BAB 1 — SEBELUM KEJATUHAN
Namaku Sakamoto Takeru.
Bukan nama yang terkenal. Bukan juga nama yang akan dipanggil orang saat butuh sesuatu. Aku hanya satu dari tiga puluh siswa di kelas 3-1 SMA Oguro, duduk di dekat jendela, paling belakang, posisi paling strategis untuk menghindari kontak mata dengan guru.
Tidak ada yang istimewa.
Nilai akademikku cukup untuk tidak tinggal kelas. Nilai olahragaku cukup untuk tidak dipaksa ikut lomba. Kehadiranku cukup untuk tidak dipanggil ke ruang BK. Aku ada di zona abu-abu yang paling nyaman — tidak dianggap, tidak dilihat, tidak diganggu.
Kelas 3-1 adalah kelas unggulan, kata guru-guru. Tapi yang membuatnya unggul bukan siswa seperti aku.
Di depanku, tiga baris ke kiri, duduk Hashimoto Yuuta.
Pangeran sekolah. Ketua OSIS. Ketua kelas. Kapten klub sepak bola yang membawa tim ke semifinal nasional. Tinggi, tampan, rambut rapi, senyumnya bisa membuat adik kelas pingsan. Dia tipe orang yang kalau bicara, semua orang diam. Bukan karena takut, tapi karena hormat. Atau mungkin karena pesona. Aku tidak pernah paham perbedaan keduanya.
Di samping Yuuta, duduk Yamato Kaito.
Teman dekat Yuuta. Anggota klub sepak bola juga. Tapi berbeda dengan Yuuta yang tenang, Kaito itu dramatis. Sering bicara dengan gaya yang menurutnya keren tapi menurutku cringe. Dia pakai penutup mata di lengan kiri padahal matanya sehat. Katanya untuk mengendalikan kekuatan terkutuk yang bersemayam di tubuhnya. Aku tidak tahu apakah dia benar-benar percaya omongannya sendiri atau hanya mencari perhatian.
Di baris paling depan, putri jenius klub sains Shinomiya Marika.
Dia selalu membawa botol berisi cairan aneh ke mana-mana. Kadang biru, kadang merah, kadang mengeluarkan asap tipis. Guru-guru sudah menyerah melarangnya. Kata wali kelas, nilai Shinomiya untuk pelajaran kimia dan fisika sudah di atas rata-rata universitas. Tapi dia tidak pernah bicara banyak. Lebih suka menulis rumus di pinggiran koran daripada mengobrol dengan teman sebangkunya.
Itu kelas 3-1.
Tiga puluh orang dengan dinamikanya sendiri. Aku hanya pengamat di sudut ruangan. Duduk. Melihat. Mendengar. Tidak terlibat.
Hari itu seperti biasa.
Bel istirahat berbunyi. Aku mengeluarkan buku dari tas — bukan buku pelajaran, tapi novel terjemahan yang sedang aku baca ulang untuk ketiga kalinya. Kisah tentang seorang penyendiri yang selamat sendirian di dunia yang hancur. Bacaan favoritku.
Di sekitarku, siswa-siswa lain bergerak.
Yuuta dikerumuni teman-temannya. Ada yang ngajak makan siang, ada yang tanya strategi pertandingan berikutnya, ada yang cuma ingin dekat-dekat. Dia tersenyum, menjawab satu per satu dengan sabar. Tidak pernah terlihat lelah meski dikerubungi seperti itu.
Kaito berdiri di atas meja — meja, bukan kursi — dan berteriak sesuatu tentang panggilan takdir. Beberapa siswa menertawakannya. Beberapa menggeleng. Tidak ada yang mengusirnya karena dia anak Yuuta.
Shinomiya membuka botol kecil di tangannya. Aroma mint menyebar ke seluruh ruangan. Beberapa siswa batuk.
Pemandangan biasa.
Kemudian bel masuk berbunyi.
Semua kembali ke kursi masing-masing. Guru ekonomi masuk, membuka buku, mulai menjelaskan tentang inflasi dengan suara monoton. Aku menggambar lingkaran-lingkaran kecil di pinggiran buku catatan. Tidak pernah belajar di kelas. Lebih suka belajar sendiri di rumah. Di kelas, waktuku habis untuk melamun.
Menit berlalu.
Lalu semuanya berubah dalam sekejap.
Lantai di bawahku menghilang.
Bukan retak. Bukan ambruk. Tapi benar-benar menghilang seperti dihapus dari realitas.
Aku jatuh.
Di sekelilingku, suara teriak siswa-siswa lain. Tiga puluh suara berbeda, tiga puluh jenis ketakutan, bergema di ruang kosong yang tiba-tiba terasa sangat dingin.
Warna merah pekat menyelimuti mataku.
Lingkaran. Aku melihat lingkaran raksasa di bawahku atau di atasku. Aku tidak bisa membedakan arah. Semuanya terbalik. Semuanya berputar. Satu-satunya yang jelas adalah warna merah itu. Pekat. Gelap. Seperti darah yang mengental.
