Hujan turun deras hari itu, Jakarta yang biasanya panas bak neraka bocor, kini ia mulai sedikit mendinginkan dirinya. Langit begitu gelap dengan petir yang terus menyambar menambah suasana kelabu hari itu. Bangunan megah itu berdiri kokoh dan anggun. Siapa yang tidak tahu SMA Kertanegara, sekolah eksklusif untuk kaum kelas atas dan mahasiswa terbaik negara. Sudah banyak nama gemilang lahir dari bangunan megah itu. Mulai dari pelajar terbaik tingkat nasional sampai orang orang penting dibalik gedung gedung pemerintahan.
Seperti normalnya anak SMA di jam kosong, kelas agak berisik hari itu. Ada yang bermain ponsel, ada yang kejar-kejaran di selasar kelas, ada yang memilih untuk belajar, bahkan beberapa memilih untuk tidur saja menggantikan jam tidur mereka yang tersita karena satu dan lain hal. Semua selayaknya hari biasa di SMA Kertanegara. Terutama di kelas itu, 11-A. Mereka mendapatkan kelas kosong dari pelajaran pertama sampai istirahat tadi karena guru yang seharusnya masuk harus pergi rapat entah kemana. Saat asik dengan kekosongan pelajaran itu, tiba-tiba siswa yang berlarian di selasar berlari masuk sambil menyembut satu nama.
“Gawat! Bu Nadia datang!!” Ucap salah satu dari mereka.
Semua isi kelas langsung diam dan duduk dengan teratur. Siapa juga yang berani dengan Bu Nadia. Guru Fisika paling mematikan di seantero SMA Kertanegara, bahkan kepala sekolah saja jiper dengan tatapan maut wanita setengah abad itu. Jangan-jangan hujan turun hari inipun adalah bukti bahkan langit itu ketakutan pada Bu Nadia. Wanita baya itu memasuki kelas dengan bunyi sepatu heels bucherri hitam kebanggaannya. Ia meletakkan buku fisika keramatnya di atas meja. Masih sambil berdiri Bu Nadia berjalan menuju papan tulis.
“Selamat siang, anak-anak. Hari ini sebelum kita masuk ke pelajaran kita Ibu ingin memperkenalkan anak baru yang akan bergabung dengan kelas kalian mulai hari ini.” jelas Ibu Nadia.
Para siswa mulai berbisik satu sama lain penuh rasa penasaran. Siswa baru di pertengahan ajaran, cukup jarang terjadi lebih tepatnya langka. Siapa juga yang mau masuk di sekolah lain di pertengahan semester apalagi untuk kelasan SMA Kertanegara. Jika orang ini tidak super jenius yah anak orang kaya bermasalah yang orang tuanya berharap jika dipindahkan ke sekolah ini akan jadi anak yang lebih baik dan berbagai mimpi kosong lainnya. Motifnya jelas, untuk menutup anaknya dari publik, untuk para siswa di SMA Kertanegara itu sudah jadi rahasia publik saja.
“Eh, menurut lu pada nih, bocahnya bakal cwk apa cwk, nih??” ucap salah satu anak bernama Agam.
Teman sebangkunya Baladewa atau akrab dipanggil Dewa hanya bisa menghela napas sambil menggelengkan kepala. Dia sudah di posisi biasa atau lebih tepatnya maklum dengan sifat tukang gosip sebangkunya itu, yah setidaknya dari sifatnya itu Agam menjadi mahasiswa debat terbaik skala nasional, aneh memang tapi dunia memang bergerak beriringan dengan anomali bukan? Agam melihat ke siswa lainnya menunggu respon atas mosi yang baru saja dia sampaikan.
“Emang bedanya cwk sama cwk apaan dah??” ucap Ipang si pria timur manis.
“Bedalah, cwk is stan por―” belum selesai Chris bicara tangan Dewa sudah dengan ramah menutup mulutnya dengan sigap.
“Diam, sebelum mulut terkutuk lu itu gua robek jadi empat bagian, mau!?? Nilai bahasa indonesia aja lu masih tiga puluh, jangan sok pake inggris deh, telinga gua langsung panas!!” ancam Dewa dengan tajamnya.
“Ebuset, sensi ketua?” timpal Ipang membuat seisi kelas cekikikan menahan tawa.
“Jangan gitu, yang sopan sama Noto Manduro Prabu Bolodewo. Entar dia tereak, koe goblok ko iki!! Jajaran iblis laknat!! Mau lu?” Sindir Agam yang sukses membuat seisi kelas tertawa lepas.
