Hujan turun sejak sore.
Tidak deras. Tidak juga cukup ringan untuk diabaikan.
Hanya hujan Bandung yang seperti tahu bagaimana caranya membuat malam terasa lebih panjang.
Alya duduk di depan meja kerjanya dengan rambut diikat seadanya. Lampu kamar hanya menyala dari lampu meja kecil di sebelah laptop. Di depannya, sebuah ilustrasi hampir selesai.
Seorang perempuan berdiri sendirian di sebuah halte.
Payung transparan.
Jalanan basah.
Lampu kota yang dibuat buram.
Alya memperbesar gambar.
Menggeser sedikit bagian bahu.
Memperkecil lagi.
Mendengus.
“Ugly.”
Ia menghapusnya.
Menggambar ulang.
“Still ugly.”
Dihapus lagi.
Alya menyandarkan punggung ke kursi.
Jam di sudut laptop menunjukkan 23.41.
Deadline besok siang.
Klien pasti akan bertanya kenapa ilustrasinya belum selesai.
Dan Alya pasti akan mengatakan hal yang sama seperti biasanya.
Sorry, I had some revisions.
Padahal sebenarnya ia hanya terlalu banyak berpikir.
Tentang warna.
Tentang garis.
Tentang apakah ekspresi karakter itu terlihat sedih atau hanya terlihat seperti orang kurang tidur.
Tentang hal-hal yang sebenarnya tidak perlu dipikirkan.
Alya mengambil gelas kopi di samping laptop.
Dingin.
Ia menyesap sedikit.
“Great.”
Ia kembali melihat layar.
Kemudian ponselnya bergetar.
Bukan pesan.
Hanya notifikasi Instagram.
Alya membuka aplikasi itu dengan satu tangan.
Ia baru saja mengunggah ilustrasi tersebut beberapa detik lalu.
Tanpa caption.
Tanpa penjelasan.
Hanya gambar.
Kadang ia merasa karya yang terlalu banyak dijelaskan justru kehilangan sesuatu.
Ia membuka kolom komentar.
Kosong.
Alya mengangguk.
“Of course.”
Ia meletakkan ponsel.
Lima detik kemudian mengambilnya lagi.
Masih kosong.
“Wow. Pathetic.”
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Lalu kembali menggambar.
Di New York, hari baru saja dimulai.
Ethan Carter berdiri di trotoar Manhattan dengan kamera menggantung di leher dan secangkir kopi di tangannya.
Udara pagi cukup dingin.
Orang-orang berjalan cepat di sekelilingnya.
Tak ada yang benar-benar memperhatikan satu sama lain.
New York selalu seperti itu.
Semua orang punya tempat untuk pergi.
Semua orang sedang terlambat.
Semua orang terlihat sibuk.
Ethan justru berhenti.
Ia mengangkat kamera.
Click.
Sebuah taksi kuning melintas.
Click.
Seorang perempuan membawa dua gelas kopi sambil berlari menyeberang jalan.
Click.
Lampu lalu lintas berubah merah.
Ethan memasukkan kameranya kembali.
Ponselnya bergetar.
Ia membuka Instagram sambil berjalan.
Scroll.
Scroll.
Scroll.
Sampai jarinya berhenti.
Sebuah ilustrasi muncul di layar.
Halte.
Hujan.
Seorang perempuan sendirian.
Lampu-lampu kota terlihat buram di belakangnya.
Ethan memperhatikan gambar itu lebih lama daripada postingan lain yang baru saja ia lihat.
Ada sesuatu yang sederhana.
Tapi juga sepi.
Ia membuka profil pembuatnya.
Alya Maheswari.
Bio-nya pendek.
Illustrator | Bandung
Ethan mengangkat alis.
“Bandung?”
Ia pernah mendengar nama kota itu.
Entah dari mana.
Mungkin dari sebuah video perjalanan.
Mungkin dari internet.
