Disuatu pagi yang cerah terdengar suara dentingan sendok dan piring yang disebabkan oleh suatu keluarga yang terbilang harmonis menurut kacamata masyarakat. Sarapan sederhana buatan sang ibu yang sangat begitu lezat dinikmati oleh seluruh keluarga Jung.
Hening, tak ada yang berani membuka suara terlebih dahulu. Hawa dingin selalu menyelimuti keluarga tersebut. Sang kepala keluarga Jung yang merupakan pimpinan utama direktur sekolah swasta terbaik se-Korea, dan sang ibu yang merupakan Kepala Sekolah dibawah naungan sang suami.
Sang kepala keluarga bernama lee Yunho dan sang ibu bernama Kwon Boa. Mereka dikaruniai 3 anak laki laki, yang pertama bernama Lee taeyong, dan anak kembar bernama lee Jeno dan lee Jaemin.
Keluarga yang dingin itu semakin dingin saat sang kepala keluarga mengetahui bahwa anak kembarnya selalu berbuat onar disekolah, membully setiap murid disana, terlebih murid berbeasiswa. Murid yang mengikuti program beasiswa disekolah menjadi sasaran empuk bagi Jeno dan Jaemin.
Sang ibu yang menduduki jabatan sebagai kepala sekolahpun tak bisa lagi menutupi kenakalan anaknya dari ayah mereka. Sudah 2 tahun lebih mereka merudung setiap murid. Karena sudah lelah meladeni anak kembarnya disekolah, Boa melaporkannya pada suaminya semalam.
Jeno dan Jaemin pun langsung mendapatkan hukuman setelah Boa memberitahu suaminya. Dan hari ini akan menjadi hari tersial bagi Jeno dan Jaemin, karena semua fasilitas mereka disita. Dimulai dari kendaraan pribadi mereka, hingga kartu kredit yang menampung uang saku mereka. taeyong sebagai kakak mereka merasa prihatin pada kedua adik kembarnya, tapi ia sendiri tak bisa berbuat apa apa selain melihat adik kembarnya dihukum dan ikut mendengarkan ceramah sang ayah.
"Kalian berangkat akan diantar jemputkan oleh supir yang sudah ayah tunjuk !" Ucap Yunho yang sukses membuat anak kembarnya menganga dan menatap tajam sang ayah. "Tidak bisakah kak taeyong saja yang mengantar? Kenapa harus memanggil supir?!" Jawab Jeno.
"Kakakmu sibuk. Dia harus fokus pada ujiannya kali ini! Dia tak punya waktu untuk mengantarkan anak nakal seperti kalian!"
"Kami tidak mau kalau bukan kak taeyong yang mengantar!" Kini giliran Jaemin yang bersuara.
Yunho menggebrak meja makan membuat anggota keluarga lainya tersontak kaget "BERHENTI MEMBANTAH!! Kakak kalian harus fokus pada kuliahnya yang akan selesai!! Kakak kalian tak mempunyai waktu untuk mengurusi adik nakal seperti kalian!!"
"Pokoknya hari ini kalian diantar oleh supir! Dan taeyong, sebaiknya kau segera pergi agar adikmu tak merengek padamu!"
Yunho pergi meninggalkan keluarganya diruang makan menuju ruang kerjanya. Sang ibu, Boa menatap iba kedua anak kembarnya dan pergi menyusul sang suami. taeyong yang duduk ditengah tengah antara Jeno dan Jaemin hanya dapat mengelus lembut pundak adiknya.
"Kalian sebaiknya menuruti apa yang ayah katakan dulu. Kalian tahu sendirikan, perintah ayah itu mutlak, tak bisa dibantah dan diganggu gugat." Ucap taeyong berusaha menenangkan adiknya.
taeyong selalu menjadi tempat bersandar untuk kedua adiknya jika mereka dihukum atau dimarahi oleh Yunho. "Tapi kak, supir yang ayah pilih itu... Mereka semua menyebalkan. Tidak ada celah bagi kami untuk kabur dari mereka" rengek Jaemin.
"Benar, mereka seperti penculik!" Tambah Jeno. taeyong ingin tertawa rasanya mendegar keluhan kedua adik kembarnya. "Makanya, kalian jangan macam macam dengan ayah, lagipula kenapa kalian merudung murid yang tidak bersalah pada kalian?"
