English
NovelToon NovelToon

SEJARAK KILOMETER, SEDEKAT TAKDIR

BAB 1 : Hujan di Hari Pertama

Hujan turun deras di hari pertama masuk kelas sebelas.

Langit kelabu seperti belum rela melepas libur panjang, dan halaman SMA Garuda Bangsa berubah jadi genangan kecil yang memantulkan bayangan siswa-siswi yang berlari tergesa.

Aruna Pramesti berdiri di bawah kanopi, memeluk buku ke dadanya. Rambut panjangnya sedikit basah di ujung, seragam putih abu-abu yang baru disetrika rapi kini dihiasi cipratan air.

“Kenapa sih harus hujan sekarang…” gumamnya pelan.

Ia bukan tipe cewek yang suka jadi pusat perhatian. Tapi hari itu, entah kenapa, jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya. Mungkin karena pembagian kelas baru. Mungkin karena rumor kalau anak pindahan masuk jurusan IPA.

“Ra!” Seseorang menepuk bahunya.

Nadine, sahabatnya sejak kelas sepuluh, tersenyum lebar. “Kelas kita gabung sama anak IPA 1. Katanya ada cowok pindahan. Ganteng banget.”

Aruna mendesah. “Kamu selalu tertarik sama cowok baru.”

“Ya ampun, hidup itu harus ada hiburannya.”

Bel masuk berbunyi.

Mereka masuk kelas bersama. Aroma cat papan tulis yang baru dan kayu bangku yang sedikit lembap bercampur jadi satu. Aruna memilih duduk di baris kedua dekat jendela.

Hujan masih turun.

Dan saat itulah pintu kelas terbuka.

Seorang cowok masuk bersama wali kelas.

Rambutnya sedikit basah, disisir seadanya. Tingginya hampir menyentuh kusen pintu.

Seragamnya rapi tapi tatapannya dingin. Bukan dingin yang angkuh—lebih ke arah… menjaga jarak.

“Ini siswa pindahan dari Bandung,” ujar Bu Ratna. “Namanya Arkana Mahendra.”

Nama itu seperti berhenti di udara.

Arkana mengangguk singkat. “Pagi.”

Suaranya rendah. Tenang. Tanpa senyum.

Beberapa cewek langsung berbisik-bisik. Nadine mencubit lengan Aruna pelan. “Itu. Itu dia.”

Aruna pura-pura tidak peduli. Tapi entah kenapa, saat Arkana mencari tempat duduk dan tatapan mereka tak sengaja bertemu—

Jantungnya seperti lupa cara berdetak.

Ia cepat-cepat memalingkan wajah.

“Arkana, kamu duduk di sebelah Aruna saja. Itu bangku kosong,” kata Bu Ratna.

Aruna membeku.

Langkah kaki Arkana terdengar mendekat. Setiap langkah seperti menghitung detik menuju sesuatu yang tak ia mengerti.

Kursi di sebelahnya ditarik.

“Aku duduk di sini,” katanya singkat.

Aruna hanya mengangguk. “Iya.”

Hening.

Hujan makin deras.

Pelajaran pertama berjalan biasa. Tapi bagi Aruna, semuanya terasa tidak biasa. Ia bisa merasakan keberadaan Arkana di sebelahnya. Bau parfum maskulin yang lembut. Suara napasnya yang pelan.

“Pinjam pulpen,” tiba-tiba Arkana berbisik.

Aruna menoleh cepat. “Hah?”

“Pulpen. Punyaku ketinggalan.”

Aruna merogoh tempat pensilnya, menyerahkan satu tanpa berkata apa-apa.

“Thanks.”

Itu pertama kalinya ia mendengar Arkana berbicara langsung padanya. Dan bodohnya, pipinya terasa panas.

Setelah kelas selesai, hujan belum juga reda.

Aruna berdiri di depan gerbang, menunggu ayahnya menjemput. Satu per satu siswa pulang. Arkana berdiri tak jauh darinya, menatap jalanan.

“Kamu dijemput?” tanyanya tiba-tiba.

Aruna mengangguk. “Iya.”

“Kamu tinggal di mana?”

“Bukit Cempaka.”

Arkana terdiam sejenak. “Dekat rumahku.”

Aruna menoleh. “Kamu tinggal di sana juga?”

