English
NovelToon NovelToon

Blind Spot KengNamping

PROLOG

...BLIND SPOT...

..."Siapa yang sebenarnya sedang diburu, dan siapa yang sedang disembunyikan?"...

...WRITTEN BY :...

...LVNATHI...

...©2026...

...01 FEBRUARI 2026...

...Dedicated to my precious Artis :...

...KengNamping...

...TleFirstone...

...WELCOME TO LVNATHI UNIVERSE...

...✨✨✨...

...Pengenalan Karakter...

...🫆Main Character :...

👮🏻‍♂️ Karan Jirayu Kittisiri ( Karan / Jira)

Umur: 33 Tahun

Pekerjaan: Kapten Detektif / Kepala Unit Investigasi Khusus.

Ciri Fisik: Bertubuh tegap, tatapan mata tajam namun lelah, sering mengenakan jaket taktis atau kemeja yang digulung lengannya.

Sifat: Tegas, protektif hingga ke level obsesif (terutama pada Napath), dan sangat kompeten. Namun, ia memiliki trauma mendalam (PTSD) akibat kematian Anan yang membuatnya terkadang impulsif dan emosional jika menyangkut masa lalunya.

Hubungan: Kekasih Napath (12 tahun bersama). Sahabat sekaligus mantan rekan duet Anan.

👨🏻‍💻Thara Wattanapasin ( Thara, Khun Thara )

Umur: 31 Tahun

Pekerjaan: Ahli Keamanan Cyber & Analis Strategi Kepolisian.

Ciri Fisik: Rapi, dengan tablet selalu ditangannya, selalu terlihat di depan jajaran monitor.

Sifat: Sinis, logis, dan sangat skeptis. Ia lebih percaya pada data dan angka daripada insting manusia. Thara adalah otak di balik setiap strategi penyergapan tim Jira.

Hubungan: Sahabat dekat Karan. Status Masa Depan: Sedang dalam proses "perjodohan keluarga" dengan Faiwan, meskipun saat ini ia masih bersikap dingin dan profesional (tsundere).

👨🏻‍⚕️Napath Tawanakul ( Napath )

Umur: 28 Tahun

Pekerjaan: Fotografer Forensik & Tenaga Medis Cadangan Kepolisian.

Ciri Fisik: Wajah lembut, mata yang penuh empati, selalu membawa kamera profesional atau tas medis kecil.

Sifat: Tenang, pengamat yang jeli, dan menjadi "jangkar" kewarasan bagi Karan. Meskipun terlihat rapuh, Napath memiliki keberanian luar biasa dan insting medis yang tajam untuk menyelamatkan nyawa di situasi kritis.

Hubungan: Kekasih Karan. Ia adalah satu-satunya orang yang bisa meredam amarah Karan.

👨🏻‍⚕️Faiwan Techawong ( Faiwan / Fai )

Umur: 27 Tahun

Pekerjaan: Ahli Forensik & Patologi.

Ciri Fisik: Sering mengenakan jas lab putih, kacamata tipis beni b rambut sedikit berantakan karena terlalu sering meneliti mikroskop, pembawaannya ceria namun berubah serius di depan mayat.

Sifat: Antusias, cerdas, dan terkadang terlalu blak-blakan dalam menyampaikan fakta medis yang mengerikan. Ia adalah orang yang paling teliti dalam mencari detail sekecil apa pun di TKP.

Hubungan: Rekan kerja terpercaya Napath di lab. Status Masa Depan: Calon tunangan Thara melalui perjodohan. Ia sering menggoda Thara meski Thara sering mengabaikannya.

...Temukan jawabannya bersama tim Investigasi, tentukan siapa tersangka mu 👥...

...haloo, salam kenal, Aku Lvnathi, barangkali belum pernah atau belum bertemu dengan Keng Harit dan Namping, mereka adalah idolaku dari Thailand, sedikit penjelasan tentang mereka, aku kenal mereka lewat drama mereka yang Hits yaitu "KHEMJIRA: Khemjira Must Survive" kalian bisa banget tonton series mereka di platform "IQIYI", untuk lebih kenal sama mereka jangan lupa follow akun sosial media mereka ya 🥰🥰...

