English
NovelToon NovelToon

A Thousand Vale of Blood

Prologue: The Penthouse

Lift itu naik dalam diam.

Bukan sunyi yang kosong.

Ada dengung mesin yang nyaris tak terdengar. Desir udara dingin dari ventilasi. Getaran halus di bawah sol sepatunya, teratur seperti denyut nadi yang terlalu stabil untuk disebut hidup.

Seo Yerin berdiri di tengah kabin, tegak, tanpa bersandar.

Di luar dinding kaca, Velmont menyala hingga ke cakrawala. Lautan cahaya yang menolak padam, menara-menara baja menjulang seperti monumen bagi orang-orang yang terlalu kaya untuk mengenal takut.

Ia tidak melihat ke luar.

Matanya terpaku pada angka digital di panel.

Naik.

Empat puluh dua.

Empat puluh tiga.

Empat puluh empat.

Enam tahun.

Tarik napas.

Malam ini selesai.

Pintu lift terbuka di lantai empat puluh tujuh.

Koridor di hadapannya terlalu bersih untuk terasa manusiawi. Marmer putih. Garis cahaya tersembunyi di sela panel. Tak ada sudut gelap, tak ada celah bagi bayangan untuk menetap.

Surveillance architecture.

Dirancang untuk visibilitas, bukan kenyamanan.

Empat kamera. Dua aktif. Dua dummy.

Semuanya sudah mati dua belas menit lalu.

Yerin melangkah keluar.

Penjaga pertama baru sempat menoleh ketika tubuhnya ambruk.

Tak ada suara.

Penjaga kedua lebih cepat. Tangannya bergerak ke holster, refleks terlambat sepersekian detik.

Siku Yerin menghantam rahangnya.

Bukan pukulan marah.

Bukan pukulan dramatis.

Cukup.

Tubuh pria itu melemah. Ia menangkapnya sebelum marmer sempat memantulkan bunyi jatuhnya. Menurunkannya perlahan dengan satu lutut menekuk.

Lalu jemarinya menekan nadi di leher pria itu.

Lemah.

Masih hidup.

Ia melepaskannya.

Efficient.

Suara ayahnya muncul seperti gema yang tak pernah benar-benar pergi.

Never more than necessary.

Disiplin itu tidak pernah hilang. Tidak setelah enam tahun. Tidak setelah ratusan operasi. Ia tertanam terlalu dalam, di tempat yang sama dengan kenangan tentang lelaki yang mengajarinya cara membidik sebelum mengajarinya cara berduka.

Di ujung koridor, pintu private suite berdiri sedikit terbuka.

Yerin berhenti.

Tubuhnya diam. Napasnya rata.

Namun bulu-bulu halus di tengkuknya terangkat, tepat di bawah kelopak spider lily merah yang merambat di sepanjang tulang belakangnya.

Insting lebih cepat dari pikiran.

Ini bukan kelalaian.

Orang yang tinggal di lantai ini tidak pernah lengah.

Ini undangan.

Ia mendorong pintu itu.

Mundur bukan pilihan. Tidak pernah.

Bukan sejak malam ketika tanah berbau mesiu dan darah, dan ia belajar bahwa dunia tidak akan berhenti berputar hanya karena seseorang yang seharusnya tetap tinggal, pergi lebih dulu.

Ruangan di balik pintu gelap, tapi tidak sepenuhnya.

Cahaya kota mengalir dari dinding kaca setinggi langit-langit. Biru. Putih. Emas pucat. Bergerak pelan seperti napas kota yang menolak tidur.

Cukup terang untuk melihat.

Cukup gelap untuk menyembunyikan ekspresi.

Dan di sana, membelakanginya, seseorang duduk menghadap jendela.

Bukan berdiri.

Duduk.

Punggungnya lurus. Satu tangan bertumpu tenang di lengan kursi. Tidak menggenggam senjata. Tidak dalam posisi siaga.

Seolah dua penjaga yang kini tergeletak di luar hanyalah detail kecil yang sudah ia perhitungkan jauh sebelum malam ini dimulai.

Yerin menatap tangannya.

Tak bergerak sama sekali.

Bukan stillness milik orang santai.

Stillness seperti itu menuntut latihan bertahun-tahun. Kesabaran yang diasah hingga menjadi kebiasaan.

Ia tahu persis harga dari ketenangan semacam itu.

Pengetahuan itu tidak membuatnya nyaman.

This was not in the model.

Empat belas minggu pemetaan.

Sembilan belas titik masuk.

Tiga skenario evakuasi.

Semua dibangun di atas satu asumsi sederhana:

Target tidak tahu.

Asumsi itu baru saja runtuh.

Perlahan, pria itu berpaling.

Tidak tergesa. Tidak terkejut.

Seolah hanya dia yang berhak menentukan kapan malam ini benar-benar dimulai.

Cahaya kota jatuh miring di wajahnya, menajamkan garis rahang dan kilau dingin pada mata yang tampak membaca segalanya bahkan ketika diam.

Tatapan mereka bertemu.

Hening meregang.

Satu detik.

Dua.

Lalu, dengan suara yang terlalu tenang untuk situasi ini,

"Good evening, Crimson."

