English
NovelToon NovelToon

Ezzerion Fantasy

Cahaya dibawah Kaki

Suara kapur yang bergesekan dengan papan tulis terdengar berulang, tajam namun monoton, memenuhi ruang kelas 3-1 SMA Oguro. Udara terasa berat oleh kombinasi panas siang hari dan kebosanan yang perlahan merayap.

Aku menopang dagu dengan tangan kiri, sementara tangan kanan memutar pulpen tanpa tujuan.

“Perhatikan bagian ini, karena akan keluar di ujian,” suara guru terdengar datar, seolah ia sendiri tidak yakin murid-muridnya benar-benar peduli.

(Beberapa menit lagi... lalu istirahat. Atau mungkin aku bisa pura-pura sakit.)

Aku melirik ke luar jendela. Langit cerah. Tidak ada yang aneh. Tidak ada tanda-tanda bahwa hidup akan berubah.

Semuanya terasa… biasa.

Sangat biasa.

Di depanku, beberapa murid mencatat dengan serius. Di belakang, suara bisik-bisik kecil terdengar.

“Eh, nanti sepulang sekolah jadi, kan?”

“Iya, tapi aku harus izin dulu ke klub.”

Aku menghela napas pelan.

(Kalau ini cerita fantasi, biasanya sekarang ada sesuatu yang terjadi.)

Aku hampir tertawa kecil pada pikiranku sendiri.

Tentu saja, dunia nyata tidak bekerja seperti itu.

“Baik, sekarang buka halaman”

Kalimat itu terputus.

Bukan karena guru berhenti.

Tapi karena cahaya.

Sebuah cahaya putih… muncul.

Tepat di bawah kakiku.

Aku langsung menegang.

“Apa...?”

Cahaya itu bukan hanya di bawahku.

Di bawah semua orang.

Seluruh kelas.

“Apa ini?” seseorang berteriak.

“Apa yang terjadi?!” suara lain menyusul, panik.

Kursi berdecit. Buku jatuh ke lantai. Suara langkah kaki kacau.

Aku menunduk.

Cahaya itu membentuk lingkaran sempurna, berpendar, seperti sesuatu yang… hidup.

(Ini… tidak normal.)

“Jangan bergerak! Tetap tenang!” guru berteriak, suaranya untuk pertama kalinya terdengar tidak stabil.

Namun tidak ada yang mendengarkan.

Cahaya itu semakin terang.

Terlalu terang.

Aku menutup mata.

(Sial… ini benar-benar terjadi?)

Dalam sepersekian detik terakhir sebelum semuanya putih...

Aku berpikir:

(Ini seperti… game.)

Sunyi.

Tidak ada suara kapur. Tidak ada suara murid.

Hanya suara angin.

Dan… bau tanah.

Aku membuka mata perlahan.

Langit biru… tapi bukan langit yang tadi kulihat dari jendela.

Di atas sana, tidak ada bangunan sekolah.

Hanya pepohonan tinggi yang menjulang, daun-daunnya bergoyang pelan.

Aku langsung bangkit.

“Apa…”

Suara langkah kaki di belakangku.

Aku menoleh cepat.

Tiga orang.

Aku tidak mengenal mereka.

Namun seragam mereka… sama.

SMA Oguro.

Aku memperhatikan lebih detail.

Ada tanda kecil di dada mereka.

Nomor kelas.

3-2.

3-2.

3-4.

(Berarti… mereka bukan dari kelasku.)

“Ini… ini di mana?” seorang laki-laki dengan wajah pucat berbicara, suaranya gemetar. Tubuhnya kurus, napasnya sudah terdengar berat meski hanya berdiri.

Sasaki Dazai.

Aku membaca namanya dari penanda seragamnya.

“Tempat ini kotor sekali…” seorang perempuan menyilangkan tangan, ekspresinya jelas tidak suka. Rambutnya rapi, wajahnya cantik… tapi cara dia melihat sekeliling seperti melihat sesuatu yang menjijikkan.

Hori Yui.

“...Sudah kuduga.” suara lain terdengar malas. Seorang laki-laki menjatuhkan dirinya duduk di tanah begitu saja, tanpa peduli.

Shinjiro Akira.

