...Alkisah I...
Tinggi dan pendek,
Kaya dan sederhana,
Esa dan dewa,
Kurus dan gemuk,
Jail dan galak,
Pendiam dan periang,
Jerapah dan elang.
...⚙️⚙️⚙️...
Hari itu, aku tak sengaja menatap matanya. Ia terlihat sangat tinggi, kurus pula. Kami duduk berhadapan, dipisahkan jarak dua ratus meter. Ia memakai hoodie soft green kebesaran di bawah pohon beringin besar. Lama ia mencuri pandang ke arahku. Beberapa saat kemudian, ibu mengajakku untuk pulang. Begitulah kesan pertamaku bertemu dengannya.
Sekitar 2 Minggu setelah pertemuan pertama kami, aku kembali berpapasan dengannya di depan koperasi sekolah. Kali ini aku yang memberanikan diri mencuri pandang ke arahnya. Ia masih sama, memakai hoodie soft green kebesaran. Mungkin benda itu kesayangannya atau ia hanya memiliki satu, entahlah aku pun tak tahu. Sebentar, lalu aku pun pergi setelah urusan 'membeli seragam' usai.
...⚙️⚙️⚙️...
Tepat 17 hari, aku memasuki kelas baru bercat hijau dengan warna yang mulai pudar. Namun, jangan salah. Kursi dan mejanya terlihat masih baru. Aku duduk di salah satu kursi yang terletak paling ujung. Jika orang lain memilih dekat jendela atau meja depan, jujur kesan bising dan kantuk akan menghampiriku. Setelah lima menit, tiba-tiba sekelompok siswa masuk. Tiga jumlahnya. Yang pertama siswa jangkung dengan kulit putih kemerahan dan wajah sedikit berisi. Yang kedua siswa paling pendek dari dua lainnya, kulitnya sawo matang kecoklatan. Dan yang ketiga, aku berkali-kali mengedipkan mata. Dia berdiri tepat di belakang dua orang itu. Si hoodie soft green. Aku lantas membalikan badan menghindari pandangan matanya yang memindai seisi kelas. Cukup lama, sampai terdengar suara tas yang diletakkan tepat di depan mejaku. Di kursi lain tentunya. Aku menoleh dan benar saja. Bukan kepalang jantung ini, serasa ingin lepas saja. Mereka bertiga meletakkan tas di area mejaku dengan salah satu tas tepat di sampingku. Semoga saja bukan si hoodie soft green, batinku.
Sepuluh menit aku menatap tembok, sampai suara wanita usia kepala empat menginterupsiku. Aku belum menoleh. Dia duduk di sampingku, tak beranilah daku bergerak barang satu senti.
"Selamat pagi,
Selamat datang di kelas ini, sebelumnya izin memperkenalkan diri. Saya Suryani, wali kelas kalian untuk satu semester ke depan. Kalian bisa memanggil saya dengan sebutan Bu Sur, Bu Ani, atau kalau mau Ibu Sayang juga boleh
Di sini, kalian adalah keluarga baru. Saya berharap, kalian dapat berbaur dan saling berbagi suka duka satu sama lain. Serta jangan sungkan untuk bertanya baik kepada teman, saya, maupun guru guru lainnya.
Ada peribahasa 'tak kenal maka tak sayang'. Jadi mari kita berkenalan satu persatu. Karena saya lahir pada bulan Desember, saya ingin kita mulai sesi perkenalan ini dari kursi yang paling ujung" entah ujung yang mana yang dimaksudkannya, aku masih tetap berada di posisiku sebelumnya. Tiga detik setelahnya, seseorang mengetuk mejaku. Tanpa pikir panjang aku menoleh,
"Anda orang pertama" ucapnya, syukurlah. Ia si kulit sawo matang. Lega benar rasanya.
"Izin memperkenalkan diri, nama saya Alesya Parameswari . Biasa dipanggil Ale. Sekian terima kasih" kataku sambil menatap lurus ke depan. Tak ingin menoleh pada banyak pasang mata yang mengalihkan atensinya padaku. Kemudian aku duduk.
"Izin memperkenalkan diri, nama saya Bayu Balaputra. Kalian bisa memanggil saya Bayu. Sekian terima kasih" agaknya benar dugaanku, dia kaku. Asumsiku didukung dengan panggilan 'Anda' tadi. Sesi perkenalan berlanjut dengan aku yang menunjukkan atensi pada mereka. Tidak lagi menghadap tembok, perkenalan pun sampai pada mereka yang berada di depanku.
