English
NovelToon NovelToon

The Rainy Song

Chapter 1 : Nyanyian Kedamaian

Flashback

Saat itu Reina berusia sekitar 11 tahun. Menjelang sore hari, di taman di depan sebuah rumah bercat putih, Reina bertemu dengan seorang remaja laki-laki yang usianya 5 tahun lebih tua darinya yang akrab dipanggil Kakak.

Kakak : “ Jadi kau harus menepati janjimu”. Ucap remaja laki-laki itu tersenyum.

Reina : “ Ummp” Jawab Reina sambil mengangguk.

Kakak : “ Sampai berjumpa lagi, jaga kesehatanmu”

Laki-laki berambut hitam itu mengenakan seragam sekolah menengah , dia kemudian berlari sambil melambaikan tangan dan masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintunya oleh sang supir.

Reina tersenyum. Dalam hatinya ia berkata “ Aku berjanji, aku akan bekerja keras”

Saat ini, Reina sudah beranjak dewasa usianya sudah menginjak 18 tahun dan baru saja menyelesaikan sekolah menengah atasnya. Reina bekerja di sebuah toko kue tradisional di kota, saat sekolah Reina sudah bekerja paruh waktu di toko itu, dan setelah lulus dia melanjutkan untuk bekerja secara full time.

Note : Reina. Gadis yang aslinya periang, pekerja keras, optimis dan memiliki tekad yang kuat dalam mencapai sesuatu. Reina yang murah senyum, kini sedikit pendiam. Meskipun begitu dia tetap gadis yang penuh semangat dan berdedikasi atas setiap pekerjaan yang dia tekuni.

Reina  : “Anda sudah sampai Pak?” Sapa Reina pada seorang lelaki paruh baya yang bekerja sebagai sopir pribadi seorang anak konglomerat ternama, dua atau tiga kali dalam satu minggu Pak Tomo selalu mampir ke toko tempat Reina bekerja untuk mengambil pesanan majikannya itu.

Tomo  : “Seperti biasa ya” Ucap Pak Tomo dengan senyum khasnya.

Reina : ”Saya memberikan ekstra 1 kotak untuk Bapak, tapi mungkin rasanya tidak seenak yang lain “ 

Tomo : “Buatanmu? Wah kau gadis berbakat” 

Reina tersenyum, Tuan Tomo bergegas menuju ke arah mobil yang ia parkir di seberang jalan. Disana Tuan Muda sang majikan sudah menunggu, duduk di bangku belakang mobil mewah. Mobil mewah yang hanya dimiliki para orang super kaya.

Pak Tomo sudah menjadi langganan toko ini sejak 3 tahun lalu, dan selalu memesan kue yang sama, kue coklat yang memang hanya toko ini yang jual. Kue coklat dengan rasa dan bentuk tradisional yang sudah jarang toko lain jual karena semakin sedikit peminatnya. Akan tetapi pemilik toko tempat Reina bekerjalah yang masih konsisten membuat kue itu meskipun hanya beberapa orang saja yang masih setia memesan. 

Seorang wanita berambut pendek datang mengahampiri Reina.

Note : Raya, rekan kerja Reina yang sangat jujur dan polos, selalu blak-blakan ceplas ceplos dan apa adanya. Tipe yang tidak bisa membedakan pembicaraan rahasia atau bukan. Tidak bisa melihat motif tersembunyi dari perkataan orang lain.

Raya : “ Apakah tadi Pak Tomo?, dia datang lebih awal hari ini” Tanya Raya.

Raya adalah rekan kerja Reina, mereka sudah  bekerja sejak sekolah menengah sebagai karyawan paruh waktu sama halnya seperti Reina.

Reina : “ Ya” Jawab Reina singkat, sambil mengelap etalase kaca tempat menyimpan kue-kue coklat yang berjajar rapi di dalamnya.

Raya : “ Aku penasaran dengan Tua Muda itu, dia tidak pernah turun dari mobilnya”

Reina : “ Aku pun penasaran, tapi seseorang dari dunia yang berbeda dengan kita mungkin hidup dengan standar yang berbeda juga”. 

Kemudian Reina berlalu menuju ke ruang penyimpanan di belakang untuk mengambil kue dan mengisi kembali wadah yang kosong di etalase.

Reina membawa satu nampan kue dari ruang belakang, saat Reina kembali dia melihat Raya masih memandangi mobil berwarna hitam yang sudah siap melaju, Reina ikut melihat ke arah mobil itu.

Reina memiliki rasa penasaran yang sama, karena sebenarnya Tuan Muda itulah pelanggan kue toko itu bukan Pak Tomo. Dalam seminggu biasanya 2 atau 3 kali dia pasti memesan kue yang sama di toko tempat Reina bekerja, tapi tidak pernah sekalipun membuka kaca mobilnya apalagi keluar dan turun untuk mengambil kuenya. Sebagai gantinya, Tuan Tomo lah yang selalu mengambilkannya.

Mungkin sebagai anak dari seorang konglomerat ternama dia tidak bisa sembarangan menampakkan wajahnya di muka umum. Itulah alasan yang paling masuk akal yang ada di benak Reina.

Tiba-tiba hujan rintik-rintik mulai mengguyur di luar, Reina dan Raya bergegas mengambil papan spanduk promosi yang berdiri di depan toko agar tidak terkena hujan. Suasana cukup sepi, tidak banyak kendaraan maupun pejalan kaki yang berlalu lalang, ditambah lagi hujan membuat suasana semakin senyap. 

Toko kue dengan bangunan tua itu memang tidak berada di jalur utama, tapi berdiri diantara perumahan penduduk. Jadi memang sehari-hari tidak terlalu banyak orang yang lewat di sekitar toko. Kebanyakan pembeli kue di toko itu adalah pelanggan setia sejak toko pertama berdiri, rata-rata mereka sudah menjadi pelanggan setidaknya selama 20 tahun bahkan ada yang lebih, maka bukan hal yang aneh jika pelanggan yang datang kebanyakan paruh baya atau lansia.

Reina dan Raya memandangi suasana hujan dari balik pintu kaca toko. Damai dengan iringan suara hujan yang memukul genting terdengar seperti alunan instrument, tetesan hujan yang memantul di atas jalanan pun tampak menari-nari seirama dengan ketukan bunyi rintik hujan. Suasana yang jarang ditemui di tengah kota. 

Suara rintik yang iramanya selalu berubah mengikuti suasana hati, hujan kali ini terdengar seperti sebuah lagu kedamaian bagi Reina.

Jam menunjukkan 21.00 malam, saatnya Reina dan Raya merapikan seluruh bagian toko dan mempersiapkan untuk buka kembali keesokan harinya.  Reina merapikan laporan penjualan, dan laporan keuangan harian, Raya merapikan sisa kue yang belum terjual. Dan pekerjaan lainnya mereka lakukan bersama-sama. 

Setelah selesai membersihkan seluruh bagian Toko dan mengganti seragam mereka. Raya mematikan seluruh lampu toko dan Reina mengunci pintu.

Di depan pintu toko yang sudah terkunci. Raya dan Reina bersiap untuk pulang.

Raya  : “ Dah, sampai jumpa besok”

Reina : “ Dah, jangan lupa besok kita harus datang lebih pagi”

Raya  : “ Ah aku hampir lupa, besok akan menjadi hari yang sangat melelahkan” keluh Raya.

Reina : “ Hehe, ok bye hati-hati di jalan. Jangan percaya siapapun yang baru kau temui di jalan “

Raya  : “ Hei, kau masih ingat saja. Itu kan kejadian tiga tahun lalu” 

Kejadian tiga tahun lalu, saat perjalanan pulang Raya bertemu dengan seorang laki-laki dan dia berkata ‘Kamu cantik sekali, kulitmu bersinar seperti bidadari’ Raya memang sangat polos, mendengar ucapan begitu saja membuat dia begitu berbunga-bunga, laki-laki itu menangkap kepolosan Raya sehingga membuat dia melanjutkan pujiannya. Dan esok harinya Raya bercerita kalau semalam dia menghabiskan seluruh gajinya bulan itu untuk membeli satu paket kecantikan, dan ternyata laki-laki itu adalah seorang sales produk skincare. Reina tertawa mendengar Raya yang bercerita sambil sesenggukan.

Raya : “ Hoi Reina, berhentilah menertawakanku”

Reina : “ Ya, ya, maafkan aku Hahahaha” 

Mengingat cerita itu Raya terkikik. Raya yang tersipu malu memukul manja pundak Reina, lalu beranjak pergi. Raya berjalan ke arah berlawanan, Reina pun  bersiap dengan sepeda mininya. Tempat tinggal Reina memang tidak terlalu jauh dari toko, sehingga dia memilih untuk bersepeda, karena Reina hidup sendiri dia harus menghemat uang dan menekan biaya lain sebisa mungkin agar dia dapat membayar sewa kamar kosnya dan untuk biaya lain sehari-hari. 