Keng : @harit_keng

Namping: @nampingster

...Untuk Lvnathi sendiri aku datang dari Wattpad universe, ini pertama kali aku mampir, halo salam kenal semua di Lvnathi universe, phi phi semua jika mau baca dan kepo dengan Lvnathi universe dan cerita KengNamping lainnya kalian bisa mampir ke akun Wattpad ku yaa @lvnathi disana aku punya banyak cerita KengNamping sampai ketemu phi phi semua, jangan lupa kasi mango nya untuk dukung Lvnathi 🥰🥰 luv y'all 🥰 thankyou na kubb🥰🥰...

...✨ Selamat Membaca✨

...

...****************...

Ch 1: Presisi dan Kehangatan

Bau kopi hitam pekat bercampur samar dengan aroma antiseptik yang tak pernah sepenuhnya hilang dari koridor Departemen Investigasi Kriminal. Di lantai lima, di antara tumpukan berkas kasus yang menggunung dan layar monitor yang memancarkan cahaya dingin, Karan Jirayu Kittisiri adalah sebuah anomali.

Ia duduk tegak, punggung lurus nyaris tanpa sandaran, jari-jarinya menari di atas keyboard dengan presisi seorang pianis virtuoso, namun ekspresinya datar, seolah setiap data yang ia input adalah bagian dari teka-teki logika yang harus dipecahkan, tanpa emosi.

Pukul setengah delapan pagi, dan seperti biasa, ia sudah tiba di kantor dua jam lebih awal dari kebanyakan rekannya. Lampu neon memantulkan cahaya pada rambut hitamnya yang selalu rapi, dan bingkai kacamata silver bertengger sempurna di hidungnya yang mancung. Sebuah kalung berliontin kunci kecil yang selalu ia kenakan, berkilauan samar di balik kerah kaos hitamnya yang senada dengan trench coat panjang yang tergantung di sandaran kursinya.

Tatapannya tajam, menembus setiap baris laporan, mencari celah, kejanggalan, atau pola yang mungkin terlewatkan oleh mata lain. Dedikasi Karan, atau Jira seperti yang hanya Napath berani memanggilnya, adalah legenda di kepolisian. Sebuah dedikasi yang seringkali mengorbankan waktu tidur, bahkan kadang makan.

Kasus "The Midnight Florist" telah menghantui kota selama delapan bulan terakhir. Tiga korban, tiga TKP berbeda, namun satu kesamaan mengerikan: setiap jasad ditemukan dengan sekuntum bunga langka yang diletakkan secara artistik di atas dada. Tanpa sidik jari, tanpa saksi mata yang kredibel, dan minim bukti fisik. Pelaku adalah hantu, namun jejak kebiadabannya begitu nyata.

"Kopi lagi? Kau akan mati karena serangan jantung sebelum sempat memborgol pelaku itu, Karan."

Suara bariton itu memecah kesunyian. Thara Wattanapasin berdiri di ambang pintu kantor, menyandarkan bahunya yang lebar di kusen kayu. Berbeda dengan Karan yang kaku dan tertutup, Thara memiliki aura karismatik yang lebih santai namun tetap mengintimidasi.

Mereka adalah dua detektif terbaik di angkatan mereka—tumbuh dan meniti karier bersama, bersaing sekaligus saling mengandalkan. Jika Karan adalah otak yang dingin dan kalkulatif, Thara adalah intuisi yang tajam di lapangan.

Karan menghela napas tipis tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Dan kau datang terlambat lagi, Thara. Setidaknya jantungku masih berdetak untuk bekerja, bukan sekadar untuk bergaya dengan jas mahalmu."

Thara terkekeh, melangkah masuk dan duduk di ujung meja Karan tanpa permisi. "Ini bukan terlambat, ini disebut efisiensi waktu. Jadi, apa yang otak jeniusmu temukan semalam? Jangan katakan kau hanya menatap foto TKP sampai matamu berdarah."

"Pola pembelian pupuk tertentu dari toko-toko daring yang menjual benih bunga langka. Ada beberapa akun anonim yang mencurigakan," jawab Karan serius, akhirnya menoleh.

Thara mendengus. "Bagus, tapi itu jutaan akun, Kapten. Kita butuh seseorang yang benar-benar bisa menghubungkan ini ke pelaku, bukan sekadar hobi berkebun yang aneh."

