Dunia mulai retak tanpa alasan. Orang-orang menghilang, dan kenangan tentang mereka ikut terhapus.
Tapi satu orang masih ingat.
Seorang pemuda biasa… yang seharusnya tidak ada dalam dunia ini.
Saat realitas runtuh, dia mendapatkan kekuatan aneh: Authority—kemampuan untuk mengendalikan hukum eksistensi.
Namun, setiap kekuatan punya harga.
Dan semakin dia mendekati kebenaran… semakin dia menyadari bahwa dirinya mungkin adalah sesuatu yang bahkan melampaui akhir itu sendiri.
di dunia yang penuh kekuatan aneh kekuatan, yang abstrak dan melampaui batas pikiran manusia dikarenakan kekuatan aneh itu dunia terpecah belah
dikarenakan perang, bencana, kerakusan, makhluk akan kekuasaan dan kekuatan yang tidak ada hentinya dunia dimana yang kuat akan bertahan dan yang lemah akan dimakan walau dunia ini hampir rusak dikarenakan kerakusan makhluk akan kekuatan, dan kekuasaan mereka terus berperang tanpa mempedulikan keselamatan orang lain tanpa memikirkan konsekuensi yang di dapat,masih ada orang yang memiliki harapan dan kebaikan yang bisa mengubah tatanan dunia ini menjadi lebih baik walaupun banyak tantangan dan rintangan yang di hadapi, konsekuensi, kehilangan orang tersayang hingga ada dimana suatu saat orang tersebut bisa berhasil mengubah tatanan dunia ini di dunia yang masih memiliki banyak misteri ini dengan kekuatan yang disebut
AUTHORITY
di abad ke-77, benua-benua di dunia ini terpecah menjadi beberapa fraksi dan negara yang saling berperang, masing-masing mengandalkan 99 Authority, pecahan dari kekuatan ketuhanan. Setiap negara dan fraksi memiliki Authority unggulan yang menjadi kekuatan dominan mereka. Misalnya, Negara Katastrofis, terkenal dengan kekuatan destruktif yang mampu menghancurkan seluruh kota, atau Parxiaxos, yang menguasai konsep dan persepsi dengan kemampuan yang hampir tak tertandingi. Namun, itu hanyalah sebagian kecil dari kekuatan yang mengatur dunia ini.
Di sebuah kota di benua Parxiaxos, bernama Elsyra, tinggal seorang anak laki-laki bernama Kayden Ardent, berusia sepuluh tahun. Selama beberapa minggu terakhir, ia sering mengalami mimpi aneh: pecahan-pecahan puzzle berterbangan, kepalanya terasa pusing seolah memori dari ketiadaan perlahan kembali.
Suatu sore, ia duduk di bangku halte bus, termenung. Setelah beberapa lama merenung, matanya tertumbuk pada seorang anak perempuan seusianya. Hatinya berdebar, dan ia bergumam pelan:
“Akhirnya… apa semua telah dimulai…”
Senyumnya aneh, sulit dipahami.
Penasaran, Kayden bertanya:
“Maksudmu… akhirnya?”
Anak perempuan itu hanya menatapnya, wajahnya penuh kebingungan dan rasa ingin tahu, namun ia tidak mengucapkan sepatah kata pun. Dengan tiba-tiba, ia meninggalkan tempat itu dan menjatuhkan sebuah kertas di depan Kayden.
Rasa bingung mencekam Kayden. Ia menunduk, memungut kertas itu, dan membuka isinya. Terlihat simbol-simbol dan kode-kode abstrak yang asing, seolah bahasa dari dimensi lain.
Tiba-tiba, kepalanya terasa
meledak—mimpi, memori, dan puzzle itu bersatu dalam pikirannya. Puzzle itu belum memiliki nama, namun cahaya keemasan yang luar biasa terpancar dari kepalanya, menyelimuti seluruh tubuh Kayden.
Ketika ia tersadar, ia sudah berada di rumah, dalam keadaan sehat. Namun, sebuah kejutan menunggu: waktu menunjuk satu jam sebelum pertemuannya dengan anak perempuan itu. Puzzle di dalam pikirannya mulai memancarkan kata-kata yang samar, namun jelas:
“REWRITE.”