Di keheningan malam Reina mengayuh sepedanya, karena toko berada diantara komplek perumahan meskipun waktu baru menunjukkan pukul 22.00 malam tapi suasana terasa sangat sepi, hanya ada beberapa penjaga keamanan yang berjaga atau kendaraan bermotor yang sesekali terlihat lewat mendahuluinya, hanya suara gonggongan anjing yang terdengar memecah keheningan malam itu.

Reina sampai di tempat kosnya, rumah dua lantai yang terdiri dari 8 pintu menghadap ke barat. Hanya ada satu kamar yang kosong yaitu pintu paling pojok,  penghuninya pindah ke daerah lain karena pindah tugas dari pekerjaannya. Jadi hanya 3 kamar yang terisi di lantai atas termasuk Reina. Kamar Reina berada di pintu kedua dari tangga. Pintu kamar pertama adalah Tara, gadis berusia 5 tahun yang hanya tinggal bersama Ibunya. Ibunya adalah single parent yang menggantungkan hidupnya sebagai buruh cuci.

Reina mengetuk pintu kamar Tara. Tak berapa lama pintu pun terbuka.

Tara : “ Kak Reina?” Seorang gadis kecil berkuncir dua muncul dari balik pintu, ia sesekali mengucek matanya.

Reina : “ Ah maafkan aku, sepertinya aku mengganggu tidurmu”.

“ Ada siapa Tara ?” Seseorang dari belakang menyaut, dan dia pun datang menghampiri ternyata dia adalah Ibunya Tara.

Ibu Tara : “Oh Reina” Ucapnya tersenyum sambil mengelap tangannya yang basah, sampai selarut ini dia masih mencuci.

Reina : “ Ini aku bawakan kue” Reina menyodorkan satu kotak kue dalam plastik.

Tara tersenyum sumringah, dan Ibu Tara mengangguk sambil terus saja berterima kasih.

Reina tersenyum bahagia.

Setelah pintu kamar Reina adalah kamar yang diisi oleh seorang mahasiswa semester akhir sebuah universitas yang akrab dipanggil Barong, itu bukan nama aslinya tapi penghuni disana biasa memanggilnya begitu. Barong adalah seorang introvert, yang hanya keluar kamar jika ada jam kuliah atau sekedar membeli makan. Selain untuk keperluan itu dia lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar, membaca buku , nonton terkadang sesekali terdengar suara musik dari kamarnya.

Reina mengetuk pintu kamar Barong.

Barong muncul dari balik pintu, dia hanya menjulurkan separuh kepalanya sehingga yang terlihat oleh Reina hanya bagian wajahnya saja. Tanpa bertanya dan tanpa ekspresi, tapi Reina sudah terbiasa dengan hal itu.

Reina : “ Ini” Reina menyodorkan kotak kue yang sama seperti yang diberikan pada Tara, hanya saja ukurannya lebih kecil, karena Barong hanya tinggal seorang diri.

Barong mengangguk tanda ia menerima dan berterima kasih, lalu ia kembali menutup pintunya tanpa kata dan masih dengan ekspresi datar sama seperti saat dia membuka pintu. Reina tersenyum tipis, lalu ia bergegas ke kamarnya. 

Sisa kue yang tidak terjual memang pemilik toko izinkan untuk dibawa pulang, kadang jika jumlahnya masih cukup banyak setelah dibagi dua dengan Raya biasanya Reina bagikan ke tetangga di kosan. Biasanya Raya mengambil bagian lebih, karena dia tinggal dengan keluarganya yang cukup banyak Ayah , Ibu, Nenek dan kelima adiknya. Karena jumlah keluarga yang banyak dan keterbatasan ekonomilah yang membuat Raya tidak melanjutkan ke perguruan tinggi dan harus bekerja bahkan semenjak dia masih sekolah. Kehidupan Reina pun tidak lebih baik dari Raya, Reina seorang yatim piatu yang besar di panti asuhan sehingga ia harus bekerja keras untuk menghidupi hidupnya sendiri.

Pukul 23.00 malam, setelah mandi dan berganti pakaian tidur Reina merebahkan badannya di atas tempat tidur. Tempat tidur lusuh yang belum dia ganti sejak 3 tahun lalu, sejak dia menempati  kosan itu. Berbaring terlentang menatap langit-langit kamar, tubuhnya lelah membuat dia enggan bergerak. Hanya berbaring dan terdiam, tak butuh waktu lama dia pun terlelap.

Chapter 2 : Nyanyian kepedihan

Pukul 06.30 keesokan harinya Reina dan Raya sudah sibuk menata kue yang baru saja diantar oleh supir dari bagian produksi. Toko itu memang hanya menjual kue yang sudah jadi, dan untuk produksinya di tempat terpisah. Dapur khusus yang hanya pemilik dan beberapa staff saja yang boleh masuk, bahkan Reina dan Raya Pun tidak pernah tahu dimana lokasi dapurnya selama ini mereka hanya bertugas langsung di toko. 

Hari ini ada pesanan khusus dari sebuah rumah sakit. Pesanan kue untuk acara seminar, sehingga Reina dan Raya harus datang lebih pagi untuk menyiapkan toko lebih awal karena mereka harus menyiapkan pesanan khusus setelah itu. Toko buka jam 09.00 pagi, dan mereka hanya punya waktu 2 jam untuk menyiapkan 500 paket pesanan sebelum toko buka seperti biasa.

Reina : “ Apakah semua kue nya sudah lengkap?” Tanya Reina kepada supir bertubuh kurus dan berkulit gelap yang mengantar kue dari dapur.

Sopir  : “ Ini fakturnya, silakan dicek kembali. Sebelumnya sudah saya cek dan lengkap”.

Reina : “Baiklah, terima kasih”

Raya  : “Haaah, sebanyak ini?” Raya menatap kotak kotak kue besar yang berjajar di depannya.

Reina : “ Ayo kita mulai” ajak Reina.

Raya dan Reina mulai merapikan kue pesanan khusus itu, dimulai dengan menata susunan kotak besar sesuai dengan jenisnya. Raya menata kotak kardus untuk kue, dan Reina mengecek kembali jumlah serta jenis kue yang dipesan. Ada 6 jenis kue dan 1 botol air mineral untuk setiap paketnya. Supir pengantaran tadi juga turut membantu merapikan kotak- kotak besar tempat kue dari dapur untuk dibawa kembali ke dalam mobil pengantaran. 

Disela-sela kesibukan, Raya membuka obrolan.

Raya  :  “Seharusnya aku kuliah, dan bekerja di depan komputer” Gerutu Raya.

Reina : “Jika kau kuliah, apa jurusan yang akan kau ambil ?” Tanya Reina, sambil sibuk mengisi setiap kotak paket.

Raya : “ Karena cita-citaku adalah menjadi orang kaya mungkin aku akan mengambil jurusan bisnis” Ucap Raya berapi-api.

Reina : “ Hmm, cita-cita” Reina tertegun sejenak, tak lama lalu melanjutkan pekerjaannya. Raya melihat perubahan raut wajah temannya itu, membuat dia jadi penasaran.

Raya   : “ Kenapa?”

Reina : “ Ah tidak apa-apa, hanya saja kau memiliki cita-cita yang sangat menarik, aku iri padamu. Berjuanglah, suatu hari nanti mungkin kau akan mewujudkannya”

Raya  : “ Dan bagaimana denganmu?”

Reina : “ Aku? Hmm dulu aku punya, tapi kini tidak lagi”

Raya  : “ Haa? Adakah cita-cita yang seperti itu?”

Reina : “ Aku punya janji, tapi aku tidak bisa menjaga janji itu”

Raya  : “ Janji?” 

Reina : “Apa kau ingat, saat aku kali pertama menjadi karyawan paruh waktu disini. Aku berkata, aku bekerja disini karena aku punya janji yang harus ditepati”.

Raya  : “Oh iya, aku ingat itu”

Reina : “ 7 tahun lalu, aku pernah berjanji pada seseorang bahwa suatu hari nanti kami akan bertemu lagi, dan ketika saat itu tiba kami sudah mewujudkan cita-cita kami masing-masing”

Raya   : “ Siapa?”

Reina : “Dia, dia adalah seseorang yang aku kagumi bahkan sejak pertama aku bertemu dengannya. Sejak hari itu aku memutuskan untuk menjadikannya role model, karena itulah aku bekerja keras belajar agar aku bisa sebaik dia, tapi kau lihat sendiri sampai hari ini aku masih disini”

Raya  : “ Jadi cita-citamu menjadi seperti dia?” Raya malah bingung, dia tidak mengerti.

