“pertanyaan terakhir.”
Suara Kepala Biro Humas terdengar tegas, memotong riuh belasan jurnalis yang sejak satu jam terakhir memenuhi Ruang Majapahit, Kantor Gubernur. Puluhan kamera masih menyala. Lampu sorot membuat ruangan terasa lebih panas dari biasanya. Di atas podium, Raka Adipratama menutup map berisi laopran pembangunan semester pertama dengan senyum yang nyari sempurna - senyum yang selama lima tahun terakhir membuat namanya identik dengan harapan baru.
Gubernur termuda di Provinsi itu, lelaki yang hampir tak pernah kehilangan kata - kata di depan publik.
“Silahkan. Satu orang lagi.”
Beberapa tangan terangkat bersamaan. Namun perhatian Raka berhenti pada satu kartu pers yang perlahan terangkat dari barisan paling belakang.
Perempuan itu berdiri tanpa tergesa. Kemeja putih sederhana, Bazer hitam, rambut yang dulu selalu diikat asal kini jatuh rapi hingga bahu. Di lehernya tergantung kartu identitas bertuliskan Nusantara Post.
Saat perempuan itu mengangkat wajah, waktu seolah berhenti. Jantung Raka lupa cara berdetak.
…Sitri.
Namanya muncul begitu saja, jauh lebih cepat daripaad logika yang mencoba menyangkal.
Lima Tahun tanpa Kabar
Lima Tahun tanpa penjelasan
Lima Tahun terlupakan, namun nyatanya tidak.
Tatapan mereka bertemu hanya beberapa detik. Cukup lama untuk membangungkan kenangan yang selama ini terkubur rapat. Namun, perempuan itu tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun.
Ekspresinya datar
Profesional
Seolah keduanya memang orang asing.
“Nona, Silahkan”
Sitri menyalakan mikrofon.
“Pak Gubernur,” suaranya tenang, “dalam pidato pelantikan Anda dua tahun lalu, Anda berjanji seluruh anggaran bantuan sosial akan diaudit secara terbuka.”
Ruangan mendadak lebih hening.
“Namun berdasarkan dokumen yang kami terima, terdapat perbedaan nilai hampir delapan miliar rupiah antara laporan pemerintah provinsi dan laporan kontraktor pelaksana.”
Beberapa kepala langsung menoleh.
“Apakah bapak bersedia membuka seluruh dokumen audit kepada publik?”
Tak ada nada menyerang, Tak ada emosi. Hanya Pertanyaan.
Namu, Bagi Raka…
Tak satu pun lawan politiknya pernah membuat dadanya sesak seperti perempuan yang kini berdiri sekitar sepuluh meter di hadapannya.
Ia masih ingat suara itu. Suara yang dulu menreiakkan tuntutan di depan gedung rektorat. Suara yang dulu berbisik bahwa negeri ini pantas diperjuangkan. Dan suara yang menghilang tanpa pamit pada malam paling kacau dalam hidupnya. Raka menarik napas perlahan sebelum akhirnya menjawab.
“Pemerintah Provinsi terbuka terhadap proses audit, termasuk apabila ada data yang perlu diklarifikasi. Transparansi bukan sekadar janji kampanye, melainkan komitmen.”
Jawaban yang nyaris sempurna, jawaban yang diharapkan semua orang. namun hanya satu orang yang tahu bahwa Raka, selalu pandai menyembunyikan apa yang sebenarnya ia rasakan.
“Terima kasih, Pak Gubernur.”
Sitri mematikan mikrofon.
Tak ada senyum, Tak ada Sapaan.
Taka ada pengakuan bahwa mereka pernah saling mengenal lebih baik daripada siapa pun.
Konferensi pers dinyatakan selesai, orang - orang mulai mulai berdiri. Para ajudan mengelilingi Raka, membentuk pagar hidup menuju pintu keluar. Di tengah kerumunan, mata mereka sempat bertemu sekali lagi. Hanya Sesaaat. Namun, kali ini, Sitri memilih berpaling lebih dulu. Seolah lima tahun lalu memang tidak pernah terjadi. Sementara Raka, tetap berdiri di tempatnya.
Untuk pertama kalinya sejak dilantik menjadi gubernur, ia tidak mendengar satu pun suara di sekelilingnya. yang memnuhi kepalanya hanya satu pertanyaan.
“kenapa kamu menghilang, Sitri?”
