English
NovelToon NovelToon

The Blackstone; Perjalanan Cinta Sang Intelijen

Bab 1

POV Ghani

Suasana di restoran tua di kawasan Blok M itu terasa gelap bagiku, terutama saat aroma kopi dan kayu tua itu bercampur menjadi satu menciptakan aroma khas yang tak pernah bisa menerangi pikiranku. Aku, Ghani, tapi dalam dunia gelapku aku menamakan diriku dengan 'Sam' karena saat kamu memutuskan untuk berada dalam bayangan, maka nama hanyalah kata, duduk membelakangi jendela yang mengaburkan pemandangan lampu kota Jakarta. Dunia bayangan melatihku untuk selalu siap dengan semua kemungkinan. Duduk di belakang menghadap pintu keluar adalah jalan termudah jika sesuatu yang buruk terjadi padamu.

​Di depanku, Mike duduk dengan sikap tenang yang berusaha untuk mengintimidasiku. Mata Mike mencoba menginginkan kelamnya mataku untuk terus mengikuti apa yang diinginkannya, membuatku tunduk pada perintahnya.

​"Kau bilang ini bernilai 9 juta dolar, Sam," ujar Mike rendah, suaranya nyaris tenggelam oleh suara kipas angin gantung di langit-langit. "Itu angka yang sangat besar untuk sekadar 'informasi'."

"Sembilan juta dolar, Mike?" Aku terkekeh dengan suara yang terdengar dingin dan datar. Aku tidak memajukan tubuhku tapi aku justru bersandar, menatap langit-langit tua restoran itu dan kemudian mendarat pada tatapan Mike dengan pandangan yang membuat pria itu merasa dikorek pikirannya.

​"Frederik memiliki aset yang nilainya mencapai ratusan juta dolar di Filipina. Dia menyuap pejabat, menguasai dermaga, dan memanipulasi pasar. Sembilan juta hanyalah uang saku yang dia habiskan untuk pesta akhir pekan di Palawan."

​Aku menyesap air putihku dengan tenang. "Kalau aku membawa ini ke pihak lain, atau membiarkan Frederik terus beroperasi, dia akan menghasilkan keuntungan sepuluh kali lipat dari harga yang kutawarkan padamu. Jadi, jangan sebut ini sebagai 'informasi'. Ini adalah biaya untuk memotong gurita bisnis Frederik dan memastikannya untuk jatuh dalam kehancuran."

​Mike hanya terdiam, matanya menyipit.

​"Dua puluh juta dolar," ucapku pelan. "Dengan membeli dokumen ini kau bisa melakukan segalanya untuk kerajaan bisnismu Mike. Kau bahkan bisa mendapatkan klienmu dengan begitu mudah dengan dokumen ini. Aku yakin tak sesikit dari mereka yang menginginkan dokumen ini. Silahkan, aku tak memaksamu, aku hanya menawarkan. Jika tidak aku akan mengambil kembali."

Mike terdiam cukup lama. Suasana di restoran itu seolah membeku, hanya deru mesin pendingin ruangan tua yang terdengar mendengung pelan. Ia menatapku, bukan dengan tatapan meremehkan seperti sebelumnya, melainkan dengan sorot mata seseorang yang baru saja menyadari bahwa ia sedang duduk berhadapan dengan predator yang jauh lebih berbahaya dari yang pernah ia bayangkan.

​Mike akhirnya menyunggingkan senyum tipis, sebuah pengakuan tak terucap atas kinerja seorang 'Sam'.

​"Dua puluh juta," Mike mengulang angka itu, suaranya kini lebih berat, tentu saja, aku tahu angka itu besar tapi sepadan dengan nyawa dan keringat yang sudah kupertaruhkan. Ia mengeluarkan sebuah ponsel enkripsi dari saku jasnya dan meletakkannya di atas meja kayu yang sudah tergores-gores. "Kau tahu, Sam, sebagian orang akan menganggapmu serakah. Tapi bagiku, kau baru saja membuktikan kenapa kau satu-satunya orang yang bisa menyelesaikan pekerjaan kotor di Manila ini."

​Mike menekan beberapa tombol pada ponsel itu, memberikan instruksi singkat dalam bahasa dimana pengunjung di restoran itu tak ada yang tahu..

