Hujan gerimis membasahi halaman Westbridge Academy ketika bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Para siswa berhamburan keluar dari kelas, sebagian berlari menuju gerbang, sebagian lagi tetap tinggal untuk kegiatan klub. Koridor yang biasanya ramai perlahan mulai sepi, hanya menyisakan suara langkah kaki dan percikan air hujan dari luar jendela.
Alya Mahendra menutup buku catatannya dan memasukkannya ke dalam tas.
"Besok jangan lupa latihan, ya!" seru Luna dari bangku sebelah.
Alya tersenyum.
"Iya, tenang saja."
Setelah berpamitan, ia berjalan keluar kelas. Saat melewati lorong lantai dua yang hampir kosong, sesuatu menarik perhatiannya.
Sebuah amplop putih tergeletak tepat di depan loker miliknya.
Alya berhenti.
Ia mengerutkan kening dan memungut amplop itu.
Namanya tertulis rapi di bagian depan.
Untuk Alya Mahendra.
Tidak ada nama pengirim.
"Aneh..."
Perlahan ia membuka amplop tersebut.
Di dalamnya terdapat secarik kertas berwarna krem dengan tulisan tangan yang sangat rapi.
Halo, Alya.
Aku sudah lama memperhatikanmu.
Ada sesuatu yang ingin kusampaikan.
Temui aku di taman belakang sekolah hari Jumat pukul 18.00.
Datang sendiri.
Dari Secret Admirer-mu.
Alya membaca surat itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
Sebuah tawa kecil keluar dari bibirnya.
"Secret admirer?"
Ia menggeleng sambil tersenyum.
Siapa pun yang mengirim surat itu pasti sedang mencoba membuat kejutan romantis.
Meski begitu, ada sesuatu yang terasa aneh.
Tulisan tangannya terlalu rapi.
Terlalu sempurna.
Seolah sudah dipersiapkan jauh-jauh hari.
Namun Alya segera menepis pikirannya.
Mungkin hanya seseorang yang gugup menyatakan perasaan.
Ia melipat kembali surat itu dan memasukkannya ke dalam tas.
Tanpa menyadari bahwa surat tersebut akan mengubah hidupnya selamanya.
---
Di bagian lain sekolah, Darren Wijaya sedang membereskan peralatan basket setelah latihan.
Sebagai kapten tim basket, ia selalu menjadi orang terakhir yang meninggalkan lapangan.
Ketika hendak mengambil botol minumnya, ia melihat sesuatu terselip di bawah tas olahraga.
Sebuah amplop putih.
"Siapa lagi yang kasih surat sekarang?"
gumamnya.
Ia membuka amplop itu.
Isinya hampir sama.
Hanya lokasi dan tanggal pertemuannya yang berbeda.
Darren tertawa kecil.
"Secret admirer? Serius?"
Meski terdengar konyol, ia tidak membuang surat tersebut.
Sebaliknya, ia memasukkannya ke saku jaket.
Entah kenapa, ia penasaran.
Sore yang sama.
Di ruang seni.
Clara Prameswari sedang menyelesaikan lukisan untuk pameran sekolah.
Tangannya berhenti ketika melihat amplop putih di atas meja.
Ia yakin benda itu tidak ada beberapa menit sebelumnya.
Perasaan tidak nyaman langsung muncul.
Dengan hati-hati, Clara membuka surat tersebut.
Semakin ia membaca, semakin pucat wajahnya.
Secret admirer.
Pertemuan rahasia.
Datang sendirian.
Entah mengapa kata-kata itu membuatnya merinding.
Clara melirik jendela yang gelap karena hujan.
Perasaannya mengatakan sesuatu tidak beres.
Malam itu.
Lima siswa berbeda menerima surat yang sama.
Alya.
Darren.
Clara.
Kevin.
Dan Nadia.
Masing-masing menerima amplop putih tanpa nama pengirim.
Masing-masing diminta datang ke lokasi tertentu.
Dan tidak satu pun dari mereka mengetahui bahwa mereka bukan satu-satunya penerima surat tersebut.
