......~°•°•°•°•°~......
Eissa. Gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin. Memastikan apakah penampilannya sudah cukup atau memerlukan beberapa polesan lagi. Entahlah, padahal setiap hari ia menggunakan seragam yang itu-itu saja dan make up yang tak lebih dari sekedar bedak bayi dan lip balm.
Ya. Itulah perempuan.
Tok tok
"Woi Adek! Gece cepetan lagi berak lu ya?!"
Gadis itu memutar bola matanya jengah. Kakak gila disiplinnya itu benar-benar. Sudah keberapa kalinya Ashlan menggedor-gedor pintu kamarnya. Ia segera mangambil tasnya dan berjalan keluar kamar.
"Ah buru-buru banget si Kak! baru jam tujuh kurang juga!"
Ashlan menghembuskan napasnya kasar. "Hari ini gue yang nganter lu bukan Zander pe'a! Jadi jangan nyantai gini!"
Eissa memberengut. Memang hari ini kebetulan ia diharuskan berangkat bersama Ashlan karena Kakak sulungnya itu harus mengikuti sebuah pertemuan di kantornya pagi ini.
"Emang gue gak pernah nyamain Kakak sama Kak Zander! Orang gila disiplin dan selalu kaku! Gak bisa nyantai sedikit!"
Ashlan tak membalas perkataan Eissa. Begitu pula sebaliknya, gadis berambut sepunggung ini tak ada niatan untuk meminta maaf, meski menyadari bahwa perkataannya kelewatan.
Emang kenyataan kok -Eissa
Setelah hening beberapa saat, akhirnya Maura datang memecah kesunyian. Tanpa menunggu apapun, Eissa langsung menyambar tangan ringkih Mamanya itu.
"Kok belum berangkat ini?"
"Hehehe ini juga mau berangkat kok Ma!"
Maura hanya tersenyum. Detik selanjutnya anak keduanya ikut menyalami tangannya. Wanita itu kemudian meminta Eissa untuk menuntun kursi rodanya hingga sampai ke teras rumah.
"Belajar yang rajin ya." Pesan Maura yang selalu ia ucapkan setiap hari pada putri bungsunya. Meskipun tahu bahwa gadis kecilnya ini pastinya selalu giat belajar, namun entah kenapa, rasanya ia perlu untuk mengucapkan kata-kata itu bahkan setiap hari. Seperti merasa bahwa nanti ada masanya ia tidak bisa mengatakannya lagi. Eissa segera melakukan sikap hormatnya dan berkata, "Siap, Komandan!"
Selama di perjalanan, tak ada percakapan dari kedua kakak beradik itu. Entahlah karena Ashlan yang terlalu fokus menyetir, Eissa yang sibuk memainkan ponselnya, atau kecanggungan mereka akibat insiden tadi.
Namun setelah hening beberapa saat, akhirnya Ashlan membuka obrolan.
"Nanti lo ya yang anterin Mama terapi."
Eissa menghentikan aktifitasnya. Kini fokusnya teralih pada wajah tampan Kakaknya itu. Seolah mengerti akan tatapan yang adiknya berikan, Ashlan pun menjawab. "Gue bakal lembur sampe malem."
Gadis itu pun kembali memfokuskan matanya pada jalanan. Sial, kenapa ia bisa melupakan hal sepenting ini?
"Kak...."
"Hmm."
Eissa memelintir tali tasnya. Bingung antara bertanya atau tidak usah. Ya, gadis itu sadar betul kalau belakangan ini ia lebih mementingkan kehidupan pribadinya dibanding ibunya yang sakit-sakitan. Ia terdiam sebentar, sebelum akhirnya bertanya.
"Mama...ada perkembangan?"
Ashlan tidak langsung menjawab. Ia masih fokus menyetir. Setelah Mereka sudah sampai di depan sekolah Eissa, laki-laki itu mengusap pelan kepala adiknya seraya tersenyum penuh arti.
"Do'a terus ya dek. Cuma itu yang bisa kita lakukan sekarang."
......~°•°•°•°•°~......
Was wes wos
"Hei Sa!"
Panggilan Bethany berhasil membuyarkan lamunan gadis itu. Eissa mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu menatap sahabatnya yang sedang melambaikan tangan tepat di depan wajahnya.