Dewa hanya me-rolling eye sambil kembali ke bukunya. Sementara itu Ibu Nadia cuma bisa geleng-geleng kepala dengan kelakuan siswa-siswanya ini. Setelah semua kembali kondusif sang guru menatap ke pintu terbuka sambil tersenyum.
“Abigail, ayok masuk dan perkenalkan diri, nak.” ucap Bu Nadia ramah.
Kelas hening, semua mata terpaku pada pintu terbuka itu dan serius. Tidak ada yang masuk bahkan sampai menit kedua. Ibu Nadia mulai mengernyitkan dahi dan berjalan ke pintu hendak menyampari anak yang dia panggil tadi namanya. Sembari sang guru hilang salah satu siswa bernama Asmara membalikkan badan dan menatap ke belakang karena kursinya ada di depan.
“Namanya Abigail, berarti―” belum sempat Asmara melanjutkan omongannya dengan cepat Ipang memutusnya.
“Berarti bocahan laki yang total anak badung, udah apaan lagi? Ngapa coba dia pindah tengah semester? Kalo gak pinter kebangatan yah badung udah,” ucap Ipang.
“Satu-satunya jawaban masuk akan yang pernah keluar dari mulut bocah jaktim ini, seorang Ipang Giordani… Wow… Amazing…” sarkas Agam.
“Cih, jangan ragu jangan bimbang sayang. Abang Ipang akan selalu logis dan masuk akal. Apalagi untuk adik Asmara yang cantik bagaikan malaikat sur―” Ipang baru saja ingin gombal saat Bu Nadia akhirnya kembali.
Wanita setengah abad itu datang sambil menjewer anak tinggi potongan two block. Asmara langsung menatap dengan cahaya di matanya lalu melihat ke arah Ipang.
“Sorry dear, tapi kayanya dia lebih menarik.” ucap Asmara lalu menatap ke depan lagi.
Ibu Nadia masih memarahi anak itu yang terus menatap kebawah dan cengengesan. Entah apa yang terjadi di luar kelas sebelumnya sampai Ibu Nadia memasang wajah masam level lima itu. Sementara itu ada Ipang yang langsung membuat wajah masam sambil memain mainkan seragam Chris, pria itu hanya bisa menggekengkan kepalanya melihat temannya berlagak tantrum. Di depan kelas ada Ibu Nadia yang masih cerewet ke Abigail si siswa baru.
“Kamu ini! Bisa-bisanya!! Enggak punya mulut kamu buat minta izin, Abigail?” Ibu Nadia mencak-mencak.
“Maaf sekali ibu. Saya tadi sudah tidak tahan, masa saya tidak langsung ke kamar mandi? Nanti saya kelepasan di celana saya ibu mau membantu membereskan?” balas Abigail dengan wajah polos dan aksen bahasa indonesia yang sedikit aneh, lenih mirip bule yang mencoba berbahasa Indonesia.
“Kamu ini yah, bener-bener!!” ucap Ibu Nadia sambil menjewer telinga Abigail lebih keras sampai dia meringis lebih kencang.
Sebenarnya yang terjadi tadi adalah, Abigail memang menunggu di depan kelas. Lalu tiba-tiba ia merasa ingin ke kamar mandi, tak tahan akhirnya ia memilih lari dan meninggalkan tempatnya berdiri kemudian ngibrit ke kamar mandi. Ibu Nadia mencarinya sekitar sepuluh menit hanya untuk menemukan dia via anak yang tidak sengaja lewat dan bilang melihat Abigail masuk ke kamar mandi.
Abigail habis dijewer Ibu Nadia di depan kelas sebelum akhirnya wanita tua itu menghela napas dan menatap ke seisi kelas.
“Yasudah, kamu kenalkan diri kamu keteman-teman kamu, baru hari pertama kamu udah mengurangi umur ibu setengah.” dengus Ibu Nadia lalu ia duduk ke bangkunya di sudut kanan kelas.
Abigail hanya menghela nafas sembali mengelus-elus telinganya yang sudah merah parah. Bagaimana tidak, Ibu Nadia menjewer tanpa ampun sama sekali. Kemudian Abigail berdiri tegap di depan kelas. Ia tinggi dengan wajah cukup tampan, tatapan matanya tajam serta potongan taper fade. Belum lagi rambut blonde alami itu, berbeda sekali dengan warna pirang mainan anak nakal sekolah pada umunya. Dan mata biru yang mempesona. Abigail menatap ke semua anak di kelas dan mendehem sebelum mulai bicara.