“Akhirnya kejadian juga sesuatu seperti ini. Dunia lain atau semacamnya, ya?” dia menghela napas panjang. “Menyebalkan.”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku melihat sekitar.

Hutan.

Di sisi kanan, ada bukit kecil. Tanahnya sedikit menanjak, dipenuhi rumput liar dan batu.

Tidak ada bangunan.

Tidak ada jalan.

Tidak ada tanda peradaban.

(Hutan… bukit… tidak ada manusia lain.)

“Ini jelas bukan Jepang!” Dazai mulai panik. “Apa kita… diculik?!”

“Diculik? Dengan cara seperti itu?” Yui mendengus. “Tolong berpikir logis sedikit.”

“Lalu ini apa?!” suara Dazai meninggi.

“Entahlah, tapi jelas bukan tempat untuk orang seperti kita,” jawab Yui, sambil mengibaskan sedikit debu dari roknya, meskipun tidak terlalu kotor.

Akira hanya tertawa kecil, datar.

“Tidak peduli di mana kita berada, hasil akhirnya sama saja.”

Aku akhirnya berbicara.

“Diam sebentar.”

Mereka bertiga langsung menoleh padaku.

Aku menunjuk ke depan.

“Lihat itu.”

Beberapa meter dari kami… sesuatu muncul.

Bukan jatuh.

Bukan datang.

Tapi… seperti muncul begitu saja.

Sebuah peti kayu.

Keempatnya terdiam.

Dazai menelan ludah.

“...Itu tadi tidak ada, kan?”

“Tidak,” jawabku singkat.

Yui menyipitkan mata.

“Jangan bilang kita harus membuka benda mencurigakan seperti itu.”

Akira mengangkat bahu.

“Kalau itu jebakan, ya sudah. Selesai lebih cepat.”

Dazai mundur setengah langkah.

“Jangan… jangan asal sentuh!”

Aku melangkah maju.

Tanah terasa padat di bawah kakiku. Setiap langkah terasa nyata.

(Tidak ada glitch. Tidak ada delay. Ini… terlalu nyata.)

Aku berhenti tepat di depan peti itu.

Kayunya kasar. Ada sedikit goresan.

Tidak terkunci.

Aku membuka tutupnya.

Di dalamnya ada empat set alat.

Kapak batu.

Pickaxe batu.

Cangkul kayu.

Pedang kayu.

Dan…

Empat buku.

Aku mengambil salah satu buku itu.

Sampulnya gelap. Tidak ada judul.

Saat aku menyentuhnya...

Buku itu terbuka sendiri.

Angin tiba-tiba berhembus lebih kencang.

Halaman-halamannya berputar cepat.

Lalu berhenti.

Tulisan muncul.

Bukan tinta.

Seperti… terbentuk sendiri.

Aku membaca.

Dan tanpa sadar, suaraku keluar.

“…Selamat datang di dunia Ezzerion.”

Tidak ada yang berbicara.

“Dunia ini adalah panggung permainan bagi para dewa dan dewi.”

Dazai menatapku dengan wajah kosong.

“Apa maksudnya…?”

Aku melanjutkan.

“Tujuan mereka… adalah melihat bagaimana kalian bertahan hidup.”

Angin berhenti.

Hutan menjadi… terlalu sunyi.

“Setiap pemain memiliki tujuh nyawa.”

Yui tertawa kecil, tidak percaya.

“Ini lelucon, kan?”

Aku tidak berhenti.

“Ketika nyawa habis… kematian bersifat permanen.”

Akira yang tadinya terlihat bosan… kini menoleh.

Perlahan.

“Respawn point adalah tempat tidur terakhir.”

Dazai mundur satu langkah lagi.

“Berhenti… ini tidak lucu…”

Tanganku sedikit mengencang pada buku itu.

“Tembok cahaya membatasi dunia ini.”

Aku menatap lurus ke depan, meskipun tidak ada apa-apa di sana.

“Melarikan diri… mustahil.”

Sunyi.

Tidak ada suara burung.

Tidak ada suara serangga.

Hanya napas kami berempat.

Yui akhirnya berbicara, suaranya sedikit lebih rendah.

“…Kalau ini benar… berarti kita benar-benar...”

Akira menyela, datar.

“Terjebak.”

