Gideon berlari menaiki tangga darurat menuju Rooftop Gedung perusahaan yang baru saja menolaknya, setiba di penghujung tangga ia membuka pintu itu.
Cklek..
Pintu berhasil terbuka Dengan sempurna, ia menyaksikan pemandangan Kota dan beberapa Gedung Pencakar Langit dihiasi dengan nuansa langit yang cukup tidak mendukung. Sejenak ia memejamkan mata nya mengambil nafas dan mengehembuskan dengan kasar.
Kemudian dengan tertatih berjalan menuju bagian ujung Rofftop itu, ia sudah berada di ambang maut dengan niat mengakhiri dirinya di usia yang cukup muda.
Dengan ketidak peduliannya menanggung semua beban rasa sakit selama bertahun-tahun. Ia sudah tiba di penghujung, matanya mengerjapkan berkali-kali karena air mata yang jatuh begitu saja di pipinya.
sembari ia memandang ke bawah ia melihat berbondong-bondong orang yang berteriak histeris menyaksikan dirinya yang sudah siap meloncat dari Gedung bertingkat 20 itu.
Baru saja ia siap akan meloncat..
“hei, kalau kamu loncat sekarang yang ada semakin mempersulit hidupmu bukan memudahkannya.”
Ucap wanita itu.
Gideon langsung mencari sumber suara dan menemukan sosok wanita yang tengah mendorong kursi rodanya sembari wanita itu mengeluarkan senyum terbaiknya.
Dan, kisah ini baru saja di mulai….
“Menyerah untuk hidup adalah kaum para pengecut.” (Angeline Gloria Norita)
6 jam sebelum kejadian.
Sang Fajar mulai menampakkan cahayanya menyinari Bumi beserta isinya, burung berkicau menyambut hari baru, kecuali seorang laki-laki yang masih meringkuk beralaskan tikar , dengan dibantu sinar matahari masuk ke dalam kamar nya, perlahan mata laki-laki itu mulai sadar dari alam bawah sadarnya.
Dengan mengerjapkan matanya berulang-ulang sembari menatap langit Kamar yang sudah reot itu, perlahan ia membangunkan dirinya mengumpulkan nyawa yang masi tertinggal sembari merenggangkan ototnya. Kemudian ia berbalik dalam posisi duduk menyilang menatap jam dinding kecil yang tengah menunjukkan pukul 06:00 pagi.
“Masih 2 jam lagi.” Gumamnya .
Kemudian ia bangkit berdiri memandangi perumahan di sekitarnya dari jendela kamar rumah kayunya itu, menghirup dan menghembuskan nafas nya perlahan. Pandangan nya teralihkan dengan kalender di atas meja belajar sederhannya, ia mengambil dan menatap cukup lama berbagai coretan Kalender yang ia Lingkari di sana.
Matanya tertuju pada hari sekarang tanggal 15 , tatapannya seketika kosong memikirkan ditolak pekerjaan ke 9 kali nya, dan sekarang akan menjadi ke 10 bagi nya jika ia di tolak lagi Oleh perusahaan yang akan ia lamar nanti nya.
“kak don, di panggil ibu sarapan.” Ucap seorang anak kecil berumur 9 tahun yang membuyarkan lamunannya.
“Oke hito, kakak mau mandi dulu nanti kakak susul."
Ucap laki-laki itu pada adiknya tersenyum.
Kemudian hito meninggalkan kakak nya dan berlari kecil menuju dapur menemui Ibu nya.
.
.
laki-laki itu menatap punggung hito perlahan menjauh wajahnya yang tersenyum kemudian berubah menjadi muram.
Setelah itu ia mulai mengambil berkas-berkas lamaran dan memasukkan nya ke dalam map berwarna merah maroon.
rambut nya yang agak ikal berwarna coklat itu ia acak dengan sedikit frustasi.
“kalau gagal lagi jadi nya ke 10 kali dong, arghhh pusing .”
ucapnya dengan kesal
“Tapi kamu pasti bisa Don lakukan yang terbaik .”
ia mengepalkan tangannya erat-erat untuk menyemangatinya.
Laki-laki itu adalah tokoh utama kita yang bernama Gideon Ferdinan biasa di akrab dengan sapaan “Don” oleh orang sekitarnya.
Gideon merupakan Anak pertama dari 2 saudara yang baru saja memanggilnya adalah Si Bungsu bernama “Geraldi Hito Effendi”. Mereka berdua tinggal bersama Ibu Mereka “ Berliana Felice” Berumur 45 tahun.
Sejak duduk di kelas 2 SMP mereka bertiga telah ditinggal oleh ayahnya yang memilih menikah lagi dengan anak perusahaan ternama yang Berada di Ibu Kota.
Hal itu membuat dirinya terutama sangat membenci keputusan Ayah yang meninggalkan mereka.