​"Transfer akan masuk ke akunmu dalam sepuluh menit. Enkripsi level militer, tidak bisa dilacak, tidak akan pernah ada jejaknya di buku besar bank mana pun." Mike mendorong ponsel itu ke arahku. "Data itu... pastikan itu sepadan dengan harganya. Aku tidak ingin ada celah kecil yang membuat Frederik bisa lolos dari jeratan hukum."

​Aku tidak langsung menyentuh ponsel itu. Aku hanya mengangguk pelan, tetap tenang.

"Frederik tidak akan memiliki celah. Dia bahkan tidak akan menyadari dari mana datangnya arah pukulan telak yang akan menghantamnya di masa depan ."

​Aku berdiri, merapikan letak kemejaku, dan mengambil tas kerjaku. Aku menatap Mike sekali lagi, tatapan yang dingin dan tanpa emosi.

​"Uangnya sudah, datanya sudah. Kita tidak pernah bertemu di sini, Mike."

​Tanpa menunggu balasan, Aku melangkah keluar menuju pintu restoran. Saat aku mendorong pintu kayu yang berat itu, hawa panas Jakarta menyambutku, bercampur dengan asap knalpot dan aroma jalanan. Aku tidak menoleh ke belakang. Aku pulang menuju kos tuaku di pinggiran kota.

Di atas meja kayu yang permukaannya sudah kasar, alat-alat taktisku tergelar, bukan mainan, melainkan perangkat presisi yang telah menjadi saksi bisu dari berbagai macam misiku.

​Aku mulai dengan melepaskan magasin dari pistol 9mm, mengosongkannya, lalu menyimpannya ke dalam kompartemen tersembunyi di tas ransel taktis berwarna hitam pudar. Gerakanku seperti otomatis, aku sudah melakukan pekerjaan itu selama bertahun-tahun yang membjatku hafal dengan urutannya.

​Satu per satu, aku melipat perangkat penyadap, mencabut kabel-kabel mikro, dan membungkusnya ke dalam kantong antistatis. Aku tidak memerlukan banyak barang. Hidup sebagai "bayangan" telah mengajariku bahwa semakin sedikit jejak yang kau tinggalkan, semakin lama kau bisa bertahan.

​Setelah memastikan tidak ada satu pun sidik jari atau perangkat yang tertinggal di celah lantai kayu itu, aku menarik napas dalam-dalam. Udara di kamar ini terasa pengap, berbau debu dan rokok lama, kontras dengan sebenarnya apa yang aku inginkan.

​Aku meraih tiket pesawat yang tergeletak di samping tempat tidur.

​Tora-Tora.

Tanah leluhurku dimana aku dilahirkan. ​Tempat itu adalah antitesis dari Jakarta yang bising dan padat. Di sana, di antara rumah-rumah adat yang menjulang ke langit dan keheningan pegunungan yang menenangkan, air laut dengan deburan ombaknya yang menenggelamkan segala kerumitan pikiran, aku tidak perlu menghitung arah angin atau mengantisipasi serangan dari belakang. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku akan menanggalkan identitas sebagai "agen" dan menjadi seseorang yang hanya sekadar anak pulau yang sedang haus akan liburan , seseorang yang tidak memikul beban jutaan dolar atau rahasia penggelapan pajak di pundaknya.

Aku sangat merindukan tempat masa kecilku dimana aku tumbuh. Aku merindukan nenek, aku merindukan Ghina adik perempuan satu-satunya yang kini sudah pergi jauh untuk menggapai semua cita-citanya. Disana aku memiliki banyak kenangan indah, sedang disini, disini hanya tempat aku berlari, berlari untuk menghilangkan bayangan dimana orangtuaku tewas pada kecelakaan mobil itu. Tempat ini juga sebagai tempat aku mulai berlari untuk mengejar misi dan targetku.

​Aku mematikan lampu kamar, membiarkan kegelapan menyelimuti ruangan itu sepenuhnya. Suara langkahku di lorong kos yang sempit menjadi satu-satunya tanda bahwa aku pernah ada di sana.

​Saat aku melangkah keluar menuju gang yang basah oleh sisa hujan Jakarta, aku tidak menoleh ke belakang. Tas ransel itu terasa berat di punggungku, namun untuk pertama kalinya, pikiranku terasa seringan udara pegunungan dan bau asin dari angin laut yang mendamaikan yang sebentar lagi akan kuhirup.

Bab 2

POV Ghani

Sesampai di kota itu, aku menelusuri jalan pengingat kenangan kecilku yang terkubur dalam alunan harmoni debur ombak dan pegunungan yang basah.