Reina : “Kita bicarakan lagi nanti, ayo kita selesaikan ini dulu. Waktu kita tidak banyak” Ajak Reina, karena dia tahu jika diteruskan akan semakin panjang dan mungkin mereka bisa terlambat menyelesaikan pesanan.

Mereka menyelesaikan pesanan tepat waktu, jam menunjukkan 8.30 saatnya mereka mengantar pesanan diantar oleh supir dari dapur.

Raya : “ Rumah sakit Mitra yang di dekat persimpangan itukah?” Raya menunjuk ke arah persimpangan jalan.

Supir : “ Rumah sakit besar di sekitar sini hanya itu kurasa” Jawabnya sambil tetap fokus menyetir.

Sesampainya di parkiran, Raya, Reina dan dibantu oleh supir bergegas mengeluarkan paket lalu ditata di atas troli. Setelah jumlahnya dipastikan sesuai , mereka berdua bergegas menuju lift yang berada di pintu masuk sebelah kanan.  Supir menunggu di parkiran , Reina dan Raya yang bergantian mendorong paket ke dalam lift barang. Raya menekan tombol lantai 5.

Sesampainya di lantai 5.

Reina : “ Disini tertulis ruang seminar ballroom lantai 5, mungkin pintu yang besar itu” Tunjuk Reina sambil melihat catatan kecil yang dibawanya.

Raya : “ Ya, sepertinya memang itu. Aku tidak melihat pintu lain disini” Raya mendorong troli mengikuti Reina yang berjalan di depannya.

Pintu ballroom sudah terbuka, Reina menjulurkan kepalanya dari balik pintu untuk memastikan dia berada di ruangan yang benar. Setelah dia cukup yakin tidak salah ruangan, Reina membantu Raya mendorong troli dan mereka berdua masuk bersama.

Ballroom yang sangat besar dan mewah, disana kursi-kursi peserta seminar sudah berjajar rapi, begitupun dengan meja pembicara di depan sudah tertata sedemikian rupa. Atmosfer berbeda, seketika Reina merasa kagum, namun jauh dalam lubuk hatinya dia merasa begitu kecil dalam ruangan itu. 

Reina : “ Beruntung sekali “ guman Reina pelan.

Reina menganggap peserta yang hadir di seminar ini adalah orang-orang yang beruntung, mendapat kesempatan untuk belajar dan meningkatkan pengetahuan serta skill mereka. Sedangkan Reina, dengan segala keterbatasannya tidak dapat melanjutkan sekolahnya ke jenjang betikutnya.

Raya : “ Hmmm? “ Raya menanggapi gumaman Reina, namun sebenarnya dia tidak mendengar jelas apa yang Reina ucapkan.

Reina : “ Ah tidak apa-apa” Jawabnya singkat, sambil terus mendorong troli ke arah meja depan.

Disana terlihat seorang wanita muda dengan jas putih, tampaknya seorang dokter. Wanita itu sedang sibuk mengecek mic, berulang kali mengatakan “cek, cek, test, test” 

Reina mendekat.

Reina : “ Permisi, dengan Ibu Monika?" Tanya Reina kepada wanita yang menghadap slide materi seminar yang sudah menyala.

Mendengar suara Reina, seketika wanita itu berbalik. Melihat Reina dan Raya yang memakai seragam, dokter berkacamata kotak  itu sudah bisa menebak mereka berdua dari toko kue yang dia pesan.

Monika : “ Dari Toko Kue?” Tanyanya ramah.

Dokter monika sangat cantik, usianya sekitar 25 tahun. Perawakannya tinggi, dengan badan dan wajah seperti itu Dokter Monika sangat cocok menjadi seorang model.

Reina : “ Disini sudah ada 500 kotak, dengan masing-masing 5 kue dan 1 botol air mineral sesuai pesanan” Reina menyerahkan faktur pesanan kepada Dokter Monika.

Dokter Monika mengecek faktur tersebut dengan seksama.

Monika : “ Ok, sudah lengkap. Tolong paket - paketnya dipindahkan ke meja yang sebelah sana ya” tunjuk Dokter Monika.

Reina dan Raya : “Baik Dok”

Reina dan Raya memindahkan paket dari troli ke atas meja yang berada paling belakang, disana juga sudah tersedia tumpukan ratusan modul yang akan dibagikan untuk peserta seminar hari itu. Reina teetarik untuk melihat salah satu modul, di sampul modul itu tertulis Skin Transplantation Surgery ‘Pembicara 1 : Reino’ .

Deg! Membaca nama itu Reina terdiam, hatinya seketika berdegup kencang.

 

Raya  : “Oke kotak terakhir dan semua sudah selesai. Reina, ayo kita segera kembali atau kita  bisa terlambat membuka toko”

Reina : “ Ah, iya” Reina yang tertegun itu kembali tersadar.

“ Tidak mungkin, hanya kebetulan saja” ucap Reina dalam hati.

Dokter Monika menghampiri.

Monika : “ Terimakasih, untuk sisa pembayarannya saya akan menghubungi pemilik toko siang ini”

Reina dan Raya mengangguk lalu keluar dari ruangan itu.

Sesampainya di depan lift, Reina masih terpikirkan nama pada sampul modul tadi. Dia meyakinkan dirinya kalau itu hanya kebetulan, dan itu pasti nama orang lain.

Reino adalah nama laki-laki yang ia kagumi sejak kecil itu. Reina mengingat - ingat kembali  untuk meyakinkan dugaannya itu, saat terakhir bertemu 7 tahun lalu Reina berusia 11 tahun dan Reino berusia 16 tahun, berarti saat ini Reino berusia 23 tahun jika ia menjadi dokter sesuai dengan yang ia cita-citakan seharusnya Reino baru saja lulus dan sedang magang, rasanya tidak mungkin jika nama pembicara yang tertulis di modul itu adalah Reino yang dia kenal. Bukankah hal yang wajar jika seminar diisi oleh narasumber yang sudah senior.

Reina terus saja meyakinkan dirinya bahwa dugaannya benar, dia tidak ingin terus memikirkan nama itu. Hatinya belum siap jika harus bertemu kembali dengannya. 

Reina : “ Hmmph” Reina menarik nafas panjang, untuk menenangkan hatinya yang masih berdegup.

Raya : “ Lega bukan? “ Raya mengira Reina menarik nafas panjang karena dia lega pekerjaan ekstra sedari pagi tadi akhirnya selesai.

Reina menatap Raya lalu tersenyum.

Pintu lift terbuka, saat Reina dan Raya masuk di pintu lift sebelah kanan di saat bersamaan pintu lift kiri terbuka. Reina melangkah masuk dan Raya mengikuti, sebelum masuk Raya sempat menoleh dan melihat seseorang yang keluar dari lift sebelah kiri. Seorang Dokter muda, dengan perawakan tinggi dan sempat tersenyum pada Raya. Di dalam lift Raya tertegun, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dilihatnya.

Raya berdiri dan tertegun tanpa kata.

Reina : “ Kenapa denganmu?” Tanya Reina aneh dengan sikap Raya yang terdiam dengan mata terbelalak, seperti seseorang yang baru saja melihat hantu.

Raya : “ Cubit aku”

Reinapun mencubit Raya. Aw! Raya menjerit.

Raya : “ Ini bukan mimpi”

Reina : “ Ada apa denganmu? Kau mendadak aneh sekali”

Raya : “ Kau tau aku sering bermimpi tentang pangeran berkuda putih, dan hari ini aku bertemu dengan pangeran berjas putih “.

Reina terkikik mendengar perkataan Raya.

Raya : “Aku tidak mengada-ada, tadi saat aku masuk lift aku benar-benar melihat pangeran berjas putih, dan dia tersenyum padaku hampir saja aku pingsan dibuatnya”

Reina : “ Kau ini, ada-ada saja. Aku berpikir kau bertemu hantu, kau sampai bersikap aneh begitu”

Reina tertawa kecil, dan Raya masih berceloteh meyakinkan Reina tentang apa yang baru saja dia lihat adalah nyata bukan khayalan atau mengada-ada. Seketika perasaan Reina yang sempat terganggu dengan nama Reino kembali normal, perkataan Raya yang polos dan kadang  ceplas-ceplos itu selalu menjadi obat terbaik untuk Reina. Karena itulah mereka saling melengkapi selama 3 tahun mereka bersama sejak bekerja part time di toko kue itu

Note : Dokter yang dilihat Raya. Dokter muda, bernama Reino. Narasumber yang akan menjadi pembicara pada acara seminar di ballroom hari ini.

