English
NovelToon NovelToon

The Shadow King: Takhta Berdarah Sang Mafia

SERIGALA YANG KEMBALI

Dermaga Utara. Pukul 02.14 dini hari.

Tidak ada yang seharusnya berada di sini kecuali tikus pelabuhan dan bayang-bayang.

Namun malam itu, kabut tebal yang merayap di atas air hitam membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari keduanya. Sesuatu yang sudah lama pergi. Sesuatu yang kota ini pikir tidak akan pernah kembali.

Kapal kargo tua bertanda bendera Panama bergerak masuk ke dermaga tanpa menyalakan lampu. Tidak ada awak yang terlihat di geladak. Tidak ada suara yang terlalu keras. Seolah kapal itu adalah bagian dari kegelapan itu sendiri — bukan benda mati dari besi dan karat, melainkan makhluk hidup yang tahu cara bersembunyi.

Dari atas peti kargo tertinggi, sebuah sosok berdiri.

Satu orang. Jaket kulit hitam lusuh. Rambut pendek berantakan oleh angin laut. Tangan kirinya tergantung santai di sisi tubuh. Tidak ada senjata yang terlihat. Tidak ada ekspresi yang bisa dibaca.

Matanya menatap kota yang bercahaya di kejauhan — gedung-gedung tinggi yang arogan, lampu-lampu jalan yang pura-pura terang, jutaan manusia yang tidur nyenyak di atas tanah yang jauh lebih busuk dari yang mereka bayangkan.

Arkan menghirup udara dalam-dalam.

Metropolis. Kota yang sama yang dulu mengkhianatinya. Kota yang dulu membuangnya seperti sampah ke pulau penjara paling terlupakan di dunia.

Sepuluh tahun. Dan kini dia kembali — bukan dengan air mata, bukan dengan permohonan, bukan dengan harapan yang naif.

Dia kembali dengan satu tujuan yang sudah dia asah setiap hari selama satu dekade.

"Dua belas orang di dermaga bawah," suara kecil dari earpiece di telinganya. Suara perempuan, datar dan profesional. "Semua bersenjata. Mereka sudah menunggu sejak tadi malam."

"Berapa yang berbahaya?" tanya Arkan pelan.

Hening sebentar. "Dua. Yang paling kiri dan yang berdiri di dekat kontainer biru. Postur mereka berbeda dari yang lain."

Arkan melirik ke bawah. Dari jarak empat puluh meter, dalam kegelapan tebal, tanpa alat bantu optik apa pun — dia sudah tahu yang mana. Cara berdiri. Cara tangan memegang senjata. Cara mata bergerak memindai area. Mereka terlatih. Sisanya hanya preman bayaran yang tidak tahu bahwa malam ini mungkin adalah malam terakhir mereka mendapat upah.

"Matikan sambungan," kata Arkan.

"Arkan, ada kemungkinan ada penembak jarak jauh di—"

"Matikan."

Klik. Sunyi.

Arkan melompat turun dari peti kargo. Empat belas meter. Lututnya menekuk menyerap benturan, dan dia mendarat tanpa suara di atas beton dermaga yang basah, seperti kucing yang sudah melakukan ini ribuan kali.

Dia tidak berlari. Dia tidak bergegas. Dia hanya berjalan.

Langkah. Langkah. Langkah.

"Berhenti!"

Sorot senter dari tiga arah sekaligus menghantam wajahnya. Arkan tidak menutup mata. Tidak memperlambat langkah. Dia berhenti tepat lima meter dari orang pertama yang menyorotnya — pria gemuk dengan tato naga merah di leher, napasnya sedikit tersengal karena terlalu bersemangat.

Dari kerumunan dua belas orang itu, seorang pria melangkah maju. Tinggi, rambut klimis, jas abu yang terlalu rapi untuk jam dua pagi. Wajahnya menunjukkan seseorang yang terbiasa memberi perintah dan terbiasa dituruti.

Dia menatap Arkan dari ujung kepala ke ujung kaki, seperti mengamati sesuatu yang harusnya sudah lama menjadi abu.

"Arkan." Dia mengucapkan nama itu seperti lelucon yang tidak terlalu lucu. "Sepuluh tahun di Pulau Besi tidak juga mengajarimu untuk diam di tempat?"

Arkan tidak menjawab.

