Pagi hari itu Nayla terbangun dengan derap langkah kaki para santriwati yang bersiap untuk kajian subuh. Meski sudah satu bulan berada di pondok pesantren Nay masih belum terbiasa dengan keramaian yang ada di asrama.. Pasalnya ia adalah anak tunggal dari kedua orang tua yang super sibuk yang menjadikan Nay seorang individualis.
Belum selesai kelulusan Nayla di Sekolah dasar, ia langsung diseret sang ibunda untuk pulang ke kampung. Bukan untuk liburan, melainkan survei lokasi pondok pesantren. Nayla sepenuhnya sadar bagaiman ia langsung jatuh cinta pada ponpes tersebut.
Jalan setapak yang dihiasi pepohonan, danau kecil yang berada pesis disamping jalan dan dipenuhi ikan-ikan. Para santri yang lalu-lalang dengan pakaian islami dan pepohonan rindang yang jika dikira-kira mungkin berusia ratusan tahun. Ada juga gedung-gedung yang terlihat cukup tua namun sangat terawat. Sungguh Nayla berkata dalam hati bahwa tempat ini adalah keindahan layaknya nyiur yang melambai. Membuat semua merasa nyaman berada disini.
Saat itu ia meyakini bahwa ponpes adalah tempat yang selama ini ia dambakan. Suasana yang sejuk, damai, dan penuh harmoni. Namun, realita menyadarkan Nayla bahwa hidup sebagai santriwati tidaklah mudah.
"Dor! Dor! Dor!" terdengar surat pintu yang didobrak. Nay seketika bangun dan melihat awas kearah pintu.
"Ayok bangun! sudah jam 3! nanti kalian telat dan gak kebagian air" teriak suara perempuan dengan lantang. Seolah ia tak peduli bahwa saat ini adalah jam terbaik untuk bermimpi.
---
"Nay" panggil seseorang. Ia mengernyitkan dahi berusaha mengenali siapa yang memanggilnya. Harap maklum, meski dalam satu kamar ada 20 orang, namun satu angkatan ada sekitar 100 orang yang lolos masuk ponpes. Jadi, wajar jika Nay sedikit kesulitan menghafal dan mengenali mereka semua.
"Kamu mandi abis teteh yang mana?" tanya orang itu.
"em.. yang tengah" jujur Nay bingun saat menjawab, karena kamar mandi yang tersedia berupa bangunan persegi panjang dengan sekat setinggi 1,5 meter dan bak panjang yang saling menyatu. Terdapat satu kamar mandi terpisah pada depan kamar mandi, namun selalu ramai dengan antrian. Akhirnya Nayla memilih mandi bersamaan dengan yang lain di kamar mandi yang terbuka dan panjang.
---
Nayla berjalan menyusuri gelapnya malam menuju gedung pengajian "Nahdlatul ummah". Gedung ini berlokasi tepat di tengah ponpes, ukurannya cukup besar karena di sisi kanan dan kirinya terdapat ruangan yang difungsikan untuk bersekolah jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) atau setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP).
Gedung ini jga memiliki lantai dua yang juga di fungsikan untuk ruang kelas. Namun karena ini gedung serbaguna jadi, ruangan-ruangn tersebut terkadang bisa digukanan juga untuk kegiatan lainnya. Sedang untuk jenjang Madrasah Alisah atau SMA ada di atas dan asrama putra tepat berada sisi kanan gedung ini. Meski tidak secara sepsifik berada disisi gedung, karena ada kolam dan jalan sebagai pemisah.
Sesampainya Nay ke lokasi, ia langsung mengamankan sendal kesayangannya. Sebenarnya ingin dibawa kedalam tapi ia lupa membawa tasnya. Lalu Nay berjalan memasuki gedung yang masih gelap, mungkin pengurusnya belum datang begitu pikir Nay. Karena masih suasana penerimaan santri baru, pengajian rutinnya digabung dengan solat subuh berjamaah. Jadi hampir semua santriwati menggunakan mukena sebagai pengganti kerudung dan menjadikan suasana gedung sedikit lebih horor.
---
Usai pengajian, rutinitas pertama adalah sarapan. Biasanya lauk pauk sudah tersedia di kantin masing-masing asrama. Namun untuk nasi, kita harus menunggu santri putra mengantarkan dari dapur umum. Tempat nasi tersebut dimasak. Nah, moment inilah semua santriwati biasanya berebut nasi. Karena jika tak sigap maka siap kehabisan.
Lucunya setiap mengantar nasi, santri putra selalu jadi bahan untuk digoda para santriwati. Terdengar ganas sih, tapi realitanya begitu. Bahkan pernah kejadian ada putra yang lari terbirit-birit lantaran malu dan terjatuh tepat di gerbang santri putri. Sontak semua yang melihat tertawa terbahak-bahak.
Tapi, tak jarang juga yang berkarakter cool dan enggan menaruh bakul jika para santriwati masih bergerombol. Seperti dia, Putra Ilham Al Fathan. Tanpa senyum tanpa kompromi, tegas menyatakan bahwa ia tak suka berdekatan dengan lawan jenis apalagi bersentuhan.
Perkenalan kami cukup sederhana, dari sebuah tulisah di mading sekolah yang bercerita tentang ideologi politik islam dan dibubuhi humor. Unik. Kesan pertama yang Nayla rasakan dan tanpa sadar ia segera mencari tau siapa penulis dengan nama pena Al-Fathan. Sungguh, saat itu Nayla tak menyangka bahwa rasa penasarannya pada sang penulis membawa ia pada dilema panjang yang tak berkesudahan.
"Hei Nay! kamu ngeliatin Putra segitunya amat. Sampe gak berkedip" tegur Sasha teman satu kamarnya.
"Hehehe, iya nih penasaran" jawab Nay singkat yang langsung bergegas pergi dari kantin.
---
Jantung Nay masih tak mau berhenti bedegup. Ia mencoba beristighfar dan menyebut nama -Nya sambil menepuk-menepukkan tangan ke dada. Berharap organ didalam tubuhnya mau berkompromi dan segera normal. Jangan-jangan aku punya penyakit jantung? pikir Nay asal.
|| bersambung...
Download NovelToon APP on App Store and Google Play