Namaku Jaka.
Usia dua puluh tiga tahun. Lulusan SMA yang merantau ke Jakarta dengan modal nekat dan satu koper berisi tiga potong baju, dua celana jeans, dan mimpi yang entah bakal ke mana arahnya.
Sekarang? Aku sopir pribadi di rumah mewah kawasan Pondok Indah.
Bunyi kerennya: driver eksekutif. Arti sebenarnya: nungguin majikan di mobil sambil main hape, bonus sesekali diceramahi satpam kalau parkir agak miring.
Tapi gajinya lumayan. Lumayan buat kirim ke
kampung, lumayan buat nabung dikit, lumayan buat nggak pulang dengan ekor malu-maluin.
Majikanku, Pak Hartawan. Pengusaha properti. Rumahnya tiga lantai, mobilnya empat-termasuk yang kusetir, sebuah Fortuner hitam doff yang membuatku setiap hari takut kena gores. Pembantunya enam orang. Tukang kebunnya satu. ART dua Satpamnya dua, bergantian shift. Aku? Aku sopir. Nomor dua dari bawah kalau soal hirarki kasta rumah tangga, persis di atas tukang kebun dan di bawah asisten rumah tangga senior.
Tapi aku punya satu keistimewaan: aku yang nganterin putri tunggal Pak Hartawan ke kampus setiap pagi.
Namanya Nadia.
---
Pertama kali lihat dia, aku spontan hampir nginjak pedal gas terlalu dalam
Bukan karena dia cantik. Iya, dia cantik. Rambutnya panjang, sebahu. Matanya bulat, alisnya tebal alami-bukan hasil sulam, kayaknya. Kulitnya putih bersih. Pokoknya tipe yang kalau dia lewat di kampus, minimal lima belas kepala noleh.
Tapi bukan itu alasanku hampir nginjak pedal gas. Itu karena dia tiba-tiba muncul di garasi jam setengah enam pagi, padahal biasanya dia turun jam enam tepat. Rambutnya masih agak basah. Wangi sampo merek tertentu yang nggak bisa kusebut karena lidahku nggak terbiasa ngomongin merek mahal. Dia bawa buku tebal-skripsi kali.
"Mas Jaka, tolong anter aku ke kampus lebih pagi ya. Ada bimbingan sama dosen."
"Iya neng" Aku cuma bisa angguk.
Itu pertama kalinya dia manggil nama aku.
---
Hari-hari berikutnya berjalan kayak alarm yang disetel sama persis.
Pukul 05.30 aku bangun, salat subuh di mushola kecil belakang rumah, sarapan nasi uduk langganan abang depan kompleks. Pukul 05.45 aku udah di garasi. Nyalain AC mobil, setel radio dengan volume pelan-cukup buat jadi latar, nggak cukup buat ganggu orang yang mungkin masih tidur. Cek bensin. Cek air radiator. Cek tekanan ban. Semua kulakukan otomatis, kayak robot yang udah diprogram.
Pukul 06.00, Nadia turun.
Pintu belakang terbuka. Dia masuk. Wangi yang sama. Buku yang sama. Kadang bawa laptop. Kadang bawa gelas tumbler isi kopi-
aku tau itu kopi susu gula aren karena sekali waktu dia minta aku beliin pas lagi macet.
"Pagi, Mas Jaka."
"Pagi, Neng."
Itu saja. Nggak pernah lebih. Dia baca buku atau ngerjain tugas di belakang. Aku fokus nyetir. Sesekali lirik spion, tapi buru-buru alihkan pandangan. Bukan apa-apa. Cuma... ya, tau diri.
Dia anak majikan. Aku sopir.
Matematika sederhana. Nggak perlu pake kalkulator.
---
Tapi lama-lama, tanpa sadar, aku hafal banyak hal tentang dia.
Aku hafal kalau hari Senin dia agak lambat turun-mungkin karena weekend kemarin begadang. Aku hafal kalau hari Rabu dia sering nelpon sambil nyetir, ngomong soal tugas kelompok yang berantakan. Aku hafal suaranya kalau lagi sebel, lebih nyaring setengah oktaf.
