Malam itu, udara di kamar kecil Raka terasa pengap meski kipas angin murah yang biasa berputar pelan di sudut ruangan sudah dinyalakan sejak sore. Februari 2022 di Bandung memang tidak pernah benar-benar dingin, tapi malam ini lembabnya terasa lebih berat. Suhu sekitar dua puluh derajat, tapi keringat tipis masih menempel di punggung kaus oblong hitam yang sudah usang. Lampu kamar hanya satu bohlam 5 watt yang kuning redup, menerangi dinding yang catnya sudah mengelupas di beberapa bagian. Poster-poster artis K-Pop lama yang ia tempel tahun lalu sudah menguning di pinggirnya.
Raka Aditya Nugraha, enam belas tahun, duduk bersila di kasur tipis yang busanya sudah gepeng karena terlalu sering dipakai. Ponselnya yang layarnya retak di sudut kanan bawah tergeletak di pangkuannya. YouTube masih terbuka, tapi video dance cover yang tadi ia tonton sudah lama berhenti. Ia hanya menatap layar hitam yang memantulkan wajahnya samar-samar.
Ia tahu wajahnya biasa saja. Kulit sawo matang yang tidak pernah putih meski sudah pakai sabun muka murah setiap hari. Mata sipit yang tidak tajam, hidung biasa, bibir tipis. Tubuhnya kurus karena makan tidak teratur, tapi otot lengan dan kakinya cukup kencang dari latihan dance di kamar ini setiap malam. Ia bukan tipe yang orang-orang bilang “visual”.
Tapi suaranya… itu yang selalu ia andalkan.
Malam ini, seperti biasa, ia baru selesai merekam rap cover dan vocal cover di pojok kamar menggunakan ponsel. Upload ke channel YouTube kecilnya yang hanya punya beberapa ribu subscriber. Kebanyakan dari Indonesia, sedikit dari luar. Ia tidak pernah berharap banyak. Hanya pelampiasan saja. Cara agar tidak gila di rumah ini.
Ia menggulir notifikasi tanpa benar-benar melihat. Like, komentar spam, satu-dua pujian biasa. Lalu matanya berhenti di satu pesan masuk di Instagram DM.
Pengirim: akun resmi dengan centang biru. Nama akun: ygent_official_scout. Logo YG Entertainment jelas terlihat.
Pesannya singkat, dalam bahasa Inggris yang formal tapi cukup jelas.
“Hi, we are from YG Entertainment. We saw your dance cover, vocal cover, and rap video on YouTube. Your skills are impressive, especially your vocal range and rap delivery. We would like to invite you for a private audition in Seoul. Please reply if you are interested, and we will send more details.”
Raka membaca sekali. Dua kali. Tiga kali.
Tangan yang memegang ponsel mulai gemetar pelan. Bukan gemetar senang. Lebih seperti gemetar karena tubuhnya tiba-tiba tidak tahu harus bereaksi apa.
Ia meletakkan ponsel di kasur, bangkit berdiri, lalu berjalan mondar-mandir di kamar yang hanya seluas tiga kali empat meter itu. Langkahnya pelan, hampir tanpa suara, karena lantai keramiknya dingin dan ia tak mau ibunya terbangun di kamar sebelah.
Ini pasti prank.
Pikiran pertama yang muncul begitu saja. Sudah sering ia dengar cerita orang-orang yang kena tipu akun palsu. Tapi akun itu punya centang biru. Dan link yang mereka kirim di follow-up message mengarah ke situs resmi YG. Ia cek dua kali. Benar.
YG Entertainment. Yang Hyun-suk. BLACKPINK. TREASURE.
Nama-nama itu berputar di kepalanya seperti roda yang tidak mau berhenti. Di tahun 2022 ini, YG sedang sibuk dengan proyek girl group baru mereka yang rumornya akan debut dalam beberapa tahun ke depan. Tapi boy group? Belum ada pengumuman besar sejak TREASURE. Dan sekarang, pesan ini ada di ponselnya.
Rasa mual naik ke tenggorokan.
Ia duduk lagi di kasur, mengambil ponsel, dan membaca ulang pesan itu hingga huruf-hurufnya terasa kabur. Waktu menunjukkan pukul 23:47. Di luar, suara hujan gerimis mulai turun pelan, khas Bandung di bulan Februari. Tetesan air menyentuh atap seng rumah kontrakan mereka yang sudah tua.
Raka menarik napas dalam-dalam, tapi paru-parunya terasa sempit. Overthinking mulai berputar lebih cepat.
