English
NovelToon NovelToon

Isteri Mu Bukan Lagi Milik Mu

Dilarang masuk.

Jam dinding berdetak pelan di tengah kesunyian malam.

Di atas kasur busa tipis, seorang gadis berpenampilan sederhana meringkuk sendirian. Kamar sempit itu terasa semakin pengap, seolah ikut menekan perasaan yang selama ini ia tahan.

Gadis itu adalah Amel Carla.

"Mengapa... mengapa harus seperti ini?" gumamnya lirih.

Bahu Amel bergetar. Tangisan yang sejak tadi ia tahan akhirnya pecah.

Ia hanya mampu menatap kosong langit-langit kamar.

Pernikahan yang dulu ia kira akan membawa kebahagiaan, ternyata berubah menjadi sumber luka yang tidak pernah berhenti.

Memiliki suami seperti Fajar membuat hari-harinya dipenuhi penyesalan.

Drrt... Drrt...

Ponsel di samping bantal tiba-tiba bergetar, memecah keheningan.

Awalnya Amel memilih mengabaikannya. Namun, suara getaran itu terus berulang hingga akhirnya ia menghela napas berat dan meraih benda tersebut.

Cahaya layar menerangi wajahnya yang lelah. Bekas air mata masih terlihat jelas di pipinya.

Dengan tangan gemetar, ia mengangkat panggilan.

"Amel! Lama sekali angkat teleponnya!"

Suara Sania langsung terdengar tanpa basa-basi.

"Nenek ingin bertemu denganmu. Cepat datang ke kediaman Hartono sekarang!"

Klik.

Sambungan terputus.

Amel hanya diam menatap layar ponselnya.

Jadi Sania hanya ingin menyuruhnya datang?

Namun, dahinya mengernyit.

Ini sudah larut malam. Biasanya ia hanya datang ke rumah Hartono pada hari Minggu.

Ada sesuatu yang berbeda.

Apakah terjadi sesuatu pada Nenek?

Rasa cemas mengalahkan rasa lelahnya. Amel segera menelepon kembali.

"Sania, harus malam ini? Apa Nenek sakit? Apa dia lupa minum obat, atau—"

"Kamu terlalu banyak bertanya."

Suara Sania terdengar kesal.

"Datang saja seperti yang aku katakan. Jangan buang waktuku."

Tut...

Sambungan kembali terputus.

Amel menurunkan ponselnya perlahan.

Sikap Sania memang selalu seperti itu. Angkuh dan merasa semua orang harus mengikuti keinginannya.

Namun kali ini, Amel tidak peduli.

"Yang penting Nenek baik-baik saja."

Ia berdiri perlahan.

"Sudah dua hari aku tidak melihatnya. Aku juga rindu."

Amel berjalan menuju kamar mandi dan membasuh wajahnya dengan air dingin.

Tetapi saat keluar...

Langkahnya berhenti.

Sebuah gelas pecah tergeletak di sudut ruangan. Kursi kecil dekat meja bergeser dari tempatnya. Amel sudah tahu siapa penyebabnya bahkan tanpa perlu bertanya.

Fajar.

Pria itu pulang pukul tujuh malam tadi, dan seperti biasa, kepulangannya hanya membawa masalah.

Kalah taruhan.

Itulah alasan mengapa rumah ini kembali berantakan.

Amarah Fajar selalu mencari tempat untuk dilampiaskan.

Dan selama ini, Amel adalah sasarannya.

"Hah..."

Amel menunduk.

"Entahlah... sampai kapan aku harus bertahan."

Senyum getir muncul di wajahnya.

"Capek sekali."

Dua tahun pernikahan telah mengubah dirinya.

Dulu, Amel adalah gadis yang ceria. Ia memiliki banyak impian dan mudah tersenyum.

Sekarang, semua itu terasa seperti kenangan lama.

Bukan karena ia tidak mampu mengejar impiannya.

