English
NovelToon NovelToon

The Blackstone; Perang Identitas Sang Agen

Bab 1

POV Ghani

Suasana di restoran tua di kawasan Blok M itu terasa gelap bagiku, terutama saat aroma kopi dan kayu tua itu bercampur menjadi satu menciptakan aroma khas yang tak pernah bisa menerangi pikiranku. Aku, Ghani, tapi dalam dunia gelapku aku menamakan diriku dengan 'Sam' karena saat kamu memutuskan untuk berada dalam bayangan, maka nama hanyalah kata, duduk membelakangi jendela yang mengaburkan pemandangan lampu kota Jakarta. Dunia bayangan melatihku untuk selalu siap dengan semua kemungkinan. Duduk di belakang menghadap pintu keluar adalah jalan termudah jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.

​Di depanku, Mike duduk dengan sikap tenang yang berusaha untuk mengintimidasiku. Mata Mike mencoba menginginkan kelamnya mataku untuk terus mengikuti apa yang diinginkannya, membuatku tunduk pada perintahnya.

​"Kau bilang ini bernilai 9 juta dolar, Sam," ujar Mike rendah, suaranya nyaris tenggelam oleh suara kipas angin gantung di langit-langit. "Itu angka yang sangat besar untuk sekadar 'informasi'."

"Sembilan juta dolar, Mike?" Aku terkekeh dengan suara yang terdengar dingin dan datar. Aku tidak memajukan tubuhku tapi aku justru bersandar, menatap langit-langit tua restoran itu dan kemudian mendarat pada tatapan Mike dengan pandangan yang membuat pria itu merasa dikorek pikirannya.

​"Frederik memiliki aset yang nilainya mencapai ratusan juta dolar di Filipina. Dia menyuap pejabat, menguasai dermaga, dan memanipulasi pasar. Sembilan juta hanyalah uang saku yang dia habiskan untuk pesta akhir pekan di Palawan."

​Aku menyesap air putihku dengan tenang. "Kalau aku membawa ini ke pihak lain, atau membiarkan Frederik terus beroperasi, dia akan menghasilkan keuntungan sepuluh kali lipat dari harga yang kutawarkan padamu. Jadi, jangan sebut ini sebagai 'informasi'. Ini adalah biaya untuk memotong gurita bisnis Frederik dan memastikannya untuk jatuh dalam kehancuran."

​Mike hanya terdiam, matanya menyipit.

​"Dua puluh juta dolar," ucapku pelan. "Dengan membeli dokumen ini kau bisa melakukan segalanya untuk kerajaan bisnismu Mike. Kau bahkan bisa mendapatkan klienmu dengan begitu mudah dengan dokumen ini. Aku yakin tak sedikit dari mereka yang menginginkan dokumen ini. Silahkan, aku tak memaksamu, aku hanya menawarkan. Jika tidak aku akan mengambil kembali."

Mike terdiam cukup lama. Suasana di restoran itu seolah membeku, hanya deru mesin pendingin ruangan tua yang terdengar mendengung pelan. Ia menatapku, bukan dengan tatapan meremehkan seperti sebelumnya, melainkan dengan sorot mata seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia sedang duduk berhadapan dengan predator yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.

​Mike akhirnya menyunggingkan senyum tipis, sebuah pengakuan tak terucap atas kinerja seorang 'Sam'.

​"Dua puluh juta," Mike mengulang angka itu, suaranya kini lebih berat, tentu saja, aku tahu angka itu besar tapi sepadan dengan nyawa dan keringat yang sudah kupertaruhkan. Ia mengeluarkan sebuah ponsel enkripsi dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja kayu yang sudah tergores-gores. "Kau tahu, Sam, sebagian orang akan menganggapmu serakah. Tapi bagiku, kau baru saja membuktikan kenapa kau satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan kotor di Manila ini."

​Mike menekan beberapa tombol pada ponsel itu, memberikan instruksi singkat dalam bahasa dimana pengunjung di restoran itu tak ada yang tahu..