Ia tidak yakin.
Ia kembali melihat ilustrasinya.
Jarinya bergerak ke kolom komentar.
Mengetik:
This feels lonely. In a good way.
Ia membaca ulang.
Terlalu sok puitis.
Hapus.
Ia mengetik lagi.
I really like the lighting.
Kirim.
Sederhana.
Aman.
Selesai.
Ethan memasukkan ponselnya ke saku.
Lalu berjalan lagi.
Di Bandung, Alya sedang berdiri di depan wastafel ketika ponselnya bergetar.
Ia melihat notifikasi.
@ethancarter commented on your post.
Alya membukanya.
I really like the lighting.
Ia membuka profil Ethan.
Laki-laki.
23, mungkin.
Foto-fotonya sebagian besar tentang kota.
New York.
Subway.
Kedai kopi.
Gedung-gedung tinggi.
Beberapa foto manusia yang tidak diketahui Alya.
Dan hampir semuanya terlihat seperti potongan adegan film.
Alya kembali ke komentarnya.
Ia mengetik:
Thank you.
Berhenti.
Terlalu formal.
Ia menambahkan:
I wasn't sure about the lighting, actually.
Kirim.
Alya menatap layar.
Tidak ada balasan.
“Okay.”
Ia kembali ke meja.
Duduk.
Membuka aplikasi gambar.
Tiga puluh detik.
Ponselnya bergetar.
Alya langsung melihatnya.
Ia bahkan tidak sempat berpura-pura tidak menunggu.
Balasan Ethan muncul.
Then you were overthinking it.
Alya mengerutkan dahi.
Senyum kecil muncul.
Ia mengetik:
Maybe.
Balasan datang cepat.
Definitely.
Alya tertawa pelan.
Kemudian mengetik:
Do you draw too?
Tiga titik muncul.
Hilang.
Muncul lagi.
Not really. I take pictures. Does that count?
Alya bersandar di kursi.
Ia mengetik:
No.
Beberapa detik.
Wow. Harsh.
Alya tertawa lagi.
You asked.
Balasan datang hampir seketika.
Fair enough.
Kemudian:
So what counts as drawing?
Alya memandang ilustrasinya.
Ia berpikir sebentar sebelum menjawab.
Making something that wasn't there before.
Kali ini Ethan tidak langsung menjawab.
Ia sudah sampai di apartemen ketika membaca pesan itu lagi.
Making something that wasn't there before.
Ethan duduk di tepi tempat tidur.
Ia membaca kalimat tersebut sekali.
Kemudian sekali lagi.
Tidak tahu kenapa kalimat sederhana dari orang asing membuatnya berhenti.
Ia mengambil kamera.
Berjalan ke jendela.
New York terlihat dari atas sana.
Gedung-gedung.
Lampu.
Kendaraan.
Orang-orang yang terlalu kecil untuk dikenali.
Ia mengambil satu foto langit.
Mengirimkannya.
Like this?
Di Bandung, Alya menerima foto itu.
Langit New York.
Tidak ada yang istimewa.
Setidaknya secara objektif.
Tetapi Alya memperhatikannya cukup lama.
Kemudian ia berjalan ke jendela kamar.
Hujan masih turun.
Ia mengambil foto langit Bandung.
Gelap.
Abu-abu.
Sedikit cahaya dari rumah tetangga.
Ia mengirimkannya.
Like this.
Ethan tersenyum.
Okay. I think I'm getting it.
Alya membalas:
Good student.
Excuse me?
You heard me.
You're bossy.
Alya menahan tawa.
And you're still talking to me.
Ethan terdiam sejenak.
Kemudian mengetik:
Yeah. I noticed.
Alya membaca kalimat itu.
Jarinya berhenti di atas layar.
Ada sesuatu dalam cara Ethan menulis.
Tidak berlebihan.
Tidak mencoba terlalu keras.
