Happy Reading!
Langit malam tak lagi menampilkan bintang, hanya serpihan debu yang berhembus tertiup angin. Kota ini dulunya hidup-lampu-lampu neon, suara tawa, hiruk-pikuk jalanan. Sekarang, semua berubah menjadi kerangka besi yang terbakar, reruntuhan yang menyimpan cerita kematian.
Gedung-gedung yang dulunya menjulang tinggi, kini terbengkalai-beberapa tumbang bahkan hancur akibat suatu ledakan dahsyat yang nyaris menghancurkan seluruh kota. Ada banyak yang kehilangan orang tersayang, namun banyak pula kelompok-kelompok manusia biasa yang masih bertahan hidup. Dan kondisi ini sudah berlangsung sekitar lima bulan tanpa ada bala bantuan pemerintah.
Dengar-dengar, kota ini diisolasi sementara tanpa ada satupun orang yang boleh keluar atau masuk tanpa ijin dari pemerintah.
Srak, srak!
Di sebuah hutan yang dinaungi gelap, seorang gadis tengah berlari menerobos tumbuh-tumbuhan. Wajahnya tersorot panik sampai tak peduli bajunya yang tertempel banyak daun dan luka lecet akibat tanaman yang tajam. Keringat mengalir deras, jantung berdegup kencang ditambah nafas yang memburu, pikirannya hanya ingin bebas dan kabur dari sekongkolan Metahuman yang tengah mengejarnya.
Karena tenaganya sudah berkurang, kakinya mulai tersandung-sandung batu dan akar pohon. Hingga tak lama kemudian, ia terjatuh di permukaan dedaunan kering dengan nafas yang berat. Gadis itu nyaris putus asa, karena sudah kehilangan banyak energi akibat pertarungan.
Ia merintih, sesekali mencoba bersuara untuk minta tolong, namun hanya suara payau yang mengudara. Sedangkan suara gemerisik dan derap kaki semakin kencang seiring dengan seruan orang-orang yang kian dekat.
Di momen itu, rasa takut, putus asa, dan amarah menyatu di dada. Rasanya kian sesak hingga membuatnya memejamkan mata kasar dengan tangan yang mengepal, mencengkeram dedaunan kering dengan erat. Seketika itu juga, mata gadis itu terbuka, iris cokelatnya berubah menjadi merah menyala bersamaan dengan ekspresinya yang berubah datar.
Ia menoleh, mendapati mereka yang mulai berdatangan-tertawa remeh kepadanya. "Mau kemana, cantik? Kekuatanmu itu keren loh, masa kau tidak mau berbagi sedikit dengan kami?" Kata salah seorang dari mereka yang berjalan paling depan.
Sedangkan Fani hanya menatap mereka dengan tajam. Sejak matanya berubah menjadi merah, kondisi gadis itu berubah menjadi setengah sadar, ia hanya merasa degupan jantungnya memompa energi yang deras ke seluruh tubuhnya hingga memberi sensasi panas di dada seperti amarah yang memuncak.
Bunuh, bunuh, bunuh...
Hanya kata itu yang berdengung di kepala Fani. Namun belum sempat terjadi apapun, tiba-tiba sebuah dinding es mencuat keluar dari tanah dan muncul secara beruntun dari arah samping, memisah Fani dengan orang-orang yang kini meloncat mundur karena jarak yang terlalu dekat.
"Apa-apa'an ini?! Siapa yang-!" Geraman mereka terputus usai menoleh ke arah munculnya dinding es. Di sana terdapat dua orang pria bertubuh tinggi, yang satu bersandar santai di sebatang pohon dan yang lain tengah bertekuk satu lutut menyentuh permukaan tanah yang diembuni es di sekitar tangannya.
"Ada party macam apa ini? Kok asik sendiri." Sindir pria yang bersandar di batang pohon, sementara rekannya beranjak berdiri memandang mereka dengan tatapan tajam nan dingin.
"Apa sih, ikut campur saja. Kenapa? Wanita ini temanmu, hah?" Tantang salah satu orang di antara empat sekongkolannya. "Memangnya kalau teman kenapa? Kalian pasti juga akan melakukan hal yang sama kalau teman kalian diburu, 'kan?" Balas pria berkekuatan es tersebut. Sorot mata birunya yang dingin tertutup sedikit helaian poni, dipadu alis tebal agak curam dan warna kulit putih yang cerah sudah menjadi keunggulan pesonanya.
Di sisi lain, teman di sebelahnya pun juga memiliki pesona yang diidamkan para wanita. Rambut hitam sebahu yang diikat setengah ponytail dengan juntaian poni panjang yang sedikit berantakan dipadu alis tebal hitam, membuatnya terlihat seperti pesona karakter-karakter anime yang baddas.
"Sylas, kalau kita benar-benar mau menyelamatkan perempuan itu, kita harus melakukannya sekarang sebelum terlambat. Lihat, anak itu sudah mulai dikendalikan kekuatannya sendiri," Ucap pria berambut hitam dengan pelan tanpa melepas pandangannya dari Fani yang mulai merintih dikelilingi sihir merahnya.