“Halo, selamat pagi semuanya! Saya Abigail, Abigail Sadana Nanendra. Senang berkenalan dengan kalian semua.” ucap Abigail lugas.
Semua mata tertuju padanya, aksen bahasa indonesia bule itu cukup menarik perhatian. Namun bagi Abigail bukan tatapan dan bisikan itu yang membuatnya tersenyum. Namun cerita menarik apa yang akan datang kali ini.
“запах приключений” bisik Abigail pada dirinya sendiri.
Bunyi sepatu tinggi itu terdengar di selasar, berlari, dan langkah yang cukup berat. Membawa berita buruk sudah pasti, atau sekumpulan gosip dan uneg-uneg, tidak mungkin meleset. Ia masuk ke sebuah ruangan, terengah, menatap tajam ke arah orang yang duduk di dalam ruangan itu. Orang itu masih asik mengetik dan fokus ke layar komputernya. Jemari orang itu tidak berhenti mengetik dan matanya mengarah lurus ke laptop, tidak berkedip sama sekali, terlalu fokus. Di telinga orang itu terpasang earphone, Tuhanlah yang tahu seberapa kencang suara musik yang sedang dia putar hingga ia tidak mendengar wanita yang berlari barusan masuk ke ruangannya. Hingga akhirnya wanita itu menarik kabel earphonenya.
“Damn Abi!?!! Should I use the speaker now??” ucap wanita itu.
Abi terdiam menatap wanita itu, tingginya wanita itu seratus lima puluh dua kotor tambah aksesoris dan rambut ombak paripurna ke kanan itu. Wanita itu mengenakan kemeja putih dan blazer abu serta rok span selutut dengan warna senada. Tidak lupa stoking hitam dan heels hitam kinclong itu, jika saja heels itu bisa berteriak mungkin ia akan bilang, menyala polesku! Atau apalah agar tidak terlalu apa sekali. Wanita itu asik mengomel saat Abi hanya menatapnya mendengarkan tidak memotong sama sekali. Setelah asik mengomel dan berceloteh wanita itu akhirnya menghela nafas dan diam menatap Abi.
“Sudah selesai yappingnya, Hanna?” ucap Abi lembut.
“Sudah…” balas Hanna sambil menundukkan kepalanya.
“Baik, kalau begitu duduk dulu dan mari dengarkan satu satu ocehan lu itu.” ucap Abi sambil menunjuk ke kursi yang ada di hadapan mejanya.
Sembari menunggu Hanna duduk dengan tenang Abi menuangkan kopi dari mesin kopi di ruangannya itu dan memberikannya kepada Hanna.
“Thanks” ucap Hanna.
Ia hanya mengangguk dan kembali menunggu Hanna berbicara. Wanita itu masih menyeruput kopi panas itu, berusaha menenangkan diri dan menata pikiran serta bahasa yang akan diutarakan. Tahu betul dirinya saat Abi sudah di mode melogikakan segala hal, ia dan otak lurusnya itu. Terkadang Hanna kagum dengan pemikiran yang terlalu lurus itu.
“So, hari ini Pak Bram itu minta tolong ke gue. He said and I quote, Hanna siapin dokumen administrasi bulan ini yah, pak CEO mau datang mulai inspeksi.” ucap Hanna mulai menjelaskan.
Ia menatap ke Abi berusaha menemukan sanggahan atau respon apalah itu darinya. Namun Abi hanya menatap dirinya menunggu wanita itu melanjutkan omongannya. Jadi Hanna menarik napas untuk menjelaskan lagi.
“Pak Bram udah gue tanya berkali-kali untuk konfirmasi. Pak, laporannya cuma laporan administrasi bulan ini saja kan? Lalu Pak Bram jawab iya. Nah, gue tanya lagi. Pak maaf, laporan administrasi semua divisi atau hanya divisi administrasi saja, pak? Pak Bram jawab lagi, CUMA divis administrasi saja. Gue konfirmasi lagi kedua kali dan jawabanya masih sama, CUMA DIVISI ADMINISTRASI DOANG. Gue kerjain lah itu laporan sebanyak itu. Did you know what he say?” tanya Hanna mulai emosi.
“Coba gue tebak, lu salah dan pak Bram maunya data administrasi SEMUA divisi. Dan lu kena semprot dua belas SKS bersama pak Bram.” jawab Abi dengan wajah masih datar.
