Agastya POV
Cuaca hangat menyambut begitu keluar dari terminal bandara. Agastya mengedarkan pandangan, mencari sosok penjemputnya ... saat matanya menangkap sosok itu. Sosok yang sering dilihatnya berkeliaran di media massa, tengah berdiri dengan sikap santai dalam balutan celana hitam selutut, kaos, jaket dilengkapi topi diantara rombongannya yang sibuk dengan barang bawaannya.
Sesaat mereka bertatapan ketika lelaki itu tiba tiba menatap kearahnya, dan untuk sekian detik waktu terasa berhenti sebelum Agastya mengalihkan pandangan setelah menangkap senyum tipis lelaki itu, yang entah ditujukan kepada siapa.
Dihembuskannya nafas menyadari wajah dan jiwanya menghangat dengan cara yang aneh. Diraihnya ponsel di saku ketika beda kelabu itu berdering di sakunya ,” Ok, biar aku yang kesana.” Ujarnya sebelum mematikan ponsel dan menarik kopor kecilnya. Sedikit ragu melangkah melewati rombongan lelaki itu dan berlagak tidak memperhatikan kendati merasa ada mata yang mengawasinya .... sudahlah, jangan berlebihan. Tidak mungkin dia memperhatikanmu. Dilambaikannya tangan pada Keisha ... gadis periang yang bakal menemaninya survey seminggu kedepan. Dibukanya pintu mobil dan menggerutu ketika gadis itu menjalankan mobilnya bahkan sebelum Agastya mendapatkan posisi yang benar.
Rajendra POV
Rajendra tercenung sejenak, menatap sepasang mata yang berdiri beberapa meter darinya ... serasa ada yang lain dengan pandangan yang tetap melekat kendati gadis dengan rambut diikat membentuk ekor kuda itu sudah mengalihkan pandangannya. Sesaat kemudian diawasinya gadis itu melintas dengan kopor kecil dan tas punggung berwarna hitam yang nampak penuh. Langkahnya cukup cepat tanpa kesan tergesa, dan dia yakin gadis itu merasa kalau diperhatikan ... tetapi kelihatannya dia memlih untuk mengabaikannya saat ini.
Haaaai ... ada apa ini, bahkan dia tidak membalas senyummu. Gerutu Rajendra saat mobil putih yang membawa gadis itu melintas, mengabaikan senyum yang diberikannya sekali lagi ... padahal dia yakin gadis itu melihatnya.
Agastya POV
Agastya bersiap mengabadikan barisan peserta upacara yang hendak melintas di hadapannya, mengguman tak jelas ketika seseorang di belakangnya meminta maaf telah menyentuh kepalanya. Sudahlah, pasti dia juga hendak mengambil gambar. Dan sudah resiko tubuh kecilnya mengalami hal seperti ini .... tapi keuntungannya posisi terdepan seringkali ia dapatkan hehehehe
Warna warni buah dan bunga yang diusung tersaji indah, sebagai simbol persembahan terbaik bagi yang maha memiliki ... kendati seringkali banyak yang memaknai sebagai suatu kebiasaan dan adat yang ‘menjual’, karena sesungguhhnya kembali bergantung pada hati dan persembahan itu benar benar merupakan hal yang amat sangat pribadi. Entahlah ... barangkali dengan simbol tersebut, para sesepuh memberikan gambaran bahwa yang terbaik adalah milik dan untuk pencipta semesta.
Rajendra POV
Rajendra merekam barisan itu dari balik lensa kameranya. Sederet barisan panjang yang melintas dengan pembagian yang jelas dan teratur. Ada rangkaian sesaji yang mendahului, disusul tetua agama dan adat, dan pengikut yang mungkin merupakan warga sekitar. Semua ada di kelompoknya, diantara deretan ‘pengawal’ yang mengapit di sisi kiri dan kanan barisan, seolah menjaga agar semua tetap ada dalam jalurnya.
Andai saja keteraturan itu juga terbawa pada kehidupan di luar barisan ini .... lelaki ini tersenyum mengingat belum sampai dua jam yang lalu serombongan peserta upacara yang terlihat tertib dan santun itu dengan arogannya melanggar aturan lalu lintas, menerobos antrian seolah mereka berhak melakukannya dengan senjata ‘seragam’.
