(PROLOG 1)
Pukulan dibalas pukulan, hinaan dibalas hinaan. Aku tidak akan memaafkan dia—seseorang yang kubanggakan—malah mengkhianatiku?
\[Tch ....\]
Aku akan memberi dia pelajaran, aku tidak peduli siapa yang duluan memukul—toh, siapa sih yang masih peduli hal begituan?
\[Aku-\]
Kutinju muka dia.
\[Tunggu dul-\]
Kutinju lagi, tapi tangan dia menahan seranganku.
Suara nya terengah-engah—tapi aku sudah tidak peduli lagi, uang yang seharusnya ku belikan makanan malah dipakai buat beli buku ....
Orang ini pantas diberi pelajaran.
Nafas dia terserak ketika aku memukul dadanya, tangan kanannya masih melindungi muka nya.
Sejak awal pertengkaran memang sudah kudorong dia jatuh duluan sih.
Tapi tetap saja, hatiku terasa terbakar ..... seluruh uang itu memang harus kubelikan makanan untuk seminggu ke depan ini.
\[Haa ..... Haa .....\]
Wajah nya kesulitan menahan pukulanku.
Ya .... seperti yang kalian lihat, rupanya aku sedang bertengkar dengan saudaraku di tengah lapangan yang sepi ini. Kejadian awalnya sulit untuk diceritakan, tapi yang pasti aku saat ini sedang marah besar dengannya.
\[Kau .... menghargaiku, kan ....?\]
Aku bertanya dengan terbata-bata.
\[Nicholas, dengarkan aku—bukunya bisa dipakai untuk belaj-\]
Kutekan tangan yang melindungi wajah nya, omongan dia terhenti.
\[Kau .... meremehkanku ya— ....?\]
Kutekan dengan lebih keras.
Situasi kami sulit untuk diselesaikan, karena masalah ini berhubungan dengan kehidupan kami kedepannya.
\[𝐊𝐚𝐦𝐮 𝐭𝐚𝐮 𝐛𝐞𝐫𝐚𝐩𝐚 𝐥𝐚𝐦𝐚 𝐰𝐚𝐤𝐭𝐮 𝐲𝐚𝐧𝐠 𝐤𝐮𝐡𝐚𝐛𝐢𝐬𝐤𝐚𝐧 .... —Kubuka tangan dia.
𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤 𝐦𝐞𝐧𝐠𝐮𝐦𝐩𝐮𝐥𝐤𝐚𝐧 𝐮𝐚𝐧𝐠 𝐢𝐭𝐮?! ..\]
Dia terdiam.
Sensasi di perutku memberi semacam alarm darurat agar diriku segera makan. Tetapi masalah ini tidak akan terselesaikan jika aku tidak mendapat uangku kembali.
\[Aku ingin kita berdua tetap hidup, tau!\]
Aku menghela nafas.
\[Kau keterlaluan Icarus!\]
Lalu secara tiba tiba, wajah nya—tidak, seluruh tempat di sekitar kami menjadi gelap seperti telah tertutup oleh bayangan sesuatu.
Aku refleks memutar kepala ku keatas.
\[Wah ....\]
Di tengah-tengah kekacauan yang aku alami—tidak peduli mental atau fisik, awan berkabulan dengan drastis tepat diatas kami.
Awan tersebut berwarna abu abu arang dengan sedikit campuran warna hitam pekat dan biru ....? di dalamnya.
Aku terheran-heran dengan warna yang tidak natural itu, namun dapat dipastikan dari suasana sekitar kalau sebentar lagi, hujan yang sangat berat akan menyirami kami berdua tanpa ampun.
Tetapi, cuaca ini terasa beda ....
Aku menatap langit dengan penuh keheranan.
\[Bukankah tadi masih cerah ya ....?\]
Ini akan merepotkan kami berdua, suasana di sekitar makin dingin. Diriku sebentar lagi tak sanggup bertahan seperti ini.
Aku menolehkan kepala ku.
Hutan dibelakang lapangan juga mulai tertiup angin kencang, dan dari firasatku—aku merasa bahwa .... ini adalah permulaan dari sebuah peristiwa yang tak akan terulang sepanjang masa.
Hehe, sepertinya aku terlalu melebih-lebihkannya.
Kalau pun hujan memang turun, prioritas terpenting ku tetap sama; yaitu agar dia mengembalikan uangku seperti sedia-kala.
Aku bahkan tidak peduli kalau harus basah-basah karena hujan.
\[Icar-\] Aku memutar kepala ku menghadap ke Icarus, namun terlalu lama bagiku untuk bengong keatas selama puluhan detik—karena sebelum aku menyadarinya, ia telah meninju wajah bagian atasku dengan sangat cepat.
Hidungku patah karenanya.
Aku melompat ke belakang dan berteriak histeris, rasanya bukan seperti pukulan penuh pada muka atau badan seperti biasanya, rasanya seperti hidungku tertusuk jarum berukuran pensil. Adanya darah yang mengalir memperburuk rasa sakitnya, pandanganku menjadi kabur—sangat sulit untuk mengikuti lajur Icarus yang berlari ke pohon-pohon.
\[Tch .... Sini kau kalau berani!\]
Aku berteriak sekuat mungkin agar terdengar oleh Icarus, tapi sepertinya rencanaku gagal.
Siapa juga sih yang mau balik setelah kupukul begitu ....?