Aku hafal kalau dia nggak suka macet, tapi lebih nggak suka lagi kalau sampai telat masuk kelas. Aku hafal lagu-lagu yang dia puter dari hape-nya, yang kedengeran samar dari jok belakang-Taylor Swift, Nadin Amizah, kadang Hindia.
Aku hafal kalau di perjalanan pulang, kadang dia diam aja. Bukan diam biasa. Tapi diam yang berat. Kayak orang lagi mikirin sesuatu.
Suatu kali, aku liat di spion dia ngelap air mata.
Cepet-cepet aku alihin pandangan. Pura-pura sibuk sama jalanan.
Aku siapa? Bukan siapa-siapa. Nggak berhak nanya.
---
Sore itu, hujan deres.
Aku jemput dia di gerbang kampus. Biasanya dia udah nunggu di bawah pohon rindang dekat pintu keluar. Tapi ini beda. Dia nunggu di halte kecil, agak basah.
"Masuk, Neng, cepet."
Dia buka pintu, duduk di belakang. Rambutnya basah. Gerimis nempel di kerudungnya. Aku kasih tisu dari laci samping.
"Makasih, Mas."
"Nggak bawa payung, Neng?"
"Ketinggalan di kelas."
Aku jalan perlahan. Macet. Jakarta pas hujan sore emang neraka. Tapi entah kenapa, malem itu aku nggak masalah. Macet jadi alasan buat muter sedikit lebih lama, biar dia bisa kering dikit sebelum sampe rumah.
Dari spion, aku liat dia ngelap rambutnya pake tisu. Lalu dia buka hape. Lalu dia ngetik sesuatu. Lalu dia berhenti. Lalu dia napas panjang.
"Mas Jaka."
"Ya, Neng?"
"Menurut Mas Jaka, kenapa ya orang suka pilih yang salah?"
Aku bingung. Ini pertanyaan apa? Tapi aku coba jawab jujur.
"Mungkin karena pilih yang bener kadang... lebih susah, Neng."
Dia diam. Lalu dia ketawa kecil. Bukan ketawa bahagia. Tapi kayak orang yang lega karena akhirnya ada yang ngerti.
"Iyah. Susah."
Aku nggak nanya lebih lanjut. Bukan urusanku. Tapi dalam hati, aku mikir: cowok macam apa yang bikin dia nangis? Dan kenapa orang sebaik dia milih yang salah?
---
Malam itu, setelah antar dia, aku parkir mobil di garasi.
Duduk sebentar. Matiin mesin. Lampu-lampu rumah udah pada nyala. Dari luar, kelihatan bayangan orang lewat di jendela lantai dua-kamar Nadia, kayaknya.
Aku ambil hape. Liat galeri. Ada foto random-mobil, langit Jakarta pas macet, makanan abang-abang. Nggak ada foto dia. Nggak pernah berani moto.
Tapi gambarnya udah lengkap di kepala.
Aku napas panjang. Nyalain rokok-satu-satunya kebiasaan buruk yang masih kulawan, dan belum menang. Sambil ngebul, aku liat ke langit-langit garasi yang tinggi.
Jakarta malam itu gerimis lagi.
Dan aku, sopir rendahan, duduk di dalam mobil orang, jatuh cinta sama putri majikan.
Gila.
Bener-bener gila.
Tapi namanya juga hati. Mau diapain? Disingkirin balik lagi. Dibuang tumbuh lagi.
Kayak rumput liar di sela-sela paving block.
Dan yang paling menyedihkan: aku tau, rumput liar nggak bakal pernah dianggap sama orang yang lewat.
Apalagi sama bunga mawar.
---
Orang bilang, cinta itu datang tiba-tiba kayak
petir di siang bolong.
Menurutku, itu omong kosong.
Cinta itu datengnya pelan-pelan. Kayak air mendidih. Kamu nggak sadar suhu naik, sampai suatu hari—byar—gelembung-gelembung itu muncul, dan kamu baru sadar kalau ternyata udah kepanasan dari tadi.
Dengan Nadia, gelembung pertama muncul waktu suatu pagi.
---
Pagi itu, jam 05.45, aku udah di garasi kayak biasa. Nyalain AC, setel radio, cek mobil—rutinitas yang udah hafal di luar kepala.
Tapi Nadia nggak turun jam 06.00.
Jam 06.05, belum.