Kuturunkan standar KLX 230 SE tepat di depan pintu sebuah toko bakery, toko yang sudah berdiri sejak aku masih kecil dan menjadi favorit kami kala itu. Nenek selalu membawakan kami pie dari toko ini selepas beliau dari pelelangan ikan. Masa kecil yang tak terlupakan, aku, Ghina, ayah, ibu, nenek dan kakek, dimana kamj berkumpul untuk menikmati hari-hari yang bersinar indah, sebelum ayah mendapatkan surat penugasan ke Jakarta di usiaku yang menginjak 13 tahun.

Tiba-tiba aku melihat gadis bermata hazel berambut ikal sepinggang sedang memberikan sedekah makan kepada para tukang ojek di pinggir jalan saat aku baru saja melepas helm fullfaceku. Gadis itu mengingatkanku pada Sinta teman kecilku yang aku sendiri tak tahu entah dimana dia sekarang, pencarianku berlangsung puluhan bulan, tapi tak pernah ada hasil. Mata itu, hazel itu. Mirip. Hanya saja jika mata Sinta adalah Hazel pemberani maka mata gadis itu adalah Hazel kelembutan dan kasih sayang. Nampak ketulusan yang terpancar dalam wajah dan senyumnya yang memberikan rasa kedamaian.

​Duniaku yang biasanya bergerak dalam hitungan detik yang presisi, mendadak melambat. Aku merasakan hentakan di dada yang tajam, sesuatu yang lebih tajam dari sekadar, yang menurutku, adrenalin. Fokusku terkunci sepenuhnya pada caranya melihat, caranya tersenyum, dan caranya berbicara. Bukan senyum basa-basi yang sering kutemui di pesta formal, tapi senyum yang tulus, yang membuat mata hazelnya ikut berbicara.

​Aku memperhatikan jemarinya saat menyerahkan kotak makanan itu. Begitu tenang. Begitu lembut. Sesuatu di dalam diriku, yang selama ini kukira sudah membatu karena tuntutan keadaan, tiba-tiba berdenyut. Ada dorongan aneh yang mendesakku untuk melangkah mendekat, bukan untuk menyelidiki, tapi untuk memastikan tidak ada satu pun debu jalanan ini yang boleh mengusiknya.

​Logikaku yang biasanya tajam mendadak tumpul. Aku bahkan lupa untuk apa aku berdiri disini. Aku hanya tahu satu hal saat itu, aku tidak ingin memalingkan wajah. Seolah-olah, jika aku berkedip sekali saja, pemandangan ini akan menghilang.

​Dia adalah kekacauan paling indah yang pernah masuk ke dalam radar pengamatanku. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak ingin mencari jalan keluar.

Kesadaran kemudian mengganggu lamunanku dan akupun bergegas menuju pintu Bakery itu, namun sayup-sayup aku mendengar suara berisik kerumunan, seperti orang pawai, bukan.. suara.. tawuran, karena di tengah suara bising itu aku juga mendengar sedikit suara kaca pecah. Aku berbalik badan, dan da*n, kulihat gadis bermata hazel itu bukan berlari tapi malah bergerak mendekat sumber suara itu. Secelat kilat aku berlari ke arahnya dan berteriak,

"SEMBUNYI"

Gadis itu menoleh ke arahku dan terkejut.

"Bodoh" ucapku.

Segera kutarik tangannya dan menyeretnya masuk ke toko bakery yang seolah menarikku utnuk masuk kesana. Aku mendorongnya untuk bersembunyi di bawah kolong meja di sudut ruangan pinggir dinding yang berdiri kokoh yang menghalangi toko ini dari penglihatan luar.

Dan yahh.. benar saja, suara kaja pecah terdengar dari arah luar toko, kaca pintu dan jendela disinipun tak luput dari hantaman benda tumpul itu. Suara orang ribut dan marah terdengar mengaung di telinga kami. Kulihat wajah gadis itu ketakutan dan pucat pasi. Tangannya menggenggam erat hingga buku jarinya mulai memutih. Kami berdua terdiam, beberapa pengunjung di toko ini tampak ketakutan dan udara mulai turun dan mencekam.

Beruntung beberapa saat kemudian suara sirine polisi terdengar, suara tembakan peringatan menggema menembus dinding dan sampai pada suara kami. Perlahan, dengungan suara yang mirip lebah saling bercerita itu menghilang, dan sepertinya massa mulai membubarkan diri.