Dazai menggeleng cepat.

“Tidak… tidak mungkin… ini pasti mimpi… ini pasti...”

Aku menutup buku itu perlahan.

(Bukan mimpi.)

Aku menatap alat-alat di dalam peti.

(Bukan permainan.)

Lalu aku melihat mereka bertiga.

(Tapi… aturan seperti game.)

Aku mengambil pedang kayu.

Gagangnya ringan.

Terlalu ringan.

Namun cukup untuk melukai.

Aku mengangkat pandangan.

“Kalau kita ingin tetap hidup…”

Mereka semua menatapku.

Aku berbicara dengan tenang.

“…kita harus menganggap ini nyata.”

Angin kembali berhembus.

Daun-daun bergesekan.

Dan untuk pertama kalinya...

Dunia ini terasa… menatap balik.

“…kita harus menganggap ini nyata.”

Angin berhembus pelan, menggoyangkan daun-daun di atas kepala kami. Suara gesekannya terasa lebih jelas sekarang, seolah tidak ada lagi suara lain yang mengganggu.

Tidak ada kendaraan. Tidak ada manusia. Tidak ada tanda peradaban.

Hanya kami… dan hutan ini.

Aku kembali membuka buku di tanganku.

(Harus ada informasi lain.)

Halaman yang tadi kosong… perlahan terisi lagi. Tulisan muncul satu per satu, seperti ditulis oleh sesuatu yang tidak terlihat.

Aku membaca dalam hati.

“…Untuk mengakses status pribadi, ucapkan ‘Status’.”

Aku sedikit mengernyit.

(Status… benar-benar seperti game.)

“Di buku itu ada apa lagi?” tanya Dazai, suaranya masih belum stabil.

Aku mengangkat sedikit buku itu, tanpa menutupnya.

“Ada sistem status. Katanya… kita bisa melihat kemampuan kita sendiri.”

“Maksudnya?” Yui melipat tangan, nada suaranya mulai kehilangan kesabaran.

Aku menatap lurus ke depan.

“Seperti statistik. Kekuatan, kecepatan, hal-hal seperti itu.”

Dazai menelan ludah.

“Lalu… bagaimana cara melihatnya?”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku menarik napas pelan.

(Status…)

“Status.”

Sejenak, tidak ada yang terjadi.

Lalu…

Sesuatu muncul.

Bukan di depan mataku.

Lebih tepatnya… di dalam pandanganku.

Seperti lapisan transparan yang menempel di realita.

Tulisan.

Angka.

Informasi.

Aku tidak berkata apa-apa.

Namun mataku bergerak cepat, membaca.

(Nama… Sakamoto Takeru.)

(Level… 1.)

(Daftar skill…)

(Lumberjack… Mining… Crafting…)

(Agility…)

Aku berhenti di sana sejenak.

(Agility… lebih tinggi dari yang lain.)

(Tidak heran.)

Aku menggerakkan mata sedikit.

(Strength… rendah.)

(Fighting… hampir tidak ada.)

(Tubuh biasa.)

Aku menutup mata sebentar.

(Status tertutup.)

Semua itu langsung menghilang.

Aku kembali menatap mereka bertiga.

“Coba ucapkan ‘Status’,” kataku singkat.

Dazai ragu-ragu.

“...Status.”

Matanya langsung melebar.

“Apa… apa ini?!”

Yui juga mencoba, meskipun terlihat enggan.

“Status.”

Ekspresinya berubah sedikit.

Akira, yang sejak tadi duduk di tanah, mendesah pelan.

“…Status.”

Sunyi beberapa detik.

Lalu Dazai mulai panik lagi.

“Ini… ini benar-benar seperti game… ini tidak masuk akal… kenapa ada angka-angka begini?!”

Yui menyipitkan mata.

“…Tidak bisa dilihat orang lain.”

Aku mengangguk pelan.

“Sepertinya hanya kita sendiri yang bisa melihatnya.”

Akira menutup matanya, lalu membuka lagi.

Statusnya hilang.

Dia tertawa kecil.

“…Menarik.”

Tidak ada rasa kagum dalam suaranya.

Hanya… kelelahan.

Aku kembali melihat sekitar.

(Hutan. Bukit. Tidak ada arah pasti.)