Jam 06.10, masih kosong.
Aku mulai mikir. Mungkin dia sakit. Mungkin ada urusan. Mungkin—
Pintu belakang mobil terbuka.
"Maaf, Mas Jaka, aku telat."
Aku noleh. Nadia masuk, tapi matanya... beda. Matanya sembab. Merah. Kayak orang baru nangis semalaman.
"Si—siap, Neng. Langsung?"
"Iya, Mas. Buruan. Aku udah telat."
Aku gas. Macet pagi itu kayaknya nggak peduli sama kesedihan orang. Lampu merah di mana-mana. Klakson di kiri kanan. Jakarta nggak pernah punya hati.
Di spion, aku liat Nadia diem aja. Nggak baca buku. Nggak main hape. Cuma liat ke luar
jendela, dengan mata kosong.
Aku pengen ngomong sesuatu. Tapi ngomong apa? "Kenapa Neng nangis?" Bukan urusanku. "Ada apa, Neng?" Juga bukan urusanku.
Aku cuma sopir.
Tapi di lampu merah keempat, aku nggak tahan.
Udara di dalam mobil rasanya berat banget. Kayak ada raksasa lagi duduk di atap.
Aku puterin radio sedikit. Mencari lagu yang nggak terlalu ceria, nggak terlalu sedih. Dapet satu—instrumental, piano doang. Pelan.
Di spion, aku liat Nadia lirik ke arahku sebentar. Lalu dia senyum tipis.
Senyum tipis itu kayak sinar matahari di
tengah kabut.
---
Di lampu merah kelima—iya, Jakarta memang sial—Nadia buka suara.
"Mas Jaka."
"Ya, Neng?"
"Mas Jaka pernah patah hati?"
Aku hampir keselek. Pertanyaan apa ini jam setengah tujuh pagi?
"Eh... pernah kali, Neng."
"Cerita dong."
"Cerita?"
"Iya. Biar aku lupa sama punya aku."
Aku mikir keras. Masa lalu yang mau diceritain ke anak majikan? Tapi dia minta. Dan matanya... matanya itu kayak anak kecil yang lagi sedih dan butuh hiburan.
"Dulu waktu di kampung, Neng. Aku suka sama anak tetangga. Cantik. Baik. Kita deket. Tapi pas aku bilang mau merantau ke Jakarta, dia bilang..."
"Bilang apa?"
"Dia bilang, 'Jaka, kamu nggak usah jauh-jauh. Nanti lupa kampung halaman.' Aku pikir itu kode buat aku jangan pergi. Tapi ternyata..."
"Ternyata?"
"Ternyata dia udah deket sama laki lain pas aku masih di kampung. Aku tahu pas aku udah di Jakarta. Dari status Facebook. Tagar #Jadian."
Nadia ketawa. Beneran ketawa. Buat pertama kalinya pagi itu.
"Mas Jaka, itu sedih tapi lucu."
"Iyah, Neng. Pahit-getir kehidupan."
Dia ketawa lagi. Kali ini lebih lega.
"Makasih, Mas."
"Buat apa, Neng?"
"Buat cerita. Buat... ngalihin."
Aku cuma angguk. Lampu hijau. Kita jalan lagi.
Tapi di dalem hati, aku mikir: siapa yang bikin dia nangis semalaman? Dan kenapa laki-laki sebodoh itu nyakitin dia?
---
Seminggu kemudian, aku tahu jawabannya.
Namanya Reza. Anak pengusaha. Kuliah di kampus yang sama. Ganteng. Mobilnya Mercy. Sering jemput Nadia—tapi belakangan udah jarang.
Ceritanya sampainya dari obrolan nggak sengaja. Nadia lagi nelpon sama temennya di mobil. Mungkin kira aku nggak denger. Atapi mungkin emang udah nggak peduli.
"Iya, dia udah deket sama cewek Fakultas Kedokteran... Iya, anak dekan... Iya, udah sebulan lalu... Nggak, nggak apa-apa kok, aku udah ikhlas..."
Aku denger, tapi pura-pura sibuk sama jalanan.
Di spion, aku liat dia ngelap air mata. Cepet-cepet. Kayak malu kalau ketahuan.