Sementara itu, di suatu tempat di dalam area sekolah yang telah sepi, seseorang berdiri di depan papan penuh foto.
Foto lima siswa.
Foto-foto itu ditempel dengan jarum merah.
Di bawahnya terdapat daftar nama yang ditulis dengan tinta hitam.
Lima nama.
Lima target.
Sebuah tangan perlahan mengangkat spidol merah.
Kemudian memberi tanda centang pada nama pertama.
ALYA MAHENDRA
Orang itu tersenyum.
Senyum yang sama sekali tidak menunjukkan kasih sayang seorang pengagum rahasia.
Melainkan senyum seseorang yang telah merencanakan sesuatu.
Sesuatu yang mengerikan.
Di luar jendela, petir menyambar langit malam.
Dan permainan itu pun dimulai.
Bersambung...
Hari Jumat datang lebih cepat dari yang dibayangkan Alya.
Sejak menerima surat misterius itu tiga hari lalu, pikirannya terus dipenuhi rasa penasaran.
Siapa yang mengirimnya?
Mengapa harus menggunakan surat?
Dan mengapa harus bertemu secara diam-diam?
Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalanya.
Namun hingga sore itu tiba, ia tetap tidak menemukan jawabannya.
Jam di dinding kamar menunjukkan pukul 17.20.
Alya menatap surat yang terletak di atas meja belajarnya.
Amplop putih.
Kertas krem.
Tulisan tangan yang sangat rapi.
Surat itu terlihat biasa saja.
Tetapi semakin lama ia menatapnya, semakin aneh perasaannya.
"Aku cuma lihat sebentar," gumamnya pada diri sendiri.
Ia meraih jaket dan meninggalkan rumah.
---
Langit mulai gelap ketika Alya memasuki area sekolah melalui gerbang samping.
Westbridge Academy tampak berbeda saat sore hari.
Gedung-gedung yang biasanya dipenuhi siswa kini terlihat sunyi.
Lorong-lorong kosong.
Lapangan tanpa suara.
Dan angin dingin yang bertiup pelan.
Alya melangkah menuju taman belakang sekolah sesuai petunjuk dalam surat.
Semakin dekat ia ke lokasi tersebut, semakin sepi suasananya.
Lampu taman hanya beberapa yang menyala.
Sebagian besar sudah redup karena usia.
Pukul 17.58.
Alya tiba di taman.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia melihat sekeliling.
Bangku taman kosong.
Jalan setapak kosong.
Tidak ada tanda-tanda seseorang yang ingin menyatakan perasaan.
"Hello?" panggilnya pelan.
Tidak ada jawaban.
Hanya suara dedaunan yang bergesekan tertiup angin.
Alya mulai merasa sedikit kesal.
Jangan-jangan ini hanya lelucon.
Ia memeriksa ponselnya.
18.00 tepat.
Masih tidak ada siapa pun.
"Aneh..."
Tiba-tiba terdengar suara langkah kaki.
Tok.
Tok.
Tok.
Alya langsung menoleh.
Namun lorong menuju taman tetap kosong.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
"Halo?" panggilnya lagi.
Kali ini lebih keras.
Tetap tidak ada jawaban.
Langkah kaki itu juga menghilang.
Seolah tidak pernah ada.
---
Di saat yang sama, di tempat lain.
Darren berjalan menuju gedung olahraga yang sudah tutup.
Surat miliknya memintanya datang ke sana tepat pukul enam sore.
Ia mengira akan bertemu seorang siswi yang terlalu malu untuk mengaku secara langsung.
Namun ketika tiba di lokasi, gedung itu kosong.
Tidak ada siapa pun.
Hanya deretan bangku penonton yang gelap.
"Aku dibohongi, ya?"
Darren menghela napas.
Saat hendak pergi, ia melihat sesuatu tergeletak di tengah lapangan basket.
Sebuah amplop putih.
Lagi.
---
Sementara itu Clara tiba di ruang seni lama yang terletak di belakang gedung utama.