Jawaban Abi itu hanya membuat Hanna menghela napas dan tertunduk. Ia menatap ke bawah dengan wajah pasrah sembari menyeruput kopi itu. Itu kopi hitam dan memang pahit, namun semakin pahit dengan respon Abi.
“Lu udah kerja bareng pak Bram dari dua tahun lalu, dan hal ini enggak sekali dua kali, Hanna. Gue bangga dengan two times confirmation mu itu. Namun antisipasi akan mempermudah hidupmu Hanna.” jelas Abi.
“Damn you and your damn logic. Ugh!! I hate talking to you, but you are the adult for another adult.” maki Hanna sambil mengeleng-geleng kepala dan menghela napas kasar.
Abi hanya memasang senyum pasrah, satu kata lagi dari mulutnya dan heels kebanggaan Hanna itu mungkin akan bersarang di kepalanya dalam dua menit setelah dia mengucapkan satu kata setelah ini. Ia kemudian mengecek ponselnya, pukul dua belas lewat satu siang, ia melihat Hanna. Wanita itu menghela napas lalu menatap balik Abi.
“GoFood. Nasi campur Bu Lia.” ucap Hanna tanpa basa-basi.
Ucapan itu kini membuat Abi yang menghela nafas. Nama makanan itu lagi, dalam satu minggu Hanna bisa makan nasi campur itu enam sampai delapan kali. Entah apa yang membuat makanan itu spesial Abi pun tidak mengerti, ia hanya bisa menghela nafas dan memesan makanan. Namun tentu saja Abi memesan untuk dirinya dari tempat makan lain. Setelah menunggu agak lama makanan datang. Abi turun ke lantai satu untuk menerima makanannya. Saat sampai di lobby Abi melihat beberapa orang berkerumun seperti menunggu sesuatu. Namun ia terlalu lapar untuk bertanya dan terlalu tidak kepo untuk ingin tahu.
Setelahnya Abi masuk ke dalam lift dan naik ke lantai tempat ia bekerja. Berjalan beberapa saat sebelum ia sampai di meja miliknya lagi. Hanna masih asik dengan ponselnya entah apa yang begitu menarik di grup chatnya itu. Ia menyodorkan makanan ke Hanna lalu mulai makan miliknya. Saat asik makan secara tiba-tiba Hanna menggebrak meja membuat Abi menjatuhkan telurnya kembali ke kotak makanannya. Abi menatap Hanna dalam kebingungan dan tentu saja panik serta sedikit marah.
“Girl?!! Do you have to slam the table like that? What is wrong with you?” ucap Abi dengan nada sedikit tinggi.
Hanna memberi senyum cengengesannya itu, agak canggung dan sedikit takut. Wanita itu tahu betul bagaimana sifat Abi dan tentu saja responnya saat ini sedikit berlebihan. Ia tidak banyak bicara dan hanya menunjukkan layar ponselnya pada Abi. Itu adalah laman percakapan kantor, Abi membaca namun tetap tidak mengerti.
“Enlighten me, please?” pinta Abi dengan wajah bingung.
“Tadi pas lu turun ke lobby emang enggak liat?” tanya Hanna sembari mengernyit.
“Liat apaan??” Abi juga ikut mengernyit.
“Dibawah emang enggak rame apa?” tanya Hanna kembali.
“Lumayan sih, emang kenapa?” ucap Abi mengingat kembali keramaian di lobby yang ia pilih untuk dilewatkan karena dia lebih peduli pada makan siangnya dibanding gosip kantor yang kadang kala tidak terlalu penting untuk diketahui apalagi dicari tahu.
“Dih, lu mah suka gitu. Gak asik emang manusia kek lu! Hari ini tuh katanya bapak presdir mau dateng. Buset, menurut lu nih… Orangnya bakal kayak apaan yah?” jelas Hanna sambil berandai-andai.
“Tua, pendek, botak, mungkin sekita enam puluh lima persen cabul,” jelas Abi sambil kembali menyantap makan siangnya.
Hanna hanya bisa menghela napas. Bila ia mulai mendebat omongan tersebut apalagi saat Abi sedang lapar, yang ada dia yang kena semprot dengan data, paper, dan jurnal. Lebih horor daripada angan-angan dangkal sahabatnya itu.
“Jangan suka spekulasi jelek dasar lu sialan! Kebanyakan nonton drama korea lu!” sentak Hanna.
“I’m telling by fact in the field, sweetheart.” ucap Abi sambil menyuapkan suapan terakhir makanannya.