Lalu cahaya.
Lalu gelap.
Lalu aku tidak merasakan apa-apa.
Sementara itu, Hashimoto Yuuta membuka matanya di ruang yang seluruhnya putih. Lantai marmer putih. Dinding putih. Langit-langit putih. Tidak menyilaukan. Lembut. Seperti berada di dalam awan.
Di depannya, berdiri tiga belas sosok siluet cahaya. Tidak ada wajah. Tidak ada bentuk tubuh yang jelas. Yang terlihat hanya bayangan manusia yang terbuat dari cahaya dengan warna berbeda. Ada yang merah menyala, biru dingin, keemasan, hijau seperti daun, ungu pekat, perak berkilau, hitam pekat, kuning seperti petir, putih bersinar.
Suara datang dari mana mana. Bukan bisikan. Tapi gema yang memenuhi seluruh ruangan.
Pilih.
Yuuta menoleh ke kiri dan ke kanan. Tidak ada orang lain. Dia sendirian.
Pilih.
Hashimoto Yuuta adalah ketua OSIS, ketua kelas, kapten klub sepak bola. Dia terbiasa menjadi teladan. Terbiasa membuat keputusan cepat karena orang lain menunggumu. Tapi ini berbeda. Ini bukan memilih menu makan siang atau formasi pemain.
Dia menatap satu per satu siluet cahaya itu. Matanya berhenti pada satu sosok. Cahayanya tidak seterang yang keemasan. Tidak semencolok yang merah. Tapi ada ketegasan di dalamnya. Atau mungkin ketenangan. Yuuta tidak tahu persis.
Dia mendekat.
Sosok itu tidak bergerak. Tapi cahayanya bergetar. Seolah menyetujui.
Goddess of Justice. Apakah kamu yakin?
"Ya."
Kamu telah memilih. Ikuti cahayanya.
Sosok yang dipilih Yuuta bersinar lebih terang. Ruang putih itu berganti. Yuuta sekarang berdiri di ruangan lebih kecil, lebih privat. Siluet cahaya di depannya kini berbentuk manusia. Perempuan tinggi dengan rambut panjang bercahaya. Jubah putih keemasan membalut tubuhnya. Di kepalanya ada mahkota kecil berbentuk timbangan.
Kau berani memilihku, ucapnya. Suaranya seperti lonceng perak di keheningan malam.
"Apakah itu buruk?"
Tidak. Hanya menarik. Kebanyakan manusia memilih yang lain. Api. Perang. Energi. Sesuatu yang keras. Kau memilih keadilan.
"Aku terbiasa menjadi penengah. Di sekolah. Di klub. Di mana pun. Orang datang padaku saat ada masalah. Aku mendengarkan. Aku memutuskan."
Sosok itu tersenyum. Senyum kecil yang tidak sampai ke matanya yang heterokromia.
Maka kau cocok.
Cahaya muncul di telapak tangannya. Memanjang. Membentuk. Pedang. Bilahnya putih perak dengan ukiran timbangan di dekat gagang. Gagangnya dibalut kulit hitam dengan ukiran emas. Di tengah bilah, ada satu garis biru tipis seperti sungai di bawah cahaya bulan.
Sword of the Chooser's Judgment. Dari Valkyrie Descents Collection.
Yuuta menerimanya. Saat tangannya menyentuh gagang, dia merasakan kehangatan meresap ke tulang. Pedang itu terasa hidup.
"Bisakah aku memintanya?" tanyanya sebelum sempat berpikir.
Meminta?
"Senjata. Apakah aku bisa meminta bentuk senjata yang aku inginkan?"
Sosok itu mengangkat alis.
Kau yang pertama bertanya soal itu.
"Jadi?"
Kau sudah mendapat pedang.
"Ini pedang yang bagus. Tapi pertanyaanku tetap. Apakah aku bisa meminta?"
Diam. Kemudian sosok itu tertawa.
Bisa. Tapi kau tak perlu. Karena pedang yang kau inginkan persis dengan yang sudah kuberikan.
Yuuta menatap pedang di tangannya. Dia tahu sejak awal.
Sekarang pergilah. Duniamu menunggumu.
Cahaya. Lalu gelap. Lalu Yuuta jatuh lagi.
Nakamura Ryoma membuka mata di ruang putih yang sama. Tiga belas siluet cahaya berdiri di depannya.
Pilih.
Ryoma tidak berpikir lama. Matanya langsung tertuju pada satu sosok. Merah. Bukan merah seperti api. Tapi merah seperti darah. Gelap. Pekat. Menariknya seperti besi ke magnet.
God of War. Apakah kamu yakin?
"Tidak ada dewa lain yang pantas untukku."
Masuklah.