Ruangan itu sudah lama tidak digunakan.
Lampunya berkedip-kedip.
Udara di dalam terasa lembap.
Clara menggenggam suratnya erat-erat.
Perasaan tidak nyaman sejak awal kini semakin kuat.
Ketika memasuki ruangan, ia menemukan sebuah amplop putih di atas meja kayu tua.
Tepat di tengah ruangan.
Seolah sengaja ditinggalkan untuknya.
---
Malam itu.
Kelima penerima surat menemukan amplop kedua.
Di dalamnya terdapat pesan yang sama.
> Terima kasih telah datang.
Aku senang kamu mengikuti permintaanku.
Pertemuan kita belum saatnya.
Tunggu surat berikutnya.
Dari Secret Admirer-mu.
Tidak ada penjelasan.
Tidak ada identitas.
Tidak ada alasan.
Hanya pesan singkat yang membuat semuanya semakin bingung.
---
Namun tidak jauh dari taman belakang sekolah, seseorang sedang mengawasi.
Dari balik bayangan pepohonan.
Dari tempat yang tidak terlihat oleh siapa pun.
Orang itu memperhatikan Alya yang akhirnya meninggalkan taman.
Memperhatikan setiap langkahnya.
Memperhatikan setiap gerakannya.
Perlahan sebuah buku catatan kecil dibuka.
Di dalamnya terdapat lima nama.
Alya.
Darren.
Clara.
Kevin.
Nadia.
Di samping nama Alya terdapat tulisan baru.
"Mudah dipancing."
Orang itu menutup buku catatan tersebut.
Kemudian berjalan pergi ke dalam kegelapan.
Senyuman tipis muncul di wajahnya.
Rencana berjalan dengan sempurna.
Dan para target bahkan belum menyadari bahwa mereka sedang menjadi bagian dari sebuah permainan mematikan.
Bersambung...
Dua minggu berlalu sejak pertemuan rahasia itu.
Kehidupan di Westbridge Academy kembali berjalan seperti biasa.
Kelas berlangsung normal.
Klub-klub sekolah tetap aktif.
Para siswa sibuk mempersiapkan ujian tengah semester.
Namun bagi lima penerima surat misterius, rasa penasaran belum hilang sepenuhnya.
Terutama Alya.
Ia masih menyimpan kedua surat itu di dalam laci meja belajarnya.
Beberapa kali ia mencoba mencari tahu siapa pengirimnya.
Tetapi hasilnya nihil.
Tidak ada petunjuk.
Tidak ada nama.
Tidak ada saksi.
Seolah surat-surat itu muncul begitu saja.
---
Bel pulang sekolah berbunyi.
Alya dan Luna berjalan bersama menuju gerbang.
"Aku serius, Ly. Itu pasti cuma prank," kata Luna.
"Aku juga mulai berpikir begitu."
"Kalau ada secret admirer, harusnya dia muncul, kan?"
Alya tertawa kecil.
"Benar juga."
Mereka berpisah di persimpangan jalan.
Luna pulang ke arah barat.
Sedangkan Alya menuju halte bus yang berada tidak jauh dari sekolah.
Saat sedang berjalan, ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Alya berhenti.
Perlahan ia membuka pesan tersebut.
> Aku menunggumu.
Datang ke ruang arsip lama pukul 18.00.
Jangan beri tahu siapa pun.
Wajah Alya langsung berubah.
Jantungnya berdegup lebih cepat.
Tidak ada tanda tangan.
Namun ia tahu siapa pengirimnya.
Secret admirer.
---
Pukul 17.55.
Matahari hampir tenggelam.
Alya berdiri di depan gedung tua yang terletak di belakang perpustakaan sekolah.
Gedung itu sudah lama tidak digunakan.
Sebagian besar siswa bahkan tidak tahu keberadaannya.
Ruang arsip lama berada di lantai bawah tanah.
Tempat yang jarang dikunjungi siapa pun.
Tangannya terasa dingin.
Entah kenapa, kali ini suasananya berbeda.
