Mentari pagi baru saja muncul di balik deretan gedung kota ketika suara alarm membangunkan Aruna. Gadis berusia enam belas tahun itu mengerjapkan mata perlahan sebelum meraih ponselnya yang terus bergetar di atas meja kecil di samping tempat tidur.
06.00.
"Astaga... telat lagi."
Aruna buru-buru bangkit. Rambut hitamnya yang sedikit bergelombang masih berantakan. Ia mengikatnya asal dengan karet rambut, lalu berlari menuju kamar mandi.
Di lantai bawah, aroma nasi goreng buatan ibunya memenuhi rumah.
"Aruna! Cepat turun! Nanti ketinggalan bus!" teriak sang ibu dari dapur.
"Iya, Bu!"
Beberapa menit kemudian, Aruna sudah duduk di meja makan dengan seragam putih abu-abunya yang masih tampak sedikit kusut karena terburu-buru.
"Kamu tidur larut lagi?" tanya ibunya sambil menuangkan segelas susu.
Aruna hanya tersenyum kecil.
"Ngerjain tugas Bahasa Indonesia."
Ibunya menghela napas.
"Jangan terlalu dipaksakan. Nilai memang penting, tapi kesehatan juga."
"Iya, Bu."
Aruna mengangguk. Ia memang terbiasa menyimpan banyak hal sendiri. Bagi teman-temannya, Aruna adalah siswi yang selalu ceria, mudah tersenyum, dan jarang mengeluh. Padahal di balik semua itu, ia sering memikirkan banyak hal.
Mulai dari nilai sekolah, harapan kedua orang tuanya, hingga masa depan yang masih terasa begitu jauh.
Setelah berpamitan, Aruna segera menaiki bus sekolah yang sudah menunggu di ujung jalan.
Hari itu tampak seperti hari biasa.
Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya... sampai bel istirahat pertama berbunyi.
Koridor SMA Bintang Harapan dipenuhi suara siswa yang berlarian keluar kelas.
Ada yang menuju kantin.
Ada yang bermain basket.
Ada juga yang memilih pergi ke perpustakaan.
Aruna termasuk yang terakhir.
Ia membawa tiga buku yang harus dikembalikan hari itu. Sambil berjalan cepat, matanya sibuk membaca pesan dari sahabatnya, Naya.
Naya Run, nanti ke kantin ya! Aku lapar banget!
Aruna tertawa kecil.
Aruna Sebentar. Balikin buku dulu.
Tanpa sadar, langkahnya semakin cepat.
Bruk!
Seseorang menabraknya tepat di tikungan koridor.
Buku-buku yang dibawanya jatuh berserakan hingga memenuhi lantai.
"Aduh..."
Aruna memejamkan mata sejenak.
"Maaf! Aku benar-benar nggak lihat!"
Suara laki-laki itu terdengar panik.
Aruna membuka mata perlahan.
Seorang siswa laki-laki sudah berjongkok lebih dulu, memunguti buku-buku yang berserakan.
"Ini bukunya..."
Tangannya menyodorkan sebuah novel yang tadi jatuh.
"Maaf ya. Aku buru-buru."
Aruna menerima buku itu sambil tersenyum tipis.
"Nggak apa-apa."
Saat keduanya sama-sama hendak mengambil buku terakhir, tangan mereka hampir bersentuhan.
Aruna refleks menarik tangannya.
Sedangkan laki-laki itu hanya tersenyum kecil.
Senyuman yang sederhana.
Namun entah kenapa terasa begitu hangat.
"Aku Kai."
Laki-laki itu mengulurkan tangan.
Aruna menatapnya beberapa detik sebelum akhirnya membalas uluran tersebut.
"Aruna."
"Senang kenal kamu."
"Senang kenal juga."
Untuk beberapa saat, keduanya hanya saling diam.
Suasana koridor yang tadinya ramai mendadak terasa sunyi di telinga Aruna.
Entah kenapa.
Ada sesuatu dari tatapan Kai yang sulit dijelaskan.
Tatapannya tenang.
Tidak berlebihan.
Tetapi cukup membuat Aruna merasa gugup.
"Oke... aku duluan ya. Sekali lagi maaf."
Kai melangkah pergi.
Namun baru beberapa langkah, ia berbalik.
"Oh iya."
Aruna menoleh.
"Kamu lupa satu buku."
Kai mengangkat sebuah buku kecil berwarna biru yang ternyata masih tertinggal di dekat kakinya.
Aruna menepuk dahinya pelan.
"Astaga... makasih."
"Sama-sama."
Kai tersenyum sekali lagi sebelum benar-benar menghilang di balik keramaian koridor.
Aruna memperhatikan punggungnya hingga tak terlihat lagi.
"Run!"
Suara Naya membuat Aruna tersentak.
Naya datang sambil membawa dua gelas es teh.
"Kamu ngapain bengong?"
"Hah? Nggak..."
"Tadi ngobrol sama siapa?"
Aruna menggeleng.