Tetapi cukup membuat percakapan terasa ringan.
Ia melihat jam.
00.03.
Alya baru menyadari bahwa mereka sudah berbicara hampir dua puluh menit.
Ia mengetik:
What time is it there?
Balasan:
12:03 PM.
Alya mengerutkan kening.
Wait.
What?
It's noon there?
Yep.
That's weird.
Very.
Alya tersenyum.
It's 12:03 a.m. here.
Ethan membalas:
So we're twelve hours apart.
Apparently.
That's kind of crazy.
Alya melihat hujan di luar jendela.
Kemudian melihat foto langit New York yang masih ada di percakapan mereka.
Dua tempat.
Dua waktu.
Dua orang yang beberapa menit lalu bahkan tidak tahu keberadaan satu sama lain.
Ia mengetik:
So you're basically having lunch while I'm trying to sleep.
And you're probably having coffee while I just finished mine.
Alya melirik gelas kopi dinginnya.
Mine is already dead.
Coffee can die?
This one did.
RIP coffee.
Alya tertawa.
Amen.
Ethan mengirim emoji tertawa.
Kemudian:
So, Alya from Bandung...
Alya membaca namanya.
Ada sesuatu yang aneh ketika seseorang yang baru dikenal menyebut namanya.
Ia mengetik:
Yes?
Why do you draw lonely people?
Senyumnya perlahan hilang.
Pertanyaan sederhana.
Tetapi entah kenapa terasa terlalu dekat.
Alya menatap ilustrasi di layar.
Perempuan di halte itu.
Sendirian.
Menunggu sesuatu.
Atau seseorang.
Ia bisa saja menjawab dengan bercanda.
Bisa mengatakan bahwa itu hanya konsep.
Bisa mengatakan bahwa ia suka hujan.
Tetapi setelah beberapa detik, ia mengetik:
I don't know.
Lalu menghapusnya.
Menulis lagi:
Maybe lonely things are easier to draw.
Ia menekan kirim.
Ethan tidak langsung membalas.
Kali ini Alya tidak menunggu.
Setidaknya ia mencoba untuk tidak menunggu.
Ia mematikan layar laptop.
Merebahkan tubuh ke tempat tidur.
Ponsel masih berada di tangannya.
Beberapa detik kemudian—
ding.
Alya membuka mata.
Pesan Ethan.
Maybe.
Lalu pesan berikutnya:
Good night, Alya.
Alya menatap layar.
Di New York, hari Ethan bahkan belum selesai.
Di Bandung, malam Alya hampir berakhir.
Dua belas jam.
Dua kota.
Satu percakapan yang seharusnya tidak berarti apa-apa.
Alya mengetik:
Good afternoon, Ethan.
Ia berhenti.
Kemudian menambahkan:
See you tomorrow.
Kirim.
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
Yeah. See you tomorrow.
Alya tersenyum kecil.
Ia tidak tahu kenapa ia mengatakan see you tomorrow.
Mereka bahkan tidak tahu apakah besok akan berbicara lagi.
Tetapi malam itu, sebelum benar-benar tidur, Alya membuka percakapan mereka sekali lagi.
Dua foto langit masih berada di sana.
Bandung.
New York.
Tidak ada yang istimewa.
Hanya dua langit dari dua sisi dunia yang berbeda.
Alya mematikan layar.
Dan untuk pertama kalinya setelah beberapa waktu, ia tidur tanpa merasa perlu memikirkan apa pun.
Sementara di New York, Ethan masih duduk di dekat jendela.
Menatap foto langit dari Bandung yang baru saja dikirim seseorang yang bahkan belum pernah ia temui.
Ia tersenyum.
Lalu bergumam pelan,
“See you tomorrow.”
Padahal mereka belum tahu—
besok akan menjadi awal dari kebiasaan yang jauh lebih sulit untuk dihentikan.
Alya bangun karena suara hujan.
Bukan alarm.