Ah sudahlah ..... bagaimanapun bias warna dan susunan rombongan ini tampak indah dibalik lensa kameranya, apalagi posisinya bisa dibilang cukup strategis kendati menahan pegal karena harus mengangkat lengan cukup lama, diatas kepala seseorang yang berdiri satu anak tangga dibawahnya.
“ Aaawww.” Agastya memekik ketika ia tak bisa menarik kepalanya, rambutnya tersangkut sesuatu.
“ Maaf, coba tahan dulu ... nyangkut.” Rajendra menahan bahu perempuan didepannya saat menyadari rambut perempuan itu tersangkut di jam tangan dan kancing lengan jaket denimnya.
Perlahan ditariknya sejumput demi sejumput agar tak menyakiti pemilik rambut legam yang tebal dan halus itu. Ditariknya nafas , menikmati aroma lembut bercampur sedikit aroma debu saat perempuan itu melepaskan ikatan rambutnya untuk mempermudah. “Coba, bisa hadap kesini ? biar lebih gampang.”
Tubuh terbalut cardigan tipis berwarna pink pucat itu berbalik, masih dengan kepala tertunduk ... dan Rajendra harus mengatur nafasnya ketika kepala itu sedikit menempel di dadanya. Ada rasa yang lain ... aman, nyaman dan seperti sudah seharusnya ... perasaan ‘pulang’ yang tak pernah dirasakannya selama ini.
Agastya menatap sepatu kets yang membungkus kaki dengan jeans yang terlihat bagus dan mahal kendati berwarna kusam dengan sedikit robekan di lututnya, model koyak terkini.
Digigitnya bibir saat menyadari perasaaan hangat memenuhi hatinya yang tetiba merasa tenang dan terlindungi ... seperti saat dalam pelukan Mas Adi, kakaknya ... walaupun tidak persis begitu ... karena rasa ini dibumbui aliran listrik kecil yang membuat hampir seluruh sel tubuhnya bergetar lembut .... perasaaan memiliki dan dimiliki yang tak seharusnya ia dapatkan dari orang yang tak dikenalnya ini.
“ Sudah, maaf ya ...”
Agastya perlahan menarik kepalanya, mendongkak dan sejenak tertegun mengenali sosok di hadapannya. Duh Gustiiiiiiii ............... dia. Dan apa artinya perasaanku barusan ?
“ Hai.” Rajendra tergagap, setelah terdiam untuk beberapa saat menatap mata coklat yang membias lembut dihadapannya ,” Sakit ya ?”
Agastya tergagap, menggeleng cepat ,” Gak apa apa kok.” Sahutnya sambil mundur selangkah.
“ Awas.” Lengan kokoh itu sigap menarik Agastya ke pelukannya, sebelum perempuan itu terjatuh ke anak tangga dibawahnya. Astaga ........... Ini seperti adegan drama, tapi mengapa begitu nyata ? Semua begitu pas dan tepat .
Agastya memejamkan mata dan menggigit bibir, mencegahnya bergetar . Dihembuskannya nafas sambil menarik tubuhnya, kali ini perlahan ,” Thanks, permisi.” Secepat yang ia bisa, karena tubuhnya mengingkari, Agastya menjauh dan berlalu.
“ Tunggu.” Rajendra menahan ,” Nama kamu siapa ?” diulurkannya tangan.
“ Tya ...”
“ Aku Jendra.” Digenggamnya tangan, yang lagi lagi terasa pas ditangannya.
Agastya mengangguk sambil tersenyum tipis Aku tau serunya dalam hati.
“ Bagi foto yang tadi dong, ada akun instagram atau path gak ?” mencoba tak kentara menahan tangan yang hendak ditarik pemiliknya ,” atau no tlp kamu.”
Agastya mencoba mencari alasan ....
“ Kak Jendra ya ? Foto dong .... boleh ?” serombongan gadis muda menyelamatkannya.
“ Oh, ayoooo.” Enggan Rajendra mengalihkan perhatiannya.
“ Aku duluan.” Agastya bergegas menjauh
“ DM aku yaaaa” teriak Rajendra sambil mengambil posisi bersama penggemarnya, bersungut dalam hati ketika melihat perempuan itu melambaikan tangan sekilas menjawab permintaannya.