“Iya. Baru pindah seminggu.”

Entah kenapa, ada sesuatu di cara dia berbicara—tidak banyak, tapi tidak menutup diri sepenuhnya.

Mobil hitam berhenti di depan gerbang.

“Itu ayahku,” kata Aruna pelan.

Arkana mengangguk. “Sampai besok.”

Sederhana. Tapi ada sesuatu dalam dua kata itu yang membuat Aruna tersenyum sepanjang perjalanan pulang.

Hari-hari berikutnya berlalu dengan cepat.

Arkana bukan tipe siswa yang banyak bicara. Tapi nilainya tinggi. Terutama matematika dan fisika. Guru-guru mulai sering menyebut namanya.

Aruna yang biasanya selalu ranking satu kini punya pesaing.

Dan anehnya… ia tidak merasa kesal.

“Dia sombong nggak sih?” tanya Nadine suatu siang di kantin.

Aruna menggeleng. “Nggak. Cuma pendiam.”

Seolah mendengar namanya disebut, Arkana datang membawa dua minuman kaleng. Ia meletakkan satu di depan Aruna.

“Buat kamu.”

Aruna terkejut. “Kenapa?”

“Kemarin kamu bantuin aku cari ruang lab.”

Aruna tersenyum kecil. “Oh… makasih.”

Nadine menyenggol pelan di bawah meja sambil menahan tawa.

Arkana duduk di seberang mereka. “Besok ada tugas kelompok sejarah. Kamu sudah punya kelompok?”

Aruna menggeleng. “Belum.”

“Kita satu kelompok aja.”

Kalimat itu terdengar biasa. Tapi bagi Aruna, rasanya seperti sesuatu yang pelan-pelan tumbuh tanpa permisi.

Sore itu, untuk pertama kalinya Arkana datang ke rumah Aruna. Mereka mengerjakan tugas di ruang tamu.

Hujan turun lagi.

“Kamu suka hujan?” tanya Aruna tiba-tiba.

Arkana menatap jendela. “Dulu nggak.”

“Sekarang?”

“Sekarang… nggak tahu.”

Aruna tertawa kecil. “Jawaban kamu selalu aneh.”

Arkana menoleh. Untuk pertama kalinya ia tersenyum tipis.

Dan Aruna merasa dunia berhenti satu detik.

“Kamu selalu ngomel kalau hujan,” kata Arkana.

“Kok tahu?”

“Kamu ngomel pelan waktu hari pertama sekolah.”

Aruna membelalak. “Kamu dengar?”

“Iya.”

Mereka tertawa bersamaan.

Dan di antara suara hujan yang jatuh di atap, tanpa mereka sadari, sebuah perasaan mulai menemukan tempatnya.

Beberapa minggu kemudian, sekolah mengadakan lomba karya ilmiah antar kelas. Aruna dan Arkana ditunjuk jadi perwakilan.

Mereka semakin sering bersama.

Belajar bareng. Pulang bareng. Kadang bertengkar kecil karena beda pendapat.

“Kamu keras kepala,” ujar Aruna suatu sore.

“Kamu juga.”

“Tapi aku benar.”

Arkana mendesah. “Yaudah, terserah kamu.”

Aruna mendengus kesal. “Kamu tuh kalau marah diem. Nggak enak.”

Arkana menatapnya lama. “Kalau aku ngomong, takutnya kamu makin marah.”

Kalimat itu membuat Aruna terdiam.

Untuk pertama kalinya, ia melihat sisi lain dari Arkana. Bukan hanya anak pindahan yang pintar dan pendiam. Tapi seseorang yang sedang belajar membuka diri.

Sore itu, saat mereka berdiri di bawah langit jingga setelah latihan presentasi—

Arkana berkata pelan, “Aruna.”

“Iya?”

“Aku betah di sini karena kamu.”

Jantung Aruna serasa jatuh bebas.

“Jangan bercanda.”

“Aku nggak bercanda.”

Tatapan mereka bertemu.

Dan untuk pertama kalinya, hujan tidak turun.

Tapi hati Aruna terasa basah oleh sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Perasaan yang manis.

Perasaan yang berbahaya.

Perasaan yang kelak akan diuji oleh jarak.

Dan tanpa mereka tahu…

Hujan hanyalah awal.