Tetapi karena ia terlalu lama mengorbankan dirinya demi seseorang yang bahkan tidak menghargainya.

"Sudahlah."

Amel mengepalkan tangannya.

"Nenek lebih penting sekarang."

Biasanya ia akan membersihkan kekacauan yang dibuat Fajar.

Namun malam ini berbeda.

Untuk pertama kalinya, Amel memilih pergi.

Bukan untuk melarikan diri.

Hanya untuk mencari udara segar dan menenangkan pikirannya.

Ia keluar rumah lalu mengunci pintu.

Di bawah langit malam, Amel menarik napas panjang.

"Udara segar..."

Aroma tanah basah setelah hujan sore tadi memenuhi udara.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa sedikit bebas.

"Memiliki waktu untuk diri sendiri ternyata tidak salah."

Amel menatap jalanan yang sunyi.

"Bodoh sekali aku selama ini... membiarkan hidupku dikendalikan oleh orang yang bahkan tidak pernah menghargainya."

Namun, tanpa ia sadari...

Malam yang ia kira hanya akan menjadi pelarian singkat ternyata menyimpan sesuatu yang lain.

Sesuatu yang perlahan mulai mendekat.

"Tuan, semuanya sesuai rencana. Target sudah mendekat."

Di bawah cahaya lampu jalan yang redup, sebuah van hitam terparkir diam di pinggir jalan.

Sekilas, kendaraan itu tampak biasa saja.

Tidak ada yang menyangka bahwa di dalamnya terdapat dua pria yang sejak tadi mengawasi seseorang dari kejauhan.

Salah satu pria itu memiliki tubuh besar dengan tato memenuhi lengannya. Tatapan matanya dingin tanpa emosi, seolah tidak memiliki keraguan sedikit pun terhadap tugas yang sedang dijalankan.

Ia membuang sisa rokoknya keluar jendela sebelum mengangkat alat komunikasi.

"Awasi terus. Jangan bergerak sebelum mendapat perintah."

Suara di seberang terdengar singkat sebelum sambungan terputus.

Pria itu kembali menatap keluar jendela.

"Bagaimana?" tanya rekannya.

"Kita hanya menunggu."

"Target terlihat sendirian."

Pria bertato itu tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada sosok gadis yang berdiri di bawah lampu jalan.

Amel.

Gadis itu sama sekali tidak menyadari bahwa sejak tadi dirinya menjadi pusat perhatian.

Ia hanya mengusap kedua tangannya, berusaha menghangatkan tubuh dari udara malam yang semakin dingin.

Tidak lama kemudian, rintik hujan mulai turun.

Awan gelap yang sejak tadi menggantung akhirnya kembali menumpahkan airnya.

Amel mendongak sebentar.

Amel berdiri di halte dalam keadaan menggigil.

Ia menerobos gerimis malam demi sampai ke rumah keluarga Harto.

Namun, malam itu terasa berbeda. Jalanan jauh lebih sepi dari biasanya. Tidak ada bus yang melintas, hanya suara rintik hujan yang jatuh di antara genangan air.

Akhirnya, setelah berjalan cukup jauh, ia tiba di depan gerbang besar kediaman Harto.

Ting... Tong...

"Assalamualaikum, Bik Sumi. Ini Amel. Tolong bukakan pintunya."

Tidak ada jawaban.

Amel menunggu beberapa saat sebelum kembali menekan bel.

Ting... Tong...

Apa semua orang sudah tidur?

Ia melihat jam di pergelangan tangannya.

Pukul sepuluh malam.

Seharusnya belum terlalu larut. Biasanya Bik Sumi masih terjaga.

Namun, tubuhnya semakin sulit menahan dingin. Air hujan masih menetes dari rambut hingga ujung bajunya.

"Haciiih..."

Amel bersin kecil sambil mengusap hidungnya yang mulai memerah.

"Bik Sumi... ini aku, Amel. Bisa buka pintunya?"