"Bos Viktor mengirim salam." Pria itu tersenyum tipis, lebih mirip menyeringai. "Dan satu pesan: jangan pernah kembali ke kota ini. Sayang sekali kamu terlambat membacanya."

Arkan mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaket. Menyalakannya dengan korek api kayu — bukan lighter, karena dia tidak pernah menyukai lighter sejak dulu. Dia menghisap pelan. Membiarkan asapnya menari di udara malam yang dingin dan lembab.

Dua belas orang menunggu.

Arkan menghembuskan asap.

"Viktor yang mana?" tanyanya akhirnya, suaranya rendah dan sangat datar, seperti permukaan danau sebelum badai. "Viktor yang menyuruh orang membunuh seorang wanita dua belas tahun lalu? Atau Viktor yang sekarang begitu takut sampai harus mengirim dua belas orang hanya untuk menyambut satu tamu yang tidak diundang?"

Pria itu mengerutkan dahi. Sesuatu bergerak di matanya — bukan ketakutan, belum. Tapi ketidaknyamanan. Seperti seseorang yang baru sadar bahwa situasi ini mungkin tidak akan berjalan seperti yang direncanakan.

Matanya bergerak ke kiri sedikit. Sinyal kecil yang hanya terlatih yang bisa membaca.

Arkan melihatnya.

"Habisi dia."

Dua belas senjata terangkat hampir bersamaan.

Arkan menghisap rokoknya satu kali terakhir. Lalu menjatuhkannya ke beton basah dan menginjak pelan dengan ujung sepatu.

Yang terjadi berikutnya berlangsung dalam waktu yang terlalu singkat untuk menjadi kenangan yang jelas bagi siapa pun yang menyaksikannya.

Arkan bergerak ke kiri — bukan mundur, ke depan, masuk ke dalam, karena jarak adalah satu-satunya kelemahan senjata api. Peluru pertama meleset dan menghantam kontainer di belakangnya dengan suara keras yang bergema di seluruh dermaga. Siku kanannya mendarat di tenggorokan orang berbahaya pertama sebelum jari itu selesai menekan pelatuk untuk yang kedua kalinya.

Orang itu ambruk.

Yang kedua lebih siap. Dia tidak panik. Dia mengarahkan laras tepat ke dada Arkan dari jarak dua meter — jarak yang seharusnya tidak mungkin meleset.

Arkan tidak menghindar ke samping. Dia maju.

Tangannya mencengkeram pergelangan tangan orang itu, memelintirnya ke sudut yang tidak wajar bagi anatomi manusia normal. Bunyi yang tidak menyenangkan terdengar singkat. Senjata jatuh ke beton. Lutut Arkan naik ke ulu hati. Kepala orang itu turun. Siku Arkan turun bersamanya.

Selesai.

Sepuluh orang sisanya bergerak dari berbagai arah.

Arkan sudah ada di tengah mereka.

Dia tidak bertarung seperti dalam cerita-cerita. Tidak ada gerakan yang indah. Tidak ada aksi yang terasa heroik. Dia bergerak seperti sesuatu yang jauh lebih tua dari kepahlawanan — seperti mesin yang tahu persis di mana setiap baut berada dan bagaimana cara mencabutnya. Efisien. Ekonomis. Setiap sentuhan ke titik yang paling tidak bisa bertahan. Setiap kuncian ke sendi yang paling mudah patah.

Tidak ada satu pun gerakan yang terbuang sia-sia.

Dua belas orang.

Tidak sampai dua puluh detik.

Dua belas sosok tergeletak di dermaga basah dalam berbagai posisi, sebagian masih merintih, sebagian sudah tidak bersuara sama sekali.

Arkan berdiri di tengah mereka. Napasnya sedikit lebih dalam dari biasanya, tapi tidak tersengal. Jaket kulitnya bersih — tidak satu noda pun. Hanya ada sedikit debu di ujung sepatu kirinya.

Pemimpin kelompok itu — satu-satunya yang tidak dia sentuh — berdiri di pinggir dengan punggung menyentuh kontainer biru. Senjatanya sudah jatuh entah kapan, mungkin tanpa dia sadari sendiri. Mukanya pucat seperti kapur.

Arkan berjalan ke arahnya. Pelan. Tidak terburu-buru.

Pria itu ingin lari tapi kakinya seolah dilasi ke beton.