(Tapi…)

Aku melirik mereka bertiga.

(Dua dari 3-2… satu dari 3-4.)

(Berarti…)

“Kalau kita ada di sini,” aku mulai berbicara pelan, “kemungkinan besar… yang lain juga ada.”

Dazai langsung menoleh.

“Maksudmu… murid lain?”

Aku mengangguk.

“Tidak mungkin hanya kita berempat.”

Yui mendengus pelan.

“Kalau begitu kita harus mencari mereka. Jelas lebih aman dalam kelompok besar.”

(Aman…?)

Aku tidak langsung menjawab.

(Atau justru lebih berbahaya.)

Sebelum aku sempat mengatakan sesuatu...

Akira berbicara.

“…Atau kita tidak perlu melakukan apa-apa.”

Kami bertiga menoleh ke arahnya.

Dia masih duduk.

Tatapannya kosong, menatap tanah.

“Kalau dipikir-pikir…” lanjutnya pelan, “…cara paling cepat untuk keluar dari sini sudah dijelaskan, bukan?”

Dazai mengerutkan kening.

“Apa maksudmu?”

Akira mengangkat kepalanya sedikit.

Matanya tidak menunjukkan harapan.

“Nyawa kita ada tujuh.”

Tidak ada yang menjawab.

“Kalau kita mati tujuh kali… kita mati permanen.”

Yui menyilangkan tangan.

“Lalu?”

Akira tersenyum tipis.

“…Bukankah itu berarti kita kembali ke dunia asal?”

Sunyi.

Hanya suara angin.

Dazai langsung menggeleng keras.

“Itu… itu tidak masuk akal!”

Akira menatapnya, datar.

“Kenapa?”

“Karena… karena itu hanya asumsi!” suara Dazai meninggi. “Tidak ada bukti kalau mati di sini berarti kembali! Bagaimana kalau benar-benar mati?!”

Akira mengangkat bahu.

“Kalau benar-benar mati… ya sudah.”

“Bagaimana bisa kamu bilang ‘ya sudah’?!”

Dazai melangkah mendekat, wajahnya tegang.

“Ini hidup kita!”

Akira tidak bereaksi.

Tatapannya kembali turun ke tanah.

“…Hidup seperti apa?”

Kalimat itu keluar pelan.

Terlalu pelan.

Namun cukup untuk membuat Dazai terdiam.

(Ah… tipe seperti ini.)

Aku memalingkan pandangan.

(Tidak punya keinginan hidup sejak awal.)

(Bukan karena dunia ini… tapi karena dirinya sendiri.)

Yui mendecak pelan.

“Percakapan ini membosankan.”

Dia berbalik.

Saat itulah...

Sesuatu muncul lagi.

Sama seperti sebelumnya.

Tidak ada suara.

Tidak ada tanda.

Tiba-tiba saja… ada.

Sebuah peti kedua.

Letaknya tidak jauh dari yang pertama.

Dazai tersentak.

“A-apa lagi sekarang?!”

Aku langsung mendekat.

(Yang pertama alat dan buku.)

(Yang ini… kemungkinan pelengkap.)

Aku membuka peti itu.

Di dalamnya ada empat tas kecil.

Dan…

Empat korek api.

Aku mengamati sebentar.

(Tas untuk inventory dasar.)

(Korek api… berarti api penting.)

Aku belum sempat berkata apa-apa...

“Bagus.”

Suara Yui terdengar.

Dia sudah di sampingku.

Cepat.

Dia langsung mengambil satu tas.

Gerakannya tanpa ragu.

Lalu satu korek api.

Aku meliriknya.

Dia tidak melihatku.

Sebaliknya, dia sudah berdiri tegak, menepuk sedikit tas itu.

“Setidaknya ada sesuatu yang berguna.”

“Eh...tunggu...” Dazai mencoba menghentikan.

Namun Yui sudah berjalan.

Menjauh.

“Ke mana kamu pergi?” tanyaku.

Dia berhenti sebentar.

Hanya sebentar.

Lalu menjawab tanpa menoleh.

“Aku tidak punya waktu untuk bermain tim dengan orang-orang yang tidak kompeten.”

Nada suaranya dingin.

“Kalau ada kelompok lain… aku akan bergabung dengan mereka.”