Bukan suara kendaraan dari jalan depan rumah.
Hujan.
Ia membuka mata perlahan dan menatap langit-langit kamar yang masih gelap. Untuk beberapa detik, ia lupa hari apa sekarang.
Tangannya meraba-raba meja di samping tempat tidur.
Ponsel.
07.12.
Terlalu pagi.
Alya menarik selimut sampai dagu.
Lima menit lagi.
Itu yang selalu ia katakan.
Lima menit kemudian, ia akan bangun.
Lima menit kemudian, ia akan mandi.
Lima menit kemudian, ia akan membuka laptop.
Lima menit kemudian—
Ponselnya bergetar.
Alya membuka satu mata.
Sebuah notifikasi.
Instagram.
Dari Ethan.
Ia mengernyit.
Membuka pesan.
Good morning, Bandung.
Alya melihat jam.
Kemudian melihat pesan itu lagi.
07.13.
Ia mengetik dengan mata setengah tertutup.
It's morning here.
Balasan datang.
Exactly. Good morning.
Alya tersenyum kecil.
What time is it there?
7:13 PM.
Alya berhenti.
Ia baru sadar.
Tujuh pagi di Bandung.
Tujuh malam di New York.
Kemarin mereka hanya membicarakan perbedaan waktu.
Sekarang perbedaan itu sudah terasa seperti sesuatu yang harus diingat.
Alya mengetik:
You're having dinner?
Trying to.
Trying?
My roommate stole my fries.
Alya tertawa pelan.
That's not a roommate. That's an enemy.
Tiga titik muncul.
Finally. Someone who understands me.
Alya menggigit bibir menahan senyum.
I understand fries. Not you.
Balasan datang beberapa detik kemudian.
Ouch.
Alya meletakkan ponsel di dada.
Aneh.
Mereka baru berbicara semalam.
Tidak sampai satu jam.
Tetapi percakapan itu terasa seperti sesuatu yang sudah berlangsung lebih lama.
Ia bangkit dari tempat tidur.
Di dapur, ibunya sedang membuat sarapan.
“Kamu bangun pagi?”
Alya membuka kulkas.
“Bangun karena hujan.”
“Terus?”
“Terus sadar hidup masih harus dijalani.”
Ibunya tertawa kecil.
“Drama pagi-pagi.”
Alya mengambil air mineral.
Ponselnya kembali bergetar.
Ia melirik.
Do you always wake up this early?
Alya mengetik sambil berjalan kembali ke kamar.
No.
Then why are you awake?
Ia berhenti di depan pintu.
Ada banyak jawaban.
Karena hujan.
Karena kebangun.
Karena kamu mengirim pesan.
Alya memilih yang paling aman.
Because I have class.
Balasan:
Right. College.
How do you remember that?
You told me yesterday.
Alya terdiam sebentar.
Ia memang pernah mengatakan bahwa dirinya mahasiswa.
Tetapi itu hanya percakapan kecil.
Ethan mengingatnya.
Ia tidak tahu kenapa hal sekecil itu membuatnya sedikit senang.
You actually listen.
Sometimes.
That's disappointing.
I'm trying to keep expectations low.
Alya tertawa.
Kemudian ia menyadari sesuatu.
Ia sedang tersenyum melihat layar ponsel.
Sendirian.
Di kamar.
Jam tujuh pagi.
Karena seorang laki-laki yang tinggal di belahan dunia lain membuat lelucon tentang ekspektasi.
Alya menggeleng.
“Ridiculous.”
Hari itu berlalu lebih cepat daripada yang ia kira.
Kampus.
Kelas.
Tugas.
Makan siang yang hampir terlambat.
Satu presentasi yang membuatnya ingin pulang sebelum waktunya.
Namun di sela-sela semuanya, ada satu kebiasaan baru.
Alya sesekali membuka ponselnya.
Tidak selalu ada pesan.