"Itu karena mereka tak pantas bersekolah disekolah kita. Jika tidak mampu membayar, kenapa tak cari sekolah yang lebih sepadan dengan mereka? Kenapa harus memaksakan diri dengan mengikuti beasiswa dan masuk kesekolah kita?" Jelas Jaemin yang diangguki setuju oleh Jeno.
taeyong merasa kecewa dengan penjelasan adiknya itu "kalian tidak boleh seperti itu. Ayah dan ibu juga kakak tidak pernah mengajari kalian untuk merudung seseorang. Kalian harus segera menyesali perbuatan kalian, dan minta maaflah pada murid yang kalianrudung. Mengerti?!" taeyong menasehati adik kembarnya sedikit tegas membuat Jeno dan Jaemin melengkungkan bibir mereka kebawah.
"Sudahlah, kakak mau berangkat dulu. Kalian harus menuruti perintah ayah, sesali perbuatan kalian dan minta maaflah." taeyong beranjak dari tempatnya lalu mengusap lembut kepala adik kembarnya.
Jeno dan Jaemin terdiam ditempat berusaha mencerna setiap perkataan kakaknya, karena sedari tadi yang mereka perhatikan hanyalah ukiran indah yang terpajang diwajah kakaknya, juga bibir yang menggoda itu. Membuat libido mereka memberontak.
"Jaemin, apa tadi kau mendengarkan perkataan kak taeyong?" Tanya Jeno pada kembarannya
"Tidak. Kata katanya hanya masuk ditelinga kananku dan keluar dari telinga kiriku" jawab Jaemin
"Aku merasa ingin mengurungnya dalam kamar kita" ucap Jeno yang mendapat anggukan dari Jaemin.
Saudara kembar itu membicarakan kakaknya sambil melihat kepergian kakaknya yang sudah menghilang dibalik pintu. Kakak kandung selalu ada untuk mereka ketika sulit, dan menjadi tempat sandaran saat mereka dimarahi oleh kedua orang tuanya, kakak kandung yang begitu indah dan anggun, sayang jika tidak dapat dimiliki untuk mereka sendiri.
"Hanya kita yang boleh memiliki Kak taeyong"
Kini taeyong telah sampai dikampusnya. Ia langsung menuju ruang kelas dimana mata kuliah pertama akan dimulai. Diruang kelas yang cukup luas baru terisi oleh beberapa mahasiswa yang sudah siap disana.
taeyong memilih tempat paling belakang yang paling dekat dengan pintu keluar, agar jika jam perkuliahan selesai ia bisa langsung meninggalkan ruang kelasnya dan pergi menuju ruang dosen untuk membantu pekerjaan para dosen yang ditujukan padanya.
"taeyong!!" Seru Doyoung teman seperjuangannya.
"Oh kau sudah sampai" jawab taeyong basa basi.
Doyoung mengambil posisi duduknya tepat sebelah taeyong "kudengar adik adikmu berbuat ulah lagi?" Tanya Doyoung yang dijawab helaan serta anggukan kepala oleh Jaehyun.
taeyong dan Doyoung adalah teman dekat sejak mereka duduk dibangku SMA. Sama seperti taeyong, Doyoung juga mempunyai adik laki laki walapun hanya satu yang bernama Renjun. Kedua adik taeyong dan adik Doyoung satu sekolah dan mereka juga berteman.
"Adikku selalu mengeluh dengan perbuatan adik kembarmu itu." Ucap Doyoung. taeyong menatap iba Doyoung, pasalnya taeyong pernah mengatakan pada Renjun untuk menjaga dan membimbing kedua adik kembarnya menjadi lebih baik, tapi hal itu malah membuat Renjun kerepotan.
"Maafkan aku, aku saja tidak bisa membimbing kedua adikku dengan baik. Kupikir jika teman seumuran mereka yang menghentikan, mereka akan lebih mendengarkan" taeyong sungguh merasa bersalah pada Doyoung juga adiknya, Renjun.