Kayden menatap kertas di tangannya, jantungnya berdegup kencang, dan rasa penasaran yang sebelumnya hanya samar, kini berubah menjadi ketegangan yang mendalam. Sesuatu—sesuatu yang sangat besar—baru saja dimulai.
Terengah.
Napas Kayden memburu.
Keringat dingin membasahi dahinya meski udara pagi terasa sejuk.
Perlahan, ia membuka mata.
Langit-langit kamarnya menyambut pandangannya.
Putih.
Biasa.
Normal.
Terlalu normal.
Kayden terdiam selama beberapa detik. Dadanya naik turun dengan cepat, sementara pikirannya berusaha memahami apa yang baru saja terjadi.
Ia duduk perlahan di tepi tempat tidur.
Tangannya gemetar saat menatap telapak tangannya sendiri.
Masih sama.
Masih nyata.
Bukan mimpi.
Namun sesuatu terasa sangat salah.
Perasaan asing itu membuat dadanya sesak.
Perlahan, ia menoleh ke arah jam dinding.
Tik...
Tok...
Tik...
Jarum detiknya bergerak dengan ritme yang tenang.
Namun saat melihat waktu yang tertera di sana, tubuh Kayden membeku.
Matanya melebar.
"Itu..."
Waktu itu.
Jam yang sama.
Menit yang sama.
Persis seperti sebelum ia pergi ke halte.
Sebelum semuanya terjadi.
Sebelum puzzle misterius itu muncul.
Sebelum dunia terasa hancur di hadapannya.
"Ini tidak mungkin..."
Tanpa berpikir panjang, Kayden berdiri.
Ia hampir tersandung saat berlari keluar kamar.
Pintu rumah dibukanya dengan kasar.
Langkahnya cepat.
Napasnya tidak beraturan.
Jantungnya berdegup begitu keras hingga terasa menyakitkan.
Ia harus memastikan.
Harus.
Beberapa menit kemudian, Kayden tiba di halte.
Ia berhenti.
Napasnya memburu.
Halte itu kosong.
Belum ada siapa-siapa.
Tidak ada penumpang.
Tidak ada suara kendaraan.
Tidak ada tanda-tanda kejadian yang ia alami sebelumnya.
"Aku..."
Kayden mengepalkan tangannya.
"Aku kembali..."
Lalu ia merasakan sesuatu.
Sesuatu yang masih ada di dalam dirinya.
Puzzle itu.
Meski tidak terlihat, ia bisa merasakannya.
Seolah tertanam di dalam pikirannya.
Diam.
Namun hidup.
Menunggu.
Tiba-tiba—
Langkah kaki terdengar.
Pelan.
Ringan.
Namun cukup untuk membuat seluruh tubuh Kayden menegang.
Tak sadar, ia menahan napas.
Perlahan ia menoleh.
Dan di sanalah ia.
Seorang anak perempuan berdiri beberapa meter darinya.
Rambut panjangnya berkilau lembut diterpa cahaya pagi.
Matanya tampak tenang.
Namun entah mengapa, tatapan itu terasa begitu dalam.
Seolah menyimpan sesuatu yang tidak seharusnya dimiliki seseorang seusianya.
Kali ini Kayden tidak menunggu.
Ia langsung berjalan menghampirinya.
"Kamu siapa?"
Anak perempuan itu menatapnya.
Diam.
Namun ada sesuatu yang berbeda.
Tatapannya menyimpan keterkejutan.
"Kamu... masih mengingat?"
Tubuh Kayden membeku.
"Apa maksudmu?"
Perempuan itu tidak langsung menjawab.
Tatapannya semakin dalam.
Seolah sedang memastikan sesuatu yang mustahil.
"Seharusnya... kamu tidak mengingat apa pun."
Saat kata-kata itu terucap, dunia terasa hening.
Angin berhenti berembus.
Suara kendaraan menghilang.
Bahkan waktu terasa melambat.
Kayden merasakan sesuatu bergetar di dalam kepalanya.
Puzzle itu.
Bersinar.
"Kenapa aku harus lupa?"
Untuk pertama kalinya, ekspresi gadis itu berubah.
Sangat kecil.
Namun cukup jelas untuk terlihat.
Kesedihan.
"Karena..."
Ia menunduk sesaat.
"Ini bukan pertama kalinya."
Deg.
Jantung Kayden berdegup keras.
"Apa maksudmu?"