​"Transfer akan masuk ke akunmu dalam sepuluh menit. Enkripsi level militer, tidak bisa dilacak, tidak akan pernah ada jejaknya di buku besar bank mana pun." Mike mendorong ponsel itu ke arahku. "Data itu... pastikan itu sepadan dengan harganya. Aku tidak ingin ada celah kecil yang membuat Frederik bisa lolos dari jeratan hukum."

​Aku tidak langsung menyentuh ponsel itu. Aku hanya mengangguk pelan, tetap tenang.

"Frederik tidak akan memiliki celah. Dia bahkan tidak akan menyadari dari mana datangnya arah pukulan telak yang akan menghantamnya di masa depan ."

​Aku berdiri, merapikan letak kemejaku, dan mengambil tas kerjaku. Aku menatap Mike sekali lagi, tatapan yang dingin dan tanpa emosi.

​"Uangnya sudah, datanya sudah. Kita tidak pernah bertemu di sini, Mike."

​Tanpa menunggu balasan, Aku melangkah keluar menuju pintu restoran. Saat aku mendorong pintu kayu yang berat itu, hawa panas Jakarta menyambutku, bercampur dengan asap knalpot dan aroma jalanan. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku pulang menuju kos tuaku di pinggiran kota.

Di atas meja kayu yang permukaannya sudah kasar, alat-alat taktisku tergelar, bukan mainan, melainkan perangkat presisi yang telah menjadi saksi bisu dari berbagai macam misiku.

​Aku mulai dengan melepaskan magasin dari pistol 9mm, mengosongkannya, lalu menyimpannya ke dalam kompartemen tersembunyi di tas ransel taktis berwarna hitam pudar. Gerakanku seperti otomatis, aku sudah melakukan pekerjaan itu selama bertahun-tahun yang membuatku hafal dengan urutannya.

​Satu per satu, aku melipat perangkat penyadap, mencabut kabel-kabel mikro, dan membungkusnya ke dalam kantong antistatis. Aku tidak memerlukan banyak barang. Hidup sebagai "bayangan" telah mengajariku bahwa semakin sedikit jejak yang kau tinggalkan, semakin lama kau bisa bertahan.

​Setelah memastikan tidak ada satu pun sidik jari atau perangkat yang tertinggal di celah lantai kayu itu, aku menarik napas dalam-dalam. Udara di kamar ini terasa pengap, berbau debu dan rokok lama, kontras dengan sebenarnya apa yang aku inginkan.

​Aku meraih tiket pesawat yang tergeletak di samping tempat tidur.

​Tora-Tora.

Tanah leluhurku dimana aku dilahirkan. ​Tempat itu adalah antitesis dari Jakarta yang bising dan padat. Di sana, di antara rumah-rumah adat yang menjulang ke langit dan keheningan pegunungan yang menenangkan, air laut dengan deburan ombaknya yang menenggelamkan segala kerumitan pikiran, aku tidak perlu menghitung arah angin atau mengantisipasi serangan dari belakang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku akan menanggalkan identitas sebagai "agen" dan menjadi seseorang yang hanya sekadar anak pulau yang sedang haus akan liburan , seseorang yang tidak memikul beban jutaan dolar atau rahasia penggelapan pajak di pundaknya.

Aku sangat merindukan tempat masa kecilku dimana aku tumbuh. Aku merindukan nenek, aku merindukan Ghina adik perempuan satu-satunya yang kini sudah pergi jauh untuk menggapai semua cita-citanya. Disana aku memiliki banyak kenangan indah, sedang disini, disini hanya tempat aku berlari, berlari untuk menghilangkan bayangan dimana orangtuaku tewas pada kecelakaan mobil itu. Tempat ini juga sebagai tempat aku mulai berlari untuk mengejar misi dan targetku.

​Aku mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan itu sepenuhnya. Suara langkahku di lorong kos yang sempit menjadi satu-satunya tanda bahwa aku pernah ada di sana.

​Saat aku melangkah keluar menuju gang yang basah oleh sisa hujan Jakarta, aku tidak menoleh ke belakang. Tas ransel itu terasa berat di punggungku, namun untuk pertama kalinya, pikiranku terasa seringan udara pegunungan dan bau asin dari angin laut yang mendamaikan yang sebentar lagi akan kuhirup.