Kadang hanya satu foto dari Ethan.
Sebuah jalan.
Kopi.
Gedung.
Sebuah kamera yang tergeletak di meja.
Tanpa penjelasan.
Alya membalas dengan foto-fotonya sendiri.
Jalan kampus.
Langit.
Kucing yang tidur di bawah kursi.
Makanan.
Kadang tidak ada kata-kata.
Hanya foto.
Aneh.
Mereka seperti sedang menunjukkan kehidupan masing-masing tanpa benar-benar berusaha.
Menjelang sore, Ethan mengirim sebuah foto.
Sebuah bioskop kecil.
Working tonight.
Alya membalas:
You work at a cinema?
Part-time.
That's actually cool.
It's not. People leave popcorn everywhere.
Still cool.
You want free movie tickets?
Alya berhenti.
Kemudian mengetik:
Are you asking me to fly to New York?
Maybe.
Alya tertawa.
Very affordable suggestion.
I know. I'm generous.
I'll let you know when I win the lottery.
Deal.
Percakapan berhenti.
Tidak ada yang aneh.
Tetapi beberapa menit kemudian Alya kembali membuka chat itu.
I'll let you know when I win the lottery.
Ia tidak tahu kenapa kalimat itu membuatnya tersenyum.
Malam datang.
Bandung kembali diguyur hujan.
Alya sedang menyelesaikan tugas ketika notifikasi dari Ethan muncul.
11:42 PM.
Are you awake?
Alya mengetik:
Unfortunately.
Good.
Why?
I need a distraction.
Alya menatap pesan itu.
What happened?
Tidak ada balasan.
Satu menit.
Dua menit.
Kemudian:
Nothing serious. Just had a bad day.
Alya tidak langsung menjawab.
Ia tahu rasanya mengatakan nothing serious ketika sebenarnya sesuatu sedang mengganggu pikiran.
Ia mengetik:
Want to talk about it?
Balasan:
Not really.
Alya mengangguk kecil.
Kemudian:
Okay.
Selesai.
Ia kembali ke tugasnya.
Tidak bertanya lagi.
Tidak memaksa.
Lima menit kemudian—
You didn't ask again.
Alya tersenyum.
You said you didn't want to talk about it.
Most people ask anyway.
I'm not most people.
Pesan itu terkirim sebelum sempat ia pikirkan.
Alya langsung menatap layar.
“Why did I say that?”
Ethan membalas:
No. I guess you're not.
Kemudian:
Can I call you?
Alya membeku.
Mereka belum pernah melakukan panggilan.
Hanya pesan.
Panggilan berarti suara.
Suara berarti sesuatu yang lebih nyata.
Ia melihat jam.
00:07.
Di New York:
12:07 PM.
Alya mengetik:
Now?
If you're okay with it.
Ia menggigit bibir.
Kemudian menekan tombol panggilan.
Suara pertama yang terdengar bukan kata-kata.
Hanya napas.
Kemudian Ethan tertawa kecil.
“Hi.”
Alya menelan ludah.
“Hi.”
Suara Ethan terdengar berbeda dari yang ia bayangkan.
Lebih rendah.
Sedikit serak.
Hangat.
“You sound tired.”
Alya tersenyum.
“So do you.”
“I am.”
“Then why did you call?”
Ada jeda.
“I don't know.”
Alya tertawa pelan.
“Great reason.”
“I know.”
Mereka diam.
Aneh.
Percakapan melalui teks terasa mudah.
Tetapi ketika suara mereka benar-benar bertemu, tiba-tiba keduanya tidak tahu harus berkata apa.
Ethan memecah keheningan.
“So...”
“So?”
“You're real.”
Alya tertawa.
“Unfortunately.”
“That's disappointing.”
“Why?”
“I was hoping you were an AI.”
“I'm sorry to disappoint you.”
Ethan tertawa.
Dan entah kenapa, ketegangan itu menghilang.