Aku muter lagu sedikit lebih keras. Biar dia ngerasa ada suara lain selain isak tangisnya.
---
Hari-hari setelah itu, Nadia berubah sedikit.
Dia lebih banyak ngobrol di mobil. Nggak melulu soal kuliah atau tugas. Kadang nanya soal kampungku. Soal orang tuaku. Soal kenapa aku milih jadi sopir.
"Mas Jaka, sopir itu cita-cita dari kecil?"
"Bukan, Neng. Cita-cita kecil saya jadi astronot. Tapi ternyata butuh matematika."
Dia ketawa. Aku suka dengar dia ketawa.
"Terus kenapa jadi sopir?"
"Karena cuma ini yang bisa saya lakuin pas pertama kali sampe Jakarta. Nggak punya
ijazah tinggi, nggak punya koneksi. Tapi bisa nyetir. Alhamdulillah, ada rejeki lewat sini."
"Mas Jaka nggak pengen sekolah lagi?"
"Pengen. Tapi nanti. Nabung dulu."
"Mas Jaka mau sekolah dimana?"
Aku mikir. "Nggak tahu, Neng. Yang penting bisa. Yang penting naik kelas."
Dia diam sebentar. Lalu bilang, "Mas Jaka itu... baik. Dan pinter. Tapi nggak pede aja."
Aku tersenyum kecil. "Bukan nggak pede, Neng. Tahu diri."
Dia liat aku dari spion. Lama.
"Apa bedanya?"
"Pede itu yakin bisa. Tahu diri itu tahu batasan."
Dia nggak jawab. Tapi matanya... matanya kayak mau bilang sesuatu.
Untung kita udah sampe gerbang kampus.
---
Sore itu, pas jemput, Nadia bawa bungkusan.
"Ini buat Mas Jaka."
Aku bengong. "Apa ini, Neng?"
"Buka aja."
Aku buka. Isinya buku. Dua buku. Satu buku motivasi, satu lagi buku soal-soal matematika.
"Mas Jaka bilang mau sekolah. Ini... aku pinjemin. Buat latihan."
Aku diam. Nggak tahu harus ngomong apa.
"Jangan salah sangka dulu. Bukan apa-apa. Cuma... aku punya banyak buku bekas. Daripada nganggur. Mending dipake."
Aku liat dia. Dia liat ke luar jendela. Malu-malu.
"Makasih, Neng."
"Iyah. Makasih udah mau dengerin cerita aku."
Sepanjang jalan pulang, aku nggak bisa berhenti mikir.
Siapa yang nyangka? Dari nganterin anak kampus, sekarang dapet buku les.
Dan siapa yang nyangka, dari sekadar sopir, sekarang ada anak majikan yang peduli sama masa depanku.
---
Malam itu, di mess, aku buka buku motivasi itu.
Di halaman pertama, ada tulisan tangan. Tulisan Nadia.
"Untuk Mas Jaka, yang lebih tahu diri daripada kebanyakan orang yang aku kenal. - N"
Aku baca tulisan itu berulang-ulang.
Lalu aku tutup buku. Lalu aku buka lagi. Lalu aku tutup lagi.
Jantungku berdetak kencang. Nggak jelas kenapa.
Mungkin karena gelembung-gelembung itu mulai muncul. Mungkin karena air mulai mendidih.
Dan aku—aku cuma bisa diam, nunggu siapa yang bakal matiin kompor sebelum semuanya meluap.
---
Bersambung...
Ada satu aturan tak tertulis di rumah Pak Hartawan: kalau dipanggil ke ruang kerjanya, itu bukan buat ngobrol santai.
Ruangan itu di lantai dua. Dindingnya kaca semua—katanya biar keliatan modern, tapi menurutku biar keliatan siapa aja yang lewat.
Mejanya gede, hitam, mengkilap. Ada deretan penghargaan di belakangnya, foto-foto dengan pejabat, dan satu pigura foto keluarga ukuran besar: Pak Hartawan, Ibu, dan Nadia waktu masih kecil, pake baju seragam SD.
Aku masuk. Berdiri di depan meja. Tangan di samping, tegak kayak Paskibraka lagi upacara.
"Duduk, Jaka."
Aku duduk. Sofanya empuk banget—nyesek. Masa iya sopir duduk di sofa sekelas ini?