"Sampaikan maafku pada adikmu, jika ada kesempatan bertemu lagi, akan kubalas kebaikannya" lanjut taeyong. Doyoung merasa bersimpati pada Jaehyun lantaran memiliki dua adik kembar yang suka mencari masalah.
Doyoung hanya bisa mengelus pundak temannya " aku hanya bisa mengatakan Sabar ya taeyong, semoga adik adikmu segera berubah menjadi lebih baik lagi'"
"Haaa~ semoga"
taeyong dan Doyoung setelah melakukan percakapan kecil mereka yang bersamaan dengan masuknya Dosen pengajar mata kuliah pagi ini, mereka mulai mepersiapkan diri untuk mengikuti perkuliahannya.
Dilain tempat, lebih tepatnya di SMA XXX, tempat si anak kembar yang terkenal pembuat onar disekolahnya berdiri ditengah lapangan bersama murid murid yang telah mereka bully. Aksi mereka berdua mengundang banyak perhatian seluruh warga sekolah disana, tak terkecuali kepala sekolah atau ibu dari kedua anak kembar itu.
Boa mengetahui aksi anak kembarnya karena Boa sendiri yang menyuruh mereka untuk meminta maaf didepan banyak warga sekolah. Awalnya Jeno dan Jaemin tidak mau, tapi mereka mengingat perkataan kakaknya pagi tadi yang menyuruh mereka untuk segera meminta maaf.
Jeno dan Jaemin memandang remeh para korban bully, sedangkan korbanya sendiri hanya bisa menunduk. Mereka tidak tahu tujuan dari anak kembar tersebut.
"Aku, lee Jeno dan juga adik kembarku lee Jaemin ingin mengatakan sesuatu pada kalian semua" ucap Jeno sebagai pembuka.
"Bukan hanya untuk kalian saja, tapi seluruh warga sekolah SMA XXX. Kami ingin mengatakan bahwa kami... Telah menyesal dengan perbuatan kami, dan ingin meminta maaf pada kalian semua" lanjut Jaemin mengutarakan tujuan mereka berdua.
Tentu seluruh warga SMA XXX terkejut terlebih para korban sikembar, mereka lebih terkejut lagi. Pasalnya perbuatan Jeno dan Jaemin sudah melewati batas, bahkan hanya dengan meminta maaf saja tak akan cukup. Salah satu dari korban bully ingin membantah dan menolah permintaan maaf si kembar, tapi tatapan yang dibuat oleh Jeno dan Jaemin seolah mengatakan 'Jangan membantah dan turuti!! Atau kalian akan menanggung akibatnya!!'
Tatapan intimidasi dan mengancam itu membuat salah satu korban tadi tidak jadi membantah. Para korban akhirnya hanya menganggukkan kepala mereka dan semakin menundukkan kepala. Mereka tak berani menatap Jeno dan Jaemin.
"Kami berjanji tak akan lagi mengganggu, memalak, bahkan menyiksa kalian lagi. Dan jika kami melanggar dan mengingkari janji, kami siap menerima semua konsekuensinya." Ucap Jeno
"Dan untuk semua warga SMA XXX yang menyaksikan aksi kami berdua, kalian semua adalah saksinya" imbuh Jaemin.
Jeno dan Jaemin membukukkan badan didepan para korban mereka sebentar lalu pergi meninggalkan lapangan juga korban korbanya. Semua warga SMA XXX tak mengira jika Si kembar akan dengan sangat berani melakukan permintaan maaf, entah itu dengan tulus atau tidak, tetap saja itu adalah peristiwa langka yang tak boleh dilewati.
Jeno dan Jaemin menghapiri ibu Kepala Sekolah, dan Boa sendiri langsung berbalik badan untuk pergi menuju ruangannya untuk mengatakan sepatah dua kata pada anak kembarnya.
Jeno dan Jaemin berjalan menyusuri lorong mengikuti sang Kepala Sekolah, menghiraukan setiap tatapan murid murid yang melihat mereka berdua.
Sesampainya didepan ruang kepala sekolah, Boa membukakan pintu dan mempersilahkan kedua anak kembarnya masuk terlebih dahulu baru dirinya yang masuk kedalam ruangannya sendiri.