"Kael, yang benar saja. Di antara kita, hanya kecepatanmu yang mampu membawanya pergi. Cepat lakukan, biar aku urus orang-orang itu." Bukannya langsung diselamatkan, Kael si pria berambut hitam malah ragu di tempat. Pikirannya mulai mempertimbangkan bagaimana ia bisa membawa Fani yang mulai berada dalam fase overpower.
Overpower adalah fase dimana kekuatan dalam tubuh para Metahuman akan bangkit-mengambil alih kesadaran pemilik tubuh guna melindungi sekaligus mempertahankan diri. Hal itu hanya terjadi pada Metahuman yang belum dapat mengontrol kekuatan saat energinya berada di titik terendah.
Mungkin hal itu akan menguntungkan karena sangat membantu untuk bertahan. Namun orang yang tidak bersangkutan pun, kalau berada di sekitar mereka juga bisa terbunuh, disebabkan overpower itu lahir dari amarah dan ketakutan yang bersatu.
Melihat keraguan temannya, Sylas pun menoleh dengan heran, "ayo cepat! Tunggu apa lagi??" Desaknya. Sedangkan orang-orang yang memburu Fani tertawa ganjil, salah satu dari mereka berkata, "apa sih orang-orang ini? Memangnya sekuat apa kalian? Maju dan bertarunglah dengan kami. Kupastikan wajah operasi plastik kalian hancur," Tantangnya kemudian menoleh ke salah satu tim, "Pal, hancurkan dinding esnya!"
Langsung saja, pria tinggi nan kekar itu mengambil ancang-ancang sejenak, sebelum akhirnya berlari kencang dan menikam dinding es Sylas hingga runtuh. Di detik itu juga, Kael berlari layaknya kilatan petir dan langsung membawa Fani dalam gendongannya.
"Bawa perempuan itu pergi! Amankan dia!" Seru Sylas yang langsung dilaksanakan kawannya. Dalam sekali pijakan, Kael terbang meninggalkan pria bersurai silver yang kini menghadapi para Metahuman. Kepergian Fani seketika menyulut amarah sang musuh, matanya kini membelalak dengan seringaian menyeramkan, "dasar orang tua bangka, beraninya merebut aset yang seharusnya milikku..." Geramnya sama sekali tidak membuat Sylas gentar, namun cukup membuat pria itu berpikir karena kata 'aset'.
Alis Sylas mengernyit selagi tangannya terbuka mengeluarkan embun es untuk persiapan berkelahi, "apapun itu, kalian bukannya melindungi satu sama lain, tapi malah membunuh sesama. Metahuman seperti kalian harus disingkirkan." Sylas menekankan kalimat akhir.
Seketika mereka merasa tertantang, situasi kini berubah mencekam, ke empat Metahuman itu mengambil ancang-ancang siap untuk menyerang. "Pal, kau tahan orang itu selagi kita menghancurkannya. Tapi kalau bisa kau remukan, remukan saja."
Sesaat kemudian, Pal berseru, pria besar itu berlari dengan kepalan tangan ke arah Sylas dan menikamnya dari atas. Namun pria itu tak kalah cekatan untuk menghindar hingga pukulannya menghantam tanah bebatuan hingga hancur berkeping-keping.
Sraashh...
Sylas menyemburkan esnya ke tangan Pal sampai beku menyatu ke tanah lalu beralih memijaki tubuh besar lawannya untuk melompat-mengibaskan jarum-jarum es ke tim lawan. "Aagghh!!" Seru mereka, beberapa mendapat luka tusukan, dan sisanya luka gores, "kurang ajar! Orang sepertimu tidak tahu apa-apa. Padahal kami membunuh untuk bertahan hidup!"
Sylas terdiam sejenak, perlahan ia menoleh-menatap musuh-musuhnya yang tengah kesakitan dengan tubuh tertancap-tancap jarum es. "Kenapa? Jangan bilang, kalian Metahuman yang hidup dengan menyerap energi orang lain?" Suaranya terdengar datar nan dingin, "itu sih tidak ada bedanya dengan parasit. Seharusnya kalian tahu diri, di kondisi kota seperti ini, lebih baik korbankan diri sendiri daripada memakan korban."
Krrkk.... Kraakk!!
Pal berhasil menarik tangannya dari pembekuan es. Lalu kembali berseru menyerang Sylas yang memicing dengan sinis. Di detik selanjutnya, pria itu menengadahkan tangan kanannya ke arah Pal, seketika memunculkan duri-duri es dari tanah, menusuk tubuh pria kekar itu hingga tembus mengeluarkan darah segar yang mengaliri es.
Melihat hal itu, tim lawan nampak syok. Tenggorokan mereka seperti tercekat tak mampu mengeluarkan sepatah katapun apalagi kini Sylas berpaling pada mereka. "Sudahlah, kalian ini hanya hama. Ijinkan aku melenyapkan kalian dalam sekejap." Sylas tersenyum miring sebelum akhirnya ia mengerahkan kepalan tangan kirinya yang digerayangi kobaran api biru ke arah mereka.
"A... Api?!" Batin orang itu tak percaya.
Begitu Sylas membuka kepalan tangannya, jarum-jarum es itu berubah menjadi kobaran api, melahap tubuh mereka dari dalam. Sementara Sylas, hanya memandang penderitaan mereka dengan ekspresi datar.
To be continued...
Download NovelToon APP on App Store and Google Play