English
NovelToon NovelToon

Dormant: Fracture

Hari Tanpa Pertanda

Cahaya pagi menembus celah tirai kamar Evan, terlalu terang untuk hari yang seharusnya biasa.

Evan terbangun, mengusap matanya perlahan. Cahaya dari balik tirai membuatnya menyipit, pertanda pagi sudah datang lebih cepat dari yang ia harapkan.

"Ah.. pagi lagi," gumamnya pelan.

Ia beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi, bersiap menghadapi rutinitas yang sama seperti hari-hari sebelumnya.

Selesai bersiap, ia melangkah keluar dari kamarnya dan berjalan ke arah dapur. Gemercik dari sana seolah memanggilnya untuk segera menghampiri.

Saat ia tiba, wewangian masakan menyambut hidungnya. Kehangatan ruangan itu berpadu dengan senyum ayahnya yang tengah merapikan hidangan di meja.

"Sarapan sudah siap,"

Ayah meletakan piring diatas meja.

"Ayah, masak apa hari ini?.." tanya Evan sambil mendekat.

"Makanan favoritmu, Nasi goreng."

Evan tersenyum kecil.

Ia menarik kursi dan duduk, mengambil peralatan makan sebelum mulai melahap hidangan di depannya.

Ayah pun ikut duduk di seberangnya, menemani sarapan pagi dalam keheningan yang hangat.

Setelah selesai, Evan segera meneguk air minum dan berdiri, lalu pamit ke ayahnya untuk berangkat ke sekolah.

"Ayah, Aku berangkat dulu."

Ayah pun mengangguk, sembari Evan menyalaminya sebelum berangkat.

Ia mulai melangkah, berjalan ke sekolah seperti rutinitas nya setiap hari. Rumahnya tidak terlalu jauh dari sekolah, jadi ia memilih berjalan kaki sekaligus menikmati udara segar di pagi hari.

......................

Sesampainya di gerbang sekolah, Teman sekelasnya menyapa dari kejauhan dan mulai menghampiri nya.

"Hei bro, tumben datang awal." kata Raka, temannya.

"Kan memang selalu awal, haha." jawab Evan sedikit usil.

Mereka pun lanjut berjalan memasuki gedung sekolah bersama.

Sekolah masih terasa sepi, hanya beberapa siswa saja yang sudah sampai ke sekolah. Suasana nya masih terasa sejuk.

Tak lama, mereka sampai ke kelas. Pintu kelas masih tertutup rapat tetapi anehnya lampu di dalam kelas sudah menyala terang terlihat dari sela jendela kelas.

"Sudah ada orang di dalam ya?" ucap Evan.

"Tapi lampunya nyala tuh, ayo kita langsung masuk saja." jawab Raka sambil membuka pintu kelas perlahan.

Mereka terkejut melihat seseorang di meja sudut paling depan, orang itu terlihat sedang sibuk membaca suatu buku bahkan tidak mempedulikan kehadiran mereka yang baru saja memasuki kelas.

"Itu Theo kan?," ucap Evan, dengan heran.

"Memangnya siapa lagi yang mau datang pagi pagi buta cuma buat belajar kalau bukan dia?" Jawab Raka, dengan nada sedikit tersinggung dan kesal.

"Ah sudahlah."

Raka langsung pergi ke meja nya untuk menyimpan ransel nya, sedangkan Evan menghampiri Theo yang sedang sibuk membaca.

Evan mendekat pelan.

"Theo, lu datang pagi banget.. kenapa lu nutup pintu kelas rapat amat kalo lo sudah didalam?" Evan merasa janggal.

"Oh gausah hiraukan, gw cuma gamau diganggu." ucapnya tenang.

"Bener? cuma itu aja??"

"iya."

"Baiklah kalau gitu, gw dan Raka mau kedepan teras kelas sambil nunggu upacara. Lu gaakan ikut?"

"duluan aja, nanti gw nyusul."

Setelah bercakap dengan Theo, Evan dan Raka pun meninggalkannya di kelas dan beranjak ke teras kelas sembari menunggu upacara dimulai.

Seiring berjalannya waktu, sekolah mulai terasa ramai karna murid murid mulai berdatangan. Diiringi dengan bel yang mulai berbunyi menandakan upacara akan segera dimulai.

Semua murid pun menjalani rutinitasnya seperti biasa, begitupun upacara yang berjalan lancar. Hingga matahari mulai semakin tinggi dan seluruh siswa kembali ke kelasnya masing-masing.

Pagi itu, kehidupan Evan berjalan dengan biasanya seperti hari hari sebelumnya. Namun sedikit yang ia sadari, bahwa pagi itu adalah pagi terakhir sebelum dunianya berubah.

Sunyi di Tengah Keramaian

Pagi masih berlanjut, langit pagi masih cerah tetapi suasana sekolah terasa berbeda. Bukan sepi bukan juga ramai, hanya terasa.. bergeser sedikit.

Seluruh siswa memasuki kelas nya masing masing setelah upacara, termasuk Evan dan Raka yang sudah masuk ke kelas lebih dulu.

Hari itu berjalan seperti biasa, namun Evan merasa hari itu berjalan lebih lambat dari biasanya. Bukan karna pelajaran yang membosankan, melainkan sesuatu yang tak bisa ia jelaskan.