Gadis itu mengangkat kepalanya.
Matanya dipenuhi emosi yang tidak bisa dijelaskan.
"Kamu sudah mati."
Keheningan menyelimuti dunia.
"Berkali-kali."
Pikiran Kayden kosong.
Mustahil.
Tidak masuk akal.
Namun anehnya...
Sebagian dari dirinya mempercayai kata-kata itu.
Tiba-tiba rasa sakit menghantam kepalanya.
Lebih kuat dari sebelumnya.
Lebih dalam.
"AARGHHH!!"
Ia jatuh berlutut.
Kedua tangannya mencengkeram kepala.
Fragmen-fragmen memori bermunculan.
Cahaya.
Suara.
Kematian.
Tangisan.
Perpisahan.
Semuanya bercampur menjadi satu.
Dalam kegelapan yang tak berujung, Kayden melihat sosok dirinya sendiri.
Berdiri di ruang yang tidak memiliki bentuk.
Tidak memiliki waktu.
Tidak memiliki batas.
Dan di hadapannya—
Gadis yang sama.
Namun kali ini ia menangis.
Air matanya terus mengalir.
"Tolong..."
Suaranya bergetar.
"Tolong... kali ini saja..."
Ia menggenggam tangan Kayden dengan erat.
"Jangan mati lagi."
Lalu sebuah suara bergema.
Tidak berasal dari mana pun.
Namun terdengar di seluruh keberadaan.
"REWRITE."
Cahaya keemasan meledak.
Segalanya hancur.
Segalanya terlahir kembali.
Kayden membuka mata.
Ia kembali berdiri.
Di halte.
Di depan gadis itu.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Namun kali ini berbeda.
Ia tahu.
Sesuatu telah berubah.
Kayden menatap gadis itu.
Dengan mata yang tidak lagi sama.
"Siapa kamu sebenarnya?"
Gadis itu terdiam.
Kemudian, untuk pertama kalinya, ia tersenyum tipis.
"Annie."
Angin kembali berembus.
Suara dunia kembali terdengar.
Waktu kembali bergerak.
Namun bagi Kayden, segalanya telah berubah selamanya.
Dan jauh di dalam pikirannya—
Sebuah kata muncul.
Lebih jelas dari sebelumnya.
Lebih nyata daripada apa pun.
Memory Rewrite.
Angin berhembus pelan.
Namun terasa berbeda.
Terlalu hening.
Kayden berdiri di halte, menatap Annie yang berada di hadapannya.
Nama itu masih terngiang di dalam pikirannya.
Annie.
Seolah nama itu memiliki makna yang jauh lebih besar daripada sekadar sebuah nama.
"Annie..."
Ia mengulanginya perlahan.
"Kamu bilang... aku sudah mati berkali-kali."
Annie tidak langsung menjawab.
Tatapannya perlahan beralih ke langit.
Langit yang seharusnya biru dan tenang.
Namun di matanya—
Ada sesuatu yang berbeda.
Sebuah retakan tipis membentang di angkasa.
Hampir tidak terlihat.
Seperti kaca raksasa yang perlahan mulai pecah.
"Kamu lihat itu?" tanya Annie pelan.
Kayden mengernyit.
"Apa?"
Annie menunjuk ke atas.
"Langitnya."
Kayden mengikuti arah jarinya.
Namun yang ia lihat hanyalah langit biasa.
Tidak ada retakan.
Tidak ada keanehan.
Hanya awan putih yang bergerak perlahan.
"Aku tidak melihat apa pun."
Keheningan menyelimuti mereka.
Annie menggigit bibir bawahnya.
Wajahnya terlihat sedikit pucat.
"Berarti... sudah mulai."
Deg.
Jantung Kayden berdegup lebih cepat.
"Apa yang mulai?"
Namun Annie tidak menjawab.
Sebaliknya, ia melangkah mendekat lalu menggenggam tangan Kayden.
Hangat.
Aneh.
Pada saat yang sama, Kayden merasakan sesuatu mengalir melalui tubuhnya.
Seperti benang tak kasatmata yang menghubungkan mereka.
"Kita harus pergi dari sini."
Nada suaranya terdengar mendesak.
Namun—
Terlambat.
Seseorang muncul di ujung jalan.
Seorang pria.
Ia berjalan perlahan ke arah mereka.