Bab 2

​Lidah omak mengirimkan aroma garam yang bertabrakan dengan wangi tanah basah dari lereng pegunungan. Aku mematikan mesin KLX 230 SE-ku di depan fasad kayu toko roti yang warnanya mulai memudar dimakan usia.

Jemariku masih terbungkus sarung tangan kulit saat aku melepas helm fullface, membiarkan udara kota lama ini menyentuh kulitku.

​Dulu, tempat ini adalah aroma rumah, tempat Nenek menyimpan tawa di balik bungkusan pie hangat setiap sore. Namun sekarang, fokusku terdistraksi.

​Di seberang jalan, seorang gadis dengan rambut ikal yang jatuh hingga sepinggang sedang membungkuk, menyerahkan kotak makanan kepada seorang pria tua. Gerakannya tenang, kontras dengan keriuhan jalanan. Saat ia menoleh, jantungku seperti dihantam palu godam.

​Mata itu. Hazel.

​Warna yang sama dengan Shinta, gadis kecilku yang selalu melindungiku dan sudah kucari bertahun-tahun, namun ada yang berbeda. Jika Shinta adalah api yang menantang, gadis ini adalah danau yang dalam. Teduh. Aku berdiri mematung, mengamati bagaimana jemarinya bergerak, halus, tanpa keraguan. Sesuatu yang telah lama membatu di balik seragam dan protokol hidupku mendadak retak. Aku tidak bergerak, radar di kepalaku yang biasanya memindai ancaman, kini terkunci hanya untuk memastikan tak ada debu jalanan yang berani mengusik ketenangannya.

​Ketenangan itu hancur dalam hitungan detik.

​Suara teriakan massa pecah di ujung jalan. Prang!

Kaca jendela sebuah ruko hancur. Massa yang kalap mulai tumpah seperti air bah hitam. Anehnya, gadis itu malah melangkah maju, wajahnya menunjukkan kebingungan yang berbahaya.

​"Sembunyi!"

​Suaraku membelah kebisingan, dingin dan otoriter. Aku tidak menunggu jawabannya. Langkahku panjang dan presisi. Sebelum ia sempat memprotes, cengkeramanku sudah mengunci lengannya, menariknya masuk ke dalam aroma ragi toko roti. Aku menyudutkannya ke kolong meja kayu yang kokoh di balik dinding beton.

​"Tetap di bawah. Jangan mendongak kalau tidak ingin wajahmu terkena serpihan kaca," desisku pelan, hampir menyerupai perintah militer.

Aku berdiri membelakanginya, menjadi perisai hidup saat pintu kayu di depan kami dihantam benda tumpul.

​Di luar, dunia sedang runtuh. Di dalam sini, aku bisa mendengar napasnya yang pendek dan memburu.

​Setelah sirine polisi meraung dan deru massa menjauh, aku tidak langsung melepaskannya. Aku mengintip dari celah pintu, memastikan keadaan benar-benar steril.

​"Tunggu di sini. Jangan bergerak satu inci pun," kataku tanpa menoleh.

​Aku keluar ke trotoar yang kini berubah menjadi medan perang mini. Motor KLX-ku tergeletak tak berdaya. Di dekatnya, sebuah City putih ringsek dengan kaca pilar yang hancur. Aku memijat pangkal hidungku, lalu menangkap sosok pria berseragam yang sedang sibuk dengan HT-nya.

​"Agung."

​Pria itu menoleh, matanya membelalak.

"Ghani? Sial, kau muncul di waktu yang salah atau tepat?" Kami berpelukan singkat, tepukan tanganku di bahunya terasa keras.

​"Hanya mampir. Apa ini?" tanyaku, matanya menyapu sekeliling dengan dingin.

​"Gesekan politik. Massa kampanye yang sumbunya pendek," jawab Agung getir. "Kau aman?"

​"Aku oke. Urus sisanya, Gung. Aku ada urusan di dalam."