"Justru di situ letaknya," balas Karan, akhirnya menoleh, sepasang matanya menyiratkan kelelahan yang akut namun tersembunyi. "Pelaku ini sangat teliti. Bunga-bunga yang ia gunakan bukan jenis yang bisa ditemukan di sembarang toko bunga. Mereka butuh perawatan khusus, dan itu berarti pelaku punya pengetahuan, bahkan mungkin obsesi, terhadap hortikultura. Pupuk ini mungkin saja jejak satu-satunya."

Thara terdiam, ekspresi main-mainnya memudar, digantikan oleh ketajaman seorang pemburu. "Itu masuk akal. Bunga itu bukan sesuatu yang bisa kau beli di pasar bunga. Seseorang dengan kesabaran luar biasa untuk merawat bunga sesulit itu... dia pasti punya kontrol diri yang sangat tinggi."

"Atau obsesi yang sangat dalam," gumam Karan.

"Bicara soal obsesi," Thara menegakkan duduknya, wajahnya berubah serius. "Baru saja masuk laporan. Jenazah keempat ditemukan satu jam yang lalu."

Kata-kata itu bagai pukulan tak terlihat. Gerakan jari Karan terhenti. Mata tajamnya mengerut. "Di mana?"

"Gudang tua di pinggir kota, dekat Sungai Chao Phraya. Jam lima pagi tadi. Saksi adalah seorang pemancing yang lewat. Dia menelepon saat melihat sebuah van hitam mencurigakan pergi dari lokasi. Korban... seorang wanita muda, sekitar dua puluh lima tahun. Dan ya, ada bunganya."

"Bunga apa?" Karan bertanya, suaranya lebih tegang dari biasanya.

"The Ghost Orchid," jawab Thara. "Sesuai dengan nama pembunuhnya, Midnight Florist."

"Pindahkan semua sumber daya ke sana," perintah Karan, sudah berdiri dan meraih trench coat-nya. "Kita berangkat sekarang. Hubungi Napath dan Faiwan. Aku ingin mereka ada di sana secepatnya."

Di lokasi kejadian, suasana pagi yang dingin terasa mencekam. Gudang tua yang terbengkalai itu diselimuti embun, dan aroma basi bercampur dengan bau kematian. Garis polisi berwarna kuning terpasang melingkar, membatasi kerumunan petugas dan beberapa warga penasaran.

Karan melangkah melewati garis, tatapannya menyapu setiap sudut. Ia berhenti di dekat jenazah, yang terbaring di lantai semen dingin, tertutup selimut tipis. Seorang petugas berambut merah terang dan kacamata bulat sudah berjongkok di sana, dengan teliti mengambil sampel dan foto. Itu Faiwan Techawong, ahli forensik termuda di tim.

Di sampingnya, dengan kamera Nikon tuanya yang selalu tergantung di leher, Napath Tawanakul sedang mengambil gambar dari berbagai sudut, sesekali berbicara pelan dengan Faiwan.

Napath terlihat lebih serius dari biasanya. Rambut cokelat madunya sedikit berantakan, dan matanya yang sendu menatap lurus pada korban, namun raut wajahnya menunjukkan kesedihan yang mendalam. Ia mengenakan jaket sweater rajut berwarna krem—pakaian yang sama sekali tidak cocok untuk TKP, namun adalah salah satu pakaian favorit Karan yang sering ia kenakan di rumah.

Aroma khas dari parfum Napath yang lembut, berpadu dengan bau Ghost Orchid yang samar, kini memenuhi udara.

"Faiwan, bagaimana kondisinya?" Karan bertanya tanpa basa-basi.

Faiwan mendongak, matanya sedikit memerah karena kurang tidur. "Sudah pasti bukan perampokan, Karan. Tidak ada tanda-tanda barang berharga hilang. Penyebab kematian... cekikan. Ada bekas memar di leher. Dan, seperti tiga korban sebelumnya, tidak ada tanda-tanda perlawanan yang signifikan. Korban sepertinya tidak melawan, atau tidak punya kesempatan melawan."

"Dan bunganya?"

"Ghost Orchid," jawab Faiwan, menunjuk pada bunga putih pucat yang kontras dengan kulit korban yang membiru. "Sama persis seperti deskripsi di kasus-kasus sebelumnya. Diletakkan dengan sangat hati-hati, seperti sebuah persembahan."

Karan berjongkok, mengamati bunga itu dari dekat. Kelopaknya tipis, putih seperti hantu, dengan bentuk yang unik dan sedikit menyeramkan. "P'Jira," suara Napath terdengar lembut di sampingnya, "aku sudah mengambil semua angle yang diperlukan. Aku juga mengambil foto jarak dekat bunganya. Resolusi tinggi."