Kalau ini benar, berarti aku harus ke Seoul. Sendirian. Drop out SMA. Tinggalkan Ibu. Gunakan tabungan yang sudah susah payah dikumpulkan untuk biaya kuliah atau keperluan darurat.
Tabungan keluarga. Kata itu terasa berat. Ibu bekerja sebagai penjahit konveksi kecil-kecilan di rumah. Setiap hari duduk di mesin jahit dari pagi sampai malam, mata sudah sering merah karena kelelahan. Ayah… tidak perlu dipikirkan sekarang. Ayah sudah di penjara sejak dua tahun lalu. Masalah judi dan alkohol yang berakhir dengan kekerasan yang masih meninggalkan bekas di lengan ibu.
Raka menggenggam ponsel lebih erat sampai buku jarinya memutih.
Ia tidak bisa tidur malam itu. Hanya mondar-mandir, duduk, berdiri, lalu berbaring sambil menatap langit-langit yang retak. Pikirannya berlarian tanpa henti.
Skill-ku memang bagus. Vocal range-nya luas, rap delivery-nya tajam. Bahasa Inggris-ku hampir native karena sering nonton konten tanpa subtitle. Tapi wajahku…
Ia bangkit, berdiri di depan cermin kecil yang retak di sudut kamar. Cahaya bohlam kuning membuat bayangannya terlihat lebih gelap. Kulitnya sawo matang, bukan putih cerah seperti trainee Korea yang biasa ia lihat di video. Mata tidak besar, rahang tidak tegas. Visual. Kata yang paling sering muncul di komentar negatif videonya.
“Vocal bagus, tapi visual biasa aja.”
“Sayang, mukanya gak support.”
Ia pernah membaca komentar-komentar itu sambil diam. Lalu berlatih facial expression sendirian di depan cermin ini. Berlatih senyum yang tidak terlalu dipaksakan, tatapan tajam, ekspresi emosional saat menyanyi. Karena ia tahu, di industri itu, skill saja tidak cukup.
Tapi sekarang, YG melihat videonya. Mereka bilang skill-nya impressive.
Rasa harapan kecil itu muncul, lalu langsung ditindih oleh rasa takut yang lebih besar.
Pukul dua dini hari, ia tidak tahan lagi. Ia keluar dari kamar pelan-pelan, menuju ruang tamu kecil yang sekaligus tempat ibunya menjahit. Lampu masih menyala redup. Ibu duduk di kursi kayu, tangannya masih bergerak di atas kain, meski matanya sudah setengah mengantuk.
“Ibu,” panggil Raka pelan.
Siti Nurhayati menoleh. Wajahnya yang sudah mulai keriput di usia empat puluh tahunan terlihat lelah, tapi senyum kecil langsung muncul saat melihat anak laki-lakinya.
“Belum tidur, Ka? Besok sekolah kan?”
Raka duduk di lantai di depan ibunya. Ia tidak langsung bicara. Tangan kanannya memegang ponsel, layarnya masih menyala menampilkan DM itu.
“Ada yang kirim DM ke aku,” katanya akhirnya. Suaranya datar, hampir tanpa emosi. “Dari YG Entertainment. Mereka lihat video cover aku. Mau aku audisi di Seoul.”
Ibu diam sejenak. Jarum jahit di tangannya berhenti.
“YG… yang K-Pop itu?”
“Iya.”
Sunyi yang panjang. Hanya suara hujan di luar dan dengung mesin jahit yang sudah dimatikan.
Ibu meletakkan kainnya perlahan. “Tunjukin ke Ibu.”
Raka menyerahkan ponsel. Ibu membaca pesan itu dengan teliti, meski bahasa Inggrisnya tidak lancar. Ia pernah belajar sedikit dari Raka, tapi tetap butuh waktu lama untuk memahami setiap kata.
Setelah selesai, ibu mengembalikan ponsel. Matanya menatap anaknya lama.
“Kamu mau pergi?”
Raka tidak langsung jawab. Ia menunduk, memandang lantai keramik yang sudah aus.
“Aku nggak tahu, Bu. Ini… terlalu mendadak. Kalau benar, aku harus ke sana. Mungkin drop out SMA. Tinggal di dorm trainee. Biayanya… pasti mahal. Tiket pesawat, visa, hidup di sana. Tabungan kita…”
Ia tidak melanjutkan. Tabungan itu sudah tipis. Hampir habis untuk bayar hutang ayah dulu dan biaya hidup sehari-hari.