Langkahku terasa berat, aku tidak tahu kemana Icarus pergi—tapi yang ku ingat dari mendengar percakapan warga, hutan itu berarah menuju satu titik tertinggi yang ada jurangnya.
Kalau begitu, tinggal lari tanpa arah saja kan? Ujungnya tetap ke jurang.
Aku berlari sekuat tenaga kearah pohon ketika pandanganku sedikit memulih, darah masih berceceran banyak dari hidungku.
\[Aduh .... Sakit sekali.\]
Aku tak kuasa menahan air mataku sambil menahan darah yang keluar.
Tapi—Icarus gapapa kan setelah kupukuli begitu? Kepalanya sudah pasti benjol akibat doronganku tadi.
Aku melambatkan langkahku dan merasakan area di atas kepalaku, lalu mengetuknya dengan keras.
\[Aah! Sakit juga.\]
Ada sedikit perasaan bersalah yang keluar dari diriku. Tapi—lupakan saja.
Entah kenapa, aku mempunyai firasat kalau Icarus masih memproses kesedihan setelah ditinggal orang tua.
Dulu, ketika keluarga kami masih dalam kondisi prima, kami berdua sering berlomba lari berjarak 50 meter untuk bersenang-senang. Namun setelah Ibu tiada, kegiatan itu perlahan-lahan berubah menjadi maraton keliling desa untuk sekedar melatih tubuh, tidak lagi untuk berbahagia seperti sedia-kala.
Jika dibandingkan dengan sekarang, alasanku berlari berubah 180° derajat. Aku sedang berlari mengincar Icarus layaknya rubah yang sedang mengincar mangsanya, dan tentu saja—ini membuatku sangat lelah, rasanya aku ingin sekali tidur dengan nyaman dan hangat.
Atau, aku ingin sekali tidur bertiga seperti dulu—ingatan tentang Ibu tiba tiba menyeruak di dalam pikiranku.
Kenapa tiba tiba sekali? Aneh.
Ketika kami masih berusia 12 tahun, Ibunda tanpa sepengetahuan kami sakit secara tiba-tiba dan meninggal. Kami tidak punya persiapan hidup apapun setelah kematian Ibunda, bahkan—kami belum bersiap menghadapi kematian Ibunda. Saat itu kami hanya mengurusi kesibukan masing masing, Icarus sedang ke pasar, entah sedang apa—sementara aku sibuk di toko buku sedang melihat-lihat novel romansa untuk dibaca secara diam-diam.
\[Tidak terasa sudah 2 tahun sejak kepergiannya membuat kami putus asa.\]
Suatu sore berubah menjadi mimpi buruk saat kami menerima kabar duka bahwa Ibunda telah meninggal dunia karena suatu penyakit, dan kabar tentang Ibunda yang saat ini sedang disiapkan untuk dikubur di pemakaman gereja lokal.
Keluarga kami tidak menganut agama tertentu, namun sosok Ibu memang terkenal lumayan dekat dengan orang-orang gereja.
Jadi sudah tidak kaget kalau Ibu tiba tiba sudah terkubur didalam tanah di sekitar pemakaman gereja.
Terlepas dari itu, Ibu adalah sosok yang ramah bagi kita berdua. Ibu baik, sopan, dan sering bersosialisasi layaknya orang tua pada umumnya, Ibu mengajari banyak hal tentang bertahan hidup seperti mengemis dan bekerja (Walau usia kami sangat tidak relevan untuk dikategorikan sebagai siap-kerja).
Kami tetap menghormati Ibu.
Sosoknya membuatku kangen, sudah—itu saja yang ingin kukatakan.
\[Oke oke, aku harus fokus.\]
Tarik napas ....
\[Hufff ....\]
1 .... 2 .... 3 buang ....
\[Haaahh ....\]
Lakukan berulang-ulang seperti yang Ibunda ajarkan. Ayo, lari!
Ranting demi ranting sudah patah, daun demi daun sudah kuinjak. Sebagian besar dari celanaku basah karena melewati rerumputan yang terkena air saat hujan barusan.
\[Dingin sekali diluar ....\]
Tanganku gemetaran.
Omong-omong, hujannya muncul lagi setelah tiba-tiba berhenti sesaat pasca rintisan pertama muncul—memang cuaca yang sangat aneh ....
Sampai aku akhirnya melihat sesuatu di ujung pohon ....
Tidak, tidak. Itu bukan jurangnya, pasti masih jauh lagi.
\[Hff .... kukira sudah dekat.\]
Aku mencoba melihat ulang siluet tersebut—sesuatu yang gelap, dengan tinggi sekitaran sama denganku—Itu pasti dia.
Ia yang terlihat berdiri tersebut lalu duduk dengan mencurigakan.
\[Sekarang aku coba sergap dari belakang.\]
Aku berjongkok dan memulai jalan tanpa suara kearah dia namun—sial, aku tidak bisa melihat apa apa! Jalan jongkok di tengah rerumputan lebat seperti ini memang agak menyebalkan.
\[swush swush\]
Sangat tidak nyaman bagiku, berjalan jongkok ketika badanku sudah basah total.
Dingin dari hujan pun terasa menusuk.
Tapi dia harus mengembalikan uangku yang tadi.