Arkan berhenti tepat satu meter di depannya. Tidak mengancam dengan senjata. Tidak mengangkat tangan. Hanya berdiri dan menatap.

"Dengarkan baik-baik," kata Arkan, suaranya tidak meninggi sedikit pun. Di situlah yang membuat bulu kuduk berdiri — bukan amarah, bukan teriakan, melainkan ketenangan yang terlalu dalam untuk menjadi wajar. "Pergi ke Viktor. Sampaikan bahwa mulai malam ini, setiap jengkal tanah yang dia injak di kota ini adalah milikku. Setiap bisnis yang dia bangun di atas darah orang lain akan saya ambil kembali satu per satu. Dan ketika saya akhirnya datang langsung ke depan pintunya..."

Arkan memiringkan kepala sedikit. Matanya tidak berkedip.

"...minta dia berdoa supaya pintu itu cukup tebal."

Hening di antara mereka hanya diisi oleh suara ombak kecil yang menghantam tiang dermaga dan rintihan samar dari beberapa orang yang tergeletak di belakang Arkan.

Arkan mengambil satu langkah ke samping. Memberi jalan.

Pria itu tidak perlu diberi waktu kedua. Dia berlari tunggang langgang menembus kabut, sepatunya berdecit di atas beton basah, sampai bayangannya lenyap ditelan kegelapan.

Arkan tidak menontonnya sampai hilang.

Dia membalik badan dan memandang kota Metropolis dari tepi dermaga. Angin laut mendorong rambutnya ke belakang. Di kejauhan, jutaan cahaya berkelip dingin — gedung-gedung tinggi yang tidak tahu malu, jalan-jalan yang tidak pernah benar-benar tidur, sebuah kota yang terus berputar di atas fondasi yang dibangun dari pengkhianatan dan darah orang-orang yang tidak punya kuasa untuk melawan.

Sampai sekarang.

Earpiece-nya berbunyi kembali. Dia membiarkannya beberapa detik sebelum menjawab.

"Selesai?"

"Selesai."

"Berapa lama?"

"Kurang dari dua puluh detik."

Suara di seberang diam sebentar. "Kamu baik-baik saja?"

"Ya."

"Arkan." Suara itu berubah nada, lebih rendah, lebih serius. "Informasi terakhir yang masuk tadi malam... ada yang perlu kamu tahu sebelum kamu masuk lebih jauh ke kota itu."

Arkan tidak bergerak. "Katakan."

"Orang yang mengkhianatimu sepuluh tahun lalu." Hening sebentar, seperti orang yang memilih kata dengan sangat hati-hati. "Dia masih hidup. Masih di kota itu. Dan dari yang kami temukan..."

Jeda panjang yang terasa seperti jarum di kulit.

"...dia ada jauh lebih dekat denganmu dari yang kamu kira."

Arkan menatap kota yang bercahaya itu tanpa berkedip.

Angin laut berhembus. Kabut bergerak pelan di atas air hitam.

Dan untuk pertama kalinya sejak dia menginjakkan kaki kembali di tanah ini, sesuatu yang sudah lama dikubur jauh di dalam dadanya mulai bergerak — bukan harapan, bukan kerinduan.

Sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari keduanya.

Metropolis tidak pernah benar-benar tidur

Arkan berjalan menyusuri jalan belakang kawasan pelabuhan dengan tas kecil di pundak dan tangan masuk ke saku jaket. Lampu-lampu jalan yang separuhnya mati membuat bayangan panjang di trotoar retak. Dari gang-gang sempit di kiri dan kanan, aroma minyak goreng bekas dan sampah yang terlambat diangkut menyambut hidungnya seperti sesuatu yang tidak pernah berubah.

Sepuluh tahun.

Kota ini menua tapi tidak berbenah. Gedung-gedung baru tumbuh di pusat kota sementara pinggiran tetap busuk dengan cara yang sama persis seperti saat dia pergi. Beberapa wajah baru di poster-poster iklan yang ditempel sembarangan di tembok. Beberapa nama toko yang berganti. Tapi di balik semua itu, tulang-tulangnya sama — jaringan kekuasaan yang sama, uang yang mengalir ke kantong yang sama, dan orang-orang kecil yang tetap tidak punya pilihan selain diam.

Arkan hafal peta kota ini seperti dia hafal bekas luka di tangannya sendiri.

