Aku telah mati
Lebih tepatnya hari ini
Setidaknya itulah yang kupikir tertulis di batu nisan yang berdiri di hadapanku.
Namaku sepertinya terpahat di permukaan batu yang masih baru.
Tanah di sekitarnya bahkan belum mengering sepenuhnya.
Aku menatap tanggal kematian yang terukir di sana.
Hari ini.
Hari yang sama saat aku membuka mata.
Anehnya, aku sama sekali tidak bisa membaca tulisan pada batu nisan itu dengan jelas. Penglihatanku terasa kabur, seolah ada sesuatu yang menghalangi mataku untuk memahami apa yang tertulis di sana.
Apakah batu nisan ini benar-benar milikku?
Atau milik orang lain?
Aku mencoba berdiri, tetapi tubuhku terasa berat. Setiap gerakan terasa asing, seakan tubuh ini belum terbiasa menerima kenyataan bahwa aku masih bisa berpikir.
Saat akhirnya berhasil menegakkan tubuh, aku melihat sekeliling.
Beberapa orang asing berpakaian hitam berdiri mengelilingiku seperti para pelayat atau peziarah.
Namun ada yang aneh.
Aku tidak melihat seorang pun pendeta.
Tidak ada satu wajah pun yang kukenali sebagai keluargaku.
Bahkan tidak ada bunga yang biasanya menghiasi sebuah makam.
Hanya mereka.
Dan yang lebih aneh lagi, aku tidak bisa melihat wajah mereka dengan jelas. Sosok-sosok itu tampak samar, seolah tertutup kabut tipis yang menghalangi pandanganku.
Salah seorang dari mereka melangkah maju dan mengulurkan tangan.
Entah mengapa, meskipun wajahnya tidak terlihat, aku dapat merasakan ketenangan dari dirinya. Sangat tenang. Terlalu tenang. Seakan semua yang terjadi di tempat ini adalah hal yang biasa.
“Selamat atas hari kematianmu.”
Aku menatapnya tanpa mengerti
“apa?”
Aku dapat melihat setidaknya pria itu tersenyum tipis kepadaku.
“Dan selamat datang di CIDP.”
“CIDP?”
“Central Institute for Dispersed Phenomena”
Aku hendak bertanya lagi Ketika ia menunjukkan jarinya ke arah batu nisan di belakangku
“Pertanyaanmu bisa menunggu. Untuk saat ini mari ikutlah denganku”
Dan entah mengapa, di tengah kebingungan yang memenuhi pikiranku, aku merasa bahwa mengikuti orang asing ini adalah satu-satunya pilihan yang kumiliki.
Aku pun melangkah mengikutinya.
Kami meninggalkan area pemakaman beserta para ‘pelayat’ dan memasuki sebuah jalan setapak yang membelah hutan.
Aku sebenarnya ingin bertanya mengapa aku berada disini dan kenapa ada pemakaman di tengah hutan seperti ini, bukankah aku sudah mati.
“Mati?”
“apakah aku benar benar sudah mati? Bagaimana aku bisa mati?” aku reflek mengeluarkan suaraku karena aku sadar bahwa aku tidak dapat mengingat apapun sebelum ‘kematianku’
“Kau akan paham dalam waktu dekat nak, untuk saat ini jangan sampai kehilangan pandangan kepadaku atau kau akan tersesat di hutan ini”
Setelah mendengarkan apa yang dia bicarakan aku pun tidak bertanya sekali lagi, jika aku benar benar sudah mati ini mungkin tempat dimana dosa dosa dan pahalaku akan dipertimbangkan.
Setelah beberapa saat orang itu berbicara.
“kau benar benar tidak bertanya? Hmm kau berbeda dari yang lain”
“kau kata aku akan paham nantinya, baiklah …. Kita mau kemana?”
Pria itu pun akhirnya berkata sambal tersenyum
“Menuju tempat dimana kau akan mendapatkan jawabanmu”
“sesuatu yang berhubungan dengan …. Apa tadi? CIDP?”
Aku menjawab sekaligus bertanya balik
“Sebagian”
“Sebagian?”
Aku menjawab dengan ekspresi tidak paham
“Kita telah sampai.”
Pria itu berhenti berjalan.
Aku yang sedari tadi hanya fokus mengikuti langkahnya akhirnya mengangkat kepala.
Dan untuk sesaat, aku terdiam.