Rajendra mempermainkan ponselnya, berulangkali membuka beberapa akun media sosialnya dan menelan kekecewaan melihat tak ada pesan yang menunjukkan perempuan itu mengingatnya.
Gila ... ini sudah hampir dua bulan sejak hari itu, dan semua yang dirasakannya masih seperti waktu itu. Kekecewaan tak melunturkan kerinduan yang nyatanya kian menebal
Ayolah Jen, kamu bahkan gak mengenalnya. Nama Tya ada jutaan diluar sana. Kamu baru dua kali bertemu, kalau yang dibandara itu terhitung. Jangan berpikir semua orang mengenalmu. Gila aja kamu galau seperti ini untuk orang yang gak kamu kenal .... gerutunya dalam hati .
“ Jen.”
Rajendra tersentak, mengangkat muka menatap Ken yang sudah duduk disampingnya. Diulasnya senyum tipis melihat perempuan yang telah menemaninya beberapa tahun belakangan.
“ Kamu kenapa ?” Ken ... Kenyopalupi, sahabat sekaligus rekan duetnya, menatapnya serius.
Rajendra menggeleng sambil cemberut.
“ Sejak kapan dan tentang apa sampe kamu gak mau berbagi ama aku ?” Ken meraih tangannya ,” Ini sudah beberapa minggu aku perhatiin. Kamu kadang murung, kadang senyum sendiri ... fall in love ya ?” tergelak melihat semburat merah di wajah tampan itu.
“ Jangan ketawa dong “ sungut Rajendra manja, sikap yang selama ini hanya ditunjukkan pada orang terdekatnya, bukan didepan umum.
“ Siapa sih ? Gak pengen ngenalin ama aku seperti biasanya ? Butuh bantuan ?”
“ Baweeeel .....”
“ Serius nih .... perlu bantuan untuk meyakinkan ?” Ken mengurangi senyum lebarnya.
“ Jangankan ngenalin ama kamu ... aku aja gak kenal dia.” Sahutnya kesal.
Ken melongo “ Gak kenal ? Dan udah bikin kamu kayak gini ?” wajahnya mendadak serius ,” Ini bukan kayak di novel novel tentang jatuh cinta pada pandangan pertama kan , Jen ?” dihembuskannya nafas melihat bahu kokoh itu luruh.
“ Ini pas aku bikin klip dua bulan yang lalu. Pas off aku hunting foto upacara tradisional, disitu aku ketemu dia.” Rajendra memejamkan mata ... dan semua kembali terpampang jelas ,” Dia motret di depan aku, satu anak tangga dibawah, dan rambutnya nyangkut di jam ama jaket aku.” Rajendra menatap Ken ,” Berdekatan dengannya aku merasa ... pulang.”
“ Pulang ?”
Rajendra mengangguk ,” Ke tempat seharusnya aku berada. Aku merasa nyaman, utuh, dan lengkap ... semua begitu pas seakan diciptakan khusus ... so customized.”
Ken gagal tertawa melihat kesungguhan sahabatnya. Rajendra bukan sosok yang mudah jatuh cinta, kendati beberapa kali ia menjalin hubungan yang pada akhirnya kandas tanpa meninggalkan luka serius. Lelaki disampingnya ini juga bukan sosok yang mudah dipuaskan dalam segala hal ... ia begitu perfeksionis, detail dan baginya tidak ada yang instan.... Rajendra sangat percaya pada proses. Dan sekarang semua terpatahkan oleh seseorang, yang bahkan tak dikenalnya.
“ Aku Cuma tau namanya Tya ... dan ada ratusan nama yang aku temukan disini ...” digoyangnya ponsel ,” dan masih ada jutaan lagi.” Dihembuskannya nafas “ Aku sempat minta dia DM ... sebelum dia kabur pas ada rombongan yang minta foto bareng.”
Ken bersandar di bahu Jendra mendengar nada putus asa dalam suara berat itu.
“ Kamu pernah bilang tentang kekuatan doa khan Ken ... yang kamu yakini jadi jawaban terbaik waktu kamu putuskan menerima Joey.”
“ Ya ... dan hampir semua keputusan besar dalam hidup aku, saat otak, hati dan keadaan sudah gak sanggup lagi memberi keyakinan ... aku kembalikan sama yang punya hidup. Dan aku yakin itu jawaban yang terbaik ... its worked for me.”