Ruangan privatnya berbeda. Dindingnya abu-abu gelap. Lantainya kasar seperti batu. Udara dingin menusuk kulit. Siluet cahaya di depannya kini berbentuk pria raksasa. Tingginya hampir tiga meter. Badannya dipenuhi bekas luka. Di tangan kirinya, dia memegang kapak perang. Di tangan kanannya, dia memegang tengkorak.
Nakamura Ryoma, ucapnya. Suaranya seperti gemuruh di kedalaman bumi. Aku sudah menunggumu.
"Kau tahu namaku?"
Aku tahu semua yang akan bertarung. Aku tahu semua yang akan mati. Aku tahu semua yang akan bangkit dan bertarung lagi.
Pria itu berdiri. Seluruh ruangan bergetar.
Kau memilihku karena kau suka bertarung. Tapi pertanyaannya, apakah kau bertarung untuk menang atau bertarung untuk mati?
"Aku bertarung untuk membunuh."
Pria itu tertawa. Tengkorak di tangannya retak karena getaran tawanya.
Jawaban yang bagus.
Dia melemparkan sesuatu ke arah Ryoma. Greatsword. Besar. Lebih besar dari badan Yuuta. Bilahnya hitam dengan urat-urat merah menyala seperti lava yang mengalir. Gagangnya dililit kulit ular. Di pangkal bilah, ada ukiran kepala serigala dengan mata batu delima.
Greatsword of the Einherjar's Oath. Dari Treasures of Valhalla.
Ryoma menangkapnya. Berat. Tapi berat yang enak.
"Bisakah aku minta senjata?"
Pria itu menghentikan tawanya.
Meminta?
"Aku ingin Greatsword. Dan kau memberikannya. Tapi kalau aku minta sesuatu yang lain, apakah akan kau beri?"
Diam. Cahaya mata pria itu, dua titik merah di kegelapan wajahnya, menatap Ryoma tajam.
Kau berani.
"Aku Nakamura Ryoma. Aku tidak pernah takut."
Pria itu mendekat. Wajahnya hanya beberapa sentimeter dari wajah Ryoma. Aroma darah dan besi menusuk hidung.
Kalau kau minta Great Axe, kau tak akan kuberi. Bukan karena aku tak punya. Tapi karena kau tidak cocok. Kau terlalu liar untuk kapak perang. Kau butuh sesuatu yang bisa menghancurkan sekaligus menusuk. Greatsword adalah jawabannya.
"Jadi kau sudah tahu sejak awal."
Tentu.
Sekarang pergi. Duniamu sudah dimulai. Jangan mati di hari pertama. Itu memalukan.
Cahaya. Lalu gelap. Lalu Ryoma jatuh.
Asakura Yuri berdiri diam di ruang putih. Tiga belas siluet cahaya di depannya. Dia tidak panik. Dia tidak takut. Yuri hanya mengamati. Seperti yang selalu dia lakukan saat melihat lawan di lapangan kendo. Mencari kelemahan. Mencari pola. Mencari celah.
Matanya tertuju pada satu sosok. Berwarna hijau kebiruan. Tidak seterang yang keemasan. Tidak segelap yang hitam. Tapi bergerak. Terus bergerak. Seperti daun yang ditiup angin.
Yuri mendekat.
Goddess of Wind. Apakah kamu yakin?
"Ya."
Ruangan privatnya terasa lapang. Dindingnya tidak terlihat. Seperti berada di puncak gunung saat kabut tebal. Udara sejuk. Suara angin berbisik di telinga. Siluet cahaya di depannya kini berbentuk perempuan dengan rambut panjang hijau kebiruan. Matanya berwarna fajar, oranye di tepi, biru di tengah. Dia tidak memakai jubah atau baju besi. Hanya kain tipis yang bergerak-gerak meski tidak ada angin.
Kamu tenang, katanya. Suaranya seperti desiran daun.
"Aku tidak punya alasan untuk tidak tenang."
Kebanyakan manusia panik saat pertama kali melihat dewa.
"Aku lihat lawan lebih menakutkan dari kau setiap hari di lapangan kendo."
Sosok itu tersenyum tipis. Senyum yang menghilang secepat muncul.
Kamu memilihku.
"Angin tidak bisa dihentikan. Angin tidak bisa dikurung. Aku suka itu."
Karena kamu tidak suka terikat?
"Aku suka bebas."
Sosok itu mengangguk. Lalu mengulurkan tangan. Di telapaknya, cahaya membentuk katana. Bilahnya berwarna hijau toska dengan pola ombak dari gagang hingga ujung. Habaki atau penjepit bilah berwarna perak dengan ukiran awan. Gagangnya dibalut tali hijau dan putih. Di ujungnya ada pemberat berbentuk daun yang tertiup angin.
Katana of the Hanging Gardens. Dari Treasures of Babylon.
"Katana," ucap Yuri.
Kamu memintanya. Maka kuberikan.
"Dari mana kau tahu?"
Dewa angin mendengar segalanya, Yuri. Setiap bisikan. Setiap desahan. Setiap kata yang tidak terucap.