Karan menoleh ke Napath, tatapan mata mereka bertemu. Dalam kerumitan TKP yang mengerikan ini, sentuhan hangat dari kehadiran Napath seolah menjadi satu-satunya jangkar bagi Karan. Napath selalu bisa membaca ekspresinya, bahkan saat Karan mencoba menyembunyikannya.

Matanya seolah bertanya, "Apakah kau baik-baik saja, P'Jira?" Karan hanya mengangguk tipis, sebuah bahasa non-verbal yang hanya mereka berdua pahami.

Thara menghampiri mereka. "Karan, ada sesuatu yang aneh. Van yang dilihat saksi, warnanya hitam. Dan di rekaman CCTV jalanan sekitar sini, ada beberapa van hitam yang lewat. Tapi salah satunya... van itu tidak memiliki plat nomor yang jelas. Terlalu buram untuk diidentifikasi."

"Artinya pelaku sengaja mempersiapkannya," ujar Karan, berdiri tegak. "Ini bukan kejahatan spontan. Ini direncanakan dengan matang. Pelaku tidak meninggalkan sidik jari, tidak ada jejak kaki, dan sekarang bahkan kendaraan pun diupayakan tanpa identitas."

"Aku setuju," kata Thara. "Seseorang yang tahu betul bagaimana caranya menghindari penangkapan. Mungkin seseorang dari... dalam."

Ekspresi Karan menegang. Ia sudah memikirkan kemungkinan itu sejak lama, namun menolaknya. "Itu terlalu berisiko. Setiap orang di departemen kita sudah melewati pemeriksaan latar belakang yang ketat."

"Tidak ada yang tidak mungkin," balas Thara, matanya yang berpengalaman menatap tajam. "Bagaimanapun juga, kita harus mempertimbangkan semua kemungkinan."

Napath mendengarkan percakapan itu, jemarinya memegang erat kamera di lehernya.

Senyum tipisnya yang biasa kini menghilang, digantikan oleh kerutan khawatir di dahinya. Ia melirik Karan, sebuah kilatan keraguan muncul di matanya sebelum ia berhasil menyembunyikannya.

Sore harinya, kantor kembali sunyi, namun ketegangannya jauh lebih kental. Karan mengunci diri di ruangannya, dikelilingi peta kota yang ditandai, data-data korban, dan informasi tentang Ghost Orchid. Ia merasa seperti ada benang merah yang ia lewatkan, sebuah potongan teka-teki yang tersembunyi di balik semua kejelasan ini.

"P'Jira, kau sudah makan?"

Suara Napath yang lembut mengejutkan Karan. Ia tidak menyadari Napath sudah masuk ke dalam. Di tangan Napath ada sebuah mangkuk kecil berisi bubur beras hangat dan segelas air putih. Aroma bubur itu langsung mengisi ruangan, jauh lebih menyenangkan daripada bau kantor.

"Belum," jawab Karan jujur, matanya masih terpaku pada sebuah artikel tentang legenda Ghost Orchid—bunga yang dipercaya tumbuh di tempat-tempat sunyi, terkadang dekat dengan tempat bersemayamnya arwah yang gentayangan.

Napath meletakkan mangkuk itu di meja, mendorong beberapa berkas agar ada tempat. "Aku tahu kau tidak akan ingat makan lagi jika tidak kubawakan." Ia tersenyum tipis, senyum yang selalu berhasil meluluhkan kekakuan Karan. Napath kemudian duduk di kursi kosong di samping Karan, jemarinya bergerak lembut mengurut pelipis P’Jira.

Sentuhan Napath bagaikan obat penenang. Otot-otot tegang di wajah Karan sedikit mengendur. "Terima kasih, Napath."

"Bagaimana kasusnya?" tanya Napath, suaranya dipenuhi empati. "Aku melihatmu begitu tegang hari ini."

"Sulit," Karan mengaku, bersandar di sandaran kursi untuk pertama kalinya hari itu. Ia memejamkan mata sesaat, menikmati sentuhan Napath. "Pelaku ini sangat bersih. Tidak ada jejak. Hanya bunga. Dan pola yang terlalu sempurna."

"Mungkin memang itu petunjuknya," Napath berbisik, terus memijat. "Kesempurnaan itu sendiri. Siapa yang akan terlalu peduli pada detail seperti itu?"