" kalian harus memegangi janji kalian. Karena kalau tidak, ayah dan ibu akan mengirim kalian disekolah asrama luar negeri. Kalian paham!"tegas Boa.
Jeno dan Jaemin terkejut dengan penuturan ibunya. Dimana ibunya tadi bilang akan memindahkan mereka keluar negeri " Apa?! Kenapa harus luar negeri? Berasrama pula?!" Ucap Jaemin dengan sedikit meninggikan suaranya.
Boa tak menjawab pertanyaan anaknya, ia malah mengeluarkan map biru dan menyerahkannya pada si kembar. "Baca itu dengan teliti. Itu berisi surat perjanjian, kalian harus menandatangani surat itu. Dan jika kalian menolak, maka hari ini juga kalian akan dipindahkan" Boa menekankan setiap perkataanya kemudian menyerahkan penanya pada Jeno untuk segera ditanda tangani.
Jeno Jaemin tak bisa lagi mengelak, surat perjanjian itu dicetak diatas kertas yang tak mudah untuk disobek. Konsekuensi melanggar janji mereka sangat merepotkan dan menyusahkan. Mereka tak ingin dipindahkan dan disekolahkan diasrama, apa lagi dipindahkan keluar negeri. Itu tidak boleh terjadi. Mereka tidak boleh berpisah dengan kakak kesayangan mereka.
Mau tak mau Jeno menerima pena itu dan menandatangani surat perjanjiannya. Sedangkan Jaemin masih ragu untuk melakukannya "sudah, tanda tangani saja. Kau mau berpisah dengan kak taeyong?" bisik Jeno berusaha meyakinkan kembarannya itu dan dengan terpaksa Jaemin menandatangani suratnya.
Boa tersenyum saat kedua anak kembarnya selesai menandatangani dan menyerahkan kembali surat perjanjian itu. Diletakkannya map berisi surat perjanjian diatas meja, lalu Boa duduk dikursi kebesarannya "baiklah kita akhiri percakapan kita. Kalian boleh kembali kekelas kalian." Boa menyuruh si kembar untuk kembali kekelas, dan tanpa basa basi lagi juga tanpa sopan santunya mereka pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah.
Jeno dan Jaemin beranjak pergi meninggalkan ruangan kepala sekolah setelah dirasa urusan mereka telah selesai. Jaemin yang berjalan mendahului Jeno membuka paksa pintu dan keluar, sedangkan Jeno yang ada dibelakang Jaemin menutup kembali pintu dengan agak keras membuat suara dentuman pintu dapat terdengar lumayan kencang.
Saat si kembar telah keluar dari ruangan kepala sekolah, mereka disuguhkan oleh pemandangan dari para korban yang berdiri didepan ruang kepala sekolah. Seperti sedang menunggu giliran untuk masuk. Para korban tak berani bergeming apalagi menatap saat tahu yang keluar dari ruang kepala sekolah adalah Jeno dan Jaemin.
Jeno dan Jaemin, mereka menatap tajam korban korbannya lalu pergi meninggalkan mereka tanpa sepatah katapun. Hal itu membuat para hati korban sedikit lega, mereka takut jika mereka akan dipukuli saat ini juga tapi ternyata si kembar hanya mangcuhkan mereka, lalu para korban memasuko ruang kepala sekolah.
Jeno dan Jaemin yang malah memilih untuk membolos kini berada gudang penyimpanan peralatan olahraga, tempat mereka merudung korban korbanya. "Apa kau tak mempunyai ide untuk mencuri surat perjanjian itu dan menghancurkannya?" Tanya Jaemin untuk kembaranya.
"Lupakanlah, ibu kalau sudah menyimpan barang, jangankan kita mungkin detektif atau intelejen yang berpengalamanpun tak akan bisa menemukannya" jawan Jeno.
Si kembar bersamaan menghela nafas, Jaemin yang duduk ditumpukan matras dan Jeno yang duduk dilantai. Mereka sama sama tak habis pikir dengan isi perjanjian itu. Jika mereka melanggar, maka mereka akan pergi yang artinya mereka tak akan bisa terus bersama sang kakak.
"Aku tak akan pernah mau berpisah dengan kak Taeyong"ucap Jeno. " kau pikir aku bisa? Aku juga tak bisa, membayangkannya saja membuatku gila." Imbuh Jaemin.