\~\~\~\~
Pintu ruang kerja gubernur menutup pelan. Baru beberapa langkah masuk, Raka melepaskan jasanya dan menyerahkannya kepada ajudan. Ia belum sempat duduk ketika Kepala Biro Humas, Arif, menyusuldengan wajah tegang sambil membawa tablet.
“pak, saya rasa kita perlu membahas pertanyaan jurnalis tadi.”
Raka mengangguk. “Silahkan.”
Arif menggeser layar tabletnya. Potongan video konferensi pers tadi telah tersebar di berbagai platform media sosial. jumlah penontonnya terus bertambah setiap detik.
“Jurnalis perempuan bongkar dugaan selisih anggaran di hadapan gubernur. Baru dua belas menit diunggah, tapi angkanya sudah tinggi.”
Sekretaris politik yang berdiri disampingnya ikut membuka suara.
“Kalau ini terus naik, oposisi pasti memanfaatkannya.”
“Yang saya herankan,” sela seorang staf lain, “Pertanyaan itu jelas di luar daftar yang sudah disepakati dengan redaksi. Dia sengaja memancing Bapak.”
Ruangan mendadak dipenuhi berbagai usulan.
“Besok kita batasi akses medianya.”
“atau setidaknya jangan beri kesempatan bertanya lagi.”
Raka yang daritadi hanya berdiri di depan endela akhirnya berbalik dengan suara datar dia berbicara.
“SUdah Selesai?”
semua diam.
“Tidak ada media yang dibatasi.”
“Tapi..pak - “
“Tidak ada.”
Nada suara Raka tetap tenang.Justru itu yang membuat semua orang memilih diam.
"Wartawan tidak datang untuk membuat saya nyaman."
Tatapan Raka menyapu seluruh ruangan.
"Mereka datang untuk bertanya. Dan tugas saya adalah menjawab."
Arif menarik napas pelan.
"Bagaimana kalau pertanyaannya menyerang citra Bapak?"
"Citra dibangun oleh kerja, bukan dengan membungkam pertanyaan."
Tak seorang pun menyela lagi. Keheningan menggantung beberapa detik sebelum sekretaris politik kembali membuka map di tangannya.
"Kalau begitu... perlu kami lakukan penelusuran terhadap jurnalis itu?"
Raka mengernyit.
"Penelusuran?"
"Riwayat pekerjaannya. Relasi politiknya. Siapa tahu dia memang dikirim pihak tertentu."
Raka menatap pria itu cukup lama.
"Lupakan."
"Tapi—"
"Saya mengenalnya."
Kalimat itu membuat seluruh ruangan membeku. Arif saling berpandangan dengan staf lain.
Mereka belum pernah mendengar nama jurnalis itu disebut oleh Raka. Terlebih dengan nada yang sulit diartikan.
"Kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas..."
Raka merapikan map di atas meja.
"Saya ada rapat pukul dua. Tolong siapkan berkasnya."
Itu tanda pembicaraan selesai. Satu per satu mereka keluar dari ruangan.Pintu kembali tertutup.
Sunyi.
Raka mengembuskan napas panjang, lalu melangkah menuju jendela besar yang menghadap halaman kantor gubernur. Di bawah sana, mobil-mobil media mulai meninggalkan area peliputan. Entah yang mana mobil Sitri.
Lima tahun. Ia menghilang tanpa satu pesan, tanpa satu penjelasan.
Dan hari ini...
Perempuan itu berdiri di hadapannya seolah mereka tak pernah berbagi mimpi yang sama. Raka mengusap wajahnya pelan. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia kehilangan fokus. Di atas mejanya, ponsel bergetar pelan. Bukan pesan penting. Bukan pula panggilan dari partai. Melainkan notifikasi lama yang tak pernah ia hapus.
5 tahun lalu hari ini
"Diskusi publik bersama BEM: Menjaga Demokrasi dari Penyalahgunaan Kekuasaan."
Foto kecil yang muncul di layar memperlihatkan dua mahasiswa berdiri di atas bak mobil komando.
Raka memegang pengeras suara. Di sampingnya, Sitri tersenyum lebar sambil mengepalkan tangan ke udara.
Ia menatap foto itu cukup lama. Lalu, untuk pertama kalinya dalam lima tahun. Raka tersenyum tipis.
"Jadi... kamu benar-benar masih hidup."
Download NovelToon APP on App Store and Google Play