.............

Raya dan Reina tiba di toko.

Saatnya mereka membuka toko, dan kembali dengan rutinitas pekerjaan seperti biasanya. Untunglah pagi itu tidak terlalu ramai pengunjung yang datang untuk makan di tempat, sehingga mereka bisa santai sejenak setelah kerepotan pagi ini.

Raya : “Jika setiap hari kita mendapatkan pesanan sebanyak ini, mungkin dalam satu tahun kita bisa ke luar negeri untuk berlibur”. Raya menghentikan kegiatan menyapunya lalu memutar badannya menghadap Reina yang sedang mengelap etalase.

Reina : “Berlibur ke luar negeri dan menginap satu minggu di rumah sakit”. Ledek Reina.

Raya : “Ah kau benar, pagi ini saja rasanya tulang belakangku ada yang tertinggal di ballroom tadi Hahahhaah”

Reina : “ Hahhahaha”

Reina dan Raya tertawa bersama.

Tring Tring ! Door bell yang mengantung di depan pintu berbunyi, tanda seseorang membuka pintu masuk toko.

Pintu toko terbuka, seseorang berpakaian rapi dengan tubuh gempal dan kacamata bulat masuk. Reina dan Raya serentak menyapa mengucapkan selamat datang pada orang itu.

Dito    : “Aku ingin mengambil pesanan” Ucapnya seraya mendekati etalase.

Reina : “Sudah memesan sebelumnya Pak? Tanya Reina ramah dengan senyum.

Dito    : “Ayahku bilang aku tinggal mengambilnya disini”.

Reina : “Ayah?”

Ah! Reina mengingat pesan singkat semalam, sebelum mandi dia sempat membaca pesan di handphone yang ternyata dari Pak Tomo , bahwa besok anaknya yang akan mengambil pesanan.

Reina segera membungkus pesanan seperti biasa yang dipesan oleh Pak Tomo.

Reina : “Apakah Pak Tomo tidak masuk hari ini?” Tanya Reina sambil memasukkan kotak kue ke dalam plastik.

Dito    : “Ayah sudah berhenti, dan aku menggantikannya mulai hari ini”.

Raya  : “Ho jadi Pak Tomo sudah tidak bekerja lagi?”

Dito  : “Begitulah, karena alasan kesehatannya Ayah memutuskan untuk berhenti sebelum kontraknya berakhir, sebagai gantinya aku yang bertanggung jawab untuk menyelesaikan nya” 

Ini adalah kali pertama Reina bertemu secara langsung dengan Dito, selama ini dia hanya mendengarnya dari Pak Tomo. Dito adalah anak Pak Tomo dia orang yang pemalu, dia lebih banyak menunduk saat bicara. Selain pemalu Dito seseorang yang mudah berkeringat maka dari itu dia selalu membawa sapu tangan kemanapun, dan sesekali mengelap keringatnya. Dia juga sedikit tidak lancar berbicara, jika dalam kondisi takut, cemas atau tegang dia sering kali bicara terbata-bata.

Dito    : “ Iya”

Reina : “ Ah, berarti anda adalah Dito?”

Dito    : “ Benar, darimana kau tahu namaku aku bahkan belum memperkenalkan namaku” 

Reina :“Saya berhutang banyak pada anda, mungkin Ayah anda tidak banyak bercerita tentangku yang pernah sangat terbantu oleh anda dan Pak Tomo” 

Raya dan Dito bingung, dan hanya menyimak perkataan Reina.

Setelah pesanan sudah siap, Reina menyiapkan total tagihan di mesin kasir. Dito lalu mengambil plastik kue yang diserahkan Reina dan menuju ke mobilnya yang di parkir di gedung sebelah. Dito mengatakan kalau Tuan mudanya sedang ada meeting dengan rekan bisnisnya, karena lokasi toko dan tempat meeting hanya terhalang satu gedung Dito memutuskan untuk sekalian mengambil pesanan kue dari toko itu.

Karena sebab itulah Raya dan Reina tidak mempersiapkan kue nya. Biasanya setiap kali mereka melihat mobil hitam parkir di seberang jalan, mereka sudah tahu Pak Tomo akan mengambil pesanan maka Reina atau Raya akan bergegas membungkus kue.

Kisah dibalik Pak Tomo yang berjasa bagi Reina.

Sedari kecil Reina tinggal di panti asuhan, saat usianya 12 tahun sepasang suami istri mengadopsinya. Orang tua baru Reina menjual  tahu yang mereka buat sendiri, mereka membuka toko kecil  di rumah mereka. 

Dua tahun pertama semua berjalan baik,  dia mendapat orang tua baru yang sangat menyayanginya. Meskipun ekonomi mereka tidak terlalu baik, tapi mereka menyekolahkan Reina di sekolah menengah pertama yang cukup bagus di kota itu.

Sayangnya masa - masa indah keluarga kecil Reina tidak berlangsung lama, saat Reina sudah menginjak tahun ketiga sekolah menengah, Ibu asuhnya mulai  sering sakit-sakitan dan saat dibawa ke rumah sakit ternyata Ibunya mengidap kanker stadium akhir. Penyakit yang sebenarnya sudah lama diderita tapi dia  tidak pernah mengatakannya pada siapapun bahkan pada suaminya.

Selama 20 tahun pernikahan mereka belum dikaruniai anak, karena dia tahu hidupnya tidak akan lama lagi lah maka dia memutuskan untuk mengadopsi anak. Dia ingin merasakan menjadi orang tua setidaknya di sisa hidupnya. 

Hanya berselang setelah 6 bulan setelah penyakit Ibunya terbongkar, sang Ibu meninggal dunia. Suaminya yang tidak bisa menerima kenyataan lalu menjadi seperti orang linglung, sering pulang malam dan pulang dalam keadaan mabuk. Terkadang dia memukuli Reina tanpa alasan, setelah kepergian Ibunya hidup Reina berubah drastis, tidak ada lagi kebahagiaan tidak ada lagi kasih sayang.

Meskipun begitu, Reina tetap berusaha bersabar dan bertahan menghadapi perubahan Ayahnya. Sampai suatu ketika pada hari kelulusannya, Ayahnya sudah menunggu di depan pintu rumah sambil memegang pisau besar, melihat toko yang hancur berantakan sepertinya sang Ayah baru saja mengamuk. Orang- orang sekitar  berkerumun tapi tidak ada yang berani mendekat. Mereka semua mengisyaratkan agar Reina tidak mendekat, tapi Reina tetap nekat menghampiri Ayahnya itu. 

Ayah  : “ Kenapa aku disini?”

Reina : “ Ayah, sadarlah kumohon”

Ayah  : “ Aku seharusnya menyusul Ibumu” 

             “ Pergi, pergi” lanjutnya.

Ayah Reina mendorong nya sampai tersungkur. Reina yang ketakutan, perlahan bangkit dan berjalan mundur lalu berlari menjauh. Ayahnya melempar apapun yang ada di hadapannya, dan meraung - raung berteriak pada siapapun orang yang mencoba mendekatinya.

Rintik hujan membasahi tubuhnya, kakinya masih bergetar tapi ia harus tetap berlari untuk mencari tempat berteduh. Reina berhenti di sebuah halte bus yang atapnya lapuk dan bangkunya rusak karena tampaknya sudah lama tidak terpakai.

Reina menatap ke bawah, dia melihat darah menetes diantara rintik air hujan yang jatuh di kakinya. Ternyata tetesan darah itu berasal dari tangannya yang terluka diakibatkan oleh lemparan benda yang mengenai lengannya tadi, rasa takutnya sangat besar sampai dia tidak menyadari lengannya terluka.

Sebuah mobil hitam berhenti persis di hadapannya. Seseorang keluar dari dalam mobil sambil membawa payung, pria paruh baya ini lantas bertanya apa yang terjadi padanya. Dia adalah Pak Tomo. 

Tomo : “ Apa kau baik-baik saja? Tanganmu terluka” 

Mata polos namun penuh ketakutan itu menatap Pak Tomo, Reina tak berkata apa-apa, dia yang masih syok tiba-tiba menitikkan air mata. Airmata yang menetes bersama air hujan yang membasahi wajahnya.

Dengan mobil , Pak Tomo membawa Reina ke sebuah rumah kecil, rumah petak dengan hanya satu kamar. Rumah yang jika dilihat dari barang-barangnya itu hanya dihuni oleh laki-laki.

Tomo : “Minumlah, dan tenangkan dirimu disini” Pak Tomo menyerahkan segelas teh panas.

Reina mengangguk dan meminumnya perlahan. Tangannya yang dingin masih bergetar.