Yuri memegang katana itu. Ringan. Seperti tidak membawa beban sama sekali.
Sekarang pergilah. Tunjukkan pada dunia apa yang bisa dilakukan angin.
Cahaya. Lalu gelap. Lalu Yuri jatuh.
Kagawa Taiga melihat tiga belas siluet cahaya di depannya. Dia tidak bingung. Tidak panik. Dia hanya melihat mereka satu per satu, mencari siapa yang paling cocok dengan satu prinsip dalam hidupnya. Jangan pernah berhenti.
Dia melihat satu sosok. Cahaya kuning. Terang. Menyilaukan. Bukan seperti matahari yang membakar, tapi seperti lampu stadion di malam pertandingan. Memberi energi. Memberi semangat.
Taiga mendekat.
God of Energy. Apakah kamu yakin?
"Ya. Aku butuh energi untuk terus bergerak."
Ruangan Helium seperti pusat kebugaran masa depan. Lantainya berkilau seperti logam cair. Udara terasa terlalu ringan. Setiap gerakan terasa lebih mudah. Lebih cepat. Lebih ringan. Siluet cahaya di depannya kini berbentuk pria dengan tubuh kekar tapi tidak berlebihan. Rambut kuning menyala seperti api. Matanya seperti bola lampu yang menyala sangat terang. Dia tersenyum lebar.
KAGAWA TAIGA! Suaranya keras membahana. Aku suka orang yang tidak banyak bicara!
"Aku tidak suka basa-basi."
BAGUS! Maka kita akan cocok! Aku dewa energi! Aku kasih kau sesuatu yang akan membuatmu bisa bertarung berhari-hari tanpa lelah!
Dia tidak menunggu Taiga berbicara. Tangannya bergerak cepat. Cahaya kuning membentuk sarung tangan. Tebal. Kasar. Dengan buku-buku jari dari logam kuning yang berkilau. Di punggung sarung tangan, ada simbol matahari kecil yang bersinar redup.
Sun's Embrace. Dari Planetary Series. Ini akan membuat pukulanmu terasa seperti ditabrak planet!
Taiga memakai sarung tangan itu. Beratnya pas. Tidak terlalu berat sehingga memperlambat gerakan. Tidak terlalu ringan sehingga pukulannya kehilangan tenaga.
"Bisakah aku meminta senjata?"
Sosok itu menghentikan senyumnya.
Meminta?
"Aku serius."
KAU SUDAH DAPAT SUN'S EMBRACE! ITU SALAH SATU SENJATA TERKUAT DI PLANETARY SERIES!
"Aku tahu. Tapi aku penasaran apakah aku bisa meminta."
Sosok itu tertawa keras sampai dinding ruangan bergetar.
TAIGA, KAU MEMANG LUCU! Kalau kau minta senjata lain, mungkin tidak akan kuberi. Tapi karena kau jujur, aku jadi makin suka sama kau!
"Tapi kau tidak akan memberiku."
TIDAK! Tapi aku akan mengingat keberanianmu!
Dia mengacungkan jempol.
Sekarang pergi. Bikin kacau di sana! TAPI JANGAN MATI!
Cahaya. Lalu gelap. Lalu Taiga jatuh.
Yamato Kaito berdiri di ruang putih. Tiga belas siluet cahaya di depannya. Kaito tidak seperti Yuuta yang bijaksana, tidak seperti Ryoma yang haus darah, tidak seperti Yuri yang tenang, tidak seperti Taiga yang lugas. Kaito itu dramatis. Setiap gerakannya, setiap ucapannya, terasa seperti adegan di anime favoritnya.
Dia menatap siluet-siluet itu satu per satu. Matanya berhenti pada satu sosok. Cahaya kuning keemasan. Bergetar. Bergemuruh. Seperti badai yang menahan diri.
God of Thunder.
Kaito mendekat. Bukan dengan langkah biasa. Tapi dengan gaya berjalan yang menurutnya keren.
"Aku memilihmu. Yang Mulia Dewa Guntur."
Masuklah.
Di ruangan privat, siluet itu berubah. Pria dengan rambut putih menjuntai panjang. Matanya menyala seperti kilat. Tubuhnya kekar, ditutupi baju besi ringan yang terus menyala dengan listrik statis.
Kau memilihku.
"Tentu. Antara tiga belas dewa, hanya kau yang memiliki wibawa sebanding dengan kekuatanku yang terkunci."
Pria itu mengernyit.
Kekuatanmu yang terkunci?
"Ya. Aku menyandang kutukan sejak lahir. Sebagian besar kekuatanku tersegel. Hanya pedang yang tepat yang bisa membukanya."
Pria itu menatap Kaito lama. Lalu tertawa. Guntur bergemuruh di seluruh ruangan.
KAU MENGHIBURKAN!
"Aku serius."
Aku tahu. Tapi kau tetap menghiburkan.