Mereka mulai berbicara.
Tentang kelas Alya.
Tentang pekerjaan Ethan.
Tentang makanan.
Tentang cuaca.
Tentang New York.
Tentang Bandung.
Tentang film.
Tentang betapa Alya tidak suka orang yang mengunyah terlalu keras.
Tentang betapa Ethan tidak bisa memasak apa pun selain telur.
Satu jam berlalu.
Kemudian dua.
Alya berbaring di tempat tidur dengan lampu kamar sudah dimatikan.
Ponsel berada di samping telinganya.
“Are you still there?” tanyanya.
“Yeah.”
“Why?”
“I don't know.”
Alya tersenyum dalam gelap.
“That's becoming your favorite answer.”
“Maybe.”
Jam menunjukkan 2:13 A.M.
Alya memejamkan mata.
Di ujung telepon, suara Ethan semakin pelan.
“You should sleep.”
“You too.”
“I have work later.”
“I have class.”
“So we're both stupid.”
“Apparently.”
Mereka tertawa pelan.
Tidak ada pernyataan besar.
Tidak ada janji.
Tidak ada alasan untuk menganggap malam itu penting.
Hanya dua orang asing yang berbicara terlalu lama.
Sampai akhirnya Ethan berkata,
“Good night, Alya.”
Alya membuka mata.
“Good night, Ethan.”
Panggilan berakhir.
Layar ponselnya menjadi gelap.
Alya menatap pantulan wajahnya sendiri di sana.
Ia tersenyum kecil.
Kemudian menarik selimut.
Di New York, Ethan meletakkan ponselnya di meja dan melihat jam.
2:13 P.M.
Ia tersenyum.
Dua belas jam.
Dua kota.
Dua kehidupan yang sama sekali berbeda.
Tetapi malam itu, untuk pertama kalinya, jarak terasa seperti sesuatu yang bisa dilupakan.
Setidaknya selama beberapa jam.
Dan tanpa mereka sadari—
2:13 A.M. akan menjadi waktu yang suatu hari nanti paling mereka rindukan.
Hari ketiga seharusnya tidak berbeda dari hari-hari sebelumnya.
Setidaknya itu yang Alya pikirkan ketika bangun pukul enam lewat empat puluh pagi.
Ia membuka mata.
Menatap langit-langit.
Mengambil ponsel.
Tidak ada notifikasi.
Alya menghela napas lega.
Kemudian mengerutkan kening.
Lega karena apa?
Ia membuka Instagram.
Tidak ada pesan.
Ia membuka WhatsApp.
Tidak ada pesan.
Ia kembali ke Instagram.
Masih tidak ada.
Alya meletakkan ponselnya di atas bantal.
“Kenapa aku nungguin?”
Tidak ada yang menjawab.
Tentu saja.
Ia bangun, mandi, kemudian membuat sarapan.
Setelah hampir dua puluh menit, ia kembali ke kamar.
Ponselnya bergetar.
Alya langsung mengambilnya.
Satu pesan.
Morning.
Ia tersenyum sebelum sempat mencegahnya.
Morning.
Balasan Ethan muncul beberapa detik kemudian.
Did you sleep well?
Not really.
Because of me?
Alya mengangkat alis.
Don't flatter yourself.
Too late.
Alya tertawa.
Kemudian menyadari sesuatu.
Ia bahkan belum menggosok gigi ketika mulai mengobrol dengannya.
“Great.”
Ia menaruh ponsel.
Kemudian mengambilnya lagi.
How's your day?
It's 8 PM here.
Alya berhenti.
Oh. Right.
You're still getting used to the time difference.
Maybe.
You'll get used to it.
Alya membaca kalimat itu.
Entah kenapa terdengar seperti sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perbedaan waktu.
Ia tidak membalas.
Hari itu mereka tidak banyak bicara.
Alya punya kelas dari pagi sampai sore.
