English
NovelToon NovelToon

Midnight World

Prolog

Orang-orang bilang masa remaja adalah masa paling indah dalam hidup.

Aku dulu percaya itu.

Aku percaya karena pernah merasakannya sendiri.

Kami berlima pernah tertawa sampai perut sakit, berlari tanpa tujuan di jalanan kota saat malam hari, dan duduk berjam-jam hanya untuk membicarakan hal-hal yang sekarang bahkan tidak lagi kuingat. Saat itu, dunia terasa sederhana. Kami tidak memikirkan masa depan. Kami tidak takut kehilangan.

Kami hanya hidup.

Dan kami pikir semuanya akan bertahan selamanya.

Malam itu, langit terlihat lebih gelap dari biasanya.

Angin dingin berembus pelan di atas atap gedung tempat kami sering berkumpul. Lampu-lampu kota berkilauan di kejauhan seperti lautan bintang yang jatuh ke bumi. Dari atas sini, semuanya terlihat tenang.

Padahal kenyataannya tidak.

Aku duduk di antara mereka, mendengarkan suara tawa yang saling bersahutan.

Seseorang sedang menceritakan lelucon yang bahkan tidak lucu.

Yang lain tertawa terlalu keras.

Dan sisanya ikut tertawa hanya karena melihat yang lain tertawa.

Begitulah kami.

Lima orang yang berbeda, tetapi entah bagaimana selalu menemukan jalan untuk kembali ke tempat yang sama.

Tempat ini.

Atap tua yang menjadi saksi semua cerita kami.

Saksi semua mimpi yang pernah kami miliki.

Saksi semua janji yang kami buat.

"Ayo janji satu hal."

Suara itu memecah tawa kami.

Semua menoleh.

"Apa?"

"Kalau nanti kita udah dewasa, jangan sampai jadi orang asing."

Beberapa detik tidak ada yang bicara.

Lalu seseorang tertawa kecil.

"Lo terlalu banyak nonton film."

"Serius gue."

"Kita pasti masih temenan lah."

"Iya, emangnya kenapa tiba-tiba ngomong gitu?"

Dia hanya menatap langit.

Entah kenapa, ekspresinya terlihat berbeda malam itu.

Seperti sedang memikirkan sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

"Aku cuma takut."

"Takut apa?"

"Takut suatu hari nanti kita bakal lupa sama semua ini."

Kami mengikuti arah pandangnya.

Langit malam.

Gedung-gedung tinggi.

Lampu kota.

Dan kebersamaan yang saat itu terasa abadi.

Tidak ada yang menjawab.

Karena jauh di dalam hati, kami semua tahu ketakutan itu masuk akal.

Waktu selalu berjalan.

Orang-orang berubah.

Dan tidak semua cerita memiliki akhir yang bahagia.

Tetapi saat itu kami masih terlalu muda untuk memikirkan hal-hal seperti itu.

Jadi kami tertawa lagi.

Kami membuat janji-janji yang terdengar mustahil.

Kami berbicara tentang mimpi.

Tentang masa depan.

Tentang tempat-tempat yang ingin kami kunjungi.

Tentang hidup yang ingin kami jalani.

Seolah kami memiliki waktu tanpa batas.

Seolah tidak ada yang bisa memisahkan kami.

Seolah besok akan selalu datang dengan cara yang sama.

Padahal tidak.

Karena beberapa bulan setelah malam itu...

Semuanya berubah.

Mimpi mulai hancur satu per satu.

Rahasia yang selama ini tersembunyi mulai terungkap.

Dan seseorang yang sangat berarti bagi kami harus pergi.

Meninggalkan luka yang tidak pernah benar-benar sembuh.

Meninggalkan kenangan yang akan terus menghantui setiap malam.

Jika saat itu kami tahu apa yang akan terjadi...

Mungkin kami akan tinggal lebih lama di atap itu.

Mungkin kami akan tertawa sedikit lebih banyak.

Mungkin kami akan menghargai setiap detik yang kami miliki.

Tetapi manusia tidak pernah tahu kapan sebuah momen akan menjadi yang terakhir.

Dan itulah yang membuat perpisahan terasa begitu menyakitkan.

Sekarang, ketika aku menatap langit malam yang sama, aku masih bisa mengingat semuanya.

Suara tawa mereka.

Wajah mereka.

Mimpi-mimpi yang pernah kami bicarakan.

Dan janji yang kami buat di bawah langit penuh bintang.

Janji untuk tidak menjadi orang asing.

Janji untuk tetap bersama.

Janji yang pada akhirnya tidak bisa kami tepati.

Karena hidup tidak selalu berjalan sesuai keinginan.

Dan terkadang, orang yang paling ingin kita pertahankan justru menjadi orang yang pertama menghilang.

Ini bukan kisah tentang pahlawan.

Ini bukan kisah tentang keajaiban.

Ini adalah kisah tentang persahabatan.

Tentang kehilangan.

Tentang kenangan yang tidak pernah benar-benar pergi.

Dan tentang lima remaja yang pernah mengira bahwa mereka memiliki selamanya.