BAB 2 : Janji di Bawah Langit Jingga

Seminggu setelah pengakuan setengah serius Arkana di lapangan sekolah, Aruna merasa hidupnya seperti diputar dalam volume yang lebih keras.

Setiap hal kecil terasa berarti.

Setiap tatapan terasa lebih lama.

Dan setiap hujan terasa berbeda.

Arkana memang tidak pernah menyatakan sesuatu secara gamblang. Tidak ada kata “suka”. Tidak ada “aku cinta kamu.” Tapi sikapnya berubah. Ia lebih sering menunggu Aruna di depan kelas. Lebih sering mengirim pesan malam hari.

Dan yang paling membuat Aruna gugup yaitu

Arkana mulai tersenyum lebih sering. Khusus untuknya.

Sore itu mereka duduk di tribun lapangan setelah latihan lomba karya ilmiah selesai. Matahari hampir tenggelam. Langit berubah jingga lembut.

“Presentasi kamu tadi bagus,” kata Arkana sambil meneguk air mineral.

“Kamu juga.”

“Hm.”

“Hm apaan?”

“Aku deg-degan.”

Aruna tertawa kecil. “Kamu? Arkana Mahendra deg-degan? Yang ranking satu itu?”

Arkana memutar bola basket pelan di tangannya. “Ranking nggak ada hubungannya sama perasaan.”

Aruna terdiam.

Angin sore meniup rambutnya. Ada sesuatu dalam nada suara Arkana yang membuat dadanya terasa hangat sekaligus cemas.

“Aku serius waktu itu,” katanya pelan.

Aruna pura-pura tidak mengerti. “Waktu apa?”

“Aku betah di sini karena kamu.”

Hening.

Jantung Aruna berdebar semakin cepat. Ia menunduk, memainkan ujung rok seragamnya.

“Kenapa?” suaranya hampir berbisik.

Arkana menghela napas panjang. “Karena sebelum pindah ke sini… aku nggak pernah ngerasa punya alasan buat mulai lagi.”

Aruna menoleh perlahan. “Mulai lagi?”

“Ayahku pindah kerja karena masalah keluarga,” katanya datar, tapi matanya tidak setenang suaranya. “Ibuku sakit. Di Bandung… semuanya berantakan.”

Ada luka di sana. Luka yang tidak pernah ia ceritakan pada siapa pun.

Aruna merasakan dadanya ikut sesak. “Maaf…”

Arkana menggeleng. “Bukan salah kamu. Justru… kamu bikin semuanya terasa lebih ringan.”

Kata-kata itu tidak dramatis. Tidak puitis. Tapi cara Arkana mengatakannya—jujur, tanpa dibuat-buat—membuat mata Aruna terasa panas.

“Aku nggak tahu ini namanya apa,” lanjut Arkana. “Tapi setiap kamu senyum… rasanya kayak aku nggak sendirian.”

Air mata Aruna akhirnya jatuh satu.

Arkana panik. “Eh, kenapa nangis?”

“Kamu tuh…” Aruna memukul lengannya pelan. “Kalau ngomong jangan tiba-tiba sedalam itu.”

Arkana tersenyum kecil. “Jadi kamu marah?”

“Enggak.”

“Terus?”

“Aku juga nggak tahu ini namanya apa,” jawab Aruna pelan. “Tapi kalau kamu nggak masuk sekolah, aku kepikiran seharian.”

Arkana terdiam.

Waktu seperti berhenti.

Langit semakin jingga. Matahari hampir hilang.

“Apa kita… lagi jatuh cinta?” tanya Arkana pelan.

Kalimat itu menggantung di udara.

Aruna menatapnya lama. Ada takut di sana. Takut kalau ini cuma perasaan sesaat. Takut kalau semuanya akan berubah.

Tapi lebih takut lagi kalau ia tidak jujur.

“Mungkin,” jawabnya lirih.

Dan untuk pertama kalinya, Arkana menggenggam tangan Aruna.

Hangat.

Tidak erat. Tidak memaksa.

Hanya memastikan bahwa ia ada.

“Aku nggak janji bakal selalu sempurna,” kata Arkana pelan. “Aku kadang marah, kadang diem, kadang egois.”

“Aku juga keras kepala,” balas Aruna.