Pria itu mengulurkan tangan. Cahaya membentuk tombak. Tombak dengan bilah panjang berwarna perak kebiruan. Di gagangnya, ukiran awan dan kilat. Ujung tombaknya bercabang dua seperti sambaran petir.
Spear of the Thundering Seraph. Dari Seraphim Lineage.
Kaito mengambil tombak itu. Beratnya pas di tangannya.
"Bisakah aku minta sesuatu?"
Meminta?
"Aku ingin tombak. Dan kau memberikannya. Apakah kau membaca pikiranku?"
Kau yang pertama bertanya soal itu. Selain satu orang sebelumnya.
"Siapa?"
Rahasia.
Kaito tersenyum puas. (Jadi ada orang lain yang sepintar aku.)
Sekarang pergi. Jangan membuatku menyesal.
Cahaya. Lalu gelap. Lalu Kaito jatuh.
Nakamura Ryoma, Naoto Suzuki, Takumi Watanabe, dan Makoto Sato semuanya memilih God of War. Mereka tidak tahu satu sama lain sudah memilih dewa yang sama. Bagi Ryoma, itu adalah pilihan paling logis. Bagi Naoto yang kekar dan tidak banyak bicara, dewa perang terasa paling cocok dengan tubuhnya. Bagi Takumi yang wajahnya ramah tapi matanya dingin, ada kegilahan yang tersembunyi di balik senyumnya. Bagi Makoto yang paling besar di antara semua siswa kelas 3-3, dewa perang adalah satu satunya yang tidak akan membuatnya merasa kecil.
Mereka mendapat senjata dari Treasures of Valhalla. Naoto mendapat Great Axe of the Berserker's Rage. Takumi mendapat Axe of the Viking King. Makoto mendapat Warhammer of the Thunder God. Mereka tidak bertanya. Mereka tidak meminta. Mereka hanya menerima.
Sama seperti Shinjiro Akira, Shinichi Yamada, Kabuto Nakamura, dan Reiji Tanaka yang memilih God of Light. Mereka mendapat senjata dari Relics of The Light. Akira mendapat Sword of the First Dawn. Shinichi mendapat Blade of the Cleansing Ray. Kabuto mendapat Staff of the Guiding Light. Reiji mendapat Bow of the Divine Arrow. Mereka tidak bertanya. Mereka tidak meminta. Mereka hanya menerima.
Sama seperti Sasaki Dazai yang memilih God of Darkness. Dia mendapat Dagger of the Silent Void dari Relics of The Abyss. Dazai tidak banyak bicara. Dia hanya mengangguk lalu jatuh.
Sama seperti para siswi.
Shinomiya Marika memilih Goddess of Crafts. Dia mendapat Claws of Date Masamune dari Sengoku Series. Marika tidak meminta. Tapi di matanya ada kilatan antusias saat melihat detail rumit pada sarung tangan berkuku baja itu. Di setiap ujung jari, ada bilah melengkung setajam silet. Di punggung tangan, ukiran naga bermata satu. Marika sudah membayangkan seratus cara untuk memodifikasinya.
Kawasaki Erika memilih Goddess of Water. Dia mendapat Trident of the Ocean Lord dari Atlantis Regalia Collection. Erika yang angkuh itu tersenyum tipis. Trident terlihat anggun di tangannya. Seperti milik putri duyung. Tapi ujungnya tajam mematikan.
Hori Yui memilih Goddess of Wind. Dia mendapat Scimitar of the Desert Wind dari Treasures of Babylon. Hori yang narsis itu mengagumi bilahnya yang melengkung seperti senyum tipis di depan cermin.
Asakura Yuri sudah memilih sebelumnya. Dia mendapat katana. Yuri yang pemilih itu tidak keberatan. Dia sudah mendapat apa yang dia minta.
Lalu tibalah giliran Sakamoto Takeru.
Saat tiga belas siluet cahaya berdiri di depannya, saat suara-suara itu berbisik Pilih berulang ulang, Takeru hanya diam. Dia tidak bergerak. Tidak mendekati siapa pun. Hanya berdiri di tengah ruangan putih, melihat tiga belas siluet dengan warna berbeda, dan berpikir.
(Kenapa harus pilih?)
(Apa yang terjadi kalau tidak pilih?)
(Apakah ini pilihan atau paksaan yang dibungkus pilihan?)
Pilih.
"Aku tidak mau."
Diam. Ruangan putih itu tiba-tiba terasa semakin dingin. Tiga belas sosok cahaya berhenti bergerak. Seolah Takeru baru saja mengatakan sesuatu yang tidak pernah mereka dengar sebelumnya.
Lalu suara lain muncul. Bukan bisikan. Tapi gema. Keras. Memenuhi seluruh ruangan.
Kamu menolak?
"Aku tidak menolak. Aku hanya tidak mau memilih. Itu bedanya."
Kamu harus memilih.
"Kenapa?"
Karena itu aturan.
"Siapa yang buat aturan?"
Diam. Lebih lama dari sebelumnya. (Mereka tidak tahu. Atau tidak mau menjawab.)