Tomo : “Ini adalah rumahku, aku tinggal bersama anakku. Tapi semenjak aku bercerai dengan Istriku tahun lalu anakku ikut bersama istriku dan dia sekolah menengah disana. Karena aku tinggal di rumah yang disediakan majikanku rumah ini jadi tidak berpenghuni. Tinggallah disini , sampai kau dapatkan tempat baru” ujar Pak Tomo mengambilkan baju ganti dari lemari milik anaknya.

Sejak hari itu Reina tinggal di rumah sederhana milik Pak Tomo, sesekali Pak Tomo datang berkunjung untuk mengisi lemari pendingin dengan makanan siap saji atau mengisi lemari dapur dengan  makanan instan lainnya.

Karena saat pergi Reina hanya memakai seragam sekolah, Reina tak memiliki pakaian ganti oleh karena itu Pak tomo mengizinkannya untuk  memakai baju milik Dito  yang usianya hanya satu atau dua tahun di atas Reina. 

Satu bulan berlalu Reina memutuskan untuk mencari kerja karena dia ingin melanjutkan sekolahnya ke menengah atas. Saat Reina merapikan tasnya, tidak sengaja dia menemukan buku tabungan yang terselip di bagian belakang tasnya dan ternyata tabungan atas nama dirinya. Reina tidak menyangka rupanya selama ini sang Ibu asuh selalu menyisihkan sebagian penghasilannya untuk tabungan Reina. Tidak begitu banyak tapi cukup untuk mendaftar sekolah dan hidup beberapa bulan kedepan.

Saat berpamitan dengan Pak Tomo, Reina menyampaikan terima kasihnya karena secara tidak langsung Pak Tomo yang menyelamatkan nyawanya,  dan juga untuk Dito yang sudah meminjamkan semua pakaian dan barangnya selama dia menumpang tinggal di rumah itu.

Selain meminjamkan tempat tinggal  Pak Tomo juga lah yang merekomendasikan Reina untuk bekerja paruh waktu di Toko Kue Tradisional itu. Bulan lalu saat Pak Tomo mengambil pesanan dia membaca lowongan untuk pekerja paruh waktu.  

Begitulah bagaimana Reina mengawali harinya sebagai pelajar menengah atas dan pekerja paruh waktu di Toko Kue.

Raya  : “Tuan Tomo orang yang sangat baik” Komentar Raya setelah mendengar cerita masa lalu Reina dari awal dia diadopsi hingga akhirnya dia sampai disini dan bertemu Raya sebagai rekan kerjanya kini.

Reina : “Ya, dia penyelamat hidupku. Ketika libur aku akan berkunjung ke rumahnya untuk melihat kondisinya. Kuharap dia baik-baik saja”

Raya   : “ Lalu, bagaimana dengan Ayah angkat mu?”

Reina : “Kau tau kenapa pada minggu keempat setiap bulannya aku tidak pernah bisa pergi keluar bersamamu atau yang lainnya? Sebenarnya aku mengunjungi Ayahku. Aku tidak pernah bertemu dengannya secara langsung, Aku selalu melihatnya dari jauh. Aku hanya ingin memastikan kondisinya baik-baik saja, walau bagaimanapun dia adalah Ayah yang pernah begitu tulus menyayangiku”

Ternyata selama 3 tahun ini Reina juga selalu menyisihkan sebagian upah dari bekerja untuk mengunjungi Ayahnya, dan menitipkan uang kepada tetangga Ayahnya tanpa pernah memberi tahu kalau itu uang darinya.

Reina tahu sejak kepergian Ibunya, Ayahnya tak lagi membuka toko dan untuk menyambung hidup dia hanya mengandalkan belas kasihan dari warga sekitar. Dengan kondisi psikis tidak stabil yang dia derita , tidak ada yang bersedia mempekerjakannya karena suatu ketika dia bisa berubah brutal tak terkendali. 

Berbagai kesulitan hidup yang Reina hadapi, membuatnya melupakan apa yang pernah dia janjikan, janji untuk menggapai cita-citanya ketika suatu hari nanti dia bertemu kembali dengan orang yang dia kagumi, Reino. 

Hujan rintik seperti kemarin, tapi suasana hati Reina yang tidak begitu baik karena dia harus mengingat masa sulit yang pernah dilaluinya. Irama hujan yang mendayu-dayu seolah membawanya larut dalam kesedihan. Hujan hari ini seolah menyanyikan lagu kepedihan untuknya.

Chapter 3 : Nyanyian Asa

Malam ini Reina pulang agak terlambat, karena menjelang toko akan tutup malah banyak pembeli sehingga mereka harus tutup sedikit lebih malam. Jam sudah menunjukkan pukul 23.00 malam Reina masih mengayuh sepedanya menuju kosan. 

Sudah hampir tengah malam, tapi tidak biasanya lampu kosan masih banyak yang menyala. Terdengar sayup suara riuh dan bising dari lantai 3.

Saat Reina berjalan perlahan hendak menuju kamar, seseorang dengan alis menjulang bagai celurit kembar memanggilnya dari tangga  yang menuju lantai 3 . Reina!

Ternyata pemilik kos yang memanggil. Jarang sekali melihat Ibu kos ada disana, karena memang rumah tinggal Ibu Kos berada cukup jauh. Ibu Kos hanya sesekali datang, biasanya saat awal bulan untuk menagih biaya sewa atau iuran lainnya.

Seketika Reina ingat dia juga belum membayar sewa untuk bulan ini. “ Ah gawat, aku belum membayar sewa. Dia pasti marah kali ini, karena aku sudah telat untuk kedua kalinya” Gumam Reina dalam hati.

Sambil tersipu malu Reina menghampiri Ibu Kos.

Ibu Kos : “ Kemarilah” Panggil Ibu Kos yang akrab dipanggil Madam itu melambaikan tangan pada Reina. 

Reina mengangguk lalu mendekat. Tangan Reina ditarik dan dia ikut bersama Madam  ke lantai 3, pelataran kosong yang biasanya dipakai untuk menjemur pakaian atau barang lainnya oleh penghuni kos.

Ternyata semua penghuni sedang berkumpul disana. Termasuk si Introvert Barong dan si imut Tara bersama Ibunya.

Tara : “ Kak Reina, ayo makan sama aku. Ada ayam goreng kesukaan Tara”

Ternyata hari ini hari spesial untuk Madam, anaknya yang paling tua baru saja lolos  diterima bekerja di perusahaan ternama. Maka dari itu dia membuat acara makan bersama untuk penghuni Kosannya sebagai tanda syukur. Kebetulan sekali karena hari ini toko cukup ramai, Reina sampai tidak sempat makan malam. Reina ikut bergabung dengan yang lainnya, menikmati suasana penuh sukacita.

Malam semakin larut, seluruh penghuni kos turut larut dalam kemeriahan acara sederhana yang dibuat oleh Madam, makanan menu rumahan, minum jus dan soda sangat menyenangkan jika dinikmati bersama-sama.

Momen seperti inilah yang membuat Reina merasa dia tidak pernah kesepian meskipun hanya hidup sendirian, kemanapun dan dimanapun dia selalu meyakini pasti akan selalu ada orang baik.

..................

Keesokan harinya Reina lari tergopoh-gopoh setelah memarkirkan sepedanya. Dari luar Reina melihat Raya sudah rapi dengan seragam dan sapu di tangannya, dia sedang asik mengelap kaca etalase. Reina lari ke ruang ganti dan mengganti baju dengan seragam Toko. Pagi ini Reina terlambat hampir satu jam.

Reina : “Maaf Raya, aku jadi membuatmu mengerjakan semuanya sendiri”

Raya  : “Tidak apa Reina, tapi tidak biasanya kau terlambat” 

Reina : “Semalam aku tidur terlambat, ada acara dengan penghuni kos lain”

Raya : “Oooh begitu. Hmmm mendengar itu aku jadi ingin kos, andai saja Ibu mengizinkan ku. Harus satu kamar dengan kelima adikku itu menyesakkan. Bahkan aku tidak bisa untuk membalikkan tubuhku saat tidur”

Reina tersenyum, meskipun kamarnya tidak besar setidaknya selama ini dia tidak pernah merasakan kesempitan saat tidur.

Reina : “Bagaimana jika sesekali kau menginap di kosan ku? Memang pemilik kos tidak mengizinkan selain penghuni tinggal disana, tapi jika hanya satu malam mungkin tidak akan ada masalah”

Mendengar ajakan Reina Raya mengangguk angguk sumringah. Dan mereka memutuskan akhir minggu ini mereka akan menghabiskan malam untuk makan dan nonton bersama di tempat kos Reina tinggal.