"Tak usah takut, sepertinya suasana sudah terkendali." kataku menenangkan gadis manis itu.

Gadis itu mengangguk sambil memeluk kedua lututnya.

"Aku lihat suasana di luar dulu, kamu tunggu disini."

Dia masih tak mengucapkan sepatah katapun, hanya anggukan.

Aku beringsut dan keluar dari toko untuk melihat keadaan. KLX 230 SEku ambruk, kaca-kaca pecah berserakan di trotoar dan jalan, puluhan polisi yang memegang senjata berjaga disana. Kulihat hatchback City putih yang kuduga milik gadis itu, pecah kaca kiri depan belakang dan bagian pilar A juga sedikit lecet.

Aku memindai suasana sejenak. Mencekam. sirine mobil polisi dan juga ambulan meraung-raung. Ternyata selain kendaraan kulihat beberapa orang juga terluka. Sekilas aku mengenal sosok seorang polisi yang tengah berdiri dengan HT di tangan kanannya, sennata laras pendek di sakunya. Akupun bergegas menghampirinya.

"Agung." panggilku.

"Hei, Ghani."

Kamipun berpelukan

"Kamu sedang liburan? Sudah lama tak melihatmu." tanya Agung. Saat aku kecil hingga kelas 6 SD aku tinggal disini bersama orang tuaku sebelum akhirnya pindah ke Jakarta. Agung adalah teman SD pindahan dari Jawa saat kami kelas 5.

"Ya, liburan, sekitar 1 minggu. Kamu tugas disini?"

"Ya, baru 1 tahun aku mengajukan mutasi."

"Sebenarnya ada apa ini? Seumur-umur belum pernah seperti ini?" tanyaku.

Dia tertawa "Sepertinya masalah politik. Sudah beberapa kali mereka rusuh dalam 2 bulan ini. Mereka pakai atribut paslon no 2, tapi siapa juga yang tahu. Kami masih menyelidiki dalangnya."

Akupun tertawa. Kami menyadari bahwa apa yang terjadi kemungkinan bukanlah terjadi secara organik, ada banyak area abu-abu dan juga area gelap yang tidak diketahui semua orang.

"Oke Gung, selamat bertugas ya, masih ada teman yang menunggu di dalam." di titik itu, kamipun berpisah.

Saat aku kembali ke meja tempat kami bersembunyi, kulihat gadis itu masih duduk di lantai bersandar di tembok sambil memegang inhaler dan wajahnya tampak pucat.

"Hei, kamu tak apa-apa? Punya asma?" tanyaku, dan sebenarnya sedikit panik, tapi kucoba sebisa mungkin untuk menekannya dan terlihat normal.

"Ya, tapi sudah mendingan."

"Mau duduk di kursi?" tanyaku

Dia mengangguk.

Akupun membantunya berdiri dan duduk di kursi.

"Kudengar coklat meredakan stress, kamu mau mencoba?" tanyaku.

"Emm boleh."

"Kamu alergi coklat atau susu?"

"Tidak." jawabnya

Aku memesan coklat hangat pada pegawai bakery itu yang masih terlihat ketakutan.

"Hatchback city putih apakah milikmu?" Tanyaku saat melihat gadis itu sudah tenang.

"Ya."

"Kacanya belakangnya tadi kulihat pecah."

Dia kemudian keluar dan melihat kondisi mobilnya yang kacanya sudah akupun menyusul di belakangnya.

"Hati-hati, pecahan kacanya tajam!" aku memperingatkannya.

Dia memandangku sejenak dan mengangguk.

Dia memeriksa mobilnya dengan seksama.

"Sebenarnya apa yang terjadi?" tanyanya lirih, lebih seperti dia bertanya pada dirinya sendiri.

"Ada massa yang marah saat kampanye."

Dia mengangguk.

"Aku punya teman bengkel mobil, mau aku panggilkan dia? Itu jika kamu mau, kalo tidak juga tidak mengapa."

Setelah terdiam cukup lama dia berkata "Boleh."

Aku segera menghubungi Andi, temanku yang memiliki sebuah bengkel mobil di ujung kota ini. Bengkelnya cukup bagus reputasinya karena dia sendiri yang ikut terjun menjalankan bisinis bengkelnya itu.

"20 menit lagi katanya sampai disini, ayo masuk." ajakku untuk kembali ke bakery.