"Izin memperkenalkan diri, nama saya Haris Hoteba. Orang di sekeliling saya biasa memanggil dengan sebutan Haris atau Eba asal jangan Oteb aja ya. Sekian terima kasih" Si putih kemerahan duduk kemudian. Waktunya ia memperkenalkan diri, setengah mati aku dibuatnya penasaran juga gugup.
"Izin memperkenalkan diri, nama saya Arjoena Bagaskara. Biasa dipanggil Juna. Sekian terima kasih" akhirnya aku tahu. Sesi perkenalan terus berlanjut sampai usai. Setelah itu, Bu Sur kembali mengambil atensi dengan menutup pertemuan dan memperbolehkan kami untuk beristirahat, hari ini tentu KBM belum berlangsung. Aku memutuskan untuk tetap di kelas sambil memakan bekal yang dibawakan bunda. Dengan mengejutkan, Haris dan Juna berbalik.
"Ubay, bawa bekal kagak?" Tanya Haris ke Bayu.
"Bawa, kalian ke kantin saja. Saya makan disini," jawabnya. Haris dan Juna pun pergi meninggalkan kami.
"Maaf. Tidak elok rasanya saat kita sebangku ,tetapi tidak saling kenal. Saya Bayu Balaputra. Mereka biasa memanggil saya Bayu," ucapnya sambil mengulurkan tangan. Jujur aku tidak suka dengan uluran tangan terbuka. Aku lebih suka dengan salam kepalan tangan. Artikel yang kubaca menjelaskan bahwa hal tersebut dapat mengurangi resiko penyebaran bakteri yang ada di tangan. Lalu aku membalasnya dengan salam kepalan tangan itu. Ia pun paham dan menabrakkan kepalan tangannya padaku sambil tersenyum.
"Alesya Parameswari, biasa dipanggil Ale" jawabku seadanya.
"Boleh saya mengganti Anda dengan kamu? Sepertinya Ale kurang nyaman"
"Bukan gitu, hanya. Saya tidak terbiasa berbicara formal. Tentu boleh jika Bayu ingin"
"Oke, terima kasih. Sebelumnya saya ingin meminta maaf soal teman saya tadi. Mereka memang seperti itu. Maksud saya, tingkah laku mereka," Bayu mulai membuka kotak bekalnya. Tercium bau tumis cumi hitam dibuatnya. Aku pun melakukan hal yang sama, hari ini bunda memasak capcay dan ayam kecap yang sudah di filet sehingga memudahkanku untuk menyantapnya.
"Tidak apa, saya tidak merasa terganggu. Saya kira mereka pendiam," kuambil potongan ayam kecap lalu memindahkannya ke mulut bersamaan dengan nasi. Hening setelahnya.
"Bayu mau makanan di kotak bekal Ale? Sepertinya tidak habis kalau saya makan sendiri," entahlah, aku hanya berinisiatif untuk menawarkan makananku padanya. Lagipula aku mengambilnya dengan garpu dan juga terpisah tempat antara lauk dengan nasi. Jadi tentu tidak masalah bukan?
"Boleh, terima kasih. Ale mau cumi saya? Ambil saja," istirahat ini kami lewatkan dengan bertukar isi bekal serta percakapan ringan soal diri kami masing-masing.
...⚙️⚙️⚙️...
Selamat pagi
Mohon perhatian, pengumuman!
Kepada siswa dan siswi kelas X, atas arahan dari kepala sekolah. Diputuskan bahwa kalian diperbolehkan pulang tepat pada pukul 12.00. Dimohon agar siswa dan siswi dapat mengikuti arahan tersebut.
Sekian, terima kasih.
Selamat pagi
Jam di dinding menunjukkan pukul 10.45, masih tersisa banyak waktu sebelum kami diperbolehkan pulang. Aku pun memutuskan untuk menumpukan tangan di meja lalu memasang posisi tidur.
Menurut artikel yang aku baca, yaitu hasil penelitian dari Sleep Medicine and Research Center. menunjukkan bahwa tidur siang tidak hanya bermanfaat untuk membuat badan menjadi lebih segar. Namun juga memberikan manfaat bagi kesehatan batin, kejiwaan, dan otak. Tidur siang dapat memberikan stimulus yang positif bagi perkembangan emosi dan mental. Selain itu, seorang Clinical Physicologist dari Boston University’s Center for Psychological Rehabilitation menemukan bahwa seseorang dengan kualitas tidur siang yang baik memiliki tingkat kepekaan (rasa kasih sayang, rasa empati, dan rasa toleransi) lebih, dan melakukan kinerja pekerjaan yang jauh lebih efisien dibandingkan mereka yang tidak melakukan kegiatan tidur siang. Beberapa tokoh dunia seperti Winston Churchill, John F. Kennedy, Thomas A. Edison, dan Rasulullah Muhammad SAW pun dilaporkan memiliki kualitas tidur siang yang baik.