Telepon toko berdering , Reina mengangkat telepon.

Reina : “ Toko Kue Tradisional, dengan Reina” 

Dito    : “ Dengan Dito” suara Dito terdengar dari ujung telepon.

Reina : “ Ya Pak Dito”

Dito    : “ Aku mencoba menelpon ke handphone mu tapi tidak tersambung”

Reina teringat semalam dia tidak sempat men charge telepon genggam nya, setibanya di kosan dia ikut acara Madam di lantai 3 dan langsung tertidur pulas setelah acara selesai.

Reina : “Sepertinya handphone saya mati”

Dito : “ ………………….”

Reina membawa satu kotak pesanan Dito, pesanan kue coklat seperti biasa. Sambil memegang satu kantong plastik, Reina berdiri di depan sebuah gerbang rumah yang sangat tinggi. Dia mengingat perkataan Dito saat di telepon tadi.

“ Reina, saat ini aku sedang berada di bengkel. Tadi tidak sengaja aku menabrak  tiang telepon , karena menghindari orang yang menyebrang dengan tiba-tiba. Jadi hari ini aku tidak sempat untuk mampir ke toko dan mengambil kue pesanan Tuan Muda. Dia akan marah sekali jika aku terlambat, bisakah aku minta tolong padamu untuk mengantarkan kue nya langsung ke rumah Tuan Muda? Oh ya satu hal, Tuan Muda saat ini ada di ruangannya. Ruangannya ada di lantai dua pintu sebelah kiri samping ruang meeting keluarga. Saat kau masuk ke ruangannya kau tidak perlu berkata apapun, Tuan Muda tidak suka ada suara apapun yang mengganggu saat dia berada di ruangannya. Kau cukup masuk dan simpan kue itu di meja.”

Mengingat pesan dari Dito, Reina menjadi sedikit grogi. Orang seperti apa Tuan Muda itu, dari pesan Dito dia mengambil kesimpulan kalau majikannya adalah seseorang yang memiliki temperamen buruk dan sangat menyeramkan. Reina sempat berpikir untuk kembali, tapi dia ingat Tua Muda itu adalah pelanggan setia Toko Kue, walau bagaimanapun Reina harus profesional dan berdedikasi penuh pada pekerjaannya. 

Setelah beberapa saat dia memotivasi dirinya dan mengumpulkan segenap keberaniannya, akhirnya Reina bersiap untuk masuk. Tapi melihat gerbang yang tinggi itu Reina bingung dan terdiam.

“Bagaimana cara membuka gerbang sebesar ini? Apakah ada tombol khusus agar pintu ini bisa dibuka?” 

Reina berjalan dari sisi ke sisi mencari tombol untuk membuka pintu gerbang yang tinggi dengan cat warna hitam pekat. Dia berniat untuk bertanya pada Dito, tapi dia ingat handphone nya masih di charge dan dia tinggal di toko. Seolah kehabisan cara, dia hendak memutuskan untuk menyerah.

Tiba-tiba gerbang terbuka. Reina dengan sigap masuk karena dia khawatir jika tiba-tiba tertutup lagi.

Baru beberapa langkah masuk, Reina berhenti. Tak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya. Rumah yang seperti taman Nasional menurutnya, dari depan gerbang ada jalan panjang dan berkelok menuju sebuah rumah besar yang berada di ujung jalan itu, sepanjang jalan di sisi kanan kiri jalan ada danau dan taman golf yang sangat luas. Jarak dari gerbang menuju rumah sangat jauh, Reina memilih untuk berlari karena dia harus segera kembali ke Toko, jika terlalu lama Raya akan sangat kerepotan menjaga toko sendirian.

Reina yang masih terengah-engah akhirnya sampai di pintu utama rumah, pintu kayu yang sangat tinggi seperti pintu kastil yang tergambar di buku-buku dongeng kerajaan. Pintunya Pun terbuka sendiri. Dia melangkah masuk perlahan, dan menaiki tangga dengan jalur bercabang menuju lantai 2. Dia mencari pintu yang berada di samping ruang meeting keluarga, tapi semua pintu bentuknya sama, serta terdapat beberapa jalur berbeda.

Akhirnya Reina mengecek setiap ruang yang berada di ujung lorong, tapi semuanya kosong tidak ada satu orangpun hanya dipenuhi furniture mewah saja. Setelah mengecek setiap ruangan Reina sampai di pintu terakhir, dia berharap kali ini dia masuk ke ruangan yang benar.

Pintu terbuka, Reina melangkah perlahan.

“Terlambat!” Suara dari balik kursi mengagetkan Reina.

“Ma.. ma .. ma.. Maafkan saya” Reina membungkukkan badannya, sambil berjalan perlahan ke meja untuk menyimpan kotak kue dalam plastik yang dia bawa.

Tiba-tiba seseorang sudah berdiri di hadapannya. Reina mencoba menguatkan dirinya agar tidak gemetaran. Reina memberanikan diri mengangkat wajahnya.

Di hadapannya seseorang sudah berdiri dan tatapan tajam mengarah padanya. Seseorang dengan tubuh tinggi tegap, rambut agak gondrong, tidak tertata rapi tapi tidak berantakan. Sebut saja rock mix gangster style, perpaduan yang tidak biasa untuk seorang konglomerat yang biasanya digambarkan selalu rapi dengan setelan jas dan sepatu mengkilap. Meskipun penampilannya tidak serapi konglomerat yang dia bayangkan tapi entah bagaimana tapi tetap terlihat cocok. 

Reina menepuk kepalanya, apa yang sedang dia pikirkan di saat seperti ini.  Dia malah menilai penampilan customernya itu.

Note : Jovan, anak konglomerat dengan gaya 'urakan' versi Reina. Rambut gondrong, dan bertindik.

...........

Dia mengingat pesan Dito bahwa dia tidak perlu berkata apapun, sayanngnya dia terlanjur berkata maaf sebelumnya, dan hal itu membuat atmosfer dalam ruangan semakin tidak menyenangkan. 

Sambil kembali membungkuk, Reina meminta maaf. Namun hening. Reina mengintip dengan sedikit mengangkat wajahnya. Ternyata orang tadi sudah pergi. 

“ Apa itu tadi?” Gumamnya dalam hati.

Reina beranjak keluar pintu, dia menatap lorong yang begitu panjang. Lorong yang bahkan lebih panjang dari seluruh kawasan kosan tempat tinggalnya. Dia berjalan menyusuri lorong tapi rasanya dia tidak menemukan tangga tempat tadi pertama masuk. Dia menyadari kalau dia tersasar. 

“ Ada apa dengan rumah ini? Bahkan lebih luas dari lapangan bola standar Internasional !” Reina menggerutu sambil mengecek setiap pintu yang dia lewati.

Setelah berputar putar selama hampir satu jam barulah dia menemukan pintu keluar.

Tanpa disadari ternyata Reina 3 jam meninggalkan Toko. Reina kembali dengan nafas berat, berbaring di atas sofa panjang samping etalase. Bajunya basah karena keringat, seperti seseorang yang baru menyelesaikan lari maraton.

Reina : “Hari ini aku membakar 3000 kilo kalori” Keluhnya.

Raya  : “Apa kau berhasil menemukan rumahnya?”

Reina : “Bahkan aku menemukan Taman Nasional di tengah kota”

Raya  : “Benarkah? Aku harus kesana. Pasti menyenangkan mengunjungi Taman Nasional”

Raya yang polos begitu bersemangat membayangkan ada taman Nasional di kawasan itu, padahal Reina hanya mengibaratkannya saja. Tidak ingin memperpanjang, Reina pun hanya menghela nafas tanpa melanjutkan pembicaraannya lagi. Dia bahkan terlalu lelah untuk sekedar bercerita.

...................

Keesokan harinya berjalan normal seperti biasa, buka toko sesuai jadwal, customer lansia memenuhi bangku makan di tempat, kue - kue pun habis tak bersisa dari etalase. Begitupun esok harinya berjalan sebagaimana mestinya. 

Sayangnya rutinitas yang mendamaikan bagi Reina itu tidak berlangsung lama. Sampai akhirnya telepon berdering dari Dito yang kembali meminta tolong Reina untuk mengantarkan kue pesanan Tuan Mudanya.

Dia berpesan kali ini Tuan Mudanya yang akan menelponnya secara langsung karena dia sedang tidak berada di ruangannya. Hal ini  akan berulang selama dua minggu kedepan selama Dito pulang untuk merawat Pak Tomo yang sedang dirawat di rumah sakit. Jika Reina mendapat telepon dari nomor yang tidak dikenal bisa dipastikan itu adalah telepon dari majikannya itu.