Di hadapanku berdiri sebuah bangunan megah yang menjulang tinggi di tengah hutan. Arsitekturnya mengingatkanku pada universitas-universitas tua yang sering kulihat di internet. Dinding batu berwarna abu-abu, menara-menara tinggi, serta jendela-jendela besar yang memantulkan cahaya langit yang entah mengapa terasa terlalu pucat.
Aku bahkan tidak menyadari kapan hutan di sekitar kami berakhir.
Seolah-olah bangunan ini memang selalu berada di sana.
“Tempat... apa ini?”
Pria itu menoleh kepadaku.
Untuk pertama kalinya, kabut yang menyelimuti wajahnya tampak sedikit memudar.
“Selamat datang di Lethe University”
Aku mengernyit.
“Universitas?”
“ya”
Aku kembali menatap bangunan raksasa itu.
Semakin lama kulihat, semakin banyak hal aneh yang kusadari.
Beberapa jendela tampak berada di tempat yang mustahil.
Salah satu menara terlihat lebih tinggi setiap kali aku mengedipkan mata.
Dan sesaat aku yakin melihat sebuah pintu muncul begitu saja di salah satu dinding sebelum menghilang kembali.
“Ini tidak terlihat seperti universitas.”
“Karena ini memang bukan universitas biasa.”
Pria itu melangkah melewatiku menuju gerbang utama.
“Lethe University didirikan untuk mempelajari, memahami, dan menghadapi Dispersion Phenomena.”
“Dispersion?”
“Kau akan mempelajarinya nanti.”
Aku mendecih pelan.
“Semua jawabannya selalu 'nanti'.”
Pria itu terkekeh.
“Karena jika aku menjelaskan semuanya sekarang, kau tidak akan memahaminya.”
Kami berhenti di depan gerbang besi hitam yang menjulang tinggi.
Di atas gerbang itu terukir sebuah lambang berbentuk lingkaran yang retak menjadi beberapa bagian.
Di bawahnya terdapat sebuah kalimat.
REMEMBER, OR BE FORGOTTEN.
Ingatlah, atau jadilah yang dilupakan.
Entah mengapa, bulu kudukku meremang saat membacanya.
“Apa maksudnya?”
Pria itu terdiam beberapa saat.
Kemudian ia menjawab dengan suara yang jauh lebih serius dibanding sebelumnya.
“Di dunia ini, ada nasib yang lebih buruk daripada kematian.”
Aku menoleh kepadanya.
“Yaitu?”
“Ketika dunia melupakan bahwa kau pernah ada."
“Dan itulah kita.”
Aku membeku.
“Apa?”
Untuk pertama kalinya, senyum pria itu menghilang.
“Tidak seorang pun di dunia luar mengingat kami.”
“Keluarga kami tidak mengingat kami.”
“Teman-teman kami tidak mengingat kami.”
“Bahkan sejarah perlahan melupakan bahwa kami pernah hidup.”
Ia menatapku.
“Dan sekarang... kau adalah salah satu dari kami.”
“Kau adalah The Keeper of Names.”
Aku menatapnya selama beberapa detik.
Menunggu penjelasan.
Namun pria itu hanya diam.
“...Apa itu?”
“Gelar yang sudah lama tidak memiliki pemilik.”
Aku mengernyit.
“Dan kenapa kau mengatakannya kepadaku?”
“Karena itu adalah dirimu.”
“Aku bahkan tidak tahu namaku sendiri.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Justru itulah alasannya.”
Angin dingin berembus melewati gerbang Lethe University.
Entah kenapa, suasana di sekitarku terasa berubah.
Untuk pertama kalinya sejak aku terbangun di makam itu, para mahasiswa yang berjalan di halaman universitas terlihat jelas.
Dan saat mereka melewatiku, aku mendengar sesuatu yang aneh.
Mereka berbisik.
“Dia sudah datang.”
“Keeper yang baru.”
“Setelah sekian lama...”
“Akhirnya.”
Jantungku berdegup semakin cepat.
Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Aku tidak mengerti siapa diriku.
Aku tidak mengerti kenapa aku mati.
Dan aku sama sekali tidak mengerti mengapa semua orang di tempat ini seolah telah menungguku.
Pria itu mendorong gerbang Lethe University.
Gerbang besi hitam itu terbuka perlahan.
“Masuklah.”
Aku menatap kegelapan yang terbentang di balik gerbang.
“Jawaban yang kau cari berada di dalam.”
Aku melangkah maju.
Dan tanpa kusadari, kehidupan keduaku dimulai pada hari kematianku.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play