Aku melanjutkan jalan jongkokku.
\[Tress tes .... tes ....\]
Eh? Hujannya berhenti lagi. Aku segera memutar kepalaku keatas dan awan bergerumuh yang menutupi matahari masih belum berubah, namun rintikan air hujan berhenti total secara tiba tiba dalam hitungan detik—Ini benar benar, aneh sekali ....
Memang benar aneh. Lagi pula mengapa memikirkannya?
Aku merasakan sesuatu yang mengalir diatas mulutku ....
\[CUH ..\]
Hampir saja, aku menghisap air keruh dari dedaunan.
Kalau itu aku, pasti sangat malu. Tetapi itu kan memang aku.
Aku tetap berjalan.
Lalu aku mendengar sesuatu yang patah di bawahku ....
\[Hm ....?\] Kepalaku berputar kebawah.
Tanpa kusadari, kakiku menginjak ranting.
\[Sial, dia pasti sudah mendengar nya-\] Sesaat aku melihat ke arahnya, dia telah menghilang.
Aku berdiri seketika.
\[D-Dimana kamu, oi!?\] Aku berteriak sambil melihat ke samping-samping ku.
\[Jangan sembunyi!\]
\[Aku janji tidak akan memukulimu lagi! Aku janji! Namun kembalikan duitku seperti semula!\]
Aku merasakan sesuatu dibelakang ....
\[Aagh! ..\]
Sesuatu meninjuku, uh—tidak, lebih tepatnya mendorongku, aku didorong keras sampai jatuh ke depan.
Aku terbanting ke tanah, namun rerumputan di bawah menyerap tabrakannya ....
\[Aduh .... Sakit, sakit!\]
Aneh, tekanan yang kudapat di belakangku bukanlah dorongan biasa—paru-paruku sulit bernafas karenanya, dan badanku sempat terhempas ke udara sesaat aku menerima dorongan tersebut, ini lebih terasa seperti energi orang dewasa.
\[Jangan melawan! ..\] Dia berteriak dengan keras sambil memegang tanganku.
\[Eh ....?\]
Suaranya seperti lelaki umur 30-an.
Tanganku dililit dengan kencang olehnya.
Kalau itu bukan Icarus .... yang pasti orang lain.
\[Hei jangan keras keras dong! .. Aku tidak akan kabur kok!\]
\[Anda yakin ini dia ....? Nicholas ....?\]
Suara Nona-Nona terdengar tepat di depanku.
\[Ya, Nona. Tidak salah lagi, dia sang pembunuh yang dibicarakan.\]
Eh ....? Tunggu dulu, "Pembunuh" ....? Aku- pembunuh? Orang ini ngomong apa sih! Aku memutar kepalaku kesamping untuk melihat muka orang tersebut.
\[M-Muka nya .... gelap ....?\]
Tak terlihat sama sekali, sekilas ia memakai baju kasual dan berbadan kekar. Aku rasa dia semacam kesatria atau semacamnya. Aku memutar kepalaku ke depan.
Nona itu .... memakai gaun merah elegan yang menutupi hingga mata kakinya, dia juga memakai sepatu hak tinggi berwarna perak yang dilapisi beberapa permata di atasnya, wajahnya juga tak terlihat olehku—tetapi aku sangat yakin Nona itu sekitaran umur 50 atau lebih ....
\[Permisi Nona, mau saya apakan dia sekarang ....?\]
\[Serahkan dia ke pengadilan secepatnya, saya tidak ingin melihat orang lain terkena ulahnya lagi.\]
\[Baik, Nona.\]
Tubuhku mulai diseret oleh pria tersebut, namun bahkan sebelum pria tersebut membawaku lebih jauh lagi, aku dengan cepat mengaku kebenaran yang sebenar-benarnya.
\[TIDAK! Saya bukanlah pembunuh yang kalian bicarakan! Kalian telah salah tangkap pelaku! Saya bukanlah pembunuh!! Tolong, siapapun tolong!!!\]
Aduh memalukan ..!
Aku terlalu bergelisah untuk mengatakan itu semua, aku yakin perkataanku barusan cukup membuat mereka jauh lebih menghiraukanku.
\[Omong kosong. Segera angkat dan segera bawa dia.\]
\[Baik, Nona.\]
Tamat sudah ....
Sebenarnya memang salahku sendiri .... dan salah mereka juga karena menangkap pelaku secara asal-asalan.
Delapan bulan aku digaji pas-pasan, terpaksa menghadapi tekanan kerja yang rentan bermasalah .... Inikah yang ku dapatkan?
Berlebihan, deh.
Inikah balasan alam semesta setelah mencoba mengembalikan uang yang kudapat dengan tanganku sendiri ....?
Balasan alam semesta apa coba?
Cukup dengan ini semua—sepertinya memang tidak ada jalan lain ....
Sudahlah, aku sangat malu dengan diriku yang lebay-nya kebangetan.
Kucoba lepaskan tanganku dari jeratan lelaki tersebut sekuat tenaga.
\[Gawat! ....\] Lelaki tersebut kesulitan menahan tanganku yang ingin lepas.
Aku berteriak dan mengepalkan tanganku.
\[Akan saya bantu.\]
Ucap si Nona ke lelaki tersebut—tetapi sebelum Nona tersebut sampai, aku sudah duluan melepas jeratan dan kabur seketika.
\[Hei .... tunggu, bocah!\]
Suaranya semakin kecil terdengar karena jarak yang memisahkan kami mulai memanjang—akhirnya bisa kabur. Dia berpikir aku akan balik karena dipanggil begitu saja ....—lagi pula kenapa sih menangkap pelaku secara asal-asalan ....?