Beberapa detik kemudian...

Klik.

Pintu akhirnya terbuka.

Seorang wanita berdaster dengan rambut yang diikat sederhana muncul di balik pintu.

Begitu melihat siapa yang berdiri di sana, wajah Bik Sumi langsung berubah panik.

"Nona manis..."

Matanya turun melihat pakaian Amel yang sudah basah kuyup.

"Ya ampun, Nona! Kenapa bisa sampai seperti ini?"

"Haciiih..."

"Sudah, cepat masuk. Bibik siapkan air hangat dulu."

Bik Sumi segera memegang tangan Amel dan membawanya masuk.

Bagi wanita itu, Amel bukan sekadar tamu.

Gadis itu sudah seperti anak sendiri.

Berbeda dengan Sania yang sering memperlakukan para pekerja dengan kasar, Amel selalu menunjukkan sikap hangat dan menghargai mereka.

Namun, sebelum mereka melangkah lebih jauh...

"Lima menit."

Suara rendah tiba-tiba terdengar.

Langkah Bik Sumi berhenti.

Amel perlahan mengangkat wajahnya.

Di ujung lorong, seorang pria tinggi berdiri dengan tatapan dingin.

Damar Harto.

"Kamu terlambat lima menit."

Tatapan pria itu lurus mengarah kepada Amel. Wajahnya tetap dingin, tetapi matanya sempat berhenti beberapa detik pada tubuh gadis yang basah kuyup itu.

Rambut Amel meneteskan air. Wajahnya pucat, bibirnya sedikit bergetar menahan dingin.

Namun, ekspresi Damar tidak berubah.

"T-Tuan..." Bik Sumi tergagap.

"Paman Damar... kau sudah pulang?" ucap Amel dengan suara bergetar.

Ia benar-benar tidak diberi tahu bahwa Damar telah kembali dari

Turki.

Apa artinya Sania memanggilku datang malam-malam begini hanya untuk mempermalukanku di hadapan Paman? pikir Amel.

Damar melangkah lebih dekat. Kedua tangannya masih tersimpan di dalam saku celana.

Untuk sesaat, tatapannya turun melihat pakaian Amel yang basah.

Ada sesuatu yang mengganggu pikirannya.

Seharusnya dia tidak membiarkan gadis ini berdiri di luar dalam keadaan seperti ini.

Namun, ekspresi itu hanya muncul sepersekian detik sebelum kembali menghilang.

"Bik Sumi, tolong biarkan kami berdua saja."

Nada suaranya tetap datar

Yang tidak diketahui Damar maupun Amel, sejak tadi Sania mengawasi mereka diam-diam dari balik dinding.

"Bagus. Ini yang aku mau."

Senyum puas terukir di bibirnya. Melihat Amel tidak diterima oleh Damar membuat hatinya terasa ringan.

Akhirnya, orang itu tidak akan mengganggu rencanaku.

Dengan langkah riang, Sania pun kembali ke kamarnya.

Setelah kejadian malam itu, Damar memilih kembali tenggelam dalam pekerjaannya.

Menjelang tengah malam, pria itu masih berada di ruang kerja. Tumpukan berkas dan layar laptop menjadi satu-satunya teman di tengah kesunyian.

Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Damar akhirnya berdiri. Ia melepas penat dengan berjalan menuju balkon.

Sudah menjadi kebiasaannya mencari ketenangan di tempat itu.

Tangannya mengambil sebatang rokok, lalu menyulutnya perlahan.

Dari balkon lantai tiga, Damar memandangi suasana malam yang sunyi. Cahaya bulan jatuh di halaman luas keluarga Harto, sementara suara serangga malam terdengar samar dari kejauhan.

Namun, ketenangan itu tiba-tiba terganggu oleh sebuah pemandangan di bawah sana.

Di bawah cahaya lampu yang redup, terlihat seorang perempuan sedang meringkuk sendirian.