Sampai suatu malam, dunia mereka berubah untuk selamanya.

Bab 1

"The Rooftop"

Orang-orang bilang setiap kota memiliki tempat yang menyimpan cerita.

Bagi kami, tempat itu adalah sebuah rooftop tua di atas gedung kosong yang hampir tidak pernah dikunjungi siapa pun.

Dari sana, kami bisa melihat seluruh kota.

Lampu-lampu jalan yang berkilauan.

Gedung-gedung tinggi yang menjulang ke langit.

Dan malam yang terasa tak pernah berakhir.

Aku berdiri di tepi pagar sambil memandang kota di bawah sana.

Angin malam menerpa wajahku.

Dingin.

Namun entah kenapa selalu terasa nyaman.

"Lo datang duluan lagi."

Aku menoleh.

Noah berjalan mendekat dengan kedua tangan di saku hoodie hitamnya.

Seperti biasa, senyum lebar sudah terpasang di wajahnya.

"Kebiasaan."

"Atau karena lo nggak punya kerjaan?"

Aku terkekeh.

"Kalau gue nggak punya kerjaan, berarti lo juga."

"No comment."

Noah menjatuhkan dirinya ke lantai beton rooftop.

Tidak lama kemudian, suara langkah kaki lain terdengar dari tangga.

Lucas muncul sambil membawa buku sketsanya.

Di belakangnya ada Adrian yang sibuk melihat layar ponsel.

Dan terakhir Kai yang membawa kantong berisi makanan ringan.

"Lapar."

Kalimat pertama Kai selalu tentang makanan.

"Bisa nggak sih sekali aja lo mikirin hal lain?" tanya Adrian.

"Nggak."

"Jujur banget."

Kai hanya mengangkat bahu.

Kami semua tertawa.

Begitulah kami.

Lima orang yang berbeda.

Tetapi entah bagaimana selalu berakhir di tempat yang sama.

Malam demi malam.

Minggu demi minggu.

Bulan demi bulan.

Rooftop ini telah menjadi rumah kedua bagi kami.

Tempat untuk melarikan diri dari segala sesuatu yang tidak ingin kami hadapi.

Sekolah.

Keluarga.

Masalah.

Atau bahkan diri kami sendiri.

Kai membagikan makanan ringan yang dibawanya.

Noah langsung mengambil paling banyak.

"Rakus."

"Gue lagi masa pertumbuhan."

"Lo udah tujuh belas tahun."

"Masih bisa tumbuh."

"Bukan ke atas."

Tawa kembali memenuhi rooftop.

Untuk sesaat, semuanya terasa sempurna.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada kesedihan.

Tidak ada masa depan yang menakutkan.

Hanya kami berlima.

Dan malam.

"Apa yang bakal kalian lakuin setelah lulus?"

Pertanyaan itu datang dari Lucas.

Kami semua menoleh kepadanya.

Lucas menutup buku sketsanya.

"Random banget."

"Noah, jawab dulu."

Noah berpikir beberapa detik.

"Gue pengen pergi jauh."

"Ke mana?"

"Nggak tahu."

"Jawaban lo nggak membantu."

"Tapi serius."

Senyumnya perlahan memudar.

"Kadang gue cuma pengen pergi dari semuanya."

Tidak ada yang menertawakannya kali ini.

Karena entah kenapa, kami mengerti.

Lebih dari yang ingin kami akui.

Kai menatap langit.

"Aku pengen punya rumah yang selalu ramai."

Lucas tersenyum kecil.

"Aku pengen jadi ilustrator."

Adrian menghela napas.

"Aku cuma pengen hidup tanpa tekanan."

Semua mata kemudian tertuju padaku.

"Ethan?"

Aku memandang lampu kota yang berkelap-kelip.

Lalu tersenyum tipis.

"Aku cuma pengen malam kayak gini nggak pernah berakhir."

Sunyi.

Beberapa detik tidak ada yang berbicara.

Hanya suara angin yang terdengar.

Kemudian Noah tertawa.

"Jawaban paling cheesy malam ini."

"Terserah."

"Tapi gue setuju."

"Same."

"Ya."

"Me too."

Kami berlima menatap kota bersama.

Tidak ada yang menyadari waktu berlalu begitu cepat.

Tidak ada yang menyadari bahwa malam itu akan menjadi salah satu kenangan paling berharga dalam hidup kami.

Karena saat itu kami masih percaya.

Bahwa persahabatan akan bertahan selamanya.

Bahwa kami akan selalu kembali ke rooftop ini.

Bahwa tidak ada apa pun yang bisa memisahkan kami.

Kami masih terlalu muda untuk mengerti bahwa hidup tidak bekerja seperti itu.

Dan suatu hari nanti...

Kami akan merindukan malam ini lebih dari apa pun.

Aku tidak tahu kapan semuanya mulai berubah.

Tetapi jika aku bisa kembali ke masa lalu, aku akan tinggal sedikit lebih lama di rooftop itu.

Sedikit lebih lama bersama mereka.

Sedikit lebih lama di dunia yang kami sebut...

Midnight World.

Bab 2

"The Things we Don't Say"

Pagi hari di Lunaris City selalu terasa berbeda.