"Siapa namamu?" tanyaku setelah kami berdua kembali ke meja kami.

Setelah agak lama terdiam, dia menjawab "Wati."

Namun aku tak menemukan kejujuran di wajahnya. Hanya aku merasa dia tidak sepenuhnya percaya padaku. Aku mengerti, karena dalam kondisi chaos dan tiba-tiba ada orang asing yang menolong, tentu saja tidak semua orang bisa percaya.

Aku hanya tersenyum

"Ghani." Aku memberikan jawaban yang jujur agar dia mengerti bahwa aku bisa dipercaya.

Bab 3

POV Ghani

"kalian bukan komplotan maling kan?" Tanya Wati tiba-tiba.

Aku tertawa. Pertanyaan itu sungguh petir bagiku . Aku memang berasal dari dunia gelap, diama orang terbiasa dengan rahasia dan ancaman, tapi mendengarnya bertanya seperti utu, itu seperti bukan sesuatu yang tampak biasa dilakukan oleh sesorang wanita muda. Ada banyak rahasia yang terukir di raut wajahnya yang menandakan bahwa dia sebenarnya wanita yang cerdas. Bahkan aku tahu dari cara dia menjawab pertanyaanku, itu bukanlah nama aslinya.

"Nanti dari belakang aku bonceng kamu, mengikuti mobilmu ditowing agar kamu merasa tenang, oke." aku berusaha untuk meyakinkannya.

Dia mengangguk.

"Dimana rumahmu?" tanyaku.

"Perum Indah." Jawabnya singkat saat kami dalam perjalanan menuju bengkel Andi.

"Kira-kira estimasi biayanya berapa Kak?" tanya Wati pada Akmal, anak buah Andi yang juga merupakan teman masa kecilku dulu, setelah kami sampai di bengkelnya.

"Untuk kacanya saja sekitar 2,5 juta Kak, tapi hanya estimasi, belum saya cek harganya karena ini sudah malam. Towingnya 500 ribu. Untuk lecet pilar A masih belum tahu, kemungkinan 700 ribuan." paparnya panjang lebar. Tampak dari raut mukanya sepertinya Akmal sedikit tak enak padaku.

"Kira-kira selesai kapan?" Tanya Wati lagi.

"Jika hanya ganti kaca sepertinya besok sudah bisa selesai Kak, karena saya kebetulan ada stok kacanya, besok siang kemungkinan sudah bisa jadi. Tapi untuk lecetnya ini sepertinya memakan waktu ya Kak, sekitar 1 bulan." jelas Akmal. "Bisa minta nomor ponselnya Kak, besok saya hubungi harga pastinya."

"081555555555" Jawab Wati.

Aku menghafal deretan angka-angka itu dalam hati dan pikiranku untuk nanti kusimpan dalan ponselku.

Andi dan Akmal adalah teman nongkrongku di angkringan dekat pantai Kreya. Setiap pulang kesini biasanya aku nongkrong disana, karena disana, di pantai itu aku menemukan kedamaian dan merasakan kebebasan sejenak yang tak pernah kutemukan dimanapun

"Wati, aku antar kamu pulang." ujarku, dan watipun mengangguk.

Sekitar 10 menit membawanya bersamaku menggunakan si KLX, aku memasuki kawasan perumahan yang terdapat tulisan yang terpampang jelas di sebelah gerbang utama "Perum Indah", dan Watipun menyapa Satpamnya. Seketika aku yakin Wati "jujur" akan tempat tinggalnya melihat cara dan gestur dia berbicara dengan satpam itu seperti sudah sangat mengenal lama sehingga aku yakin sudah mengantar gadis itu ke rumahnya.

Tetapi apa yang kutemui tampak bertolak belakang. Kami berhenti di sebuah rumah, jika dilihat dari ukurannya, itu merupakan rumah type 45.

"Ini rumahmu?" tanyaku.

"Ya." jawabnya yakin.

Tidak. Bukan. Ini bukan rumahnya. Eumah itu adalah rumah gaya minimalis modern dengan tembok putih dan beberapa ada taman di depan. Rumahnya memang tampak terawat, cat tembok masih bagus, tak tampak retakan, genteng juga masih bagus, hanya rumput di taman itu tumbuh tinggi, tanamannya tumbuh tak rapi serta di sela paving carport juga tumbuh rumput, hal yang jarang terjadi jika banyak aktivitas disitu. Aku yakin ini bukan rumahnya karena ada rumput yang tumbuh sekitar 45 cm tepat di depan pintu rumahnya, di jalur keluar masuk rumah, artinya sudah lama tidak ada kegiatan keluar dan masuk rumah.