“ Dan dalam sebulan ini aku udah berkali kali berdoa ... Aku udah pertanyakan semua perasaanku. “
“ Dan ....”
“ Aku yakin dia jadi bagian dari hidupku ke depannya. Tapi gimana caranya ....”
Ken menatap sahabatnya ,” Coba pasrahkan untuk jalannya Jen .... kalau memang jawaban doa kamu seperti itu, pasti akan ada jalannya.”
Rajendra tersenyum tipis ,” Bahkan mama juga merasakan jawaban yang sama ... tinggal aku berserah pintu mana yang bakal terbuka buat aku.”
“ Mama ?”
Rajendra tertawa malu, “ Mama pun bertanya lewat doanya, ngelihat aku galau pada sosok misterius itu.”
Ken tercenung .... mengingat bagaimana ia memohon pada orang tuanya untuk membantu berdoa memilih jalan yang terbaik baginya. Menerima Joey bukan hal yang mudah, kendati lelaki itu begitu mudah dicintai dengan segala kebaikan dan ketulusannya. Kegagalannya bersama ayah dari putra semata wayangnya bukan sesuatu yang mudah dilupakan, walaupun sudah dimaafkan.
Dan kini Rajendra sampai melakukan hal yang sama ... kelihatannya mereka berdua berada dalam titik yang sama diwaktu yang hampir bersamaan ,” Aku bantu dengan doa kali ini.”
Rajendra tersenyum, memeluk perempuan disampingnya ... mengangkat kepala saat pintu ruang ganti mereka diketuk ,” Ya ...”
“ Lima menit lagi”
Rajendra dan Ken mengacungkan jempol, berdiri dan bersiap ke belakang panggung ... kembali menjadi milik publik yang harus meninggalkan semua keresahan sejenak.
Agastya menjauhkan kursinya dari meja, bersandar mengalihkan pandangan pada ikan ikan kecil di dalam aquarium disudut ruangan. Berenang kesana kemari, bahkan tak pernah berhenti ... tapi nyatanya mereka tetap disana, tak bisa kemana mana. Bahkan seandaikan bisa keluarpun mereka tak akan bertahan diluar kehidupan kecilnya dibalik kaca itu.
Seperti itulah aku sekarang ... kesana kemari, tak berhenti untuk berlari ... tapi nyatanya tak bisa kemana mana, aku tetap disini dengan perasaan aneh ini .... bahkan seandainya bisa kuingkari rasa ini, belum tentu juga aku sanggup menghadapi hariku seperti dulu.
Kamu ... ditatapnya sebentuk wajah tampan di monitor ... melintas sekilas dalam masa laluku, bertahan dalam hidupku saat ini ... benarkah memang kamu yang dihadirkan untuk menemani masa depanku ...?
Gusti .... maafkan aku. Saat semua kemampuanku berpikir dan merasa sudah tak mampu menjawabnya, aku berserah ... tapi saat jawaban itu kudapatkan, mengapa pula aku masih menyangkalnya ...?
Benarkah itu jawaban yang Kau berikan padaku atau hanya angan yang tersembunyi dibawah sadarku ? Atau aku yang terlalu sombong untuk menerima jawaban itu ?
Agastya menggerakkan mouse, menampilkan deretan wajah dan berita tentang Rajendra ... tentang album dan single barunya bersama Ken.
“ Hei, sejak kapan di kantor jadi baca gosip ?”
Agastya tersentak ... menatap Joey yang sudah duduk di lengan kursinya ,” Cari inspirasi lagu buat project kalian." Kilahnya, membuka file kerja.
Joey tersenyum lembut ," Coba lihat"
Agastya menggeser sedikit laptopnya ," Ini detail tiga tempat yang kalian minta untuk survei. Ada beberapa grand design disitu, untuk masing masing tempat. Perlu aku share ke Ken ? Atau kakak yang mau bawa sendiri ? Tadi udah aku kirim ke email kakak.”
"Aku terusin ke Ken.”
Agastya mengangkat wajahnya mendengar bagaimana lelaki itu menyebut nama Ken dengan segenap perasaannya. Wajah lelaki yang selama ini selalu identik dengan kata tenang itu begitu bahagia " Bahagia banget kak .... Ada rasa takut gak sih bakal menikah ama seorang Ken ?"
