English
NovelToon NovelToon

Pemilik Kosku, Bos Cantik Yang Masih Single

Sewanya Bisa Dibayar dengan Cara Lain

Bab 1: Sewanya Bisa Dibayar dengan Cara Lain

Hujan turun deras malam itu, membungkus kota dalam kabut dingin. Aku duduk bersandar di dinding kamar kos sempit, menatap layar ponsel yang menyala redup. Saldo rekening: nol rupiah. Pesan dari kantor: gaji ditunda lagi. Dan di sudut layar, notifikasi yang paling kutakuti — pengingat sewa kos yang sudah menunggak dua bulan.

Aku menghela napas panjang. Rangga, dua puluh empat tahun, lulusan teknik, dan sekarang hampir diusir dari kamar kos sendiri. Hidup memang punya selera humor yang buruk.

Aku sudah menyiapkan diri untuk yang terburuk. Besok pagi, mungkin aku harus mengemas barang dan tidur di kantor. Atau lebih buruk lagi, di emperan toko.

Lalu terdengar ketukan di pintu. Pelan, tapi tegas.

Aku mengenal ketukan itu. Aku selalu mengenalnya.

Anindya.

Pemilik kos ini, sekaligus bosku di kantor. Perempuan dua puluh sembilan tahun yang seakan memiliki segalanya — wajah cantik, perusahaan yang sedang berkembang pesat, dan ketegasan yang membuat seluruh karyawan tunduk hanya dengan satu tatapan. Banyak pria kaya mengantre untuk mendekatinya. Tapi sampai detik ini, ia masih sendiri. Single. Penuh teka-teki.

Dan aku? Aku hanya penyewa kos yang menunggak dua bulan.

Dengan tangan gemetar, aku membuka pintu.

Anindya berdiri di sana, bersandar di kusen pintu. Rambut panjangnya basah sedikit oleh hujan, dan ia mengenakan mantel tipis berwarna krem yang membalut tubuhnya dengan rapi. Aroma parfumnya — lembut, mahal — langsung memenuhi udara sempit di sekitarku.

"Selamat malam, Rangga," katanya pelan.

"Ka-Kak Anindya." Suaraku tersangkut di tenggorokan. "Soal sewa, aku… aku janji minggu depan pasti—"

"Aku tidak ke sini untuk menagih." Ia memotong, suaranya tenang. Terlalu tenang.

Aku terdiam, bingung.

Ia melangkah masuk tanpa diminta. Matanya menyapu seisi kamar — tumpukan buku, baju yang belum sempat kulipat, mangkuk mie instan kosong di atas meja. Tak satu pun ia komentari. Pandangannya akhirnya kembali padaku, dan ada sesuatu di sana yang tak bisa kubaca.

"Aku tahu keadaanmu," katanya. "Aku tahu kamu belum gajian. Aku tahu kamu sudah dua bulan menunggak." Ia menutup pintu di belakangnya, dan suara klik itu terdengar begitu keras dalam keheningan. "Tapi tenang saja. Sewanya… bisa dibayar dengan cara lain."

Jantungku seakan berhenti berdetak.

"Ma-maksud Kakak?" Aku menelan ludah. Pikiranku berlari ke arah yang tak seharusnya, dan wajahku terasa terbakar.

Anindya menatapku lama. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang tak bisa kuartikan — entah itu menggoda, atau justru menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih rumit dari yang kubayangkan.

"Duduklah," katanya, menunjuk satu-satunya kursi di kamarku. "Ada yang ingin kubicarakan. Dan percayalah, Rangga — ini akan mengubah seluruh hidupmu."

Aku duduk dengan lutut yang masih lemas. Di luar, hujan turun semakin deras, seakan ikut menahan napas bersamaku.

Aku belum tahu, malam itu, bahwa kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya akan menyeretku ke dalam sebuah permainan yang tak pernah sekali pun kubayangkan.Bab 1: Sewanya Bisa Dibayar dengan Cara Lain

Hujan turun deras malam itu, membungkus kota dalam kabut dingin. Aku duduk bersandar di dinding kamar kos sempit, menatap layar ponsel yang menyala redup. Saldo rekening: nol rupiah. Pesan dari kantor: gaji ditunda lagi. Dan di sudut layar, notifikasi yang paling kutakuti — pengingat sewa kos yang sudah menunggak dua bulan.

Aku menghela napas panjang. Rangga, dua puluh empat tahun, lulusan teknik, dan sekarang hampir diusir dari kamar kos sendiri. Hidup memang punya selera humor yang buruk.

Aku sudah menyiapkan diri untuk yang terburuk. Besok pagi, mungkin aku harus mengemas barang dan tidur di kantor. Atau lebih buruk lagi, di emperan toko.

Lalu terdengar ketukan di pintu. Pelan, tapi tegas.

Aku mengenal ketukan itu. Aku selalu mengenalnya.

Anindya.

Pemilik kos ini, sekaligus bosku di kantor. Perempuan dua puluh sembilan tahun yang seakan memiliki segalanya — wajah cantik, perusahaan yang sedang berkembang pesat, dan ketegasan yang membuat seluruh karyawan tunduk hanya dengan satu tatapan. Banyak pria kaya mengantre untuk mendekatinya. Tapi sampai detik ini, ia masih sendiri. Single. Penuh teka-teki.

Dan aku? Aku hanya penyewa kos yang menunggak dua bulan.

Dengan tangan gemetar, aku membuka pintu.

Anindya berdiri di sana, bersandar di kusen pintu. Rambut panjangnya basah sedikit oleh hujan, dan ia mengenakan mantel tipis berwarna krem yang membalut tubuhnya dengan rapi. Aroma parfumnya — lembut, mahal — langsung memenuhi udara sempit di sekitarku.

"Selamat malam, Rangga," katanya pelan.

"Ka-Kak Anindya." Suaraku tersangkut di tenggorokan. "Soal sewa, aku… aku janji minggu depan pasti—"

"Aku tidak ke sini untuk menagih." Ia memotong, suaranya tenang. Terlalu tenang.

Aku terdiam, bingung.

Ia melangkah masuk tanpa diminta. Matanya menyapu seisi kamar — tumpukan buku, baju yang belum sempat kulipat, mangkuk mie instan kosong di atas meja. Tak satu pun ia komentari. Pandangannya akhirnya kembali padaku, dan ada sesuatu di sana yang tak bisa kubaca.

"Aku tahu keadaanmu," katanya. "Aku tahu kamu belum gajian. Aku tahu kamu sudah dua bulan menunggak." Ia menutup pintu di belakangnya, dan suara klik itu terdengar begitu keras dalam keheningan. "Tapi tenang saja. Sewanya… bisa dibayar dengan cara lain."

Jantungku seakan berhenti berdetak.

"Ma-maksud Kakak?" Aku menelan ludah. Pikiranku berlari ke arah yang tak seharusnya, dan wajahku terasa terbakar.

Anindya menatapku lama. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis yang tak bisa kuartikan — entah itu menggoda, atau justru menyembunyikan sesuatu yang jauh lebih rumit dari yang kubayangkan.

"Duduklah," katanya, menunjuk satu-satunya kursi di kamarku. "Ada yang ingin kubicarakan. Dan percayalah, Rangga — ini akan mengubah seluruh hidupmu."

Aku duduk dengan lutut yang masih lemas. Di luar, hujan turun semakin deras, seakan ikut menahan napas bersamaku.

Aku belum tahu, malam itu, bahwa kalimat berikutnya yang keluar dari mulutnya akan menyeretku ke dalam sebuah permainan yang tak pernah sekali pun kubayangkan.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play