Istirahat pun tiba, koridor sekolah seketika ramai dan dipenuhi oleh suara kaki dan obrolan siswa. Evan yang saat itu masih dikelas mengajak Raka untuk pergi ke kantin.

Evan menghampiri meja Raka

"ayo ke kantin, gw lapar nih."

"yaudah iya, sabar." jawabnya sembari sibuk merapikan bukunya.

Mereka pun mulai melangkah menuju kantin, sebelum keluar kelas Evan menoleh ke arah Theo yang masih sibuk membaca buku.

"Theo gaakan diajak?"

"palingan nanti juga ngikut kalau dia lapar, biarin aja. Dia pun keliatan sibuk sendiri tuh."

Dengan sedikit ragu Evan pun mengangguk dan akhirnya pergi ke kantin bersama Raka. Sesekali mereka menghindari siswa yang berlalu lalang, karna suasana yang selalu ramai saat jam istirahat.

Sesampainya di kantin, mereka mulai membeli makanan yang mereka inginkan. Evan membeli minuman dan Raka membeli makanan untuk mengganjal perutnya.

Saat hendak mengambil minum, Evan tanpa sengaja menyenggol botol di meja. Botol itu hampir jatuh, namun berhenti sesaat di tepi meja sebelum akhirnya jatuh ke lantai.

Evan terdiam sejenak.

"Barusan.. Lo lihat nggak?" tanyanya pelan.

"Hah, lihat apa?" Raka sudah sibuk membuka bungkus makanan nya.

Evan menoleh ke botol itu, cairan nya sudah menggenang seperti biasa.

"Ah mungkin perasaan gua aja," gumamnya, lalu duduk tanpa membahas nya lagi.

Mereka pun menyantap makanan mereka sembari mengobrol singkat si kantin.

Setelahnya mereka kembali ke kelas tepat sebelum bel masuk berbunyi.

Kegiatan belajar mengajar pun berlanjut, Evan fokus pada materi yang diberikan oleh gurunya dan mengerjakan tugasnya satu per satu hingga selesai. Tetapi, tiba tiba lampu kelas berkedip dan padam.

Evan menoleh ke atas, memperhatikan lampu kelas.

"Mati lampu ya?.."

Setelah itu, ia menoleh ke arah jam yang terpaku di dinding. Ia terkejut karena jam tersebut ikut berhenti bergerak.

Suara siswa di kelas seketika memenuhi ruangan.

Evan sempat melirik Theo di belakangnya, ternyata ia juga sempat melihat jam yang berhenti bergerak, Namun sikapnya tetap tenang.

Evan ingin bertanya, tetapi ucapnya terpotong oleh

guru yang sedang mencoba menenangkan siswa siswa lain, Karena itu Evan memilih untuk bertanya kepada Raka yang duduk tak jauh dari meja nya.

"Raka, memangnya listrik terhubung sama jam juga ya.. bukannya pakai baterai?" ucapnya pelan.

"Maksud lu apaan?, emangnya ada yang berubah sama jam?"

Evan menunjuk menggunakan jari telunjuk nya kearah jam.

"Itu-"

Namun sebelum Raka melihatnya, lampu kembali normal dan menyala seperti semula. Begitupun dengan jam yang sebelumnya mati.

"Gaada apa apa tuh sama jam nya, aman aja."

jawab Raka, dengan bingung.

Evan terdiam. Ada sesuatu yang terasa janggal, namun ia tak menemukan kata yang tepat untuk menjelaskannya.

Sesudah kejadian itu, pembelajaran dilanjut kembali karena situasi yang sudah aman dan memungkinkan. Tetapi Evan merasa sedikit pusing dan juga fokusnya berkurang setelah itu.

Tak lama setelahnya, Evan selesai mengerjakan tugasnya. Ia melirik jam sekali lagi, terlihat bahwa jarum jam sudah mendekati bel akhir sebelum pelajaran berakhir. Itu membuat Evan heran karena ia yakin belum satu jam berlalu sejak ia mulai mengerjakan tugasnya.

Beberapa saat kemudian, bel akhir pun berbunyi menandakan akhir dari kegiatan belajar hari ini. Seluruh siswa mengemas kembali barang barang mereka dan bergegas untuk pulang ke rumahnya masing masing, Termasuk Raka dan Evan.

Evan pun menghampiri Raka yang akan bergegas

"Raka, lu gaakan pulang bareng sama gw?,"

"lu duluan aja, gw ada eskul hari ini." sautnya.

Evan mengangguk pelan sebelum Raka pergi meninggalkan nya, ia menyadari bahwa hanya ia siswa yang masih berada di kelas. Sebelum melangkah untuk pulang, ia melirik ke bangku Theo yang kosong sesaat sebelum akhirnya memilih untuk pulang.

Sembari berjalan, kejadian kejadian yang terjadi sebelumnya memenuhi isi pikiran Evan. Begitupun dengan Theo.

"Tak biasanya Theo pulang lebih cepat. Apa dia sakit ya?,"

"ah sudahlah.." gumamnya pelan pada dirinya sendiri.

Evan pulang dengan satu perasaan yang sama sejak pagi, dunia ini terasa berjalan terlalu cepat. Dan entah kenapa, hanya dia yang menyadarinya.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play