Aku tak ingin dia merasa takut padaku. "Oke, aku pulang."

Wati mengangguk. "Terima kasih semuanya." katanya.

"Masuklah dulu, sudah malam, berbahaya untuk perempuan di luar rumah." Disini sebenarnya aku ingin tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya, apakah masuk rumah ataukah dia pergi ke tempat lain.

"Tak apa, ada Satpam di luar. Kamu pulang saja dulu, sedikit tidak sopan jika meninggalkan tamu duluan." ujarnya.

Ya, memang sebagian budaya Indonesia begitu. Tuan rumah akan masuk ke dalam rumahnya setelah tamu benar-benar lenyap dari pandangan.

Aku mengangguk. "Aku pulang."

"Hati-hati."

"Segera istirahat." kataku sambil menyalakan motor trailku.

"Oya, lebih baik rumput-rumputnya disiangi agar rumah terasa hidup." Aku hanya ingin menjnggalkan pesan tersirat jika aku tahu kebohongannya, entah dia sadar atau tidak.

Akupun berhenti di angkringan yang berada tak jauh dari gerbang utama Perum Indah. Secangkir kopi dan sepiring mie goreng menemaniku di tempat yang sempurna, untuk mengawasi orang yang keluar masuk Perum itu.

Dan benar saja, sekitar 10 menit setelahnya Wati tampak keluar dari Perum, dia mengobrol lama dengan Satpam disana dan kemudian dia berjalan melewati angkringan di tempatku berada.

Dia berjalan bagaikan seorang peragawati yang sedang memamerkan desain baju di tubuhnya. Badannya fit dengan bajunya. Tingginya sekitar 165 cm dengan rambut panjangnya yang melambai-lambai membuatnya tampak sangat sempurna di mataku. Beberapa pemuda bersiul padanya saat sosoknya tepat lewat di depan kami. Entah kenapa rasa hatiku ingin kuhajar saja mereka namun aku memilih untuk tetap duduk tak terlihat.

Mataku terus saja mengawasi sosok tubuhnya, hingga kemudian tubuhnya berbelok ke kiri. Galaxi Residen. Entah kenapa aku yakin 75% rumahnya ada di sana, atau setidaknya rumah keluarganya atau teman dekatnya.

"Rokok Kak" seorang pemuda kurus tiba-tiba menawariku rokok.

"Terima kasih" sambil tersenyum. Kunyalakan dan kuhisap rokok itu. Aku bukan pecinta rokok, bagiku rokok hanyalah alat untuk membuat kamuflaseku tampak sempurna dibalik hiruk pikuknya suara denting minuman dengan mataku yang seperti mengintai mangsa. Tajam.

"Kakak asli sini?" tanyaku.

"Iya, di Perum itu Kak, dekat saja." sambil menunjuk Perum Indah. "Kakak rumahnya mana?"

"Daerah DPRD Kak. Tadi dari rumah teman di kampung Tore, lalu lapar jadi belok kesini." jawabku sekenanya. "Sebentar Kak, kalau daerah sini kenal e..." aku pura-pura mengingat nama seseorang "Wati, iya Wati."

"Wati.. Wati.. Wati..O.. Gadis kurus memakai kacamata dan berambut keriting ya Kak, yang anaknya Pak Jeremi Satpam itu?" wajahnya tampak tersenyum cerah saat itu.

"Iya" jawabku sambil tersenyum.

"Kakak temannya Wati?"

"Emm.. Bukan Kak, hanya pernah kenalan saat naik bus saja, setelahnya aku juga tak ingat, hanya saat lewat sini aku ingat dia."

"Oo.. Dia anaknya Bapak Satpam itu Kak, sering kesini saat siang, antar makan bapaknya, orangnya ramah kan, makanya banyak yang kenal."

Kami bicara banyak malam itu, bahkan mungkin untuk orang sepertiku yang terbiasa hidup dalam pekatnya hitam berbicara pada orang asing pada malam itu adalah terlalu banyak. Tapi untuk gadis itu, tak sadar aku mendobrak batasku sendiri, pertahananku sendiri yang bisa jadi akan sangat berbahaya untukku, juga untuk gadis itu.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play