Rambut cokelat pirangnya masih basah. Tubuhnya tampak kecil dan rapuh dari atas.

Damar menyipitkan matanya.

Meskipun tidak bisa melihat wajahnya dengan jelas, dia langsung mengenali sosok itu.

Amel.

"Gadis bodoh itu... kenapa masih di sana?"

Tatapannya tetap tertuju ke bawah.

Ada rasa tidak nyaman yang muncul di dalam dirinya.

Dia tahu udara malam semakin dingin. Membiarkan seseorang berada di luar dalam kondisi basah kuyup bukanlah hal yang benar.

Namun, sebelum ia melakukan apa pun, terdengar ketukan pelan di pintu.

Tok... tok...

"Masuk," ucapnya.

Bik Sumi masuk dengan langkah hati-hati.

"Tuan, Nenek terbangun. Beliau terus menyebut nama Nona Amel dan ingin bertemu dengannya. Saya sudah mencoba menenangkan beliau, tetapi Nenek tetap bersikeras."

Damar menghela napas pelan.

Tangannya mematikan rokok di asbak.

Tanpa mengatakan apa pun, ia berjalan melewati Bik Sumi.

Sementara itu, di luar rumah, Amel masih meringkuk.

"Ah... kepalaku pusing sekali..."

Ia bahkan tidak tahu sudah berapa lama dirinya berada di sana.

Rasa lelah dan dingin perlahan mengambil alih tubuhnya.

Pandangan Amel mulai berkunang-kunang.

Tubuhnya kehilangan keseimbangan.

Bruk.

Ia jatuh terbaring di lantai teras.

Sebelum kesadarannya benar-benar hilang, samar-samar ia mendengar suara pintu terbuka.

Lalu...

Ada langkah kaki mendekatinya.

Namun, sebelum sempat melihat siapa orang itu, semuanya berubah gelap.

Amel benar-benar kehilangan kesadaran.

Baju Dari Damar

Pagi tiba.

Di garasi, sebuah mobil putih bergaya Eropa terparkir rapi. Kilauan bodinya memantulkan cahaya matahari pagi, menunjukkan kesan mewah dan berkelas.

Bik Sumi yang sedang menyapu halaman langsung menghentikan kegiatannya ketika suara bel pintu terdengar.

Ting tong...

Wanita paruh baya itu segera meletakkan sapunya lalu berjalan cepat menuju pintu.

Begitu pintu terbuka, seorang wanita paruh baya dengan penampilan glamor berdiri di hadapannya. Pakaian elegan, riasan sempurna, serta beberapa koper dan tas bermerek di sampingnya membuat auranya langsung terlihat berbeda.

Wanita itu menghela napas kesal.

"Kamu lama sekali membuka pintu. Saya sampai hampir berkarat menunggu di luar."

Tanpa menunggu jawaban, ia langsung melangkah masuk. Sikapnya menunjukkan bahwa rumah itu bukanlah tempat asing baginya.

"Maaf, Nyonya," ucap Bik Sumi sambil menundukkan kepala.

Wanita itu hanya mengangkat satu tangan, menghentikan ucapan Bik Sumi.

"Cukup. Aku hanya ingin menemui putriku, Sania. Dan..." Ia berhenti sejenak. "Di mana Damar? Kudengar dia sudah tiba."

Bik Sumi kembali menundukkan kepala.

"Nona Sania masih di kamar, begitu juga dengan Tuan Damar, Nyonya."

Mendengar jawaban itu, ekspresi wanita tersebut berubah dalam sekejap.

Matanya membesar.

"Apa?"

"Sania dan Damar berada di kamar yang sama?"

Bik Sumi belum sempat menjelaskan ketika pikiran wanita itu sudah melayang jauh.

Bukankah selama ini aku dan Sania memang berencana menjodohkan mereka?

Kalau mereka sudah sedekat ini, bukankah itu justru kabar yang sangat baik?

Senyum puas mulai muncul di wajah Nawar Wulan.