Dia tidak ke hotel. Tidak ke tempat penginapan mana pun yang memerlukan identitas. Dia berjalan tiga puluh menit ke sebuah gang sempit di kawasan Barat Lama, menghitung nomor pintu yang tidak ada papan namanya, dan berhenti di depan sebuah pintu besi berkarat yang terlihat seperti gudang tidak terpakai.

Dia mengetuk tiga kali. Dua kali. Satu kali.

Suara kunci yang berat bergerak dari dalam. Pintu terbuka selebar kepala orang.

Sepasang mata tua menatapnya dari balik celah itu. Satu detik. Dua detik.

Lalu pintu terbuka lebar.

"Sial." Pria tua itu menggeleng pelan. Rambutnya putih semua, tubuhnya kurus seperti ranting kering, tapi matanya tajam seperti belum pernah tua sehari pun. "Kamu benar-benar kembali."

"Kamu meragukan saya, Pak Heru?"

"Aku meragukan apakah kamu masih waras." Pria tua itu mundur memberi jalan masuk, suaranya antara kesal dan lega. "Masuk sebelum ada yang melihatmu."

Ruangan di dalam lebih besar dari yang terlihat dari luar. Sebuah ruang bawah tanah yang difungsikan sebagai tempat tinggal sekaligus tempat kerja — dua komputer lama di meja kayu, lemari arsip yang penuh sampai nyaris tidak bisa ditutup, dan di sudut, sebuah kasur tipis yang terlihat sudah lama tidak dipakai tamu.

Di atas meja, ada amplop cokelat tebal yang sudah menunggu.

Arkan mengambil amplop itu. Membukanya.

Di dalam ada satu set identitas lengkap. KTP dengan nama Raka Daniswara. Kartu kerja. Foto ukuran dua kali tiga. Surat keterangan domisili palsu yang terlihat lebih asli dari yang asli. Dan selembar kertas kecil bertulisan tangan — alamat dan nama yang harus dia datangi besok pagi.

"Semua beres?" tanya Arkan.

Pak Heru duduk di kursi butut di depan komputer. "Beres. Kamu sekarang adalah Raka Daniswara, tiga puluh dua tahun, asli Surabaya, pindah ke Metropolis enam bulan lalu. Riwayat kerja sebagai pengawal pribadi, referensi dari dua perusahaan keamanan yang semuanya sudah tutup jadi tidak bisa dikonfirmasi." Dia berhenti sebentar. "Tempat yang kamu tuju itu... kamu yakin?"

Arkan melihat nama di kertas kecil itu. Toko material bangunan di kawasan Tengah Kota. Bukan bisnis glamor. Bukan tempat yang terlihat ada hubungannya dengan dunia yang sedang dia masuki.

Tapi Arkan tahu sesuatu yang tidak semua orang tahu — bahwa toko kecil yang tidak menarik perhatian sering kali adalah tempat di mana informasi paling berharga disimpan. Dan pemilik toko itu, seorang pria bernama Pak Salim, adalah orang yang sudah dua tahun terakhir secara diam-diam mengumpulkan data pergerakan Black Dragon di kawasan tersebut.

Pak Salim juga orang yang sudah tiga bulan terakhir menerima ancaman agar tutup mulut.

"Yakin," jawab Arkan singkat.

Pak Heru mengangguk pelan. Dia tidak bertanya lebih jauh. Sudah terlalu lama mengenal Arkan untuk tahu bahwa pertanyaan tambahan hanya akan mendapat jawaban diam.

Arkan melihat kasur di sudut ruangan. "Boleh saya pakai ini malam ini?"

"Sudah kusiapkan sejak minggu lalu." Pak Heru berdiri, punggungnya sedikit membungkuk karena usia. "Ada satu hal lagi."

Arkan menatapnya.

"Tadi malam ada orang yang datang ke sini. Menanyakan apakah aku pernah mengenal seseorang bernama Arkan." Pak Heru mengucapkan kalimat itu dengan tenang tapi matanya tidak tenang. "Aku bilang tidak tahu."

Ruangan itu terasa sedikit lebih sunyi dari sebelumnya.

"Seperti apa orangnya?" tanya Arkan.

"Muda. Dua puluhan. Rapi. Tapi cara dia bergerak ketika masuk ke ruangan ini..." Pak Heru menggeleng sedikit. "Bukan orang biasa. Dan satu hal yang aneh — dia seperti sudah tahu tata letak ruangan ini sebelum masuk."