Hehe ....
Senyum sinis .... aku tertawa kecil.
Jeratan pria tadi—aku sungguh tidak percaya bisa lepas darinya .... Kekuatan genggamannya setara dengan orang-orang dalam bar yang sering beradu panco. Boleh sih, aku menjadi kesatria saat dewasa nanti ....
\[Huff ....\]
Tadi—mereka hanya datang berdua ya ....? Pria tadi juga hanya memakai baju kasual, seharusnya dia memakai baju sesuai peraturan kerajaan kalau memang benar-benar kesatria—tetapi Nona tadi sudah pasti bagian dari keluarga kerajaan, suaranya sangat elegan ....
Ah, sudahlah .... aku ingin bicara terlebih dahulu dengan Icarus.
Aku lanjut berlari sekitar 80 meter dari tempat penyergapan ....
Tunggu dulu, aku merasakan sesuatu yang janggal.
Aku memang belum melihat wajah mereka karena tidak kelihatan, aku ingin lihat mereka sekali lagi .... Sambil berlari dengan cepat, aku menolehkan kepalaku ke belakang.
\[H-Hah? ....\]
Aku .... bingung banget.
Dan tidak, mereka tidak mengejarku—justru mereka .... telah hilang begitu saja.
\[Kemana ....?\]
Aku melambatkan langkah kakiku, Mencoba melihat seseorang sekali lagi, namun mereka menghilang seperti belum ada sebelumnya—apakah aku akan disergap lagi?
Pikiranku terisi tentang bagaimana lelaki tadi akan menyergap dan mengikatku—dan jujur .... aku sebenarnya lebih takut pada hukuman yang akan jatuh jika membunuh seseorang di kerajaan ini—yaitu penjara seumur hidup.
\[Huek ....\]
Membayangkannya saja sudah membuatku mual .... Jorok banget.
Dulu Ibu sering bilang kepadaku "Penjara kerajaan itu surga bagi para tikus-tikus."
Dan aku sangat benci dengan tikus ....
(Itulah kenapa aku sempat putus asa di awal).
Aku lanjut berlari sekencang yang aku bisa sekitar 500 meter ke depan.
\[Haa ....\]
\[Haa ....\]
Perkataan para warga sepertinya benar, ada tepi jurang di ujung pepohonan ini—tapi, itu apa?
Ada orang yang bersembunyi di balik pohon.
\[Icarus ....?\]
Sesaat aku bertanya, sosok itu melompat terkejut.
\[K-Kamu.\]
Dia berlari terbirit-birit.
Ga nyangka dia ada disitu.
\[Memangnya aku semenakutkan itu ya ....?\]
\[H-ha .... haha ....\]
\[Sini Icarus ....!\]
Oke .... jadi main kejar-kejaran nih—berlarian di tengah dinginnya hujan .... bagus—aku menahan emosiku.
Tanganku sudah gemetaran, kakiku sudah lelah berlari. Selanjutnya apa lagi?
Aku menggumam pada diriku sendiri sambil berlarian melewati ranting-ranting tajam dan berbagai serangga yang hampir mengigit kakiku.
500 meter berlalu—aku berhenti sejenak untuk menghela nafas dan mempersiapkan pengejaran berikutnya, namun Icarus menghilang dari pandanganku.
\[Sial, kemana dia ....?!\]
Aku berlari—sampai aku melihat bayangan dengan tinggi dan lebar sebesar rumah bertingkat, namun itu hanyalah sebuah bayangan dari pohon Beringin dengan akar yang sangat tebal sehingga menutupi jalurku.
Aku menerobos akar-akar menggantung tersebut dengan seluruh kekuatanku—sampai-sampai aku hampir terjatuh ketika berhasil melewati ke sisi sebelahnya, dan di sisi sebelah tersebut, aku melihat .... yang lain dan yang bukan, adik kembarku—Icarus.
Rupanya aku telah sampai ke tepi-jurang yang orang-orang bicarakan, di tepi-jurang itu terlihat pemandangan gunung-gunung dari jauh serta pepohonan lebat yang menutupi bukit-bukit kecil di sekitar . Perhatianku teralih pada sejuknya suasana di sini—angin berembus dengan pelan, rerumputan di bawah pohon beringin yang tidak terkena air sedang bergoyang mengikuti arah angin, dan refleksi tetesan dari dedaunan yang basah karena hujan.
Sulit untuk mengungkapkan betapa indahnya nuansa dan pemandangan ditepi jurang ini—namun aku lanjut terhempas balik ke kenyataan ketika Icarus melontarkan sebuah kalimat kepadaku;
\[Aku minta maaf.\]
PROLOG 2
\[Russie ....\]
Suasana menjadi hening sesaat.
\[Nich, aku mendengar kabar dari temanmu bahwa uang yang tadi adalah gajimu untuk yang terakhir kalinya ....\]
\[A-Aku tahu .... kok.\]
Aku berbohong, aku tidak tahu apa-apa soal diriku yang dipecat. Namun upahku itu memang terbilang cukup untuk membeli beberapa bahan makanan yang akan disimpan dan dimasak di kemudian hari selama sebulan.