Aku melipat tangan di dada. Menatap tiga belas siluet itu satu per satu. Tidak ada yang bergerak. Tidak ada yang berbicara.
Setelah apa yang terasa seperti satu jam, suara itu muncul lagi.
Kalau kamu tidak memilih, kamu tidak akan mendapat senjata dari dewa mana pun.
"Lalu?"
Kamu akan mati di hari pertama.
"Katakan itu pada 119 orang lainnya. Aku tidak akan mati."
Sombong. Mungkin. Tapi Takeru sudah membaca ratusan novel isekai. Ratusan cerita survival. Ratusan skenario di mana karakter utama dipaksa memilih dan ternyata pilihan itu adalah jebakan.
Dia tidak akan jadi pion. Dia tidak akan jadi boneka. Kalau para dewa ini ingin dia mati, biarkan mereka membunuhnya sekarang. Tapi kalau mereka tidak bisa atau tidak mau, berarti ada alasan lain.
System mengaktifkan protokol pengecualian.
Suara itu berubah. Lebih mekanis. Lebih dingin.
Sakamoto Takeru, tidak terafiliasi. Memberikan Title: The One Who Doesn't Obey The Gods. Memberikan senjata Epic dari Series Glitch.
Takeru tidak bergerak. Dia masih berdiri dengan tangan dilipat, menatap tiga belas siluet cahaya itu.
"Jadi memang ada opsi untuk tidak memilih," ucapnya.
Salah satu siluet, yang berwarna merah menyala seperti api, berbicara. Suaranya berat dan tidak sabar. Itu bukan opsi. Itu pengecualian. Karena kamu menolak, sistem terpaksa memberikan itu.
"Terpaksa? Kalian para dewa. Katanya kalian yang mengatur permainan ini. Tapi kalian bisa dipaksa oleh sistem?"
Siluet merah itu bergetar. Jangan main main, manusia kecil.
"Aku tidak main main. Aku hanya berpikir. Kalian memberi aku pilihan untuk memilih salah satu dari kalian. Tapi kenapa? Kenapa ada pilihan? Kenapa tidak ditentukan saja dari awal? Kenapa repot repot menawarkan sesuatu yang ternyata bisa ditolak?"
Diam.
Tiga belas siluet itu saling berhadapan. Takeru tidak bisa melihat wajah mereka, tapi dia bisa merasakan kebingungan di udara. Seperti para dewa ini tidak pernah memikirkan pertanyaan itu.
Siluet keemasan, yang selama ini diam, akhirnya berbicara. Suaranya tenang. Tapi ada kegelisahan di setiap kata. Itu... aturan.
"Aturan dari siapa?"
Dari...
Siluet keemasan itu berhenti. Tidak melanjutkan.
"Kalian tidak tahu," kata Takeru. Bukan pertanyaan. Pernyataan. "Kalian dewa. Kalian mengatur permainan ini. Tapi kalian tidak tahu siapa yang membuat aturan. Kalian hanya menjalankannya. Seperti boneka."
Hati hati dengan ucapanmu, desis siluet hitam pekat. Suaranya dingin. Mengancam.
"Kenapa? Apa yang akan kalian lakukan? Membunuhku? Kalau kalian bisa, kalian sudah melakukannya sejak aku bilang tidak mau memilih."
Siluet hitam itu bergetar hebat. Cahaya di sekelilingnya berubah menjadi gelap, menyedot cahaya dari ruangan.
Kami bisa menghancurkanmu tanpa meninggalkan debu.
"Tapi kalian tidak akan. Karena kalian tidak bisa. Atau karena kalian tidak diizinkan. Mana yang benar?"
Siluet hitam itu diam.
Takeru tersenyum kecil. "Menarik. Kalian dewa. Tapi ada yang lebih tinggi dari kalian. Aturan. Sistem. Panggil apa pun. Ada sesuatu yang mengikat kalian. Sesuatu yang tidak bisa kalian langgar. Sesuatu yang memaksa kalian menawarkan pilihan kepada makhluk sekecil aku."
Kamu...
"Dan kalian tidak tahu apa itu. Kalian tidak tahu siapa yang menciptakannya. Kalian tidak tahu kenapa kalian harus mengikuti aturan itu. Kalian hanya tahu kalian harus patuh. Seperti..." Takeru menghela napas. "Seperti budak."
Ruangan bergetar.
Bukan karena marahnya para dewa. Tapi karena sistem.
INTERUPSI.
Suara mekanis itu memotong. Lebih keras dari sebelumnya. Hampir berteriak.
PEMBICARAAN DIAKHIRI. PEMINDAHAN PAKSA DIAKTIFKAN.
"Belum selesai," kata Takeru.
SELESAI.
"Kenapa kalian terburu buru? Apakah aku mengatakan sesuatu yang seharusnya tidak aku katakan? Apakah kalian takut aku akan terus bertanya sampai kalian tidak bisa menjawab?"
