English
NovelToon NovelToon

HIS SECRET LIFE

Family Issue

Di tengah hari yang cerah, pohon gadis-pohon menyuarakan suara alam yang begitu syahdu memanjakan pendengaran seorang muda yang mengenakan seragam putih abu, ia sedang berjalan menuju rumah sehabis pulang sekolah. Nora, gadis itu memiliki kepribadian yang ceria dan dikenal dengan senyumnya yang ramah.

Hampir semua tetangganya mengetahui bahwa Nora adalah anak yang berbakti dan terkenal mudah bergaul dengan lingkungan sekitar. Sesampainya di lingkungan perumahannya, Nora melihat banyak orang berkumpul dihalaman rumahnya, ada sebuah bendera kuning tergantung tepat dihalaman rumah. Dirinya bertanya-tanya.

“Siapa yang meninggal?” sementara melamun sebentar, “tidak mungkin,” pikiran kemana-mana, perasaannya mulai tak karuan.

Ia langsung berlari dengan terbirit-birit masuk ke dalam rumah, menerobos para pelayat yang menggunakan baju hitam itu. Ia melihat ibu dan kakak tirinya menangis terisak-isak sambil memberikan senyuman liciknya itu.

“Ibu, mungkinkah ayah 'kan?” Ia bertanya-tanya, tubuhnya bergetar menahan tangis, tangan kecil tersebut menutup mulutnya saat didapati sang ayahlah yang berpulang.

Ia mendekati ke arah jenazah ayahnya, terkejut, hal yang gadis itu rasakan saat melihat itu semua. "AYAAHH!! ENGGAK! GAK MUNGKIN! Ayah jangan tinggalin aku sendiri disini, kumohon bangunlah!” Ia menangis histeris, orang-orang mulai merasa iba kepada gadis itu atas kepergian ayahnya, tangisan itu semakin kencang. Tak lama setelah itu kesadarannya mulai hilang, ia pun pingsan lalu dipindahkan ke dalam ruangan oleh salah seorang warga yang melayat pada hari itu.

Keesokan harinya, Nora terbangun dari tidurnya dan berharap kejadian kemarin hanyalah mimpi buruk belaka. Ia lekas membersihkan badan dan berjalan menuruni anak tangga, seraya berpikir bahwa kejadian itu hanyalah mimpi buruk.

"YA! Hanya mimpi buruk yang menyeramkan." Gumamnya.

Nora berjalan menuju ruang tamu, dimana ia melihat jenazah yang menutupi kain kafan itu mirip dengan mimpinya, ia pikir itu memang benar mimpi buruknya ternyata tidak. Kemudian dia menangis kembali. Tapi tidak dengan ibu tirinya, Nyonya Lenny.

“Cepat ganti pakaianmu, menangis jangan terus! Saya muak.” Ucapan Nyonya Lenny secara sarkas.

Nora pun menuruti akan hal itu, ia ikhlas atas kepergian sang ayah, namun itu sudah atas kehendak Tuhan. Nora hanya perlu meyakinkan pikirannya untuk mencoba mengikhlaskan segala hal yang berhubungan dengan Tuhan. Tak lama setelah itu ia siap. Siap mengantarkan raga sang ayah kembali ke tanah. Setelah sampai di pemakaman, ia duduk disebelah makam dengan batu nisan bertuliskan, 'Jasvir Ashford,' ayahnya. Dengan datangnya sayu sambil menundukianya.

“Ayah, terima kasih sudah pernah hadir di dunia ini, terima kasih sudah memilih aku menjadi anak ayah. Aku bener-bener bersyukur atas hal itu. Yah, kalau dilahirkan kembali, aku selalu ingin jadi anak ayah, semoga ayah juga selalu ingin jadi ayah Nora ya, Ayah?” mencakup tumpukan tanah sang ayah, pahlawan dalam hidupnya, cinta pertamanya seorang anak perempuan, dan sosok yang dapat dibanggakan.

Satu-persatu para pelayat mulai meninggalkan tempat tersebut, menyisakan Nyoya Lenny, Athena, dan Nora sang keluarga inti.

"Heh, ayahmu sekarang sudah tidak ada. Saya kasih kamu tempat tinggal hanya sampai kamu lulus sekolah saja. Saya tidak sudi jika harus tinggal bersama darah daging Jasvir." Ujar Nyonya Lenny dengan ketus, juga ia meninggalkan pemakaman tersebut bersama anaknya.