"Nggak kenal."
Naya menyipitkan mata.
"Serius?"
"Iya."
"Tapi kok mukamu merah?"
Aruna spontan menyentuh pipinya sendiri.
"Hah? Merah?"
Naya tertawa puas.
"Wah... baru ketabrak aja udah salah tingkah."
"Apaan sih!"
Aruna memukul pelan bahu sahabatnya.
Mereka pun berjalan menuju kantin tanpa menyadari bahwa pertemuan singkat beberapa menit yang lalu...
Akan menjadi awal dari kisah yang mengubah hidup mereka selamanya.
Aruna berdiri beberapa detik di tempatnya, memperhatikan punggung Kai yang semakin jauh hingga menghilang di balik keramaian koridor. Entah kenapa, ia merasa pertemuan itu berlangsung terlalu cepat. Padahal mereka hanya saling bertukar nama dan beberapa kalimat singkat.
"Run!"
Suara Naya membuat Aruna kembali tersadar.
"Kamu masih bengong aja. Ayo, nanti kantinnya penuh."
"Iya, iya."
Mereka berjalan berdampingan menyusuri koridor menuju kantin. Di sepanjang jalan, Naya tak berhenti melirik Aruna dengan senyum jahil.
"Jadi... namanya Kai?"
Aruna menoleh cepat.
"Kok kamu tahu?"
"Tadi aku denger."
"Oh..."
"Hmm... lumayan juga."
"Maksudnya?"
"Ya... lumayan ganteng."
Aruna spontan memutar bola matanya.
"Apaan, sih."
Naya tertawa kecil.
"Tenang aja. Aku nggak ngambil kok."
Aruna hanya menggeleng pelan. Ia sendiri tidak tahu kenapa wajahnya terasa hangat setiap kali nama itu disebut.
Setibanya di kantin, mereka memilih meja yang berada di dekat jendela. Dari sana, lapangan basket sekolah terlihat jelas. Beberapa siswa sedang bermain sambil disoraki teman-temannya.
"Aku beli makan dulu, ya," ucap Naya.
"Hm."
Aruna mengangguk pelan.
Sambil menunggu sahabatnya kembali, ia memandang ke arah lapangan tanpa tujuan. Namun tanpa sengaja, pandangannya berhenti pada seseorang yang berdiri di pinggir lapangan.
Kai.
Laki-laki itu sedang berbicara dengan beberapa siswa lain yang mengenakan lencana OSIS. Sesekali ia tertawa kecil mendengar candaan teman-temannya.
Tanpa sadar, Aruna memperhatikan sosok itu lebih lama dari yang seharusnya.
"Run."
Suara Naya terdengar tepat di samping telinganya.
Aruna tersentak.
"Kaget, tahu."
Naya meletakkan semangkuk bakso di atas meja.
"Dari tadi ngelihatin siapa?"
"Nggak ngelihatin siapa-siapa."
"Oh ya?"
Naya mengikuti arah pandangan Aruna, lalu tersenyum penuh arti.
"Itu, kan?"
Aruna langsung mengalihkan pandangannya.
"Aku cuma kebetulan lihat."
"Hmm... kebetulan."
Aruna mendesah pelan. Ia tahu sahabatnya tidak akan berhenti menggoda.
"Udah, makan aja."
"Oke, Bu Aruna."
Mereka pun mulai makan sambil membicarakan tugas sekolah. Obrolan ringan itu perlahan membuat Aruna melupakan rasa gugupnya.
Bel masuk kembali berbunyi.
Seluruh siswa beranjak meninggalkan kantin.
Saat Aruna dan Naya hampir tiba di depan kelas, terdengar seseorang memanggil dari belakang.
"Aruna!"
Keduanya menoleh bersamaan.
Kai berlari kecil menghampiri sambil membawa sebuah buku catatan berwarna biru.
"Kamu tadi ketinggalan ini."
Mata Aruna membulat.
"Itu... bukuku."
"Tadi jatuh waktu kita tabrakan. Baru sadar pas aku mau masuk kelas."
Aruna menerima buku itu dengan kedua tangan.
"Untung kamu nemuin. Aku bahkan nggak sadar kalau buku ini hilang."
Kai tersenyum tipis.
"Lain kali jangan buru-buru."
"Iya."
Untuk beberapa saat, tak ada satu pun yang berbicara. Angin yang berembus pelan membuat suasana terasa sedikit canggung.
"Oke... aku balik ke kelas dulu."
"Terima kasih, Kai."
"Sama-sama."
Kai mengangkat tangan kecil sebagai salam sebelum berbalik pergi.
Aruna memandangi buku catatan yang kini kembali berada di tangannya. Di sudut sampulnya tertulis namanya dengan tinta hitam.
Entah mengapa, senyum kecil tanpa sadar terlukis di wajahnya.
Ia sama sekali belum mengenal Kai.
Namun, pertemuan yang awalnya terasa seperti kebetulan itu mulai menimbulkan rasa penasaran yang perlahan tumbuh di dalam hatinya.