Lama aku terjebak di alam tidur, sampai Bayu mengetuk mejaku. Kami sudah diperbolehkan pulang, katanya. Aku pun membereskan meja dan memasukkan barang ke tas.
"Ubay, saya sama Ajo mau ke warung mie ayam sebelah. Mau ikut ndak?" Tanya Haris sambil menggendong tasnya. Juna pun ikut berdiri.
"Ndak, saya ingin ke koperasi saja. Ale bagaimana?" Ia sepertinya tahu aku belum. mendapat teman dan selalu melibatkanku dalam kegiatannya.
"Saya ikut Bayu ke koperasi. Kurang suka makan di luar, takut tidak higenis" belum sempat aku berdiri, sang ketua kelas maju ke depan lalu meminta perhatian,
"Mohon atensinya, saya Ariq sebagai ketua kelas yang ditunjuk oleh Bu Sur. Beliau menyampaikan pesan kalau hari ini jadwal piket sudah mulai diberlakukan. Untuk jadwal piket hari ini, yaitu baris sebelah pojok. Tiga baris ke belakang. Untuk peralatannya, kalian bisa ambil di kantor tata usaha dekat lobby. Oke, sekian terima kasih" tiga baris ke belakang yang Ariq maksud adalah aku, Bayu, Haris, Juna, dan dua orang siswi lain yang aku sudah lupa siapa namanya.
"Ris, Jo, ambil alat kebersihan sana" perintah salah satu siswi sambil memasang wajah garang. Yang disuruh pun menurut dan pergi ke ruang tata usaha. Aku memutuskan untuk membereskan meja sambil menunggu kedatangan alat kebersihan, sedangkan Bayu memunguti sampah yang berserakan di lantai. Jangan tanya dua siswi lainnya, mereka memilih untuk membuka handphonenya masing-masing dan berselancar di sana. Tentu sudah biasa dalam lingkup 'kerja' terdapat beberapa orang yang memilih diam sampai peralatan yang di tunggu datang tanpa melakukan apapun. Tetapi aku tidak, sejak kecil aku terbiasa untuk segera menyelesaikan tugas yang diamanahkan padaku. Baik itu berat maupun ringan. Prinsipku 'lebih baik dikerjakan sedikit demi sedikit dengan santai daripada menumpuk dengan tergesa-gesa'.
Lima belas menit sudah kami membersihkan kelas. Setelah itu, kami kembali ke rencana awal. Aku dan Bayu akan pergi ke koperasi, sedangkan Haris dan Juna membeli mie ayam di warung mie ayam sebelah. Tidak ada percakapan diantara kami berdua selama perjalanan ke koperasi,
"Kak, ini totalnya berapa?" Tanya Bayu setelah mengambil roti dan sebotol air mineral. Aku memilih untuk hanya membeli susu dan donat.
"Ini Rp8.000, kalau yang ini Rp9.000" kami pun menyerahkan nominal yang disebutkan lalu meninggalkan koperasi.
"Kita duduk di sana saja gimana?" Ucap Bayu sambil mengangkat dagunya ke arah gazebo kecil di bawah barisan pohon ketapang. Baru kuketahui saat mengikuti upacara penerimaan peserta Didik baru tadi pagi, sekolah kami adalah sekolah Adiwiyata, yaitu sekolah yang peduli lingkungan yang sehat, bersih serta lingkungan yang indah. Terdapat banyak pepohonan rindang di lingkungan sekolah. Kelas-kelas pun memiliki fentilasi udara yang sangat baik dan efisien.
Aku mengangguk lalu ikut bersamanya duduk. Kami menghabiskan makanan sembari berbincang. Lalu dari arah barat datang Haris dan Juna.
"Hayuk pulang, sekarang sudah jam 11.45. Sebentar lagi jam dua belas. Pastilah sudah boleh keluar." ajak Haris.
"Sebentar, kami belum selesai makan" jawab Bayu. Haris dan Juna lalu duduk bersama kami.
"Bay, besok ada les nggak?" tanya Haris memecah keheningan.
"Nggak, kenapa?"
"Saya sama Ajo mau ke study center, kamu ikut?"
"Oke, Ale mau ikut juga?" tanya Bayu padaku.
"Eh, nggak deh. Aku takut ganggu kalian." jawabku gagap, bukan aku
Download NovelToon APP on App Store and Google Play