“Sendirian?!” Dazai hampir berteriak.

Yui akhirnya menoleh sedikit.

Tatapannya tajam.

“Lebih baik sendiri daripada jadi beban.”

Kalimat itu menggantung di udara.

Lalu dia pergi.

Langkahnya ringan.

Cepat.

Dan tidak ragu.

Beberapa detik kemudian...

Dia menghilang di antara pepohonan.

Sunyi kembali.

Dazai menatap arah Yui pergi.

“…Dia serius?”

Akira bahkan tidak mengangkat kepala.

“…Satu orang pergi. Lebih sederhana.”

Aku menatap ke arah hutan.

(Meninggalkan kelompok… tanpa ragu.)

(Ambisius… atau bodoh.)

Angin kembali berhembus.

Aku menutup peti itu perlahan.

(Tapi satu hal sudah jelas.)

Aku mengalihkan pandangan ke dua orang yang tersisa.

(Kita tidak akan bertahan seperti ini.)

Kayu, Darah dan Keputusan

(Kita tidak akan bertahan seperti ini.)

Angin masih berhembus pelan, membawa suara langkah kaki yang semakin menjauh... lalu menghilang sepenuhnya.

Dazai masih menatap ke arah Yui pergi, tubuhnya sedikit gemetar.

“…Dia benar-benar pergi…” gumamnya pelan.

Tidak ada jawaban.

Akira tetap duduk, tidak bergerak.

Aku mengalihkan pandangan.

(Tiga orang yang tersisa... dan satu sudah tidak punya niat bertahan.)

Dazai tiba-tiba berbicara lagi.

“Aku... aku tidak bisa di sini.”

Aku menoleh padanya.

Dia menatap ke arah hutan, ke arah Yui menghilang.

“Aku tidak bisa sendirian... maksudku... berdua...” dia menggeleng cepat. “Dia mungkin benar. Lebih baik cari kelompok lain.”

(Kelompok lain... atau tempat mati yang lebih cepat.)

“Kalau kamu pergi sekarang, kemungkinan tersesat tinggi,” kataku datar.

“Aku... aku tahu, tapi...” dia menggigit bibirnya. “Aku tidak bisa di sini.”

Akira tertawa kecil dari tempatnya duduk.

“Lihat? Bahkan tanpa melakukan apa-apa, tim sudah bubar.”

Dazai menoleh padanya, kesal.

“Kamu bahkan tidak mencoba!”

“Untuk apa?” jawab Akira tenang. “Akhirnya sama saja.”

Dazai terdiam beberapa detik.

Lalu dia menatapku.

“Aku... aku pergi.”

Aku tidak menahannya.

(Hasilnya sudah jelas.)

Dazai menelan ludah, lalu mulai berjalan... lalu berlari kecil ke arah yang sama dengan Yui.

Langkahnya tidak stabil.

Napasnya sudah terdengar berat meskipun belum jauh.

(Beberapa menit saja... dia akan kelelahan.)

Aku tidak menghentikannya.

Aku tidak memanggilnya.

Aku hanya melihat sampai sosoknya hilang di antara pepohonan.

Sunyi.

Kini hanya dua orang.

Aku dan Akira.

...

Akira akhirnya berdiri.

Dia menguap pelan, meregangkan tubuhnya tanpa semangat.

“…Aku naik ke sana.”

Dia menunjuk ke arah bukit.

Tidak... lebih tepatnya ke arah jalur yang menuju ke atas, ke daerah yang lebih tinggi.

“Tempat tinggi biasanya lebih aman, kan?” katanya, setengah bertanya, setengah tidak peduli.

Aku tidak menjawab.

Dia berjalan melewatiku.

Saat melewati peti, dia berhenti sebentar.

Mengambil satu tas.

Lalu...

Dia melempar sesuatu ke arahku.

Aku menangkapnya secara refleks.

Cangkul kayu.

“Tidak butuh itu,” katanya singkat.

Lalu dia melanjutkan jalan.

Tidak menoleh.

Tidak berhenti.

Tidak ragu.

Langkahnya lambat, tapi stabil.

Seolah dia tidak peduli apakah dia akan hidup atau mati di atas sana.

Beberapa saat kemudian... dia menghilang juga.