"Aku jadi merindukan kak Taeyong" rengek Jaemin yang diangguki Jeno. "Aku tak sabar untuk bertemu dengannya dan langsung menyerang tubuh kak Taeyong"
"Ah~ bagaimana rasanya jika kebanggaanku masuk kedalam lubang kak Taeyong?"
"Bayangkan kebanggaan kita secara bersamaan masuk kedalam lubangnya"
"Jangan lupakan bibir yang menggoda itu, ingin segera kusantap"
"Tubuhnya yang indah dan menggoda"
"Sial! Membayangkannya saja membuatku tegang"
"Yah aku juga."
Jeno dan Jaemin saat ini sedang melempar pendapat mereka dan membayangkan kenikmatan yang ingin mereka rasakan dengan kakak kandung mereka. Jeno dan Jaemin yang sudah tegang terpaksa harus menenangkan kebanggaan mereka saat ini juga.
Mereka sama sama melepas sabuk, kancing celana dan menurunkan resleting mereka, lalu menurunkan sedikit celana beserta dalaman mereka, menampilkan kebanggaan mereka yang sudah berdiri tegak.
Kebanggan mereka yang besar, panjang dan juga berurat itu dengan termpil mereka mengelus lalu mengocoknya. Semakin mereka memebayangkan imajinasi mereka akan Taeyong, semakin cepat juga mereka mengocoknya.
"Akh~ Sialan! Taeyonghhh... " desah Jeno
"Kak Taeyonghhh~" desah juga Jaemin.
Berselang beberapa menit akhirnya mereka mencapai puncaknya bersamaan. Cairan putih yang keluar sangat banyak itu mengotori lantai gudang penyimpanan.
Jeno dan Jaemin telah menyelesaikan kegiatan mereka, membuat mereka bernafas lega. "Aku ingin segera pulang dan bertemu kak Taeyong" ucap Jaemin.
Jaemin dan Jeno bersamaan menghela nafas mereka, meratapi nasib mereka "sudahlah, mari kita bereskan ini dan kembali kekelas."
"Aku tak mau dipanggik keruangan ibu lagi hanya karena membolos" Jeno mengajak kembarannya untuk membereskan ulah mereka, setelah itu mereka kembali kekelas.
Sesampainya dikelas, sikembar disambut oleh sahabat mereka berdua "hey kalian! Habis dari mana kalian?!" Tanya Renjun yag dengan meninggikan suaranya membuat perhatian seisi kelas tertuju pada si kembar.
Renjun adik dari Doyoung, yang mendapat amanah dari teman kakaknya untuk menjaga kedua adik kembarnya. Jeno dan Jaemin mengacuhkan Renjun, mereka langsung menuju ke tempat bangku mereka.
"Hey kalian! "
"Diamlah Kim Renjun, kami sedang tak ingin diajak berbicara!" Seru Jeno. Bukanya takut, Renjun malah duduk didepan mereka memasang senyuman termanisnya "apa kalian marah karena kejadian dilapangan tadi?" Renjun mulai menggoda si kembar.
Jeno dan Jaemin tentu merasa harga diri mereka menurun setelah kejadian dilapangan tadi. Bahkan saat mereka kembali ke gudang, banyak mata yang memperhatikan mereka. Entah tatapan merendahkan mereka, atau tatapan takut pada mereka, Jeno dan Jaemin tidak peduli sama sekali. Mereka tetap melangkah maju dengan angkuhnya tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Dengar ya Kim, kami tidak ingin membahas itu lagi! Jadi berhentilah bicara dan pergi ketempatmu!" Kini giliran Jaemin yang membuka suara. Renjun mengindikkan bahunya lalu bangkit dari tempatnya "aku sudah memperingatkan kalian berulang kali, salah kalian tak mendengarkan" ucapnya lalu menjulurkan lidah dan kembali ketempat asalnya.
Si kembar yang angkuh itu, menatap sinis Renjun yang sudah kembali di bangkunya. "Sialan" desis mereka bersamaan. Bersamaan dengan itu, guru mapel hari ini masuk kedalam kelas yang tandanya pembelajaran akan segera dimulai.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play