Di sebuah rumah mewah, keluarga besar Adiningrat sedang berpesta. Mereka merayakan ulang tahun Dika, anak tunggal yang akan menjadi penerus kekayaan keluarga.
Di mata tamu, Dika adalah anak yang sempurna. Dia rajin, pintar, dan sangat penurut pada orang tuanya. Tapi di balik itu semua, ada rahasia kelam: Dika adalah pembawa sial.
Setiap kali Dika mencoba menjadi anak baik, bencana selalu terjadi di sekitarnya.
Saat ayahnya memegang bahu Dika di atas panggung untuk memperkenalkannya, lampu kristal raksasa di atas mereka tiba-tiba jatuh. Suasana pesta yang mewah berubah jadi kacau dalam sekejap. Teriakan terdengar di mana-mana, tapi Dika hanya berdiri diam
.
Wajahnya datar. Dia sudah terbiasa melihat hal buruk terjadi hanya karena dia ada di sana.
Keesokan harinya.Dika melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan kepala tertunduk. Ia sengaja datang paling pagi, berharap "hawa sialnya" tidak mengenai siapa pun. Namun, takdir berkata lain.
Begitu kakinya menginjak ambang pintu kelas, lampu neon di langit-langit berkedip sekali, lalu meledak pelan. Serpihan kacanya jatuh tepat di atas meja guru.
"Dika, kamu lagi?" tegur Pak kasek yang kebetulan lewat.
Dika hanya diam. Ia berjalan ke bangkunya di pojok belakang, jauh dari teman-temannya. Ia adalah murid paling pintar, tugasnya selalu selesai tepat waktu, dan catatannya paling rapi. Tapi, tidak ada yang mau duduk di dekatnya.
Hari itu adalah jadwal ujian penting. Pak Guru masuk ke kelas dengan wajah tegang sambil membawa tumpukan kertas soal.
"Ujian hari ini menentukan nilai semester kalian. Jangan ada yang berisik!" tegas Pak Guru.
Saat Pak Guru baru saja membagikan kertas ke barisan depan, tiba-tiba terdengar suara gluduk dari arah tas Dika. Tanpa alasan jelas, botol minum di dalam tasnya pecah. Airnya merembes keluar, membasahi kabel proyektor yang menjuntai di lantai.
KRETEK!
Percikan api muncul. Dalam sekejap, sistem kelistrikan di ruangan itu mati total. Bau hangus tercium menyengat. Yang lebih parah, tumpukan kertas soal di meja guru terkena cipratan air kopi Pak Guru yang tersenggol karena kaget. Semua soal ujian basah kuyup dan tulisannya luntur.
"Satu kelas batal ujian!" bentak Pak Guru sambil memukul meja. "Semua gara-gara kekacauan di pojok sana!"
Seluruh teman sekelas menoleh ke arah Dika. Mata mereka penuh amarah. Gara-gara Dika, persiapan belajar mereka semalaman sia-sia
Dika hanya menatap meja kayunya yang mulai retak sendiri. Ia ingin meminta maaf, tapi ia tahu, semakin banyak ia bicara, semakin besar bencana yang akan datang. Ia merasa seperti monster yang terkurung dalam tubuh anak penurut.
Semuanya keluar! Berdiri di lapangan sekarang!" teriak Pak Guru sambil menunjuk pintu dengan tangan gemetar.
Bukan hanya Dika, tapi seluruh siswa di kelas itu dipaksa berdiri di bawah terik matahari. Pak Guru sangat marah karena data di komputernya hilang dan soal ujian hancur. Sebagai hukuman, ia menyatakan bahwa jika alat-alat yang rusak tidak bisa diperbaiki hari ini, satu kelas tidak akan diperbolehkan mengikuti ujian susulan. Artinya, mereka semua terancam tidak naik kelas.
Suasana di lapangan sangat panas. Keringat mulai bercucuran, tapi suasana di antara para murid jauh lebih dingin.
"Ini semua gara-gara anak pembawa sial itu," bisik salah satu teman sekelasnya, cukup keras agar Dika mendengar.
"Kenapa sih dia harus sekolah di sini? Di mana pun dia ada, pasti ada barang yang hancur," timpal yang lain.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play