\[Tidak, aku yang menyuruh temanmu untuk merahasiakannya darimu—Nichol.\]
\[Tunggu dulu, t-terus uang tadi—berarti ....!?\]
\[Dimulai dari mana ya ....?\]
Dia berlagak sok dewasa dan mulai menatap langit dengan naif.
\[Pertama, Nich—disamping dari gajimu yang barusan, mari berpikir ke depan secara logis. Kita bukan siapa-siapa—jadi kita tidak punya prestasi, tidak punya bakat, tidak punya keahlian tertentu—pasti akan sulit untuk mendapat pekerjaan selain dari bidang industri.\]
Dia menghitung menggunakan jarinya dan mondar-mandir layaknya bos mafia yang sedang menginterogasi korbannya.
\[T-Tapi yang kudengar ada lowongan kerja di wilayah Hautsen, dalam bidang pengangkat barang pertanian, bahkan dengan upah yang lebih besar dari sekarang-\]
\[Wilayah Hautsen? Jaraknya saja membutuhkan 3 minggu untuk mencapainya, apa kau masih yakin?\]
Dilihat dari ekspresinya, ia sedang menantang emosiku, ya?
\[Tidak masalah, asalkan aku tidak punya saudara bodoh yang mementingkan kemauannya sendiri dengan membeli buku polos menggunakan uang hasil kakaknya.\]
Ia terdiam.
\[Mari kesampingkan soal buku, apa yang sekarang sedang kamu lakukan? Kalau bukan ke sekolah, kamu hanya menganggur-nganggur saja kan di rumah? Selain dari kecukupanmu yang membebankan aku seorang diri, kamu tidak berkontribusi apapun bagi kita berdua, terutama menghasilkan uang.\]
\[N-Nicho ....\]
\[Apa?\]
Dia lanjut beradu mulut soal masa depan yang ingin dia capai, dan bagaimana dia akan melampauiku suatu saat nanti dengan prestasi yang dimiliki nya.
\[Apakah kau tidak ingat dengan perkataan mu sendiri 8 bulan yang lalu?\]
\[Ketika kau berjanji akan membantuku menggapai cita-citaku dan mengabaikanmu seorang diri, bagaimana dengan itu? Apakah kau sudah lupa akan semuanya Nichol? Bahkan janji-janji palsumu itu?\]
\[TIDAK ADA YANG NAMANYA MASA DEPAN!!\]
Icarus memasang wajah kaget dan takut.
\[Persetan dengan semua itu! Aku hanya ingin kita berdua tetap hidup! Hanya itu saja, dan kamu malah menyia-nyiakan itu semua dengan membiarkan kita mati kelaparan!\]
Belum cukup, kutambahkan lagi.
\[Hidupku akan lebih baik jika tanpa denganmu! Aku tidak butuh kehadiranmu di dunia ini! Aku tidak butuh!\]
Apa aku harus tambahkan lagi?
\[Aku-\]
Sudahlah, nanti malah jadi sulit bernafas .... Ia juga terlihat sudah kapok.
Keheningan mengisi dengan cepat setelah aku bicara barusan. Pikiranku sekarang sudah tidak terkendali lagi.
Aku segera mondar-mandir tanpa arah sambil berpikir dengan tujuan untuk menenangkan diriku terlebih dahulu. Aku hanya ingin dia bertanggung jawab dengan uang yang sudah ia habiskan tak tersisa, lalu pergi mencari makan terlebih dahulu—karena kami belum makan dari pagi.
Aagh .... ini tidak membantuku menenangkan diri. Hatiku perlahan-lahan makin membara, tetapi aku akan mencoba menyelesaikan situasinya tanpa harus terlibat perkelahian lagi.
Keheningan pun terpecah oleh jerit tangisan Icarus yang sedang merenung kebawah.
\[Jadi, kau senang—Nicho ....?\]
Ia lalu mengungkap wajahnya itu yang sekarang dipenuhi tetesan air mata, ia mencoba mengusap semua air mata tersebut dengan sela-sela bajunya yang masih sedikit kering.
Aku diam mematung, tak berkutik.
\[Nich .... Aku tidak tahu cara mengatakannya, tetapi selama 5 bulan terakhir aku bolos sekolah.\]
\[Hah ....? Tapi kan ....-\]
\[Uang yang kau kasih kepadaku untuk membayar sekolah kusimpan dengan baik, namun kemarin telah hilang dicuri oleh seseorang.\]
Dia menangis tersedu-sedu ketika mengatakannya. Perasaan membara dihatiku kini berkurang.
\[Aku putus asa, Nichol.\]
\[Aku putus asa dengan semua ini.\]
Ia menjelaskan bagaimana uang tersebut menghilang bersama tabungan dia dari mengemis dan bekerja sementara.
Kutenangkan pikiranku terlebih dahulu dan menanyainya soal buku yang ia beli, karena aku masih belum mengetahui maksud dari membeli buku bertebal 400 halaman tersebut.
Sesaat setelah kutanya, Icarus lanjut menangis—bahkan tangisannya sekarang labih keras dari sebelumnya.
\[Aku ingin kita berdua menjelajahi dunia dan mengisi petualangan-petualangan kita di buku itu—sembari memakai uang yang kau kasih kepadaku.\]
Bodoh .... tidak—aku tidak boleh menganggap remeh ide tersebut, mungkin saja ada makna tersembunyi dibalik itu. Namun setelah kupikir dengan baik, itu adalah ide yang lumayan menarik jika saja perbudakkan dan penculikkan sudah tidak ada di dunia ini dan jika uang tersebut tidak berakhir dicuri dengan mudahnya .... Tetapi kalau memang ingin dipaksakan, setelah itu mau apa?