Putriku benar-benar luar biasa.

"N-Nyonya, Anda salah paham. Maksud saya—"

Namun, penjelasan Bik Sumi tidak lagi didengar.

Dengan langkah cepat, Nawar Wulan langsung menuju lantai tiga.

"Nyonya, tunggu sa—"

"Ibu, di luar sudah ada tukang sayur."

Suara seorang gadis tiba-tiba memotong.

Itu adalah Tania, putri semata wayang Bik Sumi.

Sejak kecil, Tania memang tumbuh di rumah besar keluarga Harto. Setelah suaminya menikah lagi, Bik Sumi memilih mengabdikan hidupnya untuk bekerja di kediaman tersebut demi memenuhi kebutuhan mereka.

Sementara itu, Nawar Wulan sudah sampai di lorong lantai tiga.

Lorong panjang itu dipenuhi dekorasi mewah yang menunjukkan kemegahan keluarga Harto.

Karena terlalu bersemangat, ia bahkan lupa meninggalkan tas dan barang bawaannya di sofa lantai bawah.

Namun, langkahnya tiba-tiba berhenti.

Dari kejauhan, pintu kamar terbuka.

Nawar Wulan refleks bersembunyi di balik sebuah pilar.

Matanya mengintip dari balik persembunyian.

Dan saat itulah ia melihat Damar keluar dari kamar dengan pakaian tidur.

Pria itu tampak baru bangun. Ia merenggangkan tubuhnya perlahan sambil mengusap tengkuk, sama sekali tidak menyadari bahwa seseorang sedang memperhatikannya.

Senyum Nawar Wulan perlahan melebar.

Pikirannya semakin yakin dengan kesimpulan yang sudah ia buat sendiri.

Mata Nawar Wulan langsung berbinar.

Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan, menahan suara kegirangan yang hampir lolos.

"Astaga... putriku benar-benar berhasil."

Senyum puas terukir di wajahnya.

"Kalau begini, cepat atau lambat kami akan menjadi tuan rumah yang sesungguhnya di keluarga Harto."

Saking bersemangatnya, ia hampir tidak menyadari langkahnya yang nyaris menyenggol sebuah vas antik di sudut lorong. Tangannya refleks menahan benda mahal itu sebelum jatuh.

"Untung saja..."

Nawar Wulan menghela napas kecil, lalu kembali tersenyum.

"Aku harus mengucapkan selamat padanya."

Begitu sosok Damar menghilang di ujung lorong, Nawar Wulan tidak ingin membuang waktu lagi.

Ia segera keluar dari persembunyiannya lalu berjalan menuju kamar tersebut.

Tanpa mengetuk pintu, ia langsung membuka dan melangkah masuk.

Senyum lebar masih menghiasi wajahnya.

Di atas ranjang besar, seseorang tampak masih tertidur di balik selimut tebal.

Pasti Sania.

Dasar anak ini... benar-benar membuat Ibu bangga, batinnya penuh kebanggaan.

Nawar Wulan berjalan mendekat. Tangannya perlahan terulur untuk menyingkap selimut.

Namun, sebelum ia sempat menyentuhnya, orang di atas ranjang bergerak.

Selimut itu bergeser.

Dan dalam sekejap...

Senyum Nawar Wulan menghilang.

"Astaga..."

Matanya membulat penuh ketidakpercayaan.

"Kenapa malah dia?"

Suaranya terdengar pelan, tetapi penuh kekecewaan.

Orang yang terbaring di atas ranjang bukanlah Sania seperti yang ia bayangkan.

Melainkan Amel.

Gadis itu masih tertidur pulas. Wajahnya tampak pucat, mungkin akibat hujan deras yang membasahi tubuhnya semalam. Kondisinya yang lemah membuatnya terlihat jauh lebih rapuh dari biasanya.

Beberapa detik, Nawar Wulan hanya berdiri diam.

Harapan yang tadi memenuhi wajahnya perlahan runtuh.

