Aku duduk termenung menatap langit yang mulai kegelapan,
Ditemani semilir angin yang menghantarkan sang surya ke peraduannya,
Aku terdiam di suatu sudut kota ini yang perlahan mulai semarak,
Menunggu datangnya sang malam yang telah berada di pelupuk mata.
Entah kenapa suara-suara itu masih belum hilang juga dari benakku,
Menggema meraung menantikan adanya keadaan yang tak maya,
Rasanya hanya berjarak sepelemparan batu saja dari waktu itu,
Namun ternyata telah sepelemparan meriam yang telah terlewat.
Hiruk pikuk kehidupan tak mampu sembunyikan raungan-raungan ini,
Aku tidak tahu menahu apakah hanya aku saja yang merasakannya,
Apakah angin ini dihembuskan dari imaji yang berkondisi sama denganku,
Atau apakah deru debu ini disapukan dari ujung harap imaji tertentu.
Aku semakin tenggelam dalam pusaran memori yang dalam ini,
Sang surya perlahan memang mulai menghilangkan dirinya,
Seiring dengan matahari yang selalu hadir dalam setiap benakku,
Hilang sirna purna kembali ke tempat dimana ia seharusnya berada.
Laju perkembangan zaman ini kembali menghantuiku,
Tuntutan selalu hadir di tengah gebrakan dan getaran yang terus menderu,
Begitupun dengan roda gigi yang menggerakkan pundi-pundi fikirku,
Entah kenapa kali ini perlu direparasi bahkan mungkin harus diganti.
Aku telah kehilangan berjuta kerlip bintang yang biasa menghiasi,
Hilang berganti dengan ribuan silau pantulan kaca yang bening,
Yang kemudian membuatku kembali tersadar dari rayuan fikirku,
Bersinar terang seakan ribut mesin-mesin dan engkol-engkol industri.
Aku bangkit dari peraduanku dan mulai melangkah,
Kota ini telah banyak berubah dari pertama kali kuinjakkan kaki disini,
Kota dimana pujangga mengira Tuhan menciptakannya ketika sedang rindu,
Dan akupun pergi seiring temaram yang jatuh di sudut kota ini.