Arkan menyimpan informasi itu di suatu tempat di kepalanya. Tidak bereaksi berlebihan, tapi tidak juga mengabaikannya.

"Terima kasih, Pak Heru."

Pria tua itu mengangguk lalu berjalan ke arah tangga kecil yang naik ke bagian atas bangunan. Di ujung tangga dia berhenti tanpa membalik badan. "Arkan. Kota ini sudah berubah lebih dari yang kamu tahu. Musuhmu juga sudah berubah." Dia diam sebentar. "Kamu juga harus berubah, atau kamu akan kalah sebelum mulai."

Langkahnya menghilang ke atas.

Arkan menatap kasur tipis di sudut ruangan. Lalu dia berbaring dengan jaket masih terpasang dan mata tertutup, tapi tidak benar-benar tidur — pikirannya bekerja pelan dan sistematis seperti mesin yang tidak mengenal istirahat.

Siapa orang muda yang datang tadi malam?

Siapa yang sudah tahu dia akan kembali?

Dan satu pertanyaan yang paling keras terdengar di dalam kepalanya sebelum akhirnya kelelahan sepuluh tahun itu menang dan menariknya ke dalam tidur yang tidak bermimpi:

Pengkhianat itu, orang yang namanya belum dia ketahui, orang yang kata koleganya ada jauh lebih dekat dari yang dia duga — siapa?

 

Pukul tujuh pagi, Arkan sudah di jalan.

Dia berganti penampilan dengan cara-cara kecil yang tidak memerlukan banyak alat. Rambut sedikit disisir rapi. Jaket kulit diganti dengan jaket parasut polos berwarna abu. Postur tubuhnya sedikit dilonggarkan — bahu yang biasanya tegak dibuat sedikit turun, langkah yang biasanya terlalu terkontrol dibuat sedikit lebih santai, lebih seperti orang yang tidak membawa beban apa pun.

Dia naik angkutan umum tiga kali berganti rute sebelum akhirnya turun dua blok dari alamat yang dituju. Sisanya dia jalan kaki sambil membaca situasi sekitar.

Toko material Pak Salim ada di ujung jalan sempit yang diapit oleh dua bangunan tua. Catnya pudar, papan namanya miring, dan di depannya ada tumpukan pipa PVC yang disusun tidak terlalu rapi. Dari luar terlihat seperti toko yang modalnya pas-pasan dan pelanggannya seadanya.

Arkan masuk.

Di dalam, seorang pria separuh baya sedang mengangkat kardus sendirian. Tubuhnya tidak besar tapi gerakannya kuat. Rambutnya mulai memutih di sisi kanan. Ketika mendengar pintu terbuka, dia mendongak.

Matanya berubah sedetik — seperti seseorang yang melihat sesuatu yang tidak disangka — lalu kembali normal.

"Mau cari apa, Mas?" suaranya datar dan ramah sekaligus. Suara orang yang sudah latihan berbicara seperti tidak ada apa-apa.

"Semen dua sak." Arkan menaruh tas di sisi kaki. "Dan ada posisi kosong untuk pengawal, kata orang."

Keheningan singkat. Pak Salim menurunkan kardusnya pelan. Dia menatap Arkan dari bawah ke atas sekali, lalu ke arah pintu, memastikan tidak ada orang lain di luar.

"Referensi dari mana?"

"Dari seseorang yang namanya tidak perlu disebut di tempat terbuka," jawab Arkan.

Pak Salim mengangguk sangat kecil. "Duduk dulu. Saya ambilkan minum."

 

Satu jam kemudian, Arkan resmi menjadi pengawal toko material yang tidak ada yang mau membobol karena isinya hanya semen dan bata.

Setidaknya begitulah yang terlihat dari luar.

Pak Salim memberinya kamar kecil di lantai dua yang menghadap ke jalan. Sempit, hanya cukup untuk kasur dan meja kecil, tapi dari jendela itu Arkan bisa melihat seluruh ujung jalan dan dua gang yang bersilangan di depan toko. Sudut pandang yang baik. Mungkin terlalu baik untuk sebuah kamar yang diberikan secara kebetulan.

Arkan menyimpannya sebagai catatan kecil di kepala.

3

Arkan menyimpannya sebagai catatan kecil di kepala.