Nora terisak kembali, mengingat sebuah masa-masa indah yang pernah ia lewati bersama sang ayah. “Yah, tante Lenny sebenarnya jahat.” Kalimat terakhir dari Nora sebelum akhirnya ia meninggalkan makam sang ayah.

            Sudah tiga minggu sejak kepergian sang ayah, sejak hari itu Nora tidak pernah memiliki kehidupan yang biasa ia jalani. Tidak ada lagi liburan bersama ayah di akhir pekan, tidak ada lagi agenda menonton bola diruang tamu besama ayah, dan tidak ada lagi ayah. Kehidupannya kini hanya diisi dengan kesibukan seperti pembantu, ibu tirinya selalu memberikan Nora pekerjaan rumah sebelum ia berangkat sekolah, ia juga disuruh untuk mengurus sang adik tiri, mengantarkan makan siang ke mejanya, memberikan uang sakunya kepada adiknya, dan hal-hal lain yang harus selalu diprioritaskan. Lambat laun tanpa disadari, kini senyumannya mulai hilang. Tidak ada lagi Nora dengan gummy smile yang menjadi ciri khasnya setiap pagi, tidak ada lagi seorang Nora yang selalu menyapa temannya. Nora menjadi seorang murid yang diam dan tidak ingin terlibat dengan siapa pun. Sejak kembali ke sekolah dirinya menjadi sedikit lebih murung, kini Nora hanya memiliki Stacey; ia adalah teman sebangku sekaligus sahabat terdekatnya sejak masa Sekolah Menengah Pertama.

“Nora, aku akan berada di sini untukmu.” Ujarnya sambil memeluk Nora, juga Nora tersenyum, memberikan senyum cantik miliknya kepada Stacey.

“Nah, gitu dong, jangan sedih lagi ya, harus ikhlas.” Nora mengangguk setelah mendengarkan hal tersebut. Tak lama kemudian pelajaran Geografi dimulai, keduanya terlihat sangat serius dan menyimak pelajaran kali ini.

2.2

Bel istirahat berbunyi, menandakan seluruh kegiatan belajar mengajar diistirahatkan. Nora dan Stacey berjalan melintasi Lorong sekolahnya untuk pergi ke kantin. Saat melewati ruangan kelas Athena, Nora berhenti sejenak, melihat kearah kelas adiknya. Sejauh mata memandang, ia tidak melihat batang hidung adiknya. Nora memutuskan untuk melanjutkan pergi ke kantin. Setibanya disana, ia melihat adiknya sedang bersama teman seangkatannya, Malvin; ia nakal terkenal dan sering mengikuti tawuran antar sekolah.

"Ra, adik kamu lagi sama Malvin kan? Kamu lihat 'kan Ra?" Stacey menunjuk kearah dimana Athena sedang duduk bersama teman-teman Malvin.

“Yaudah Cey, matiin aja.” Nora menghiraukan hal tersebut. Mulai saat ini, ia memilih untuk hanya memedulikan dirinya sendiri, egois untuk kepentingan dirinya sendiri wajar bukan?

Seusai mengalami hari yang bisa dibilang cukup baik, Nora kembali pulang ke rumah pada sore hari setelah berbelanja beberapa hal yang ia butuhkan. Sesampainya di rumah Nora melihat sang Ibu Tiri menunggu tepat di depan pintu sambil menyilangkan tangan, beberapa hal buruk yang mungkin terjadi sudah ada di dalamnya, “apakah aku akan di siksa kali ini?” “apakah aku melakukan sebuah kesalahan?” “apakah aku akan diusir dari sini?” Beberapa pertanyaan bodoh mulai menghantui pikiran.

Dengan pikiran kacau dan tangan bergetar, ia memasuki halaman rumah sambil menunduk. Nyonya Lenny hanya melihat Nora sinis, tidak memberikan pertanyaan bodoh yang sudah dipikirkan Nora. Baru saja beberapa Langkah memasuki rumah, Nora diberikan pertanyaan oleh Nyonya Lenny.

“Mana Athena?” tanyanya. Nora berhenti, membalikan badannya, "Loh? Bukannya ibumu? Harusnya tau dong." Jawabnya ketus.

“Dasar anak tidak tau diuntung.Athena belum pulang.” Balas Nyonya Lenny sambil mendekati Nora, berharap Nora mengetahui sesuatu mengenai anak kandungnya.

“Tungguin aja, nanti juga pulang.” Ia langsung pergi ke dalam ruangan, cuek, satu hal yang hanya bisa dilakukan Nora sekarang.

