Aku terbagun di waktu yang sama dan jam yang sama tempat yang sama di kamarku di sudut kiri kasurku ini terasa berada di putaran waktu. seperti mimpi tapi bukan mimpi dan berharap ini hanya mimpi. Tapi sayangnya ini bukan mimpi hangat tubuh anak yang tertidur di samping ku memastikan ini bukan mimpi tapi kelelahan membuat aku kehilangan kesadaran tentang waktu atau keinginan untuk mengulang waktu membuat aku terbangun dengan rasa berada di putaran waktu. Aku hampir terbiasa dengan rutinitas ini. Rutinitas yang terjadi sejak anak ini datang dan setengah jam lagi dia akan bangun dan mengeluh lapar jika aku terlambat dia akan menagis. Awalnya bangun di waktu yang sama sangat berat tapi sekarang menajadi rutinis wajib.
Beberapa minggu yang lalu kakak ku maria muncul di pintu rumahku mengendong anak kecil.
Katanya ini anaknya yang di sembunyikan selama tiga tahun ini tapi saat ini dia dalam bahaya dan dia tidak mau anak ini juga dalam bahaya dia tidak tahu harus tempat yang lebih aman selain menitipkanya di rumahku, tanpa buang buang waktu dia mendorong anak itu kepangkuanku dan menghilang dengan mobil pink metalik yang menyakitkan mata sebelum aku sempat pulih dari informasi yang yang di sampaiknya atau merespon dirinya.
Begitulah kenapa anak berpita merah yang akhirnya tertidur di kamarku setelah makan itu berada dirumahku. Anak yang bahkan namanya saja aku tidak tahu. Anak yang menghabisakan cadangan energi aku untuk seharian dalam satu jam.
Sejak saat itu kakak aku tidak bisa di hubungi dan aku terjebak dengan anak ini sampai waktu yang tidak bisa di pastikan. Bukannya tidak suka anak ini tapi aku tidak tahu harus melakukan apa kepadanya. Bertangung jawab pada diriku sendiri saja sudah membuat aku kewalahan apalagi dengan tambahan anak ini yang membutuhkan perhatian sepanjang waktu kecuali saat dia tidur.
Belum lagi tidak ada satupun pakaian atau peralatan pribadinya yang di bawa saat datang untunglah aku tidak dalam kesulitan ekonomi hingga aku bisa membeli semuanya tapi ada saja keperluan lain yang ternyata belum aku beli dan di perlukan anak ini sehingga aku harus bolak balik memesan.
Dan anak ini tidak bisa memakan makannan yang aku pesan dia tidak tahan dengan rasa kuat makanan sehingga aku harus memasak setiap kali jam makan.
Belum lagi kekacauan yang dibuatnya setiap kali aku lengah atau setiap kali dia menghilang dari pandanganku saat aku menerima telfon, saat mengerjakan cucian bajunya yang harus diganti hampir setiap jam karena terkena tumpahan minuman, minuman, cemilan yang dimakanya atau basah karena dia selalu menyelinap kekamar mandi saat melihat kesempatan luput dari pengawasanku. Atau kekacauan yang yang dibuatnya di meja putih berkilau yang baru aku beli sebulan yang lalu, sekarang meja itu penuh coretan yang tidak bisa di bersihkan.
Aku ingin marah dan berteriak tapi itu tidak mungkin karena aku yang membelikan alat tulis itu dan berharap di dengan otomatis dia mewarnai di buku yang telah di sediakan tapi anak ini berfikir buku adalah tempat sakral dan terlarang untuk mewarnai. Apakah mungkin dia sudah memahami buku adalah jendela dunia jadi kita harus menjaganya...ahhh mungkin ini sebabnya dia tidak mencoret coret di buku.... ah sudahlah....
Dan lihat rumah ini kehilangan kerapianya lihat bantal sofa itu tidak ada lagi sudut runcing batal yang biasanya tertata rapi di sudut setiap kursinya bahkan itu bukan urutan susuan warna yang benar harusnya warna hijau itu berada di tengah di belakang warna coklat muda... ahh haruskan aku rapikan sendiri tidak meminta anak itu merapikan kekacauan yang di buatnya dia hanya akan membuat kekacauan yang lain.
Ahh.... kenapa ada boneka di meja makan.
