"Nasya langsung aja ngomongnya. Tapi ma, pa. Janji ya jangan marah kalau Nasya jujur sama kalian. Kemarin papa bilang kalo harus ada alasan buat batalin pernikahan Nasya sama Wayan-
Aku mendengarkan dengan seksama ucapan Nasya, namun dia menggantung kalimatnya sambil melirikku sebentar dan dia melanjutkan lagi ucapannya yang membuatku kaget.
Tiba-tiba saja perasaanku jadi tak enak karena mama papa Nasya menatapku serius, tanpa senyum sedikitpun.
"Iya, lanjutkan saja." Ujar Papa Nasya.
"Karena Nasya cinta sama Keyra, Pa, Ma. Nasya nggak mau nikah sama Wayan karena Nasya sama sekali nggak pernah suka sama dia. Iya, Pa, Ma. Anak kalian ini menyimpang, Nasya suka perempuan. Dan perempuan itu Keyra, sahabat Nasya sejak kecil." Jelas Nasya tanpa ragu. Aku menatapnya kaget sekaligus takut. Apalagi saat melihat papa Nasya menatap ke arahku dengan tatapan tajam dan tangannya yang mengepal ke udara.
"Apa? Kamu bercanda? Kenapa?" tanya mama Nasya tak percaya. Aku mendongakkan kepalaku sembari mengumpulkan keberanian untuk mengatakan hal yang sebenarnya. Ini saatnya Nasya melihat perjuanganku bahwa cintaku ke dia nggak main-main.
"Iya, om, tante. Apa yang dibilang Nasya memang benar. Kami berdua menjalin hubungan lebih dari sekedar sahabat. Keyra sangat mencintai Nasya, begitupun sebaliknya."
"Kamu..Arghh kenapa jadi begini, astaga Tuhan!" Papa Nasya terlihat menahan emosinya dan hendak melayangkan pukulan ke wajahku. Namun beliau mengurungkan niatnya karena melihat Nasya menatapnya tajam.
Sedangkan tante Nita mematung, tak percaya dengan apa yang didengarnya melalui penuturanku barusan.
"Pa, Ma, Nasya nggak pernah minta sesuatu dari kalian berdua. Selama ini Nasya selalu nurutin kemauan kalian meskipun Nasya sendiri nggak mau. Sekarang ini, sekali saja, Nasya minta papa sama mama untuk batalin pernikahan itu."
Suasana hening beberapa saat. Aku tidak tau apa yang akan terjadi selanjutnya. Lalu kulihat Om Arlan meninggalkan kami beberapa saat. Beliau mencari-cari sesuatu di laci lemari tv, lalu kembali ke tempat duduknya semula.
"Nih. Kalau kamu serius cinta sama anak saya, kamu harus lamar dia sekarang juga." Tegas Om Arlan dengan menyodorkan sebuah kotak kecil padaku. Aku membuka kotak itu, terdapat dua cincin di dalamnya. Aku masih terpaku mencerna ucapannya sambil menatap dua cincin itu tanpa berkedip.
'Anjir, gue disuruh nikahin anak orang? Ini bukan mimpi kan?'
"Cepat! Kamu mau atau tidak?" teriaknya menggelegar membuatku tersentak kaget. Dengan tangan yang tremor aku berlutut di depan Nasya yang tampak menyeka air matanya.
Aku mengatur napasku mencoba tetap tenang, hingga tremorku berkurang.
"Nasya Evacska, will you marry me?"
Tanyaku penuh harap sambil menatap Nasya dalam-dalam.
"Yes, I will!"