Hanna ngedumel dalam hati sementara Abi memilih tidak terlalu memberikan respon yang terlalu berlebihan. Hingga tiba-tiba suara ketukan pintu mengalihkan dua orang itu. Berbarengan mereka melihat ke pintu. Di sana ada pria tinggi dengan wajah tampan dan rambut rapi berdiri tegap di sana. Mata Hanna terbelalak sementara Abi mengernyitkan dahi.
“You??” ucap Abi dan Hanna berbarengan dengan nada yang cukup berbeda. Saat Hanna panik, Abi lebih menunjukkan respon kesal.
“Nice to meet you again, Abi”
Siang itu, di jam istirahat, anak-anak SMA Kertanegara dengan kesibukan mereka masing-masing. Ada yang pergi ke kantin, ada yang makan di dalam kelas karena membawa bekal, beberapa ada yang belajar, hingga mengejar mengerjakan tugas untuk kelas selanjutnya. Diantara semua pilihan yang ada, Abigail terdiam di bangkunya. Anak baru, tidak tahu apa-apa, dan belum mengenal sekolah sebaik itu. Benar-benar dirinya tidak tahu harus kemana dan bagaimana, hanya duduk diam di bangkunya pura-pura membaca buku dan earphone tercantol manis di kedua telinganya. Semua beubah ketika para gadis-gadis mulai mendekati bangkunya. Ada yang langsung duduk di bangku yang ada di sampingnya, ada yang meraih bangku terdekat dan berusaha duduk dekat dengan dirinya dan sisanya hanya berdiri sambil menatapnya dengan tatapan yang menurutnya cukup aneh. Belum lagi senyum dan cengengesan tidak masuk akal ini.
“Hi Abigail, lu asal mana?” ucap salah satu dari mereka.
“Asal rumah.” jawab Abigail singkat.
“Abigail, namalu keren tapi gue boleh panggil Abi gak??” seorang langsung ngerocos cepat.
“Enggak. Emang gue bapak lu?” tanya Abigail dengan mata masih membaca buku di hadapannya.
“Abigail lu pindah ke sini karena apa?” tanya yang merasa pertanyaanya lebih baik.
“Privasi, enggak semua hal harus diumbar untuk umum.” balas Abigail.
“Abigail lu ganteng banget sih! Udah ada yang punya belum?” ucap lainnya membuat suasana makin riuh saja.
Entah apa yang membuat para gadis ini tertawa malu-malu dengan pertanyaan yang hanya membuat Abigail menghela napas saja. Di sisi lain para anak laki-laki yang duduk di pojokan hanya bisa berbisik-bisik saja, Tuhanlah yang tahu apa yang mereka bicarakan disana. Namun dari picingan mata mereka sudah pasti tidaklah cukup baik. Sementara itu kembali ke Abigail yang masih harus mendengarkan cekikikan dan tawa aneh para gadis-gadis ini. Saat mereka akhirnya mulai menenang Abigail angkat suara lagi denga nada yang masih sama.
“Punya Tuhan.” balas Abigail dingin.
Semua gadis-gadis itu berusaha menarik perhatian Abigail, namun ia hanya membaca buku dan menanggapi mereka seperlunya, sama sekali tidak menunjukkan ketertarikan akan topik apalagi terlihat tertarik barang seupil saja. Hingga salah satu yang mendekat adalah gadis yang cukup korean style. Rambut panjang sepinggang dengan headband putih melingkar manis di kepalanya. Dari tatapan gadis-gadis lainya bisa terlihat jelas bahwa gadis headband putih ini adalah gadis populer. Gadis yang semula duduk di samping Abigail langsung dengan sigap berdiri dan pindah saat mata gadis populer itu memicing. Gadis populer itu duduk di samping Abigail lalu memberikan signal tangan membuat gadis-gadis lainnya langsung menghela napas pergi menyisakan Abigail bersama dengan gadis populer ini dan tiga gadis yang sepertinya satu genknya atau malah antek-antek. Sungguh kehidupan remaja yang ramai. Gadis itu duduk makin dekat dengan Abigail, membuat Abigail dengan masih fokus ke bukunya menggeser bangkunya menjauh. Gadis populer itu masih tersenyum meski harga dirinya agak retak sedikit, kemudian ia berusaha mendekat lagi pada Abigail.
“Hi, gue-” belum gadis itu menyelesaikan omongannya Abigail langsung menghela napas dan menatapnya langsung di matanya. Gadis itu terdiam total dengan mata terbelalak, Tuhan tahu seberapa kencang jantung gadis itu berdegup saat ini.
