English
NovelToon NovelToon

Pengagum Rahasiaku

kegiatan pagi Nia

" sini Bu biar Nia bantu " ucap Nia seraya mengerjapkan matanya.

Hari masih gelap masih sangat panjang waktu untuk beristirahat bagi sebagian orang . Tapi bukan untuk Vania . Seorang gadis bertubuh mungil dan berwajah cantik untuk tetap bermalas malasan diatas ranjang yang hangat. Disetiap paginya dia tak enggan untuk membantu ibunya menyiapkan dagangan gorengan untuk dijual di Pasar.

" Trimakasih nduk" bergegas mengerjakan pekerjaan yang lain setelah pekerjaan menggoreng pisang diambil alih oleh Vania.

Ibu seorang janda yang hidupnya belum bisa terbilang berkecukupan. Setelah menjual habis gorengannya kerjaan yang biasa ibu lakukan adalah menjadi kuli panggul ditoko toko dekat pasar yang membutuhkan bantuan nya. Sungguh bukan pekerjaan yang mudah bagi seorang wanita . Tapi hasil berjualan gorengan saja hanyalah cukup untuk menjadi modal jualan esok hari dan untuk makan sehari nya.

Mereka hidup disebuah kontrakan sederhana dipinggir kota. Angkot sangat berjasa bagi ibu Nia sebagai sarana untuk berjualan kepasar. Jarak yang lumayan jauh sangat tidak mungkin untuk ibu tempuh dengan hanya berjalan kaki. Tapi disaat dagangan nya tidak habis jalan satu satunya hanyalah berjalan untuk pulang sambil menjajakan gorengan yang pastinya gorengan akan dijual lebih murah dari harga biasanya.

Disetiap pagi tak ada waktu yang Nia sia siakan untuk tidak membantu ibunya . Karena ibu adalah orang satu satunya yang Nia punya . Seorang yang telah membesarkan Nia menyayangi Nia dengan segenap jiwa dan raganya . ya, Nia tau, jika dia hanyalah seorang anak yang tak tau asal usulnya . Tak tau dimana orang tuanya. Ibu menemukan Nia ketika dia masih berumur sekitar 5 bulan . sosok bayi kecil malang yang ditemukan didekat sawah pinggiran kota. Ibu menemukan Nia hanya bersama dengan sebuah kalung yang terjatuh didekat kranjang bayi tempat Nia tergeletak.

Tak terasa waktupun berjalan dengan cepat. 16 tahun yang lalu tepatnya ibu menemukan Nia. Tak ada rasa sedih ataupun kecewa dengan apa yang Nia ketahui tentang dirinya, hanya rasa bersyukur dan selalu bersyukur yang selalu dirasakannya karena Nia mendapatkan seseorang seperti ibu. Sesosok yang kini mulai muncul garis garis halus dipipi dan keningnya, wajah lelah namun selalu terlihat cerah karena air wudhu yang selalu membersihkannya.

Kini Nia sudah berada di kelas 2 SMA dengan semangat kerjanya ibu mampu menyekolahkan Nia sampai sekarang. Nia merupakan anak yang berprestasi disekolah. meskipun Nia anak yang tidak mampu tapi Nia tidak pernah pantang menyerah. Dia belajar dan terus belajar hingga akhirnya dia selalu mendapatkan beasiswa yang pastinya sangat membantu beban ibu dalam masalah biaya.

" Nduk sana mandi dulu, nanti telat lho sholat subuhnya. Biar ibu yang teruskan memasaknya sekalian ibu siapkan bekal buat nanti ke Sekolah. Hari ini ada jam olahraga tambahan to nduk? "

" Enggih bu, nanti Nia ada exstrakurikuler jadi Nia pulang telat bu" beralih memandang ibu disampingnya.

" Yo wes gak apa apa nduk yang penting belajar sungguh sungguh , ibu selalu berdoa yang terbaik untukmu nduk" mengelus sayang rambut Nia.

Nia bergegas kekamar kecil milik mereka, menimba air dari dalam sumur lalu memenuhi bak mandi yang tersedia didekatnya . Nia mandi dan segera melaksanakan kewajibannya melakukan sholat subuh . Jika dirasa masih ada waktu dia selalu mengulang kembali sedikit pelajaran yang dipelajari nya dimalam hari sebelum bersiap untuk sekolah.

" Nduk sini ayo sarapan sama ibu," memanggil Nia yang tengah membuka kembali pelajarannya diruang tamu.