Tidak tergesa-gesa.
Tidak menunjukkan ancaman apa pun.
Namun setiap langkahnya terasa berat.
Seolah dunia bergerak mengikuti ritmenya.
Tap.
Tap.
Tap.
Kayden tanpa sadar menahan napas.
Lalu sesuatu yang lebih mengerikan terjadi.
Orang-orang di sekitar mulai menghilang.
Seorang pelajar.
Seorang pegawai kantor.
Seorang ibu yang sedang membawa belanjaan.
Mereka lenyap satu per satu.
Tanpa suara.
Tanpa cahaya.
Tanpa jejak.
Seolah keberadaan mereka tidak pernah ada sejak awal.
Kayden membeku.
"Apa...?"
Tubuhnya gemetar.
"Annie..."
Annie menatap pria itu.
Tatapannya berubah tajam.
"Authority..."
Pria itu akhirnya berhenti.
Matanya kosong.
Tidak ada emosi.
Tidak ada kehidupan.
Hanya kehampaan.
"Objek tidak relevan akan dihapus."
Suaranya datar.
Tidak terdengar seperti manusia.
Lebih seperti perintah yang dibacakan oleh mesin.
Kayden mundur selangkah.
"Dihapus?"
Pria itu mengangkat tangannya.
Dalam sekejap—
Seorang pejalan kaki yang masih tersisa menghilang.
Begitu saja.
Tidak ada darah.
Tidak ada jeritan.
Tidak ada kematian.
Hanya ketiadaan.
Kayden merasakan bulu kuduknya berdiri.
"Itu bukan mati..."
Annie menggenggam tangannya lebih erat.
"Itu jauh lebih buruk."
Pria itu kembali menatap mereka.
"Dua objek tersisa."
Suara itu membuat napas Kayden tercekat.
"Kenapa kita tidak hilang?"
Annie menatapnya.
Matanya dipenuhi sesuatu yang sulit dijelaskan.
"Karena kamu..."
Tiba-tiba—
Rasa sakit menghantam kepalanya.
Lebih kuat daripada sebelumnya.
Lebih dalam.
"ARGHHHH!!"
Kayden jatuh berlutut.
Kedua tangannya mencengkeram kepala.
Puzzle itu kembali muncul.
Namun kali ini tidak samar.
Tidak tersembunyi.
Potongan-potongannya mulai bergerak.
Bersinar.
Menyatu.
Membentuk simbol demi simbol.
Dan akhirnya—
Sebuah kata.
MEMORY.
Pria itu kembali mengangkat tangannya.
"Objek anomali akan dihapus."
Namun sebelum serangan itu mencapai dirinya—
Sesuatu berubah.
Waktu melambat.
Tidak.
Lebih dari itu.
Waktu berhenti.
Kayden dapat melihat ribuan kemungkinan yang tersebar di sekelilingnya.
Masa depan.
Pilihan.
Jalur kehidupan.
Dan dalam setiap kemungkinan itu—
Ia mati.
Dibunuh.
Dihapus.
Dikorbankan.
Selalu berakhir sama.
"Tidak..."
Suara Kayden bergetar.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Ia menolak takdir itu.
"Tidak lagi."
Cahaya keemasan meledak dari tubuhnya.
Puzzle itu akhirnya lengkap.
Memori yang tak terhitung jumlahnya mengalir ke dalam pikirannya.
Kematian.
Kehilangan.
Pengulangan.
Semua kehidupan yang pernah ia jalani.
Semua akhir yang pernah ia alami.
"Aku..."
Matanya perlahan terbuka.
Bercahaya keemasan.
"Aku ingat."
Dalam sekejap.
Semuanya berhenti.
Pria itu membeku.
Annie membeku.
Angin membeku.
Bahkan dunia membeku.
Sebuah suara bergema dari dalam keberadaannya.
MEMORY REWRITE.
Kayden perlahan mengangkat kepalanya.
Dan untuk pertama kalinya—
Ia memahami kekuatan itu.
Ia menatap pria di hadapannya.
Tatapannya tidak lagi dipenuhi ketakutan.
"Kalau semuanya bisa diulang..."
Retakan mulai muncul di langit.
Menyebar ke seluruh dunia.
"...berarti aku bisa mengubahnya."
CRAAACK—
Langit pecah.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play