Tatapannya berubah dingin ketika melihat Amel.

Tanpa mengatakan sepatah kata pun, ia berbalik dan keluar dari kamar dengan langkah cepat. Wajahnya menyimpan kekecewaan yang sulit disembunyikan.

Namun, tanpa sengaja, tindakannya barusan membuat Amel terbangun.

Kelopak mata gadis itu bergerak perlahan.

Penglihatannya perlahan mulai kembali jelas.

Amel menemukan dirinya berada di sebuah kamar luas dengan dekorasi bernuansa cokelat krem. Aroma lembut ruangan itu terasa asing, membuatnya membutuhkan beberapa detik untuk menyadari bahwa ia tidak berada di kamarnya sendiri.

Sambil memegang jidatnya yang masih terasa berat, ia perlahan duduk bersandar.

Saat itulah ia merasakan sesuatu yang dingin dan lembap di dalam selimut.

Tangannya meraba benda tersebut.

Sebuah handuk kompres.

Amel mengernyit heran. Pandangannya kemudian beralih ke meja di samping ranjang. Di sana terdapat sebuah wadah berisi air.

"Selamat pagi, Nona. Sudah bangun?"

Suara Bik Sumi membuat Amel menoleh.

"Syukurlah... saya benar-benar cemas. Semalam Nona pingsan di luar."

Amel terdiam sejenak sebelum bertanya dengan suara pelan,

"Bik... apa Bibik yang menggendongku semalam setelah aku pingsan dan membawaku masuk?"

Ia menatap Bik Sumi dengan ragu.

"Kau tahu kan akibatnya kalau Paman tahu?"

Bik Sumi justru tersenyum kecil sambil meletakkan mangkuk bubur hangat di meja.

"Bukan, Nona."

"Tuan Damar sendiri yang menggendong Anda dan merawat Anda semalaman. Beliau bahkan sampai kurang tidur."

Mata Amel sedikit membesar.

Damar?

Tanpa sadar, pikirannya kembali pada masa lalu.

Saat ia masih kecil, sebelum memasuki usia remaja, Damar adalah satu-satunya orang yang sering ia tunggu.

Namun, ada satu kejadian yang tidak pernah benar-benar ia lupakan.

Hari itu hujan deras mengguyur Kota Sebilan Naga.

Damar berjanji akan menjemputnya sepulang kegiatan kelompok. Namun waktu terus berjalan, dan pria itu tidak kunjung datang.

Dengan kecewa, Amel kecil akhirnya menggunakan tasnya sebagai pelindung dari hujan lalu berlari pulang.

Seluruh perlengkapan sekolahnya basah.

Begitu Damar tiba di rumah, bukannya meminta maaf, pria itu justru memarahinya.

"Amel, apa kau mulai mengacuhkan ommu dan menjadi anak nakal?"

Langkah Amel kecil yang hendak masuk kamar terhenti.

Ia berbalik.

Wajahnya terlihat lelah, tetapi matanya menyimpan kekecewaan yang selama ini ia tahan.

"Kenapa Paman yang marah?"

Suaranya bergetar.

"Paman yang lupa menjemputku."

Damar terdiam.

"Aku menunggu lama di halte. Aku takut... aku pikir Paman akan datang."

Amel menunduk.

"Aku bahkan menolak pulang bersama teman-temanku karena aku percaya Paman akan menjemput."

Matanya mulai berkaca-kaca.

"Jadi jangan salahkan aku kalau aku kecewa."

Untuk pertama kalinya, Amel kecil mengeluarkan semua rasa kecewanya.

Dan untuk pertama kalinya juga, Damar tidak mampu langsung membalas.

Wajah dinginnya perlahan berubah.

Ada rasa bersalah yang tidak bisa ia sembunyikan.

Sejak hari itu, Amel mengurung dirinya di kamar. Ia menolak makanan apa pun yang dibawakan Bik Sumi, bahkan makanan kesukaannya.