​Aku kembali ke dalam toko. Gadis itu masih di sana, memeluk lutut dengan wajah sepucat kertas. Tangannya gemetar hebat saat mencoba merogoh inhaler dari tasnya. Tanpa suara, aku berlutut di depannya. Aku mengambil alat itu dari tangannya yang gemetar, memastikan posisinya benar, lalu menyerahkannya kembali dengan gerakan tenang yang stabil.

​"Bernapas pelan-pelan. Ikuti hitunganku," ujarku datar, meski mataku terus mengawasi setiap tarikan napasnya hingga rona merah muncul kembali di pipinya.

​Aku meletakkan secangkir cokelat hangat yang kupesan dari pelayan toko yang masih syok ke atas meja di depannya.

"Minum. Gula akan membantu detak jantungmu."

​"Mobil City putih itu milikmu?" tanyaku kemudian, mataku beralih ke luar jendela.

​Ia mengangguk lemah. Saat ia melihat kondisi mobilnya yang hancur dari kejauhan, matanya berkaca-kaca. Aku segera berdiri, menghalangi pandangannya dari kerusakan itu.

​"Kacanya bisa diganti. Kepalamu tidak," potongku pendek sebelum ia sempat menangis. "Aku punya kenalan bengkel. Mereka akan menjemputnya dalam sepuluh menit. Kau tidak perlu mengurus apa pun hari ini."

​Dia terdiam, menatapku dengan tatapan menyelidik yang ragu. Kami duduk dalam keheningan yang canggung namun terlindungi.

​"Siapa namamu?" tanyaku, suaraku rendah.

​Ia ragu sejenak, merapikan rambut ikalnya yang berantakan. "Wati."

​Aku menarik sudut bibirku, tipis, hampir tak terlihat. Aku tahu dia berbohong. Ada kecerdasan di balik mata hazel itu yang tidak cocok dengan nama sesederhana itu di situasi seperti ini. Tapi aku tidak mendesaknya. Di duniaku, kejujuran adalah kemewahan yang mahal.

​"Aku Ghani," kataku, kali ini dengan nada yang sedikit lebih lembut, meski wajahku tetap sekaku dinding toko roti ini. "Dan untuk saat ini, kau aman denganku."

Bab 3

​"Kalian bukan komplotan maling, kan?"

​Pertanyaan itu menusuk keheningan, setajam pecahan kaca di trotoar tadi. Aku tidak tertawa terbahak-bahak, hanya sebuah dengus geli yang nyaris tak terdengar. Di duniaku, di mana kejujuran adalah komoditas langka dan pengkhianatan adalah mata uang, kecurigaannya justru terasa seperti udara segar. Aku menatapnya lurus, mencoba membaca sisa-sisa adrenalin di balik mata hazel-nya yang kini meredup defensif. Dia cerdas. Sangat cerdas untuk sekadar seorang gadis yang terjebak kerusuhan.

​"Naiklah," perintahku singkat, suaraku rendah dan tak terbantahkan. "Aku akan mengawal mobilmu dari belakang. Sampai kamu merasa aman."

​Dia tidak membantah, hanya mengangguk pelan sembari menaiki jok belakang KLX-ku. Sepanjang perjalanan menuju bengkel, jarak di antara kami terasa seperti medan magnet yang saling tolak-menolak.

​Di bengkel, Akmal,yang sudah paham benar siapa aku, langsung bergerak sigap tanpa banyak tanya.

"Kaca sekitar dua setengah juta, Kak. Towing lima ratus. Untuk pilar A yang lecet, sepertinya butuh waktu sebulan untuk restorasi," lapor Akmal dengan nada segan.

​"Bisa minta nomor ponselnya, Kak? Agar besok saya kabari harga pastinya."

​"081555555555."

​Deretan angka itu meluncur dari bibirnya. Aku tidak mencatatnya di ponsel. Aku mencatatnya di memori permanen kepalaku, menyimpannya di barisan folder yang sama dengan taktik intelijen dan kode-kode operasi. Informasi adalah nyawa, dan aku baru saja menggenggam satu kepingan miliknya.

​"Wati, aku antar kamu pulang," ujarku datar saat urusan selesai.