Aku bertanya kepadanya soal masa depan.
\[Hmm ya, ya .... Lalu—setelah itu ....?\]
\[Aku ingin kita berdua mati bersama di tepi-jurang ini.\]
\[ .... \]
Sungguh diluar tebakanku.
Apakah ini sekedar lelucon belaka? Aku tidak mengerti sama sekali.
Ia lanjut berbicara tentang bagaimana keberadaan tuhan itu mustahil di dunia ini, dan bahwa mati itu tidaklah sia-sia.
Sepertinya aku harus menganggap serius ide tersebut, tatapannya begitu mencerminkan orang yang tidak tahu ingin berbuat apa. Sebaiknya apa yang harus kulakukan dalam situasi ini? Beradu nasib dengannya .... tidak. Menasihati nya .... tidak juga. Atau .... mengajaknya berbicara dalam rumah?
Waktunya tidak sempat sih. Kalau kumenangkan argumen dengannya pun kuajak ia makan terlebih dahulu di resto.
Yang pasti, ini bukan waktu yang tepat untuk beradu mulut dengannya .... karena dari yang kutahu ia sepertinya sedang mengalami "Krisis Emosional" atau semacamnya. Kematian ibu. Pemecatan. Uang yang hilang. Itu semua bercampur aduk di dalam pikirannya yang sempit itu. Wajar saja kalau tiba-tiba ada niatan ingin "mengakhiri segalanya", tetapi aku tidak akan membiarkannya begitu saja.
\[Nichol.\]
\[Ng—kenapa?\]
Ia melangkah ke belakang, lebih tepatnya kearah jurang dengan sangat pelan-pelan—tatapannya sekali lagi mencerminkan orang yang sedang putus asa, aku segera berlari menujunya, tahu bahwa yang sedang dia lakukan itu tidak benar.
\[RUSSIE!!\]
Waktu seolah terasa melambat ketika aku menjulurkan tangan kananku jauh-jauh untuk berpegangan dengannya.
Kami saling bertatap-tatapan saat itu, masing-masing dengan tujuan yang berbeda. Satu untuk menyelamatkan segalanya, dan satu untuk mengakhiri segalanya.
Saudara kembarku, kenapa kau jadi seperti ini ....?
Aku mohon, Tuhan yang ada. Aku mohon agar diberi kesempatan satu kali saja. Aku tidak meminta orangtua yang lengkap, keluarga yang kaya, maupun sekolah—apapun itu, kali ini saja. Aku ingin menyelamatkan apa yang sudah kupertaruhkan selama ini.
Di langkah ketiganya, kaki kiri dia hampir menyentuh ujung tebing sementara tanganku masih sedikit lebih jauh untuk menyentuhnya.
Langkah keempat sudah dia ambil, kali ini jauh melebihi garis tebing, ia dengan serentak .... terjatuh—namun .... sebelum itu terjadi, tanganku mengenggam tangan kanannya tepat sebelum ia terjatuh lebih jauh.
Kutarik tangannya dengan sekuat yang kubisa.
Rencanaku sepertinya berhasil—namun aku lupa dengan sesuatu—aku menariknya terlalu keras.
Seperti inikah aku akan mati?
Kalimat itu muncul bersamaan dengan berubahnya posisi kami menjadi terbalik—tangan dia mulai melepas dariku. Aku perlahan-lahan menyaksikan tubuhku sendiri tertarik oleh gravitasi.
Yah .... Ini salahku sendiri sih.
Aku akan terjatuh dari jurang—disaksikan oleh saudara kembar kandungku sendiri.
Sudahlah.
Aku menutup mataku, berharap semua yang akan terjadi berjalan dengan cepat.
\[Hap ..!\]
Tanganku terasa hangat, aku membuka mataku dan menyaksikan Icarus yang sedang meraih memegang tanganku.
Aku yang sedang sangat lelah—tidak sadar dengan perbuatan Icarus itu dan tidak bereaksi apapun soal tangan tersebut.
Rotasi badanku sudah mencapai sekitar 45° saat aku akhirnya sadar dan meraih kembali tangannya, namun badanku sudah terbilang terlalu jauh untuk ditarik kembali.
Dia menarik tangan kananku dengan sekuat tenaganya—tapi tetap saja, badanku terlanjur sudah jatuh sangat jauh.
Tapi, kenapa? Kenapa ia bersikeras menolongku?
Tidak, justru mengapa aku menyelamatkannya?
Kakiku terpeleset, badanku sekarang hanya ditopang oleh kedua tangan Icarus sendiri.
\[H-Hwaah ....!\]
Kaki Icarus sempat tergeser oleh gebrakan badanku yang terjatuh secara tiba tiba, ia panik dan segera mengambil tumpuan tanah yang baru dengan kakinya.
\[Icarus, kau sedang apa ....?\]
Ia menghela nafasnya dan menjawab pertanyaanku.
\[Aku minta maaf atas ideku barusan .... mohon bantu aku terlebih dahulu!\]
\[ .... \]
Aku mengangkat tangan kiriku lalu berpegangan dengannya, tetapi aku sengaja belum menariknya.
\[Tetapi kenapa kau menolongku ....?\]
\[Kenapa kau menanyakannya?\]
\[ .... \]
Sesaat aku terdiam, ia berteriak dan menarikku sampai ke atas dengan kedua tangannya.