Kemana anak itu, jangan sampai di sudah bermain air seharusnya aku tidak memperhatian bantalan sofa itu. Bahkan baju yang di sebelumnya belum kering kalau di harus berganti baju lagi maka bajunya tidak akan cukup sampai malam berarti aku harus membeli baju lagi.
Benar saja dia sudah berada di bawah keran air dengan baju lengkap. Kenapa senyum itu terlihat sedikit menyebalkan apa dia meledek karena berhasil kabur dari pengawasanku. Haruskan aku marah alasan marahnya apa? Tujuan marahnya apa? Apa hasil dari marah itu? Apa dia akan menagis lagi seperti saat pertama kali datang. Jangan sampai aku akan kehilangan logika kalau sampai tangis itu datang bahkan di hari pertama saja pinggang dan lengan ku ngilu menggendongnya agar berhenti menangis.
Lebih baik biarkan dia disana beberapa saat dan aku bisa merapikan kekacauan didapur dari hasil memasak makan siang tadi toh anak itu tidak akan kemana mana karena dia sangat menyukai main air.sekalian aku akan menyusun batalan sofa sesuai urutan warnanya dan memyingkirkan boneka itu dari meja makan dan juga memesan baju baru untuk malam ini karena baju satu helai yahg tersedia sekarang tidak akan sanggup bertahan sampai malam hari
Akhirnya semua kembali ketempatnya semoga kali ini kerapian ini bertahan lebih lama dari sebelumnya paling tidak bertahan sampai besok jika keajaiban itu mungkin terjadi. Mungkin aku bisa membujuknya agar meletakan semua mainan di keranjang yang ada di samping kabinet itu agar tidak ada lagi mainann di tempat yang seharusnya.
Sebaiknya aku segera mengeluarkanya dari air atau tagihan air ku bulan ini akan membengkak. Dan mengeringkan mengerikan baju itu agar bisa di pakai besok. Aku tidak ingin membeli baju baru lagi besok untuknya atau aku akan membelinya dia terlihat lucu memakai baju baju itu. Ditambah dengan jepitan bunga di rambutnya dia terlihat sangat menggemaskan.
Sore itu ada ketukan di pintu rumahku. Apa pesanan bajunya sudah sampai sebab aku tidak memesan makanan lagi saat ini kenapa harus memesan makanan kalau aku tetap harus memasak untuk anak ini.
Tapi bukan pesanan yang datang tapi kakak ku maria dan seorang pria yang tidak aku kenal dia terlihat tidak terlalu ramah dan sedikit angkuh dan rambut dan mata rahang itu.... aku pernah melihatnya .... di....ahhh di benar salah satu majalah bisnis yang tersusun di rak di salah satu tumpukan majalah di ruang kerja ku.
Kakak ku terlihat ragu dan cemas. Apa jangan jangan orang ini yang membuat kakak ku tidak merasa aman sehingga menitipkan anak itu bersama aku. Apa kakak ku tertangkap dan di paksa kesini agar dapat melulai anak itu.aku harus menyembunyikan anak itu.
Seolah melihat menerobos pikiran aku kakak ku berkata langsung memperkenalkan laki laki di sampinya dan buru buru menambahakan kalau dia tidak berbahaya dan meminta kita berbicara di dalam saja.
Ternyata pria ini adalah ayah dari anak kakak aku selain itu dia juga suami kakak aku. Kakak ku menjelaskan bagaimana awalnya mereka menikah secara diam diam tiga tahun yang lalu tapi karena komunikasi yang buruk menyebabkan kesalah pahaman yang menyebabkan kakak ku pergi meninggalkan pria ini dan bersembunyi selama tiga tahun ini dan tidak memberi tahu kepadaku karena kakak takut aku akan cemas dengan keadaan kakak dan di tidak ingin membebani aku yang terlalu sensitive. Bagaimana tidak sensitivenya kakak ku bagaimana bisa dia menikah tampa memberi tahu adik satu satunya dan keluarga satu satunya.
Tetapi intinya sekarang mereka sedang di mabuk cinta lagi dan ingin membawa anak mereka kembali dan berterima kasih sudah menjaga anak mereka selama sebulan ini. Tentu saja akan harus membiarkan mereka membawanya dengan begitu aku akan lepas dari kekacauan ini.
Note:
Rumah ini terasa terlalu sunyi dan rapi mungkin aku harus membawa anak itu sesekali kesini untuk membuat kekacauan dan memakan masakan aku.