Langit senja di Italia tampak merona keemasan, memantul di jendela-jendela tinggi rumah megah milik pewaris keluarga Russo. Rumah itu berdiri anggun di pinggiran kota, dikelilingi taman luas yang terawat sempurna, namun terasa sunyi—terlalu sunyi untuk tempat yang dihuni banyak orang.
Di dalamnya, tinggal sepasang suami istri yang diikat oleh takdir, bukan pilihan.
Dante Russo dan Adeline Coklin.
Pernikahan mereka terjadi dua tahun silam, atas kesepakatan dua keluarga besar yang sama-sama memiliki pengaruh kuat di kota itu.
Dante adalah pria yang terlalu tertutup. Sejak kedua orang tuanya meninggal, Dante tinggal bersama kakeknya—Alexander Russo. Alexander selalu mendidik Dante dengan keras, karena ia sudah menentukan jika Dante akan menjadi penerusnya.
Hingga akhirnya, di usia Dante yang menginjak dua puluh sembilan tahun, ia telah memimpin Russo Group dengan tangan besi. Ia dikenal sebagai sosok tanpa ampun—persis seperti apa yang diajarkan oleh sang kakek kepadanya.
Satu kesalahan kecil dari pegawainya dapat berujung pada pemecatan tanpa peringatan. Tidak ada ruang untuk kelemahan, tidak ada ruang untuk negosiasi, dan tidak pernah ada toleransi untuk pengkhianatan.
Berbeda jauh dengan Dante, Adeline adalah cahaya. Di usia dua puluh lima tahun, ia berada di pertengahan masa profesinya sebagai dokter. Sejak kecil, Adeline selalu bermimpi ingin menjadi dokter anak yang hebat. Ia dikenal sebagai pribadi yang hangat, ceria, dan penuh empati. Candaan ringan selalu menghiasi ucapannya, menghadirkan tawa di mana pun ia berada. Ia tumbuh dalam keluarga yang harmonis, dengan seorang kakak laki-laki yang selalu melindunginya.
Masuk ke dalam kehidupan Dante adalah seperti melangkah ke dunia yang sangat berbeda baginya. Menurutnya, itu seperti sedang berpetualang ke dunia dalam sesuatu yang benar-benar berkebalikan dengan dirinya.
Rumah besar itu dihuni oleh banyak orang. Empat asisten rumah tangga, dua sopir, dan dua penjaga keamanan. Namun, entah mengapa, suasana di dalamnya terasa kosong. Tidak ada percakapan hangat, tidak ada tawa. Hanya obrolan singkat dan suara langkah kaki yang menggema di lorong-lorong panjang.
Dan di antara semua itu, hanya suara Adeline yang terdengar hidup.
Selama dua tahun pernikahan mereka, Adeline berusaha menjadi cahaya di rumah itu. Ia menyapa para pekerja dengan ramah, menghidupkan suasana dengan obrolan ringan, bahkan mencoba mendekati Dante dengan cara yang halus, meski sering kali hanya berakhir dengan keheningan. Namun, Adeline tak pernah berpikir untuk menyerah—setidaknya, tidak pernah sekali pun sampai hari ini.
Sementara, Dante jarang berbicara lebih dari yang diperlukan. Ia pergi saat matahari belum terbit sepenuhnya dan pulang larut. Pria itu selalu bekerja tanpa henti, bahkan terkadang sampai di akhir pekan. Ia selalu menjaga jarak seolah-olah dunia luar tidak layak untuk ia sentuh. Ia bahkan tak pernah memperhatikan istrinya—atau setidaknya, itulah yang orang lain ketahui.
Karena pada kenyataannya, ada satu hal yang tidak pernah diketahui Adeline atau pun orang lain.
Dante selalu memperhatikan istrinya—bahkan lebih dari sering daripada ia memperhatikan dirinya sendiri.
Dari kejauhan, dalam diam.
Adeline bahkan tidak menyadari bahwa kehadirannya—yang ia anggap kecil dan biasa saja—adalah satu-satunya alasan mengapa seorang pria bernama Dante Russo masih memilih untuk bertahan hidup hingga hari ini.
...starting by:...
...Adeline Coklin...
......Dante Russo......
Pagi hari di sebuah kantor megah Italia selalu dimulai dengan keteraturan. Semua pegawai harus selalu datang tepat waktu, tidak boleh terlambat sedetikpun. Semua keputusan yang diambil tidak bisa diganggu gugat. Semuanya harus terkendali atau lebih tepatnya—di bawah kendali Dante Russo.