Sebelum berangkat kepasar ibu selalu menyempatkan untuk sarapan bersama Nia. Ibu pergi kepasar pada jam 5.30 tapi meski ibu minim pengetahuan, ibu tau jika sarapan adalah hal yang penting yang tidak boleh dilewatkan disetiap hari.

"Ayo bu" berjalan menuju meja makan didapur.

"Maaf nduk ibu belum bisa membekalimu lauk yang enak" memandang Nia dengan mata yang berkaca kaca.

"Gak apa apa ibu, yang penting kita bisa makan setiap hari Nia udah seneng bu" menggenggam tangan ibu.

"Udah bu ayo buruan makannya nanti ibu keburu ketinggalan angkot" berdiri mengambil nasi diperiuk dan sedikit mi oseng untuk ibu dan dirinya.

"trimakasih nduk" menerima piring dari tangan Nia dengan senyum hangatnya.

Mereka menyantap sarapan dengan lahapnya meskipun setiap hari hanyalah makan nasi putih ditemani dengan oseng mi pedas kesukaan Nia tapi mereka tak pernah merasa kurang meraka selalu bersyukur dengan apa yang mereka dapatkan .

"Ibu berangkat dulu ya nduk" beranjak setelah mencuci piring bekas sarapan mereka.

" Nggih bu , semoga dagangannya habis bu" jawab Nia sambil beranjak menjabat dan mencium tangan ibunya.

" Ini bu air minumnya ibu bawa" menyerahkan sebotol air putih sebagai pelepas dahaga nya disaat bekerja.

Ibu mengambil botol minum sambil sedikit tergesa gesa setelah mendengar suara klakson angkot yang biasa ditumpanginya.

Pelajaran di Sekolah Nia dimulai pada jam 7.15 tapi karena jarak dan sarana yang Nia punya, Nia harus berangkat satu jam lebih awal setiap harinya. Sekolah Nia berada jauh dari tempat tinggalnya. Dengan sepeda tua sang ibu, Nia pergi kesekolahnya. Sepeda tua yang selalu ibu bawa bekerja dulu ketika masih muda. Dengan keadaan yang masih mampu untuk mengayuh berbeda dengan keadaan sekarang, badan yang sudah mulai cepat lelah karena usia.

Disetiap pagi tak pernah ada kata lelah untuk Vania, dia tidak malu meski setelah dikeramaian dia bertemu dengan teman sekolahnya yang pasti menggunakan fasilitas mewah. Tak jarang diantara teman disekolah Nia yang menggunakan mobil sebagai alat transportasi nya.

Ya, Nia memang beruntung Nia adalah salah satu siswi dari SMP daerah nya yang bisa masuk di SMA favorite kota. Tentulah siswa siswinya merupakan anak anak dari keluarga konglomerat kota.

Nia mengayuh sepeda dengan senyum ceria nya ketika berpapasan dengan siapapun pengguna jalan yang dilewatinya . Senyum manis ramah yang pasti bisa meluluhkan hati siapapun yang melihatnya. Tak sedikit orang yang tau dengan Nia. Anak si ibu janda miskin pinggiran kota. Anak periang yang baik budi dan ramah kepada siapa saja. Termasuk untuk seorang remaja yang selalu mengaguminya , memujanya , mencintainya dan mengharapkannya. Tak ada yang tau kenapa keberaniannya seolah hilang menciutkan nyalinya hanya untuk seorang Vania si gadis miskin yang cantik dan penuh ceria. Hingga mendekatinya mengungkapkan kata cinta padanyapun sangat mustahil baginya. Ya, dia hanyalah sipengagum rahasia, mencintai Vania hanya dari kejauhan mengagumi setiap apa yang Vania punya, keceriaan, kesederhanaan, kecerdasan, kecantikan, kegigihan, hah . entahlah baginya Vania adalah the perfect girl in the world yang selalu diimpikannya sebagai pendamping hidup dimasa yang author sendiri gak tau kapan waktunya🤣🤣. .

Bismillah . . semoga bisa melanjutkan my first novel ini. . untuk para reader . . dukung aku yha melalui like dan komen . . 🙏 makasiih

sekolah

huft huft huft

Nia seolah merasa nafasnya terhenti. Dengan peluh bercucuran akhirnya Nia bisa melewati gerbang sekolah. Waktu menunjukkan pukul 06.59 saat Nia melewati gerbang sekolah itu tandanya semenit dia terlambat, gerbang pasti sudah akan ditutup.

alhmdulillah, untung aja. ucap Nia dalam hati.

telat semenit aja pasti aku sudah gak bisa lewatin gerbang kesekolah. tapi gak apa apalah yang penting nenek nenek tadi selamat. Fikir Nia dalam hati.