Aku tidak menyangka orang ini bisa membuatku mengulas senyum lagi, ia terlihat sudah benar-benar mengurungkan niatnya itu.
Kami berdua serentak terjatuh dengan dada terbuka lalu menghela nafas bersama-sama sambil menatap langit yang mulai agak cerah.
\[Haaa ....\]
Tatapan kami ke langit terlihat seolah sedang melihat suatu keajaiban—lebih tepatnya memang ada suatu keajaiban. Awan besar berwarna biru gelap di langit mempunyai 5 lubang besar yang membuat sinar matahari tembus kebawah. Aku tidak mengerti apapun tentang fenomena alam, tapi dari sudut pandangku—sinar-sinar matahari tersebut menjungkai kebawah layaknya benang-benang yang menghubungkan bumi dan surga.
\[Waah .... Kau lihat kan Russie?\]
\[Iya, sepertinya ada meteor di langit.\]
Aku mengubah tatapanku ke Russie.
\[Itu meteor tipe apa ....?\]
\[Magnesium.\]
Russie memang lebih pintar dariku. Sejak kami berumur 8 tahun, kami suka bereksperimen dengan menaburkan sedikit garam ke api di wajan, lalu melihat kobaran api tersebut berubah menjadi sedikit kuning.
Russie mempunyai banyak hobi dari kecil, sementara aku menetap sebagai pencinta buku sejati.
Setelah sesaat—hidungku nyut-nyutan dengan parah.
Aku refleks melindungi hidungku.
\[Hidungku- .... Aduh .... Hidungku patah.\]
Russie mengubah tatapannya ke wajahku, ia melihat hidungku sekilas.
\[Nikmati saja, kau juga sudah membuatku benjol tadi.\]
\[Tapi lukaku lebih parah.\]
Kami berdua menatap satu sama lain, lalu Russie tertawa melihat hidungku yang berwarna merah.
\[Aku seperti pernah melihat wajahmu di sirkus!\]
\[Oi .... Mau kutinju balik sampai patah juga ....?\]
Kembali ke wajah serius.
Rasain tuh, hehe.
Kami sejak kecil sudah terbiasa berbaikan setelah bertengkar seperti ini, jadi kuanggap kejadian tadi semacam "Salam Perdamaian" versi kami.
Ketika aku sudah menjadi dewasa, ide Russie tadi akan kupakai, sebagai bahan cerita novel, tentunya.
Aku jadi ingat novel romansa dengan kisah yang mirip, ceritanya, ada seorang wanita detektif yang ditugaskan untuk memata-matai pria lebih muda darinya, ia awalnya enggan menjalankan misi itu, lalu salah satu temannya mengatakan bahwa pria tersebut adalah pria yang ia idam-idamkan selama hidupnya. Wanita itu pun menerima nya dengan senang hati. Wanita tersebut lalu dengan diam diam menjalin hubungan romantis dengan pria itu. Hari hari berlalu—dan pria tersebut akhirnya mengetahui identitas sang wanita dan memutuskan untuk melompat dari bangunan, ia mengira cintanya itu hanya sekedar misi belaka, tetapi sebelum pria itu melakukannya, wanita detektif tersebut datang dan menolongnya tepat waktu, kisah pun berakhir dengan tragis ketika wanita tersebut tertangkap dan dijatuhi hukuman mati.
Sungguh cerita yang ironis, aku sampai harus menahan tangisanku saat membacanya diam diam di toko buku.
Untung gak ketahuan, hehe.
Memang tidak ketahuan sih, tetapi ada beberapa temanku yang iseng menceritakannya ke penjaga toko buku.
Aku pun jadi selalu berakhir diusir ketika baru membaca halaman keempat novelnya.
Awalnya aku bisa baca sampai akhir, tuh.
Oh iya, setelah kubaca lagi sedikit-sedikit, sekuel dari novel tersebut menceritakan si pria yang ingin membalaskan dendamnya ke pemerintahan.
Aku diam diam ingin menjadi novelis di masa depan, tetapi memang Russie lebih pintar, sih.
Aku terlempar balik ke realita, aku terlalu sibuk dengan pikiranku sampai aku lupa kalau sedang berbicara dengan Russie.
Tadi aku sampai mana, ya?
\[Setelah ini mau kemana ....?\]
Icarus lalu tersadar dan membangunkan dirinya sembari menatapku dengan wajah seperti baru q ....\]
\[Kita mau. lkkk o o p o j. o o o. oho. i o o. makan apa kalau bukan dengan uang!?\]
\[Siap, bos. Ada 400 Dole² di dalamnya bersamaan dengan uang sekolah yang kau kasih, kemungkinan uangnya terbawa saat seprai itu terbuang.\]
---
Hautsen: Sebuah kerajaan agraris berjarak 1,200 kilometer dari pulau Westhabb.
---
Dole² (Dibaca "Doul"): Satu Dole berkisaran sekitar Rp4,500.00.