...

Sunyi.

Benar-benar sunyi sekarang.

Aku berdiri sendiri di tengah hutan.

Dengan dua peti kosong di belakangku.

Dengan tiga orang... yang sudah pergi ke arah berbeda.

(Aneh.)

(Tidak ada satu pun yang mencoba bertahan bersama.)

Aku melihat tanganku.

Kapak batu.

Cangkul kayu.

Di sampingku, tas kecil dan satu korek api.

(Tidak buruk untuk awal.)

Aku membuka tas itu.

Di dalamnya kosong.

(Tapi cukup untuk menyimpan sesuatu.)

Aku menutupnya kembali.

Lalu melihat sekeliling.

(Prioritas pertama...)

“Tempat tinggal.”

Aku berjalan mendekati pohon terdekat.

Batangnya cukup besar.

Daunnya lebat.

(Kayu.)

Aku mengangkat kapak batu.

Menarik napas.

Lalu mengayunkannya.

...

Tak!

Suara benturan terdengar jelas.

Getaran merambat dari gagang kapak ke tanganku.

Lebih berat dari yang kubayangkan.

Aku mengayunkan lagi.

Tak!

Dan lagi.

Tak!

(Beberapa kali lagi...)

Batang pohon itu retak.

Lalu...

Pohon itu tumbang.

Tanah bergetar sedikit saat batangnya jatuh.

Aku mundur satu langkah.

Dan saat aku melihatnya...

Aku berhenti.

“…Hah.”

Batang pohon itu tidak lagi utuh.

Sebaliknya...

Tumpukan kayu plank tersusun rapi di tanah.

Potongan bersih.

Seragam.

Seperti hasil produksi.

(Bukan kayu mentah...)

(Tapi sudah jadi bahan.)

Aku menatap kapak di tanganku.

(Sistem ini benar-benar seperti game.)

Tiba-tiba...

Sesuatu muncul lagi di pandanganku.

(Status.)

Tanpa aku panggil.

(Lumberjack... naik.)

(EXP bertambah.)

Aku sedikit menyipitkan mata.

(Setiap aksi... memberi perkembangan.)

Aku langsung bergerak lagi.

...

Kapak diayunkan.

Pohon kedua.

Tak! Tak! Tak!

Tumbang.

Plank lagi.

(Status muncul lagi.)

(Lumberjack naik.)

Aku tidak berhenti.

Aku terus menebang.

Pohon ketiga.

Keempat.

Napas mulai terasa.

Tangan sedikit pegal.

(Tapi bisa dilatih.)

Aku mengangkat kapak lagi...

...

Shhhk...

Suara itu halus.

Sangat halus.

Namun cukup.

Aku berhenti.

Perlahan.

Menoleh.

Di antara semak-semak...

Sesuatu bergerak.

Panjang.

Gelap.

Mengkilap.

(Ular.)

Seekor ular piton besar merayap keluar perlahan.

Matanya mengunci padaku.

Tubuhnya tebal.

Gerakannya tenang.

(Terlalu tenang.)

Aku tidak bergerak.

(Kalau aku lari...)

(Stamina belum cukup.)

(Kalau aku panik...)

(Selesai.)

Ular itu mendekat.

Pelan.

Sangat pelan.

Jarak... lima meter.

Empat.

Tiga.

Ia berhenti.

Tubuhnya sedikit melingkar.

(Kontraksi.)

(Serangan.)

Aku menggenggam kapak lebih erat.

(Datang.)

...

Dalam sekejap...

Ular itu melesat.

Cepat.

Lebih cepat dari yang terlihat.

Aku menghindar ke samping.

Tubuhku bergerak refleks.

Nyaris.

Sangat nyaris.

Aku mengayunkan kapak.

CRACK!

Kapak mengenai bagian tubuhnya.

Tidak dalam.

Namun cukup membuatnya menggeliat keras.

Ular itu berbalik cepat.

Lebih agresif sekarang.

Lebih berbahaya.

(Dua kali lebih cepat.)

Ia menyerang lagi.

Aku mundur.

Kaki terpeleset sedikit.

(Sial.)

Mulutnya terbuka...

Aku mengangkat kapak.

Dan mengayunkannya sekuat mungkin.