Ibu menghela napas panjang. Tangan kasarnya yang penuh kapalan menyentuh bahu Raka pelan.
“Ka, Ibu tahu kamu suka banget ini. Dari kecil kamu selalu nyanyi, nari di kamar. Bahkan waktu ayah masih sering marah-marah, kamu tetap latihan diam-diam.”
Raka mengepalkan tangan. Kenangan ayah yang mabuk, teriakan, pukulan yang kadang mendarat di tubuhnya atau ibunya, masih muncul sesekali di mimpi. Ia tidak suka mengingatnya.
“Tapi ini bukan main-main,” lanjut ibu. “Kamu baru kelas 10 SMA. Kalau drop out, susah balik lagi. Dan Seoul… jauh sekali. Kamu sendirian di sana. Bahasa, makanan, cuaca, orang-orangnya. Ibu khawatir.”
“Aku tahu,” jawab Raka pelan. “Tapi… kalau aku tolak, nanti aku nyesel seumur hidup. Skill aku mungkin cukup. Vocal, rap, dance. Aku bisa latihan lebih keras lagi di sana.”
Ibu diam lagi. Matanya berkaca-kaca, tapi ia tahan agar air mata tidak jatuh. Raka melihat itu. Rasa bersalah langsung menusuk dada seperti jarum.
“Ibu… maaf. Kalau aku pergi, Ibu sendirian di sini. Biaya hidup… aku nggak bisa kirim uang dulu. Malah mungkin butuh lebih banyak.”
Ibu menggeleng pelan. “Uang bisa dicari. Ibu masih bisa jahit. Tapi kalau kamu nggak ambil kesempatan ini, nanti kamu yang susah maafin diri sendiri.”
Obrolan itu berlangsung hingga hampir pukul empat pagi. Ibu bertanya detail-detail kecil: berapa lama audisi, apa syaratnya, bagaimana proses trainee. Raka menjawab sebisanya, meski ia sendiri belum tahu pasti. Ia hanya membaca ulang pesan-pesan dari akun scout itu.
Di tengah obrolan, Raka merasa dadanya sesak. Campuran antara harapan yang menyala kecil, ketakutan yang mencekik, dan rasa bersalah yang berat sekali karena ia akan meninggalkan ibu yang sudah bertahun-tahun berjuang sendirian.
“Ibu,” katanya tiba-tiba, suaranya hampir pecah. “Kalau aku gagal di sana… aku nggak tahu harus balik ke mana.”
Ibu memeluk bahunya pelan. Pelukan itu hangat, tapi juga lemah karena tenaga ibu sudah banyak terkuras.
“Kalau gagal, kamu pulang. Ibu masih di sini. Tapi kalau kamu nggak coba, kamu akan selalu bertanya-tanya ‘bagaimana kalau’.”
Raka mengangguk pelan. Air mata sudah menggenang di matanya, tapi ia tahan. Ia tidak suka menangis di depan ibu. Sudah cukup ibu yang menangis waktu ayah ditangkap.
Pagi menjelang. Cahaya pertama mulai menyusup lewat celah jendela. Hujan masih gerimis pelan.
Raka akhirnya membalas DM itu dengan tangan yang masih gemetar.
“Hi, thank you for the invitation. I am interested. Please send me more details.”
Ia tekan kirim.
Setelah itu, ia duduk diam di lantai ruang tamu, memeluk lutut. Ibu sudah kembali ke kamar untuk istirahat sebentar sebelum mulai jahit lagi.
Raka menatap ponselnya. Layar masih menyala.
Ini awal dari segalanya.
Tapi dalam hati, ia sudah merasakan beban yang jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Bukan hanya pergi ke Seoul. Bukan hanya jadi trainee. Tapi meninggalkan satu-satunya orang yang selalu ada untuknya, dengan tabungan yang hampir habis, dan wajah yang ia sendiri tidak yakin cukup untuk industri itu.
Overthinking mulai berputar lagi.
Bagaimana kalau mereka lihat aku langsung dan bilang visual-ku tidak cukup? Bagaimana kalau aku tidak tahan tekanan? Bagaimana kalau ibu sakit sendirian di sini?
Ia menutup mata, tapi tidur tidak datang. Hanya kegelapan di balik kelopak mata, dan suara hujan yang semakin deras.
Keputusan sudah diambil. Nekat. Tanpa jaminan apa pun.
Dan Raka tahu, hidupnya tidak akan pernah sama lagi setelah ini.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play