“To the point, please. I already have enough with nonsense question. Thank you.” ucap Abigail dengan tatapan mulai kesal.
Namun tatapan itu hanya membuat gadis populer dan antek-anteknya malah makin senyum-senyum tidak jelas. Abigail hanya mampu melakukan gerakan rolling eye kemudian kembali ke bukunya.
“Gue Asmara, Ni Komang Asmara Sari. Dan lu, mau jadi pacar gue?” ucap Asmara dengan seringai lembut di wajahnya yang cantik itu.
“Enggak.” ucap Abigail cepat.
Abigail lalu berdiri, matanya melihat sekeliling kelas sampai ia berhenti ke gadis yang duduk tepat di belakang bangkunya. Gadis culun dengan kacamata tebal dan rambut dikepang satu duduk di sana sambil mengerjakan buku yang sepertinya buku matematika. Abigail diam sebentar sebelum menarik tangan gadis itu dan menariknya keluar kelas. Di selasar kelas Abigail berhenti lalu melihat ke belakang menatap gadis itu, ia tampak syok ditarik oleh Abigail tanpa aba-aba.
“Sorry,” ucap Abigail lembut sambil melepas tangan gadis itu, dan dibalas anggukan olehnya.
“Eh… Gue boleh nyusahin lu enggak? Oh! Gue Abigail, panggil gue senyaman lu aja. Boleh tunjukin gua kantin dimana enggak? Nanti gue bayarin bakso deh.” pinta Abigail sambil tersenyum.
Gadis itu masih diam sambil menatap Abigail seolah tidak percaya. Ada gambaran rasa syok di wajah gadis itu.
“B-boleh, enggak usah di traktir bakso juga gapapa. G-gue… Gue Hanna,” ucap Hanna lembut lalu berjalan duluan memandu Abigail.
Abigail tersenyum lembut, gadis itu terbilang cukup manis. Meski dandanannya agak culun tapi dia bisa terbilang imut. Ia berjalan di samping Hanna, selama perjalanan ke kantin mereka berbincang-bincang. Abigail banyak bertanya pada Hanna soal sekolah ini dan beberapa hal lainnya yang kalo gue ketik semua kita bukan bikin novel tapi buka lambe turah aja lebih asik kayanya (hehe #writer). Setelah berjalan hampir delapan menit mereka sampai di kantin. Keadaanya, yah seperti keadaan kantin sekolah elit lainnya. Sangat rapi dengan meja meja dan makanan prasmanan tertata rapi seperti sekolah luar negeri. Ada beberapa vending machine juga di sana untuk minuman dan makanan ringan sampai berat.
Hanna menjelaskan bagaimana memesan dan alur makanan kantin, serta beberapa meja kantin yang boleh dan tidak boleh didudukin asal. Hanna masih menjelaskan dengan baik hingga tiba-tiba pintu kantin ditendang, membuat sekumpulan anak laki-laki yang sepertinya pembuat onar sekolah masuk berbarengan. Semua siswa langsung menyingkir dari jalan mereka. Sementara itu di sudut lain ada Abigail yang menatap bingung. Ia melihat ke arah Hanna dan mulai berbisik.
“Itu bukannya anak-anak kelas kita? Gua ingat banget itu ada Baladewa, Agam, Ipang, Christian, sisanya gua gak tau. Apalagi itutuh yang berdiri di depan mereka semua, dia siapa??” tanya Abigail.
“Itu Azrael.” jawab Hanna.
“As the archangel??” tanya Abigail memastikan dan Hanna mengangguk.
“And literally that one I guess…” bisik Hanna dengan nada seram.
“Damn, itu berlebihan sih. Masa malaikat maut?!” bisik Abigail tidak percaya.
“Yah enggak lah, sifatnya doang. Jabatannya di sekolah ini cukup serem, PANGLIMA GARUDA!” bisik Hanna dengan mata terbelalak.
Abigail mengernyit, hampir saja ia kelepasan tertawa. Siapa juga yang menberikan nama panglima garuda itu, memangnya Azrael ini pahlawan nasional atau semacamnya. Agak kocak saja walau jabatan itu lumayan berkelas.
“Pokoknya peraturan nomor satu dan utama adalah jangan ganggu mereka,” ucap Hanna dengan nada agak tegas.
“Lah why? Memang mereka siapa?” Abigail mengernyit bingung kali ini.
“Genk Garuda…”
Download NovelToon APP on App Store and Google Play