Karan membuka mata, menatap Napath. "Kau benar. Itu yang sedang kupikirkan. Pelaku ini... obsesif. Bukan hanya pada pembunuhannya, tapi pada estetika kematiannya." Ia meraih mangkuk bubur itu, mulai menyuapnya. Rasa gurih dan hangat bubur itu adalah hal terbaik yang ia rasakan sepanjang hari.

"Mungkin dia ingin diakui," Napath melanjutkan, pandangannya menerawang. "Atau mungkin dia ingin mengatakan sesuatu. Bunga seringkali menjadi simbol, bukan?"

Karan mengangguk, terdiam. Pikiran Napath seringkali memiliki perspektif unik yang membantu Karan melihat dari sudut pandang lain. Mereka berdua berdiam diri untuk beberapa saat, hanya suara sendok yang beradu dengan mangkuk yang terdengar.

"Aku merindukanmu," Napath berbisik, suaranya lebih pelan dan intim. "Kau jarang pulang akhir-akhir ini, P'Jira. Aku khawatir."

Karan menghentikan suapannya. Ia meraih tangan Napath yang masih di pelipisnya, menggenggamnya erat. "Maaf, Napath. Kasus ini... begitu rumit. Tapi aku akan segera menyelesaikannya. Aku janji."

Ada sesuatu di tatapan Napath, sebuah keraguan yang nyaris tak terlihat. Seperti bayangan awan yang melintas di permukaan danau. Sebuah ketidakpastian yang tersembunyi di balik senyum sendunya.

Namun Karan terlalu lelah, terlalu fokus pada kasusnya, untuk menyadarinya. Ia hanya merasakan kehangatan dari sentuhan tangan Napath, sebuah oase di tengah gurun kekejaman yang harus ia hadapi setiap hari.

"Pulanglah malam ini," pinta Napath. "Aku akan menunggumu."

Karan mengangguk. "Aku akan berusaha. Ada beberapa data lagi yang harus kuselesaikan sebelum bisa pulang dengan tenang."

Napath tersenyum, senyum yang sedikit dipaksakan. "Baiklah. Jangan terlalu memaksakan diri, P'Jira. Kau tahu aku selalu ada untukmu." Ia berdiri, membereskan mangkuk kosong. Sebelum pergi, ia membungkuk, mencium kening Karan dengan lembut. "Aku mencintaimu."

"Aku juga mencintaimu, Napath," balas Karan, suaranya lebih tulus dari yang ia sadari.

Namun, begitu Napath pergi, senyum tipis di wajah Karan menghilang. Ia kembali menatap peta, pada lingkaran-lingkaran merah yang menandai lokasi TKP. Sebuah benang merah mulai terbentuk, bukan hanya secara geografis, tetapi juga secara simbolis. Sebuah pola yang samar, namun terasa begitu akrab.

Ia meraih ponselnya, mencari informasi lebih lanjut tentang Ghost Orchid.

Dendrophylax lindenii, sebuah anggrek langka tanpa daun, nyaris tembus pandang, yang seluruh hidupnya bergantung pada hubungan simbiotik dengan jamur tertentu. Ia tumbuh di rawa-rawa gelap, tersembunyi dari pandangan, mekar hanya di malam hari. Bunga hantu.

Karan merasa kepalanya berdenyut, sensasi aneh yang sering ia alami akhir-akhir ini. Seperti ada bagian dari ingatannya yang kabur, kosong, seolah ada potongan waktu yang terhapus. Ia mengusap pelipisnya. Ini hanya kelelahan, ia meyakinkan dirinya sendiri.

Di kejauhan, di sudut gelap gudang tua yang menjadi TKP, di bawah lantai semen yang dingin, sebuah akar tipis Ghost Orchid yang tak terlihat, diam-diam menjalar, mencari nutrisi di kegelapan. Sebuah simbiotik, sebuah ketergantungan. Dan di dalam diri Karan, di antara bayangan presisi dan kehangatan, sesuatu yang tak terlihat sedang tumbuh.