​Sepuluh menit kemudian, mesin motor trailku menderu memasuki "Perum Indah". Gesturnya saat menyapa satpam di gerbang tampak meyakinkan, sebuah sandiwara yang hampir sempurna jika saja sasarannya bukan aku. Kami berhenti di depan sebuah rumah tipe 45 yang tampak asri namun "mati".

​"Rumahmu?" tanyaku, mataku memindai setiap detail dengan presisi seorang pengintai.

​"Ya," jawabnya, dagunya sedikit terangkat, sebuah pertahanan diri yang klasik.

​Mataku terpaku pada seikat rumput liar setinggi empat puluh lima sentimeter yang berdiri tegak tepat di depan pintu utama. Tak ada patahan, tak ada jejak pijakan. Di duniaku, ini adalah tanda sebuah zona tak berpenghuni. Rumah ini hanyalah panggung sementara.

​"Masuklah. Tidak aman bagi perempuan di luar selarut ini," kataku, ingin melihat seberapa jauh dia akan mempertahankan perannya.

​"Tak apa, ada Satpam. Kamu pulang saja dulu. Sedikit tidak sopan jika tuan rumah masuk terlebih dulu," tolaknya halus.

​Aku mengangguk, menyalakan mesin motor yang menggelegar membelah kesunyian perumahan. Sebelum memutar gas, aku menoleh sedikit, memberikan tatapan yang mungkin akan membuatnya terjaga malam ini.

​"Segera istirahat," desisku. "Oya, lebih baik rumput-rumput itu segera disiangi. Agar rumah ini terasa... hidup."

​Aku tidak benar-benar pergi. Aku memarkir motor di balik bayang-bayang kegelapan, lalu berjalan kaki menuju angkringan di sudut gerbang. Secangkir kopi hitam dan kepulan asap rokok menjadi tirai kamuflaseku. Mataku tetap tajam, menyaring setiap pergerakan di mulut gerbang.

​Benar saja. Sepuluh menit berlalu, sosok itu muncul lagi.

​Dia berjalan dengan langkah yang jauh lebih bebas, anggun, bagaikan seorang peragawati yang sedang menguasai runway. Rambut panjangnya melambai terkena angin malam, memantulkan cahaya lampu jalan. Saat dia melewati deretan pemuda yang mulai bersiul nakal, aku merasakan desakan aneh di dadaku, sebuah insting purba untuk berdiri dan membungkam mereka semua. Namun, aku tetap diam membatu, mengamati dari balik kepulan asap.

​Dia berbelok ke arah Galaxy Residence, sebuah kawasan elit di mana privasi adalah segalanya. 75 persen, batinku. Rumah aslinya ada di sana.

​"Rokok, Kak?" seorang pemuda kurus di sebelahku menyodorkan bungkus rokok.

​"Terima kasih." Aku menyesapnya dalam-dalam. Aku bukan pencinta tembakau, tapi asap adalah topeng terbaik untuk menyembunyikan tatapan predator yang sedang mengintai mangsa.

​"Kakak asli sini?" tanyanya basa-basi.

​"Alun-alun. Baru dari rumah teman di kampung Tore," jawabku sekilas, nada bicaraku kini jauh lebih cair, menyesuaikan diri dengan lingkungan sekitar.

"Eh, kamu kenal... Wati di perum sebelah? Gadis yang rumahnya dekat taman?"

​"Wati?" Pemuda itu tertawa kecil, matanya berbinar. "Oh, anaknya Pak Jeremi satpam itu? Yang kacamata, rambutnya keriting pendek? Dia rajin antar makan siang buat bapaknya. Orangnya sangat ramah, Kak."

​Aku tersenyum tipis di balik kegelapan malam. Jadi, dia tidak hanya meminjam rumah kosong, dia meminjam identitas putri seorang satpam untuk menipu seorang Ghani.

​Gadis hazel-ku ternyata adalah sebuah misteri yang berlapis-lapis. Tanpa sadar, aku telah melangkahi garis batasku sendiri. Di kota yang seharusnya menjadi tempatku mencari kedamaian ini, aku justru menemukan sebuah permainan yang jauh lebih berbahaya dari tugas negara manapun. Dan sialnya, aku tidak ingin berhenti.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play