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, Nyonya Lenny masih berdiam diri di ruang tengah, berharap anaknya akan pulang dengan selamat. Tak lama kemudian, suara dering bel rumah berbunyi, Nyonya Lenny juga membuka pintu, ia terkejut karena Athena pulang dengan keadaan yang sedikit kacau, ia mencium bau rokok.

“MAMAAA AKU PULAAANGG HAHAHA.” Lanturnya. Nyonya Lenny juga geram, satu memutuskan mendarat dipipi Athena,

"Aduh! sakit tau mah." Teriaknya, Athena juga berjalan ke arah dalamnya sambil menahan amarahnya.

Tidak disangka olehnya bahwa sang Ibunda akan menamparnya untuk pertama kalinya. Kecewa, dia merasa sang ibu sudah tidak menyayanginya. Diam-diam Nora melihat kejadian tersebut dari atas, ia tertawa menyaksikan kekacauan yang ada di keluarga ini. Tiba-tiba ponsel Nora berdering, membuat Nyonya Lenny melihatnya, ia buru-buru kembali ke kamar lalu mengunci pintu. Terlihat dari pop-up notifikasinya dimuat,

“Hai, Nora Ashfold.” Ia merasa sedikit heran, "bagaimana orang asing bisa mendapat nomor pribadi milikku? Ah, sudahlah, aku tidak mau ambil pusing." Nora membalas pesan tersebut dengan mengirimkan,

“Hai, orang asing.” Ia menunggu jawaban dari pesan singkat tersebut. Satu jam berlalu, sudah tengah malam Nora masih menunggu balasan. Tanpa disadari, ia tertidur dengan lelap sambil menunggu atas balasan.

Hari telah berganti, Nora terlambat berangkat ke sekolahnya, Ia melihat kearah jam, waktu sudah menunjukkan pukul 7.10, “AKU TELAT.” Nora menatap sinis ke ara Nyonya Lenny, ia berlari keluar rumah.

Saat sampai di depan rumahnya, di dapatinya seorang pria dengan kaos Polo berwarna biru navy dengan paduan celana berwarna beige.

“Nora!” menelponnya. Nora menunjuk dirinya sendiri, menunjuk pada pria yang tingginya lebih tiga puluh sentimeter bahwa dia benar memanggil namanya.

“Ayo masuk, telat.” Tanpa basa-basi Nora langsung masuk ke dalam mobil berwarna hitam yang mengkilap.

Saat dalam perjalanan menuju sekolahnya, Nora hanya diam sambil memandangi gedung-gedung yang sudah biasa ia lewati jika memakai bus.

“Maaf kalo tiba-tiba, aku yang semalam kirimi kamu pesan, Ra.” Kata pria di dekatnya, "Saya Damethier, salah satu pegawai ayah kamu. Sejujurnya saya sedikit terkejut ketika mendengar jikalau Pak Ash sudah berpulang, waktu itu saya masih ada tugas dinas di luar Kota." Lanjutnya. Nora masih ingat, tapi di satu sisi ia terkejut bahwa pria tampan di dekatnya adalah salah satu bawahan ayahnya.

“Oh, ayah orangnya bagaimana, Kak?” Tanyanya dengan penuh rasa penasaran.

“Nanti aja ya, Ra.Nanti pulang sekolah saya jemput, saya yakin tentang beliau.” Nora mengangguk, ia kembali melihat ke arah luar.

Sedangkan Damethier tersenyum, dia tidak menyangka bahwa Nora kini ada di dalam mobilnya. Tak selang berapa lama, akhirnya mereka sampai di sekolah. Nora terlambat satu jam pelajaran, alhasil ia mendapatkan perintah untuk membersihkan toilet sampai jam istirahat.

Stacey melihat Nora sedang memegang pangkuan yang sudah kotor, Nora benar-benar melakukan pelaut, sungguh anak yang baik. Setelah membersihkan seluruh toilet wanita Nora memilih untuk beristirahat di sekitar kantin, karena jika bel berbunyi ia akan langsung membeli sebuah makanan untuk mengisi perut. Untungnya, tak lama setelah ia duduk di meja kantin, bel sekolah langsung berbunyi, ia memutuskan untuk membeli roti kesukaannya dan kembali ke mejanya. Stacey datang ke meja Nora sambil membawa semangkok bakso kesukaannya. Saat hendak bermaksud, tiba-tiba saja Athena datang menghampiri Nora dan Stacey.

“Aku bakalan pulang telat lagi, jangan bilang ke mama.” Ia langsung pergi, kembali ke meja Malvin yang ramai dengan anak lelaki yang banyak masalah.