Damar sebenarnya ingin membujuknya.

Namun pekerjaan membuatnya harus menunda.

Malam semakin larut.

"Hacih!"

Suara bersin kecil terdengar dari dalam kamar.

Amel yang mulai sakit bergerak gelisah di atas ranjang.

Tidak lama kemudian, pintu kamar terbuka.

Damar muncul di ambang pintu.

Melihat pria itu, Amel buru-buru menarik selimut hingga menutupi tubuhnya.

Ia tidak ingin dimarahi lagi.

Damar hanya diam.

Ia mendekat, lalu meletakkan semangkuk makanan di meja samping ranjang.

Bukannya pergi, pria itu justru duduk di tepi ranjang.

"Amel."

Suaranya jauh lebih lembut dari biasanya.

"Om minta maaf."

Amel tetap diam.

"Om tidak bermaksud mengecewakanmu. Akhir-akhir ini Om memang banyak kegiatan menjelang akhir masa kuliah."

Ia tersenyum tipis.

"Maukah kau memaafkan ommu yang tampan ini?"

Di balik selimut, mata Amel langsung berputar malas.

Dasar om tua narsis.

Namun, tanpa ia sadari, rasa kesalnya mulai sedikit berkurang.

Damar mengulurkan tangan dan mengusap kepala Amel yang tertutup selimut.

"Haaacih!"

Bersin Amel akhirnya keluar.

Ia langsung menutup mulut dengan wajah kesal.

Sementara Damar hanya tersenyum kecil.

****

:Kembali ke masa sekarang.

Suara Bik Sumi membuat Amel tersadar dari lamunannya.

Saat itu ia baru menyadari satu hal.

Pakaiannya sudah berbeda.

Amel menatap tubuhnya sendiri dengan kaget.

Pikirannya langsung melayang.

Jangan-jangan...

Ia buru-buru menepis pikiran itu.

"Bik, bajuku sudah diganti?"

"Iya, Nona. Saya yang menggantinya."

Amel menghela napas lega.

"Nona, setelah buburnya habis, minumlah obat. Kalau sudah merasa lebih baik, Anda diminta menemui Nenek di bawah."

Amel menatap bubur di depannya.

Tubuhnya masih belum benar-benar pulih, tetapi ia tetap mengangguk.

"Baik, Bik. Akan kucoba."

Setelah Bik Sumi pergi, Amel mengambil mangkuk tersebut.

Meski lidahnya terasa hambar, ia tetap memaksa beberapa suapan masuk.

Setelah cukup makan, ia mengambil obat.

Namun sebelum meminumnya, pandangannya tertuju pada tas biru muda miliknya di dekat jendela.

Semalam tas itu ikut terkena hujan.

Dengan langkah pelan, ia mendekat lalu membuka tas tersebut.

Kekhawatirannya benar.

Semua barang di dalamnya lembap.

Ponselnya bahkan tidak menyala.

"Aduh... baru beberapa bulan dibeli."

Amel menghela napas.

"Terpaksa harus diperbaiki lagi."

Saat itulah matanya menangkap sebuah paper bag cokelat di atas meja.

Ketika ia mengambilnya, sebuah kertas kecil jatuh ke lantai.

Amel membukanya.

"Amel, jika sudah bangun dan merasa lebih baik, gunakan pakaian itu untuk menemui Nenek. Jangan mempermalukan aku dengan penampilan biasa mu."

Amel membaca pesan itu beberapa detik.

Lalu...

Kertas itu langsung diremas.

"Dasar."

Tanpa ragu, ia melemparkannya keluar jendela.

"Dia pikir siapa dirinya? Baru pulang dari Turki saja sudah semakin menyebalkan."

Meski kesal, rasa penasaran tetap muncul.

Amel membuka paper bag tersebut.

Di dalamnya terdapat satu set pakaian baru yang terlipat sangat rapi.

Amel Carla

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play