Karena di puncaknya, Dante adalah hukum itu sendiri.
Pukul tujuh pagi, ruang rapat pagi itu sudah dipenuhi oleh para eksekutif. Suasana tegang begitu terasa, seolah semakin bertambahnya waktu, udara di dalam ruangan menjadi lebih berat.
Seorang manajer muda berdiri di depan layar presentasi, tangannya sedikit bergetar saat menjelaskan laporan keuangan kuartal terakhir, "...dan kami memperkirakan penurunan ini hanya bersifat sementara, Tuan Russo." ucapnya hati-hati.
Dante tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap lurus ke arah layar tanpa ekspresi. Keheningan itu berlangsung beberapa detik—terlalu lama hingga membuat keringat dingin mengalir di pelipis sang manajer.
"Saya tidak membayar Anda untuk memperkirakan. Saya membayar Anda untuk memastikan." ujar Dante akhirnya, tentu jawaban itu membuat seluruh ruangan terasa semakin menyesakkan.
Manajer itu menelan ludah, berusaha menyembunyikan kegugupannya. "Saya—tim kami sedang menyusun strategi perbaikan, Tuan—,"
"Sedang?" ulang Dante memotong. Ia kini beralih menatap langsung ke arah sang manajer. Tatapannya tajam, menusuk tanpa ampun. "Artinya, Anda datang ke rapat ini tanpa jawaban."
Tidak ada yang berani bersuara. Semua orang itu menunduk, tak ada yang berani mengeluarkan sepatah kata pun.
Dante menghela napas samar. Ia berdiri perlahan, jasnya jatuh rapi mengikuti gerak tubuhnya. "Anda diberi waktu dua puluh empat jam. Jika Anda masih tidak membawa hasil—Anda tidak perlu kembali ke gedung ini."
Tidak ada lagi yang bisa dilakukan manajer itu selain mengangukkan kepalanya dengan cepat.
"Rapat selesai." lanjut Dante, lalu segera melangkah keluar ruangan.
Keputusan itu diucapkan begitu saja, tanpa nada tinggi, tanpa kemarahan yang meledak. Namun justru itulah yang membuatnya terasa lebih menakutkan. Karena Dante tidak pernah perlu berteriak untuk menghancurkan seseorang—satu kalimat darinya sudah lebih dari cukup.
—
Sementara itu, di rumah besar keluarga Russo, suasana yang berbeda tengah berlangsung. Jika biasanya menjelang malam rumah itu sudah sunyi, namun hari itu tidak.
Waktu hampir menunjukkan pukul delapan malam, namun Adeline Russo masih berdiri di dapur, mengenakan celemek dengan motif bunga yang tampak kontras dengan interior rumah yang minimalis.
"Ah—tunggu, tunggu, jangan terlalu banyak garam!" serunya panik, saat tangannya tidak bisa berkompromi dengan mulutnya sendiri.
Namun, semuanya sudah terlambat.
Adeline menatap panci di hadapannya, lalu menghela napas panjang sebelum tertawa kecil. "Baiklah… mungkin ini bisa disebut eksperimen lainnya."
Salah satu asisten yang malam itu mendampingi Adeline pun hanya tersenyum canggung. Mereka sudah terbiasa dengan kecerobohan kecil nyonya rumah itu. Namun, justru hal itulah yang selalu membuat rumah terasa lebih hidup.
Tak lama kemudian, suara langkah kaki menggema dari arah lorong utama. Langkah yang berat, tegas, dan terukur dengan sempurna. Tanpa perlu melihat, semua orang tentu tahu siapa pemiliknya.
Namun, terlalu dini. Biasanya, langkah kaki itu baru akan terdengar setelah jarum jam melewati pukul sepuluh malam. Dan malam ini— Dante pulang lebih awal.
"Oh, Tuhan... sepertinya, aku akan mati malam ini." bisik Adeline, nyaris tak terdengar.
Dalam sekejap, suasana di rumah itu berubah. Para pekerja yang tadinya bergerak santai pun tersentak, mereka langsung menegakkan tubuh. Gerakan tangan yang tadi lamban kini bergerak cekatan untuk merapikan setiap sudut, menggeser kembali benda-benda yang sedikit saja tak pada tempatnya, seakan tak boleh ada satupun yang luput dari kesempurnaan.