"Vania"Menepuk bahu Nia

Panggilan untuk dirinya sontak mengagetkan Nia yang tengah mengembalikan lagi sendatan nafas yang seakan tertinggal dijalanan.

" Kamu Sis. Duh kebiasaan ya, selalu aja ngagetin aku" Menarik nafas panjang.

Siska adalah satu satu nya teman Nia di sekolah ini . Siska merupakan anak pemilik salah satu pabrik didaerah kota. Kehidupan Siska berbanding terbalik dengan Vania. Siska terlahir dikeluarga yang tergolong mampu di Sekolah. Namun tak sama dengan anak anak yang lainnya Siska tidak membeda bedakan kehidupan antar teman . Siska anak yang baik, yang mau berteman bukan hanya karena materi. Meski kadang teman teman Siska melarangnya berteman dengan Vania tapi dia tak pernah menghiraukannya . Bagi Siska semua orang sama. Nia anak yang baik dan cerdas. Tak ada yang salah Nia bisa bersekolah di sini fikirnya.

"tumben banget kamu Van jam segini baru dateng" panggilan akrab Siska kepada Vania.

" iyha Sis tadi tuh dijalan aku ketemu sama nenek nenek gitu. Si nenek mau nyebrang lama banget gak bisa bisa, soalnya kamu tau kan kendaraan kalo jam jam segini pasti rame banget. Akhirnya aku milih turun bantuin beliau dulu. Hampir aja deh akunya telat kesekolah" turun dari sepeda sambil tetap memegangi sepedanya.

"owh" jawab siska asal.

" udah yu buruan kekelas" menggandeng tangan kiri Vania

" lha ini gimana? menggoyangkan sepeda tuanya yang jelas jelas belum terparkir.

"kamu masuk dulu aja Sis nanti aku nyusul, aku taruh sepeda ini dulu disana" menunjukkan tempat dimana biasanya Vania memarkir sepeda tuanya.

Disekolah hanya Vania saja siswi yang mengendarai sepeda. Sepeda Vania pun terparkir jauh dipojok parkiran paling belakang diantara banyaknya sepedah motor milik siswa siswi lain. Yang jelas untuk pengendara mobil sudah pasti tersedia parkiran tersendiri.

Vania berlari menuju kekelasnya setelah selesai memarkirkan sepeda.karena waktu sudah menunjukkan 07.05 menandakan bahwa 10 menit lagi pelajaran akan segera dimulai.

"Brugggh"

"aduh aduh maaf" tanpa melihat siapa yang telah ditabraknya Vania bergegas mengumpulkan kertas yang sudah berserakan dilantai teras akibat benturan keduanya.

deg

oh Tuhan, kenapa dia ? seakan Vania tak rela memalingkan pandangan pada sosok yang ada didepannya. Lama mereka saling bertatapan satu sama lain. Saling memandang dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Will buruan" suara dari kejauhan mengembalikan kesadaran masing masing.

"ok ok" sahutnya.

"im sorry" dengan suara lembut dia meninggalkan Vania yang masih saja mematung.

Boy William Atdmaja, sering dipanggil dengan Will oleh temannya, tapi dirumah keluarga mereka lebih sering memanggilnya dengan Boy. Ya dia seorang pria yang sangat tampan. Badan yang modeling dengan gaya rambut yang super duper ok , sudah pasti William adalah idola diSekolahnya. Yang pasti tak hanya kepintaran yang dia miliki tapi juga kekayaan keluarga Will yang turun temurun yang mungkin tak akan ada habisnya.

Will adalah seorang pria yang dingin terhadap wanita yang tak pernah ada yang tau dia suka perempuan atau suka laki laki. Ih ngeri kan. Ya kan saking dinginnya ya thor ya hhhh.

teeet teeet bel Sekolah berbunyi menandakan bahwa sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Vania bergegas menuju kedalam kelasnya.

"hei Van lama banget ? what happen ?"

tanya Siska didalam kelas melihat Vania yang sudah ditunggu tunggunya.

" gak ada apa apa Sis" Vania menjawab Siska dalam keadaan yang belum sepenuhnya sadar.