Tidak seperti pertemuan sebelumnya.
Ada sesuatu yang membuatnya tidak nyaman.
Namun rasa penasaran lebih besar daripada rasa takutnya.
Ia membuka pintu perlahan.
Kreeekk...
Suara engsel tua bergema.
Lorong gelap menyambutnya.
Lampu di langit-langit berkedip lemah.
Alya melangkah masuk.
"Halo?"
Tidak ada jawaban.
"Halo? Ada orang di sini?"
Tetap sunyi.
Hanya suara langkah kakinya sendiri.
---
Di ujung lorong terdapat sebuah pintu.
Pintu menuju ruang arsip.
Pintu itu sedikit terbuka.
Alya menelan ludah.
Kemudian mendorongnya perlahan.
Ruangan tersebut kosong.
Tidak ada siapa pun.
Seperti sebelumnya.
"Kenapa selalu begini..."
gumamnya kesal.
Tepat saat ia berbalik untuk pergi—
BRAK!
Pintu tertutup dengan keras.
Alya tersentak.
Jantungnya hampir berhenti.
"Halo?!"
Ia berlari menuju pintu.
Menarik gagangnya.
Tidak bisa dibuka.
Terkunci.
"Ada orang di luar?!"
Tidak ada jawaban.
Napasnya mulai memburu.
Ketakutan perlahan menguasai dirinya.
"Apa ini lelucon?!"
Tiba-tiba lampu ruangan padam.
Gelap.
Semuanya gelap.
Alya memekik.
Tangannya meraba-raba mencari ponsel.
Lalu—
Terdengar suara langkah kaki.
Dekat.
Sangat dekat.
Tok.
Tok.
Tok.
Bukan dari luar ruangan.
Melainkan dari dalam.
Alya membeku.
Suara itu semakin mendekat.
Dan untuk pertama kalinya sejak menerima surat pertama...
Ia benar-benar merasa takut.
---
Keesokan paginya.
Westbridge Academy diguncang kabar mengejutkan.
Sejumlah siswa berkerumun di depan gedung utama.
Suasana panik menyelimuti sekolah.
Mobil polisi memenuhi area parkir.
Garis kuning dipasang di sekitar gedung arsip lama.
Para guru terlihat tegang.
Siswa-siswa berbisik satu sama lain.
Tidak ada yang benar-benar tahu apa yang terjadi.
Sampai akhirnya kabar itu menyebar.
Seseorang ditemukan meninggal.
Di ruang arsip lama.
Dan orang itu adalah—
Alya Mahendra.
---
Luna menjatuhkan ponselnya.
"Tidak..."
Matanya membesar.
"Tidak mungkin..."
Air mata langsung mengalir.
Beberapa siswa mulai menangis.
Yang lain hanya berdiri membeku.
Tidak percaya.
Kemarin Alya masih tertawa.
Kemarin Alya masih berada di kelas.
Kemarin semuanya baik-baik saja.
Lalu bagaimana mungkin hari ini ia sudah tiada?
---
Di antara kerumunan siswa, seorang pria muda berseragam polisi keluar dari gedung.
Wajahnya serius.
Di tangannya terdapat sebuah amplop putih.
Amplop yang ditemukan di dekat tubuh korban.
Tidak ada nama pengirim.
Tidak ada sidik jari.
Hanya satu kalimat yang ditulis dengan tinta hitam.
> Pertandingan telah dimulai.
---
Di tempat lain.
Seseorang sedang duduk di sebuah ruangan gelap.
Di depannya terdapat papan berisi lima foto.
Foto Alya perlahan dicabut.
Kemudian dibuang ke tempat sampah.
Tersisa empat foto lainnya.
Darren.
Clara.
Kevin.
Nadia.
Senyuman tipis muncul di wajah orang itu.
Lalu sebuah tanda silang merah digambar di atas foto Alya.
Korban pertama telah jatuh.
Dan permainan mematikan itu baru saja dimulai.
Bersambung...
Download NovelToon APP on App Store and Google Play