****

To be continued

Haloo bagaimana kelanjutan dari kisah Jira dan Napath yukk follow Lvnathi biar phi phi semua dapat notif dari aku 🙏🏻😍

Selamat membaca 🥰

Jangan lupa mango dan comment nya krubb 😄🙏🏻

Ch 2: Spektrum Ketidakpastian

Suasana ruang otopsi Departemen Forensik terasa jauh lebih dingin daripada koridor kantor kepolisian. Dindingnya yang dilapisi ubin porselen putih memantulkan cahaya lampu fluoresen yang terlalu terang, menciptakan bayangan tajam di setiap sudut.

Bau formalin yang menyengat, bercampur dengan aroma logam dari meja diseksi berbahan stainless steel, adalah udara sehari-hari bagi mereka yang bekerja di sini.

Faiwan sudah mengenakan baju pelindung lengkap (hazmat suit sekali pakai), masker bedah, dan face shield. Tangannya yang terbungkus sarung tangan lateks ganda bergerak lincah menata instrumen: skalpel, tang pemotong tulang, dan botol-botol sampel. Di sampingnya, Napath berdiri dengan kamera yang sudah terlindungi plastik transparan agar tidak terkontaminasi cairan tubuh.

"Siap, Napath? Kita mulai dengan pemeriksaan luar secara makroskopis," ujar Faiwan, suaranya teredam masker.

Napath mengangguk, mengatur fokus lensa makronya. "Siap, Fai."

Di atas meja logam itu terbaring korban keempat. Kulitnya pucat pasi, hampir sewarna dengan Ghost Orchid yang kini sudah dipindahkan ke wadah steril. Faiwan mulai mendiktekan temuannya ke alat perekam suara yang tergantung di lehernya.

"Korban wanita, estimasi usia 24-27 tahun. Berat badan 52 kilogram, tinggi 162 centimeter. Tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan seksual pada pemeriksaan awal swab eksternal. Namun, perhatikan ini, Napath... ambil foto di area leher."

Napath mendekat, lensa kameranya menangkap detail mengerikan di leher korban. Ada pola memar melingkar yang berwarna ungu gelap.

"Ini adalah ligature mark," jelas Faiwan sambil menunjuk memar tersebut.

Catatan Forensik:

* Ligature Mark: Bekas luka tekan pada leher yang disebabkan oleh jeratan benda (tali, kabel, atau kain).

* Ecchymosis: Istilah medis untuk memar, yaitu rembesan darah di bawah kulit akibat pecahnya pembuluh kapiler.

"Jeratannya sangat halus, hampir tidak merobek kulit epidermis. Pelaku menggunakan sesuatu yang lembut namun kuat. Mungkin kain sutra atau syal berkualitas tinggi," lanjut Faiwan. "Dan lihat matanya."

Faiwan membuka kelopak mata korban dengan hati-hati. Napath menahan napas saat melihat bintik-bintik merah kecil di bagian putih mata korban.

"Ini disebut Petechiae," Faiwan menjelaskan tanpa diminta. "Bintik merah ini muncul karena pecahnya pembuluh darah kapiler akibat tekanan besar di leher yang menghentikan aliran balik vena. Ini bukti kuat kematian akibat asfiksia atau kekurangan oksigen secara paksa."

Napath terus memotret, namun tangannya sedikit gemetar. Pikirannya melayang pada kejadian tiga malam lalu. Saat itu, ia terbangun pukul dua pagi karena mendengar suara langkah kaki di lorong rumah mereka. Ia menemukan Karan—P’Jira-nya—berdiri di depan jendela ruang tamu, menatap kegelapan dengan tatapan kosong.

Saat Napath menyentuh bahunya, Karan tersentak hebat, napasnya memburu seolah habis berlari maraton, namun ia mengaku hanya mimpi buruk.

"Fai," panggil Napath pelan sambil tetap membidikkan kamera. "Apa mungkin pembunuhnya memiliki pengetahuan medis? Maksudku, cara dia meletakkan bunga itu... sangat presisi."

Faiwan berhenti sejenak, memegang skalpelnya di udara. "Bukan cuma medis, Napath. Ini lebih ke arah ritualistik. Pembunuh ini tidak membenci korbannya. Dia seolah-olah 'merawat' mereka setelah mati. Lihat bagaimana rambut korban disisir rapi? Tidak ada tanda-tanda perlawanan (defense wounds) di lengan bawah atau telapak tangan. Biasanya, orang yang dicekik akan mencakar pelaku atau mencoba melepaskan jeratan."

"Jadi, korban tidak melawan?" tanya Napath, suaranya bergetar.