Dante melangkah masuk ke dapur, pandangannya langsung menyapu ruangan dengan cepat. "Apa yang terjadi?"
Keadaan dapur yang sebenarnya terlihat rapi—terlalu rapi. Namun, justru itu yang membuatnya terasa ganjil, seolah ada sesuatu yang tidak pada tempatnya, meski tak kasatmata.
Tidak ada yang berani menjawab, semua orang menundukkan kepala—seperti biasanya.
Adeline menoleh dengan senyum yang sedikit dipaksakan. "Aku tiba-tiba merasa lapar. Jadi, aku mencoba memasak sesuatu yang seharusnya cepat. Tapi… sepertinya aku terlalu bersemangat saat menambahkan garam."
Dante berjalan mendekat, berhenti tetap di sisi Adeline. Ia melirik ke dalam panci sekilas, "Sedikit?" ulangnya, nada suaranya nyaris datar namun menyiratkan sesuatu yang sulit dijelaskan.
Adeline langsung mengerucutkan bibir, jelas tak terima. Lalu, ia mendengus pelan. "Baiklah," ujarnya dengan setengah kesal, setengah pasrah, "mungkin bukan sedikit."
Dante langsung mengalihkan pandangannya, menatap deretan asisten yang berdiri kaku di sudut dapur. "Siapa yang bertanggung jawab menyiapkan dapur hari ini?"
Seorang wanita paruh baya melangkah maju dengan ragu. "Saya, Tuan."
"Dan Anda membiarkan ini terjadi?"
Wanita itu menunduk lebih dalam. "Maaf, Tuan. Saya—,"
"Mulai besok, Anda dipindahkan ke bagian kebersihan. Saya tidak mengizinkan kelalaian di rumah ini." ujarnya tanpa basa-basi. Keputusan itu jatuh begitu saja— mutlak.
"Tidak—ini salahku," kata Adeline cepat, suaranya jelas diliputi kepanikan. Tanpa sempat berpikir, kedua tangannya terangkat dan mencengkeram pergelangan tangan Dante, seolah ingin menghentikan keadaan yang mulai lepas kendali. "Aku yang meminta mencoba sendiri. Maaf, Dante."
Dante menoleh padanya. Untuk sesaat, hanya keheningan yang menggantung tanpa suara.
"Rumah ini memiliki aturan," ucap Dante akhirnya, nada suaranya terdengar rendah dan terukur. "Dan setiap orang memiliki tanggung jawab."
"Tapi tidak semua kesalahan harus dibayar dengan hukuman, kadang... cukup diperbaiki saja."
Perkataan itu terdengar lirih nyaris berbisik, bahkan Adeline sendiri bisa merasakan betapa lemah pengaruhnya. Ia sudah bisa merasakan, usahanya tak berhasil.
Perlahan, genggamannya mengendur dan terlepas dari pergelangan tangan Dante. Ia menunduk, seolah lantai lebih aman untuk dipandang daripada sorot mata menakutkan di hadapannya.
"Maksudku, ini bukan salahnya..." ucapnya lagi, suaranya terdengar semakin pelan. "Tidak adil rasanya jika dia yang harus bertanggung jawab. Kalau memang ada yang harus disalahkan... hukum aku saja." lanjutnya, nyaris mirip dengan rengekan yang tertahan.
Dante tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap Adeline lebih lama dari biasanya, seolah mencoba memahami sesuatu yang tidak pernah ia pelajari sebelumnya.
Pada akhirnya, tidak ada kata yang terucap. Ia berbalik begitu saja, meninggalkan dapur tanpa penjelasan. Keputusannya tidak berubah—tidak pernah.
Namun, kali ini, langkahnya terasa lebih lambat, seolah ada sesuatu yang menahannya—meski ia sendiri tak ingin mengakuinya.
Hari-hari berikutnya tidak menjadi lebih mudah. Suatu pagi, suasana rumah kembali dipenuhi ketegangan. Seorang asisten rumah tangga tanpa sengaja menjatuhkan vas bunga kristal di ruang tamu utama. Suara pecahannya menggema keras, memantul di dinding marmer yang dingin.
Adeline yang sedang menuruni tangga langsung berlari kecil menghampiri wanita itu. "Kau tidak terluka, 'kan?" tanyanya jelas khawatir.