Dia masih mengingat kejadian diteras, mengingat tatapan yang misterius, tatapan yang sulit diartikan, tatapan seseorang yang diam diam dia idolakan selama ini . selama Nia bersekolah disini. Tanpa sadar senyum Nia pun mengembang dengan manisnya.

" Eh Van kamu kenapa sih ? Senyum senyum sendiri. Awas tuh ada setan lewat ntar kepincut lo" menggerak gerakkan tangan didepan wajah Nia.

Nia tergidig dari lamunan indahnya " e enggak Sis gak ada apa apa" tersenyum melihat Siska.

Tak lama mereka bercakap cakap hingga akhirnya pelajaran dimulai. Pelajaran matematika pada jam pertama hari itu, Salah satu pelajaran kesukaan Nia. Nia Memang ahlinya dalam bidang apapun, dalam pelajaran apapun . Maklum saja jika Nia selalu menjadi juara dikelasnya.

ting ting ting ting

Tak terasa jam istirahatpun telah tiba.

" Van ngantin yuk. Tadi aku gak sempet sarapan dirumah" rengek Siska.

" Tapi Sis" belum sempat Nia ngomong siska sudah menarik tangannya.

"ah gak usah tapi tapian ah" tak menghiraukan apa kata Nia.

" Tadi aku sudah sarapan Sis sama Ibu" berusaha menolak Siska.

" ya sekedar temani aku makan lah . emang kamu gak haus? ntar aku traktir jus jambu kesukaan kamu , ok ? terus menggandeng tangan Nia menuju kantin Sekolah.

" Hei Sis" suara tiba tiba yang mengagetkan Siska dan Vania yang tengah asyik bercerita. Seketika menoleh ke sumber suara.

"sadar dong ! Kapan sih kamu itu bakalan nyadar ? hah ? Cari temen tu yang selevel kayak kita kita gak seperti dia " menapat tajam Vania dengan penuh kebencian.

disambut suara tawa dari genknya.

" kamu tuh yang gak pantas aku jadiin temen. kamu selalu ngandelin uang papa mama kamu untuk segalanya! Coba saja kalo kamu bukan anak orang kaya . Pasti kamu yang gak akan pernah bisa sekolah disini. Dasar b*d*h"

bentak Siska kepada Alexa yang tak ingin jika ada anak lain yang menghina Nia.

Akhirnya pertikaian antara dua orang siswi pun tak terelakkan .Saling hina satu sama lain, saling jambak satu sama lain hingga baju seragam merekapun tak berbentuk lagi.

Apalah daya Vania yang terus berusaha melerai mereka tapi tak akan pernah ada gunanya.

Alexa seorang gadis yang lumayan cantik. Memiliki rambut panjang berbadan langsing, tinggi, berkulit putih serta terlahir dari keluarga yang juga kaya, tapi belum sebanding dengan kekayaan William. Hanya saja satu yang tak dia punya . Kecerdasan Alexa tak sebanding dengan siswa siswi lainnya. hanya karena uang saja hingga akhirnya dia bisa masuk di Sekolah itu.

Alexa termasuk salah satu siswi yang mengidolakan Will. Tak hanya mengidolakan tapi tak hanya satu kali saja dia ditolak oleh seorang pria ,William tepatnya. Namun seakan tak ada malu dan tak ada hentinya dia terus dan terus mengejar Will.

" Hei kalian ! Stop it now. Kenapa kalian selalu berkelahi?!Gak malu apa sama diri kalian masing masing. Kalian tu cewe , tau gak sih! Harusnya kalian bisa jaga sendiri image kalian masing masing"berteriak dengan penuh kesal

"Dia yang mulai kak" menunjuk kearah Siska

"Dia" balik menunjuk Alexa

" udah udah stop aku bilang" kembali kesal

sambil membanting kedua tangannya keudara

"Vania , bisa tolong ajak Siska menjauh ?" dengan nada lembut

Sementara ditempat lain , seseorang hanya mampu memandang mereka bak menyaksikan sebuah pertunjukan. Tak ada yang bisa dia lakukan kecuali hanya mengepalkan tangan . Ntah untuk apa dia selalu mengepalkan tangan ketika emosinya sedang tersulut api , toh tak ada gunanya, tak ada reaksi apa apa yang mampu dia tunjukkan . Ntah dia seorang pengecut atau hanya sekedar malu, hanya dia dan Tuhan sendiri yang tau isi fikirannya.