"Kemungkinan besar korban dalam keadaan tidak sadar atau di bawah pengaruh sedatif saat eksekusi dimulai. Kita menunggu hasil Toksikologi untuk memastikannya," jawab Faiwan.

Catatan Forensik:

* Toksikologi: Analisis kimia untuk mendeteksi adanya obat-obatan, racun, atau zat kimia dalam cairan tubuh jasad.

* Defense Wounds: Luka tangkis yang biasanya ditemukan pada tangan atau lengan korban saat mencoba melindungi diri dari serangan senjata tajam atau tumpul.

Napath terdiam. Spekulasi di kepalanya mulai terasa seperti duri. Ia teringat betapa P'Jira sering mengeluh tentang "waktu yang hilang". Kadang P'Jira bertanya apakah mereka sudah makan malam, padahal mereka baru saja menyelesaikannya satu jam yang lalu. Tidak, itu pasti karena tekanan kerja, batin Napath mencoba menepis. P'Jira adalah seorang Kapten. Dia pahlawan kota ini. Tidak mungkin dia ada hubungannya dengan kegilaan ini.

"Napath? Kau melamun?" tegur Faiwan.

"Ah, maaf. Aku hanya berpikir betapa kejamnya pelaku ini," dusta Napath.

"Kejam? Mungkin. Tapi dia juga sangat rapi. Bahkan terlalu rapi untuk seorang manusia biasa. Dia seperti bayangan," gumam Faiwan sambil mulai melakukan insisi Y pada dada korban untuk pemeriksaan organ dalam.

Sementara itu, di lantai atas, suasana tidak kalah tegang. Karan sedang berdiri di depan papan tulis kaca yang penuh dengan coretan spidol merah. Thara masuk membawa tumpukan dokumen baru.

"Kapten," panggil Thara, menggunakan sebutan formalnya untuk menunjukkan bahwa situasi sedang serius. "Hasil penelusuran plat nomor van hitam itu nihil. Platnya palsu, terdaftar pada mobil rongsokan di gudang besi tua dua tahun lalu."

Karan memijat pangkal hidungnya di balik kacamata. "Dia tahu celah kita, Thara. Dia tahu kamera mana yang aktif dan mana yang hanya pajangan di rute menuju gudang itu."

Thara bersandar pada meja Karan. "Karan, kita sudah berteman sejak akademi. Aku tahu kau ambisius, tapi kasus ini membuatmu terlihat... tidak fokus. Kau terlihat pucat sekali."

"Aku baik-baik saja, Thara. Hanya kurang tidur," jawab Karan tegas. "Lalu bagaimana dengan daftar pemilik Ghost Orchid?"

"Masih dalam proses. Masalahnya, bunga itu dilindungi secara hukum. Orang tidak membelinya di pasar bunga biasa. Mereka membelinya lewat dark web atau kolektor pribadi. Faiwan bilang bunga di TKP tadi masih sangat segar, seperti baru dipetik kurang dari satu jam sebelum ditemukan."

Karan terdiam. Kurang dari satu jam. Jam lima pagi jasad ditemukan, berarti bunga dipetik sekitar jam empat. Pukul empat pagi itu... ia ingat terbangun di sofa ruang tamu dengan baju lengkap, merasa kedinginan, dan Napath sedang menyelimutinya dengan wajah khawatir.

"Kapten? Kau mendengarku?" Thara melambai-lambaikan tangan di depan wajah Karan.

"Ya. Maaf. Lanjutkan," ujar Karan cepat.

"Aku akan membagi tim menjadi dua. Aku akan menyisir kolektor bunga di wilayah Utara, kau fokus pada analisis data CCTV yang baru masuk dari gerbang tol. Dan Karan... tolong, pulanglah lebih awal malam ini. Napath menghubungiku tadi pagi, dia mengkhawatirkanmu."

Karan mendengus pelan, namun ada seulas senyum tipis yang muncul karena perhatian kekasihnya. "Dia selalu berlebihan. Tapi baiklah, aku akan mencoba pulang sebelum tengah malam."

Kembali ke ruang forensik, proses otopsi hampir selesai. Faiwan sedang menjahit kembali tubuh korban dengan rapi. Napath sedang membersihkan lensa kameranya saat ia melihat sesuatu di sudut meja bedah—plastik bening berisi bunga Ghost Orchid yang tadi dipindahkan.