Kriiiing!!! Handphonenya berdering nyaring. Reina diselimuti perasaan was-was seakan dia akan mendapat telepon dari pewawancara kerja.

Reina : “ Ha..halo” Reina terbata.

Jo       : “ Jo, ruang billiard”  Suara datar dari balik telepon.

Klik. Tuuuut. Telepon ditutup.

Begitu saja? Apa itu! Gerutunya dalam hati.

Jo? Jadi namanya Jo?Hmm nama yang cocok dengan penampilan yang kemarin itu.

Reina kembali menepuk kepalanya, kenapa lagi-lagi dia mengomentari orang itu?

Hanya dibutuhkan 5 menit untuk sampai ke rumah Jo dengan skuter pengantaran milik toko. Kali ini dia sengaja memakai skuter agar dia tidak perlu berjalan jauh dari gerbang depan menuju pintu rumah.

Reina sampai di depan gerbang rumah Tuan Muda. Pintu gerbang terbuka, Reina melaju dengan skuter matic berwarna biru. Skuter butut yang sudah jarang sekali dipakai untuk pengantaran, dan baru kali ini dipakai lagi untuk pengantaran yang tidak biasa. Customer loyal yang cukup merepotkan Reina.

“Mengingat ruang yang sebelumnya saja rasanya sulit, apalagi jika aku harus mencari ruang baru seperti billiard”. 

Reina menyusuri setiap sudut dan lorong rumah, membuka setiap pintu yang bentuk dan besarnya sama. Rumah besar dan luas dengan bentuk yang tidak biasa, ada ratusan ruangan dengan fungsi yang berbeda-beda. Seperti restaurant, kantor, hotel, fitness center dan swalayan yang pindah ke dalam satu rumah, atau rumah ini lebih tepat disebut mall. Semua fasilitas ada, rasanya jika tinggal di rumah seperti ini tidak perlu lagi untuk keluar rumah untuk mencari hiburan.

Reina sudah sampai di lantai 4 dan masih belum menemukan dimana ruang billiard itu, Reina kembali ke lantai dasar mencoba mencari di sisi belakang rumah.

Reina Melihat ada ruangan full kaca, dan melihat meja billiard berjajar seketika dia berlari menuju ruangan itu, dan benar saja seseorang sudah berdiri menghadap meja billiard bersiap dengan sticknya.

“Terlambat” Ucapnya dengan nada agak tinggi, suaranya berat menambah kesan menyeramkan. Lagi -lagi sangat cocok dengan tipikal wajah dinginnya itu.

Reina melakukan yang sama seperti sebelumnya menundukan badan meminta maaf. Tuan Muda itu mendekat mengambil plastik yang dibawa Reina lalu beranjak pergi, tanpa sepatah katapun. 

Reina sudah tiba kembali di toko. Raut wajah lelah namun penuh dengan tanda tanya. 

Apakah rumah sebesar itu hanya Tuan muda tinggali sendiri? Untuk kali kedua Reina kesana tidak melihat anggota keluarga lain selain beberapa pelayan yang bekerja di tempatnya masing-masing. Lagipula rumah dengan fasilitas dapur seperti restoran lengkap dengan chef profesional begitu bukankah lebih mudah untuk dibuatkan kue yang sama dibandingkan harus memesan di toko yang letaknya jauh dari rumah dan akhirnya malah terlambat datang. Terlebih, jika Dito tidak bisa mengantarkannya selama dia pergi kenapa tidak meminta supir lain untuk menggantikannya? Entahlah, masih banyak pertanyaan lain yang berputar di kepalanya.

Plak! Tepukan Raya menyadarkan Reina yang sedari tadi berdiri tanpa bicara, namun isi kepalanya kusut dan semrawut.

Raya   : “Bagaimana pengiriman hari ini, apakah kau masuk ke Taman Nasional lagi?” Raya masih berpikir kalau Reina benar-benar melalui Taman Nasional untuk masuk ke rumah itu.

Reina   : “Hari ini bahkan aku masuk ke mall”

Raya   : “Benarkah? Bahkan ada mall disana?” Raya semakin tertarik. “Sepertinya pengiriman berikutnya, aku yang akan mengantar” tambahnya.

Reina  : “Sebaiknya tidak, atau kau tidak akan bisa kembali pulang”

Raya   : “Tidak bisa kembali pulang, apakah maksud mu di sana banyak penjahat?”

Reina : “Ha? Tidak ada yang seperti itu, tapi sebaiknya kau tidak perlu kesana. Dibandingkan dengan penjahat aku lebih khawatir saat kau bertemu dengan Tuan Muda itu”

Raya   : “Jadi Tuan Muda itu lebih jahat dari penjahat?”

Reina  : ”Hmmmmm, sudahlah. Ada customer masuk”

Reina menghela nafas panjang, Reina berpikir memang sebaiknya tidak bercerita apapun hari ini.

..................

Keesokan harinya.

Reina dan Raya sampai bersamaan di depan Toko. 

Reina : “Selamat pagi” Sapa Reina.

Raya  : “Paaaagiiiiii, apa kau tidur nyenyak tadi malam?”

Reina : “Tidak juga, entah kenapa sejak semalam aku merasa hari ini akan sangat melelahkan”

Reina membuka kunci pintu kaca Toko. Raya membantu mendorong membukakan pintu.

Raya  : “ Bukankah hari ini tidak ada pesanan khusus”

Reina : “ Memang tidak ada, tapi aku merasa akan terjadi sesuatu. Aku punya perasaan buruk tentang hal itu” 

Baru dua langkah Reina memasuki Toko, handphone nya berdering. Kriiing!!

Panggilan masuk, tertulis nama penelponnya ‘Mr Terlambat’  

Itu nomor telepon Tuan Muda Jo, Reina memberinya nama itu karena setelah pertemuan kedua kalinya hanya kata itu yang didapat darinya.

Jawaban atas perasaan buruk yang dia rasakan sejak semalam, ternyata dia mendapat telepon dari Jo sepagi ini. Bahkan kue dari dapur pun belum sampai tapi dia sudah harus bersiap dengan pengantaran.

Ahhh ! Ini dia. 

Reina : “ Ha …” Belum selesai Reina mengatakan halo, Jo sudah memotongnya.

Jo       : ” Ruangan piano” 

Klik. Tuuuut tuuuuut. Telepon diputus.

 

“Apa-apaan itu. Bagaimana bisa ada orang macam diaaaaaaaa!”

Reina sangat jengkel, dia berteriak di depan handphonenya yang sudah tidak tersambung itu.

Raya terperanjat mendengar teriakan Reina. Pertama kalinya Raya melihat temannya sejengkel itu. Reina selama ini dikenal sangat kalem, dan murah senyum. Ketika marah dia hanya menghela nafas lalu diam, jarang sekali dia menaikkan suaranya. Reina memang jarang bersuara keras, bahkan tertawa pun dia sering sering terkikik tidak pernah tertawa terbahak-bahak.

Kesulitan dan kesedihan yang dia lalui bertahun-tahun lah yang membuat dia tidak bisa mengekspresikan emosinya lebih lepas. Selalu ada beban di raut wajahnya, Reina tidak pernah menunjukan tawa atau kemarahan yang sepenuhnya. Semua ekspresinya seperti tertahan. 

Raya : “ Apa kau baik-baik saja?” Tanya Raya khawatir.

Reina : “ Ah, maaf. Kau pasti terkejut” Reina menyadari dia tidak seperti biasanya. Dan hal itu pasti membuat Raya kaget.

Raya : “ Mmmmp” Raya menggelengkan kepala.

Reina : “ Hari ini aku akan melakukan pengantaran lebih awal, setelah semua rapi aku langsung berangkat”

Raya : “ Dari Tuan Muda itu lagi?”

Reina mengangguk.

Raya : “ Bukankah kemarin dia baru pesan, tidak biasanya dia pesan berturut-turut seperti ini”

Reina : “Entahlah, tapi kita tidak bisa berbuat apa-apa. Kita akan dalam masalah jika menolak permintaannya”

Raya : “Aku semakin penasaran orang seperti apa Tuan Muda itu”

Reina : “Lebih baik tidak berurusan dengannya, atau kau akan direpotkan dengan permintaannya”

"Mungkin melihat wajahnya saja akan membuatmu bermimpi buruk". Batin Reina.

Reina teringat Dito. Dia lalu menelponnya.

Dito    : “ Ya”

Reina : “ Pak Dito maaf mengganggumu sepagi ini”

Dito    : “Tak apa”

Reina : “Ruang piano ada dimana ya?”

Dito    : “Hmm, ruang piano? Maksudmu ruang piano di rumah Tuan Muda?”