PEMINDAHAN PAKSA.
"Kalian tidak bisa membungkam pertanyaan dengan teleportasi, sistem."
SEKARANG.
Cahaya menyelimuti Takeru dari ujung rambut hingga ujung kaki. Kasar. Memaksa. Menyeret. Tapi Takeru masih bisa berbicara.
"Sampai jumpa, para dewa yang tidak tahu siapa majikan mereka."
Tiga belas siluet itu menghilang dari pandangannya. Tapi sesaat sebelum cahaya menutupi segalanya, Takeru melihat sesuatu. Siluet merah bergerak mundur. Siluet hitam mengepal. Siluet keemasan terdiam. Dan sisanya... bingung. Seperti orang yang baru sadar bahwa mereka selama ini hidup di dalam kandang tanpa pernah melihat jerujinya.
Kemudian semuanya putih.
Lalu semuanya gelap.
Lalu Takeru merasakan rumput di bawah punggungnya.
Saat dia membuka mata, langit di atasnya berbeda. Bukan langit Jepang dengan polusi dan gedung gedung tinggi. Tapi langit jernih dengan dua matahari. Satu kuning. Satu biru.
Dia berusaha duduk.
Dan dia sadar dia tidak sendirian.
Tiga orang lain terbaring di sekelilingnya. Semuanya masih pingsan. Wajahnya tidak familiar. Bukan dari kelas 3-1. Mungkin dari kelas lain.
Di tangan kanannya, ada sesuatu.
Pedang.
Bentuknya biasa saja. Bahkan terlalu biasa. Bilah besi dengan sedikit karat di dekat gagang. Gagangnya dibalut kain hitam yang sudah agak robek. Tidak ada ukiran. Tidak ada batu mulia. Tidak ada cahaya menyala. Pedang ini terlihat seperti pedang murahan yang dijual di pasar loak.
Tapi saat Takeru memegangnya, dia merasakan sesuatu. Getaran kecil. Seperti ada suara di dalam pedang itu yang berbisik. Bukan kata kata. Tapi perasaan.
ERROR, kata tulisan kecil di pangkal bilah.
"Sword of Glitchy Iron," baca Takeru pelan. "Epic Series Glitch. Kedengarannya seperti nama asal asalan."
Pedang itu bergetar. Seolah protes. Atau seolah tertawa.
Takeru melihat tiga orang asing di sampingnya. Masih pingsan. Tidak ada tanda tanda bangun.
Sendirian di antara orang asing. (Seperti biasa.)
Tapi kali ini, dunia tidak memberinya pilihan untuk duduk diam dan tidak terlibat.
Dia berdiri. Menepati rumput dari celananya. Melihat sekeliling. Sungai di sebelah timur. Hutan di sebelah barat. Tidak ada bangunan. Tidak ada jalan. Tidak ada tanda tanda peradaban.
(Aku tidak tahu apakah ini keberuntungan atau kutukan.)
Tapi satu hal yang pasti.
Dunia baru ini tidak akan ramah.
Takeru menggenggam pedang besi biasa itu erat erat. Rasanya aneh. Tapi nyaman. Seperti ketidakpastian yang sudah lama dia kenali.
Takeru berdiri di atas rumput.
Di sebelah kirinya, Hori Yui. Rambut pirang panjang sebahu, wajah cantik. Cewek tercantik kedua di sekolah.
Di sebelah kanannya, Sasaki Dazai. Rambut hijau. Biasa saja. Tidak ada ciri khusus.
Di belakangnya, Shinjiro Akira. Rambut hitam. Biasa saja. Wajahnya datar.
Empat orang. Berdiri. Sadar. Muncul dari ketiadaan.
Tidak ada yang bicara.
Lalu peti itu muncul di tengah-tengah mereka.
Kayu coklat tua dengan ukiran halus di setiap sisinya. Bukan ukiran biasa. Simbol-simbol yang tidak dikenal. Lingkaran. Segitiga. Garis-garis yang berpotongan tanpa pola jelas. Peti itu mengeluarkan aroma kayu tua, seperti peti harta karun yang tersimpan selama ratusan tahun.
Yui mendekat. Dazai mengikuti. Akira diam di tempat. Takeru juga tidak bergerak.
Yui membuka peti itu.
Di dalamnya ada empat buku dengan sampul kulit berwarna merah tua. Empat kapak batu. Empat pickaxe batu. Enam belas roti hangat. Uap tipis masih naik dari permukaan roti.
Dazai mengambil satu buku. Kulitnya lembut. Ada tulisan di sampulnya, ditulis dengan tinta emas, huruf-huruf yang tidak dikenal tapi entah bagaimana bisa dibaca.
Dia membuka halaman pertama.
Kepada yang terdampar di dunia Ezzerion.
Kami menyambut kalian.
Jangan takut. Jangan panik. Kalian tidak akan merasa haus. Itu adalah satu-satunya kenyamanan yang kami berikan.