#flashback sebelum Andre datang#

Setelah beberapa siswa siswi yang tak berhasil melerai mereka, tapi tak ada yang bisa akhirnya salah satu siswa mencari seseorang yang bisa diandalkan. Sang ketua OSIS. Andre namanya.

sekolah part 2

Andre adalah sang ketua OSIS. yang pasti Andre adalah seorang pria yang tampan, bertubuh atletis dan tinggi . Untuk kecerdasan tak bisa diragukan . Andre merupakan bagian dari siswa 10 besar di Sekolah. Andre tidak terbilang berasal dari keluarga yang konglomerat tapi bisa dibilang Andre berasal dari keluarga yang mampu.

Andre merupakan salah satu siswa yang mengharapkan Nia diantara siswa" lainnya. Andre berasal dari SMP yang sama dengan Nia. Rumah merekapun cukup berdekatan, mungkin hanya 2-3 KM jaraknya. Pastinya Andre mengenal Nia dari segi manapun.

Berulang kali Andre mengungkapkan perasaannya kepada Nia, tapi ntah kenapa jawaban Nia slalu sama maaf kak untuk sekarang Nia belum bisa, Nia takut jika berpacaran bisa mengganggu konsentrasi Nia dalam belajar . itu itu dan itu jawaban nya. Tapi ntah apa selama itupun Andre tak mau menyerah. Andre tetap menunggu kemauan Nia untuk menjadi kekasihnya.

"Sis udahlah, jangan ribut terus sama Lexa . Emang bener kok yang dia bilang . aku tu gak selevel dengan kalian. aku juga gak pantas kamu jadikan teman" menunduk bersedih dengan ucapannya.

"shhht" menutup mulut Vania dengan jari telunjuknya.

" kamu bicara apa ? kita tuh sama Van. coba aja kali dia bukan anak orang kaya. pastikan dia gak akan bisa sekolah bareng kita?" merangkum Nia dipelukannya.

Siska adalah teman juga sahabat terbaik yang Vania punya. Dia yang selalu dan selama ini berada terus disampingnya. Sejak pertama mereka saling bertemu. Waktu itu Siska lupa tidak membawa salah satu keperluan O SPEK . Disaat itulah dia mulai kebingungan, dia mencari cari didalam tas tapi tak ada. taukan gimana menyebalkannya hukuman pembina OSPEK disaat SMA.

Siska hanya bisa terduduk lemas didalam kelas, disaat itulah Vania datang menemui Siska.

" hai " mengulurkan tangan nya yang dibalas keraguan oleh Siska.

" kamu butuh kresek merah bekas ? ini aq ada lebih, tadi aku sengaja bawa 2 tas kresek"buat cadangannya jika ada kerusakan fikirnya.

" Kamu serius ?" penuh antusias sambil membelalakkan mata penuh kebahagiaan.

"he eh" Vania mengangguk tanda setuju.

" eh btw kok kamu tau aku butuh ini " menerima tas kresek pemberian Nia.

" ya, tadi aku lihat kamu kebingungan gitu terus aku lihat peralatanmu kayak ada yang kurang" meyakinkan

" Makasih banget ya, aku Siska, kamu siapa ?" mengulurkan tangannya untuk berkenalan.

" a aku Vania" ragu dan sedikit malu.

Dimanapun Nia berada dia selalu merendah

sejak awal. bukan apa apa ,dia cuma merasa jika dirinya tak sebanding dengan teman teman baru sekolahnya. Meski demikian sedikitpun tak membuat Nia merasa minder, dia tetap semangat menjalani hari hari diSekolahnya. Sejak saat itulah mereka menjadi sahabat yang saling mengerti dan mengenal satu sama lain.

tak terasa waktu istirahat telah usai, kini tiba waktunya siswa siswi kembali ke jam pelajaran terakhir mereka, sebelum dilanjutkan jam extra . waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 untuk jam Mapel terakhir, yang akan dilanjutkan jam extra pada pukul 14.30 sore hari. Waktu yang pas untuk berolahraga.

Bulu tangkis adalah extrakurikuler yang Nia pilih untuk kegiatan olahraga.

"Nia" Andre datang menjumpai Nia

" ntar pulang bareng aku ya ?" memohon seraya memandang Nia.

" tadi aku bawa sepeda kak" sanggah Nia

" kapan kapan aja ya kak"

" kapannya kapan ? kamu kan tiap hari bawa sepeda" kesal dengan jawaban Nia yang tak pernah berubah.