Ethan bekerja.
Pesan mereka hanya sesekali muncul.
Have you eaten?
I'm starving.
What are you eating?
Don't judge me.
I'm already judging you.
Tidak ada percakapan panjang.
Tidak ada panggilan.
Namun setiap kali ponsel Alya bergetar, tangannya otomatis mencarinya.
Satu pesan.
Dua pesan.
Kemudian tidak ada lagi.
Alya kembali ke tugas.
Satu jam.
Dua jam.
Tiga jam.
Ketika malam datang, ia baru menyadari bahwa Ethan belum mengirim pesan lagi.
Ia membuka percakapan mereka.
Pesan terakhir:
I'm going back to work. Talk later.
Alya melihat waktu pesan tersebut.
Tiga jam lalu.
Ia mengetik:
Hey.
Ia menatapnya.
Hapus.
Mengetik lagi.
How's work?
Hapus.
“Why am I doing this?”
Ia meletakkan ponsel.
Lima menit kemudian mengambilnya lagi.
Kali ini tidak ada pesan.
Ia menghela napas.
Alya memaksa dirinya kembali menggambar.
Pukul 10:18 PM, sebuah pesan masuk.
I'm alive.
Alya langsung membalas:
Congratulations.
Thank you. It was a difficult journey.
I'm sure.
How was your day?
Alya mulai mengetik.
Kemudian berhenti.
Ia hampir mengatakan bahwa hari ini menyebalkan.
Kelasnya membosankan.
Dosen memberikan tugas tambahan.
Kopinya tumpah.
Temannya membuat kesal.
Tetapi semuanya terasa seperti terlalu banyak informasi untuk seseorang yang baru dikenalnya tiga hari.
Jadi ia memilih:
Fine. Yours?
Balasan Ethan datang:
Long.
That's it?
You asked how it was. I said long.
Alya tertawa kecil.
You're terrible at conversations.
And yet you're still here.
Alya terdiam.
Ia tidak tahu harus membalas apa.
Akhirnya:
Unfortunately.
Sure.
Ia bisa membayangkan Ethan tersenyum.
Aneh.
Ia bahkan belum pernah melihat senyum itu secara langsung.
Pukul 11:47 PM, mereka melakukan panggilan lagi.
Kali ini tidak canggung.
Ethan sedang berjalan pulang.
Suara langkah kakinya terdengar dari seberang telepon.
“You walk everywhere?” tanya Alya.
“Sometimes.”
“Why?”
“New York.”
“That doesn't answer my question.”
“It does if you've lived here long enough.”
Alya tersenyum.
“What's New York like?”
Ethan diam sebentar.
“Loud.”
“That's it?”
“Very loud.”
Alya tertawa.
“Bandung isn't that loud.”
“Then I should visit.”
Kalimat itu terdengar sederhana.
Tetapi Alya terdiam.
Ethan menyadarinya.
“What?”
“Nothing.”
“You went quiet.”
“I was thinking.”
“That's dangerous.”
Alya tertawa.
“Shut up.”
“There she is.”
“Who?”
“The girl from the messages.”
Alya tersenyum.
“I'm the same person.”
“Not exactly.”
“What's different?”
“You're quieter on the phone.”
Alya memandang langit-langit.
“Maybe because I'm thinking in English.”
“Oh.”
“It's tiring.”
“I'm sorry.”
“Don't be. It's good practice.”
“You don't have to speak English perfectly with me.”
Alya tersenyum.
“I know.”
“You can mix it.”
“Like what?”
“I don't know. Teach me Indonesian.”
Alya tertawa.
“You want to learn Indonesian?”
“Maybe.”
“Okay.”
Ethan berhenti berjalan.
“First word.”
Alya berpikir.
“Terima kasih.”
“What does that mean?”
“Thank you.”
“Terima kasih.”
Pengucapannya terdengar sangat buruk.