Napath mendekat, memperhatikan detail bunga itu tanpa kamera. Bunga itu indah, namun mematikan dalam konteks ini. Ia teringat hobi baru P'Jira di kebun kecil belakang rumah mereka. P'Jira bilang dia sedang mencoba menanam beberapa tanaman hias untuk menghilangkan stres.

Apakah P'Jira menanam anggrek? Napath mencoba mengingat-ingat. Sejauh yang ia tahu, P'Jira hanya menanam tanaman hijau biasa. Ia belum pernah melihat bunga putih seperti ini di rumah mereka.

"Fai, apa bunga ini sulit dirawat?" tanya Napath tiba-tiba.

Faiwan menoleh. "Sangat sulit. Bunga ini tidak punya daun, jadi dia tidak bisa berfotosintesis sendiri. Dia butuh jamur spesifik untuk hidup. Secara teknis, dia adalah parasit yang elegan. Hanya orang dengan kesabaran luar biasa dan lingkungan terkontrol yang bisa membuatnya mekar sesempurna ini."

"Kesabaran luar biasa..." gumam Napath. Itu adalah deskripsi sempurna untuk Karan Jirayu. Kapten detektif yang bisa duduk berjam-jam mengamati rekaman video tanpa berkedip.

Napath menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Berhenti, Napath. Jangan mencurigai orang yang mencintaimu.

"Sudah selesai, Napath. Kau bisa kirimkan hasil fotonya ke meja Kapten Karan sekarang?" tanya Faiwan sambil melepas sarung tangannya.

"Tentu. Aku akan segera memprosesnya di ruang gelap," jawab Napath.

Saat Napath berjalan keluar dari ruang forensik, ia berpapasan dengan Thara di koridor.

"Oh, Napath! Bagaimana hasilnya?" tanya Thara ramah.

"Sama seperti sebelumnya, Khun Thara. Asfiksia karena jeratan. Faiwan sedang menyusun laporan lengkapnya."

Thara mengangguk, lalu merangkul bahu Napath dengan akrab. "Jaga Kaptenmu, ya. Dia bekerja seperti mesin akhir-akhir ini. Aku takut bautnya lepas."

Napath tertawa kecil, meski hatinya terasa berat. "Aku akan berusaha, Khun Thara. Dia memang keras kepala."

"Bukan cuma keras kepala," Thara berbisik dengan nada lebih serius. "Dia seolah-olah sedang memburu dirinya sendiri. Kau tahu kan bagaimana dia jika sudah terobsesi pada sesuatu? Dia tidak akan berhenti sampai dia menghancurkan segalanya, termasuk dirinya sendiri."

Kalimat Thara terngiang-ngiang di telinga Napath sepanjang jalan menuju ruang kerjanya. Memburu dirinya sendiri.

Sesampainya di ruang kerja fotografer forensik, Napath mulai memindahkan file foto dari kartu memori ke komputer. Satu per satu gambar muncul di layar besar. Jasad, leher yang memar, bintik merah di mata, dan... bunga itu.

Tiba-tiba, ia teringat sesuatu. Malam itu, saat P'Jira terbangun dari tidurnya yang gelisah, ada bau aneh yang tertinggal di bantalnya. Bukan bau parfum, bukan bau keringat. Itu adalah bau tanah yang lembap dan aroma manis yang sangat tipis. Aroma yang sekarang ia sadari... identik dengan aroma bunga yang ada di meja otopsi Faiwan.

Tangan Napath membeku di atas mouse. Ia menatap foto makro Ghost Orchid di layarnya. Pikirannya berperang antara logika seorang penyidik dan perasaan seorang kekasih.

Tidak mungkin. Ini hanya kebetulan. P'Jira sering berada di luar, mungkin dia tidak sengaja menginjak tanah lembap saat memeriksa lokasi kejadian sebelumnya, pikir Napath mencoba rasional.

Namun, bagian kecil dari jiwanya mulai merasa takut. Bukan takut pada sang pembunuh berantai, melainkan takut pada kenyataan bahwa "rumah" tempat ia pulang selama ini mungkin memiliki pintu rahasia yang tidak pernah ia ketahui keberadaannya.

Di luar, hujan mulai turun membasahi kota, mengaburkan pandangan, persis seperti keraguan yang mulai tumbuh subur di hati Napath Tawanakul.

***

To be continued

👣👣

Jangan lupa Vote dan comment nya krubb 😄🙏🏻

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play