“Tapi kalau kamu mau…” Arkana menelan ludah. “Aku mau coba jalanin ini. Pelan-pelan.”

Aruna tersenyum dengan mata masih berkaca-kaca. “Pelan-pelan.”

Mereka duduk begitu saja, tangan saling menggenggam, menyaksikan matahari tenggelam bersama janji yang baru lahir.

Hari-hari setelah itu terasa seperti mimpi yang manis.

Arkana mulai menjemput Aruna ke kelas setiap istirahat. Mereka makan di kantin berdua. Kadang bertengkar kecil soal hal sepele.

Seperti hari itu.

“Kamu kenapa sih dari tadi deket banget sama anak basket itu?” tanya Arkana dengan nada datar.

Aruna mengernyit. “Raka? Dia cuma nanya tugas fisika.”

“Kok ketawa-ketawa?”

Aruna mendengus. “Ya masa jawabnya sambil nangis?”

Arkana terdiam. Rahangnya mengeras.

“Kamu cemburu?” Aruna menahan senyum.

“Enggak.”

“Bohong.”

“Aku cuma nggak suka.”

“Kenapa?”

Arkana menatapnya tajam. “Karena kamu milikku.”

Kalimat itu seharusnya terdengar manis.

Tapi ada nada posesif yang membuat Aruna tersentak.

“Aku bukan barang,” katanya pelan.

Arkana langsung sadar. “Bukan maksudku gitu.”

“Terus?”

“Aku cuma… takut.”

“Takut apa?”

“Takut kehilangan.”

Suara Arkana melembut. Semua kekesalan mendadak runtuh.

Aruna menghela napas. “Kamu nggak akan kehilangan aku cuma karena aku ketawa sama orang lain.”

Arkana menunduk. “Aku belum pernah kayak gini sebelumnya.”

Aruna tersenyum kecil. “Aku juga.”

Ia mendekat, menyenggol bahu Arkana pelan. “Kalau kamu cemburu, bilang baik-baik. Jangan pasang muka jutek.”

Arkana akhirnya tersenyum. “Baik, Bu Guru.”

“Eh!”

Mereka tertawa bersama.

Sebulan kemudian, lomba karya ilmiah mereka menang juara satu tingkat kota.

Seluruh kelas bersorak.

Arkana spontan memeluk Aruna di tengah keramaian.

Pelukan itu singkat. Tapi cukup untuk membuat pipi Aruna memerah.

“Lihat kan? Kita tim yang bagus,” kata Arkana.

“Kita pasangan yang bagus juga,” celetuk Nadine tiba-tiba.

Aruna tersedak. “Nadine!”

Arkana hanya tersenyum tipis, tapi tangannya tetap menggenggam tangan Aruna.

Dan malam itu, di bawah langit yang kembali berwarna jingga, Arkana mengantar Aruna sampai depan rumah.

“Kamu capek?” tanyanya.

“Sedikit.”

Arkana menatapnya lembut. “Tapi senang?”

“Banget.”

Hening sebentar.

“Aruna.”

“Iya?”

“Kalau suatu hari nanti… kita harus pisah kota lagi…”

Jantung Aruna langsung menegang. “Kenapa ngomong gitu?”

“Aku cuma mikir.”

“Jangan mikir yang aneh-aneh.”

Arkana tersenyum tipis. “Aku cuma mau kamu tahu satu hal.”

“Apa?”

“Selama kita masih sama-sama berjuang… jarak nggak akan bisa ngalahin kita.”

Kalimat itu terdengar seperti janji.

Janji yang saat itu terasa kuat. Tak tergoyahkan.

Aruna mengangguk pelan. “Kita sama-sama berjuang.”

Arkana mengusap puncak kepalanya dengan lembut. “Pintar.”

Aruna mendengus manja. “Jangan usap rambutku, nanti berantakan.”

“Kamu tetap cantik.”

Jantungnya kembali kacau.

Malam itu mereka berpisah dengan senyum.

Tanpa tahu bahwa kata “pisah kota” yang diucapkan Arkana bukan sekadar pikiran kosong.

Karena takdir sedang menyusun sesuatu.

Sesuatu yang akan menguji janji di bawah langit jingga itu. Dan hujan… akan segera turun lagi.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play