"Lo kenapa? dari mulai pelajaran sampe sekarang ngelamun terus."
Tatapan gadis itu beralih ke Tifanny, saudara kembar Bethany. Ah iya, dipikir-pikir, sejak ia turun dari mobil, pikirannya sudah melayang entah kemana.
"Jangan-jangan lo gak dengerin pelajaran tadi ya sa?" Tebak Bethany yang hanya bercanda. Tapi setelah melihat Eissa terdiam, senyuman mengejek itu menghilang.
"Jadi beneran anj*r? pelajaran tadi gaada yang masuk ke otak lo?"
Gadis itu tetap diam. Masa bodo dengan materi pada jam pelajaran tadi. Ia lalu menyendokkan nasi goreng yang sudah mulai dingin itu ke mulutnya.
"Jangan-jangan, lo juga ga dengerin pesan Bu Nata tadi juga?"
Eissa menggantungkan tangannya diudara. Pesan? Pesan apa?
"Pesan apaan?"
Baik Bethany maupun Tifanny saling bertatapan selama beberapa saat. Lalu fokus keduanya teralih pada Eissa yang menunggu jawaban dari mereka. Dua kembar itu saling sikut berdebat siapa yang akan memberitahunya duluan. Pada akhirnya, Tifanny mengalah dan menjelaskannya pada Eissa.
"Lo disuruh bantuin Bu Nata buat rekap nilai PTS kemarin."
Itu doang?
"Ya elah gue kirain apaa-"
"Sama Gazza."
Trang!
"Sumpah lo?!"
"flat banget kalo gue jadiin joke."
Eissa tertegun seraya menatap sesendok nasi gorengnya yang bertaburan di meja. Tidak masalah jika hanya membantu Bu Nata rekap nilai. Tapi sama Gazza? Cowok nyebelin itu! Bahkan seumur-umur Eissa tidak pernah bertegur sapa dengannya walaupun sekelas.
"Gue harus gimanaa doong?"
"Yah bantuin Bu Nata lah!"
"Gak gitu maksudnya, Beth."
"Terus gimana?"
Tifanny menghembuskan napasnya. Susah memang untuk menjelaskan secara rinci kepada kembarannya yang memiliki IQ di bawah rata-rata.
"Emang kapan disuruhnya?"
"Habis istirahat ini."
Eissa tambah mengerucutkan bibirnya. Ia melirik arloji pastel di tangan kirinya. Istirahat bahkan tinggal 10 menit lagi. Sudahlah, lebih baik ia berangkat sekarang.
"Gue duluan ya."
"Semongko!"
"Tarik Sis!"
"Kebalik ih!"
"oh iyaya, Tarik Sis!"
"Semongko!"
Gadis itu menggelengkan kepalanya. Kenapa pula ia bisa bersahabat dengan dua anak random itu?
Eissa terlebih dulu masuk kekelasnya untuk membawa peralatan tulis dan botol air putihnya.
"Eh Sa, lu jadi bantuin Bu Nata rekap nilai?" Tanya Diego, Trouble maker di kelas dan sekolahnya.
Eissa hanya menjawab dengan anggukan kepala, sedangkan Gabriel, si bendahara kelas yang males nagihin uang kas kelas itu segera mendekati Eissa.
"Sama Gazza juga ya?"
"Hm."
"Semoga selamat dengan sehat sentosa ya Sa."
"Lo pada pikir gue berasa berangkat perang dunia ke tiga ya?"
"Ya bisa dibilang kan gitu. Ditemenin sama beruang kutub. Dih merinding gue."
Eissa menatap tajam Gabriel. Sedangkan yang ditatap hanya cengegesan, berbeda dengan teman satu permainannya, Diego. Cowok itu memberengutkan wajahnya. Rasanya cowok itu ingin sekali mengikuti Eissa. Kalau saja pelajaran matematika selanjutnya ia tidak disuruh maju kedepan dari seminggu lalu.
"Jangan lupa kasi tau kita nilainya ya woi!"
Eissa tak membalas teriakan Gabriel dan langsung keluar kelas menuju ruang guru.
Krek....
"Selamat pagi bu-EH?!"
To be continued
Download NovelToon APP on App Store and Google Play