Aruna menarik napas pelan sebelum melangkah memasuki kelas. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua itu hanyalah sebuah kebetulan. Namun, jauh di dalam hatinya, ia tahu pertemuan hari itu akan menjadi awal dari kisah yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya.
Pelajaran sore berlangsung lebih tenang dari biasanya. Sinar matahari yang masuk melalui jendela kelas perlahan berubah menjadi jingga, menciptakan bayangan panjang di lantai. Suasana yang hangat itu justru membuat Aruna sulit berkonsentrasi.
Beberapa kali ia membuka buku catatan berwarna biru yang tadi dikembalikan Kai. Tidak ada yang berubah dari buku itu, tetapi entah mengapa, setiap melihat sampulnya, ia kembali mengingat senyum laki-laki tersebut.
"Run."
Naya berbisik pelan.
"Hm?"
"Kamu yakin nggak kenapa-kenapa?"
Aruna mengangguk cepat.
"Nggak kok."
"Tapi dari tadi kamu senyum sendiri."
Mendengar itu, Aruna spontan menyentuh sudut bibirnya.
"Emang iya?"
"Iya."
Aruna buru-buru menundukkan kepala sambil berpura-pura membaca buku. Naya hanya tertawa pelan melihat tingkah sahabatnya.
Bel pulang akhirnya berbunyi.
Suara riuh siswa memenuhi lorong sekolah. Sebagian langsung menuju gerbang, sebagian lagi berkumpul di lapangan untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.
"Run, aku duluan ya!" seru Naya.
"Hati-hati!"
"Kamu juga."
Aruna melangkah sendirian menuju halte bus sekolah. Angin sore bertiup lembut, membuat beberapa helai rambutnya terurai dari ikatan.
Saat melewati taman sekolah, langkahnya tanpa sengaja melambat.
Di bangku kayu dekat taman, seseorang sedang duduk sambil membaca buku.
Kai.
Laki-laki itu tampak begitu serius hingga tidak menyadari kehadiran Aruna.
Aruna sempat ragu.
Haruskah ia menyapa?
Atau lebih baik langsung pergi?
Belum sempat memutuskan, Kai lebih dulu mengangkat wajahnya.
Tatapan mereka kembali bertemu.
"Hai," ucap Kai sambil menutup bukunya.
"Hai."
"Kamu belum pulang?"
"Nunggu bus."
"Oh, sama. Aku juga."
Aruna menunjuk buku yang dipegang Kai.
"Kamu suka baca di taman?"
Kai mengangguk.
"Di sini lebih tenang."
"Aku juga suka tempat yang tenang."
Kai tersenyum tipis.
"Berarti kita punya satu kesamaan."
Aruna ikut tersenyum.
Untuk beberapa saat, mereka berbincang ringan. Tentang pelajaran yang paling disukai, guru yang paling ramah, hingga makanan favorit di kantin sekolah.
Obrolan sederhana itu membuat waktu terasa berjalan lebih cepat.
Tak lama kemudian, suara mesin bus sekolah terdengar dari kejauhan.
"Itu busmu?" tanya Kai.
"Iya."
Kai berdiri lebih dulu.
"Ayo."
Mereka berjalan berdampingan menuju gerbang.
Sesampainya di depan bus, Aruna menghentikan langkahnya.
"Terima kasih ya... buat bukunya."
Kai menggeleng pelan.
"Nggak perlu berterima kasih berkali-kali."
"Tetap aja."
Kai tersenyum hangat.
"Semoga besok kita nggak tabrakan lagi."
Aruna tertawa kecil.
"Kalau tabrakan lagi gimana?"
Kai berpikir sejenak, lalu menjawab sambil tersenyum jahil.
"Berarti memang takdir."
Ucapan itu membuat Aruna terdiam sesaat.
Pipi gadis itu kembali memanas.
Sebelum sempat membalas, sopir bus memanggil seluruh siswa agar segera naik.
"Aruna! Cepat!"
"Iya!"
Aruna buru-buru menaiki bus.
Saat duduk di dekat jendela, ia kembali menoleh ke luar.
Kai masih berdiri di depan gerbang.
Laki-laki itu mengangkat tangannya pelan, mengucapkan selamat jalan tanpa suara.
Aruna membalas lambaian itu dengan senyum kecil.
Bus mulai bergerak meninggalkan sekolah.
Di sepanjang perjalanan pulang, Aruna memandangi langit sore yang perlahan berubah menjadi jingga kemerahan.
Ia tidak menyangka, hari yang awalnya terasa begitu biasa justru menghadirkan seseorang yang terus memenuhi pikirannya.
Namun, Aruna belum mengetahui satu kenyataan penting.
Pertemuan hari itu bukanlah awal dari kisah cinta yang mudah.
Justru sejak hari itulah, takdir mulai mempertemukannya dengan seseorang yang akan mengajarkan arti mencintai... sekaligus arti melepaskan.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play