Wanita itu menggeleng cepat, namun wajahnya nampak pucat. "Maaf, Nyonya… saya tidak sengaja…"
Belum sempat Adeline menenangkan, suara langkah kaki lain terdengar.
Dante berdiri beberapa meter dari mereka, menatap pecahan vas itu tanpa ekspresi. Tatapannya kemudian beralih pada si asisten.
"Dante—," Adeline mencoba menyela.
"Berapa lama Anda bekerja di sini?" tanya Dante, memotong tanpa menoleh.
"Tiga tahun, Tuan…"
"Tiga tahun," ulang Dante, penuh penekanan. "Dan Anda masih tidak mampu menjaga sesuatu yang bahkan tidak bergerak."
Suasana membeku.
Adeline menghela napas, mencoba tetap tenang. "Itu hanya kecelakaan. Semua orang bisa melakukan kesalahan."
"Kesalahan tetaplah kesalahan." balas Dante cepat, tanpa celah. Kalimat itu diucapkan tanpa emosi, seolah tidak ada ruang untuk perdebatan. "Mulai hari ini, Anda tidak lagi bekerja di rumah ini."
Adeline terdiam beberapa detik, lalu melangkah maju. "Kau tidak bisa memecat seseorang hanya karena itu."
Kini Dante menoleh padanya. Ia tetap diam, tak memberi jawaban. Sorot matanya hanya tertuju pada Adeline, seakan sedang memberi kesempatan bagi kata-kata lain yang mungkin masih tertahan di bibir istrinya.
"Itu tidak adil," ujar Adeline, suaranya tetap halus, tetapi kali ini ada ketegasan di dalamnya. "Dia sudah bekerja selama bertahun-tahun. Satu kesalahan tidak bisa menghapus semua yang sudah dia kerjakan selama ini.”
"Di duniaku, satu kesalahan cukup untuk menghancurkan segalanya."
Adeline terdiam. Ia tidak tahu harus menjawab apa terhadap kalimat itu. Bukan karena tidak memiliki argumen, tetapi karena untuk pertama kalinya, ia merasa ada sesuatu yang lebih dalam di balik kalimat itu.
"Itu bukan dunia semua orang, Dante," ucapnya pelan.
Tidak ada jawaban. Keheningan menggantung, Adeline sempat menangkap sesuatu yang berbeda—perubahan dalam tatapan Dante, samar nyaris tak terlihat.
Sesaat kemudian, Daniel mengalihkan pandangannya. Ia berbalik tanpa sepatah kata pun dan menjauh dari sana.
Keputusan itu—lagi-lagi—tidak berubah.
—
Malam harinya, suasanaterasa sedikit berbeda dari biasanya.
Adeline duduk di taman belakang, ditemani secangkir teh yang sudah mulai dingin. Sebuah buku masih terbuka di pangkuannya, namun tak lagi ia baca. Wajahnya tampak murung, jauh dari ekspresi ceria biasanya. Ia tidak marah. Ia hanya—kecewa.
Beberapa menit kemudian, langkah kaki ragu terdengar mendekat. Seorang asisten berhenti di samping Adeline lalu menyodorkan sebuah selimut dengan hati-hati.
"Perintah dari Tuan, Nyonya." ujarnya pelan.
Adeline terdiam sejenak sebelum akhirnya menerimanya selimut itu. "Terima kasih."
Asisten itu mengangguk. Namun, ia tak langsung beranjak pergi, seolah ada hal lain yang perlu dibicarakan. "Nyonya… wanita yang tadi…"
"Ya? Bagaimana dia?" tanya Adeline sedikit terburu, seolah tak sempat menyembunyikan kekhawatirannya.
"Dia… tidak jadi diberhentikan, Nyonya."
Adeline mengernyit, jelas heran dan terkejut di waktu yang bersamaan. "A-apa?"
"Perintahnya berubah. Dia hanya dipindahkan ke bagian lain." lanjut asisten tersebut, membuat Adeline semakin terdiam.
Perlahan, pandangannya beralih ke arah rumah besar itu. Ke arah jendela lantai dua—ruang kerja Dante. Ia menatap jendela yang tertutup tirai itu cukup lama, seolah sedang mencari seseorang di dalam sana.
Sebuah senyum kecil muncul di bibir Adeline. "Dasar keras kepala…" gumamnya pelan.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play