa paniknya ia melihat seorang pria menempelkan wajahnya tepat di jendela pengemudi.

"Nel nome del padre e del figlio e dello spirito santo amen" ucap gadis dua puluh tiga tahun itu sambil membuat tanda salib. Ia menutup matanya dalam gelapnya parkiran yang dimana hanya dirinya yang ada di sana. Ia berusaha menarik napas dalam lalu membuka matanya, saat itu ada yang mengetuk ngetuk jendelanya ternyata pria itu adalah Alex, Al menatapnya dengan penuh emosi ia benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.

"Bastardo Alexander Kresna Adinatha. Sei un dannato umano senza cervello!!" bentaknya di dalam mobil. Dan tentu saja Alex tidak bisa mendengarnya pria itu hanya bisa melihat Al mengacak acak rambutnya dan marah-marah pada setir mobilnya. Beberapa menit kemudian Al tiba-tiba terdiam menarik napas dalam lalu merapikan diri dan membuka jendela mobilnya dengan seram Al melotot sambil tersenyum kepada Alex.

"Hai.... Alex mau ngapain? Ngapain lu masih di kantor di jam pulang yang udah lewat begini. Wow kelangkaan yang perlu gua catet" Ucap Al dengan nada sinis dan senyum tertekan.

"Gua mau besok siang lu ikut gua makan siang. Ngak perlu bawa mobil ngak usah bawa motor dan plus lu libur sehari, terakhir yang antar jemput itu gua. Gimana mau ngak??" ajaknya dengan nada lembut yang membuat Al sontak memasang wajah jijik tanpa aba-aba.

'Nih orang kejedot dimana nih kenapa jadi creepy gininih nih bocah?? Apa ngak salah nih telinga ama mata gua?? Efek kecapean parah banget gini ya??' batin Al tidak percaya apa yang ia lihat dan dengar. Berulang kali ia menaikkan dan menurunkan kacamatanya serta memastikan telinganya tidak kotor.

"Lu ... ditolak Naira yah??" semprot Al tiba-tiba dengan wajah yang masih merasa jijik.

"NGAK!?!?" senggak Alex kemudian pria itu sadar dengan tindakannya yang tiba-tiba dan memperbaiki tutur katanya.

"Maksud gua enggak, gua bahkan belum nembak masa belom nembak ditolak ada gila lu yah. Ini itu untuk masalah kerjaan ngapain juga gua ngajak lu makan siang bareng mending ngajakin Naira makan bareng pede amat lu!" Hujat Alex. Sontak pria dua puluh tiga tahun itu mendapat tinju mentah di lengan kanannya.

"Ouch... kampret mukul ngak kira-kira mantan petinju lu yah??" tanya Alex sambil memegangi lengannya yang benar-benar sakit.

"Makanya jangan banyak gaya lu ye. Udah deh jangan banyak ngadi-ngadi gua ngak mau bye." ucapnya sambil masuk ke dalam mobil dan melenggak pergi. Sedangkan Alex ia tau dirinya sudah dalam masalah. Ia tahu bahwa Al bukan gadis yang mudah mengubah keputusannya, ia juga tahu gadis itu bahkan tidak mau menemui orang sepenting apapun di jam yang tidak sesuai. Alex menarik napas panjang lalu mengambil ponselnya dan mengetik pesan untuk seseorang. Beberapa menit kemudian ponselnya bergetar wajah alex tampak masam melihat balasan yang dikirim orang itu.

"Now I'm technically in big trouble really big trouble so you too Al" ucapnya sambil memijat lehernya. Ia bisa melihat banyaknya huruf capslock dalam pesan teks itu. Coba tebak siapa orang itu, benar sekali orang yang sejak tadi mengirimi Alex pesan adalah Zain. Entah apa yang menghantam otak pria itu hingga memerintahkan Alex untuk mengajak Al makan siang besok, intinya sekarang ia hanya bisa menggeleng namun tidak pasrah karena kita semua tahu seorang Zain Rajendra Zavier tidak akan mungkin melepas sesuatu begitu saja.

Di sisi lain Al sedang menyetir dalam kebingungan dengan sikap Alex barusan. Namun kebingungan itu tidak lama hingga ia melihat kaca dasbornya.

NB:

OH MERDA!?!? \= OH SHIT!?!?

Nel nome del padre e del figlio e dello spirito santo amen \= Dalam nama ayah dan anak dan roh kudus amin

Bastardo Alexander Kresna Adinatha. Sei un dannato umano senza cervello!! \= Bajingan Alexander Kresna Adinatha. Anda adalah manusia berdarah tanpa otak !!

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play