Pak Hartawan lagi megang hape. Matanya liat layar, tapi aku tau dia lagi ngamatin aku dari balik kaca matanya yang tebal.
"Jaka, kamu udah setahun lebih di sini, ya?"
"Iya, Pak. Setahun tiga bulan."
"Betah?"
"Betah, Pak. Alhamdulillah."
Diem. Suasana hening kayak ruang tunggu dokter gigi. Aku denger detak jantung sendiri.
"Nadia."
Satu kata. Tapi langsung bikin perutku mules.
"Iya, Pak?"
"Kamu anter dia tiap hari?"
"Iya, Pak. Pagi ke kampus, sore jemput. Kadang ada jadwal tambahan—bimbingan, organisasi, atau..."
"Atau?"
Aku mikir cepat. "Atau nongkrong sama temen-temennya, Pak. Tapi saya anter sampe
tempat, jemput pas udah selesai."
Pak Hartawan angguk. Tarik napas. Lalu...
"Belakangan ini Nadia keliatan beda. Ibu dia bilang, Nadia lebih sering diem. Tapi kalo lagi ngomong, sering nyeritain kamu."
Jantungku lompat. Tapi muka tetep usahain bego.
"Saya... nggak tahu, Pak. Mungkin karena sering di mobil, jadi banyak ngobrol. Neng Nadia emang... ramah."
Pak Hartawan liat aku tajam. Mata kecil di balik kacamata itu kayak sinar X.
"Ramah. Iya. Tapi Nadia itu bukan tipe yang ramah ke semua orang. Kamu tau itu?"
Aku diem. Nggak tahu harus jawab apa.
"Jaka." Beliau nyender ke kursi. "Bapak nggak punya anak laki-laki. Cuma Nadia. Dan Bapak sayang banget sama dia. Apa pun yang Bapak lakuin, tujuannya buat Nadia."
"Iya, Pak. Saya ngerti."
"Nadia itu masa depan Bapak. Sekolahnya bagus, masa depannya cerah. Bapak mau dia nikah sama orang yang... sepantar."
Kata "sepantar" itu diucapin pelan. Tapi keras di telingaku.
Maksudnya jelas. Sepantar. Sekelas. Sekasta.
Bukan sopir.
Aku nunduk. Napas dalem.
"Pak, saya cuma sopir. Saya tau posisi saya. Saya nggak pernah... nggak pernah berani mikir aneh-aneh soal Neng Nadia."
Pak Hartawan diam. Lalu...
"Bapak percaya kamu orang baik, Jaka. Tapi Bapak juga tau, orang baik belum tentu... cocok."
Aku angkat muka. Tatap beliau. Sopan, tapi nggak takut-takut amat.
"Saya paham, Pak."
"Jaga jarak. Jangan terlalu deket. Ngerti?"
Aku telan ludah. "Ngerti, Pak."
"Bagus. Kamu boleh pergi."
Aku berdiri. Berjalan ke pintu. Tapi sebelum keluar, Pak Hartawan bersuara lagi.
"Jaka."
Aku noleh.
"Bapak nggak benci kamu. Bapak cuma... jagain anak Bapak."
Aku angguk. Lalu buka pintu.
---
Di luar, aku napas panjang kayak baru selesai lari 10 kilometer.
Tuhan. Baru kali ini aku di-interogasi kayak maling. Padahal aku nggak ngapa-ngapain. Nggak pernah pegang tangannya. Nggak pernah liat matanya lebih dari 3 detik. Nggak pernah—yah, oke, pernah mikirin dia. Tapi itu kan dosa dalam hati. Belum tentu dihisab, kan? Kan?
Aku turun ke garasi. Duduk di kursi sopir. Pegang setir. Kosong.
Di dalam kepala, kata "jaga jarak" muter terus.
Jaga jarak.
Maksudnya, jaga jarak fisik. Atau jaga jarak hati?
Karena kalau jaga jarak fisik, itu gampang. Aku bisa duduk di depan, dia di belakang. Aku bisa nggak noleh. Aku bisa diem sepanjang jalan.
Tapi kalau jaga jarak hati... itu kayak nyuruh mata buat berhenti liat. Udah telanjur liat. Udah telanjur nyimpen.