Dan Gideon bertekad untuk membalaskan dendam suatu hari nanti ketika dia sukses nantinya, tetapi semakin lama semakin ciut tekad itu karena setiap ia berusaha melamar di berbagai perusahaaan ia selalu ditolak
tidak mengerti alasannya mengapa padahal ia sangat yakin dengan ipk nya yang berada di atas rata-rata dan tentu saja perusahaan pasti akan menerimanya. Cukup mencurigakan bukan?
Tapi ia sampai sekarang tak pernah mendapatkannya membuat dirinya sering berkecil hati dan tertekan.
......................
Gideon membersihkan diri nya terlebih dahulu, setelah itu mengeringkan tubuhnya dengan handuk bersihnya .
kemudian mengambil kemeja berwarna putih dari lemari nya. beserta celana formal berwarna hitam, tidak lupa juga dengan dasi yang ia sesuaikan dengan warna celana nya, membuat penampilan nya sangat keren.
tidak lupa juga menggunakan sedikit parfum oles agar memberikan sensasi wewangian nan lembut, menyisir rambutnya sedikit berantakan. setelah itu ia menuju ke dapur menemui Ibu dan adiknya yang sudah menunggu nya di sana.
kamarnya menghubungkan ruang tamu sederhana dan dapur sebelum Gideon memasuki dapur ia melihat bingkai foto berukuran 10x10 menampakkan foto keluarga bersama dirinya, Sang Ibu, Adik nya dan..
"Ayah.. gumamnya.
tanpa berpikir panjang ia meletakan dalam keadaan menutup dan berjalan lagi menuju dapur.
GIDEON FERDINAN
.
.
.
.
...****************...
haloo kenalkan aku Septholly (nama samaran) ini adalah karya pertama ku yang masih amatiran :'(
Jangan lupa Vote and Like ya😇😇😇😇
jangan lupa Vote and Like:3
mbak pesanan bunga saya sudah siap?”
tanya seorang pelanggan toko bunga
“ udah siap nih mas, 1 buket bunga mawar merah yang wangiii banget.”
Ucap pemilik tokoh bunga itu tersenyum lebar kepada langganan nya, sembari menyerahkannya kepada pelanggannya
“berapa harga nya mbak?”
“600 ya ribu mas."
Pelanggan memberi uangnya dengan harga pas
“Terima kasih banyak ya mas”
ucap pemilik toko bunga itu tersenyum
“sama sama mbak”
“ itu buat pacarnya mas?”
" tau aja nih si mbak”
ucap pelanggannya menggaruk kepalanya ya tidak gatal.
Pemilik toko itu terkekeh melihat tingkah laku pelanggannya yang salah tingkah, kemudian pelanggan itu pamit dari toko bunganya.
“oke mari kita lihat list bunga yang akan dikirim hari ini”
ucap pemilik tokoh itu mengambil note kecil dimejanya, dengan cekatan menyentuh note itu dengan telunjuknya melihat nama-nama pelangganan yang memesan bunga miliknya.
“Angeline!”
seseorang memanggil nama nya
Angeline Gloria Renata itu lah nama nya dia adalah seorang pemilik toko bunga “GLOFLORIST” memiliki mata coklat yang menawan hidung yang mancung, dengan senyum manis yang menghiasi wajahnya yang oval, rambut coklat bergelombangnya yang menambah kesan paras nya yang sempurna.
Meski akan kesempurnaan wajah yang ia miliki, tetapi ia adalah manusia yang tidak sempurna.
Dia adalah seorang penyandang Disabilitas sudah 6 tahun ia duduk di kursi roda, ia tidak bisa menggunakan kaki nya untuk berjalan karena pernah mengalami tragedi kecelakaan yang menewaskan kedua orang tua nya beserta adik kecil nya berumur 4 tahun.
Angeline pernah mengakhiri hidupnya tetapi di gagalkan oleh sang tante (adik dari ibunya).
Setelah kejadian itu Sang Tante yang merawatnya seperti Ibu Angeline sendiri dengan penuh kasih sayang, memberikan konseling untuk psikisnya akibat trauma kecelakaan 6 tahun silam.
(Tante dahlia adalah seorang psikiater)
Perlahan Angeline yang penuh dengan kesuraman perlahan berubah menjadi gadis yang menyayangi dirinya sendiri.
Awalnya toko bunga itu adalah milik mendiang ibu nya saat itu tantenya yang menghandle sementara waktu sembari menunggu usia Angeline sampai berumur 21 tahun .
Karena sesuai wasiat mendiang ibu dan ayahnya akan memberikan toko bunga itu kepada Angeline bertepatan umur 21 tahun.
.
.
“eh tante datang” ucap Angeline tersenyum lebar sembari mendorong kursi rodanya mendekati tante nya
“tante bawaiin kamu nasi kuning nih buat kamu sarapan sayang.”