Alya langsung tertawa.
“No.”
“What?”
“You sound ridiculous.”
“I'm trying!”
“Again.”
“Terima kasih.”
“Better.”
“I'm learning.”
Alya tersenyum.
“Good.”
“What's the next one?”
“Selamat malam.”
“What does that mean?”
“Good night.”
“Selamat malam.”
Alya diam sebentar.
Kemudian menjawab:
“Selamat malam.”
“Was that right?”
“Yeah.”
“Good.”
Mereka diam beberapa detik.
Alya tidak tahu kenapa dua kata sederhana itu terasa berbeda ketika Ethan mengucapkannya.
Hari-hari berikutnya berjalan dengan cara yang hampir sama.
Tidak ada yang pernah mengatakan bahwa mereka akan berbicara setiap hari.
Tidak ada aturan.
Tidak ada jadwal.
Tetapi setiap pagi Alya mulai menemukan satu pesan.
Good morning.
Dan setiap malam Ethan mulai menunggu satu hal.
Foto langit.
Kadang Alya mengirimkannya tanpa kata.
Kadang hanya:
Today was weird.
Ethan akan menjawab:
Want to talk?
Kadang Alya mau.
Kadang tidak.
Begitu pula Ethan.
Mereka tidak selalu menceritakan semuanya.
Tetapi mereka mulai tahu kapan harus bertanya.
Dan kapan harus diam.
Pada hari ketujuh, Ethan mengirim pesan:
Can I ask you something?
Alya sedang berada di perpustakaan.
Ia mengetik:
Sure.
Why do you always send pictures of the sky?
Alya melihat foto terakhir yang baru saja ia kirim.
Langit sore.
Jingga.
Sedikit mendung.
Ia berpikir cukup lama.
I don't know.
You said that before.
Alya tersenyum.
Maybe I don't like saying what I actually mean.
Pesan itu membuat Ethan berhenti.
Kemudian:
What do you mean when you send me the sky?
Alya melihat sekeliling.
Orang-orang sibuk membaca.
Tidak ada yang memperhatikannya.
Ia mengetik:
Sometimes I just want someone to know what I'm looking at.
Tiga titik muncul.
Hilang.
Kemudian muncul lagi.
I like that.
Alya tersenyum.
Good.
I'll send you one too.
Beberapa detik kemudian sebuah foto masuk.
Langit New York.
Dari sela gedung-gedung tinggi.
Tidak sebagus foto Alya.
Tetapi ia menyukainya.
It's pretty.
You think so?
Yeah.
Then I'll send you one tomorrow.
Alya berhenti.
Besok.
Satu kata sederhana.
Tetapi mulai hari itu, ada sesuatu yang berubah.
Mereka tidak lagi sekadar berbicara ketika kebetulan sedang online.
Mereka mulai menunggu.
Menunggu pagi.
Menunggu malam.
Menunggu foto.
Menunggu suara.
Menunggu satu sama lain.
Dan tanpa pernah membicarakannya, sebuah kebiasaan kecil mulai tumbuh di antara dua kota yang berbeda.
Alya tidak menyadari kapan tepatnya Ethan menjadi bagian dari rutinitasnya.
Mungkin ketika ia mulai melihat ponselnya sebelum membuka mata sepenuhnya.
Mungkin ketika ia mulai mencari foto langit yang bagus hanya untuk dikirim kepadanya.
Atau mungkin ketika suatu malam, setelah percakapan mereka selesai, Alya meletakkan ponselnya di samping bantal dan berpikir:
Besok dia pasti mengirim pesan lagi.
Ia tidak tahu bahwa di New York, Ethan sedang melakukan hal yang sama.
Mereka belum menyebutnya rindu.
Belum menyebutnya suka.
Belum menyebutnya apa-apa.
Hanya sebuah kebiasaan.
Setidaknya untuk sekarang.
Download NovelToon APP on App Store and Google Play