Jeda.

Matanya tidak pernah lepas darinya.

"Or should I say... Seo Yerin?"

Fourteen Weeks Earlier

Mireon berbau seperti kota yang bekerja, bukan kota yang hidup.

Antiseptik. Beton basah. Dan di sub-level ini, jauh di bawah jalanan yang tak pernah ia lewati seperti orang biasa, ada aroma lain yang tak pernah berhasil ia beri nama.

Bukan darah.

Bukan bahan kimia.

Sesuatu yang lebih tua.

Kepatuhan.

.

Pintu biometrik di ujung koridor terbuka bahkan sebelum jemarinya menyentuh panel.

Tentu saja.

Mereka selalu tahu kapan ia datang.

Seo Yerin melangkah masuk.

Ruangan itu tidak besar. Tidak perlu.

Satu meja.

Dua kursi.

Lampu panel yang tak pernah berkedip.

Dinding beton tanpa jendela, karena di tempat seperti ini, tak ada alasan untuk melihat ke luar.

Han Seokjin sudah duduk di sisi seberang meja.

Tentu saja.

Kadang Yerin bertanya-tanya apakah lelaki itu pernah benar-benar meninggalkan ruangan ini, atau jika tempat ini membentuk dirinya lebih dulu lalu lupa melepaskannya.

Sebuah dossier terletak di hadapannya.

Tertutup.

Sudut-sudutnya rata sempurna.

Yerin berhenti di depan kursi yang disediakan.

Punggung lurus. Tangan diam di sisi tubuh.

Pandangan jatuh tepat di bawah garis mata Han.

Bukan menunduk.

Bukan menatap langsung.

Di antaranya.

Tubuhnya mengambil posisi itu tanpa perintah sadar. Refleks yang ditanam bertahun-tahun lalu, lalu dibiarkan tumbuh sendiri.

Han tidak langsung bicara.

Ia tidak pernah langsung bicara.

Keheningan di ruangan ini bukan ruang kosong.

Ia alat.

Seperti meja itu alat.

Seperti dossier itu alat.

Seperti dirinya alat.

Seperti Yerin alat.

Akhirnya, Han membuka dossier dan mendorongnya ke hadapan Yerin.

Halaman pertama menampilkan seorang pria berusia pertengahan lima puluhan, rahang bersih, senyum terlatih yang dibuat untuk menenangkan investor dan menipu negara.

Adrian Valemont.

Senior Trade Commissioner, Varelia.

Di bawahnya, satu keterangan singkat:

State-sanctioned broker. Military-grade black market routing. Active.

Yerin membaca.

Menyimpan.

Lalu membalik halaman.

Jemarinya menegang nyaris tak terlihat di tepi kertas.

Cassian Ezekiel Vanta.

CEO, Vireaux Global.

Ekspresinya datar. Tidak tersenyum. Tidak mencoba terlihat menyenangkan.

Mata dalam foto itu menatap lurus ke kamera dengan ketenangan yang terasa terlalu sadar, seolah kamera itu sendiri sedang diperiksa balik.

Yerin tidak membalik halaman berikutnya.

Satu detik.

Mungkin dua.

Han tidak bicara.

Ia tidak perlu.

Keheningannya adalah pengakuan yang tak memerlukan suara.

Ya. Aku tahu tepat apa arti nama itu bagimu.

Yerin membalik halaman.

Briefing berlanjut dalam nada yang sama.

Flat.

Presisi.

Tanpa ornamen.

Varelia.

Halcyon Risk Partners.

Identitas yang dibangun selama bertahun-tahun, lengkap dengan reputasi, kredensial, dan kepercayaan yang cukup untuk masuk melalui pintu depan tanpa meninggalkan bau operasi.

Adrian Valemont adalah target pertama.

Cassian Vanta adalah tujuan akhir.

Timeline terbuka.

Prioritas tertinggi.

Han menyampaikannya seperti seseorang yang sedang membacakan prakiraan cuaca.

Bukan karena ia tak peduli.

Karena kepedulian tak memiliki fungsi di ruangan ini.

Lalu ia berhenti.

Untuk pertama kalinya malam itu, jedanya terasa personal.

"You were not assigned to feel."

Kalimat itu diletakkan di udara seperti dokumen yang menunggu tanda tangan.

Keheningan Yerin menandatanganinya.

Han menutup map di hadapannya.

"Departure is at dawn."

Yerin berdiri dan mengambil dossier itu.

Di tangannya, kertas itu tidak terasa berat. Tidak pernah terasa berat - angka, nama, koordinat, semua tereduksi menjadi data yang bisa diproses, disimpan, dieksekusi.

Tapi ketika jarinya menutup cover dossier itu, ia tahu foto di halaman kedua masih ada di sana.

Saat cover-nya menutup, ia tahu foto di halaman kedua masih ada di sana.

Cassian Ezekiel Vanta.

Mata yang membaca kamera balik.

Mata yang belum pernah melihatnya.

Belum.

Ia berbalik dan melangkah keluar.

Pintu biometrik menutup tanpa suara di belakangnya.

Ruangan itu tetap sunyi.

Seolah ia tak pernah ada di sana.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play