CRACK!!

Kali ini...

Tepat di kepala.

Tubuh ular itu bergetar keras.

Menggeliat.

Lalu...

Perlahan melemah.

Diam.

Napas.

Aku menarik napas dalam.

Lalu menghembuskannya pelan.

(Terlambat sedikit saja...)

Aku melihat tubuh ular itu.

Lalu...

Sekali lagi.

Perubahan.

Tubuh itu menghilang.

Digantikan oleh...

Material.

Daging.

Kulit.

Dan beberapa item lain.

(Status muncul.)

(Strength... naik.)

(Fighting... naik.)

Aku menatap kapak di tanganku.

(Bertarung juga memberi EXP.)

Aku melihat sekeliling.

Hutan yang tadi terasa kosong...

Sekarang terasa berbeda.

(Lebih berbahaya.)

Aku mengambil hasil dari ular itu, memasukkannya ke dalam tas.

Lalu menatap tumpukan kayu plank di tanah.

(Dengan ini...)

Aku mengangkat pandangan ke arah sekitar.

(Aku bisa mulai bertahan.)

Angin berhembus lagi.

Namun kali ini...

Terasa lebih dingin.

(Aku bisa mulai bertahan.)

Angin berhembus lagi...

Namun kali ini terasa lebih dingin.

Langit perlahan berubah warna. Biru terang mulai memudar, digantikan oleh jingga yang redup... lalu semakin gelap.

(Malam.)

Aku menatap sekeliling.

Hutan yang tadi terlihat biasa...

Sekarang mulai terasa asing.

(Setiap suara jadi lebih jelas... dan lebih mencurigakan.)

Aku bergerak cepat.

Tidak ada waktu untuk ragu.

Aku mengumpulkan kayu plank yang tadi kudapat.

Jumlahnya cukup banyak.

(Terlalu banyak untuk sekadar api.)

Aku menurunkannya satu per satu dari tas.

Lalu mulai menyusun.

Balok demi balok.

(Bukan rumah... tapi cukup untuk berlindung.)

Aku menyusunnya seperti blok... sederhana... tapi saling mengunci.

Dinding pertama.

Lalu kedua.

Aku menyisakan celah kecil sebagai pintu.

Atapnya...

Aku berhenti sebentar.

(Masih bisa.)

Aku mengambil beberapa plank.

Menaruhnya...

Dan saat aku mencoba menyusunnya...

Tiba-tiba.

Sesuatu terasa berbeda.

Seperti ada dorongan.

Seperti... pemahaman.

(Crafting...)

Aku memegang plank itu.

Membayangkan bentuknya.

(Sederhana saja.)

Dan dalam sekejap...

Plank itu tersusun sendiri.

Rapi.

Presisi.

Atap sederhana terbentuk.

Aku diam beberapa detik.

(Langsung jadi...)

(Tidak perlu dipaku... tidak perlu alat tambahan.)

(Status...)

Aku melihat sekilas.

(Crafting... level 5.)

(Simple Crafting.)

(Membuat sesuatu secara instan... selama materialnya ada.)

Aku menutup status itu.

(Terlalu cepat berkembang.)

(Tapi ini menguntungkan.)

Beberapa menit kemudian...

Sebuah rumah kecil berdiri.

Sederhana.

Kotak.

Seperti balok yang disusun.

Namun cukup untuk melindungi dari angin... dan sesuatu yang lebih buruk.

Aku keluar sebentar.

Mengumpulkan ranting kecil.

Daun kering.

Lalu mengeluarkan korek api.

(Ini penting.)

Aku menyalakan api.

Butuh dua kali percobaan.

Namun akhirnya...

Api menyala.

Api unggun kecil.

Cahaya oranye menari-nari di tanah.

Bayangan pohon bergerak... seperti sesuatu yang hidup.

(Sudah lebih baik.)

Aku duduk di dekat api.

Mengeluarkan daging ular dari tas.

Masih segar.

(Tidak ada darah berlebihan... seperti sudah diproses.)

Aku menusuknya dengan ranting.

Lalu mulai memanggang.

Aroma daging mulai tercium.

Asing... tapi tidak menjijikkan.

(Bisa dimakan.)

Crack...

Suara ranting patah.