“Dimakan ya.” Ucap Tante Dahlia membelai pucuk kepala keponakannya.
“terima kasih Tante”
“yuk Tante, Jeli (Nama panggilan Angeline kecil) bikinin teh. Tante duduk aja dulu ya.” Ucap gadis itu menggerakkan kursi rodanya menjauh menuju ke dapur.
Tante Dahlia mengangguk kemudian mengambil kursi tak jauh dari jangkauannya, ia menyaksikan bunga-bunga yang menghiasi toko itu berbagai jenis bunga dengan penuh warna warni disana.
Pandangannya terpaku ke sebuah bingkai foto berukuran 12x12 kemudian mengambil foto itu
ia menyaksikan foto kedua orang tua Angeline dan Angeline yang masi berumur 13 tahun saat itu beserta adiknya yang berumur 4 tahun. Tante Dahlia mengusap bingkai sedikit berdebu itu terpaku melihat wajah kakak nya (Ibu Angeline) di sana.
“Anakmu sudah besar sekarang kak.”
Gumamnya sembari tersenyum tipis.
Kemudian dia meletakkan pigura itu di atas meja.
“Tante ini teh nya”
“Terima kasih Jeli.”
Sembari mengambil cangkir keramik itu.
“Gimana Toko bunga ini jel? Kamu suka?"
tanya Tante dahlia selepas menyeruput the nya.
“Aku suka sekali Tante banyak bermacam-macam bunga yang cantik disini.”
Ucap gadis itu dengan penuh antusias.
Kemudian Angeline menceritakan kesehariannya selama 6 bulan menjadi pemilik Toko Bunga “GLOFLORIST”, Dan Tante Dahlia tersenyum senang dan ikut terlarut dalam cerita Angeline.
......................
“kamu yakin akan mengantar ke alamat itu nak?”
tanya tante dahlia dengan ragu, karena ia khawatir pelanggan yang memesan bunga berada di perusahaan xx yang memiliki tingkat 20 dan pemesan itu berada di tingkat 18.
“Jangan khawatir Tante aku bersama Pak dior kok, pak dior yang akan menemani ku ke sana.”
Angeline berusaha meyakinkan tantenya agar tidak perlu khawatir akan hal itu.
“Tenang saja nyonya, non jeli tetap aman bersama saya.”
Pak Dior adalah supir pribadi keluarganya
“Baiklah kamu jaga Jeli baik-baik ya hati-hati.”
“Jeli berangkat dulu ya.” Sambil menyalami tantenya.
Angeline membawa 3 buket bunga kemudian ia berikan kepada Pak Dior, setelah memasukan ke dalam mobil,
Pak Dior menggendong Angeline dan mendudukannyadi kursi belakang.
Setelah selesai Pak Dior melipat kursi roda itu dan memasukkan ke dalam bagasi belakang.
kemudian mobil meninggalkan area toko bunga.
......................
Sesampainya di Gedung Perusahaan xx Pak Dior bergegas Turun dari Mobil, membukakan pintu untuk Angeline tidak lupa ia mengambil kursi roda di bagasi belakang milik Angeline.
Setelah di merapikannya ia menggendong dan menudukkan kembali Angeline di kursi roda itu, mengambil 3 buket bunga Mawar merah, Aster putih, dan bunga camelia.
Kedua buket di pegang oleh Pak Dior, sedangkan 1 buket bunga dipangkukan oleh Angeline kemudian mereka bedua memasuki pintu Gedung.
...****************...
Angeline memasuki Gedung perusahaan itu bersama Pak Dior (Supir Keluarganya).
Dia cukup di kenal oleh orang-orang di dalam Perusahaan itu dan baru saja di pintu kaca terbuka beberapa orang menyapa nya sambil tersenyum.
Kemudian Angeline dan Pak Dior tiba di resepsionis disana.
"Selamat Pagi Angeline.". Ucap Resepsionis menyapa dengan ramah.
"Selamat Pagi Mbak." Ucap Angeline sembari tersenyum hangat
"Bunga Mawar, Aster dan Camelia Ya. Cantik banget loh. "
"hehe iya nih mbak saya mau mengantarkan pesanan bunga-bunga ini ke Pak indra, dan Bu Megan." sambil melihat sekali lagi nama kartu yang ia selipkan di bunga.
"Oke Tunggu sebentar ya. "
Angeline mengangguk dan menunggu informasi dari Resepsionis itu beserta Pak Dior duduk di kursi tamu yang tak jauh dari area Angeline berada.