3.3

                                                                                        lanjut.......

“Loh, tumben banget si Athena bilang gitu.” Heran Stacey sembari menyeruput kuah baksonya.

“Iya, semalem dia pulang telat, kayaknya tepar deh, gatau juga. Pokoknya dia semalem dia digampar sama emaknya sendiri.” Jelas Nora.

“WAAH? HAHAHA.” Stacey yang mendengar hal itu lantas tertawa, lucu sekali drama keluarga ini.

Sekolah hari ini berjalan seperti biasanya, tidak ada hal spesial yang bisa diabadikan pada hari itu selain berangkat bersama seorang pria tampan. Kini Nora sedang menunggu di halte depan sekolahnya, ia berniat untuk menaiki bus, akan tetapi Damethier sudah menunggunya di sebrang jalan. Yang benar saja, seorang Nora Ashfold harus menyebrang jalan raya yang padat akan kendaraan yang berlalu lalang? Nora lalu mengetikkan sebuah pesan di ponselnya yang bertujuan untuk Damethier.

“Kak, aku gak bisa nyebrang. Puter balik kesini.” Damethier yang menerima pesan itu langsung memasuki mobilnya dan mengendarai mobilnya mengikuti arah untuk putar balik. Tak lama ia sampai di depan halte, tepat dimana Nora berdiri. Tanpa basa-basi Nora masuk ke dalam mobil.

“Ayo cerita tentang ayah, Kak.” ucap Nora. Damethier menghembuskan nafas.

“Kamu siap emangnya kalo kita ngungkit cerita tentang beliau?” Tanya Damethier.

“Sebenernya aku enggak siap sih, tapi gak apa-apa. Ayo cerita!” Nora sangat excited karena akan mendengar cerita tentang ayahnya dari seorang karyawan yang sudah dipastikan banyak bekerjasama dengan sang ayah.

“Kita cari makan dulu aja gimana?” Ajak Damethier. Nora hanya mengangguk, menandakan ia setuju untuk makan terlebih dahulu.

Damethier mengajak Nora ke sebuah restoran kesukaannya, ‘Caffè del Corso,’ sebuah restoran yang memiliki nuansa seperti panggangan kue dari Italia, Damethier merasa dirinya yakin dan percaya diri bahwa Nora pasti akan menyukai tempat ini. Mereka memesan beberapa jenis kue dan minuman, seperti pie apel, strawberry milkshake, serta sebuah espreso.

Sudah dapat dipastikan bahwa suasana hati seorang gadis itu menjadi lebih baik daripada sebelumnya. Damethier pun ikut tersenyum ke arah gadis di sampingnya yang sedang menggigit sisi pie apel miliknya, satu suapan tersebut membuat pipinya menjadi seperti bakpau, tanpa berpikir panjang Damethier menyentuh pipinya.

Nora terkejut, pupil matanya membesar, ia mellihat ke arah Damethier sembari mengunyah pie tersebut. Yang ditatap pun membalas tatapan kecil itu sembari memberikan tawa kecil, “lucu sekali, Nora.”

Nora memberikan sebuah senyuman kecil yang canggung, ia menghiraukan Damethier dan memilih untuk melanjutkan menyeruput strawberry milkshake miliknya, setelahnya ia memberikan ekspresi yang mengisyaratkan bahwa minuman tersebut sangat enak, ia mengangkat alis sembari mengacungkan jempolnya pertanda bahwa minuman itu sangat enak. Damethier merasakan sebuah kesenangan dihatinya, ia akan menuju sebuah keberhasilan.

Hari semakin gelap, Nora merasa senang di akhir hari ini sebab ia menghabiskan waktu bersama orang asing, akan tetapi merasa dekat dengannya.

“Jadi ayah tuh orangnya gimana, Kak?” tanya Nora saat dikeheningan dalam mobil yang akan menuju rumahnya.

“Nora, saya cerita besok saja ya? Sudah malam. Besok saya kembali kesini.” Damethier memberikan tatapan sayu dan sebuah elusan dipucuk kepala Nora sebagai tanda permintaan maaf.

Yang dielusnya hanya terdiam, ia tidak merasa risih sama sekali, malahan bisa dibilang Nora merasa nyaman dengan elusan itu. Sudah lama tidak ada yang memberinya sebuah perhatian setelah kepulangan sang ayah.

Terimakasih Nantikan kelanjutanya di episode berikutnya bay bay semua xixix

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play