Reina : “Hari ini dia memintaku mengantarkan pesanannya kesana”

Dito : “Bukankah kemarin kau sudah mengantarkan pesanannya?”

Reina : “ Pesanan untuk hari ini”

Dito  : “Oh, setahuku Tuan Muda hanya pesan 2 atau 3 kali dalam seminggu. Ayahku yang mengatakannya. Tidak biasanya. Hmm tapi ya sudahlah, mungkin nafsu makannya sedang bagus. Itu kabar baik. Baiklah Reina dengarkan instruksi ku baik-baik …..”

Dito lalu menjelaskan secara detail dimana ruangan piano itu berada. Reina mendengarkannya dengan seksama.

Pukul 09.30 kue sudah berjajar tertata rapi di etalase, kaca jendela dan pintu sudah dilap, tidak lupa lantai juga selesai di pel. Papan promosi sudah berdiri di depan pintu. Toko sudah rapi dan siap melayani pelanggan. 

Reina memakai celana training karena dia akan naik skuter untuk mengantarkan pesanan ke rumah Jo. Seragam toko itu memang memakai rok untuk bawahannya, maka dari itu Reina selalu membawa training sebagai cadangan jika dia harus naik sepeda atau skuter.

Reina memarkirkan skuternya, lalu berjalan menuju pintu utama.

Kali ini Reina yakin tidak akan terlambat, Reina sudah menyiapkan catatan yang berisi jalur menuju ruang piano, sesuai dengan arahan yang diberikan oleh Dito tadi melalui sambungan telepon. Reina berjalan sambil membaca secarik kertas di tangannya, dia berjalan menuju bagian belakang rumah, tidak lagi berputar-putar di lorong yang sama seperti kemarin dan beberapa waktu yang lalu.

Saat menuju ruang belakang itu Reina melewati sebuah taman air mancur. Reina takjub, bahkan ada ruang terbuka dan taman secantik itu di dalam rumah. Reina menyusuri lorong terbuka sepanjang taman. 

Reina hampir sampai ke sebuah ruangan yang berada di ujung lorong. Ruang yang lebih tepat disebut pondok, ruang yang cukup besar dikelilingi dengan kaca besar dan berdiri  terpisah dari bangunan utama rumah.

Dari kejauhan , Reina dapat melihat isi dari ruangan itu, banyak berjajar berbagai instrumen. Bahkan bisa untuk mengadakan orkestra sendiri dalam rumah dengan instrumen selengkap itu.  Tapi Reina tidak melihat piano, mungkin terhalang atau berada di sisi lain di ruangan itu.

Reina semakin dekat menuju pondok, tapi dentingan piano menghentikan langkahnya. Seseorang baru saja memainkan piano. Alunan dentingan piano yang sangat indah, Reina berpikir mungkin alunan seindah ini dimainkan oleh seorang profesional yang disewa untuk memainkan piano.

Saat berada di bibir pintu, Reina terkejut. Ternyata yang memainkan piano itu adalah Jo. Jo yang dalam penilaian Reina adalah seorang gangster yang dingin adalah seseorang yang suka berkelahi di bar sambil mabuk. Reina terlalu banyak menonton drama XD

Siapa sangka seseorang yang dia bayangkan dengan sosok urakan ternyata lihai memainkan jari jemarinya diatas tuts piano, jari-jari panjangnya tampak menari menari seirama. Pemandangan yang jarang dia lihat, sejenak Reina terhanyut dalam alunan permainan piano Jo saat itu.

Breng !!!Suara piano yang dipukul sembarang. “ Terlambat!” 

Suara keras Jo mengagetkan Reina, dia tersadar dari lamunan.

Reina melihat Jo menatap tajam ke arahnya.

Reina setengah berlari untuk menaruh pesanan diatas meja yang berada di dekat piano. Setelah menaruhnya di atas meja tanpa berkata apapun Reina langsung berbalik dan hendak keluar. Tapi Reina mengurungkan niat untuk keluar, menghentikan langkahnya dan berbalik arah. Entah darimana datangnya, tiba-tiba Reina dipenuhi dengan keberanian untuk bicara.

Reina : “Tuan, tidak bisakah anda sedikit pengertian? Bagaimana bisa aku tidak terlambat, sedangkan anda selalu memberikan  tempat baru setiap kali aku mengirimkan pesananmu. Dengan rumah sebesar ini, bahkan aku tidak bisa kembali menggunakan jalur yang sama seperti saat aku masuk tadi”.

Jo berdiri lalu berjalan pelan menghampiri Reina.

Reina baru menyadari apa yang dilakukannya itu adalah masalah besar. Reina menahan diri agar tidak gemetaran. 

Jo berjalan dengan tatapan lurus ke arah Reina, seolah dia siap memakan Reina hidup-hidup.

Reina seketika membungkukkan badan.

“ Ma .. maafkan saya. Sa..saya tidak tahu apa yang saya katakan barusan”.

Jo tidak menjawab, dia masih berjalan dan semakin dekat.

Tapi dia hanya mengambil plastik kue dari meja lalu melewati Reina begitu saja. Hening.

…………….

Reina dalam perjalanan kembali ke Toko, mengemudi skuternya dengan kecepatan rendah. Untuk pertama kalinya dia menghadapi pelanggan dengan karakter tidak biasa seperti Jo, bahkan tanpa berkata apapun dia sudah bisa membuat bulu kuduk Reina berdiri karena takut. Dia sedang berpikir dan mencari cara apa yang harus dia lakukan selanjutnya?

Di Toko.

Raya : “ Ada yang salah?” Melihat Reina terdiam dengan tatapan kosong membuat dia khawatir.

Reina : “Raya, ketika kamu berkali-kali mendapat nilai buruk dan setiap pulang ke rumah karena orang tuamu selalu marah. Apa yang akan kamu lakukan jika hari ini kau mendapat nilai buruk lagi? Apakah sebaiknya kau tidak pulang ke rumah?”

Raya : “Hoi Reina darimana kau tahu kalau aku selalu mendapat nilai buruk, ah pasti adikku yang ember itu kan yang memberitahumu?”

Reina : “A…” Reina tidak bisa menjawab Raya, karena sebenarnya itu hanya perumpamaan saja. Siapa sangka ternyata itu benar dialami Raya.

Raya : “ Waktu kelas 2 SMP aku pernah 2 kali mendapat nilai 0, aku benci sekali matematika. Ibuku sangat marah, dan bilang kalau aku mendapat nilai 0 untuk ketiga kalinya aku tidak boleh pulang. Aku takut sekali waktu itu, karena aku mendapat nilai 0 lagi. Aku pikir Ibu benar-benar akan mengusirku dari rumah. Tapi sampai di rumah Ibu memang marah tapi dia bilang aku tidak belajar dari kesalahan sebelumnya, aku hanya memikirkan rasa takut dapat nilai buruk tapi tidak memikirkan bagaimana caranya agar aku tidak lagi membenci pelajaran itu. Sejak hari itu, aku mulai belajar matematika dan fokus untuk memperbaiki nilaiku. Dan kau tahu? Di tes berikutnya aku mendapat nilai 15, meskipun nilai itu sangat buruk tapi Ibu sangat senang. Ibuku bilang akhirnya aku mengerti. Jika aku menghadapi kesulitan aku harus berani menghadapinya dan memperbaiki sumber dari kesulitanku itu”

Reina mendengarkan dengan seksama setiap kata yang dilontarkan Raya. Dia seperti mendapat sebuah pencerahan dari cerita itu.

Reina  : “ Itu dia, aku harus memperbaiki sumber kesulitanku” ucapnya pelan.

Raya tidak mendengar jelas perkataan Reina, tidak sempat Raya bertanya karena ada pelanggan yang masuk untuk membeli kue.

Toko tutup lebih awal, Reina tiba di rumah sebelum pukul 10 malam. Di luar hujan, hujan yang cukup lebat membuat hening malam terasa semakin menjadi. Tidak ada suara kendaraan atau pedagang keliling yang biasa lewat malam hari. Hanya terdengar suara hujan. Hentakan tetesan Hujan kali ini seolah menguatkan hatinya yang sempat ingin menyerah, setelah beberapa hari dia seolah berputus asa menghadapi orang itu, sebaris cerita Raya siang tadi memberikan Reina sebuah asa untuknya, bahwa dia bisa melalui kesulitannya.

Reina memandangi kelamnya langit malam dari balik jendela. Melihat setiap titik hujan yang jatuh ke bumi. Hentakan kuat hujan malam ini, mengalunkan nyanyian asa untuk Reina. 

Download NovelToon APP on App Store and Google Play

novel PDF download
NovelToon
Step Into A Different WORLD!
Download NovelToon APP on App Store and Google Play