400 Dole dapat terkonversi sebagai Rp1,800,000.00.
---
\[400 Dole? Waah ....! Berarti uang tersebut masih ada kan?\]
Kutunjukkan ekspresi gembira kepadanya, sementara Icarus terlihat sedang mengkhawatirkan sesuatu.
\[Bisa jadi, sih.\]
\[Bagus—kalau begitu, ayo jalan ke rumah!\]
\[Tunggu dulu.\]
Ia berdiri dengan tegak menghadap ke arah pohon beringin—membelakangiku dengan pose berlagak layaknya karakter misterius di novel detektif.
\[H-Hah ....? Kenapa lagi?\]
\[Uang nya tidak cukup untuk transportasi kita berdua.\]
Aku perlahan berdiri mengikuti Icarus.
\[Transportasi apa? Kita belum makan dari pagi, lho.\]
Dia menjelaskan soal transportasi yang membutuhkan setidaknya 180 Dole² (Rp810,000.00) untuk mencapai kerajaan Hautsen¹—lalu aku menegaskan bahwa prioritas kita sekarang hanyalah untuk makan.
\[Ah .... Sulit sekali ya untuk berdebat denganmu, Nichol.\]
Maksudnya apa sih?
\[Maafkan aku.\]
Aku dengan serentak melihat Russie yang memutarkan badannya.
Perkataan ia sangat membingungkanku, masalah uang sudah terselesaikan, sekarang ia mau menambah masalah lagi?
Sesaat setelah kupikir barusan, kurasa ada dua tangan yang mendorong dengan pelan di dadaku. Genggaman tangan itu membuat kakiku kehilangan keseimbangan, dan membuat diriku miring layaknya pin yang terjatuh saat terhantam bowling ball.
Aku melihat awan tadi dengan sekilas, tapi bukankah aku barusan berdiri menghadap pohon beringin?
Aku baru sadar kalau yang mendorongku barusan adalah Russie sendiri.
\[UWAA!!\]
Aku terhempas jatuh ke jurang.
Lho, kok??
Icarus menatap dingin ke arahku, sesaat sebelum tatapan kami terhadang oleh jurang.
Pandanganku sekarang terbalik, aku bisa melihat awan-awan seperti di bawah kakiku dan gunung-gunung di atas kepalaku. Angin mengibas rambut dengan kencang dan percikan air sedikit-demi-sedikit keluar dari bajuku. Ya, tidak ada yang bisa kulakukan di situasi ini. Nyawaku akan dicabut setelah berakhir tragis terdorong, aku hanya bisa menerima nasibku, toh—hidupku tidak sepenting itu. Kenapa aku tidak langsung menyadarinya? Kenapa aku berakhir menolongnya barusan?
Aku sungguh bodoh, tidak—kita berdua.
Kututup mataku sesaat sebelum kepalaku menghantam tanah dengan jarak kurang dari 5 meter. Namun, sesuatu terjadi dengan sangat cepat bahkan aku tidak sempat menyadarinya.
\[wwWWWUUSHH ....\]
Aku bersiap merasakan rasa sakit luar biasa di kepalaku—namun aku berakhir tidak merasakan apapun. Aku menggerakan tanganku dan merasakan sensasi lembut seperti sedang memegang bantal.
Ini pasti surga kan?
Aku merasa badanku dalam posisi tidur sambil dikelilingi oleh kapas-kapas tak berujung.
Aku meraba-raba sekitar dengan kedua tanganku.
Wah, lembut ya.
Inilah saat ketika aku harus membuka mataku lebar-lebar. Aku takut, tetapi aku harus menghadapinya.
Kubuka mataku perlahan-lahan.
\[Ini terasa .... familiar?\]
Aku melihat sekilas lemari kayu yang ada di sampingku. Lalu kubuka mataku sepenuhnya.
\[Hah ....?\]
Kini aku berada didalam kamarku—tepatnya di sebuah tempat tidur dalam rumahku yang kosong dan sunyi. Entah kenapa .... aku berada disini.
Ku ingat dengan jelas saat hampir mendarat, terlihat kilatan berwarna putih melesat di depanku sesaat sebelum kepalaku menyentuh tanah.
Dan di saat itu juga aku baru menyadari bahwa Icarus telah mengkhianatiku.
Kicauan burung terdengar dengan samar-samar saat aku melihat ke sekitar.
Ini jelas membingungkanku, tetapi dari yang kuamati—aku tidak sedang berada di surga atau di mimpi indah. Aku merasa dipindahkan secara tiba-tiba ke dalam rumahku.
Kupegang bajuku yang sudah kering.
\[Hff hff .... masih bau apek.\]
Aneh—bajuku terasa jauh lebih kering dari saat kejadian di atas tebing itu, yang jelas—ini masih baju yang sama.
Aku melihat keadaan di sekitar, berteriak Icarus untuk sesaat, lalu mengecek kamarnya, disitulah aku melihat sprei baru nya telah terpasang dengan rapi. Aku mondar-mandir ke belakang rumah, namun sepertinya kosong—tidak ada siapapun di sini. Aku dengan santai berjalan ke lorong utama rumah, berjalan ke pintu masuk utama depan—langkahku terasa berat, suara samar-samar terdengar dari arah pintu tersebut. Tanganku mencapai gagang pintu dan aku bersiap membukanya.
Entah kenapa aku merasa deg-degan.
Aku menelan ludahku dan membuka pintunya.
Dan di saat itu juga, aku melihat 5 sosok asing yang lebih tinggi dariku sedang berbicara di depan pintu.
PROLOG •SELESAI•
Download NovelToon APP on App Store and Google Play