Siang hari pertama berlalu dengan pelan. Arkan membantu angkat barang, berbicara secukupnya dengan dua karyawan lain yang terlihat tidak terlalu ingin bicara, dan mengamati ritme jalan di depan toko.

Setiap kendaraan yang melintas dua kali. Setiap orang yang berdiri terlalu lama. Setiap perubahan kecil yang tidak sesuai dengan pola normal.

Pukul tiga sore, dia melihatnya untuk pertama kali.

Seorang perempuan keluar dari pintu samping bangunan di sebelah toko, membawa tas belanja dan berbicara di telepon. Rambutnya sebahu, diikat setengah. Langkahnya cepat tapi tidak tergesa — orang yang terbiasa bergerak efisien, bukan orang yang sedang dikejar sesuatu. Dia berhenti di depan toko untuk memasukkan dompet ke dalam tasnya.

Sedetik, matanya naik dan bertubrukan dengan mata Arkan yang ada di jendela lantai dua.

Dia tidak melanjutkan memasukkan dompet. Tidak langsung melihat ke bawah seperti orang yang tidak sengaja bertatapan. Dia justru mempertahankan kontak mata itu selama dua detik yang terasa lebih panjang dari seharusnya, dengan ekspresi yang tidak bisa langsung Arkan baca — bukan takut, bukan tertarik, tapi sesuatu di antaranya yang lebih dekat ke waspada.

Lalu dia melanjutkan langkahnya dan menghilang di ujung jalan.

Arkan menarik sedikit dari jendela.

Pak Salim muncul di ambang pintu kamar. "Sudah makan siang?"

"Sudah." Arkan tidak membalik badan. "Perempuan tadi. Yang keluar dari pintu samping."

Pak Salim diam sebentar terlalu lama. "Kenapa?"

"Siapa dia?"

Suara Pak Salim berubah sangat tipis nadanya — tidak banyak orang yang akan menangkap perubahan itu, tapi Arkan bukan orang banyak. "Itu Luna. Anak saya."

Arkan tidak berkata apa-apa.

Pak Salim melanjutkan dengan suara yang kembali terdengar normal, terlalu normal, "Dia sering ke sini bantu-bantu kalau tidak ada kuliah. Jangan terlalu diperhatikan, dia tidak perlu tahu urusan yang lain-lain."

Dia pergi sebelum Arkan sempat menjawab.

Arkan memandangi ujung jalan tempat perempuan bernama Luna itu tadi berjalan dan menghilang. Jalan itu sekarang kosong. Hanya ada pedagang kaki lima yang sedang membereskan dagangannya dan seekor kucing yang melintas tanpa peduli.

Di dalam kepalanya, ada sesuatu yang diam-diam mulai bergerak — bukan perasaan, bukan ketertarikan, melainkan sebuah firasat kecil yang biasanya tidak pernah salah.

Bahwa perempuan itu akan menjadi bagian dari sesuatu yang jauh lebih besar dari belanjaan dan panggilan telepon.

Dan bahwa Pak Salim — pria yang berbicara dengan suara yang terlalu terjaga ketika menyebut nama anaknya sendiri — menyimpan sesuatu yang jauh lebih berat dari data pergerakan Black Dragon.

Malam itu, ketika kota mulai senyap dan lampu-lampu toko mulai mati satu per satu, Arkan duduk di tepi kasur dengan punggung ke dinding dan mata ke langit-langit.

Satu hari pertama. Identitas baru sudah berjalan. Posisi sudah didapat. Peta awal sudah mulai terbentuk di kepalanya.

Tapi ada satu hal yang terus mengganggu — ucapan Pak Heru tadi malam tentang orang muda yang datang dan seperti sudah tahu tata letak ruangan itu sebelum masuk.

Arkan menutup mata.

Hanya ada dua jenis orang yang bisa tahu tata letak ruangan yang tidak pernah dipublikasikan dan tidak pernah dikunjungi sembarangan.

Orang yang pernah ada di sana sebelumnya.

Atau orang yang mendapat informasi dari seseorang yang pernah ada di sana.

Dan dari seluruh orang yang tahu keberadaan tempat itu, hanya ada empat nama yang Arkan percaya — dan salah satu dari keempat nama itu, tanpa dia tahu yang mana, mungkin bukan lagi orang yang seharusnya dia percaya.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play