"emmh bener deh kapan kapan pasti aku bareng kak Andre, tapi gak sekarang"

"bener ya" harap Andre kepada Nia

Tak ada yang tahu diwaktu yang sama terlihat sosok tampan yang selalu mengepalkan tangannya ketika emosi nya mulai tersulut. Gak tau apa masalahnya ya, mungkin aja karena rasa cemburu melihat Vania dan Andre yang tengah asik bercakap cakap atau mungkin karena jiwa pengecutnya yang membuat dia sangat sulit melangkahkan kakinya hanya untuk sekedar menyapa Vania.

"ehm ehm. pepet terus sampe dapet e e ehhmb ehmb" Siska mendekat sambil sedikit menyindir.

" Eh Sis kamu " sapa Andre

" sampai kapan kakak mau deketin Vania ? mau nunggu sampai tua ? " celoteh Siska yang membuat Andre tersenyum nyengir sambil mengusap rambutnya yang jelas tidak ada apa apa.

" ya udah aku pergi dulu" meninggalkan mereka berdua setelah dirasa pertanyaan b*d*h Siska yang dirasa sulit untuk dijawab.

"Van ? kamu gak kasihan apa sama Andre ? Menggandeng tangan Nia dan meninggalkan lapangan.

" Maksud kamu sis ?" pura pura gak ngerti maksud temannya

" ya kan kamu udah lihat sendiri kalo dia tu jelas jelas nungguin kamu buat jadi kekasihnya, bukannya dia anak yang baik , pintar, cakep lagi. Terus apa yang kamu inginkan lagi Van" merasa bingung dengan sahabatnya.

"gak gitu Sis, aku belum mau mikir aja masalah kayak gituan . Lagian kan aku harus tetap fokus sama pelajaran aku, supaya aku tetap bisa menyelesaikan belajar aku disini" sedih

" iya iya aku kalah lagi" ketus

berhenti melangkah seketika yang hampir saja membuat Nia terjungkal karena salah satu tangannya ada digenggaman Siska

"Eits, tapi Van . Apa jangan jangan kamu nungguin orang yang gak jelas itu"

" kamu selalu aja Sis , suka banget kalo ngawur.kembali berjalan mengimbangi Siska

" ya gak gitu Van dia kan pengagum rahasia kamu selama ini"

" Udah ah gak usah bahas ini terus" berjalan lebih cepat meninggalkan Siska kembali kelapangan.

" Ok. that enough guys, exstra disore ini bapak rasa cukup , untuk selanjutnya mari kita berdoa bersama, sesuai keyakinan masing masing sebelum kita pulang"

teriakan Pak Sofyan sebagai guru olahraga yang sontak mengumpulkan siswa siswi semua.

Pak Sofyan adalah seorang guru terfavorit bagi siswa siswi di Sekolah . Beliau seorang guru tapi juga bisa menjadi seorang teman bagi mereka. Pak Sofyan tak segan menerima curhatan dari siapapun pelajar yang mengeluh kepada beliau .

" berdoa selesai " dilanjut dengan kalimat penutup simple dari beliau. Semua pelajar bubar menuju kendaraan masing masing tak terkecuali si manis Nia dan sahabatnya Siska.

"udah lembar keberapa Van kamu dapet tulisan kayak gini? " mengintip secarik kertas yang dipegang Nia.

" gak tau Sis . Udah gak kehitung jumlahnya"

membaca isi yang tertulis di kertas.

*met istirahat my queen. i love u

pengagummu* tak lupa stiker hati yang menempel dibagian kertas.

" so sweet banget sih Van. terus kamu tau gak siapa cowo misterius ini ?" memandang Nia sambil memegang secarik kertas ditangan kanannya.

Nia mengangkat kedua bahu sambil menggelengkan kepalanya.

" Udah yuk sis kita pulang aja keburu petang" ucapnya setelah kembali melipat kertas dan memasukkannya kedalam tas.

"ok, by Van aku duluan ya. hati hati tuh kamunya dijalan" ucap Siska sambil menyetir motor bebek miliknya. dihari biasanya Siska selalu bawa mobil kesekolahnya, tapi karena hari ini ada jadwal exstra jadi dia memilih motor sebagai kendaraannya . Karena rumah keduanya saling berlawanan arah jadi sangat jarang bagi mereka untuk pulang pergi sama sama.

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play