Mobil ini, kursi ini, spion ini—semuanya udah nyimpen ribuan frame tentang dia.
Gimana caranya hapus?
---
Sore itu, pas jemput, Nadia beda.
Dari jauh, aku liat dia udah nunggu di
gerbang. Bawa buku kayak biasa. Tapi pas masuk mobil, dia langsung tanya.
"Mas Jaka, Papa manggil kamu ya tadi?"
Aku kaget. "I... iya, Neng. Tahu dari mana?"
"Dari Mama. Mama bilang Papa ngomong sesuatu ke kamu."
Aku diem. Nyetir pelan. Macet sore itu bantu banget buat mikir.
"Papa ngomong apa?"
"Nggak papa, Neng. Cuma nanya kabar. Nanya... saya betah atau nggak."
Nadia diem. Lalu...
"Mas Jaka, aku nggak bodoh."
Aku liat spion. Dia tatap aku.
"Aku tau Papa pasti ngomong sesuatu. Soal aku. Soal... kita."
Kita. Kata itu nyengat di telinga.
"Neng, nggak ada 'kita'. Cuma ada Neng, dan ada saya. Dua orang beda."
Nadia diem. Tapi matanya... matanya kayak mau nangis.
"Mas Jaka, kenapa sih susah banget?"
"Apa, Neng?"
"Deket sama kamu."
Aku nahan napas.
"Neng, saya cuma sopir. Tugas saya anter jemput. Selesai. Nggak usah... nggak usah dipikirin lebih."
"Tapi aku pikirin."
Dia bilang itu. Langsung. Tegas. Nggak malu-malu.
"Mas Jaka, aku pikirin kamu. Setiap hari. Setiap malam. Aku tau ini salah. Aku tau kata orang nggak pantas. Tapi aku nggak bisa bohong."
Lampu merah. Aku berhenti. Tangan di setir gemeter.
"Neng..."
"Jaka."
Dia manggil namaku. Tanpa "Mas". Tanpa embel-embel.
"Aku sayang kamu."
---
Macet di Jakarta sore itu kerasa kayak adegan film.
Mobil di kiri kanan. Klakson di mana-mana. Tapi di dalam Fortuner ini, sunyi.
Aku nggak bisa ngomong. Mulutku kaku.
Nadia nunggu jawaban. Matanya basah.
Dan aku—aku cuma bisa liat lampu merah yang entah kenapa lama banget berubah hijau.
---
"Jaka, bilang sesuatu."
Aku napas. Panjang. Berat.
"Neng... Nadia."
Aku liat dia di spion. Cantik. Baik. Tulus.
Dan aku tau, satu kata dariku bisa bikin dia hancur. Atau bikin dia berharap.
Tapi kata "jaga jarak" dari bapaknya masih nempel di kepala.
"Nadia, saya..."
Tiiiiin!
Klakson dari belakang. Lampu udah hijau. Mobil di belakang udah pada nggak sabar.
Aku gas. Jalan lagi. Dan kesempatan itu lewat.
Nadia diem di belakang. Nggak nangis. Tapi nggak ngomong lagi.
Dan aku—aku cuma bisa nyetir. Lurus ke depan. Padahal hati pengen belok ke tempat lain.
---
Sampai di rumah, Nadia turun tanpa bilang apa-apa.
Pintu ditutup pelan.
Aku diem di mobil. Liat dia jalan masuk ke rumah. Bayangannya ilang di balik pintu besar itu.
Sore itu, aku nggak langsung balik ke mess. Aku parkir di pinggir jalan kompleks, matiin mesin, dan duduk.
Satu jam.
Liat langit Jakarta yang abu-abu. Liat burung-burung gelap terbang entah ke mana. Liat orang-orang pulang kerja, capek, bawa keresahan masing-masing.
Di dalem hati, aku nanya.
Tuhan, ini salah?
Nggak ada jawaban. Cuma suara adzan magrib dari mushola kecil di ujung jalan.
Aku turun. Salat. Minta petunjuk.
Tapi kayaknya, Tuhan lagi diem. Atau mungkin emang pengen aku ngerasain ini semua.
Pahit. Tapi manis.
Entahlah.
---
Bersambung...
Download NovelToon APP on App Store and Google Play