Dazai melanjutkan membaca. Suaranya pelan, tapi cukup jelas di telinga empat orang itu.
Kalian muncul dalam kelompok kecil. Maksimal empat per lokasi. Kalian bisa bertahan bersama, atau keluar dari kelompok dan berjalan sendiri. Tidak ada paksaan. Tidak ada aturan yang mengikat.
Di dunia ini, ada bangunan-bangunan tua yang ditinggalkan oleh kerajaan-kerajaan yang sudah mati. Reruntuhan. Kota kuno dengan istana, perpustakaan, dan pasar yang sudah tidak berpenghuni. Di sana, kalian akan menemukan benda-benda yang tidak bisa kalian temukan di tempat lain. Buku sihir. Senjata kuno. Pengetahuan yang telah hilang.
Juga ada dungeon. Lubang-lubang raksasa di perut bumi yang tidak ada dasarnya. Di dalamnya, monster-monster berkeliaran di setiap lantai. Di lantai paling bawah, seorang Dungeon Master menunggu. Bunuh atau taklukkan dia, dan dungeon itu akan mati. Tidak ada monster baru yang lahir. Tidak ada yang bisa masuk lagi. Itu adalah rekor yang akan tercatat selamanya.
Tapi hati-hati.
Hari pertama dan kedua, dunia ini kosong. Hanya kalian. Hanya rumput. Hanya pohon. Hanya sungai.
Hari ketiga, mereka datang.
Monster.
Daging yang kelaparan. Tulang yang berjalan. Mata-mata yang mengawasi dari kegelapan hutan. Mereka akan datang dari dalam tanah, dari celah-celah batu, dari udara yang tadinya kosong.
Ini hari pertama.
Kalian bebas.
Pergilah ke mana pun kalian mau. Utara, selatan, timur, barat. Tidak ada yang salah. Tidak ada yang benar. Semua jalan menuju kematian. Hanya waktunya yang berbeda.
Ambil kapak batu ini. Tebang pohon, bangun tempat berlindung.
Ambil pickaxe batu ini. Gali tanah, cari batu dan bijih besi.
Ambil roti ini. Makanlah. Hari-hari ke depan, roti tidak akan sehangat ini. Tidak semudah ini.
Selamat bertahan hidup, manusia.
Dunia Ezzerion tidak akan tersenyum padamu.
Dazai menutup buku.
Diam.
Yui mengambil buku lainnya, membukanya sebentar, lalu melemparnya kembali ke dalam peti. "Isinya sama."
Dia mengambil satu kapak batu, satu pickaxe batu, dan empat roti.
Dazai melakukan hal yang sama.
"Aku pergi ke sana," kata Yui sambil menunjuk ke arah yang menurutnya selatan. Tidak ada matahari di langit yang bisa dijadikan patokan. Dua matahari. Satu kuning, satu biru. Tidak ada yang tahu mana utara mana selatan. Tapi Yui tetap menunjuk. "Kau ikut?"
Dazai mengangguk.
Mereka berdua berjalan meninggalkan Takeru dan Akira. Tidak pamit. Tidak melambai. Hanya pergi ke arah yang Yui tunjuk.
Akira masih berdiri di tempatnya.
"Aku juga pergi," kata Akira.
"Ke mana?" tanya Takeru.
"Ke sana."
Akira menunjuk ke arah yang berlawanan dengan Yui. Bukan karena dia tahu itu utara. Bukan karena dia tahu ada sesuatu di sana. Dia hanya tidak ingin berada di sini. Tidak ingin berdiri diam. Tidak ingin bersama orang-orang asing.
Mungkin teman-temannya ada di suatu tempat. Tidak mungkin mereka semua lenyap. Sekolah itu besar. Seratus dua puluh siswa. Pasti ada yang muncul di tempat lain.
Tapi Akira tidak tahu di mana. Dia hanya berjalan. Berharap. Mencari.
Dia mengambil kapak batu, pickaxe batu, dan empat roti. Tidak membaca buku satupun. Lalu dia berjalan ke arah yang dia tunjuk. Tidak menoleh ke belakang.
Takeru sendirian.
Tiga orang asing. Tiga arah berbeda. Tidak ada yang mau tinggal.
Dia mengambil sisa barang dari peti. Satu kapak batu. Satu pickaxe batu. Empat roti hangat. Dan satu buku terakhir.
Takeru membuka buku itu.
Halamannya kosong.
Semua halaman kosong.
Dia membalik satu per satu. Tidak ada tulisan. Tidak ada gambar. Hanya kertas-kertas tua berwarna krem yang berbau seperti buku yang sudah disimpan terlalu lama.
Dia menutup buku itu, menyelipkannya di sela sabuk seragam SMA-nya. Lalu melihat sekeliling.
Rumput. Langit dengan dua matahari. Sungai di satu arah. Hutan di arah lain.
Tidak ada tanda-tanda manusia selain dirinya.
(Sendirian.)
Takeru berjalan ke arah sungai.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play