Aku langsung berdiri.

Kapak di tangan.

Tatapan tajam ke arah suara.

(Hewan... atau...)

Langkah kaki.

Cepat.

Tidak stabil.

Seseorang muncul dari kegelapan.

Aku langsung siap menyerang...

Lalu berhenti.

“Akira?”

Dia berdiri di sana.

Napasnya berat.

Tubuhnya sedikit gemetar.

Pakainya kotor.

Wajahnya...

Berbeda.

Kosong.

Namun... ada sesuatu di matanya.

Sesuatu yang tidak ada sebelumnya.

(Takut.)

Dia menatapku.

Beberapa detik.

Lalu...

“Aku mati.”

Suaranya pelan.

Datar.

Namun tidak kosong.

Aku tidak langsung menjawab.

Dia melangkah mendekat.

Perlahan.

“Satu nyawa hilang.”

Aku menatapnya.

“Kenapa?”

Akira tertawa kecil.

Namun tidak ada humor di sana.

“Naga.”

Sunyi.

Api berderak pelan.

Aku sedikit menyipitkan mata.

(Naga...)

(Berarti level ancaman di dunia ini...)

“Aku tidak sempat lari,” lanjutnya. “Tidak sempat berpikir.”

Dia menatap tangannya sendiri.

Seolah masih merasakan sesuatu.

“Satu detik... aku berdiri...”

“…detik berikutnya... aku sudah mati.”

Dia mengangkat kepalanya.

Menatapku.

Tatapannya sekarang jelas.

Trauma.

Namun... tetap berdiri.

Tetap di sini.

“…Sakitnya tidak lama,” katanya pelan.

Lalu diam.

Aku tidak mengatakan apa-apa.

(Aneh.)

(Dia tidak berubah.)

(Tetap ingin mati... tapi sekarang tahu rasanya.)

Akira akhirnya melihat sekeliling.

Lalu matanya berhenti.

Pada...

Rumah.

“…Apa itu?”

Nada suaranya berubah sedikit.

Untuk pertama kalinya...

Ada reaksi.

Aku menjawab singkat.

“Tempat tinggal.”

Dia menatapnya lebih lama.

“…Kamu membuat itu?”

Aku mengangguk.

Akira berjalan mendekat.

Menyentuh dindingnya.

Padat.

Stabil.

“…Cepat.”

“Kayunya langsung jadi plank,” kataku. “Waktu ditebang.”

Dia menoleh padaku.

“Langsung?”

“Ya. Kalau pohonnya besar.”

Aku menunjuk ke arah hutan.

“Kalau batang kecil... tetap batang biasa.”

Akira terdiam beberapa detik.

Lalu tertawa kecil lagi.

“…Masuk akal.”

Tidak.

Sebenarnya tidak.

Namun di dunia ini...

Itu jadi masuk akal.

Aroma daging kembali menarik perhatian.

Akira menoleh ke api.

“…Itu makanan?”

Aku mengangguk.

“Ular.”

Dia mendekat.

Duduk di dekat api.

Tanpa ragu.

Tanpa komentar.

Aku menyerahkan satu potong.

Dia menerimanya.

Langsung makan.

Tanpa bertanya.

(Beberapa jam lalu... dia bahkan tidak peduli hidup.)

(Sekarang... tetap makan.)

Aku melihatnya sebentar.

Lalu mengalihkan pandangan.

(Status...)

Aku membukanya sekilas.

Lumberjack... level 3

Crafting... level 5

Mining... level 1

Strength... level 5

Fighting... level 4

Agility... level 4

Weapon Making... level 1

Exploring... level 2

Toughness... level 3

Endurance... level 2

Stamina... level 4

Archery... level 1

(Per 5 level...)

(Skill.)

(Heavy Swing...)

(Simple Crafting...)

Aku menutup status itu.

(Tidak perlu dibagi.)

Api terus menyala.

Malam semakin gelap.

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di dunia ini...

Aku tidak berdiri di tempat terbuka.

Aku memiliki tempat berlindung.

Namun...

Di luar sana...

Sesuatu bergerak.

Tidak terlihat.

Tidak terdengar jelas.

Namun...

Ada.

Dan dunia ini...

Baru saja mulai menunjukkan wajah aslinya.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play