Joey duduk di kursi diseberang meja, menarik nafas dan menatap Agatya dengan mantap ,”Pasti .... keraguan itu bahkan cukup lama. Itulah kenapa aku gak pernah mengenalkanmu padanya sebelum aku yakin. Dunia Ken membuatku berpikir lebih dari seribu kali ... tapi pada akhirnya aku menyerah untuk mencintainya sebagai sepenuhnya Ken apa adanya dia. Dan mempersiapkan diri untuk pada akhirnya harus membagi sebagian kecil privacy pada publik."
" Kakak yakin ini yang terbaik ?”
" Insyaallah ... aku sudah minta petunjukNya."
" Dan setelah doa itu dijawab semua jadi mudah dan meyakinkan ?"
“ Meyakinkan iya .... tapi tidak sepenuhnya mudah. Yang terbaik bukan berarti yang sempurna tanpa kekurangan dan tantangan khan ?" Joey mengamati wajah perempuan dihadapannya ,”Kenapa, Tya ?”
Agastya tercenung ...
“ Beberapa bulan ini kamu gelisah, sejak aku kenalkan Ken.” "Diraihnya tangan yang menggores permukaan meja dengan ujung jarinya, kebiasaan ketika perempuan ceria ini dalam kodisi hati yang tidak tenang , "Ada yang mengganjal dengan Ken ?”
Agastya menggeleng cepat ," Gak ada yang salah, bahkan kakak beruntung."
“ Lalu ?” dieratkannya genggaman pada adik, sahabat sekaligus partner kerjanya ini ," Aku coba untuk tidak bertanya sebelum kamu cerita. Tapi beberapa minggu ini, sepulang survey ... kegelisahanmu semakin jelas. Ada apa ?”
“ Ada seseorang.” Agastya menerawang ,” Aku mengenalnya beberapa tahun yang lalu ... tidak secara personal, hanya dari apa yang aku amati. Dan waktu survey kemaren aku ketemu dia lagi ...” dipejamkannya mata, kembali merasakan perasaan itu.
Joey mengerutkan kening melihat wajah Agastya melembut, bahkan ada kilasan kabut yang membuatnya terlihat sedang bermimpi ketika gadis itu membuka matanya ," Kamu jatuh cinta ?" senyumnya
Seketika aura kebahagiaan itu memudar ,” pada orang yang sama sekali tidak masuk dalam hitungan detik.” Dan ketakutan serta keraguan itu sekarang begitu jelas.
“ Bukan laki orang kan ?"
Agastya melotot ” Gila ajaaaaa .... itu sih secara nalar juga gak masuk hitungan.” Ditariknya tangan ,” Tega kakak ih."
Joey tertawa lembut ,” Becandaaaa .... aku percaya kamu gak akan aneh aneh."
Agastya memajukan bibirnya.
“ Sekuat apa rasa itu ?"
" Sampai aku menyerah menghadirkan alasan untuk menolaknya ."
" Dia bilang apa ?"
Agastya tertawa kecut , "Bahkan kami nggak bicara lebih dari sekedar basa basi, dan hanya dalam hitungan menit.”
Joey mengerutkan kening.
“ Aku bahkan sudah bertanya ama yang punya rasa, Kak ...”
“ Lalu ?"
" Keyakinan itu makin tebal, bawa dia ...."
“ Tapi nada suaramu gak yakin sama sekali ...."
“ Itulah ... benarkah dia jawaban doaku ?"
“ Coba sekali lagi berdoa ..."
“ Sudah berkali kali dalam beberapa bulan ini, dengan jawaban yang sama. Sampai aku takut Tuhan marah karena aku meragukan jawaban doa itu."
“ Ya udah ... jalani dan pasrahkan. Seperti yang aku bilang tadi, yang terbaikpun bukan berarti mudah dan sempurna. Pasti ada jalannya ketemu dia lagi."
Agastya tertunduk dalam Ya.... salah satunya aku pasti menemuinya berkaitan dengan pernikahanmu ..
Ken sahabatnya, dan sudah dipastikan ada lelaki itu dalam proses ini. Apa yang harus aku katakan kalau nanti dia menagih DM ku ? Atau dia bahkan sudah lupa ? Entahlah ... bagaimana aku bisa berharap dan menghindar pada saat yang sama ?
Download NovelToon APP on App Store and Google Play