Jalanan dipenuhi kendaraan.

Suara klakson terdengar dari segala arah.

Dan orang-orang berjalan terburu-buru seolah takut terlambat mengejar hidup mereka sendiri.

Aku berdiri di depan gerbang sekolah sambil memperhatikan murid-murid yang masuk satu per satu.

Hari itu terasa biasa.

Terlalu biasa.

Dan mungkin itulah alasan mengapa aku tidak menyadari bahwa semuanya perlahan mulai berubah.

"ETHAN!"

Suara keras membuatku menoleh.

Noah berlari ke arahku sambil membawa tas yang terlihat lebih berat dari biasanya.

"Kenapa lari-lari?"

"Karena gue bangun telat."

"Lagi?"

"Lagi."

Aku menggeleng pelan.

"Noah, suatu hari lo bakal telat buat kelulusan."

"Kalau itu terjadi, tolong videoin."

Aku tertawa.

Beberapa detik kemudian Lucas datang dengan buku sketsa kesayangannya.

Di belakangnya ada Adrian yang sedang membaca sesuatu di ponselnya.

Kai muncul terakhir sambil membawa roti.

"Tebak."

"Apa?"

"Aku belum sarapan."

"Tentu saja."

Kai tersenyum bangga.

"Makanya aku beli dua."

"Kapan lo nggak mikirin makanan?"

"Nggak pernah."

Kami berjalan menuju kelas bersama.

Seperti biasanya.

Seperti setiap hari.

Dan seperti yang selalu kami pikir akan terus terjadi.

Jam pelajaran pertama berlangsung membosankan.

Guru matematika menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak ingin kudengar.

Aku menatap keluar jendela.

Langit hari itu berwarna abu-abu.

Seperti akan hujan.

Aku tidak tahu kenapa, tetapi suasana hari itu terasa aneh.

Seolah ada sesuatu yang tidak beres.

Saat istirahat tiba, kami berkumpul di kantin.

Noah langsung mengambil kursi paling nyaman.

"Aku resmi menyatakan tempat ini milikku."

"Itu kursi kantin."

"Sekarang milikku."

Lucas menghela napas.

Kai mulai membuka bekal.

Adrian masih sibuk dengan ponselnya.

Aku memperhatikan mereka satu per satu.

Lalu menyadari sesuatu.

Kami tertawa bersama.

Bercanda bersama.

Tetapi masing-masing dari kami terlihat sedang memikirkan hal lain.

Hal yang tidak pernah kami ceritakan.

Hal yang kami simpan sendiri.

---

Sepulang sekolah, hujan turun cukup deras.

Sebagian murid langsung pulang.

Sebagian memilih menunggu.

Aku berdiri di bawah atap koridor bersama Noah.

Ia memperhatikan hujan tanpa berkata apa-apa.

Jarang sekali Noah diam.

Karena itu aku langsung menyadarinya.

"Ada apa?"

"Hm?"

"Lo kelihatan nggak seperti biasanya."

Noah tersenyum.

Tetapi kali ini senyumnya terasa berbeda.

"Nggak ada."

"Kita temenan udah lama."

"Dan?"

"Gue tahu kalau lo bohong."

Noah tertawa kecil.

Namun beberapa detik kemudian ia kembali melihat hujan.

"Kadang gue iri sama orang lain."

Aku mengernyit.

"Iri kenapa?"

"Mereka punya rumah yang bikin mereka pengen pulang."

Aku terdiam.

Noah tidak melanjutkan.

Dan aku tidak bertanya lagi.

Karena ada beberapa hal yang lebih baik dibiarkan sampai seseorang siap mengatakannya sendiri.

Malam harinya kami kembali ke rooftop.

Tempat yang selalu menjadi pelarian kami.

Angin malam bertiup pelan.

Lampu kota bersinar seperti lautan bintang.

Kai duduk sambil memakan camilan.

Lucas menggambar.

Adrian menatap langit.

Noah bersandar pada pagar.

Dan aku duduk di tengah mereka.

Untuk beberapa saat tidak ada yang berbicara.

Sampai Kai tiba-tiba bertanya.

"Menurut kalian..."

"Hm?"

"Apa kita bakal tetap kayak gini lima tahun lagi?"

Sunyi.

Pertanyaan itu menggantung di udara.

Tidak ada yang langsung menjawab.

Karena untuk pertama kalinya...

Kami menyadari bahwa masa depan mungkin tidak sesederhana yang kami bayangkan.

Noah tersenyum kecil.

"Aku harap begitu."

Lucas mengangguk.

"Aku juga."

"Same," kata Adrian.

Kai tersenyum lega.

Aku menatap mereka.

Satu per satu.

Lalu melihat kota di depan kami.

Saat itu aku benar-benar percaya.

Bahwa kami akan tetap bersama.

Bahwa tidak ada yang bisa memisahkan kami.

Bahwa Midnight World akan selalu menjadi milik kami.

Aku tidak tahu bahwa suatu hari nanti...

Kenangan malam itu akan menjadi salah satu hal yang paling kurindukan.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play