Angeline terlihat asik memperhatikan interior desain Gedung ini, entah kenapa ia cukup takjub setiap memasuki tempat ini.
ia juga menyaksikan orang-orang berlalu lalang saat memasuki gedung ini, sampai-sampai ada yang memperhatikan dirinya dari jauh.
karena merasa di perhatikan oleh seseorang, pandangannya spontan teralih dan tidak menemukan seseorang yang tengah memperhatikannya tadi.
"perasaan tadi ada yang memperhatikan ku deh. " batinnya.
................
"Pak Dior dan Ibu Megan sudah dari tadi di dalam ruangannya, di lantai 15 ya. " ucap resepsionist itu.
"Makasih ya Mbak. " Sahut Angeline tersenyum ramah.
setelah itu mereka berdua memasuki lift dan Pak Dior menekan tombol ke lantai atas, Pintu itu pun tertutup.
****************
Setibanya di sana tak lupa Angeline mengetuk pintu Ruangan Ibu Megan, sesudah mengantarkan bunga ke Pak Indra.
"Selamat Pagi Ibu. " ucap Angeline
"Selamat pagi Angeline. " sahut Ibu Megan tersenyum senang karena melihat se buket Camelia pesanannya.
mereka berbincang cukup lama di ruangan itu, membahas bunga-bunga an dan lain-lainnya.
................
"Ayok pak saya sudah selesai. " Angeline menepuk pelan Pak Dior yang ketiduran di kursi depan ruangan itu.
"Ayo non."
baru saja ia tengah menggerakkan kursi rodanya tiba-tiba saja dari tangga darurat terlihat seorang laki-laki tengah berlari dengan wajah emosi bercampur sedih yang amat dalam.
Angeline memperhatikan laki-laki itu dengan sesama dan mengingat mimik wajah itu penuh keputusasaan.
la merasa tidak tenang dengan orang itu takut terjadi sesuatu sama orang itu.
................
setelah sarapan Gideon bercemin lagi di dalam kamarnya memastikan semua nya sudah rapi dalam dirinya.
kemudian ia kenakan sepatu Pantofel (pemberian dari pamannya) berwarna hitam sesuai dengan celana beserta dasi nya. Tidak lupa juga ia membawa berkas lawatannya.
"Bu, Don berangkat ya doakan anakmu ini berhasil. " sambil mencium tangan Ibunya
"Iya nak pasti itu. " ucap Ibu Berliana sambil tersenyum hangat.
"Jaga Ibu ya To, Kak Don berangkat dulu. " melambaikan tangannya
"Pasti kak hati-hati."
.
.
.
Dalam perjalanan Gideon asik menyapa orang-orang di daerah rumah sekitar nya.
"Pagi Don. " ucap seorang gadis dari arah belakangnya
Gideon mengalihkan pandangannya ke belakang menemukan sosok wanita bernama Marrisa.
Marissa adalah Sahabat masa kecil Gideon saat masih duduk di bangku kelas SD, wajar saja mereka sangat akrab sejak dulu, Marissa termasuk sangat tahu betul seluk beluk keluarga Gideon. karena ia melihat sendiri saat Ayah Gideon meninggalkan Mereka.
Dan karena keakraban mereka lah para tetangga sibuk membahas kecocokan mereka melebihi dari seorang teman.
Tetapi Gideon tetap menganggap Marissa adalah seorang teman dan Saudara yang baik itu sudah cukup, walaupun Marissa dalam diam sangat menginginkan hubungan lebih dari seorang Sahabat.
"Tambah keren aja kamu Don. " ucap Marissa sembari menepuk bahu gagahnya Gideon.
"bisa saja kamu Mar., bercanda mulu. "
"ih.. Seriusan deh. "
"ya sudah kalau gitu, Don berangkat dulu." ucap Gideon sembari melambaikan tangan berlari kecil.
"oke Hati-hati Don sore tempat biasa. " lantang Marissa
"Siap Bu Bos. "
Perlahan punggung badan Don menjauh dari pandangan, meninggalkan senyuman kecut Marissa
"Andai kamu tahu Don. " Batin Marissa
Setelah itu Marissa berjalan pergi.
.
.
.
Setiba nya di depan gedung kantor ritual sebelum masuk ke tempat lamaran pekerjaan Gideon menarik nafas dan ia menghembuskannya.
"Jangan gugup kamu sudah sering melakukannya. " batinnya
Setelah itu Gideon memperhatikan orang menatapnya dengan ekspresi yang sulit di tebak, dia tak mengerti kenapa ia merasa risih saat di perhatikan oleh khayalak ramai.
"Ihh ganteng banget deh siapa sih. " ucap salah satu rombongan karyawan berbisik melihat paras tampan Gideon.
"eh mintaiin nomor whatssapnya oke ni. "
"ngga ah malu malu in aja."
Gideon tak perduli akan hal itu ia dengan gagah memasuki pintu utama Gedung xx itu.
.................
................
Download NovelToon APP on App Store and Google Play